WAHAI PARA PENGGEMBOS DAN PENCACAT! SILAHKAN KAU CELA AKU

Abdullah Muridusy Syahadah

Kepada Kaum Muslimin Secara umum dan para aktivis Harokah secara khusus

Di Mana Saja Berada

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه. أمَّا بعد

Puja dan puji syukur hanya untuk Allah. Rob semesta alam. Yang telah berfirman:

“Ikutilah apa yang Telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”. (QS. Al An’am: 106)

Sholawat serta salam kita haturkan ke atas junjungan nabi kita Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Yang telah bersabda:

اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا : ِلمَنْ ؟ قَالَ : ِللهِ, وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

“Dien itu Nasehat. Kami bertanya: Bagi siapa? Beliau bersabda: “Bagi Allah, Kitabnya, Rosul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi kaum muslimin pada umumnya”. (HR. Muslim).

Ikhwah fillah …..

Dalam Risalah dan Nida’at yang ke-9 ini, saya menghadirkan ke tengah-tengah antum sekalian satu tema “WAHAI PARA PENGGEMBOS DAN PENCACAT! SILAHKAN KAU CELA AKU!!!!!”

Tema ini adalah hasil perenungan dari pengalaman dan pelajaran yang saya ambil di dalam perjalanan hidup saya semenjak memulai menapaki jalan jihad fie sabilillah ini. Juga kejadian-kejadian yang dialami oleh sebagian ikhwah mujahidin.

Memang aku sadar, ketika mulai aku tancapkan niatan dalam hati untuk berjihad, maka terbayang olehku mulut-mulut Mukhodzilun (Penggembos) dan Murjifun (Pencacat) itu akan berceloteh, tiang-tiang gantungan akan dipasang oleh thoghut, pintu-pintu penjara dibuka lebar-lebar, selalu dipantau dan dikejar-kejar oleh musuh. Aku sadar itu dan ternyata itu tidak hanya menjadi bayangan saja, akan tetapi menjadi kenyataan.

Dari awal sudah aku sadari bahwa dalam perjalanan ini akan nampak siapa pembela dan siapa musuh. Baik musuh dari kalangan Kafir Asli maupun Kafir Murtad dan Munafiq, serta musuh dari kalangan aktivis haroki sendiri yang notabena mereka mengenal kita. Yang hati mereka dihinggapi penyakit WAHN dan HASAD. Wal ‘iyadzu billah

Ikhwah fillah …..

Risalah dan Nida’at ke-9 ini semoga bisa menjadi ibroh dan pelajaran buat para ikhwah yang juga bercita-cita untuk berjihad dan mati syahid fie sabilillah. Sebuah pelajaran yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang menapakinya, sebuah pelajaran yang hanya dapat difahami oleh orang yang menjalaninya. Dan akan memperkokoh pendirian dan azam (tekad) bagi para penitinya hingga ia mendapat dua kebaikan “Kemenangan atau Mati Syahid”.

Ikhwah fillah …..

Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Maidah: 54).

Di dalam ayat ini Allah menerangkan tentang ciri-ciri dan sifat Hizbullah (Kelompok Allah) dan Jundullah (Tentara Allah). Ciri-ciri tersebut adalah:

  1. Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah
  2. Bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin
  3. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir
  4. Berjihad fie sabilillah
  5. Tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela

Inilah beberapa sifat mendasar bagi Jundullah.

Ikhwah fillah …

Tentunya kita semua ingin menjadi Jundullah dan Hizbullah. Dan ternyata banyak orang yang bercita-cita menjadi Jundullah, walau pun pada realitanya mereka menjauhkan diri dari cita-citanya itu. Antara Idea dan Realita sungguh sangat berbeda. Mereka ingin mendapat predikat Jundullah namun jalan yang ditempuh bukan jalan Jundullah. Ia tidak sadar bahwa kapal tidak akan mungkin dapat berlayar di atas pasir.

Jika diringkas, pendek katanya adalah bahwa ayat ini menerangkan tentang jatidiri seorang Jundullah (Mujahid). Bahwa:

Seorang jundullah adalah orang yang sangat mencintai Allah, hingga Allah pun mencintainya. Kecintaannya kepada Allah lebih besar daripada kecintaannya kepada yang lain-Nya, walau pun terhadap dirinya sendiri. Karena ia faham dengan firman Allah3

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”. (QS. Al Baqoroh: 165).

Karena kecintaanya kepada Allah lah sehingga ia mengorbankan segala yang ia miliki untuk menolong Allah dan membela agama-Nya, hingga nyawa pun ia korbankan demi kecintaannya kepada Allah.

Seorang jundullah adalah orang yang sangat lemah lembut dan kasih sayang terhadap orang mukmin. Ia mencintai saudaranya mukmin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Karena ia faham dengan sabda shollallahu ‘alaihi wasallam:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتىَّ يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah satu dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Subhanallah …… Maha Suci Allah. Beginilah sifat seorang mujahid. Ia korbankan dirinya dan nyawanya demi membela saudaranya yang terdzolimi dan terbantai. Demi membela kehormatan seorang muslimah yang dijamah oleh tangan-tangan musuh durjana la’natullah ‘alaihim. Walau pun orang-orang menganggapnya sebagai “Orang yang bersemangat dan orang yang isti’jal (tergesa-gesa)”. Dls.

Seorang jundullah adalah yang bersikap keras kepada orang-orang kafir (baik kafir asli maupun murtad). Ia bersikap keras di dalam masalah aqidah, lalu ia bersikap keras di dalam sikap dan perbuatan yang diimplementasikan di dalam Jihad fie sabilillah.

Di antara sikap keras terhadap orang kafir di dalam aqidah dan perbuatan adalah seperti yang dicontohkan oleh Nabi Allah Ibrahim ‘alaihis salam:

“Sesungguhnya telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (Al Mumtahanah: 4)

Adapun tata cara bersikap tegas dan keras kepada musuh adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah:

  1. Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah
    1. Engkau meninggalkannya
    2. Engkau membencinya
    3. Engkau mengkafirkan pelakunya
    4. Dan engkau memusuhi para pelakunya

Hari ini tidak ada yang bisa mengamalkan sikap seperti ini kecuali para mujahidin dan para Da’i Tauhid yang jujur di dalam dakwahnya. Karena zaman sekarang ada orang yang tidak mau berjihad, ia mengambil peran di bidang dakwah, akan tetapi dakwahnya tidak jujur. Katanya mendakwahkan tauhid akan tetapi mencela Da’i tauhid yang dengan tegas mendakwahkan tauhid. Katanya mendakwahkan tauhid akan tetapi bermudahanah (bertoleransi) kepada thoghut. Katanya keras kepada thoghut akan tetapi malah bergandengan dengan thoghut. Seperti ada kasus seorang pemimpin ormas Islam yang notabene mempunyai misi menyerukan dakwah tauhid dan mengikut manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, akan tetapi dia menjadi Tim Sukses salah satu CAPRES (Calon Presiden). Bahkan dia mengadakan hubungan dengan badan-badan yang notabene milik thoghut. Sementara para FANATISANnya mengatakan “Itu hanya untuk wasilah saja agar dakwah kita lancar dan tidak dicurigai”. Dakwah tauhid macam apa ini? Sementara mereka mencaci dan mencibir orang yang secara tegas menyampaikan dakwah tauhid. Wal ‘iyadzu billah

Dalam faktanya, ormas ini melarang para binaannya untuk menghadiri sebuah bedah buku yang diadakan oleh sebuah Organizer yang bertemakan “SURAT KEPADA PENGUASA” (Sebuah buku yang membahas tentang kafirnya penguasa negeri ini karena tidak berhukum dengan hukum Allah). Karena dianggap forum ini bertentangan dengan misi dan visinya. Wal ‘iyadzu billah.

Memang kadang bahasa lisan itu berbeda dengan bahasa tubuh. Lisannya mengatakan mendukung dakwah tauhid, akan tetapi bahasa tubuhnya menyelisihi. Bahkan ada yang secara terang-terangan mencela dan memojokkan para mujahidin dan para da’i tauhid. Bahasa lisannya mengatakan cinta dan mendukung mujahidin, akan tetapi bahasa tubuhnya menampakkan kebencian dan celaan. Wal ‘iyadzu billah.

Seorang Jundullah (mujahid) adalah ia berjihad fie sabilillah.

Yang dimaksud jihad fie sabilillah di sini adalah memerangi orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimah Allah. Singkatnya adalah jihad fie sabilillah adalah Memisahkan kepala musuh dari raganya, atau mengeluarkan nyawa musuh dari jiwanya.

Adapun penopang yang masuk dalam mata rantai jihad sungguh sangat banyak sekali.

Yang dimaksud MATA RANTAI JIHAD adalah ikatan dan atau hubungan yang dapat mensukseskan Amaliyat (Operasi) jihad fie sabilillah. Mata rantai itu di antaranya adalah:

  1. Pengkaderan
  2. Sumber daya mujahid
  3. Sumber dana mujahid
  4. Anshor

Penjabarannya adalah:

  1. 1. Pengkaderan

Yang kita maksud pengkaderan di sini adalah pengkaderan personal yang siap menjadi mujahid.  Yang siap diikut sertakan dalam amaliyat jihadiyah. Baik di dalam maupun luar negeri. Baik jihad konvensional maupun gerilya. Pengkaderan ini bisa melalui beberapa sarana:

  1. Pondok pesantren
  2. Halaqoh taklim
  3. Dls

Dengan catatan bahwa pondok pesantren, Halaqoh taklim dan yang lain itu betul-betul mencetak santri dan binaannya untuk menjadi mujahid.

Sebuah kisah:

Seorang ustadz menasehati salah seorang santrinya. Ustadz itu mengatakan: “Buat apa saya membuat pondok pesantren kalau bukan untuk mencetak kader yang siap untuk Iqomatud Dien (menegakkan Dien)? Saya ini dituduh sebagai Qo’idun (orang-orang yang duduk dari jihad) dan Murji’ah”. Ustadz tersebut bermaksud mengarahkan pada santrinya bahwa ia ingin mencetak kader mujahid.

Dalam faktanya ustadz tersebut tidak jujur dengan perkataannya. Bahasa lisan dengan bahasa tubuh tidak sama.

Faktanya: Ketika ada salah seorang santri pondok keluar dengan misterius (menurut ustadz) tersebut. Ditambah lagi ada kasus seorang ustadz di sebuah pondok keluar dari pondok dengan misterius juga. Ustadz itu pun kebakaran jenggot dan berang. Ustadz tersebut berkata: “Saya sadar bahwa pondok ini ada yang menggerogoti”. Trus ustadz tersebut berkata: “Orang-orang yang berjihad hari ini adalah orang-orang yang tidak sabar”. Dls. Wal ‘iyadzu billah.

Mestinya jika ustadz tersebut jujur bahwa dia mendirikan pondok pesantren itu untuk mencetak kader mujahid, maka mestinya ia berlapang dada dengan santrinya yang bersemangat untuk berjihad. Jika santrinya ingin pergi berjihad walaupun tidak melalui jalurnya maka hendaknya ia merestui dan mendukung. Dan jika ada orang lain dan atau Tandzim jihad yang mengajak santrinya berjihad, mestinya ia izinkan santrinya berjihad. Bukan dihalang-halangi.

Jadi fungsi pondok dan halaqoh ta’lim adalah untuk mencetak mujahid.

Ibarat jama’ah jihad itu sebagai senjata api “M 16”, maka pondok pesantren dan halaqoh ta’lim berfungsi sebagai Magazine yang berfungsi untuk menyimpan peluru-peluru yang siap ditembakkan. Bukan menjadi magezin yang menyimpan peluru yang mejen (mis fayer).

Jika memang pondok pesantren dan halaqoh ta’lim itu memang berfungsi sebagai kantong mujahid, maka duduknya para ustadz yang membina di situ bukan menjadi Qo’idun. Akan tetapi ia menjadi mujahid yang bertugas untuk mengkader generasi mujahid. Sebagaimana firman Allah:

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. At-Taubah: 122).

  1. 2. Sumber Daya Mujahid (SDM)

Yang dimaksud SDM adalah kader-kader yang siap menjadi mujahid. Ini sudah diterangkan di dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.

  1. 3. Sumber Dana Jihad (SDJ)

Yang dimaksud SDJ adalah sumber dana yang dimanfaatkan untuk jihad dan mujahidin. Bisa melalui uang infak yang diambil dari para binaan, maupun membuat perusahaan yang uangnya khusus buat operasional jihad. Ini sudah dibahas dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.

  1. 4. Anshor

Yang dimaksud Anshor adalah Menjadi penolong dan pembantu mujahidin. Baik bantuan Moril maupun Materiil. Seperti memberi tempat untuk mujahidin, dls. Ini juga sudah dibahas dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.

Jika keberadaan kita seperti dalam mata rantai jihad ini. Maka sesungguhnya keberadaan kita pada saat itu adalah sebagai seorang mujahid, walau pun kelihatannya kita duduk-duduk di dalam rumah bersama istri dan anak kita. Karena jihad yang sedang dilakukan mujahidin hari ini adalah Harbul ‘Ishobat (Perang Grilya). Perang gerilya membutuhkan pergerakan yang seaman mungkin dan senyaman mungkin sehingga nampak seakan-akan orang yang berjihad tidak Nampak bahwa ia sedang berjihad. Ia memukul musuh akan tetapi orang lain melihatnya sedang duduk-duduk santai di rumah. Bukankah begitu wahai akhie?

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang Telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Anfal: 72).

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al Anfal: 74).

Sudahkah kita mengambil perang seperti di dalam ayat ini? Peran kita adalah Menjadi Mujahid Anshor maupun menjadi Mujahid Muhajir. Memberi tempat tinggal dan pertolongan adalah peran yang diambil oleh mujahid Anshor.

Seorang jundullah adalah yang Tidak Takut Celaan Orang Yang Suka Mencela.

Di dalam perjalanan sang mujahid, pasti akan mendapatkan ujian dan tantangan, celaan dan cercaan, baik dari kalangan orang-orang kafir asli maupun kafir murtad, dari kalangan kaum muslimin awwam mau pun muslimin ulama, dari orang yang tidak mengenal sampai kawan akrab. Itu sudah menjadi sunnatullah.

Apalagi bagi para mujahidin yang hari ini berjihad di negeri seperti ini. Yang menurut anggapan kebanyakan orang bahwa negeri ini adalah negeri Islam, kita berjihad di sini dengan jihad Dakwah bukan Jihad senjata. Wal ‘iyadzu billah

Berjihad di sebuah Negara murtad yang menurut kebanyakan orang yang berfaham Murjiah mengatakan “bahwa system negara ini kafir akan tetapi penguasanya muslim. Karena penguasanya Jahil dan Belum Tersampaikan Hujjah”. Wal ‘iyadzu billah

Berjihad di tengah-tengah tekanan penguasa murtadz yang gencar melakukan permusuhan dan penindasan kepada para mujahidin.

Berjihad di tengah-tengah para aktifis harokah yang phoby akan jihad, walau pun sebagian mereka ada yang mengaku bahwa tandzimnya adalah tandzim jihad. Wal ‘iyadzu billah

Celaan-celaan itu datang dengan bertubi-tubi dan tak habis-habisnya. Dan menyebarkan issu yang menyesatkan ummat dengan menyebar fitnah murahan. Para mujahidin diposisikan seakan-akan sebagai musuh, dan memposisikan orang-orang yang bermudahanah dengan thoghut sebagai pahlawan. Wal ‘iyadzu billah.

Sebuah kisah:

Seorang ustadz berceramah di hadapan para mustami’. Dia mengatakan: “Saya pernah membesuk para ikhwah tersangka peledakan kedubes Australia. Pada saat saya datang membesuk, tangan mereka terborgol. Lalu saya katakan kepada mereka: “Antum baru bisa menjebol pagarnya saja. Jika kita bersama-sama maka kita akan dapat jebol dalamnya”. Maksud ustadz tersebut adalah meremehkan kerja keras dan kerja besar yang dilakukan oleh para ikhwah mujahid ini. Karena di dalam faktanya ustadz ini tidak ada sama sekali Mu’awanahnya kepada para mujahidin di dalam mensukseskan satu Amaliyat Jihadiyah. Tidak ikut andil dalam menyusun strategi untuk memukul musuh. Bahkan dia selalu me-Warning orang dengan kata-kata: “Hati-hati dengan Si A. hati-hati dengan Si B”. Wal ‘iyadzu billah.

Sebuah kisah:

Seorang ustadz mengajar di kelas santriwati. Dalam pengajarannya itu seorang ustadz mengatakan: “Sesungguhnya jihad itu tujuannya bukan mencari syahid, akan tetapi berjihad itu untuk mencari ridho Allah”. (Ustadz ini bermaksud memojokkan para ikhwah mujhaid yang selama ini menggelorakan semangat jihad dengan ingin mendapatkan syahadah dan 72 bidadari).

Mendengar celotehan ustadz ini para santriwati ini bingung dan berbisik-bisik antara temannya: “Sebenarnya ustadz ini maksudnya apa?” Dan pada kesempatan yang lain ustadz ini berkata: “Bom Bali itu bukan jihad. Karena tidak pakai izin Amir”. Dan pada kesempatan yang lain ustadz ini mengatakan: “Saya tidak berani mengatakan bahwa Bom Bali itu termasuk jihad, juga saya tidak berani mengatakan bahwa Bom Bali itu bukan jihad”. Kata-kata ini diungkapkan oleh ustadz tersebut guna menggembosi dan menjelekkan amal jihad yang dilakukan oleh para ikhwah mujahid. Na’udzu billahi min dzalik.

Sebuah kisah:

Seorang ustadz menasehati seorang santrinya yang mempunyai semangat berjihad. Ustadz tersebut berkata: “Kalau kamu mau berjihad maka kamu harus Tholabul ilmi dulu. Jihad itu tidak hanya modal semangat saja. Sesungguhnya orang-orang yang berjihad sekarang itu kurang sabar dan isti’jal”. Ini adalah perkataan yang benar akan tetapi diarahkan kepada yang batil. Karena ustadz ini sebenarnya mau mengatakan: “Kamu tidak usah ikut berjihad dengan orang-orang yang berjihad itu”. Akan tetapi untuk memoles kata-katanya maka ia bersilat lidah dengan seperti itu. Karena faktanya mengatakan seperti itu. Wal iyadzu billah

Semua kisah di atas adalah beberapa contoh yang dapat terekam oleh para ikhwah di lapangan. Baik rekaman elektronik maupun rekaman otak dan hafalan mereka. Adapun kenyataannya sikap dan komentar para Mukhodzilun dan Murjifun itu lebih pedas lagi. Mereka bermaksud memadamkan kobaran semangat api jihad yang membara di dada kaum muslimin. Mereka tidak sadar bahwa kobaran semangat api jihad ini tidak akan pernah padam walau pun seluruh manusia di jagad raya ini bersatu padu untuk memadamkannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. Ash Shoff: 8).

Dan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقِّ. لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ وَلاَ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتىَّ تَقُومَ السَّاعَةُ وفي رواية مسلم : لاَ يَزَالُ أَهْلُ الْغَرْبِ

“Akan selalu ada sekelompok dari ummatku yang dzohir diatas kebenaran, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang menyelisihi dan mentelantarkan mereka hingga terjadi qiamat, dan diriwayat Muslim berbunyi: “Akan senantiasa ada ahlul ghorb” (orang-orang barat). (Majmu’ Fatawa, XIII / 531).

Para mujahidin ini selalu ada dan akan selalu ada. Tidak membahayakan bagi mereka celaan orang yang suka mencela dan cacian orang yang suka mencacat. Tidak membahayakan sama sekali ulah para Mukhodzilun dan Murjirun.

Wahai para Mukhodzilun dan Murjifun …..

Sesungguhnya sikap sinis dan tuduhan-tuduhan serta fitnah-fitnah yang kalian lancarkan terhadap mujahidin itu tidak sama sekali dapat memadhorotkan jihad dan mujahidin. Bahkan Allah akan mendatangkan para pembelanya untuk berdiri di kalangan mujahidin. Karena Allah berfirman:

“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At Taubah: 39)

“Dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini”. (QS. Muhammad: 38)

Sesungguhnya penggembosan dan cercaan yang kalian lakukan terhadap mujahidin hari ini tidak akan mengundur kemenangan mujahidin. Juga tidak dapat mengajukan kekalahan mujahidin sedikit pun. Karena Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْئٍ لمَ ْيَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ. وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ لَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْئٍ إِلاَّ بِشَيْئ ٍقَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ. رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Ketahuilah bahwa seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepadamu. dan seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang merugikan kamu, maka mereka tidak akan bisa merugikanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah terhadapmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering tintanya”. (HR. Tirmidzi).

Wahai para pembela mujahidin….. wahai para pendukung mujahidin ….. wahai orang-orang yang ingin berjihad bergabung dengan para mujahidin …..

Teguhkanlah hatimu, kuatkanlah azammu, tak usah kau hiraukan suara penggembos dan pencacat. Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Manusia itu akan berkumpul sesuai dengan kecondongan hati dan imannya. Jika hatinya cinta kepada jihad dan mujahidin maka ia pasti akan dapat berjihad dan bertemu dengan mujahidin. Jika tidak dapat bertemu di dunia pasti bertemu di Jannah kelak. Jika hatinya benci kepada jihad dan mujahidin, maka ia akan dijauhkan dari jihad dan mujahidin dan akan dikumpulkan bersama para Qo’idun, Mukhodzilun dan Murjifun.

Kumpulan kambing akan berkumpul dengan kambing. Kumpulan singa akan berkumpul dengan singa. Tidak mungkin kambing dapat berkumpul dalam kumpulan singa. Itu mustahil….. itu ajaib …..

Ingatlah wahai saudaraku para pembela mujahidin, para pendukung mujahidin ….. Bahwa sekarang banyak para ustadz dan ulama, dan atau para pemimpin yang dengan menggunakan nama besarnya karena ia pernah berjihad di Afghanistan, Philipina, Ambon dan Poso, ia menyihir para pengukitnya untuk tidak berjihad. Ia bersikap bak seoarang mujahid dan pendukung jihad, akan tetapi di belakang ia tusuk para mujahidin dengan mulut berbisanya yang mematikan.

Dengan menggunakan kebesaran namanya di tengah-tengah pengikutnya ia pojokkan mujahidin, ia cela mujahidin, walau pun dalam kata-katanya ia sering mengatakan: “Kita tidak boleh mencela mereka, dan jika mereka datang meminta bantuan maka kita bantu”. Walau pun kenyataannya bohong belaka.

Para ustadz, ulama dan pemimpin seperti ini tidak ubahnya seperti PELAWAK, yang kerjanya menyenangkan orang yang menontonnya. Di depan para mujahidin ia akan mengatakan bahwa dia membela, mencintai dan mendukung mujahidin. Bahkan dia merasa bagian dari mujahidin. Namun ketika bertemu dengan orang-orang yang tidak setuju dengan jihad dan mujahidin maka ia berceloteh yang difahami oleh orang-orang yang tidak senang dengan jihad itu bahwa “Para mujahidin itu bukan orang-orang yang disiplin, isti’jal, tidak sabar, dan lain sebagainya”.

Dengan menggunakan tingginya jabatan dan banyaknya pengikut ia katakan: “Tidak mungkin di dalam suatu wilayah terdapat dua Tandzim Jihad, dan “Jihad itu harus melalui Tandzim yang terpimpin”. Ia maksudkan bahwa tandzim jihad selain tandzimnya adalah menjadi pelemah tandzim jihad yang sudah ada. Padahal jika kita teliti, sungguh perkataan ini tidak ada sama sekali didukung oleh nash syar’ie dan waqi’.

Jika perkataan ustadz ini benar, maka tidak mungkin di Afghanistan terdapat tandzim-tandzim jihad selain Tholiban. Tidak akan mungkin ada tholiban dan Al Qoidah di dalam satu wilayah. Sesungguhnya tandzim-tandzim jihad yang ada hanyalah menjadi sarana memudahkan di dalam mengkoordinasi mujahidin dan program jihad. Di lapangan mereka saling Mu’awanah dan Munashoroh. Sebagaimana Tholiban memberikan bantuan dan pertolongannya kepada Al Qoidah. Jika di Afghanistan menerapkan faham ustadz yang mengatakan: “Tidak mungkin di dalam suatu wilayah terdapat dua Tandzim Jihad”, niscaya Tholiban memaksa Al Qo’idah untuk melebur ke dalam satu tandzim, yaitu Imaroh Islamiyah Tholiban.

Walau pun demikian, al-Qo’idah hormat dan setia terhadap Imaroh Islamiyah Thaliban. Namun secara administratif dan koordinasi di lapangan mereka berjalan sendiri-sendiri sesuai protap tandzim. Dan terjalin hubungan baik di lapangan antar kedua tandzim ini. Mereka saling Mu’awanah dan Munashoroh. Tidak saling menyalahkan dan melemahkan.

Jika Tholiban berfikiran bahwa “Gara-gara usamah menyerang WTC, dengan itu Afghanistan diserang Amerika”. Niscaya Syekh Mulla Umar hafidzohullah tidak mungkin menerima syekh Usamah bin Ladin dan para pengikutnya di Afghanisnistan. Namun syekh Mulla Umar sadar bahwa Amerika menyerang Afghanistan bukan karena ada Usamah, akan tetapi karena Islam.

Andai para ustadz dan pemimpin jama’ah di negeri ini sadar, bahwa Pemerintah murtad ini mengejar, menangkap, memenjara dan membunuh para mujahidin adalah bukan karena ada Bom Bali, dan aksi Bom-Bom lainnya. Akan tetapi karena Islam yang dibela, kehormatan kaum muslimin yang dibela. Niscaya tidak akan pernah keluar kata-kata cacian dan cemoohan terhadap mujahidin.

Namun jika masih tetap ada yang menggembosi, mencemooh, mencacat dan mencela. Maka saya sampaikan firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah: “Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan[1]. Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, Sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.” (QS. At Taubah: 52).

Kita buktikan kelak siapa yang benar di antara kita. Jika kita sama-sama ikhlas di dalam berjuang untuk Iqomatud Dien maka pasti kita akan bertemu dan bersatu. Walau pun untuk kali ini kita tidak bisa bersatu. Namun jika memang ada niatan jahat dan hasad di dalam dada, maka sesungguhnya Amal kita yang akan menjawab semuanya.

Ikhwah fillah …..

Sudah wajar kebaikan itu akan dicela dan dicerca. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pun tidak kelewatan di cela dan dihina. Sejak beliau menerangkan dakwah Tauhid, maka beliau dianggap Tukang Sihir yang gila, dikatakan pemecah belah. Dls

Sekarang ketika kita mentahridh (mengobarkan semangat) jihad kaum muslimin kita dikatakan Provokator, Penggrogot, Teroris, dls. Maka jika karena kita mengobarkan semangat berjihad kita dikatakan provokator, dan jika kita berjihad dikatakan Teroris, maka katakanlah bahwa “Kita adalah Teroris”. Karena Allah Ta’ala berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan / menteror musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Anfal: 60).

Ikhwah fillah …..

Hendaknya kita yakin dengan janji dan pertolongan Allah, jika memang apa yang kita lakukan ini benar. Walau pun para Mukhodzilun menggembosi. Walau pun para Murjifun mencaci maki.

Kita akan bersabar dan akan tetap berjalan di atas jalan ini, walau pun tubuh kita terkoyak, walau pun raga kita tercabik-cabik. Kita hanya bisa berharap kepada Allah

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ

Demikian sesingkat Risalah dan Nida’at yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat buat kita semua. Amien

Tidak ada niat saya kecuali hanya kebaikan. Dan tidak ada yang dapat memberikan Taufiq kecuali hanya Allah.

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ. نِعْمَ اْلمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى رَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Bumi Allah, 26 Mei 2009 M.

1 Jumadil Akhir 1430 H.


[1] . yaitu mendapat kemenangan atau mati syahid

Iklan

One Response to WAHAI PARA PENGGEMBOS DAN PENCACAT! SILAHKAN KAU CELA AKU

  1. Ping-balik: WAHAI PARA PENGGEMBOS DAN PENCACAT! SILAHKAN KAU CELA AKU « Saif Al Irhaby

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: