Tidak Shodaqoh dan Tidak Jihad,dengan apa masuk surga

Ceramah

Oleh Penanggung Jawab Syar’iy Organisasi Qo’idatul Jihad di Jaziroh ‘Arob

للمحاضرة الصوتية

للمسئول الشرعي لتنظيم قاعدة الجهاد في جزرة العرب

Oleh Syaikh Abu Zubair ‘Adil al-‘Abbab (hafizhohulloh)

الشيخ

عَـادِلْ الـعَبـَّاب

حفظه الله

Dengan Tema

((Tidak Shodaqoh dan Tidak Jihad))

Robi’ul Awwal 1430H

بعنوان

((لا صدقه ولا جهاد))

ربيع الأول 1430هـ

مؤسسة الملاحم للإنتاج الإعلامي


بسم الله الرحمن الرحيم

Sesungguhnya segala puji bagi Alloh yang telah berfirman kepada hamba pilihan-Nya (Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam),

((إِنَّمَا بَعَثْتُكَ لأَبْتَلِيَكَ وَأَبْتَلِىَ بِكَ وَأَنْزَلْتُ عَلَيْكَ كِتَابًا لاَ يَغْسِلُهُ الْمَاءُ تَقْرَؤُهُ نَائِمًا وَيَقْظَاناً وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِى أَنْ أُحَرِّقَ قُرَيْشًا فَقُلْتُ رَبِّ إِذًا يَثْلَغُوا رَأْسِى فَيَدَعُوهُ خُبْزَةً قَالَ اسْتَخْرِجْهُمْ كَمَا اسْتَخْرَجُوكَ وَاغْزُهُمْ نُغْزِكَ وَأَنْفِقْ فَسَنُنْفِقَ عَلَيْكَ وَابْعَثْ جَيْشًا نَبْعَثْ خَمْسَةً مِثْلَهُ وَقَاتِلْ بِمَنْ أَطَاعَكَ مَنْ عَصَاكَ.))

“Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menjadikanmu sebagai ujian. Dan Aku turunkan kepadamu sebuah kitab yang (kesuciannya) tidak di cuci dengan air, kamu bisa membacanya dalam keadaan tidur ataupun terjaga.” Dan sesungguhnya Alloh memerintahku untuk membakar orang Quroisy, lalu aku berkata, “Wahai Robb-ku, jika demikian kepalaku akan mereka pecah lalu mereka meninggalkannya seperti sepotong roti.” Alloh menjawab, “Keluarkan mereka sebagaimana mereka mengeluarkanmu (mengusirmu). Perangi mereka, (karena) Kami menjadikanmu untuk berperang. Keluarkan (hartamu) karena kami akan membantumu. Utuslah tentara, akan kami utus lima kali tentara yang kau utus. Dan berperanglah bersama-sama dengan orang yang menta’atimu terhadap orang yang membangkangmu (bermaksiat kepadamu)” (HR. Imam Muslim)

Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada penghulu mujahidin, Muhammad bin ‘Abdulloh yang jujur dan terpercaya. Pernah (suatu saat) datang seorang lelaki kepada beliau lalu berkata, “Wahai Rosululloh, manusia telah meninggalkan kuda, meletakkan senjata dan mereka berkata, ‘tidak ada jihad lagi, perang telah usai.’ Lalu Rosululloh shollallohu ‘alahi wa sallam menghadap ke arah lelaki itu dan berkata, ‘mereka bohong sekaranglah perang telah datang. Dan senantiasa ada dari sekelompok ummatku yang berperang membela kebenaran. Dan Alloh menjadikan hati beberapa kaum condong (pada mereka) dan memberi mereka rizqi dari peperangan hingga hari kiamat atau hingga datang janji Alloh. Sedangkan pada ubun-ubun kuda terikat kebaikan hingga hari qiamat.'” (HR. Imam an-Nasa’I dengan sanad shohih)

Juga kepada keluarga dan sahabat beliau yang mengetahui bahwa jihad adalah puncak tertinggi diin (Islam) ini. Maka berangkatkan pasukan perang di seluruh negeri dan perintahkan hamba-hamba Alloh untuk berperang.

Adapun kemudian …

Di bawah bayang-bayang serangan yang menyakitkan terhadap kesucian kaum muslimin dan dalam samudra perang salib ini dengan berbagai model dan persiapan(nya) terhadap bangsa islam. Juga di bawah bayang-bayang masa mundurnya pembesar-pembesar dari jalan jihad dan dari melawan serangan musuh terhadap diin ini (islam) dan muslimin, ku bawakan ceramah (nasehat) ini untuk orang-orang ‘alim, pemuda dan kalangan ‘awam.

Kepada pemuda yang haus, kepada kemuliaan yang merupakan pusaka (ummat), kepada ummat yang bingung di persimpangan jalan, kepada setiap muslim yang percaya terhadap kehormatan di dunia dan kebahagian di akhirat, ku bawakan risalah yang telah lama (telah disampaikan), (berpengaruh) kuat lagi menyala-nyala. Silahkan menyimak penyampaian berikut ini.

Wahai pemuda, wahai orang yang rindu untuk membela Diinulloh (Islam), wahai orang yang memberikan nyawanya di hadapan Pelindungnya (Alloh).

Di sinilah hidayah dan petunjuk. Di sinilah hikmah dan kebenaran. Di sinilah mabuk pengorbanan dan kelezatan jihad. Hendaknya Engkau bersegera (bergabung) dengan bataliyon guntur. Hendaknya Engkau beramal di bawah panji para Nabi hingga tidak ada lagi fitnah dan seluruh diin milik Alloh semata.

Ku bawakan seruan yang tenang tapi lebih kuat dari pusaran angina puyuh yang berhembus keras. Seruan ke-tawadhu’-an tapi lebih tinggi dari puncak gunung. Seruan yang lepas dari fenomena semu, terjaga dengan kemuliaan kebenaran dan terpeliharanya wahyu, mewariskan kepada kaum mu’minin kemuliaan di dunia dan surga yang tinggi di akhirat. Aku katakan dalam semua ceramah ini insyaAlloh, sebagai bentuk tabarruk, mari berjihad… mari berjihad… mari berjihad…

Sebagai permulaan aku katakan;

Wahai saudara Islam! Jika mereka bertanya kepadamu ‘apakah jihad itu?’ jawablah dengan jelas sebagaimana Nabi yang jujur lagi dipercaya shollallohu ‘alayhi wa sallam menjawab pertanyaan seorang sahabat yang mulia, “Hijroh apa yang afdhol?” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad”. Sahabat itu bertanya, “Apakah jihad itu?” beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau perangi orang-orang kafir jika Engkau jumpai mereka.” Sahabat itu bertanya kembali, “Jihad apa yang afdhol?” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab, “orang yang kudanya terluka dan darahnya mengalir.” (HR. Imam Ahmad, sedangkan imam yang empat sepakat bahwa jihad adalah perang dan membantu peperangan untuk meninggikan kalimat Alloh)

Wahai saudara Islam! Kobarkan semangat untuk berperang. Karena Alloh Yang maha perkasa yang berada di atas tujuh langit memerintahkan nabi-Nya,

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ..}

“Wahai nabi, semangati kaum mu’minin untuk berperang…”

(QS. al-Anfal: 65)

Dia juga berfirman,

{فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلًا}

“Berperanglah di jalan Alloh, tidak dibebani (untuk itu) kecuali dirimu. Semangati kaum mu’minin (untuk perang). Semoga Alloh menghentikan gangguan orang-orang kafir. Padahal Alloh maha kuat dan pedih siksaan-Nya.” (QS. an-Nisa’: 84)

Alloh Robb kita juga memerintahkan kita,

{ فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ.. }

“Jika kalian temui orang-orang kafir pukullah leher (bunuhlah) mereka …” (QS. Muhammad: 4)

Padahal ayat-ayat jihad di dalam kitab Alloh (al-Qur-an) lebih dari seratus ayat. Sedangkan ayat-ayat itu menunjukkan kewajiban jihad dan kewajiban itu tertuju pada kaum muslimin. Sedangkan sebagian ayat-ayat yang lain memotivasi untuk jihad dan menjelaskan keutamaannya juga apa yang disiapkan Alloh untuk mujahidin yang berupa pahala di akhirat dan mencela orang-orang yang meninggalkannya serta mencap mereka dengan kemunafikan dan sakit hatinya.

Wahai saudara Islam! Kobarkan semangat berperang! Karena sesungguhnya perang adalah fardhu ‘ain yang paling membutuhkan pengorbanan menurut kesepakatan ‘ulama’, fuqoha’, muhadditsin dan mufassirin. Hukum perang seperti hukum sholat, puasa dan haji. Bahkan dinukil dari Imam ad-Dusuqi dalam hasyiyahnya bahwa perang di utamakan terhadap haji. Sehingga orang yang meniggalkan perang berdosa besar. Sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar al-Haitsami dalam kitabnya ‘az-Zawajir’.

Imam al-Qorofi menyebutkan, bahwa jika kewajiban-kewajiban atau hak-hak saling bertentangan, didahulukan yang mendesak atas yang leluasa. Didahulukan apa yang dikhawatirkan tertinggal (untuk mengerjakannya) atas apa yang tidak dikhawatirkan tertinggal mengerjakannya meskipun derajat amal yang tidak dikhawatirkan tertinggal itu lebih tinggi derajatnya dari yang dikhawatirkan tertinggal.

Sedangkan Alloh ta’ala berfirman:

{ انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ }

“Berperanglah kalian dalam keadaan ringan ataupun berat. Dan berjihadlah kalian dengan harta dan jiwa kalian di jalan Alloh hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, “Pertama-tama Alloh ta’ala memerintahkan kaum mu’minin memerangi orang-orang kafir. Yang pertama kali diperangi adalah yang paling dekat kemudian yang lebih dekat dengan wilayah Islam. Karena itu, Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam memulai peperangan terhadap kaum musyrikin jazirah ‘Arob. Maka tatkalah sudah selesai dari memerangi mereka, Alloh taklukan untuk beliau Makkah, Madinah, Thoif, Yaman, Yamamah, Hajar, khoibar, Hadhromaut dan kota-kota yang lain berdekatan dengan Jaziroh ‘Arab. Manusiapun masuk ke dalam diinulloh dengan berbondong-bondong dari berbagai suku-suku ‘arob. Setelah itu semua Alloh syari’atkan memerangi ahlul kitab. Setelah beliau wafat, Abu Bakar as-Shidq melanjutkan urusan (perang) ini. Sehingga orang yang keluar dari Diin (islam) ini dan Ahlur Riddah bisa kembali dalam Islam. Imam Ibnu Katsir menjelaskan hal ini hingga beliau berkata, “Urusan perang ini sempurna di tangan (‘Umar) al-Faruq yang syahid di mihrob (ketika sholat karena di bunuh, -pent).” Hingga di sini perkataan beliau.

Imam al-Qurthubi di dalam tafsirnya berkata mengenai firman Alloh ta’ala, (انفروا خفافا وثقالا) “berperanglah dalam keadaan dan berat…” beliau berkata, “Kadang keadaan mewajibkan semuanya untuk berperang… hingga perkataan beliau, dan itu jika jihad menjadi fardhu ‘ain bagi satu wilayah dari wilayah-wilayah kaum muslimin, wajib bagi penduduk negeri itu untuk berperang dalam keadaan ringan maupun berat, muda maupun tua.” Hingga di sini perkataan beliau.

Wahai saudara islam! Kami memerangi mereka karena Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Aku di utus dengan membawa pedang menjelang hari kiamat hingga Alloh semata yang di’ibadahi dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan rizqiku dijadikan di bawah bayang-bayang tombak-ku. Kehinaan dan kerendahan dijadikan bagi siapa yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia (menjadi) golongan mereka.” (HR. Imam Ahmad)

Wahai saudara Islam! Kami memerangi kaum kuffar agar kami tidak di adzab Alloh. Alloh ta’ala berfirman,

{إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ } .

“JIka kalian tidak berperang Alloh adzab kalian dengan adzab yang pedih dan mengganti kalian dengan kaum lain sedangkan kalian tidak memberikan madhorot pada-Nya sedikitpun. Dan Alloh maha mampu terhadap segala sesuatu.” (QS. At-Taubah: 39)

Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam juga bersabda,

ما تركَ قومٌ الجهادَ إلا عَمَّهُمْ اللهُ بعذاب

“Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad, kecuali Alloh timpakan adzab yang merata pada mereka” (HR. ath-Thobroni dalam al-Ausath dengan sanad hasan)

Wahai saudara Islam! Adapun rasa takut kami terhadap apa yang dikabarkan oleh Nabi yang jujur lagi dipercaya adalah sebagaimana yang di riwayatkan Umamah al-Bahiliy rodhiyallohu ‘anh, Rosululloh bersabda,

من لم يغزُوا أو يُجَهزْ غَازياً أو يُخلفُ غَازياً في أهلهِ بِخيرٍ أصابهُ اللهُ بقارعةٍ قَبلَ يومِ القيامة

“Siapa yang belum pernah berperang atau membekali orang yang berperang atau menanggung (beban) keluarga orang yang berperang, Alloh timpakan bencana (layaknya kiamat) sebelum hari kiamat.” (HR. Imam Abu Dawud dengan sanad yang kuat)

Wahai saudara Islam! Di mana ke-terbetik-kan jiwa ini terhadap jihad? Ke-terbetik-kan jiwa yang hakiki yang mengikuti jawaban terhadap seruan ketika diserukan oleh seorang penyeru, “Wahai kuda Alloh, melesatlah!” Di mana penempatan dan perjanjian terhadap jiwa untuk pergi berperang dan berperang? Di manakah kita ketika diperintah untuk berperang? Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

وإذا استُنفرتم فانفِروا

“Jika kalian diperintah untuk berperang, berangkatlah berperang.” (HR. Imam Bukhory)

ذكرى المعاركِ والشهادةِ هيجتْ             شوقي إلى دارِ الخلودِ الباقيةْ

وزئيرُ أسدِ اللهِ في الساحاتِ كمْ             يُذكيْ حَنيني للجهادِ علانيةْ

Kenangan terhadap peperangan dan kesyahidan telah dikobarkan

Kerinduan terhadap negeri abadi yang kekal

Raungan singa Alloh di berbagai medan, seberapa

Menyalakah tampak kerinduanku terhadapa jihad

Wahai saudara Islam! Tahukah Anda mengapa kami berperang? Kami berperang agar tidak muncul sifat munafiq pada diri kami. Dalam shohih muslim terdapat sebuah hadits Abu Huroiroh yang rodhiyallohu ‘anh yang berkata, Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

من ماتَ ولم يغزو ولم يحدثْ نفسَه بالغزو ماتَ على شعبةٍ من النفاق

“Siapa yang mati dalam keadaan belum pernah berperang dan tidak terbetik jiwanya untuk berperang, mati di atas cabang kemunafikan.”

Imam an-Nawawy berkata, “Maksudnya, siapa yang menjadi seperti di sebutkan hadits ini, maka sungguh dia telah menyerupai orang-orang munafiq yang menyelisihi (tidak mau) jihad dalam sifat ini. Karena sesungguhnya meninggalkan jihad adalah cabang kemunafikan. Maka waspadalah, waspadalah wahai saudaraku terhadap menyerupai kaum munafiqin atau Anda mati dalam keadaan membawa cabang kemunafikan.

Wahai saudara Islam! Kami berperang untuk melaksanakan perintah Alloh agar menteror musuh(Nya), bersikap kasar kepada mereka, mengangkat kehinaan dari diri kita, kembalinya kemuliaan pada kita dan munculnya rasa takut di hati musuh-musuh kita. Sehingga kita bisa hidup dengan layak dan bisa menjaga kerusakan di bumi yang diakibatkan meninggalkan jihad. Alloh ta’ala berfirman,

إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“jika kalian tidak melakukannya (memberikan loyalitas pada kaum mu’minin dan melenyapkan kaum kafirin –tafsir jalalain) akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. al-Anfal: 73)

Alloh ta’ala juga berfirman,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

“Dan persiapkan kekuatan yang kalian mampu untuk (memerangi) mereka dan dari kuda yang tertambat, agar kalian bisa menteror musuh Alloh dan musuh kalian dengan persiapan itu.” (QS. Al-Anfal: 60)

Wahai saudara Islam! Di mana sambutan itu? Padahal Alloh jalla jalaluh berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sambutlah Alloh dan Rosul jika menyeru kalian kepada apa yang membuat kalian hidup (yang berupa urusan diin, termasuk di dalamnya urusan perang). Dan ketahuilah bahwa Alloh menghalangi antara seseorang dan hatinya. Dan kepada-Nya kalian akan di kumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)

Adapun rasa takut kami terhadap diri kami jika di jadikan dalam golongan yang Alloh katakan,

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakan (hai Muhammad), ‘jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga dan harta kalian yang kalian khawatirkan kerusakannya, juga tempat tinggal yang kalian senangi itu lebih kalian cintai dari Alloh, Rosul-Nya dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Alloh mendatangkan perkara-Nya. Padahal Alloh tidak memberi hidayah kepada orang-orang fasiq” (QS. At-Taubah: 24)

Cukuplah hal ini sebagai ancaman, peringatan dan terror bagi orang yang meninggalkan jihad sedangkan dia mampu tapi benci terhadapnya dan tenang terhadap keluarga dan harta yang ada padanya. Kepada Alloh saja pengaduan ini. Bagaimana Anda pelajari atsar-atsar jihad sedangkan Anda tidak terlihat (melakukannya), cahaya-cahayanya terhapus di tengah manusia, malamnya menjadi gelap setelah disinari (cahaya) bulan, dan siangnya menjadi gelap setelah terang?

Ya Alloh, bagaimana jiwa-jiwa membencinya padahal Alloh Yang maha perkasa lagi mulia berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Telah diwajibkan berperang kepada kalian padahal perang itu kalian benci. Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Alloh yang mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 216)

Bagaimana bisa jihad ditinggalkan padahal Alloh memerintahkannya kepada orang-orang yang beriman dengan firman-Nya,

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan tidak pula pada hari akhir begitu juga orang-orang yang tidak mengharamkan apa yang Alloh dan Rosul-Nya haramkan serta tidak ber-diin dengan diin yang benar dari kalangan Ahlul Kitab hingga mereka memberikan jizyah dari tangan (mereka) sedangkan mereka (hidup) dalam keadaan hina.” (QS. At-Taubah: 29)

Bagaimana (perang bisa ditinggalkan) padahal dengan perang itu Alloh menolak (gangguan) kaum musyrikin? Alloh ta’ala berfirman,

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ  يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Kalau saja Alloh tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain tentulah sudah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Alloh. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (diin)-Nya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)

Wahai saudara Islam! Dahulu sahabat-sahabat Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam membawa jiwa mereka di atas telapak tangan mereka mencari kematian yang merupakan sebuah keyakinan untuk meninggikan kaliamat Alloh. Sampai orang yang di beri ‘udzur oleh Alloh pun berlomba untuk jihad. Imam Ibnu Mubarok mengeluarkan (kisah) dari ‘Athiyyah bin Abu ‘Athiyyah bahwa dia melihat ‘Abdulloh bin Ummi Maktum rodhiyallohu ‘anh padahal beliau adalah orang buta, pada suatu hari di hari-hari perang al-Qodisiyyah, beliau membawa baju besi yang lebar beliau seret ke barisan dalam medan jihad.

Inilah ‘Amru bin al-Jamuh rodhiyallohu ‘anh yang sudah tua lagi pincang, beliau tidak mengikuti perang Badr karena beliau pincang. Maka tatkala terjadi perang Uhud dia perintahkan anak-anaknya untuk membawanya keluar lalu merasa terganggu karenanya. Hingga beliau berkata pada mereka, “Jauh sekali, jauh sekali! Kalian telah menghalangiku masuk surga pada perang Badr, sedangkan sekarang akan kalian halangi aku pada perang Uhud.” Juga dikatakan kepada Miqdad bin Usud rodhiyallohu ‘anh ketika beliau bersiap-siap untuk berperang, “Alloh telah memberimu ‘udzur.” Beliau malah menjawab, “Kami terbebani dengan al-Bahuts (sang pembahas).” Maksud beliau adalah surat at-Taubah karena surat itu membahas orang-orang munafiq dan menyingkap (sifat-sifat) mereka. Kisah ini disebutkan oleh Imam al-Qurthubiy.

Alangkah indahnya para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Alangkah cepatnya sambutan mereka dan kerakusan mereka terhadap jihad…

Alloh Yang maha benar lagi maha mulia dan tinggi berfirman,

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ وَمَنْ يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Hendaknya orang-orang yang membeli akhirat dengan kehidupan dunia berperang di jalan Alloh. Siapa yang berperang di jalan Alloh lalu terbunuh atau menang, maka Alloh beri dia pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’: 74)

Dari Abu Dzar al-Ghifari rodhiyallohu ‘anh berkata, “Aku bertanya kepada Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam,

أيُ العملِ أفضل قال إيمانٌ باللهِ وجهادٌ في سبيله

“Amal apa yang paling utama?” Rosululloh menjawab, “Iman kepada Alloh dan berjihad di jalannya.” (Muttafaq ‘alayh)

Wahai saudara tauhid! Kami berperang di jalan Alloh hingga kekafiran tidak memimpin. Bagaimana (sekarang) padahal kekafiran telah memimpin. Alloh ta’ala berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“Perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan diin ini menjadi milik Alloh” (QS. Al-Anfal: 39)

Sedangkan yang dimaksud fitnah adalah kesyirikan.

Wahai saudara iman! Jihad adalah amal yang tidak bisa ditandingi dengan amal sholih apapun. Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anh berkata,

(يا رسولَ الله ما يعدلُ الجهادَ في سبيلِ الله قال صلى اللهُ عليه وسلمَ لا تستطِيعُونه فعادَ عليهِ مرتين أو ثلاثاً , كذلك يقولُ لا تستطيعُونه , ثم قال مَثلُ المجاهدِ في سبيلِ اللهِ كمثلِ الصائمِ القائمِ القانتِ بآياتِ الله , لا يفترُ من صلاةٍ ولا صيامٍ حتى يرجعْ المجاهدُ في سبيلِ الله)

“Wahai Rosululloh, apa yang bisa menandingi jihad?” Beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Kalian tidak akan mampu.” Beliau mengulanginya dua atau tiga kali perkataan, “kalian tidak akan mampu.” Kemudian beliau berkata, “perumpamaan mujahid (orang yang berjihad) di jalan Alloh seperti perumpamaan orang yang berpuasa, sholat dan bersungguh-sungguh terhadap ayat-ayat Alloh. Tidak berhenti sholat dan puasa hingga mujahid di jalan Alloh itu kembali (selesai berjihad).” (Muttafaq ‘alayh)

Ketahuilah, semoga Alloh memberi taufiq padaku dan pada Anda, bahwa tidurnya mujahid lebih utama dari bangun malam dan puasa di siang hari. Ibnul Mubarok dalam sanadnya menyebutkan, Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anh berkata,

( أيستطيعُ أحدُكم أن يقومَ فلا يفترْ , ويصومَ فلا يُفطرْ ما كان حيا ؟ ) قيل ومن يطق ذلك يا أبا هريرة؟ قال ( والذي نفسي بيده أن نومَ المجاهدِ أفضل  )

“Sanggupkah salah seorang di antara kalian sholat dan tidak putus-putus dan puasa juga tidak berbuka selama dia masih hidup?” Ada yang berkata, “siapa yang sanggup begitu wahai Abu Huroiroh?” beliau menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidurnya seorang mujahid lebih utama”

Wahai saudara Islam! Bagaimana bisa kita mudah untuk duduk sedangkan kita di bawah naungan berbagai system yang lepas dan menjauhi hukum syari’ah serta menggantinya dengan sekulerisme, beruhukum dengan demokrasi dan mengakui kebebasan pendapat dan pendapat lain (yang menyelisihinya) meskipun di atas jalan untuk melepaskan Syari’ah (peraturan) Islamiyyah dan mencela Rosul kita yang mulia ‘alayhis sholatu was salam.

Wahai saudara Islam! Apakah Anda akan duduk sedangkan negeri-negeri kaum muslimin di tangan perampas? Apakah Anda tetap duduk sedangkan kehormatan kaum muslimat di hadapan para penjaga penjara? Saudaraku, apakah Anda tetap duduk sedangkan kita masih dihukumi dengan system-system buatan dunia, terkadang dengan hukum nasionalis terkadang dengan hukum sekuler?

Apakah Anda tetap duduk sedangkan kita hidup di bawah hukum-hukum yang memelihara persekutuan salibis dalam memerangi Islam? Sebagaimana kita melihat yang terjadi di Afghonistan, Iroq, Palesitina, Maghrib Islamy, Jaziroh ‘Arob dan negeri-negeri kaum muslimin yang lainnya.

Wahai saudara Islam! Bagaimana bisa duduk padahal kita telah diperintah berperang oleh amir kita Syaikh Usamah bin Ladin beserta komandan-komandan tentara yang lain. Katakan padaku, demi Alloh bagaiman merubah kenyataan pahit ini tanpa jihad dan perang.

Wahai saudara Islam! Hari ini Anda diperintah berperang dari saudara-saudara (kita) yang jujur yang berjalan di atas ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka bukan orang-orang khowarij yang ghuluw suka mengkafir-kafirkan, juga bukan golongan murji-ah yang diserang lalu menyerah, tapi di atas kehendak Alloh dan Rosul-Nya lah mereka berjalan. Inilah dia kelompok yang beriman yang mengangkat panji tauhid yang murni di atas madzhab لكمْ دينُكم وليَ دين, bagi kalian diin kalian, dan bagiku diinku, bagi kalian syariat, manhaj dan pemikiran kalian yang menyelisihi seruan (Muhammad) penghulu para rosul dan pemimpin para mujahidin, sedangkan bagi kami diin Muhammad bin ‘Abdulloh yang jujur dan terpercaya. Karena beliaulah perang menjadi ada hingga hari kiamat. Mengapakah kita mundur dan berlambat-lambat? Wahai saudara Islam, kita masih terbelenggu oleh pemikiran yang bernama mashlahah dan mafsadah tanpa mengenal syarat-syarat dan perkataan ahlul ‘ilmi mengenainya. Apakah Anda akan membelenggu kami meskipun dengan meninggalkan ‘amal yang sesuai dengan nash-nash al-Qur-an, hadits nabi, dan ijma’ ummat, lalu kita balikkan hakikat-hakikat dan ma’na-ma’nanya, kita hilangkan maksud Alloh dan kita rubah maksud Rosululloh dengan nama mashlahah dan mafsadah yang sesuai akal bukan yang sesuai syari’at. Di mana kita untuk melaksanakan tindakkan para sahabat yang mulia???

Imam al-Qurthubiy di dalam tafsirnya mengatakan, “Abu Tholhah rodhiyallohu ‘anh membaca, “berperanglah dalam keadaan ringan maupun berat…” lalu beliau berkata, “wahai anakku fasilitasi aku.” Lalu anaknya pun menjawab, “Semoga Alloh merahmati Anda, Anda telah berperang bersama nabi hingga beliau wafat, juga bersama Abu Bakr hingga beliau wafat dan bersama ‘Umar hingga beliau wafat. Sedangkan (sekarang) kami berperang karena Anda.” Lalu beliau menjawab, “Tidak, fasilitasi aku.” Lalu beliau berperang di laut, hingga wafat di laut. Hingga yang lain tidak mendapatkan pulau untuk menguburnya kecuali setelah 7 hari, lalu beliau dikuburkan dalam pulau itu sedangkah jasadnya tidak berubah. Semoga Alloh meridhoi beliau.

Aku katakan kepada orang-orang yang masuk ke dalam jama’ah-jama’ah islam sebagai sebab untuk membela diin ini, kepada orang-orang yang memiliki niat yang baik, apabila yang diinginkannya itu tidak ada (dalam jama’ah yang dimasukinya), carilah jama’ah (lain) yang mengangkat syi’ar Islam sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah, ilmu dan amal-nya. Carilah jama’ah yang menjadikan langkah dan perjalanan Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam sebagai manhaj dan perilaku-tindakan. Carilah jama’ah yang memiliki prinsip-prinsip landasan sesuai prinsip-prinsip landasan Islam, sesuai prinsip-prinsip landasan yang dimaksud Alloh dan Rosul-Nya, sebagaimana yang dipahami oleh Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam dan sahabat-sahabatnya yang mulia. Carilah sebuah jama’ah yang menggabungkan antara ‘ilmu, da’wah dan jihad, tanpa meniadakan salah satunya atau menyimpangkan ma’na-ma’nanya. Bahkan Anda harus ber’amal sesuai dengan apa yang dilakukan nabi dan sahabat-sahabatnya tanpa tahrif (penyimpangan) dan ta’thil (peniadaan).

Wahai pemuda kebangkitan! Bergabunglah dengan qiyadah-qiyadah yang menjadikan darah mereka dan darah kalian sebagai energi untuk menyebarkan tauhid dan sebagai percikan api untuk menegakkan khilafah islamiyyah. Bukan untuk klaim-klaim yang menjadikan tulang-belulang kalian sebagai tangga untuk naik, sehingga, ketika tidak bisa naik, mereka lepaskan pokoknya, tampaklah aib dan kepalsuannya. Hanya pada Alloh tempat mengadu.

Kepada pemuda kebangkitan, kepada orang yang kami kenali mereka dalam halaqoh-halaqoh dzikr dan ‘ilmu, kepada orang yang kami kenali mereka dalam ladang da’wah dan medan pembelajaran, kepada pemilik minbar-minbar kebebasan, aku seru mereka kepada apa yang diserukan amir Tanzhim al-Qo’idah di Jaziroh ‘Arob, Amir Abu Bashir Nashir al-Wuhaisyi hafizhohulloh. Beliau adalah pemuka da’wah Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam. Aku seru kalian agar menyeru manusia kepada hukum syari’ah dan mengimplementasikannya di daerah-daerah dan tempat-tempat di mana kalian berada. Aku seru kalian untuk berperang di jalan Alloh dengan jiwa dan harta. Juga untuk menunjukkan pada manusia terhadap millah kakek moyang kita Ibrohim dan da’wah Nabi kita yang terpercaya.

Wahai pemuda kebangkitan! Jelaskan kepada generasi yang manapaki perjalanan para pahlawan dan pemahaman terhadap al-wala’ dan al-baro’ (loyalitas dan anti loyalitas).

Wahai pemuda kebangkitan! Tidak samar lagi bagi kalian bahwa zakat adalah Rukun Islam yang ketiga. Padahal zakat telah didekatkan dengan sholat di banyak tempat dari ayat-ayat al-Qur-an. Alloh ta’alah berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ

“Dan dirikanlah sholat dan tunaikan zakat” (QS. Al-Baqoroh: 43)

Di atasnyalah kekuasaan ini berrotasi.

Maka kumpulkanlah harta dari shodaqoh dan zakat untuk saudara-saudara kalian yang berjihad.

Adapun kalian wahai para ‘ulama’ yang jujur! Hendaklah kalian menjelaskan kepada ummat mengenai permasalahan-permasalahan iman dan kufr, permasalahan-permasalahan nama-nama dan hukum-hukumnya, permasalahan-permasalahan tauhid dan syirik, mengenai millah kakek moyang kita Ibrohim, mengenai hukum islam terhadap sekulerisme dan antek-anteknya, mengenai hukum Islam terhadap pemerintahan-pemerintahan yang loyal terhadap yahudi dan nashroni, dan mengenai hukum bekerjasama dengan mereka menurut petunjuk kalimat ‘laa ilaaha illalloh’

Jelaskan kepada ummat hukum kelompok yang melarang dan enggan terhadap salah satu syi’ar diin, juga terhadap amr ma’ruf dan nahy munkar. Jelaskan kepada ummat hukum menjual urusan kaum muslimin, juga hukum berfatwa untuk kebaikan orang-orang murtad. Jelaskan kepada ummat hukum membiarkan kaum muslimin dan hukum meniadakan jihad. Jelaskan kepada ummat hukum mempolitiki manhaj-manhaj diin agar sesuai dengan opini penguasa. Jelaskan kepada ummat hukum-hukum riddah dan hukum bekerjasama dengan murtaddin.

Wahai ‘ulama’ ummat! Jangan kalian larang melirik pada study siroh (sejarah) Abu Bakr as-Shidq rodhiyallohu ‘anh dan orang-orang jujur yang melalui manhaj beliau.

Wahai ‘ulama’ ummat! Cukuplah kalian diam pada masa ummat ini dikoyak-koyak dan pada masa kaum ruwaibidhoh berbicara.

Kepada Anda wahai saudara jihad! Kepada orang yang kakinya berdebu di jalan Alloh. Kepada orang yang pernah menempati perbatasan dalam medan- medan jihad. Kepada orang yang memiliki kemampuan / kekuatan dalam menolak serangan musuh terhadap diin dan kehormatan. Kepada orang yang pernah menginjakkan kakinya di bumi Afghonistan, Checnya ataupun ‘Iroq. Kepada mereka semua aku katakan, Alloh ta’ala berfirman,

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (91) وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (92)

“Penuhilah janji Alloh jika kalian sudah berjanji dan jangan batalkan sumpah setelah meneguhkannya padahal kalian telah menjadikan Alloh sebagai saksimu atas sumpahmu. Sesungguhnya Alloh mengetahui apa yang kalian kerjakan. Dan jangan menjadi seperti orang-orang yang melepaskan benangnya setelah diikat dengan kuat hingga menjadi cerai berai. Kalian jadikan sumpah kalian sebagai alat penipuan, agar satu golongan menjadi lebih mendapat untung dari golongan yang lain. Sesungguhnya Alloh hanya menguji kalian dengan hal itu sedangkan pada hari kiamat Alloh jelaskan kepada kalian mengenai hal yang kalian perselisihkan.” (QS. An-Nahl: 91-92)

Wahai saudara jihad! Inilah Imam Makhul dari kalangan ‘ulama’ tabi’iin. Beliau pernah menghadap qiblat dan berdoa kemudian bersumpah dengan sepuluh sumpah bahwa perang adalah kewajiban bagi kalian wahai kaum muslimiin. Kemudian beliau berkata, jika kalian menghendaki aku tambah sumpahku. Kisah ini dibawakan oleh Imam ‘Abdur Rozzaq dalam Mushonnafnya. Inilah Sa’iid bin al-Musayyib, Imam bagi taabi’iin rohimahulloh, beliau termasuk fuqoha’ madinah. Beliau keluar untuk berperang padahal salah satu matanya hilang dan dikatakan kepadanya, “Anda adalah orang cacat.” Lalu beliau jawab, “Alloh telah memerintahkan berperang dalam keadaan ringan maupun berat. Jika aku tidak memungkinkan untuk perang aku bisa untuk memperbanyak jumlah personel dan aku jaga barang (kita).” Di kisahkan oleh Imam al-Qurthubiy.

Wahai saudara jihad! Aku ingatkan Anda, ku ingatkan Anda terhadap janji ini. Hendaknya Anda mengemban menjaga panji dan meneruskan perjalanan, hingga diin ini menang atau Anda wafat sebagaimana wafatnya para pendahulu yang menempuh jalan yang Anda tempuh. Teruskan perjalanan ini, agar Anda sukses terhadap ujian dari Alloh. Karena sesungguhnya hasil pelajaran ditentukan pada akhir amalnya. Alloh ta’la berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Dan sungguh akan kami uji kalian hingga kami ketahui orang-orang yang berjihad di antara kalian dan orang-orang yang bersabar juga agar kami mengetahui perihal keadaan kalian.” (QS. Muhammad: 31)

Wahai kaum muslimin! Cukuplah bagi kita kehilangan Andalusia, Khilafah Utsmaniyah, Palestina dan Imaroh Tholiban. Berangkatlah! Berangkatlah berperang di bumi jihad. Imam as-Syaukani berkata dalam kitab as-Saylil Jaror,

أما غزوِ الكفارِ و مناجزةِ أهلِ الكفرِ وحملِهم على الإسلامِ أو تسليمِ الجزيةِ , أو القتلِ فهو معلومٌ من الضروراتِ الدينيةِ , و لأجلهِ بعثَ اللهُ رسلَهُ وأَنزَل كُتبه , وما زَال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم- منذُ بَعثهُ اللهُ سبحانهُ إلى أن قَبضه إليهِ , جَاعلاً هذا الأمرَ من أعظمِ مقاصِده , ومن أهمِ شؤونهِ , وما وردَ في مُوادعتِهم أو تركِهم إذا تركُوا المقَاتلةَ فهو منسوخٌ بإجماعِ المسلمين

“Adapun memerangi orang-orang kafir dan menawari mereka untuk masuk Islam, membayar jizyah atau membunuhnya (jika tidak memilih salah satu dari dua yang pertama –pent) adalah hal yang ma’lum termasuk hal yang penting dalam urusan diin. Karena hal itulah Alloh mengutus Rosul-Nya dan menurukan kitab-Nya. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam, semenjak beliau diutus Alloh subhanah untuk memegang urusan ini (perang), senantiasa menjadikan urusan ini termasuk tujuan-tujuannya yang terbesar dan termasuk urusan yang paling urgen. Juga tidak disebutkan ketika beliau meninggalkan mereka (para sahabat), mereka menjadi meninggalkan perang, lalu menjadi perkara yang mansukh (dihapus) oleh ijma’ kaum muslimin.”

Hingga di sini perkataan Imam as-Syaukani rohimahulloh. Renungkanlah perkataan ini wahai saudaraku. Perkataan di atas adalah ketika jihad fardhu kifayah, bagaimana menurut Anda ketika jihad fardhu ‘ain sebagaimana keadaannya di zaman kita ini.

Sedangkan kepada orang yang lisannya lancang dengan mencela dan mengolok-olok mujahidin, menyebarkan isu-isu atau melemahkan (semangat) untuk jihad, aku katakan kepada mereka Alloh ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ. لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ.

“Seandainya mereka (memang) hendak keluar (untuk perang) pastilah mereka mempersiapkan persiapan untuk itu. Akan tetapi Alloh tidak menghendaki keberangkatan mereka sehingga Dia lemahkan (semangat) mereka dan dikatakan kepada mereka, “duduklah bersama orang-orang yang duduk.” Jika mereka berangkat bersama kalian, niscaya mereka tidak menambah kalian selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di antara barisanmu, untuk membuat gangguan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Alloh mengetahui orang-orang yang zholim.” (QS. At-Taubah: 46-47)

Alloh ta’ala juga berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah permainan, kesia-sia-an, bersenang-senang dengan perhiasan, berbangga-bangga di antara kalian dan berbanyak-banyakan harta serta anak. Seperti hujan yang mejadikan petani terheran-heran karena dapat menumbuhkan tanamannya kemudian tanaman itu menjadi kering lalu menjadi remuk. Padahal di akhirat itu masih terdapat adzab yang keras dan ampunan serta ke-ridho-an dari Alloh. Sedangkan kehidupan di dunia tidak lain hanyalah perhiasan yang semu.” (QS. Al-Hadid: 20)

يا مـن عَذَلتُم بالجهـادِ شبابنـا كفـوا عن التشهـير والإنكـارِ

أيـلام من عشق الجنان  وَرَوحَهَا           وعلى خُطى الأصحابِ دوماً  سارِ

أيلامُ من هجر الحيـاةَ  ولهْوَهَـا           وبِـعَزْم حُـرٍ هبَّ للاسْـتِنفـَارِ

أيـلامُ مـن للهِ أرخصَ  نفسَـه يبغِـي بهـا الفِردَوسَ خَيـرَقَرَارِ

فَـَعُوا الجِهَادَ وأَهْلَهُ  من  لَومِكم           وحـذارِ من  وصفِ النفاقِ حَذارِ

من لم يحدثْ نَفسَه بالغَزْوِ أو يغزُو فـمـاتَ فـمـوتتُ الأشـرارِ

إن الجهـادَ هو الطريقُ لـعِزِنـا           وبـتـركهِ ذلٌ وعـيشُ صَغَـارِ

Wahai orang yang kalian cela pemuda kami yang berjihad

Hentikan celaan dan pengingkaran

Apakah layak dicela orang yang rindu terhadap surga dan kenikmatannya

Sedangkan dia selalu berjalan mengikuti para sahabat

Apakah patut dicela orang yang meninggalkan dunia beserta kesia-siannya

Sedangkan dia berperang dengan tekad yang merdeka

Apakah layak dicela orang yang menjual murah dirinya pada Alloh

Lagi menginginkan surga firdaus sebagai tempat tinggal yang terbaik

Hingga mereka jadi meninggalkan jihad dan pelakunya karena celaan kalian

Waspadailah sifat kemunafikan, waspadailah!

Barang siapa yang belum pernah berperang atau meniatkan hatinya untuk perang

Lalu mati, maka kematiannya adalah kematiaan orang-orang jahat

Sesungguhnya jihad adalah jalan untuk mendapat kemuliaan

Dengan meninggalkannya akan mendapat kehidupan hina dan rendah

Imam al-Hakim dalam mustadroknya mengeluarkan hadits dengan sanad jayyid, baik untuk digunakan sebagai hujjah, juga dishohihkan oleh Imam adz-Dzahabiy. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Thobroniy dan Imam al-Bayhaqiy, dari Basyir bin al-Khoshoshiyyah rodhiyallohu ‘anh berkata,

أتيتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم لأبايعَه على الإسلامِ , فاشترطَ عليَ تشهدُ أن لا اله إلا الله وأنَ محمداً عبدهُ ورسولُه وتُصلي الخمس, وتصومُ رمضانَ وتؤدي الزكاةَ وتحجُّ البيتَ وتجاهدُ في سبيلِ الله قال : قلتُ يا رسولَ اللهِ أما اثنتانِ فلا أُطِيقُهما ، الزكاةُ لأنهُ ليسَ ليَ إلا عشرُ ذَودٍ هم رُسلُ أَهْلي وحُمولَتهم , و أما الجهادُ فإنهم يزعُمون أن من ولى فقد باء بغضبٍ من اللهِ فأخافُ إن حضرني قتالٌ كرهتُ الموتَ وجَشَعت نفسي ، فقبض رسولُ اللهِ يدهُ ثم حَركها ثم قال : ( لا صدقةَ ولا جهادَ فبم تدخلِ الجَنة فقبض رسول الله يده ثم حركها ثم قال لا صدقه ولا جهاد فبم تدخل الجنة ) .

“Aku datang kepada kepada Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bay’ah kepadanya untuk masuk islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak di-‘ibadahi selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rosul-Nya, sholat lima waktu, puasa Romadhon menunaikan zakat, haji ke baitulloh dan berjihad di jalan Alloh.” Dia lanjutkan, “wahai Rosululloh ada dua yang aku tidak mampu, yaitu zakat karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sekelompok unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad, orang-orang yakin bahwa yang lari (ketika perang) maka akan mendapat kemurkaan dari Alloh, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin (menyelamatkan) jiwaku.” Lalu Rosululloh menggenggam tangannya kemudian menggerakkannya lalu berkata, “Tidak shodaqoh dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?” Lalu Rosululloh menggenggam tangannya kemudian menggerakkannya lalu berkata, “Tidak shodaqoh dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?”

Renungkanlah wahai saudaraku yang mulia perkataan Rosululloh sang pilihan shollallohu ‘alayhi wa sallam, “Tidak shodaqoh dan tidak jihad? Lalu dengan apa Engkau masuk surga?” Dengan apa Anda masuk surga? Wahai orang-orang yang cuek! Inilah Beliau Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam yang mengatakan, “Tidak shodaqoh dan tidak jihad? Lalu dengan apa Engkau masuk surga?” Alloh ta’ala berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira akan masuk surga padahal belum datang ujian yang semisal dengan yang menimpa orang-orang sebelum kalian. Mereka ditimpa gangguan dan marabahaya serta digoncankan, hingga Rosul dan orang-orang yang beriman yang bersamanya, “kapan pertolongan Alloh datang?” ketahuilah, bahwa pertolongan Alloh sangatlah dekat.” (QS. Al-Baqoroh: 214)

Wahai hamba-hamba Alloh! Tidak shodaqoh dan tidak jihad? Dengan apa Anda masuk surga? Hendaknya setiap orang di antara kita mengulang-ulang pertanyaan ini, agar bisa menjawabnya sebelum datang hari kiamat sebagaimana Alloh ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)

“Pada hari tidak bermanfaat harta tidak juga anak. Kecuali orang yang datang kepada Alloh dengan hati yang selamat (dari syirik dan kemunafikan –tafsir jalalain)” (QS. As-Syu’aro’: 88-89)

Dalam akhir penutupan, ya Alloh Yang menurunkan kitab, Maha cepat hisab-Nya, kalahkan kelompok-kelompok musuh. Ya Alloh kalahkan mereka, goncangkan mereka dan tolonglah kami dalam menghadapi mereka. Ya Alloh tolonglah mujahidin di bumi ‘Iroq, Palestina, Afghonistan, Maghrib Islamy, Jaziroh ‘Arob, Shomalia dan di setiap tempat. Ya Alloh tolonglah mereka dalam menghadapi musuh mereka, tepatkan tembakan mereka dan sembuhkan luka mereka. Ya Alloh bebaskan saudara-saudara kami yang tertawan dan kaum muslimin lain yang juga tertawan. Ya Alloh bebaskan Syaikh Doktor ‘Umar ‘Abdur Rohman, Syaikh Rifa’iy Thoha, Syaikh Sulaiman al-‘Ulwan dan Syaikh Walid as-Sananiy, Syaikh Sa’id Alu Zu’ayr, Syaikh Faris Alu Syuwail (Abu Jandal al-Azdi), Syaikh Sulaiman Abu Ghoits dan Syaikh Abu Hafsh al-Muritaniy dari penawanan. Ya Alloh bebaskan Syaikh Muhammad al-Fazaziy, Syaikh Abu Qotadah al-Falisthiniy, Syaikh Nashor al-Marshod dan seluruh kaum muslimin yang tertawan. Ya Alloh, terimalah saudara-saudara kami yang syahid.

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين .

Sedangkan akhir seruan kami, segala puji bagi Alloh Robb semesta ‘alam.

Catatan penterjemah:

–          Jika menemukan terjemah yang keliru boleh di benarkan.

–          Dibolehkan mengedit tata letak sesuai dengan kebutuhan.

–          Jangan lupakan saudara-saudara kita yang berjihad dalam setiap doa Anda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: