PEMBINAAN GENERASI MUSLIM BERDASARKAN KONSEP NABAWI

BAB  I

Sesungguhnya segala puji itu milik Allah.  Kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampunan-Nya.  Dan kami minta perlindungan kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal-amal kami.  Barangsiapa telah ditunjuki oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya.  Dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menunjukinya.  Kami bersaksi tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.  Dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang telah menunuaikan amanah, menyampaikan risalah serta memberikan nasihat kepada umat.  Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan atasmu wahai junjuganku, wahai Rasulullah.  Wahai engkau yang telah membina generasi Islam pertama, dan senantiasa generasi umat itu terbina berdasarkan petunjukmu.  Dan mudah-mudahan Allah meridlai semua sahabatmu serta para pengikutnya dan para pengikut-pengikutnya dengan baik sampai hari kiamat, …. ‘amma ba’du :

“Ya Allah tidak ada kemudahan kecuali apa yang telah Engkau jadikan mudah.  Dan Engkau jadikan kesedihan itu mudah manakala Engkau menghendakinya”

1. TARBIYAH (PEMBINAAN) NABI TERHADAP GENERASI ISLAM YANG PERTAMA

Yang kami maksud dengan “Generasi yang Pertama” adalah para sahabat.  Adapun sahabat sendiri adalah orang yang bertemu dengan Nabi SAW, mereka muslim dan mati atas keislaman.  Rabb mereka dan Nabi mereka menyanjung para sahabat.  Rabbul ‘Izzati memuji mereka.  Demikian pula Nabi SAW juga banyak menyanjung mereka.  Dalam surat Al Fath disebutkan :

tulisan arab

(QS. Al-FAth : 29)

(QS. At Taubah : 117)

Al Qur’an telah bersaksi -sedangkan dalil Al Qur’an itu qath’i dan pasti bahwa tigapuluh ribu sahabat yang ikut andil dalam perang Tabuk, mereka itu telah diampuni Allah.

(QS. Al Fath : 18)

Adapun mereka yang ikut dalam Ba’iaturridwan itu berjumlah seribu empatratus orang.  Mereka itu, berdasarkan nash Al Qur’an telah diridlai  oleh Allah.

Dalam hadits shahih disebutkan : “Sebaik-baiknya kurun adalah kurunku, kemudian yang sesudahnya kemudian yang sesudah mereka”[i]

Dalam hadits shahih dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan : Pernah terjadi pertengkaran antara Khalid bin Walid dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf.  Dalam pertengkaran tersebut Khalid mencacinya.  Maka Rasulullah SAW bersabda :

“Janganlah kamu sekalian memaki salah seorang sahabatku.  Karena sesungguhnya sekiranya seseorang diantara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka amalnya itu belum mencapai satu mud (kurang lebih 6 ons) seseorang diantara mereka atau setengahnya”[ii]

Padahal seperti telah diketahui Khalid juga seorang sahabat.  Akan tetapi karena ‘Abdurrahman telah mendahului keislamannya serta persahabatannya, maka Rasulullah Saw marah kepada Khalid seraya mengatakan : “Sesungguhnya kemuliaan persahabatan ‘Abdurrahman wahai Khalid, jika engkau berinfak emas sebesar gunung Uhud, dan engkau juga seorang sahabat, maka amalmu itu tidak akan mencapai amalnya”.  Kendati Khalid sendiri telah mulai berinfak sebelum Futuh Makkah dan ikut serta berperang.

(QS. Al Hadid : 10)

Dalam shahih Muslim dari hadits Jabir disebutkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda :

“Tidak akan masuk neraka, seseorang yang pernah berbaiat di bawah pohon (Baitur Ridwan)”[iii]

Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya , maka Dia dapati hati Muhammad itu lebih baik dari hati seluruh hamba-Nya, maka Diapun memilihnya dan mengangkatnya sebagai Rasul untuk mengemban risalahNya.  Kemudian melihat hati hamba-hambaNya sesudah hati Muhammad Saw, maka Dia dapati hati para sahabatNya (Muhammad) itu lebih baik dari hari seluruh hamba.  Lantas mereka dijadikan oleh Allah sebagai pembantu-pembantu Nabi-Nya”

Ibnu Hajar berkata : “Umat Islam telah bersepakat bahwa kemuliaan sahabat itu tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun jua”.

Dalam buku Aqidahnya, Abu Ja’far Ath Thahawi mengatakan : “Dan kami mencintai para sahabat Rasulullah SAW dengan tidak mengurangi sedikitpun kecintaan kami atas seseorang diantara mereka, dan kami membenci siapapun yagn membenci mereka atau mengatakan sesuatu yang tidak baik terhadap mereka atau mengatakan tentang mereka kecuali yang baik.  Mencintai mereka adalah termasuk agama (dien), iman, dan ihsan, sedangkan membenci mereka adalah tindak kekufuran, kemunafikan dan melampaui batas”.

Golongan manusia pilihan yang mulia ini, dipilih oleh Allah Rabbul ‘Izati untuk menguatkan agamaNya dan membela syariatNya.

QS Al Anfal : 62

Bagaimana generasi satu-satunya dan prototipe yang unik dalam sejarah kemanusiaan secara keselutuhan ini keluar dan muncul dari antara dua sampul kitab ? Bagaimana mereka menterjemahkan ay at-ayat kepada manusia, sehingga berubahlah kata-kata tersebut menjadi manusia berasal dari daging dan darah ?  Dan engkau tidak dapat membedakan kehidupan nyata mereka dari ayat Al Qur’an manapun.

QS Ali Imran : 110

Bagaimana mereka tumbuh berkembang sehingga menjadi generasi yang kuat dan matang dengan akarnya yang kokoh menghunjam ke dasar bumi.

QS. Ibrahim : 24-25

Apa sebenarnya prinsip-prinsip yang menjadi esensi pembinaannya ?  Apa dasar-dasar yang dipergunakan Murabbinya, Muhammad SAW untuk membina bangunan yang besar, mengagumkan dan mempunyai keteraturan yang unik.

2. POKOK-POKOK YANG MENJADI TEGAKNYA TARBIYAH GENERASI YANG PERTAMA

Sungguh Nabi Muhammad SAW telah membina generasi yang unik ini di atas prinsip-prinsip.  Yang terpenting dalam pandangan kami adalah :

a.         Membatasi pembinaan dengan Manhaj Rabbani saja.

b.         Memurnikan da’wah dari segala kepentingan duniawi dan manfaat-manfaat yang tidak kekal.

c.         Dimulainya dengan pembinaan aqidah atas sekelompok orang-orang beriman sebelum pembinaan syari’at (hukum).

d.         Sejak pertama kali pembinaan itu berwujud suatu kelompok haraki (gerakan).

e.         Jelas benderanya dan terang tujuannya serta tidak bercampur aduk dengan pemikiran lain.

f.          Membina “Qaidah Shalbah” (Fondasi yang kokoh) yang dapat menopang seluruh bangunan.

g.         Memanfaatkan dan mempergunakan semua daya serta potensi yang ada.

h.         Mengukur bobot seseorang dengan Mizan Rabbani, yakni takwa.

i.          Pembinaan melalui celah-celah peristiwa dan aktifitas yang kongkrit.

j.          Al Jihad

k.         Menanamkan kepercayaan akan pertolongan Allah dalam lubuk hati.

l.          Uswah Hasanah dan kepemimpinan yang fungsional dengan penerapannya.

m.        Bersikap lembut dan penyayang, bukan kasar dan menyakitkan.

n.         Keluasan wawasan berfikir pemimpinnya, Nabi SAW, khususnya mengenai perpindahan dari satu fase ke fase yang lain.

o.         Para sahabat Ra menerima perintah untuk dilaksanakan dan ditindakan.

Sebelum saya memulai keterangan pokok-pokok tersebut secata terperinci, maka ada baiknya saya kemukakan mengenai segi manfaat yang dapat diambil dengan mengetahui konsep nabawi dalam tarbiyah ini.  Dengan mengetahui Manhaj ini maka banyak manfaat yang dapat diambil, khususnya begi mereka yang hendak menegakkan dien Allah di permukaan bumi dan menumbuhkan masyarakat muslim dalam kehidupan yang nyata sesudah masyarakat tersebut lenyap dari pandangan dan lenyap dari wujud.

Manfaat-manfaat yang penting antara lain :

Pertama : Dapat mengetahui Manhaj (konsep) pemikiran Islam dalam membina daulah.  Sebab manhaj pemikiran dan gerakan untuk menegakkan Islam tidak kurang nilainya dan tidak kurang pentingnya dari manhaj kehidupan dan tidak terpisah daripadanya.  Sebagaimana Dien in sendiri dari sisi Allah, maka cara yang ditempuhnya pertama kali juga dari sisi Allah.

Kedua : Untuk mengikuti jalan Rabbani ini dalam membela Dien Allah dan mengokohkan syari’atNya dalam kehidupan.  Disamping itu untuk tetap konsisten di atas jalan tersebut.

QS. Hud : 120

QS. Al An’am : 90

Jalan itulah yang ditempuh oleh Rasulullah SAW pertama kalinya sehingga Dien (agama) ini mendapatkan kemenangan dan sekali-kali  agama ini tidak akan bangkit kembali ke muka bumi kecuali dengan cara tersebut.

Ustadz Sayid Quthb berkata : “Pemeluk agama in harus benar-benar mengetahui  bahwa agama in dzatnya adalah Rabbani, maka manhaj operasionalnya juga Rabbani berjalan paralel dengan tabi’atnya.  Dan tidak mungkin memisahkan agama ini dari manhaj operasoinalnya.  Jika kita telah mengetahui manhaj operasionalnya, maka hendaknya kita tahu juga bahwa manhaj ini adalah manhaj yang fundamental, bukan manhaj kontemporer, geografis ataupun manhaj kondisiona, khususnya dalam menghadapi problema-problema jama’ah Islam  yang pertama.  Sesungguhnya ia merupakan manhaj, dimana bangunan agama ini tidak akan tegak kapanpun juga kecuali dengannya.  Sesungguhnya berpegang teguh dengan manhaj  tersebut merupakan perkara yang sangat vital, seperti halnya berpegang teguh pada sistem Islam pada setiap gerakan.

Ketiga : Dapat mengetahui keagungan panglima pembimbing (Nabi SAW) yang telah mempraktekkan manhaj tersebut dan mengetahui keagungan para pasukan yang telah melaksanakan manhaj tersebut.

Rasulullah SAW telah melepaskan, dalam waktu yang relatif singkat itu, sebuah generasi yang terdiri dari pemimpin-pemimpin ulung dan kenamaan.  Panglima-panglima militer yang digembleng Nabi SAW, jumlah mereka lebih banyak daripada semua pangima militer sepanjang sejarah Islam.  Demikian juga beliau melepaskan generasi pemimpin, politikus, administrator, pembimbing, pengajar, hakim dan penguasa.  Jika ada seorang yang mampu menelorkan satu segi dari segi-segi tersebut, pastilah namanya akan ditulis dalam kelompok orang-orang abadi yang dikenang.  Lalu bagaimana halnya dengan orang yang dapat menggabungkan semua itu ?  Sesungguhnya ia benar-benar merupakan kebesaran Nubuwah sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abbas Ra.

Sekarang, marilah kita kembali membicarakan tentang fondasi-fondasi yang dipergunakan Rasulullah SAW dalam menegakkan bangunan yang sangat besar tersebut.

2.a. Fondasi (dasar) yang pertama

MEMBATASI PEMBINAAN HANYA DENGAN MANHAJ RABBANI

QS. Ali ‘Imran : 164

Adapun yang dimaksud dengan Al Kitab dalam tersebut adalah Al Qur’an, sedangkan Al Hikmah adalah AS Sunnah.  Rasulullah Saw membatasi tarbiyah para sahabatnya dengan Al Qur’an dan As Sunnah.  Beliau marah ketika melihat lembaran kitab Taurat ada di tangan ‘Umar.  Beliau berkata : “Demi Allah, sekiranya Musa hidup ditengah-tengah kalian, maka tidak halal baginya (mengikuti Taurat), melainkan ia harus mengikutiku”

Dalam riwayat Imam Ahmad dikatakan : “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya.  Seandainya Musa berada diantara kalian, kemudian kamu mengikutinya, pasti kalian akan sesat.  Ketahuilah sesungguhnya kamu adalah bagianku diantara umat-umat yang lain.  Dan aku adalah bagian kalian diantara nabi-nabi yang lain”[iv]

Oleh sebab itu, Dienul Islam sangat antusias dalam mewujudkan manhaj Rabbani itu di muak bumi.  Supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.  Demikian juga Islam sangat antusian dalam mewujudkan keadilan diantara manusia dan menanamkan nilai Ilahiyah itu dalam kehidupan insan.

(Q.S. Al Hadid : 25)

Jadi tujuan dari nubuwah (diutusnya nabi-nabi) ialah mewujudkan kebenaran diantara manusia dan menyebarkan keadilan itu diantara mereka. Oleh karena itu, dalam pandangan agama Allah, mengkritik seeseorang dan menerangkan kesalahan serta kekeliruan mereka itu jauh lebih ringan dibandingkan meluruskan seseorang yang mengabaikan manhaj tersebut dan menyimpang dari jalannya.

Rabbul ‘Izzati tidak membiarkan kemasaman muka Rasulullah SAW terhadap ‘Abdullah bin Ummi Maktum, orang yang buta, ketika beliau tengah sibuk mendakwahi golongan elite dari pemimpin Quraisy.

Saya katakan : “RAbbul ‘Izzati tidak membiarkan keadaan berjalan demikian, maka Dia mencela kekasihnya-Nya Nabi Muhammad SAW[v] dengan celaan yang keras dengan menurunkan surat yang memuat nama ‘Abasa (ia bermuka masam).  Celaan itu mencapai puncaknya pada kata “Kalla” (sekali-kali jangan demikian), sedangkan ia adalah kata pelanggaran dan cegahan”

Allah RAbbul ‘Izzati telah menurunkan sepuluh ayat yang jelas dalam surat An-Nisaa’ mengenai bebasnya seorang Yahudi dari tuduhan yang didakwakan kepadanya, dan menetapkan dakwaan tersebut kepada salah seorang penduduk Madinah yang memeluk agama Islam.  Dia adalah, Tha’mah bin Ubairiq.  Yang demikian itu karena kekekalan manhaj tersebut lebih baik daripada eksistensi seribu orang yang berjalan di atas manhaj yang menyimpang dan bengkok.

Oleh sebab itu kepemimpinan dalam agama (dien) ini adalah Rabbani yang tercermin dalam pribadi Rasulullah SAW, manhajnya Rabbani, tercermin  dalam Al-Qur’an dan As-sunnah, wasilahnya Rabbani.  Rasulullah SAW tidak mau menerima, sesudah perjanjian Hudaibiyah, penggabungan diri Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amru maupun Abu Bashir[vi] setelah mereka berhasil lolos dari Mekkah melarikan diri dari penindasan dan penyiksaan kaum Quraisy.  Beliau mengembalikan dua orang tersebut kepada Quraisy, karena tidak ingin melanggar jaminan yang telah diucapkannya maupun membatalkan perhanjian yang telah dijalinnya dengan kaum Quraisy, yakni beliau diminta dalam perjanjian tersebut untuk mengembalikan orang datang kepadanya dari fihak mereka.

Untuk itu, maka hendaknya para da’i Islam betul-betul memperhatikan tentang masalah (Rabbaniyah atau wasilah-wasilah berdasarkan cara syar’i).  Banyak diantara mereka yang menempuh cara yang menyimpang serta sarana-sarana yang tidak lempang demi mencapai tujuan yang mereka sebut dengan nama Mashlahat Da’wah.  Sehingga terkadang seorang da’i berbohong demi kepentingan da’wahnya.  Terkadang mengzhalimi manusia jika mereka berselisih dengan pengikut-pengikutnya. Itu semua berbahaya dan salah, karena hal itu merupakan penyimpangan dari manhaj dalam soal keasilan bahkan akan membawa akibat lenyapnya harakah itu sendiri.

Sesungguhnya maslahat da’wah Islamiyah adalah seorang da’i menyembah Allah dengan pedoman dien yagn telah diturunkanNya, seorang da’i menyembah Allah berdasarkan syari’atnya, dan seorang da’i berpegang pada prinsip-prinsip keadilan dan menyebarkannya di permukaan bumi.

QS. An Nisaa’ : 135

Apabila engkau ditanya tentang seorang pengikut da’wahmu yang telah makan riba.  Kemudian engkau telah pasti akan kebenaran berita tersebut, maka janganlah kamu menyibukkan dirimu untuk mencari-cari alasan atau menta’wilkan nash-nash Al-Qur’an untuk mencaurkan masalah keharaman tiba yang telah Qath’i demi membela pengikut da’wahmu itu.

2.b. Fondasi yang kedua

MEMURNIKAN DA’WAH DARI SEGALA KEPENTINGAN DUNIAWI DAN DARI MANFAAT-MANFAAT YANG TIDAK KEKAL.

Semua rasul mengumandangkan syi’ar ini :

QS. Asy Syu’ara : 127

Ayat ini diserukan oleh semua nabi, dan diucapkan pula oleh Nabi Nuh Nabi Hud, Nabi Shaleh, dan Nabi Syu’aib dalam surat Asy-Syu’ara.  Sesungguhnya jiwa manusia itu akan merasa segan atas orang yang biaa memberikan sesuatu kepadanya.  Maka dari itu tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah.

“Allah akan murka jika engkau tidak meminta kepadaNya.  Sendangkan anak Adam, ketika diminta dia marah”

Para Nabi dan para da’i wajib menjauhkan diri dari keduniaan manusia, sehingga mereka mau menerima da’wahnya.  Karena itu tak pernah sekalipun Rasulullah SAW menjanjikan fasilitas keduniwian kepada salah seorang pengikutnya atau ingin segera orang yang diajaknya itu masuk Islam dan beriman kepadanya.  Dahulu, ketika beliau melewati keluarga Yasir yang tengah mendapat siksaan, maka beliau hanya mengucapkan :

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir.  Karena sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga”[vii]

Tak pernah beliau membujuk dan menjanjikan kepada mereka dengan  harta dunia, kekuasaan, jabatan ataupun kepemimpinan.  Karena itulah beliau mengemukakan da’wahnya kepada bani ‘Amir bin Sha’sha’ah maka berdirilah salah seorang diantara mereka yang bernama Buhairah bin Farras, dan berkata : “Bagaimana jika kami berbai’at kepadamu atas perkaramu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang-orang yang menentangmu , apakah urusan itu akan menjadi milik kami sesudahmu ?”  Maka Rasulullah SAW menjawab : “Perkara itu milik Allah, Dia menempatkan di tempat manapun yang dikehendaki-Nya”.  Mendengar jawaban Rasulullah SAW, maka bani ‘Amir menolak da’wahnya.  Padahal pada waktu itu beliau benar-benar membutuhkan pertolongan salah seorang diantara mereka.

Allah Rabbul ‘Izzati tidak memberitahukan kepada RasulNya bahwa agama ini akan mendapat kemenangan lewat perantaraan tangannya.

QS. Az Zukhruf : 41-42)

Namun Rasulullah SAW meraka yakin bahwa agama ini akan menang meskipun panjang masanya.  Pada waktu bai’atul Aqabah kedua bagi golongan Anshar, beliau bersabda :

“Aku membai’at kalian atas : Kalian melindungiku seperti halnya kalian melindungi istri-istri kalian dan anak-anak kalian”  Mereka bertanya, “Apa yang kami dapatkan ya Rasulullah, jika kami penuhi bai’at tersebut?”  Beliau menjawab : “Surga”.  Mereka berseru : “Jual beli yang menguntungkan, kami tidak akan membatalkan dan tidak akan minta dibatalkan”[viii]

Bagi mereka yang bekerja untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi perlu mengetahui perkara ini. Bahwa da’wah itu hanya pantas dilakukan oleh orang-orang yang hatinya bersih dari segala tendensi, jika tidak demikian maka da’wah itu akan berubah menjadi tangga bagi orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dan menjadi ajang bisnis bagi sekelompok kaum.  Dan mereka harus tahu, bahwa uluran tangan mereka kepada para penguasa dan para hartawan akan menjatuhkan da’wah mereka di hati penguasa dan para hartawan  dan enanamkan bibit kebencian dalam hati rakyat jelata pada diri mereka dan da’wah mereka.  Maka dari itu orang-orang “Mushlih” (yang memperbaiki kerusakan sangant menjauhkan diri mereka dari dunia pada penguasa dan para pejabat.  Mereka mengatakan : “Sejelek ulama adalah mereka yang paling dekat dengan para penguasa.  Dan sejelek-jelek pemimipin adalah mereka yang paling jauh daripada ulama”.

Ibnul Mubarak berkata :

“Hai orang yang menjadikan agama sebagai alat baginya untuk memburu harta kekayaan para penguasa”

Tatkala Allah ‘Azza wa Jalla menguji para sahabat lalu mereka bersabar atas ujian tersebut, dan Allah mengetahui akan kekosongan jiwa mereka dari segala ambisi dna Dia tahu bahwasanya mereka tidak mengharapkan balasan di dunia ini sepanjang eksistensi mereka, dan Allah tahu bahwa mereka menjadi orang-orang yang dapat dipercaya menjada syari’atNya, maka Allah pun memberikan kekuasaan kepada mereka di bumi, dan meletakkan “Amanah yang besar” itu diantara kedua tangan mereka.[ix]

2.c. Fondasi yang ketiga

MEMBANGUN AQIDAH UMAT SEBELUM MEMBANGUN SYARI’AT (BIDANG HUKUM)

Ayat-ayat Al-Qur’an Makkiyah turun selama tiga belas tahun menjelaskan kalimat menjelaskan aqidah, sehingga aqidah tersebut tertanam ke dalam jiwa.  Yang demikian itu karena agama ini seluruhnya tegak di atas kalimat “La Ilaha Illallah”.  Semua perundang-udangannya, perinciannya dan hukum-hukumnya tegak diatas prinsip Uluhiyah/Ketuhanan yang satu.

Agama ini laksana sebuah pohoh yagn akarnya menghunjam ke dasar bumi dan cabang-cabangnya itu besar, maka akar pohon tersebut harus betul-betul dalam, agar dapat menopang besarnya pohon itu.  Maka demikian pula akar-akar agama, yakni “La Ilaha Illallah”- haruslah merupakan iman yangmenancap dalam-dalam ke dasar hati sehingga dapat menopang pohon agama ini seluruhnya.  Karena itu sesungguhnya orang-orang  yang menyangka (mereka adalah orang-orang yang menyeru manusia kepada agama Allah) bahwa mengemukakan sistem ekonomi Islam, atau sistem sosial menurut Islam, atau sistem politik Islam, atau sistem akhlak (etika) Islam kepada manusia dapat membuat mereka menyukai Islam dan dapat membuat mereka masuk Islam, mereka tidak memahami tabi’at (ciri pembawaan) agama ini dan tidak pula mengetahui hakikat dari manhaj yang menjadi langkah operasionalnya.

Wahai saudara-saudaraku !

Kita menda’wahi manusia dan semua manusia bukan dengan membuat mereka tertarik pada cabang-cabang Islam, akan tetapi menda’wahi mereka dengan cara menanamkan aqidah ke dalam hati mereka.  Sesudah aqidah tersebut tertanam di hati mereka maka otomatis mereka akan mengerjakan segala sesuatunya.  Adapun jika kita menyeru mereka denga aspek-aspek yang ada di dalam Islam seperti misalnya hukum shalat, hukum wudlu’, hak dan kewajiban kaum wanita, keadilan dan lain-lain, maka persoalan tersebut akan menjadi ruang pembicaraan terus-menerus bagimu.  Dan setiap hari mereka akan mengajukan berbagai macam pertanyaan yang harus engkau jawab.  Ketahuilah, bukan seperti ini cara yang ditempuh agama Islam untuk pertama kalinya.  Sesungguhnya mereka yagn berusaha untuk menarik manusia kepada agama Allah dengan jalan mengenalkan mereka kepada sistem ekonomi atau sistem sosial sebelum mengenalkan mereka dengan “La ilaha ilallah” maka mereka itu seperti orang-orang yang menebarkan bibit tanaman di udara lantas menunggu-nunggu bibit itu tumbuh menjadi pohon di udara.

2.d. Fondasi yang keempat

JELAS BENDERANYA DAN TERANG TUJUANNYA SERTA TIDAK BERAMPUR DENGAN PEMIKIRAN LAIN.

Karena itu, ketika kaum Quraisy menawarkan beliau untuk menyembah tuhan-tuhan mereka dan mereka akan menyembah Allah setahun, maka Nabi SAW berkata kepada mereka :

QS. Al Kafirun : 1-2

QS. Ghafir : 14

Kita wajib mengumandangkan tujuan kira sejak pertama kali melangkah kita tidak boleh bersembunyi (berkamuflase) di bawah bendera nasionalisme untuk menyampaikan agama kita kepada manusia.  Dan kita tidak boleh bersembunyi di dalam partai Ba’ats untuk memberikan manfaat bagi dien kita, dan kita tidak boleh masuk organisasi sosialis supaya kita dapat menyampaikan da’wah kita, dan kitapun tidak boleh masuk yayasan-yayasan bikinan manusia dengan persangkaan bahwa kita akan mampun dengan jalan itu untuk berkhidmat kepada dien ini dan menegakkannya.

Sesungguhnya percampuran tujuan sejak pertama kalinya akan menyesatkan jalan kita dan menyesatkan jalan manusia.  Dan mereka tidak tahu apa yang mereka ikuti.  Karena itu Rasulullah SAW sejak awal telah memproklamasikan tujuannya kepada orang-orang Quraisy : “Sembahlah olehmu sekalian, Allah, dan tidak ada bagi kamu ilah selainNya”  Dan Nabi Saw terus menerus menyeru kepada pengikutnya untuk memegang prinsip tersebut dalam perasaan dan hati mereka. Sejak bermulanya da’wah sampai beliau bertemu Rabbnya.  Dan beliau senantiasa menyeru kepada pengikutnya supaya tidak menyerupakan diri dengan orang-orang kafir.  Beliau bersabda : “Barangsiapa menyerupakan diri dengan suatu kaum, maka ia termasuk diantara mereka”

Tatkala para sahabat mengajukan permintaan kepada beliau : “Buatkanlah kami gantungan sebagaimana mereka punya gantungan”. (Yakni pohon yang dipakai untuk menggantungkan senjata orang-orang jahiliyah). Maka Rasulullah SAW betul-betul marah, lantas beliau bersabda :

“Sesungguhnya itu adalah jejak.  Sungguh kamu akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kamu setapak demi setapak, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamupun akan memasukinya”[x]

Karena itu, Rasulullah SAW melarang kaum muslimin meniru-niru orang-orang yahudi, orang-orang nasrani dan orang-orang kafir dalam hal ibadat, pakaian dan tunggangan.  Jika anda mau, maka bacalah kitab “Itiqadla Ash Shirathal Mustaqim fie Mukhafati Ash-habul Jahim (Yang dikehendaki jalan lurus dalam menentang bala tentara penghuni neraka jahanam) karangan Imam Ibnu Taimiyah.

Umat Islam telah dibatasi oleh Allah ‘Azza wa jalla dalam hal penopang-penopangnya, dan menjadikannya sebagai satu-satunya penopang, y akni menjadikan aqidah sebagai kebangsaannya, menjadikan darul islam sebagai tanah airnya, menjadikan Rabbnya sebagai penguasa tunggal dan menjadikan Al-Qur’an sebagai undang-undangnya.  Penggambaran tentang tanah air, kebangsaan dan kekeluargaan yang amat tinggi inilah yang mesti tertanam dalam jiwa da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah.  Sehingga pokok persoalannya menjadi jelas, dimana da’wah tersebut tidak tersusupi kedalamnya syirik khufyah (syirik  yang tersembunyi).  Syirik dengan bumi, syirik dengan kebangsaan, sy irik dengan kerakyatan, syirik dengan nasab/keturunan, syirik dengan manfaat-manfaat kecil yang cepat diraih.

Rasulullah SAW telah menyatakan dengan tegas perihal Qaumiyah / kebangsaan / kerakyatan, “Tinggalkanlah kebangsaan itu karena sesungguhnya ia adalah sesuatu yang busuk baunya,” sesuatu yang menebarkan bau yang memualkan dan memuakkan.  Maka beliau berkata kepada mereka yang mengucapkan kata-kata busuk lagi sia-sia itu :

“Hendaklah kaum yang membanggakan nenek moyang mereka itu menghentikan (perbuatannya) atau mereka itu menjadi kaum yang lebih hina di hadapan Allah daripada menjadi seekor gambreng.”

Gambreng adalah serangga  yang lebih kecil daripada jangkerik.  Mereka itu akan menjadi kaum yang lebih hina dihadapan Allah daripada seekor gambreng  yang menggelindingkan kotoran manusia dengan ujung tanduknya yakni orang-orang Ba’ats dan orang-orang nasionalis serta konco-konconya.  Mereka itu serupa dengan gambreng-gambreng yang teringgok di tong-tong kotoran kebangsaan.

2.e. Fondasi yang kelima

MAMBANGUN QA’IDAH SHALBAH (BASIS YANG KOKOH)

Basis yang kokoh ini menjadi fokus pembinaan Bani SAW dalam tempo yang lama.  Dari basis ini muncul tokoh-tokoh berkualitas besar. Seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mush’ab, Hamzah, dan lain-lain.  Basis  yang didirikan di Madinah Munawarah ini, pada saat terjadinya kemurtadan massal di wilayah jazirah Arab  yang telah dikuasai Islam, dapat mengembalikan seluruh jazirah tersebut kepada kendali kekuasaan Islam.  Dikarenakan kuat dan kokohnya basis tersebut.

Basis inilah yang telah menelorkan tokoh sekaliber Abu Bakar.  Dimana pada saat beberapa qabilah Arab menolak membayar zakat, dia berdiri dan berkata dengan tegas, “Demi Allah, sekiranya mereka mencegahku untuk memungut anak kambing (dalam riwayat lain dikatakan onta betina) yang dahulu mereka bayarkan kepada Rasulullah SAW, pasti aku akan memerangi mereka, atau aku akan binasa karenanya.”  Dan ada salah seorang dari mereka itu  seperti Abu Bakar, ketika para sahabat, membujuknya supaya bersikap lebih lunak dan memeprtimbangkan kembali keputusannya, maka yang dikatakannya adalah : “Demi Allah, sekiranya binatang-binatang buas masuk ke  kota Madinah dan menyeret kaki isteri-isteri Nabi SAW dari rumah mereka, aku tetap tidak ragu dan tidak akan berhenti”.

Bagaimana basis ini dibangun ? Bagaimana basis yang kokoh ini dibangun ? Bagaimana prototipe yang tinggi ini dibangun ?  Karena basis-basis ini, karena bangunan yang besar ini, semuanya tegak diatas empat belas tiang saja.  Oleh sebab itu, Rasul Rasulullah SAW sangat memperhatikan pembangunan tiang-tiang ini.

Pertama kali beliau membangun tiang-tiang ini dengan pengemblengan yang lama.  Kita harus tahu apa pengemblengan yang lama itu ?  Yaitu lamanya pengemblengan  seotan pemimpin terhadap prajurit-prajurit yang berada di sekelilingnya.  Dari Darul Arqam, tempat dimana beliau menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membina generasi pilihan.  Kemudian hijrah, ketika beliau memerintahkan setiap mu’min berhijrah bersamanya, agar mereka dapat berada di sekelilingnya untuk mendapatkan pengarahan dan bimbingan.

Ketika ada seorang Arab dusun datang kepadanya, beliau meminta janji setia orang-orang sesudah hijrah untuk tetap tinggal di Madinah, termasuk dia.  Lantas di Arab dusun itu memberikan bai’atnya untuk tetap tinggal di Madinah.  Beberapa hari kemudian dia mereka tidak betah.  Akhirnya di Arab dusun itu datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Tarikalah bai’atku”.  Namun Rasulullah SAW menolaknya.  Lantas orang tersebut nekad dan meninggalkan Madinah.  Maka Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Madinah ini seperti peniup api yang menghilangkan kotorannya sebagaimana peniup api menghilangkan karat besi” [xi]

Jika demikian lamanya penggemblengan adalah lamanya waktu pembinaan.

Kedua, pembinaan ruhani/mental.  Pembinaan ruhani dapat dicapai dengan banyak sarana.  Yang terpenting pada awal pertamanya adalah Qiyamul Lail (shalat tahajjud).

QS Al Muzzamil : 1-5)

Seumua ini diperintahkan supaya jiwa Nabi SAW dapat memikul perkataan berat tersebut.  Pada permulaan da’wah, qiyamul lalin merupakan perkara wajib atas Nabi SAW dan para sahabatnya.  Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

QS. Al A’raf : 170

Dua penopang pokok bagi orang-orang yang mengadakan perbaikan (mushlih), berpegang teguh dengan Al Kitab dan mendirikan shalat.

QS. Al Baqarah : 45

QS. Al Baqarah : 154

QS. Al Anfal : 45

Di medan pertempuran hendaklah kamu menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya agar kalian mendapatkan kemenangan.  Rasulullah SAW senantiasa berdzikir kepada Allah setiap saat.[xii] Apabila beliau keluar dari kamar mandi/kamar kecil, beliau selalu mengucapkan do’a (Ampunilah kami ya Allah)[xiii], yakni Ampunilah aku ya Allah, dari selang waktu terputusnya dzikir ku kepadaMu.

Demikian juga, menyebarkan rasa kecintaan sesama sahabatnya serta menanamkan sifat mengutamakan kepentingan bagi saudara-saudaranya se-dien (seagama).

QS. Al Hasyr : 9

Demikian juga menyebabkan rasa percaya diantara mereka.  Adalah Rasulullah SAW, apabila ada seorang sahabat datang kepadanya berbicara mengenai kekurangan salah seorang sahabat yang lain, maka beliau bersabda kepadanya :

“Janganlah kalian menyebut aib sahabatku kepadaku, sesungguhnya aku ingin keluar menjumpai mereka dalam keadaan lapang dada”[xiv]

Hendaknya para da’i memperhatikan persoalan ini.  Mereka yang mencabik-cabik daging saudaranya atas nama mashalahat da’wah, atas dalil mengenal para pengikut da’wah dan mereka yang memandang sebelah mata kehormatan seseorang.

(Janganlah kalian menyebut aib sahabatku kepadaku, sesungguhnya aku ingin keluar menjumpai mereka dalam keadaan lapang dada)

Demikian pula, Rasulullah SAW menyebut kebaikan-kebaikan para sahabatnya ketika melakukan kesalahan, ketika Hathib bin Abu Balta’ah melakukan kesalahan, yakni mengirimkan sebuah surat kepada kaum Quraisy mengenai rencana Nabi SAW, maka ‘Umar bin Khaththab berkata kepada Rasulullah SAW :

“Wahai Rasulullah SAW, idzinkanlah aku memenggal leher orang munafik ini?”  Beliau bersabda : “Hai ‘Umar, tidakkah engkau mengetahui bahwa dia ikut serta dalam perang Badar.  Seakan-akan Allah melihat isi hati para ahli Badar, lalu Dia berfirman : “Lakukanlah sekehendak kamu, sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan bagimu”. [xv]

2.f. Fondasi keenam

MEMANFAATKAN SEMUA POTENSI TANPA MEMBERATKAN MEREKA NAMUM BERSIKAP KASIH KEPADA MEREKA

QS. At-Taubah : 128

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada orang-orang beriman :

QS. Al Hujurat : 7

Allah Ta’ala berfirman kepada RasulNya :

QS. Al A’raf : 199

(Jadilah pemaaf (pemudah atas manusia), perintahkanlah mereka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan mereka dapat mengerahkan segala potensi dan kemampuannya, dan jangan engkau bebani mereka dengan perkara yang susah sehingga menyulitkan dan menyempitkan mereka.  Dahulu ketika Rasulullah SAW hendak mengutus seseorang menjadi mata-mata pad amalam peperangan Khandaq, maka beliau memilih diantara mereka denga cara lembut dan bijaksana.  Pertama kali beliau menawarkan tugas tersebut kepada segenap sahabat.  Setelah tidak ada yang berdiri menyanggupi, barulah beliau memilih salah satu diantara mereka.  Beliau menawarkan ; “Siapa yang mau pergi untuk mencuru informasi mengenai kekuatan musuh untuk kami dan kemudian kembali lagi.  Aku akan menjamin ia masuk surga”.  Tak seorangpun beranjakdari temparnya, padahal diantara mereka itu adal Abu Bakar dan ‘Umar.  Kemudian beliau mengulangi lagi tawaran itu untuk yang kedua kali.  Karena tidak ada lagi yang menyanggupi, maka beliau mengulangi untuk yang ketiga kalinya.  Ketika beliau mendapati bahwa tiada alternatif lain kecuali menyebut nama salah satu diantara mereka, maka bersabarlah beliau : “Bangkitlah kau wahai Hudzaifah !”  Hudzaifah bercerita : “Maka aku bangun, ketika itu aku memakai pakaian bulu milik istriku –dia tidak mempunyai baju- dan aku menggigil kedinginan.  Kemudian aku berjalan, seolah-olah aku berjalan menuju kematian”[xvi]

Beliau memilih Sa’ad untuk memimpin pasukan, Mush’ab dipilihnya untu tugas da’wah, Bilal dipilihnya untuk urusan adzan, Ubay dipilihnya untuk mengajarkan Al-Qur’an , Abu Bakar dan ‘Umar dipilihnya untuk bersya’ir.  Adalah Nabi SAW menempatkan setiap orang pada posisi yang layak untuknya.  Beliau berkata kepada Hasan :

“Bantahlah atau ejeklah mereka (dengan  sya’irmu), sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) bersamamu”

Tak pernah Nabi memilih Hasan untuk memimpih perang, dan tak pernah beliau memilih Sa’ad untuk bersya’ir.  Dan beliau senantiasa menempatkan seseorang pada posisi yang tepat

2.g. Fondasi yang ketujuh

MENGUKUR BOBOT SESEORANG DENGAN MIZAN TAKWA

Ibnu Mas’ud di hadapan Allah betisnya lebih berat daripada gunung Uhud.  Berfirman Rabbnya ketika berapa pembesar Quraisy mengajukan usul untuk mengadakan majlis bersamanya saja, karena mereka malu dudiuk bermajlis bersama para budak –maksudnya adalah Bilal, ‘Ammar, Shuhaib dan Salman.

QS. Al Kahfi : 28

Pernah Bilal dan Shuhaib melewati Abu Sufyan –dedengkot Quraisy- , maka Bilal berujar : “Demi Allah, pedang-pedang Allah belum sedikitpun menghantam musuh-musuh Allah”. Mendengar ucapan Bilal, maka Abu Sufyan marah.  Dia kemudian pergi menemui Abu Bakar dan mengadukan hal itu padanya.  Abu Bakar kemudian menemui Rasulullah SAW serta menyampaikan aduan Abu Sufyan itu kepadanya, maka Rasulullah SAW bersabda :

“Wahai Abu Bakar, apakah engkau gusar kepada mereka?  Jika engkau gusar kepada mereka, maka sungguh engkau telah gusar kepada Allah”[xvii]

Demi Allah, Bilal yang dahulunya dijual dengan harga lebih rendah daripada harga sebuah meja, lantas naik ke suatu posisi, dimana jika ia marah .. maka Rabbul ‘Izzati pun marah.  Mizan yang dipakai Rasulullah SAW ini dipergunakan oleh para sahabatnya.  Pada masa kekhalifahannya, ‘Umar memberikan tunjangan dari Baitul Mal kepada Usamah bin Zaid jauh lebih banyak daripada anaknya sendiri ‘Abdullah bin ‘Umar.  Lantas ‘Abdullah memprotes kebijaksanaanya : “Wahai ayah mengapa engkau memberikan Usamah lebih banyak daripadaku ?”  ‘Umar berkata : “Dahulu ayahnya lebih dicintai Rasulullah SAW daripada ayahmu.  Dan dia sendiri lebih dicintai Rasulullah SAW daripada engkau.  Karena itu aku tidak menyamakanmu dengannya dalam pemberian.  Ayahnya lebih dicintai Rasulullah SAW daripada ayahmu dan dia sendiri lebih dicintai Rasulullah SAW daripada engkau”.

Karena itu ketika Suhail bin ‘Amru dan Abu Sufyan berdiri di muak pintu rumah ‘Umar bersamaan pula dengan Bilal, maka dipersilakan masuk sedangkan mereka berdua tidak.  Lalu Abu Sufyan marah dan mengomel, “Aku tidak pernah merasakan hari seperti hari ini sekalipun !! Kita mengetuk pintu rumah ‘Umar, malah yang diizinkan masuk budak-budak jelata itu!”  Suhail berkata dengan tenang : “Janganlah engkau marah .. mereka diseru kita pun diseru, tetapi mereka menerima da’wah tersebut dengan segera sedangkan kita berlambat-lambat menerimanya”.

Ketika ‘Umar duduk dalam suatu majlis, sementara ‘Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam dan Suhail bin ‘Amru berada di sampingnya, maka datanglah sejumlah orang dari golongan muhajirin.  ‘Umar lalu menjauhkan tempat duduk Suhail dan ‘Abdurrahman dari posisi duduknya.  Kemudian datang lagi sejumlah orang dari golongan Anshor, lalu ‘Umar menjauhkan tempat duduk kedua orang tersebut dari posisi duduknya. Maka demikianlah mereka terus dijauhkan sehigga menempati posisi akhir dalam majlis tersebut.  Abu Sufyan dan ‘Abdurrahman benar-benar sakit dibuatnya, lalu mereka berdua berkata : “Wahai Amirul Mu’minim, kami telah melihat apa yang engkau perbuat kepada kami.  Lalu apakah ada jalan bagi kami untuk mengejar ketinggalan kami dari mereka ?” ‘Umar menjawab ; “Aku tidak melihat jalanlain bagi kalian kecuali kalian pergi ke sana –‘Umar menunjuk ke arah Syam-.  Maka keduanya pun berangkat menuju peperangan Yarmuk.

2.h. Fondasi yang kedelapan

PEMBINAAN MELALUI CELAH-CELAH PERISTIWA DAN GERAKAN YANG KONGKRIT

Dalam peperangan Uhud kaum muslimin melakukan satu kesalahan, yakni tidak mematuhi perintah Rasulullah SAW yang akhirnya harus mereka tebus dengan harga yang mahal … tujuh puluh orang sahabat pilihan gugur sebagai syuhada’ dalam pertempuran tersebut.  Dalam pada itu tatkala Rasulullah SAW hendak mengubah kekalahan yang terjadi di Uhud itu menjadi kemenangan, maka beliau bersama sahabat-sahabatnya keluar dengan membawa luka-luka mereka menuju daerah Hamra’ul Asad.  Beliau tidak mengizinkan seorangpun yang tidak ikut serta dalam peperangan Uhud bersamanya.  Di Hamra’ul Asad beliau bermarkas selama tiga hari menanti kedatangan kaum Quraisy dan menantang mereka.

2.i. Fondasi yang kesembilan

AL JIHAD

Al Jihad yang melindungi agama ini dan melindungi penyebarannya.  Jihad merupakan asas terbesar yang menjadi landasan setiap harakah tersebut dan menyatakan dengan terang-terangan bahwa ia hanyalah merupakan slogan kosong belaka.

Di dalam Islam Al Jihad dibangun atas beberapa asas/fondasi.  Islam membina mereka supaya zuhud terhadap dunia.  Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat :

“Zuhudlah kamu terhadap dunia, tentu Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah kamu atas sesuatu yang menjadi milik manusia, tentu orang-orang akan mencintaimu”[xviii]

Demikian pula Al Jihad itu dibangun atas dasar tawakkal.  Adapun di dalam surat Al Fatihah yang mereka baca tujuh belas kali sehari semalam, di dalamnya terdapat ayat :

“Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan”

Ibnul Qayyim mengatakan : “Ad Dien itu ada dua macam, yakni ibadah dan isti’anah atau inabah/minta ampunan dan tawwakal”.  Tatkala Rasulullah SAW melihat mata/ sungkal di depan pintu rumah seorang anshar –beliau hendak bertempur melawan kaum Quraisy- maka beliau bersabda : “Aku tidak akan masuk ke dalam rumah ini, sebab memasuki rumah ini akan membawa kehinaan”[xix] Bukan untuk mematikan penghidupan, akan tetapi karena beliau melihat dalam bungkal bajak itu ada kesibukan terhadap sesuatu yang penting sebelum yang terpenting.  Mengingat agama Allah akan menghadapi kemusnahan sekiranya kita sibuk dengan pertanian dan perdagangan.  “Sesungguhnya manusia, jika mereka bakhil terhadap dirmah dan dinar –yang mereka miliki- puas dengan bercocok tanam, memegang kuat-kuat ekor sapi, saling jual beli dengan ‘ayyinah (contoh barang) dan meninggalkan jihad fie sabilillah, maka Allah akan menimpakan kepada mereka kehinaan yang tiada akan dicabutNya sehingga mereka kembali kepada agamanya”.[xx]

Sesudah penaklukan negeri Syam, orang-orang muslim melihat negeri tersebut adalah negeri yang subur.  Mereka lalu menanaminya dengan gandum Syam.  Kabar tersebut sampai kepada ‘Umar, maka dia mengirim seorang utusan untuk membawa surat dan membakar ladang pertanian mereka.  Surat tersebut panjangnya hanya satu baris, berisi kata-kata sebagai berikut : “Sesungguhnya jika kalian meninggalkan jihad dan sibuk dengan pertanian, maka aku akan mengenakan jizyah kepada kalian.  Dan aku akan memperlakukan kalian sebagaimana aku memperlakukan Ahli Kitab.  Sesungguhnya makanan pokok kaliah adalah dari makanan pokok musuh-musuh kalian”.

Rasulullah SAW bersabda :

“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan membawa pedang, dan dijadikan rezekiku di bawah bayangan tombak, dan dijadikan kecil serta hina orang-orang yang menyelisihi urusanku.  Barangsiapa menyerupakan dirinya dengan suatu kaum, maka ia termasuk diantara mereka”[xxi]

Waktu telah habis, untuk itu saya cukupkan sekian dulu.

sumber: Tarbiyah Jihadiyah >> syaikh dr abdullah azzam


[i] HR Bukhari (lihat : Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 3294)

[ii] HR Ahmad, Bukhari dan Muslim (Lihat : Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 731)

[iii] HR. Muslim dalam shahihnya

[iv] Sebagian dari hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya, seperti yang ditulis dalam Tafsir Ibnu Katsir

[v] HR Abu Ya’la dan At Tirmidzi (lihat : Tafsir Ibnu Katsir IV)

[vi] Shahih Bukhari

[vii] Hadits shahih diriwayatkan oleh Thabrani, Hakim, Baihaqi dan Ibnu Asakir .. Al Haitsami berkomentar : “Para perawi dalam sanad hadits Thabrani shahih, kecuali Ibrahim bin ‘abdul ‘azis.  Dia itu tsaqih (terpercaya). Lihat Hayatul Shahabat juz I hal 224

[viii] Lihat Mukhtashir As Sirah karangan Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 88

[ix] Cuplikan secara bebas dari perkataan An Nadawi

[x] Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinyatakan shahih oleh Al Bani dalam kitabnya “Hijabul Al Muslimah”

[xi] HR Bukhari dalam shahihnya

[xii] Nash Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, dikeluarkan oleh Muslim dalam shahihnya

[xiii] Shahih, dari ‘Aisyah ra (Lihat Nailul Authar I : 86)

[xiv] Hadits Hasan , riwayat Abu Daud

[xv] Asal kisah diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya.

[xvi] HR Muslim

[xvii] HR Muslim dalam sahihnya

[xviii] Shahih Al Jami Ash Shaghir

[xix] HR. Bukhari dalam shahihnya

[xx] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan dikeluarkan oleh Albani dalam kitab Silsilah Shahihnya no. 422

[xxi] Shahih Al Jami Ash Shaghir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: