TAHANLAH TANGAN KALIAN (JANGAN BERPERANG)

Oleh : Abu Abdillah al-Sa’di

Allah mengizinkan kaum muslimin untuk berperang saat di Madinah. Selama di Makkah, jihad belum disyariatkan karena adanya hikmah yang dikehendaki oleh Alah Ta’ala. Yang saya maksud di sini adalah jihad thalab yang menundukkan bangsa dan negara di bawah hukum Islam. Adapun jihad difa’, sebenarnya sudah disyariatkan sesuai dengan kebutuhan.

Kaum muslimin membela jiwa, kehormatan dan harta mereka. Membela tanah air Islam saat itu belum ada, karena kaum muslimin belum mempunyai tanah air yang mesti dibela.

Bagi umat Islam, saat itu membela jiwa disyariatkan, namun hukumnya tidak wajib. Mereka boleh memilih, sekalipun yang lebih utama adalah bersabar.

Allah berfirman (Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan secara dzalim, mereka membela diri {} Dan balasan sebuah kejahatan adalah kejahatan serupa. Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas keagungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim {}

Sesungguhnya orang-orang yang membela diri setelah dianiaya, tiada suatu dosapun atas diri mereka {} Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih {} Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, perbuatan yang demikian itu termasuk hal-hal agung yang diutamakan =QS. Al-Syura :39-43).

Di Madinah secara bertahap turun perintah jihad, yang berakhir dengan kewajiban berjihad melawan seluruh orang kafir ; baik yang menyerang kita maupun tidak. Orang kafir yang tidak menyerang, diperangi sebagai bagian dari jihad thalab yang hukumnya fardhu kifayah.

Orang kafir yang menyerang, diperangi sebagai bentuk jihad difa’ yang hukumnya fardhu ‘ain.

Islam telah sempurna dan hukum jihad dalam Islam telah tetap (baku) sesuai fase tasyri’ terakhir. Kaum muslimin-pun melaksanakan jalan ini selama 14 abad. Selama itu, tidak seorang pun yang menyelisihi hal yang sudah baku ini. Tak terlintas dalam benak seorang muslimpun di kala itu untuk menyatakan bahwa seluruh umat Islam berada dalam masa kelemahan dan ketertindasan, maka wajib kembali kepada tahapan turunnya perintah jihad ; dimulai dari diperbolehkan berjihad, kemudian wajib berjihad melawan musuh yang menyerang, terakhir kewajiban berjihad melawan seluruh musuh. Sekalipun para pendahulu kita telah mengalami masa-masa sangat lemah dan kekalahan materi yang nyata, namun sedikitpun pemahaman tentang hukum jihad model seperti ini belum muncul.

Darul Khilafah (Baghdad) jatuh ke tangan tentara musyrikin Tartar, Masjid Al-Aqsha jatuh ke tangan tentara salib, dan bumi Al-Haram Makkah jatuh ke tangan tentara murtad Qaramithah. Meski demikian, tak seorang muslimpun (saat itu) berani menyatakan bahwa kita berada dalam masa ketertindasan (kelemahan), sehingga kita wajib menyibukkan diri dengan ibadah, dakwah, tarbiyah, atau solusi lain yang —menurut orang-orang sekarang— bisa mengeluarkan dari (gang sempit) kewajiban umat untuk berjihad. Pemikiran seperti ini tidak terbayang, kecuali dalam budaya kaum shufi dan semisalnya, yang menihilkan perintah syariat untuk akhdzul asbab (menempuh sarana, sebab dan lantaran). Meski demikian, sayapun tidak mengingat ada seorang shufi masa itu yang duduk-duduk saja tidak berjihad dengan alasan filosofis tentang periodesasi hukum jihad seperti ini.

Sebabnya —wallahu a’lam— umat Islam saat itu belum terkena penyakit kekalahan mental dan keputus-asaan kronis. Mereka tetap mempunyai izzah dengan diennya. Jika dalam beberapa masa mereka lengah dan musuh menguasai mereka, mereka segera bangkit, mengerti penyakit yang menimpanya, kembali kepada diennya dan menempatkan jihad dalam daftar menu pertama solusi persoalan. Tidak lama setelah itu, umatpun terbebas dari musibah yang menimpanya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, para pendukung dakwah dan murid-murid beliau, juga melewati masa-masa sulit seperti masa kita hidup sekarang ini. Meski demikian, mereka tidak berfikir untuk kembali kepada hukum-hukum fase Makkah. Sebabnya, mereka tidak mendapati dalil syar’i atas pemikiran seperti ini. Adapun orang-orang zaman sekarang yang terbuai oleh fikiran dan pendapat masing-masing, menerapkan fikiran dan pendapatnya kepada realita yang ada, dan dengannya menentang syariat. Bagi mereka, hukum baku (muhkam) dalam fase Makkah yang diambil hanyalah hukum jihad semata. Itupun, terjadi kontradiksi dan pencampur adukan.

Saya katakan (hukum jihad semata), karena tanpa batasan ini, mereka sama saja dengan jama’ah takfir wal hijrah yang mengambil seluruh hukum-hukum yang berlaku pada fase Makkah : perempuan musyrikah boleh dinikahi, sembelihan orang musyrik halal. Begitulah fase Makkah dengan segala hukumnya. Suatu hal di mana orang yang mempunyai setitik ilmu tentang syariat pun tahu kebatilannya.

Orang-orang yang mempunyai pemikiran seperti ini, dihadapkan kepada dua pilihan pahit. Pertama : menyama-ratakan hukum fase Makkah untuk selain jihad. Ini pilihan yang tidak berani mereka katakan, karena kebatilannya terlalu jelas. Kedua : mengecualikan jihad dari seluruh hukum fase Makkah lainnya. Pilihan ini sangat dilematis dan kontradiktif, karena berarti membeda-bedakan hukum-hukum yang serupa (sama-sama turun pada fase Makkah).

Ambil-lah contoh ; hukum khamr. Hukum khamr turun secara bertahap ; dimulai dengan penyebutan khamr mempunyai nilai positif namun nilai negatifnya lebih besar tanpa ada pengharaman, lalu diharamkan pada waktu sholat, lalu diharamkan total. Penahapan ini karena ada hikmah-hikmah yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Meski demikian, tidak seorangpun bisa mengatakan bahwa penahapan ini bisa diterapkan pada zaman sekarang. Sebabnya jelas, hukum khamr sudah  tetap dan baku (muhkam) berdasar nash, tidak menerima ijtihad.

Demikian juga dengan jihad dan penahapan tasyri’nya yang sudah mantap dan baku, tidak menerima ijtihad yang bertentangan dengan nash, seperti ijtihad para penyeru teori “tarbiyah dan tashfiyah”.

Satu masalah lagi yang perlu kami katakan ; dalam masalah jihad ada satu factor berpengaruh yang terkadang mirip dengan permasalahan penahapan tasyri’ jihad. Faktor tersebut adalah masalah kekuatan dan kelemahan. Pengaruh faktor ini dalam hukum jihad adalah menetapkan (kewajiban jihad) atau menggugurkannya.

Ada (kewajiban) jihad yang (gugur) karena adanya kelemahan, ada pula (kewajiban) jihad yang harus ditimbang ukuran mashalih dan mafasidnya. Pembahasan secara rinci tentunya memerlukan kesempatan tersendiri. Namun satu hal penting yang saat ini harus ditetapi, bahwa factor kekuatan-kelemahan ini secara mendasar berbeda dengan apa yang kita bicarakan di atas. Pengaruh yang akan ditimbulkan oleh factor inipun berbeda dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh apa yang kita bicarakan di atas. Mencampur adukkan keduanya akan menyebabkan banyak kesalahan praktek. Tidak ada yang selamat dari kesalahan-kesalahan praktek tersebut, selain orang-orang yang dijaga dan ditunjukkan kepada kebenaran oleh Allah Ta’ala.

Sumber : Majalah Shautul Jihad edisi III

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: