Bantahan terhadap dakwah damai

Ada yang mengira bahwa Millah Ibrahim ini terealisasi pada zaman kita ini dengan cara mempelajari tauhid, dan mengetahui bagian-bagian dan macam-macamnya yang tiga dengan sekedar ma’rifah nadhariyah (teoritis)…. Terus diam dari (mensikapi) ahlul bathil dan tidak menyatakan serta menampakkan bara’ah dari kebatilan mereka.

Maka terhadap macam orang seperti itu kami katakan: Seandainya Millah Ibrahim adalah seperti itu, tentulah kaumnya tidak melemparkan beliau ke dalam api karenanya, bahkan seandainya ia bermudahanah terhadap mereka, mendiamkan sebagian kebatilan mereka, tidak menjelek-jelekkan tuhan-tuhan mereka, tidak menyatakan permusuhan terhadap mereka, dan mencukupkan dengan tauhid nadhariy yang ia kaji bersama pengikut-pengikutnya dengan pengkajian yang tidak keluar pada waqi’ ‘amali (realita praktek) yang menjelma dalam bentuk al wala, al bara’, cinta,  benci, memusuhi, dan menjauh karena Allah, bisa jadi bila beliau melakukan hal itu mereka membukakan baginya semua pintu, bahkan bisa saja mereka mendirikan baginya sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga seperti pada zaman kita yang di dalamnya dipelajari tauhid nadhariy ini… dan bahkan bisa saja mereka itu memasang di atasnya papan nama yang besar dan mereka menamakannya: Madrasah atau Ma’had tauhid, fakultas dakwah dan ushuluddien,…. dll. Ini semua tidak membahayakan mereka dan tidak mempengaruhi mereka selama hal itu tidak keluar pada realita dan praktek. Dan seandainya universitas-universitas, sekolah-sekolah, dan fakultas-fakultas ini mengeluarkan bagi mereka ribuan skripsi, karya ilmiah dan risalah Magister dan Doktoral tentang ikhlas, tauhid dan dakwah, tentulah mereka tidak mengingkari hal itu, bahkan justeru mereka memberikan ucapan selamat dan memberikan hadiah-hadiah, ijazah-ijazah dan gelar-gelar yang besar buat para peraihnya … selama hal itu tidak menyinggung kebatilan, keadaan dan realita mereka, serta selama tetap pada keadaannya yang terkaburkan.

Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman berkata dalam Ad Durar As Saniyyah: “Tidak terbayang -bahwa seseorang- mengetahui tauhid dan mengamalkannya namun tidak memusuhi para pelaku syirik, sedangkan orang yang tidak memusuhi mereka maka tidak dikatakan kepadanya (bahwa) ia mengetahui tauhid dan mengamalkannya,”  (Juz Al Jihad hal: 167)

Dan begitu juga Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam seandainya saja beliau diam di permulaan dakwahnya dari menjelek-jelekkan pola pikir Quraisy, mencela tuhan-tuhan mereka dan memburuk-burukannya dan seandainya beliau –dan ini tidak mungkin- menyembunyikan ayat-ayat yang di dalamnya terdapat celaan akan apa-apa yang mereka ibadati, seperti latta, uzza dan manat… dan (menyembunyikan) ayat-ayat yang menyinggung Abu Lahab, Al Walid dan yang lainnya. Dan begitu juga ayat-ayat tentang bara’ah dari mereka, dien mereka dan ma’budat mereka –dan ini alangkah banyaknya seperti surat Al Kafirun dan yang lainnya– seandainya beliau lakukan hal itu –dan tidak mungkin- tentulah mereka mau duduk di majelis beliau, memuliakannya serta mereka mendekatkan beliau dan tentu mereka tak akan meletakkan isi perut unta di atas kepala beliau saat sedang sujud serta tidak pernah terjadi apa yang telah terjadi menimpa beliau berupa penindasan mereka seperti apa yang dijabarkan dan dituturkan dalam khabar yang tsabit dari sirahnya. Dan tentu beliau tidak butuh terhadap hijrah, capek, lelah dan penderitaan serta tentu beliau dan para sahabatnya bisa menetap di rumah dan tanah air mereka dengan aman. Jadi masalah loyal pada dienullah dan pemeluknya serta memusuhi kebatilan dan para pengusungnya adalah telah difardlukan atas kaum muslimin di fajar dakwah sebelum difardlukannya shalat, zakat, shaum dan haji. Dan karena sebabnya bukan karena sebab lainnya terjadilah penyiksaan, penindasan dan cobaan.

Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq dalam risalahnya yang ada dalam Ad Durar As Saniyyah berkata: “Hendaklah orang yang berakal mengamati dan hendaklah orang yang jujur pada diri sendiri mencari tentang sebab yang mendorong orang quraisy untuk mengusir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya dari Mekkah padahal ia adalah tempat yang paling mulia. Sesungguhnya sudah diketahui bahwa mereka tidak mengusirnya kecuali setelah kaum mukminin terang-terangan di hadapan mereka mencela dien mereka dan kesesatan nenek moyangnya. Kemudian mereka ingin agar beliau menghentikan hal itu serta mereka mengancam beliau dan para sahabatnya dengan pengusiran. Para sahabat mengadukan kepada beliau dahsyatnya penindasan orang-orang musyrik terhadap mereka, maka beliau memerintahkan mereka agar bersabar dan bercermin dengan orang-orang dahulu yang ditindas. Beliau tidak mengatakan kepada mereka: “Tinggalkan celaan terhadap dien kaum musyrikin dan hinaan terhadap ajaran mereka”, Beliau dan para sahabatnya memilih keluar dan meninggalkan tanah airnya padahal ia adalah tempat paling mulia di muka bumi ini”.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya telah ada bagi kalian pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta ia banyak mengingat Allah.” (QS. Al Ahzab, 33: 21) dari Juz Al Jihad hal 199.

Begitulah. Sesungguhnya para thaghut di setiap masa dan tempat, mereka tidak menampakkan sikap ridla terhadap Islam atau bersikap lembut damai padanya, dan mereka tidak mengadakan muktamar-muktamar tentang Islam dan menyebarkannya dalam buku-buku dan majalah-majalah, serta mereka tidak mendirikan lembaga-lembaga dan universitas-universitas Islam kecuali bila itu adalah dien yang picak, pincang, terputus kedua sayapnya lagi jauh dari realita mereka dan dari muwalatul mu’minin dan bara’ dari musuh-musuh dien ini, penampakkan permusuhan terhadap mereka, tuhan-tuhan mereka dan manhaj-manhaj mereka yang batil.

Dan kami saksikan hal ini sangat jelas di negara yang bernama Saudi. Sesungguhnya negara ini menipu manusia dengan cara mensponsori tauhid, buku-buku tauhid, dan dengan cara memberikan loyalitas bahkan dorongan terhadap para ulama untuk memeranginya (syirik) kuburan, shufiyyah, ajimat, pelet (asihan), pohon dan batu-batu, (yang dikeramatkan) serta yang lainnya dari hal-hal yang tidak dia khawatirkan dan tidak merugikannya atau mempengaruhi pada politik dalam dan luar negaranya. Dan selama tauhid yang terpilah-pilah lagi timpang ini jauh dari para sultan dan tahta-tahta mereka yang kafir itu maka tauhid semacam ini mendapatkan dukungan, bantuan dan sponsor dari mereka. karena kalau tidak demikian, maka mana tulisan-tulisan Juhaiman dan yang serupa dengannya rahimahullah yang penuh dan sarat dengan tauhid…??? Kenapa tulisan-tulisan itu tidak mendapatkan dukungan dan sponsor pemerintah…??? Padahal beliau itu tidak mengkafirkan pemerintah ini dalam tulisan-tulisannya itu… atau mungkin karena itu adalah tauhid yang menyelesihi selera dan keinginan para thaghut (Saudi), berbicara tentang politik serta menyinggung masalah Al Wala, Al Bara’, Bai’at dan Imarah. Silakan rujuk ucapannya dalam Mukhtashar Risalah Al Amru Bil Ma’ruf Wan Nahyu ‘Anil Munkar dari hal 100 hingga 110 dari Ar Rasail As Sab’u. Sungguh beliau mengetahui benar masalah ini rahimahullah.

Asy Syaikh Al ‘Allamah Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah berkata dalam kitabnya Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin wa Ahlil Isyrak: “Sesungguhnya banyak orang mengira bahwa bila ia mampu untuk mengucapkan dua kalimah syahadat, melakukan shalat lima waktu dan tidak dihalangi dari mendatangi masjid, berarti ia telah menampakkan diennya meskipun ia hidup di tengah kaum musyrikin atau di tempat-tempat kaum murtaddien. Sungguh (orang yang mengira) itu telah keliru dalam hal itu dengan kekeliruan yang paling buruk. Dan ketahuilah sesungguhnya kekafiran itu bermacam-macam dan beraneka ragam dengan beragamnya mukaffirat (hal-hal yang membuat kafir). Setiap kelompok dari kelompok-kelompok kekafiran memiliki macam kekafiran yang masyhur darinya, dan orang muslim tidak dikatakan telah menampakkan diennya sehingga ia menyelisihi setiap kelompok itu dengan apa yang masyhur darinya dan terang-terangan menyatakan permusuhan terhadapnya serta bara’ darinya.”

Dan beliau berkata juga dalam Ad Durar As Saniyyah: “Sedangkan idhharud dien adalah mengkafirkan mereka, mencela ajaran mereka, menjelek-jelekkan mereka, bara’ dari mereka, berhati-hati dari mencintai mereka dan cenderung kepadanya, dan menjauhi mereka. Dan idhharud dien itu bukan hanya shalat.” (dari Juz Al Jihad: 196)

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman berkata dalam Diwan Uqud Al Jawahir Al Mundladah Al Hisan hal 76-77:

Idhharud dien ini adalah terang-terangan mengkafirkan mereka…

Karena mereka adalah golongan orang-orang kafir…

Permusuhan yang nyata dan kebencian yang nampak…

Wahai orang-orang yang berakal, apa kalian punya pikiran…

Ini, dan hati tidak cukup kebenciannya…

Dan cinta darinya, serta apa tolak ukurnya…

Tolak ukurnya adalah engkau mengatakannya…

Terang-terangan dan tegas-tegas terhadap mereka lagi menampilkannya…

Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman berkata dalam Juz Al Jihad dari kitab Ad Durar As Saniyyah hal 141: “Dan klaim orang yang Allah butakan bashirahnya bahwa idhharud dien adalah mereka (musyrikin) tidak melarang orang untuk beribadah atau belajar, ini adalah klaim yang batil. Klaimnya tertolak secara akal dan syari’at karena kalau demikian maka hendaklah senang orang yang hidup di negeri Nashara, Majusi dan India dengan hukum yang bathil itu, karena shalat, adzan dan pengajian ada di negeri-negeri mereka…”

Dan semoga Allah merahmati orang yang mengatakan:

Mereka mengira bahwa dien itu adalah

(Ucapan) labbaika di padang pasir…

Shalat dan diam dari penguasa…

Berdamai dan berbaur dengan orang yang telah mencela dien ini…

Sedang dien ini tidak lain adalah cinta, benci dan loyalitas…

Begitu juga bara dari setiap orang sesat dan berdosa…

Abul Wafa Ibnu Uqaid rahimahullah berkata: “Bila engkau ingin melihat posisi Islam di tengah manusia zaman sekarang, maka jangan kau lihat berjubelnya mereka di pintu-pintu masjid dan gemuruh mereka dengan labbaika, namun lihatlah keselarasan mereka terhadap musuh-musuh syari’at. Maka berlindunglah… berlindunglah pada benteng dien ini dan berpeganglah pada tali Allah yang kokoh, serta cepatlah bergabung dengan wali-wali-Nya al mukminin, dan hati-hatilah dari musuh-musuh-Nya yang selalu menyelisihi. Sungguh sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala yang paling utama adalah membenci orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya dan menjihadinya dengan tangan, lisan dan hati sesuai kemampuan.” (Ad Durar, Juz Al Jihad, hal: 238)

sumber:millahibrahim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: