Sidang Putri Munawaroh, Terisak-isak Saat Membaca Pledoi

JAKARTA – Sidang lanjutan dengan terdakwa Puteri Munawaroh, 20, digelar kembali di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (6/7).

Sidang yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB di ruang sidang utama PN Jaksel. Dalam sidang beragendakan pledoi, Munawaroh membacakan sendiri pembelaannya.

Saat membacakan pembelaan, Munawaroh yang mengenakan jubah serta burqa hitam sesekali terdengar terisak-isak tak kuasa menahan kesedihan. Ini sangat terlihat saat ia menceritakan suaminya, Susilo Adib. Puteri Munawaroh menguraikan ia dan suaminya, almarhum Susilo Adib adalah pasangan suami-istri yang menjalani kehidupan rumah tangga berlandaskan nilai-nilai keislaman.

“Kami hidup dalam kesederhanaan. Suami mengajar di Pondok Al Kahfi. Saya sendiri adalah ibu rumah tangga biasa. Tapi, kehidupan kami penuh dengan kebahagiaan dan semakin bertambah saat saya dinyatakan mengandung si buah hati,” tutur Munawaroh sambil sesekali terisak.

Pada April 2009, Munawaroh dan Susilo Adib mengontrak sebuah rumah di Kampung Sari RT 03/11 Mojosongo, Jebres, Solo, milik Sri Indrasari selama satu tahun seharga Rp1,4 juta. Kemudian secara bertahap mereka menerima tamu yakni Noordin M Top, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, dan Rohmat Puji Prabowo alias Bejo.

Namun, dalam pembelaan, Munawaroh menyebutkan bahwa tindakannya yang mengunci rumah ketika hendak pergi bukan bermaksud menyembunyikan tamu, tapi agar harta-harta mereka dapat terlindungi dari orang-orang jahat. Munawaroh ditangkap pada penggerebekan 17 September 2009 di Kampung Sari RT 03/11 Mojosongo, Jebres, Solo. Adapun Puteri selamat karena dilindungi oleh suaminya. Untuk itu, ia merupakan satu-satunya tersangka yang selamat. Saat tertembak, Munawaroh tengah mengandung tiga bulan.

Setelah melalui beberapa kali persidangan, tim jaksa pun menyatakan bahwa Munawaroh bersalah karena turut serta membantu tindak pidana terorisme dengan memberikan kemudahan kepada para pelaku. Munawaroh dijerat dengan Pasal 13 huruf b Perpu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 75 Th 2003 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Ia pun dijatuhi pidana delapan tahun hukuman penjara dikurangi masa tahanan.

Kepada majelis hakim, Munawaroh menuturkan, “Saya berharap dalam memutuskan perkara ini menghandung nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral kepada Allah,” tuturnya. [muslimdaily.net/MI]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: