SEANDAINYA MEREKA MENGIKUTI KITA, TENTULAH MEREKA TIDAK TERBUNUH


Oleh : Syaikh Nashir Al-Fahd

17-4-2003 M

Syaikhuna al-fadhil :

Apa cara terbaik untuk membantah pihak yang melarang (tahdzir) orang-orang yang segera berangkat jihad ke Iraq dan mengajak untuk bersabar menunggu ?

Ketika akhirnya Baghdad jatuh, orang-orang yang mengikuti pendapat ini gembira dan bersorak : Wah, baik sekali syaikh fulan, syaikh fulan dan fulan. Mereka telah mentahdzir para pemuda agar tidak berangkat ke Iraq dan menasehati untuk sabar dan menanti (hasil, siapa yang menang dan kalah). Jika para pemuda itu mengikuti nasehat para syaikh, tentu mereka tidak akan terbunuh dan mengalami kesusahan.”

Jazakumullah khairan.

Jawab :

Saudaraku yang terhormat…

Orang yang memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dan membandingkannya dengan banyak tingkah laku umat Islam selama perang salib, sejak awal invasi ke Afghanistan hingga hari ini…akan keheranan menyaksikan banyaknya kesesuaian antara sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dengan tingkah laku mereka. Saya akan tunjukkan kepada anda beberapa contoh :

[1]- Ketika banyak ikhwah mujahidin yang terbunuh di Afghanistan, terjadi pembantaian besar-besaran di Jangi dan banyak mujahidin yang ditawan di Guantanamo —semoga Allah membebaskan mereka—, seorang da’i muncul di salah satu stasiun TV arab dengan mengatakan ; ” Seandainya mereka mengikuti (nasehat dan fatwa) kami, tentulah mereka tidak terbunuh dan tertawan!”

Subhanallah. Untuk membantahnya, silahkan baca firman Allah Ta’ala ( Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian seperti orang-orang kafir (munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka jika mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau berperang :” Kalau mereka tetap bersama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh.” (Akibat perkataan dan keyakinan mereka itu) Allah menimpakan penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan. Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan) QS. Ali Imran :156.

Baca juga firman Allah Ta’ala (Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang :” Seandainya mereka mengikuti kami, tentulah mereka tidak terbunuh.” Jawablah :” Tolaklah kematian dari diri kalian, kalau kalian orang-orang yang benar). QS. Ali Imran :168.

Sekedar membacakan ayat-ayat ini, sudah menjadi bantahan yang paling mengena.

[2]- Setelah perang salib dimulai, banyak da’i yang muncul dan menerangkan : Jihad memang hukumnya wajib. Itu tidak kita ingkari. Namun, umat Islam saat ini belum siap untuk berjihad.”

Mereka ditanya : Kami terima pendapat kalian bahwa umat saat ini belum siap berjihad. Lantas, kewajiban apa yang harus dilakukan saat ini ?

Harus i’dad menyiapkan umat untuk berjihad menurut kadar minimal (kemampuan). Sebagaimana dikatakan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ;”Pada waktu kewajiban jihad gugur karena ketidak mampuan, wajib hukumnya mempersiapkan diri untuk berjihad dengan menyiapkan kekuatan dan kuda-kuda perang yang tertambat. (Sebab kaedah ushuliyah menyatakan) Sesuatu (sarana) yang sebuah kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu hukumnya juga wajib.” [MAjmu’ Fatawa XXVIII/259].

Tetapi, jika anda memperhatikan kondisi dan dakwah mereka, anda dapati mereka tidak mempunyai perhatian kepada jihad ataupun i’dad. Lihatlah perbuatan mereka, kemudian bandingkan dengan firman Allah Ta’ala (Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka mempersiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka dan dikatakan kepada mereka:” Tinggal-lah kalian bersama orang-orang yang tinggal itu.” ) QS. Al-Taubah :46.

[3]- Setelah perang salib dimulai, sebagian pihak ingin berkompromi (mudahanah) dan menampakkan sebagian kecintaan kepada orang-orang kafir. Ketika sikapnya ditanyakan, ia menjawab :” Kami mengkhawatirkan hasil-hasil dakwah yang selama ini telah dicapai.”

Bandingkanlah jawaban ini dengan firman Allah Ta’ala (Maka kamu akan melihat orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata :” Kami takut terkena bencana.”) [QS. Al-Maidah :52].

Bedanya, mereka mengatakan : ” Kami khawatir dakwah akan terkena bencana.”

Begitulah…contoh-contoh begitu banyak….

Untuk membantah orang-orang seperti mereka, cukup dengan membacakan ayat-ayat ini kepada mereka.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki kondisi umat Islam dan memberi petunjuk kepada orang yang tersesat. Amien.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: