I’dad sebelum Berjihad

Abdullah Muridusy Syahadah

Kepada Kaum Muslimin Secara umum dan para aktivis Harokah secara khusus

Di Mana Saja Berada

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.

أمَّا بعد

Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Tinggi. Hanya kepada-Nya kita memuji dan memuliakan. Hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan dan perlindungan. Hanya kepada-Nya kita minta petunjuk dan menyerahkan segala urusan.

Sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan mulia rosulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti sunnahnya hingga akhir hayatnya. Kita berdoa semoga kita termasuk pengiktnya yang setia. Amien

Ikhwah fillah …..

Dalam risalah dan nida’at yang ke-7 ini, saya menulis buat antum semua satu tema yang berjudul “I’dad sebelum Berjihad”. Sebagai panggilan hati yang paling mendalam untuk menjawab berbagai syubhat yang menuduh mujahidin yang berjihad hari ini dengan tuduhan yang jelek. Yang menuduh bahwa mujahidin hari ini berjihad tanpa I’dad, berjihad modal semangat tanpa ilmu dan skill yang standar, isti’jal dls.

Memang, ketika kita membicarakan rumah tangga orang lain, bahkan kadang kita membicarakan dalam urusan kamar dan dapurnya, tanpa kita mengetahui apa isi yang ada di dalam rumah tersebut, maka kita sering salah menganalisa dan menilai terhadap penghuninya.

Tidak berbeda ketika kita menilai dan menganalisa para mujahidin yang hari ini berjihad fie sabilillah. Sering keluar analisa dan statemen yang miring terhadap mujahidin, disebabkan orang yang berkomentar tidak mengenal dan mengetahui seluk beluk rumah tangga dan kehidupan mujahidin.

Oleh karena itu dalam risalah ini saya ingin menyampaikan satu tema yang berjudul “I’dad sebelum Berjihad”, untuk menyampaikan kepada ummat bahwa jihad harus didahuli I’dad, dan jihad sangat terikat erat dengan I’dad. Dan bahwa para mujahidin adalah orang-orang yang beri’dad sebelum berjihad.

Ikhwah fillah …..

Alah Ta’ala berfirman :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al Anfal: 60).

Sebuah kisah:

Seorang ustadz memberi tausiyah kepada murid-muridnya: Kalau kamu mau berjihad maka kamu harus I’dad dulu ke Afghanistan, atau pergi ke Moro. Jangan asal modal semangat berjihad tanpa I’dad”.

Nasehat ini dimaksudkan untuk menyindir mujahidin yang hari ini berjihad di negeri ini yang secara rata-rata mereka belum pernah pergi ke bumi-bumi jihad baik di dalam negri maupun di luar negri…

Kisah yang lain:

Seorang ustadz memberikan nasehat kepada santrinya: “Sekarang yang paling penting buat antum adalah Tholabul Ilmi. Bagaimana antum akan berjihad sementara antum jahil dalam ilmu Dien? Apalagi mau berjihad tanpa I’dad terlebih dahulu”.

Nasehat ini disampaikan kepada santri yang sedang bersemangat untuk berjihad bersama dengan para ikhwah mujahidin yang berjihad di negerinya. Dikarenakan ustadz itu khawatir kalau santrinya tersebut keluar dari ma’had dan ikut jejak para mujahidin itu.  Juga dimaksudkan untuk menyindir mujahidin yang hari ini berjihad di negeri ini. Karena dilihat para mujahidin ini tidak mau berlama-lama duduk di bangku sekolah.

Ikhwah fillah …

Paradigma yang ada di benak para ikhwah dan kaum muslimin hari ini mengenai I’dad adalah, bahwa sebelum berjihad seorang mujahid harus menguasai semua ilmu perang. Dari mulai ilmu Taktik, Engineering, Demulsion, Map Reading, dls. Sehingga membutuhkan waktu yang lama dan berkepanjangan.

Memang itu tidak salah, bahkan kalau kita mampu justru harus mempelajari semua ilmu perang dengan sempurna dan lengkap. Sehingga dapat menguasai ilmu dan strategi perang dengan baik.

Permasalahan yang terjadi hari ini dalam urusan jihad adalah:

Pertama: Tuntutan Syar’ie yang mewajibkan kita untuk berjihad, karena jihad hari ini hukumnya Fardhu ‘ain (kewajiban individu).

Kedua: Sikap musuh yang arogan dan membabi buta di dalam membantai kaum muslimin. Sehingga membutuhkan pembelaan dan pembalasan.

Ketiga: Minimnya kesadaran kaum muslimin untuk membela dan membalaskan kehormatan yang terenggut dan darah kaum muslimin yang tumpah.

Maka dengan alasan ketiga hal tersebut di atas maka menuntut untuk mencetak seorang kader mujahid yang mampu melakukan operasi jihad dengan cepat dan tepat serta singkat sesuai MODUS yang akan dilakukan dalam ber-amaliyat jihadiyah.

Ikhwah fillah …

I’dad yang kita lakukan hari ini adalah menyesuaikan tiga tuntutan:

Pertama: Tuntutan Syar’ie

Kedua: Tuntutan kondisi

Ketiga: Tuntutan modus

Keempat: Tuntutan SASPRA (sarana dan prasarana) yang dimiliki mujahidin

Oleh karena itu I’dad yang dilakukan adalah akan memenuhi unsur empat tuntutan diatas. Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut:

Pertama : Tuntutan Syar’ie

Yang dimaksud tuntutan syar’ie adalah bahwa menurut kaedah syhar’ie bahwa hari ini hukum jihad adalah fardhu ‘ain. Jihad itu mulanya hukumnya fardhu kifayah, akan tetapi ia berubah menjadi fardhu ‘ain disebabkan:

  1. Jika musuh menyerang dan menguasai tanah kaum muslimin
  2. Jika ada Tanfir ‘Aam (mobilisasi umum) dari Amir
  3. Jika dua pasukan bertemu saling berhadapan
  4. Jika ada kaum muslimin (Mujahidin) dipenjara oleh musuh

Jika salah satu sebab ini ada maka jihad pada saat itu hukumnya menjadi fardhu ‘ain. Satu kewajiban yang menuntut setiap individu untuk melakukannya.

Kedua: Tuntutan Kondisi

Yang dimaksud tuntutan kondisi adalah kondisi kaum muslimin yang didholimi dan hak-haknya direnggut oleh kaum kafir. Sehingga dalam kondisi seperti ini kaum muslimin berada dalam kondisi bertahan dalam sarangan musuh. Atau istilahnya dalam ilmu fikih adalah DAF’US SHO-IL (Bertahan dari serangan musuh).

Dalam jihad yang DAF’US SHO-IL maka para ulama telah sepakah bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain (kewajiban individu). Adapun bentuk mempertahankan diri yang dilakukan adalah sesuai kemampuan yang dimiliki oleh seorang yang didholimi. Jika ia mempuyai senjata api maka ia hadapi dengan senjata api, jika ia mempunyai granat maka ia hadapi dengan granat, dan jika ia tidak mempunyai apa-apa kecuali hanya pisau dapur, maka ia mempertahankan diri dengan menggunakan pisau dapur itu, walaupun ia sadar bahwa ia pasti akan kalah dalam menghadapi musuh yang menggunakan senjata api. Bukankah begitu ya akhie?

Ketiga: Tuntutan Modus

Yang dimaksud Tuntutan Modus adalah Modus yang hendak dilakukan oleh mujahidin dalam beramaliyat.

Contoh : Modusnya Ightiyalat (Penculikan). Maka I’dad yang dilakukan sebelum melakukan amaliat Ightiyalat adalah berlatih dalam hal ilmu ightiyalat. Seperti mempelajari Qital Qorib (perang jarak dekat) dengan menggunakan tangan kosong, atau cara menggunakan pisau, atau cara menggunakan senapan pistol, dls. Sehingga di dalam berlatih (beri’dad) dalam ilmu ightiyalat ini ada batasan waktu yang jelas dan terukur sesuai modus yang akan dilakukan oleh mujahid.

Karena kondisi yang sangat mendesak maka tadrib yang dilakukan hanya berkisar sesuai MODUS Amaliyat yang akan dilakukan. Sehingga I’dad yang dilakukan pun menyesuaikan tuntutan di lapangan.

Memang sangat ideal jika seorang mujahid yang hendak melakukan amaliyat Ightiyalat tidak cuman menguasai ilmu ightiyalat saja, namun ia mampu menguasai ilmu-ilmu perang yang lainnya. Namun karena kemampuan yang seadanya, dan tuntutan yang mendesak maka kita beramal sesuai dengan kemampuan.

Kaidah ushul mengatakan:

مَا لاَيُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ كُلُّهُ

“Sesuatu yang tidak dapat dicapai dengan keseluruhan, maka tidak ditinggalkan keseluruhannya”. (Al-Ahkam oleh Ibnu Hazm)

Jika kita tidak mampu mengalahkan musuh secara semuanya maka kita tidak meninggalkan memerangi musuh secara keseluruhan. Jika kita tidak mampu membunuh musuh secara keseluruhan sebagaimana mereka membunuh saudara-saudara kita, maka bukan berarti kita diam tidak membunuh mereka walau pun satu orang pun. Bukankah begitu wahai ikhwan ….. ?

Keempat : Tuntutan SASPRA (Sarana dan Prasarana)

Yang dimaksud tuntutan SASPRA adalah melakukan I’dad sesuai SASPRA yang dimiliki oleh mujahidin. Jadi kita beri’dad sesuai dengan kemampuan kita, kemampuan ilmu dan perlengkapan. Karena Allah tidak menuntut lebih dari batas kemampuan kita.

Contoh: Mujahidin hanya mempunyai Pelatih Qital Qorib, dan mujahidin mempunyai SASPRA dalam qital qorib ini, maka yang dilakukan mujahidin adalah berlatih sesuai kemampuan yang dimiliki, kemudian dilanjutkan dengan melakukan amaliyat sesuai ilmu dan kemampuan yang dimiliki.

Namun, jika ada ikhwah lain yang mempunyai ilmu yang lebih dalam ilmu ‘Askary, dan ia pun mempunyai peralatan jihad yang mumpuni, lalu ia sudi mengajarkan ilmunya dan memberikan senjatanya untuk digunakan, maka pasti dengan senang hati para mujahidin ini akan meningkatkan kwalitas ilmu dan SASPRA yang dimiliki. Akan tetapi karena kemampuan yang dimiliki mujahidin baru segitu sementara tuntutan mendesak di depan mata akhirnya mujahidin berbuat sesuai kemampuannya. Namun jika ada mujahidin lain yang mampu lebih melakukan hal yang dilakukan mujahidin ini, maka amalnya ditunggu dan diharap-arapkan. Siapa yang akan berbuat? Antum semua bisa wahai akhie …

Ikhwah fillah …

Ada sebagian kaum muslimin, baik dari kalangan muslimin awwam maupun dari kalangan aktifis harokah, yang mengatakan bahwa jihad yang dilakukan oleh para mujahidin itu KHOYALI (angan-angan). Karena akibat yang didapat dari jihadnya mujahidin hari ini adalah Dikejar-kejar Thoghut, dipenjara, dan dibunuh. Bukan KEMENANGAN.

Mari kita bertafakkur… Apakah memang tuduhan ini benar? Silahkan antum kaji dalam Kitab dan Sunnah bahwa jihad yang dilakukan mujahidin hari ini adalah KHOYALI!!!!! Atau justru sebaliknya?

Ikhwah fillah …

Dalam satu kata-kata mutiara arab dikatakan:

لاَيَذُوقُ إِلاَّ مَنْ ذَاقَهَا

“Tidak akan dapat merasakan (nikmatnya) kecuali (orang yang sudah) merasakannya”.

Ikhwah fillah …..

Kembali kepada topik kita “I’dad sebalum berjihad”. Jadi para mujahidin yang hari ini berjihad bukanlah hanya berdasarkan semangat, isti’jal, dan tidak disiplin. Akan tetapi mereka telah i’dad sebelum berjihad. Mereka tadrib sebalum beramal.

Hanyasanya karena kekuatan iman dan azam dari Allah lah mereka mampu mengangkat bendera jihad ini dan mampu memikul beban berat yang hari ini banyak ditinggalkan oleh kebanyakan orang. Mereka menjadi pengganti para alumni yang bernah tadrib di Afghanistan, Moro, Ambon dan Poso. Dengan modal sedikit ilmu dan besarnya keyakinan mereka melangkah dan maju menyerang musuh. Selamat tinggal wahai para alumni yang pernah tadrib di Afghanistan, Moro, Ambon dan Poso. Sekarang cuman ada dua pilihan: MENJADI PENGGANTI atau YANG DIGANTI.

Yang dimaksud PENGGANTI adalah Orang yang berjihad yang menggantikan orang-orang yang tidak mau berjihad.

Yang dimaksud yang DIGANTI adalah Orang yang tidak mau berjihad dan ditinggalkan berjihad oleh para mujahidin yang mau berjihad. Di antara mereka adalah para veteran jihad Afghan, Moro, Ambon dan Poso.

“Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kalian) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At Taubah: 39).

“Dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan menjadi seperti kalian ini”. (QS. Muhammad: 38)

Tinggal antum pilih yang mana “PENGGANTI atau DIGANTI?”

Ikhwah fillah …

Kadang kita tidak sadar bahwa ucapan dan kritikan kita kepada mujahidin itu tanpa kita sadari menjadi bentuk cemoohan, penggembosan dan menyakitkan buat mujahidin. Dan tanpa kita sadari kita telah menyenangkan musuh.

Jika kritikan yang diarahkan kepada mujahidin itu datang dari mujahid yang memang ikut berjihad, (Bukan pernah berjihad, seperti jihad di Afghan, Moro, ambon, poso, dan tempat lainnya). Maka kritikan itu pasti akan membangun dan semakin menguatkan shoff mujahidin. Tapi jika kritikan itu datang dari orang-orang yang duduk-duduk dari jihad (Termasuk mntn Veteran Mujahid yang pernah berjihad di berbagai bumi jihad), maka tiada lain isinya pasti pencaci makian, pelecehan, melemahkan dan memojokkan mujahidin. Maksud hati mencintai mujahidin, tapi kenyataannya justru memusuhi mujahidin. Lisannya menyatakan cinta, tapi perbuatannya menunjukkan kebencian. Antara Bahasa Lisan dengan Bahasa Tubuh berbeda.

Jika memang antum cinta mujahidin maka pasti antum akan membantu mujahidin. Jika antum merasa mencintai mujahidin pasti antum akan menjadi teman dan pembela serta pelindungnya. Bukankah begitu? Mana ada orang disebut kawan dan pembela serta pelindung mujahidin, jika ia didatangi mujahid dia ketakutan dan tidak memberinya tempat, dengan alasan bukan satu tandzim dan takut dipenjara thoghut lantaran melindungi mujahidin. Dls. Wal ‘iyadzu billah.

Ikhwah fillah …

Jika sikap diam antum dari mengkritik mujahidin itu menambah kebaikan mujahidin, maka diam itu lebih baik buat antum daripada berkata-kata. Lebih baik mulut antum diam akan tetapi perbuatan antum menunjukkan bantuan, pembelaan dan perlindungan buat jihad dan mujahidin. Daripada mulut antum berucap mencintai, membela dan melindungi akan tetapi perbuatan antum bersebrangan dengan kata-kata antum.

Ikhwah fillah …

Jika ada kekurangan di pihak mujahidin maka kewajiban kita memenuhinya. Jika ada kesalahan di fihak mujahidin maka kewajiban kita membenarkannya dan menutupinya, dan jika ada sesuatu yang lebih pada antum maka kewajiban antum adalah memberikannya kepada mujahidin.

Ikhwah fillah …

Ingin rasanya aku perpanjang risalah ini, dengan harapan semakin menambah fahamnya antum akan kondisi jihad dan mujahidin hari ini. Ingin rasanya aku sampaikan semua kepada antum agar antum semakin sadar akan kewajiban antum kepada jihad dan mujahidin. Namun karena kondisi dan ruang yang menuntut saya untuk mencukupkan risalah ini sampai sekian.

Semoga risalah ini bermanfaat buat kaum muslimin semua, khususnya buat para ikhwah yang di dalam hatinya masih ada ghiroh untuk berjihad.

Semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang lurus, dan mengumpulkan kita di barisan mujahidin. Amin ya mujibas saailin…

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ. نِعْمَ اْلمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى رَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Bumi Allah, 3 Mei 2009 M.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: