MANISNYA IMAN

Apabila Alloh menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Ia mudahkan jalan menuju keselamatan baginya, menjadikannya suka kepada majelis-majelis para dai, dan menjaganya dari berbagai perbuatan main-main dan melalaikan. Kenikmatan hakiki bukan pada makanan fisik, kenikmatan hakiki terletak pada santapan ruhani. Kenikmatan bukan pada saat menikmati dunia, tetapi pada saat menikmati akhirat. Karena, kelak orang paling nikmat hidupnya di dunia yang menjadi penduduk neraka akan dicelupkan sekali celup ke dalamnya, maka celupan itu menjadikannya lupa terhadap semua kenikmatan yang pernah ia rasakan. Dan kelak orang paling sengsara di dunia yang menjadi penduduk surga akan dicelupkan sekali celup ke dalamnya, maka celupan itu menjadikannya lupa terhadap semua kesengsaraan yang pernah ia rasakan.
Anas bin Mâlik a meriwayatkan bahwa Rosululloh n bersabda,
Teks arab
“Didatangkan orang paling bahagia di dunia dari penduduk neraka –pada hari kiamat—, lalu ia dicelupkan sekali celup di neraka Jahannam, setelah itu dikatakan kepadanya: “Hai anak Adam, apakah engkau melihat kebaikan walaupun sedikit?apakah ada satu kenikmatan saja yang pernah melewatimu?” Ia berkata, “Tidak, demi Alloh wahai Robb.” Kemudian didatangkan orang paling sengsara di dunia dari penduduk surga, lalu ia dicelupkan sekali celup ke dalam surga, kemudian dikatakan kepadanya: “Hai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kesusahan walau pun sedikit? Pernahkah ada satu kesusahan saja yang pernah melewatimu?” Ia berkata, “Tidak, demi Alloh. Wahai Robb, belum pernah ada satu pun kesengsaraan mengenai diriku, belum pernah ada satu kesusahan pun yang kulihat.” (HR. Muslim)
Dahulu, Âsiyah bin Mazâhim (istri Firaun, penerj.) hidup di sarang kesesatan, kekufuran, akhlak yang rendah, a moral, pembangkang, dan mabuk-mabukkan. Ia tidak mengenal kehidupan selain kehidupan binatang, yang fikiran utamanya adalah syahwat perut atau kemaluannya. Âsiyah hidup di tengah gelimang kenikmatan di antara para pembantu dan pelayan, ia lupa dengan Robbnya. Semua itu menjadikan dirinya lupa kepada dirinya sendiri, ia tidak mendapatkan seorang pun yang mengingatkan dirinya tentang Alloh l. Maka ia menanggung gelapnya hati, penyimpangan hidup, dan berbaliknya fitroh yang mencabut hakikat kemanusiaannya.
Pada suatu hari yang baik dalam hidupnya, Alloh datangkan seorang Dai yang menyerunya kepada kebaikan, mengingatkannya dari keburukan, mengenalkannya kepada Alloh l, mengikatnya dengan petunjuk, menghantarkannya kepada jalan keselamatan, dan mengingatkannya dari jalan kebinasaan. Maka ia pun tersadar dari kelalaiannya, mendapat petunjuk setelah kesesatannya, meraih kebahagiaan setelah kesengsaraannya, ia mendapatkan hidayah melalui tangan Musa bin ‘Imrôn q ketika ia letakkan jabang bayi Musa ini di dalam Tâbût. Saat itu ia masih menyusu, belum bisa berbicara dan mengerti, belum bisa berfikir dan membedakan antara yang baik dan buruk.
Akan tetapi, Alloh l bukakan hati Âsiyah untuk mencintai Musa kecil. Maka ia berkata kepada suaminya –Fir‘aun—: “Anak ini adalah penyejuk mataku dan penyejuk matamu.” Fir‘aun menjawab, “Bukan, ia hanya penyejuk matamu saja. Adapun aku, aku tidak menginginkan ia menjadi penyejuk mataku.”
Akhirnya Alloh mengabulkan doa Âsiyah, Alloh menjadikan Musa sebagai penyejuk matanya ketika ia masuk Islam melalui tangan Musa, ia tinggalkan kekufuran dan kegelapannya, ia telah temukan iman dan kelezatannya serta menyesali hari-hari yang telah ia lalui tanpa Islam. Ia heran terhadap dirinya sendiri, mengapa ia bisa bersabar menanggung kepahitan masa lalu tersebut, bagaimana ia bisa merasakan kemaksiatan itu. Akhirnya ia habiskan sisa hidupnya dalam kebahagiaan bersama orang-orang beriman dan beramal sholeh. Ia berhasil mengakhiri hidupnya dengan kebaikan, ketika ia memohon bisa berdampingan dengan-Nya sebelum meminta rumah di surga. Alloh l berfirman:
Teks arab
“Dan Alloh membuat isteri Fir‘aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Robbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (At-Tahrîm [66]: 11)
Alloh pun mengabulkan doanya, Alloh menghidupkannya dalam Islam setelah kekufuran dan kegelapan, serta menjadikannya sebagai seorang da‘i di sarang kesyirikan dan kesesatan untuk menerangkan nilai-nilai luhur ajaran Islam, walau pun ia harus menerima berbagai siksaan yang belum pernah menimpa wanita lain.
Ayat ini berisi anjuran untuk bersabar menghadapi kesusahan. Artinya, jangan sampai dalam menghadapi sebuah penderitaan kita lebih lemah dibanding isteri Fir‘aun di saat ia mampu bersabar menghadapi siksaan Fir‘aun, padahal saat itu Fir‘aun adalah manusia paling bengis dan paling kafir kepada Alloh l—. Tetapi demi Alloh, kekafiran suami tidak mempengaruhi sang isteri ketika ia taat kepada robbnya. Agar semua manusia tahu, bahwa Alloh itu Mahabijaksana lagi Mahaadil, tidak akan menghukum siapa pun selain berdasarkan dosa yang ia lakukan.
Diriwayatkan dari Salmân Al-Fârisî a bahwasanya isteri Fir‘aun disiksa dengan dijemur di bawah terik matahari. Tetapi setiap kali ia merasa kepanasan, para malaikat memayunginya dengan sayap-sayap mereka. Kemudian dia melihat rumahnya di surga, maka ia pun tertawa. Melihat hal itu, Fir‘aun berkata, “Lihat wanita gila ini, kita menyiksanya dia malah tertawa.”
Bagaimana ia tidak tertawa menyaksikan kenikmatan abadi?
Di antara bentuk penyiksaan lain terhadapnya, Fir‘aun mengatakan, “Cari batu paling besar, kemudian jatuhkan di atas tubuhnya.” Namun kemudian Alloh terlebih dahulu mengangkat rohnya, sehingga batu itu dijatuhkan dalam keadaan ia sudah tidak bernyawa. Abu `l-‘Âliyah Ar-Riyâhî berkata, “Sesungguhnya isteri Fir‘aun turut menyaksikan penyiksaan terhadap Mâsyithoh, tukang sisir rambut anak Fir‘aun. Pada suatu hari, sisir jatuh dari tangannya dan tiba-tiba ia berkata, “Celakalah orang yang kafir kepada Alloh l.” Mendengar itu, anak Fir‘aun berkata, “Berarti, kamu punya tuhan selain ayahku?” Mâsyithoh berkata, “Tuhanku, tuhan ayahmu, dan Tuhan segala sesuatu adalah Alloh l.” Maka puteri Fir‘aun menampar wajahnya dan memberitahukan hal iut kepada ayahnya. Kemudian Fir‘aun pun memanggilnya. Ia bertanya kepadanya, “Apakah kamu punya tuhan selain aku?” Mâsyithoh berkata, “Ya, Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala yang ada ini adalah Alloh yang Mahaesa lagi Mahaperkasa.” Maka Fir‘aun memasang empat tiang kemudian mengikat kedua tangan dan kedua kaki Mâsyithoh, kemudian meletakkannya bersama kawanan ular. Hingga pada suatu hari, Fir‘aun menanyainya, “Sudah berhentikah kamu?” Mâsyithoh berkata, “Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan tauhid dan ibadah kepada Tuhan yang Mahaagung?”
“Kalau begitu, aku akan sembelih anakmu di atas mulutmu jika kamu tidak meninggalkan agamamu itu.” kata Fir‘aun.
“Lakukan sesuka hatimu.” jawab Mâsyithoh.
Maka Fir‘aun menyembelih anaknya tepat di depan mulutnya dan ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Ia hanya bisa berucap, “Kita ini milik Alloh, dan kepada-Nya lah kita akan kembali; Ya Alloh, berilah aku pahala atas musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih daripadanya.” Maka anaknya itu tiba-tiba berkata, “Bergembiralah ibu, engkau mendapatkan ganjaran paling agung di sisi Alloh l.”
Kemudian anak keduanya juga disembelih seperti yang pertama. Pada saat itulah isteri Fir‘aun turut menyaksikan peristiwa mengerikan itu, namun imannya justeru semakin bertambah.”
Alloh telah menyempurnakan iman isteri Fir‘aun bersama beberapa gelintir wanita. Di dalam sebuah hadits riwayat Abû Mûsâ Al-Asy‘arî a disebutkan bahwasanya Rosululloh n bersabda, “Lelaki yang sempurna imannya banyak, namun dari kalangan wanita tidak ada selain Âsiah isteri Fir‘aun dan Maryam binti ‘Imrôn. Dan sesungguhnya keutamaan ‘Âisyah atas semua wanita seperti keutamaan Tsarîd di atas semua makanan.” (Muttafaq ‘Alaih)
Bahkan, dalam beberapa hadits disebutkan –walau pun keshohihannya masih dipertanyakan—bahwa pada hari kiamat kelak Âsiyah akan menjadi salah satu isteri Nabi Muhammad n. Mengenai ini, Ibnu Katsîr menyebutkan hadits Sa‘d bin Junâdah, ia berkata, Rosululloh n bersabda, “Sesungguhnya Alloh menikahkanku di surga dengan Maryam binti ‘Imrôn, isteri Fir‘aun, dan saudari nabi Mûsâ.” (HR. Thobarônî), hanya Alloh yang lebih tahu tentang keshohihan hadits ini.
Semoga Alloh merahmati dan meridhoi Âsiyah dan meninggikan derajatnya, serta mengumpulkan kita dengannya di surga Firdaus tertinggi bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Alloh, yaitu para nabi, shiddîqîn, syuhada, dan orang-orang sholeh. Sungguh, mereka adalah sebaik-baik teman. Dan semoa Alloh memperbanyak wanita seperti dia di rumah-rumah orang beriman; di saat keridhoan Alloh lebih ia utamakan daripada keridhoan yang lain, ketika penghambaan kepada-Nya lebih ia dahulukan daripada penghambaan kepada orang lain, ketika ia bersabar menanggung derita di jalan Alloh l, di hari ketika ia mengerti bahwa jalan menuju surga dipenuhi dengan hal-hal yang tidak disenangi, di saat ia merasakan kenikmatan iman ketika menerima siksaan, dan di hari ketika ia berkata kepada Fir‘aun: Putuskan saja apa yang kamu mau putuskan, karena aku telah menemukan apa yang kucita-citakan, yaitu kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian.
Semoga kesejahteraan terlimpah kepadanya bersama orang-orang sholeh. Semoga kesejahteraan terlimpah kepadanya bersama orang-orang yang abadi, dan semoga kesejahteraan terlimpah kepadanya bersama seluruh alam.

Iklan

One Response to MANISNYA IMAN

  1. akungtama says:

    inilah islam skrng banyak cerita 2 yg tdk jelas asalnya.makanya jadi mundur.mbok cari cerita yg fakta aja aku juga islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: