SAYYID QUTHB”MENGAPA AKU DIHUKUM MATI”

BUKU I

KATA PENGANTAR

Oleh: Hisyam dan Muhammad ‘Ali Hafizh

Kami berharap agar tak ada seorang pun yang beranggapan, bahwa dokumen yang ditulis oleh Syahidul Islam Sayyid Quthb ini adalah dokumen yang lengkap dan tidak dikurangi.

Dokumen yang kami beri judul Limadza A’damuni (Mengapa Aku Dihukum Mati) ini telah berpindah-pindah melalui banyak tangan. Mulai dari tangan para penyidik— maupun-selain penyidik—yang melakukan penyiksaan terhadap Asy-Syahid Sayyid Quthb dan kawan-kawannya, sampai kepada tangan-tangan para penanggung jawab (para eksekutif) pemerintah dan kaki tangan mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa dokumen ini adalah tulisan tangan Asy-Syahid Sayyid Quthb. Namun perlu dicatat, bahwa dokumen ini ditulis atas permintaan para penyidik yang menginterogasi beliau dan kawan-kawan beliau. Oleh karenanya, dokumen ini ditulis sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para penyidik atau jawaban atas lontaran pertanyaan yang bersifat umum.

Ketika majalah Al-Muslimun mempublikasikan dokumen ini secara berseri—dimulai dari edisi kedua, muncul berbagai tanggapan dari orang-orang yang bersimpati terhadap Asy-Syahid Sayyid Quthb. Sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa dokumen tersebut palsu, namun begitu, sebagian besar mereka tetaplah mengakui keaslian dokumen ini.

Adapun kini kami katakan, bahwa dokumen sekaligus kesaksian yang merupakan jawaban lengkap atas berbagai pertanyaan yang dilontarkan para penyidik ini, telah sampai kepada kami dalam bentuk tulisan tangan Asy-Syahid Sayyid Quthb. Namun perlu kami tegaskan, dokumen ini—sampai ke tangan kami—sudah dalam keadaan tidak lengkap, atau setidaknya telah dikurangi. Sebab kaki tangan penguasa thaghut berusaha menyembunyikannya di tempat yang tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Mereka berharap, hilangnya dokumen dan kesaksian yang tertulis dalam ‘lembaran-lembaran hitam’ tersebut dapat ‘memutihkan muka’ para penguasa tiran dan antek-anteknya, serta orang-orang yang telah diketahui terlibat dalam penyiksaan terhadap Asy-Syahid dan kawan-kawannya. Dimana tidak tersisa satu pun cara dan bentuk penyiksaan yang mereka ketahui, kecuali pasti telah mereka timpakan kepada Asy-Syahid Sayyid Quthb.

Akan tetapi, sanggupkah mereka menaklukkan hati dan jiwa beliau?

TIDAK…! Sama sekali tidak!! Mereka memang berhasil menguasai fisik beliau yang fana, namun mereka takkan pernah mampu menguasai jiwa beliau selama-lamanya. Oleh karena itu, mereka menjatuhkan hukuman mati kepada beliau.

Ya … Karena itulah mereka menjatuhkan hukuman mati kepada beliau. Meskipun para ulama dan para pemuka dunia Islam telah menyerukan agar mereka mencabut hukuman mati kepada beliau.

Akan tetapi, bagaimana mungkin mereka akan mencabut hukuman mati kepada beliau? Apakah mereka akan membiarkan keadaan fisik beliau menjadi saksi atas kebiadaban mereka?

Sebelum hukuman mati dijatuhkan, para ikhwan yang bersama Asy-Syahid di dalam penjara menuturkan, bahwa mereka (para penyidik-ed.) telah menyiksa beliau dengan siksaan yang sangat keras. Mereka rusak wajah dan fisik beliau, agar dengannya mereka dapat melemahkan dan menaklukkan jiwa beliau.

Akan tetapi, Allah tidak menghendaki mereka dapat menguasai jiwa beliau. Bukti yang paling nyata—dari kegagalan mereka—adalah mereka menjatuhkan hukuman mati kepada sang penulis Fi Zhilalil Quran ini.

Semoga rahmat Allah tercurah kepada Asy-Syahid Sayyid Quthb, dan semoga Allah melipat-gandakan pahala beliau terhadap apa yang telah beliau persembahkan kepada Islam dan kaum muslimin. Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kita akan kembali.

CATATAN DAN PENJELASAN

Sebuah Pengantar Singkat

Sebelumnya aku telah menulis sebuah penjelasan secara global, yang mana banyak rincian yang tidak aku cantumkan di dalamnya. Selain itu, ada banyak peristiwa dan penjelasan yang juga belum aku sertakan di sana. Sedangkan catatan tersebut telah menimbulkan kesalah-pahaman tentang sikap dan motivasi yang mendorong diriku untuk menulis penjelasan semacam itu. Maka aku berharap, catatan baruku yang lebih rinci ini dapat memenuhi apa yang diinginkan dan dapat memahamkan tentang sikapku yang sebenarnya.

Allah Mahatahu bahwa aku menulis catatan ini bukanlah untuk membersihkan diriku pribadi dari apa yang terdapat dari catatanku yang masih bersifat global tersebut.

Namun harus aku akui, bahwa tujuanku yang paling utama sebelum tujuan yang lainnya adalah aku tengah berusaha melindungi sekelompok pemuda yang telah berjuang bersamaku dalam harakah ini, semaksimal kemampuanku. Karena aku yakin, para pemuda tersebut adalah bagian dari orang-orang yang terbaik di muka bumi pada zaman ini. Mereka adalah ‘amunisi’ bagi Islam, dan mereka adalah manusia yang haram hukumnya untuk dihancurkan dan dimusnahkan.

Aku yakin, bahwa kelak aku akan dimintai pertanggung-jawaban di hadapan Allah mengenai upayaku untuk menyelamatkan mereka. Sedangkan dalam catatanku yang terdahulu, tidak terdapat berbagai rincian yang dapat aku ingat sekarang ini untuk meringankan beban tanggung jawab mereka, dan tentu saja untuk meringankan diriku juga.

Akan tetapi, Allah Mahatahu bahwa diriku ini tidaklah aku perhitungkan sama sekali, dan aku telah siap memikul seluruh tanggung jawab sejak kata-kata pertama yang aku ucapkan. Dan aku katakan, “Telah tiba saatnya bagi seorang muslim untuk mempersembahkan kepalanya sebagai harga untuk memproklamirkan atas tegaknya sebuah harakah Islamiyah (gerakan Islam) dan tanzhim (organisasi) yang tidak memproklamirkan diri, yang berdiri atas dasar bahwa ia merupakan pondasi bagi nizham Islami (sistem Islam), apa pun cara yang akan dia gunakan untuk itu. Dalam hukum produk bumi, semua ini dikenal sebagai tindak kriminal yang layak untuk dihukum mati!”

Perlu aku jelaskan pada pengantar yang singkat ini. bahwa aku menulis catatan pertama yang bersifat global tersebut dan dengan tujuan sebagaimana yang telah aku paparkan di atas, merupakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Karena seorang muslim yang tertawan oleh musuh, tidak pantas baginya memberitahukan keberadaan tentara Islam lainnya kepada musuh. Dan apalagi membocorkan rahasia-rahasia yang dapat menghancurkan kaum Muslimin, semaksimal mungkin.

Telah  aku  tunaikan  kewajiban  itu  sesuai pemahamanku terhadap Islam sebagai amalan yang aku persembahkan kepada Allah, tanpa aku hiraukan pandangan undang-undang dan lembaga-lembaga buatan manusia.

Akan tetapi, sekarang—dan ini telah aku jelaskan— para pemuda tersebut telah membongkar sendiri perannya masing-masing secara rinci, baik yang bersifat pribadi maupun yang bersifat umum. Dan aku tidak sedikit pun menyinggung tentang data diri mereka. Dengan demikian, telah hilang ganjalan yang ada di dalam dadaku untuk menceritakan segalanya secara rinci, dan aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menuturkannya sesuai dengan urutan peristiwa. Apabila nanti ada sebagian yang terlewat dari ingatanku, maka bisa ditanyakan atau bisa mengingatkanku dengan pengakuan lima orang pemuda tersebut atau yang lainnya, karena pengakuan mereka memuat persoalan tersebut. Dan urutan waktu itu merupakan sarana yang paling baik bagiku dalam membantu ingatan.

Juga harus aku katakan kepada para penanggung jawab yang menangani kasus ini, bahwa aku tidak menulis kecuali dengan caraku sendiri yang khas… sebagai penulis yang telah menggeluti dunia tulis-menulis selama 40 tahun, dengan cara tertentu yang khas pula.

Dimana sebagian peristiwa harus aku beri komentar ketika menceritakannya, disertai dengan penjelasan mengenai sebab-sebabnya, hal-hal yang mendorong terjadinya, dan kondisi yang berada di sekelilingnya. Sebagian lagi bisa dikisahkan tanpa aku beri komentar maupun catatan apa pun. Dan hal ini terkadang membuat mereka kesal, karena sebenarnya, yang mereka inginkan hanyalah rangkaian kejadian, peristiwa, dan personel organisatorisnya.

Namun demikian, aku tidak akan memberikan catatan kecuali hal yang menurutku penting dan mendesak.

AKTIVITASKU DI HARAKAH IKHWANUL MUSLIMIN DAN BERBAGAI PERISTIWA YANG TERJADI KETIKA ITU

Akan aku ringkas penjelasan mengenai aktivitasku sejak aku bergabung dengan jama’ah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1953 sampai tahun 1962 M, baru setelah itu akan aku perluas penjelasannya. Karena pada masa-masa awal, tidak ada sesuatu pun yang aku nilai penting, karena masa-masa itu merupakan pengantar untuk masa-masa berikutnya. Selain itu, peristiwa-peristiwa tersebut telah selesai urusannya, kecuali satu kasus yang sangat penting—yang seandainya itu benar, maka ia bisa mengubah sejarah hubungan antara pemerintah dan Ikhwanul Muslimin, serta mengubah tragedi 1954 yang akan aku sampaikan dalam bentuk laporan peristiwa.

Sebelumnya aku tidak mengetahui tentang Ikhwanul Muslimin kecuali hanya sedikit saja. Hingga ketika aku pergi ke Amerika pada musim semi tahun 1948 sebagai utusan lembaga yang ketika itu bernama Wizaratul Ma’arif (semacam departemen pendidikan-pent). Ketika aku tinggal di sana itulah, tepatnya pada tahun 1949 M, Asy-Syahid Hasan Al-Banna dibunuh. Pada waktu itu, aku sangat tertarik dengan apa yang diberitakan di berbagai surat kabar Amerika dan surat kabar Inggris yang ada di Amerika, di mana mereka menaruh perhatian sangat besar terhadap Ikhwanul Muslimin. Di sana dilontarkan berbagai cacian terhadap Ikhwanul Muslimin, dan luapan kegembiraan mereka sangat nampak dengan dibubarkannya Ikhwanul Muslimin, serta dibunuhnya mursyid (pimpinan) jamaah mereka. Di sana juga digembar-gemborkan mengenai bahaya jamaah tersebut terhadap kepentingan, kebudayaan, dan peradaban Barat di kawasan (Timur Tengah).

Pada tahun 1950 terbit berbagai buku yang membahas perihal yang serupa dengan hal ini. Salah satunya yang aku ingat adalah sebuah buku yang ditulis oleh James Haward Dohn yang berjudul Aliran-aliran Politik dan Agama di Mesir Modern. Semua ini menarik perhatianku, setidaknya itu menunjukkan, betapa pentingnya jamaah tersebut bagi kaum Zionis dan Kolonial Barat.

Dan pada waktu yang hampir bersamaan, terbit bukuku yang berjudul Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah fil Islam (Keadilan Sosial Dalam Islam) pada tahun 1949. Pada halaman persembahannya, tertulis kata-kata sebagai berikut, “…kepada para pemuda yang terbersit dalam khayalanku, yang datang dengan membawa Islam kembali sebagaimana ia muncul pertama kali, yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela…” Ikhwanul Muslimin Mesir mengira, bahwa yang aku maksud dalam halaman persembahan itu adalah mereka, padahal tidak demikian adanya. Akan tetapi, dari pihak mereka sendiri menjadikan buku tersebut sebagai buku panduan, dan menganggap penulisnya sebagai orang yang tulus. Maka mulailah mereka memperhatikan buku tersebut.

Ketika aku kembali (ke Mesir-ed) pada tahun 1950, beberapa pemuda Ikhwanul Muslimin mendatangiku dan membicarakan tentang isi buku itu. Akan tetapi, mereka tidak memiliki tempat, karena ketika itu jamaah Ikhwanul Muslimin masih diburu. Pada tahun 1951, aku terlibat perseteruan hebat dengan kondisi pemerintahan yang ada—yaitu pemerintahan feodalisme dan kapitalisme— melalui pena, ceramah, dan berbagai pertemuan. Mengenai masalah ini, aku menerbitkan dua buah buku— di samping juga menerbitkan ratusan makalah di berbagai surat kabar, antara lain: Al-Hizbul Wathani Al-Jadid (Partai Nasional Baru), Al-Hizbul Isytiraki (Partai Sosialis), majalah Ad-Da’wah yang diterbitkan oleh Ustadz Shalih Al-‘Isymawi, majalah Ar-Risalah, dan berbagai majalah yang mau menerima dan mempublikasikan tulisanku. Ketika itu, aku tidak bergabung dengan satu partai apa pun. Keadaan seperti ini berjalan sampai terjadi revolusi 23 Juli 1952.

Sekali lagi aku berjuang bersama para aktivis revolusi, yakni sejak 23 Juli sampai bulan Februari 1953. Ketika pemikiranku mulai berseberangan dengan pemikiran mereka terkait soal Haiatut Tahrir (Lembaga Pembebasan)—baik mengenai cara pembentukannya maupun mengenai masalah-masalah lain yang terjadi ketika itu yang tidak perlu saya rinci di sini, hubunganku dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin semakin menguat. Karena dalam pandanganku, Ikhwanul Muslimin merupakan ladang yang cocok untuk memperjuangkan Islam secara lebih luas di seluruh kawasan (Timur Tengah), sebagai sebuah gerakan pembangunan dan kebangkitan yang universal. Ikhwanul Muslimin merupakan harakah yang tidak ada pengganti yang setara dengannya dalam menghadang proyek Kolonial Zionis dan Salibis—yang mana aku telah banyak mengetahui tentang semua itu, khususnya ketika aku berada di Amerika.

Semua alasan tersebut akhirnya mendorongku untuk bergabung dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1953. Dan secara umum, mereka menyambut baik bergabungnya diriku dengan Jamaah mereka. Menurut mereka, medan perjuangan yang cocok untukku adalah dalam urusan-urusan pemikiran pada bagian penyebaran dakwah, seperti mengajar pada hari Selasa, menjadi ketua redaksi surat kabar di sana, dan menulis beberapa risalah bulanan sebagai tsaqafah islamiyah. Adapun pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan harakah, aku jauh darinya.

Kemudian pada peristiwa 1954, aku termasuk orang yang ditangkap pada bulan Januari, dan dibebaskan pada bulan Maret. Kemudian setelah itu, aku kembali ditangkap pada peristiwa Al-Mansyiah tanggal 26 Oktober. Aku didakwa terlibat dalam gerakan bawah tanah, dan bahkan dituduh sebagai ketua bagian selebaran pada gerakan tersebut. Namun, semua dakwaan itu tidaklah benar.

Perlu dicatat bahwa tidaklah aku bermaksud membersihkan diriku sendiri dari dakwaan yang menyebabkan aku dipenjara selama 10 tahun. Apalagi kasus itu telah selesai, sehingga tak ada gunanya aku membersihkan diriku dari dakwaan tersebut saat ini. Namun bagi kami, ini adalah gambaran kenyataan yang berpengaruh besar pada berbagai peristiwa baru yang terjadi kemudian, dan inilah yang terpenting dari semua ini. Maka di sinilah aku akan menceritakan satu peristiwa terpenting di antara berbagai peristiwa yang terjadi pada tahun 1954 yang telah saya singgung di depan. Yaitu peristiwa Al-Mansyiah disertai situasi yang mengitarinya. Aku harap, para penanggung jawab yang saat ini menangani kasus tersebut, bisa sejenak melapangkan dada mereka untuk menyimak semua rincian dan berbagai situasi awal yang mengitari dan mendahuluinya, sesuai dengan apa yang aku ketahui dan aku pahami. Jangan sampai mereka beranggapan, bahwa kasus ini berkaitan dengan sejarah yang telah terkubur, sehingga tidak ada gunanya membuang-buang waktu untuk membicarakannya. Sebab kasus ini sangat erat kaitannya dengan kasus baru yang terjadi kemudian, baik dengan semua peristiwa maupun penyebabnya.

Pada tahun 1951, Menteri Kemasyarakatan dalam urusan Kementerian Utusan, Dr. Ahmad Husain, berangkat ke Amerika. Ketika dia kembali, dia mengajukan pengunduran diri dari jabatannya. Meskipun An-Nuhas Basya telah menawarkan berbagai macam bujukan, namun dia tetap bersikeras dengan pengunduran dirinya. Kemudian setelah itu. dia membentuk Jam’iyyah Al-Fallah (Organisasi Petani), yang misi utamanya adalah mewujudkan keadilan sosial bagi para petani dan buruh, serta memiliki berbagai program besar untuk mencapai misi ini. Surat kabar Amerika mempublikasikan organisasi ini dengan membuat image bahwa organisasi ini memiliki keterkaitan dengan strategi Amerika di kawasan Timur Tengah, Mereka mengunggul-unggulkan pemuda bernama Dr. Ahmad Husain ini—yang seingatku, dia adalah orang yang sangat dihormati di kalangan para lulusan Universitas Amerika.

Selain itu, banyak tokoh yang bergabung dengan organisasi yang dipimpin oleh Dr. Ahmad Husain ini. Padahal ketika itu, kebanyakan dari mereka lebih senior dan lebih terpandang daripada pemuda ini. Di antara mereka ada Dr. Muhammad Shalahuddin Menteri Luar Negeri, Dr. Abdur Razzaq As-Sanhawi Menteri Pendidikan dan juga mantan ketua Dewan Pemerintahan, dan lain sebagainya. Semuanya itu terlalu mencolok, sehingga menarik perhatian banyak kalangan. Apalagi ketika Syaikh Al-Baquri juga turut bergabung dengan organisasi ini. Inilah hal penting yang erat kaitannya dengan perselisihan antara para aktivis revolusi dan Ikhwanul Muslimin.

Sementara itu, aku mengamati setiap perkembangan dari dekat, karena aku bekerja berdekatan dengan para aktivis Revolusi tersebut. Setiap hari, lebih dari 12 jam aku bersama mereka dan bersama orang-orang yang ada di sekeliling mereka. Aku katakan: yang perlu dicatat lagi adalah Ustadz Fuad Jalal—telah meninggal, beliau dahulu menteri I pada masa Presiden Muhammad Najib—ikut menjadi salah seorang anggota Organisasi Petani, bahkan menjabat sebagai sekretarisnya. Aku perhatikan dalam berbagai kesempatan, dia selalu berusaha memperuncing perselisihan antara aktivis Revolusi dan Ikhwanul Muslimin, serta membesar-besarkan ancaman dari keduanya. Dia memanfaatkan kepercayaan Presiden Jamal Abdul Nashir kepadanya untuk menyebarluaskan pemikiran-pemikiran semacam ini. Hal itu tidak dia sembunyikan dariku, karena selama ini, dia melihat diriku dekat dengan para aktivis Revolusi dari termasuk orang kepercayaan mereka. Selain itu, mereka juga mempercayakan beberapa jabatan tinggi dan penting kepadaku, serta kami juga sering mengadakan musyawarah terbuka mengenai berbagai situasi yang terjadi ketika itu, misal seperti persoalan kaum buruh, gerakan komunis yang merusak di tengah-tengah mereka, sampai masalah transportasi dan kendalanya, serta undang-undang tentangnya … dan seterusnya.

Pendek kata, aku ketika itu menjadi sumbu penghubung antara langkah Ustadz Fuad dan Organisasi Petani yang berkiblat ke Amerika, dengan upaya untuk menyulut api pertikaian di antara gerakan Revolusi dan Ikhwanul Muslimin. Ketika itu, aku berupaya semampuku untuk mencegah benturan yang telah dapat aku lihat percikan-percikannya. Namun aku tak mampu, dan akhirnya … terjadilah sesuatu yang tidak pernah aku harapkan.

Apa hubungan pengantar yang panjang ini dengan kasus Al-Mansyiyah dan dengan kasus baru?

Sejak meletusnya tragedi tersebut—yang mana aku masih ragu jika peristiwa itu merupakan skenario, karena aku tidak memiliki data yang kuat dan meyakinkan tentangnya. Akan tetapi, berbagai situasi yang berkembang di sekelilingnya membuat hatiku ragu jika peristiwa itu terjadi secara alami. Firasat yang terbersit dalam benakku mengatakan, peristiwa tersebut merupakan skenario yang bertujuan untuk melancarkan suatu misi yang berakhir dengan terjadinya clash (bentrok) besar-besaran antara gerakan Revolusi dan Ikhwanul Muslimin, untuk mewujudkan proyek asing. Firasat itu lebih kuat berdasarkan pengamatanku terhadap berbagai peristiwa dan terhadap langkah Ustadz Fuad Jalal, wakil Organisasi Petani yang berhaluan Amerika!

Ketika aku diinterogasi oleh Sayyid Shalah Dasuqi di sini—di Penjara Militer pada tahun 1954, aku katakan dengan terang-terangan kepadanya bahwa peristiwa ini merupakan skenario. Ketika itu dia membantah dengan keras, “Apakah engkau sendiri dengan segala pengetahuanmu juga termasuk mereka yang mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan sandiwara?” Aku jawab. “Aku tidak mengatakan bahwa peristiwa itu sandiwara, Tetapi aku katakan bahwa peristiwa itu diskenario untuk suatu tujuan tertentu, dan ada ‘tangan asing’ yang bermain dalam peristiwa itu.”

Ketika kemarahannya telah mereda, dia mengatakan kepadaku, “Baiklah, tetapi ada seorang anggota Ikhwanul Muslimin yang melakukan aksi pada saat itu!”

Kemudian aku lanjutkan cerita yang berkaitan dengan aktivitasku setelah tahun 1954. Firasatku terus mengatakan bahwa peristiwa Al-Mansyiyah itu merupakan skenario, sehingga aku pun terdorong untuk mengungkap hal yang sebenarnya. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang aku jumpai di penjara Liman Turoh pada tahun 1955, yang dapat memberikan petunjuk kepadaku. Meskipun jumlah mereka banyak—sebelum mereka dipindah ke penjara Al-Wahat, namun semua yang aku tanyai—di antaranya adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Mahmud Abdul Lathif, orang yang memuntahkan pelurunya (dalam tragedi tersebut-ed.) dan juga dari Handawi Duwair—hanya bisa mengatakan. “Persoalannya terlalu rumit, dan tidak ada yang tahu apa sesungguhnya yang tengah terjadi.” Sebagian lagi mengatakan, ‘Ada misteri dalam kasus ini, dan tidak mungkin diungkap sekarang….” Semua jawaban itu tidak memberi titik terang kepadaku tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Namun di sisi lain, semua ini semakin memperkuat firasatku, bahwa proyek Kolonial Zionis dan Salibis tengah berupaya untuk mewujudkan kepentingan dan strategi mereka. Langkah mereka untuk melumpuhkan harakah Ikhwanul Muslimin di kawasan Timur Tengah telah berhasil… Maka dalam waktu yang sama, harus ada upaya untuk menghadang proyek tersebut dengan cara menghidupkan kembali Harakah Islamiyah—meskipun dengan berbagai alasan, pemerintah tidak menyukainya. Karena pemerintah itu bisa salah dan bisa benar!

Di sisi lain, semua itu menumbuhkan empati pada diriku akan kezhaliman yang diderita oleh ribuan orang, ribuan keluarga, dan ribuan rumah yang dibangun atas peristiwa yang sangat jelas merupakan skenario— meskipun ketika itu belum diketahui, siapa yang berada di balik skenario tersebut; juga dibangun di atas keinginan untuk menjaga pemerintah yang ada dari ancaman yang dibesar-besarkan oleh pihak yang jelas-jelas membawa misi Barat. Demikian juga dari buku-buku, surat kabar-surat kabar, dan pernyataan-pernyataan mereka, terutama adalah pernyataan Jonson tentang sungai Yordan. Dan firasat ini semakin menguat, terutama ketika aku menyaksikan dampak-dampak nyata dalam kehidupan masyarakat Mesir. Yaitu berupa berkembangnya pemikiran-pemikiran kafir dan menyebar-luasnya kerusakan moral, sebagai akibat dari lumpuhnya harakah Ikhwanul Muslimin dan berhentinya kegiatan tarbiyah mereka. Seakan-akan keberadaan jamaah ini merupakan satu bendungan yang telah jebol, sehingga berhamburanlah aliran air bah.

Dulu, kondisi semacam ini aku dengar ketika aku berada dalam penjara. Namun ketika aku keluar dari sana, aku saksikan bahwa semua yang aku dengar di dalam penjara ternyata jauh lebih ringan dibandingkan kenyataan yang sebenarnya. Sungguh, masyarakat ini telah menjadi rawa-rawa lumpur yang besar!

Realita sesungguhnya lebih parah daripada yang diterangkan oleh orang-orang yang melihat apa yang tengah terjadi dengan kacamata perkembangan. Semua itu berkaitan dengan strategi Kolonial Zionis dan Salibis untuk menghancurkan pilar-pilar dasar sumber daya manusia di kawasan Timur Tengah. Sehingga umat yang berjumlah jutaan itu hancur dan lumpuh, tidak berdaya melakukan perlawanan, meski di tangannya tergenggam senjata yang paling canggih sekalipun. Karena manusialah yang menggerakkan senjata, dan bukan senjata yang menggerakkan manusia. Sehingga ketika masyarakat itu hancur aqidah dan akhlaknya, maka manusia yang berjumlah jutaan itu hanya menjadi buih yang tidak akan sanggup membendung aliran tersebut.

Setiap orang akan dengan mudah melihat kaitan antara kerusakan ini dengan dilumpuhkannya harakah Ikhwanul Muslimin beserta seluaih aktivitasnya. Selain itu. orang juga akan dengan mudah menghubungkan penghancuran ini dengan proyek Kolonial Zionis dan Salibis. Khususnya terhadap Jamaah ini. dan khususnya lagi di kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

Inilah pandanganku terhadap kasus ini. Dan berpijak dari sinilah aku bertekad untuk membentuk sebuah Harakah Islamiyah sebagai pelanjut estafet dari harakah Ikhwanul Muslimin yang telah dibubarkan dan dibekukan, dengan tak lupa mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman yang telah lalu.

Antara tahun 1955 sampai 1962. aku berpikir mengenai manhaj harakah dan bagaimana memulainya?

Dari sinilah dimulai era baru. dimana terjadi berbagai peristiwa yang akan aku sampaikan secara rinci.

Catatan:

Sekarang aku teringat dengan sebuah peristiwa lain sebagai tambahan untuk peristiwa Al-Mansyiyah dan berbagai kondisi yang terjadi antara tahun 1955 sampai 1957 Oleh karena itu, aku akan menunda pembicaraan mengenai usaha membentuk harakah pada tahun 1962— sebagaimana yang telah aku paparkan pada pembahasan sebelumnya—untuk membicarakan masalah peristiwa yang baru aku ingat sekarang ini….

PEMBANTAIAN DI PENJARA LIMAN TUROH

Setelah berbagai mihnah (ujian) dialami oleh Ikhwanul Muslimin, setelah pecahnya tragedi Al-Mansyiyah—yakni penangkapan ribuan orang anggotanya, berbagai macam penyiksaan yang berlangsung lama, dan sekitar 1000 orang dipenjarakan, serta rumah-rumah tempat tinggal mereka dihancurkan. Anak-anak dan wanita yang tidak terlibat apa-apa dalam aktivitas Ikhwanul Muslimin diusir tanpa diberikan biaya apapun oleh pemerintah, meski hanya sekedar bantuan untuk keluarga yang terputus sumber penghasilannya, atau untuk anak-anak dan kaum wanita yang tidak berdosa.

Setelah peristiwa itu semua, aku menyaksikan ada beberapa upaya untuk menciptakan ketegangan dan kekacauan. Yang mana hal itu dapat dijadikan alasan untuk melakukan pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang yang ditahan dan dipenjara. Dengan dalih yang sama dengan yang digunakan pada peristiwa Al-Mansyiyah.

Sekitar bulan April dan Mei 1955, Ikhwanul Muslimin dibagi di tiga penjara: Penjara Liman Turoh; di sana kurang lebih 400 orang (aku tidak ingat). Penjara Mesir, di sana kira-kira sejumlah itu juga. Dan Penjara Militer, di sana ada 2000 orang lebih yang belum diajukan ke persidangan atau yang sudah divonis, akan tetapi tidak dieksekusi. Di penjara Liman Turoh, di antara mereka yang dipenjarakan di sana, ada sejumlah mantan polisi, yaitu: Fuad Jasir, Husain Hamudah, Abdul Karim Athiyah, dan Jamal Rabi’… Sementara di penjara militer ada Ma’ruf Al-Khudhari, dan aku tidak ingat selain dia.

Yang perlu dicatat dalam kasus ini, bahwa Jamal Rabi’ mengusulkan sebuah rencana. Inti dari rencananya adalah upaya bersama antara tahanan di tiga penjara tersebut untuk keluar dengan menggunakan kekuatan setelah berhasil menguasai senjata para petugas di sana. Selanjutnya mereka bergabung dengan anggota Ikhwanul Muslimin yang masih tersisa di luar—sesuai dengan tak¬tik militernya yang detail tidak begitu aku pahami, setelah berhasil menyeberang Sungai Nil dalam usaha melakukan pemberontakan dan setelah melakukan kontak dengan regu-regu militer yang dia hubungi sendiri atau yang dia punya hubungan dengannya. (Aku tidak ingat betul karena aku tidak memperhatikan secara serius ide ini).

Rencana ini—sebagaimana yang dia ceritakan kepadaku—telah dia tawarkan kepada Fuad Jasir dan Husain Hamudah. Akan tetapi, keduanya tidak menyetujuinya. Kemudian dia tawarkan kepada Ustadz Shalih Abu Rafiq. namun beliau marah dan menggertaknya—sebagaimana yang selanjutnya diceritakan Ustadz Shalih kepadaku … dan Jamal Rabi’ pun menawarkan rencana ini kepadaku, dia mengatakan. “Di Ikhwanul Muslimin ini tidak ada 50 orang yang memiliki hati besi untuk melaksanakan rencananya.” Meskipun aku tidak memiliki pengalaman tentang tak-tik militer, namun aku menganggap bahwa usaha ini adalah tindakan bunuh diri dan gila. Tidak boleh kita berpikir seperti itu. Akan tetapi, dia merengek dan membujuk agar aku memikirkan dengan serius upaya kabur sesuai dengan rencananya, yang dia jamin akan sukses menurut pertimbangan strateginya.

Ketika itu aku berada di penjara Liman Turoh. Sementara aku belum divonis dan belum disidang, karena paru-paruku robek dan terjadi pendarahan hebat. Sehingga aku harus dipindahkan dari penjara militer pada tanggal 25 Januari 1955 ke sanatorium Liman Turoh untuk berobat. Pada bulan April kondisiku sedikit membaik, dan diputuskan agar aku dikembalikan ke penjara militer untuk diajukan ke pengadilan. Lalu Rabi’ menemuiku dan mengatakan, “Sesungguhnya, merupakan rencana Allah aku sekarang pergi ke penjara militer untuk menjumpai Ma’ruf Al-Khudhari di sana.”

Di sana dia menyampaikan rincian rencananya dan menentukan waktu secara bersamaan untuk mencapai kesepakatan. Sementara aku tidak bisa menerima atas keseriusan rencana semacam ini, sebelum dia mengetahui dariku siapa yang memiliki ide ini? Tergesa-gesa dia mengatakan kepadaku, “Ini jebakan untuk skenario pembantaian besar-besaran terhadap seluruh anggota Ikhwanul Muslimin yang berada di dalam penjara ataupun berada di luar.” Kemudian dia baru bertanya kepadaku. “Siapa yang punya ide ini?” Aku jawab, “Jamal Rabi’!”

Sebelumnya aku telah mengetahui bahwa mereka berdua adalah sahabat karib, dan keduanya ditangkap di rumah paman Jamal. Ketika itulah dia mengatakan kepadaku, “Jangan! Jangan kamu katakan kepadanya! Ini adalah usaha bunuh diri … Jangan sekali-kali kita berpikir seperti itu!”

Aku pun diajukan ke pengadilan. Setelah aku kembali ke penjara Liman Turoh, aku sampaikan pendapat Ma’ruf kepadanya. Akan tetapi—setahuku, dia tak henti-hentinya berupaya meyakinkan Ikhwan mengenai pentingnya melaksanakan rencananya. Namun mereka tetap tidak mau menerima.

Pada waktu itu, pimpinan Ikhwan di Liman Turoh adalah Ilshagh ‘Abdul Bashith Al-Banna. Aku pernah melihatnya mengunjungi sanatorium penjara Liman Turoh sebanyak tiga kali, dan dia mengucapkan salam kepadaku—padahal sebelumnya kami tidak saling mengenal. Dia berbicara kepadaku tentang pentingnya membebaskan ikhwan-ikhwan dari dalam penjara, karena mereka benar-benar akan binasa. Khususnya mereka yang (dipekerjakan untuk-ed) membelah batu di Gunung Liman Turoh bersama gembong-gembong kriminal. Meskipun sepengetahuanku, dia tidak pernah menjadi anggota Ikhwanul Muslimin semasa hidup saudaranya, Asy-Syahid Hasan Al-Banna, aku bertanya kepadanya, “Bagaimana bisa begitu?” Dia menjawab, bahwa sebagai Pimpinan katibah (kesatuan setingkat pleton), dia menyerahkan dirinya dan persenjataan katibah dalam pantauan kami. Karena dia tidak kuasa melihat pemandangan Ikhwan berbaris di gunung.

Saat itulah, aku teringat dengan rencana Jamal Rabi’ dan terngiang di telingaku kata-kata Ma’ruf Al-Khudhari yang dia sampaikan dengan gugup, “Ini adalah jebakan untuk skenario pembantaian besar-besaran terhadap semua Ikhwanul Muslimin, baik yang di dalam penjara maupun yang di luar penjara.” Aku katakan kepadanya. “Kami ucapkan terima kasih atas perhatianmu. Akan tetapi, kami melihat bahwa kita telah menunaikan apa yang menjadi kewajiban kita. Dan tugas kita telah usai dengan masuknya kita ke dalam penjara, kita tidak mampu berbuat apa-apa. Namun jika ada selain kita yang mau berbuat, silakan saja.” Setelah itu, kunjungannya kepadaku terputus.

Setelah itu dia dipindahkan bersama beberapa Ikhwan—di antara mereka adalah para petinggi dan anggota dewan khusus sebagaimana yang aku dengar, atau mayoritasnya—dan tidak ada yang tersisa dari petinggi Ikhwan selain Ustadz Munir Ad-Dallah. Jamal Rabi’ juga termasuk mereka yang dipindah ke Al-Wahat Di sana—sebagaimana yang aku dengar dari Ustadz Shalih Abu Rafiq, dia tak henti-hentinya menawarkan rencananya kepada Ikhwan di kemudian hari.

Usaha pembantaian besar-besaran pun gagal. Akan tetapi, ada usaha lain yang berhasil di penjara Liman Turoh pada tahun 1957. Di sana ada seorang polisi berpangkat letnan satu bernama Abdullah Mahir. Dia memiliki hubungan dengan 5 pemuda Yahudi yang dipenjara karena kasus mata-mata. Dia terang-terangan memberi bantuan kepada mereka, sampai-sampai dia membawakan makanan mereka yang dikirimkan dari rumah mereka. Bagaimana pun ini merupakan perlakuan yang tidak wajar di penjara Liman Turoh. Salah seorang di antara mereka bahkan masuk dengan seorang wanita yang ramah, seluruh tahanan dan para kriminal melihatnya … dan seterusnya.

Polisi ini mulai memprovokasi ikhwan-ikhwan dengan terang-terangan. Sehingga sedikit demi sedikit, terciptalah hawa panas yang penuh ketegangan antara petugas penjara Liman Turoh dengan Ikhwan. Lain hari, dia datang lagi bersama seorang polisi lain berpangkat mayor, yang namanya tidak aku ingat sekarang. Dia terlibat pertentangan dengan beberapa pemuda yang dikenal di kalangan Ikhwan sebagai orang-orang serampangan. Anehnya, petugas penjara membiarkan mereka. Ketika itu Ustadz Munir telah bebas, sehingga tidak ada lagi di tengah para pemuda penghuni penjara Liman Turoh itu, seorang pemimpin yang cerdas dan berpengalaman. Hingga terjadilah aksi saling pegang tangan antara polisi tersebut dengan para pemuda itu. Akhirnya, kasus itu berujung dengan dihukumnya para Ikhwan tersebut.

Kegiatan provokasi dan menciptakan ketegangan yang dilakukan oleh Polisi Abdullah Mahir bersama Pimpinannya itu terus berlanjut. Hingga pada suatu hari, ikhwan-ikhwan yang dibawa ke gunung mencium adanya rencana untuk menyerang mereka dengan peluru di gunung, dengan dalih mereka berusaha melakukan perlawanan untuk melarikan diri. Mereka pun berusaha menggagalkan rencana ini dengan cara menolak keluar dari dalam sel pada hari berikutnya. Dan mereka meminta agar didatangkan perwakilan, supaya mereka dapat menyampaikan berita yang mereka dengar tentang rencana penyerangan tersebut. Ketika itulah, para petugas diperintahkan untuk menembaki mereka dengan peluru di dalam tahanan, bahkan banyak di antara mereka yang ditembak di dalam sel … Sebanyak 21 orang terbunuh, dan yang terluka sekitar itu juga.

Padahal jelas, mereka bisa menggunakan cara lain selain menembaki para tahanan ketika para tahanan tersebut berada di dalam sel yang tertutup. Karena dalam situasi semacam itu. mereka bisa mengunakan cara menarik mundur para sipir yang berjumlah lebih sedikit dari para tahanan, lalu menggemboknya dari luar dan memutuskan aliran air selama 24 jam saja.

Dengan demikian, tiada pilihan lain bagi mereka kecuali menyerah, sekalipun mereka benar-benar membangkang. Akan tetapi, perlakuan yang diambil dalam kondisi semacam itu, pada sebuah rangkaian kejadian tertentu jelas-jelas mengindikasikan bahwa peristiwa itu merupakan upaya pembantaian yang di belakangnya ada ‘tangan’ yang bermain. Untuk saat ini, tidak penting bagiku menunjuk siapa ‘tangan’ tersebut, yang penting bagiku adalah bahwa tujuan dari rentetan peristiwa ini merupakan sebuah misi yang direncanakan. Yaitu membasmi Ikhwanul Muslimin untuk kepentingan asing.

Berbagai cara dan sarana telah digunakan untuk menghancurkan anggota-anggota Ikhwanul Muslimin, dengan cara menyiksa, menyembelih, atau menghancurkan tempat tinggal mereka. Dan pada akhirnya adalah membasmi suatu aliran pemikiran sampai ke akar-akarnya.

Dan bisa jadi, bukan suatu kebetulan jika Sayyid Shalah Dasuqi bisa menjadi pengawas penyidikan dalam kasus pembantaian di penjara Liman Turoh. Padahal yang beredar di kalangan Ikhwan ketika itu adalah mereka diinterogasi, yang pada awalnya mengarah kepada sta­tus mereka sebagai pihak korban kejahatan. Namun setelah datang Sayyid Shalah dan seorang penyidik lain, penyidikan berubah mengarah kepada status mereka sebagai pihak yang berbuat kejahatan. Namun sekarang ini tidak penting untuk menilai apa yang beredar ini. Akan tetapi, yang terpenting adalah mencermati perjalanan kasus ini, sehingga bisa berakhir seperti itu … Dan kesan yang membekas di dalam jiwa adalah adanya konspirasi terhadap Ikhwanul Muslimin, bukan oleh Ikhwanul Muslimin sendiri!

HARAKAH ISLAMIYAH BERGERAK DARI DASAR

Sekarang saya akan menceritakan kembali peristiwa-peristiwa sesuai dengan urutan waktu … Dan akan mengarahkan pandangan kepada pentingnya ulasan-ulasan berikut, yang merupakan pondasi bagi sebuah tanzhim baru yang menjadi landasan terjadinya kasus-kasus baru.

Jiwaku telah dipenuhi keyakinan akan pentingnya keberadaan sebuah harakah Islamiyah, sebagaimana harakah Ikhwanul Muslimin di kawasan ini, dan betapa perlunya kita mencegah kemandegannya dalam keadaan bagaimanapun juga. Kolonial Zionis dan Salibis membenci harakah ini dan berupaya sekuat tenaga untuk menghancurkannya. Rencana-rencana itu terlihat jelas dari buku-buku mereka, dari tindakan-tindakan mereka, dari lontaran-lontaran pernyataan mereka, dan dari berbagai skenario mereka. Semuanya disusun untuk melemahkan aqidah Islam, menghapus akhlak Islam, dan mencegah agar Islam tidak dijadikan sebagai landasan hukum dan pemikiran. Tujuan dari itu semua adalah menghancurkan aqidah dan akhlak, kemudian merobohkan pilar-pilar yang mendasar dalam masyarakat di negeri ini. Dengan begitu, akan mudah bagi mereka untuk menjalankan rencana-rencana mereka. Dan dengan lumpuhnya aktivitas Ikhwanul Muslimin, mereka telah berhasil merealisasikan rencana-rencana tersebut dan banyak menyebar-luaskan pemikiran-pemikiran sekuler dan kerusakan moral.

Untuk Ikhwanul Muslimin mereka buat skenario pembantaian dengan peristiwa Al-Mansyiyah dan Liman Turoh. Untuk Organisasi Petani melalui para anggotanya yang dekat dengan para aktivis Revolusi, memanas-manasi situasi dengan membuat ketegangan, ancaman, dan berupaya memperdalam jurang perbedaan. Penyiksaan, pembunuhan, dan pengusiran mereka timpakan kepada ribuan orang yang taat beragama dan memegang akhlak, serta tulus lagi memegang amanah, begitu juga terhadap rumah-rumah, anak-anak, dan istri-istri mereka … serta yang lain berupa kondisi yang mengejutkan dan menyedihkan.

Inilah perlakuan terhadap Ikhwanul Muslimin yang aku ketahui antara tahun 1954 dan 1962. Namun, hal ini bukan berarti harakah Ikhwanul Muslimin tidak memiliki kesalahan sama sekali. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan perlakuan tersebut, maka kesalahan-kesalahan tersebut sangatlah kecil.

Sungguh, Harakah Islamiyah itu harus tetap eksis. karena menghancurkannya pada kondisi semacam ini termasuk tindakan yang sangat memilukan dan termasuk kategori kejahatan besar. Kesalahan-kesalahan harakah itu masih dapat dihindari dan dijadikan pelajaran untuk kemudian dijauhi….

Setelah pembantaian di penjara Liman Turoh, tidak ada lagi anggota Ikhwan yang tersisa di sana selain Akh Muhammad Yusuf Hawwasy dan Muhammad Zuhdi Salman. Kedua orang ini tidak memiliki kemampuan untuk ikut memikirkan persoalan ini, lantaran wawasannya yang terbatas. Maka tidak ada lagi yang tersisa bersamaku selain Hawwasy.

Setelah melakukan evaluasi dan kajian yang mendalam terhadap harakah Ikhwanul Muslimin dan membandingkannya dengan harakah Islamiyah pertama dalam Islam, menjadi jelaslah dalam pandanganku—dan dalam pemikirannya juga, bahwa harakah Islamiyah pada hari ini menghadapi kondisi yang mirip dengan kondisi masyarakat ketika pertama kali Islam datang. Dipandang dari sisi kebodohan mereka terhadap hakikat aqidah Islam, jauhnya mereka dari nilai-nilai dan moral Islam—jadi bukan hanya sekadar jauh dari sistem dan syariat Islam.

Pada waktu yang bersamaan, pasukan-pasukan Kolonial Zionis dan Salibis dalam puncak kekuatannya memerangi setiap usaha dakwah Islam dan berusaha menghancurkannya melalui tangan sistem dan lembaga lokal, yakni dengan cara membuat konspirasi dan aliran-aliran pemikiran yang mendukung misi ini. Hal itu berlangsung ketika harakah-harakah Islam dalam banyak kesempatan tengah sibuk dan larut dengan aktivitas-aktivitas politik yang terbatas dan bersifat lokal. Seperti memerangi suatu perjanjian atau kesepakatan, memerangi suatu partai, atau berkomplot dengan lawan partai tersebut ketika pemilu.

Selain itu juga sibuk menyampaikan tuntutan-tuntutan kepada pemerintah agar mereka melaksanakan sistem Islam dan syariat Islam. Padahal di sisi lain. masyarakat sendiri secara keseluruhan telah jauh dari pemahaman hakikat aqidah Islam dan semangat memperjuangkannya, serta jauh dari akhlak Islam … Dengan demikian, Harakah Islam harus dimulai dari pondasinya, yaitu: menghidupkan hakikat aqidah Islam di dalam hati dan akal, serta men-tarbiyah orang yang menerima dakwah ini dengan tarbiyah Islamiyah yang benar. Tidak membuang-buang waktu dalam berbagai aktivitas politik yang tengah berlangsung. Tidak melakukan upaya untuk memaksakan sistem Islam dengan cara menguasai pemerintahan sebelum terbentuk pondasi Islam di tengah-tengah masyarakat—yang mana merekalah nanti yang akan menuntut sistem Islam itu sendiri, jika mereka telah mengerti hakikatnya dan ingin diperintah berdasarkan sistem tersebut.

Dalam waktu yang sama, seiring dengan berjalannya agenda-agenda tarbiyah, harakah harus dilindungi dari berbagai serangan pihak luar—baik berupa penghancuran, pembekuan terhadap kegiatan-kegiatannya, penyiksaan terhadap anggota-anggotanya, dan pengusiran terhadap keluarga dan anak-anak mereka, yang dikendalikan oleh konspirasi-konspirasi dan skenario-skenario musuh. Sebagaimana hal itu pernah menimpa Ikhwanul Muslimin tahun 1948, tahun 1954, dan kemudian tahun 1957. Juga sebagaimana yang kami dengar dan kami baca mengenai apa yang menimpa jamaah-jamaah lainnya, seperti Jamaah Islamiyah Pakistan. Ia berjalan di atas jalan yang sama dan tumbuh dari skenario dan konspirasi internasional yang sama.

Penjagaan ini dapat dilakukan dengan membentuk regu-regu yang dilatih berkorban untuk menjadi tumbal setelah mendapatkan tarbiyah Islam. Mulai dari landasan aqidah sampai pada akhlak. Regu-regu ini bukan untuk memulai menyerang, bukan pula untuk menggulingkan pemerintahan, atau ikut serta dalam kegiatan-kegiatan politik lokal, tidak! Selama harakah dalam kondisi aman dan stabil dalam melaksanakan ta’lim, menanamkan pemahaman, tarbiyah. dan pengarahan. Selama dakwah tetap kuat dan tidak dihadang dengan kekuatan, tidak dihancurkan dengan kekerasan, dan tidak pula mendapat siksaan, pengusiran, dan pembantaian, maka regu-regu ini tidak boleh campur tangan dalam kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung. Akan tetapi, ia ikut campur tangan hanya ketika harakah, dakwah, dan jamaah diserang. Ketika itu. regu-regu ini harus melawan dengan cara menyerang pihak yang menyerang, sebatas agar harakah dapat terus berjalan. Sebab, keberhasilan dalam melaksanakan sistem Islam dan berhukum dengan syariat Islam itu bukanlah tujuan jangka pendek. Karena hal itu tidak dapat terealisir kecuali setelah memindahkan masyarakat itu sendiri, atau sejumlah orang yang mencukupi dari masyarakat itu yang memiliki nilai dan bobot dalam kehidupan umum. Kepada aqidah Islam yang benar kemudian kepada sistem Islam, dan kepada tarbiyah Islamiyah yang benar di atas akhlak Islam. Meskipun hal itu akan memakan waktu yang lama dan melalui tahapan-tahapan yang lambat.

Gambaran Harakah Islamiyah semacam ini sudah sangat jelas dalam pikiranku—sebagaimana hal itu juga sudah sangat jelas pada pikiran Akh Hawwasy. Dan sekarang tinggal menyebarkannya di antara para personalia kelompok-kelompok lain di kalangan Ikhwanul Muslimin dengan berbagai cara. untuk memulai Harakah dari dasar. Dan pada tahun 1962, Harakah benar-benar dimulai.

***

Bermula dari kedatangan ikhwan-ikhwan dalam penjara—kebanyakan berasal dari penjara Al-Qanathir, hanya sedikit yang berasal dari penjara Al-Wahat—untuk berobat di rumah sakit penjara Liman Turoh. Ada juga yang dari rumah sakit penjara Mesir, kemudian pindah ke penjara Liman Turoh sesuai dengan sarana pengobatan yang ada di keduanya.

Meskipun komunikasi dengan mereka hanya dapat dilakukan ketika olah raga di halaman rumah sakit atau ketika ada kesempatan. Meskipun hubungan itu hanya terbatas dan singkat ditinjau dari waktu hariannya dan waktu keberadaan mereka di rumah sakit. Untuk suatu operasi atau untuk berobat yang berakhir dalam waktu yang terbatas. Kemudian mereka kembali ke penjara mereka masing-masing, kecuali beberapa orang yang menetap dalam waktu yang lama. Nanti akan aku ceritakan hubunganku dengan mereka secara lebih de tail. Namun sebelum itu, ada baiknya aku gambarkan situasi ketika berlangsungnya hubungan ini, yang mana ia aku manfaatkan untuk mensosialisasikan pemahamanku kepada setiap ikhwan yang datang.

Aku ketika itu, berada di tengah-tengah lautan anggota Ikhwanul Muslimin hanya sebagai seorang ikhwan (saudara muslim). Memang, di hati mereka aku memiliki kedudukan dan posisi, karena mereka mengenalku sebagai seorang penulis dan pemikir Islam yang memiliki pengalaman dan pemahaman di bidang-bidang umum. Selain itu, mereka juga tahu bahwa aku memiliki posisi di dunia Islam. Namun aku tidaklah memiliki kedudukan di dalam struktur Harakah, yang secara sah memiliki otoritas untuk menggariskan langkah-langkah Harakah atau mengarahkan Ikhwan kepada langkah-langkah tersebut. Karena otoritas ini hanya dimiliki oleh Maktab Al-Irsyad (Dewan Pimpinan) dan orang yang diberi hak untuk itu.

Kondisi ini tentunya mengharuskan diriku untuk menjelaskan kepada para pemuda, lalu aku melangkah dengan pelan dan hati-hati. Menjelaskan tentang pentingnya mengawali Harakah dengan pemahaman tentang aqidah Islam yang benar, sebelum nantinya membahas tentang rincian sistem dan hukum Islam. Serta pentingnya kita untuk tidak membuang-buang tenaga dalam agenda-agenda politik lokal yang tengah berlangsung di negara-negara kaum Muslimin, supaya kita dapat meraih hasil yang lebih maksimal dalam Tarbiyah Islamiyah yang benar. Dilanjutkan kemudian dengan menapaki tahap-tahap berikutnya secara alami setelah membina dan mendidik pondasi yang ada di masyarakat. Karena masyarakat pada hari ini-—termasuk masyarakat di negara-negara kaum Muslimin—telah mencapai kondisi yang sangat mirip dengan kondisi masyarakat jahiliyyah ketika Islam datang. Maka mulailah dari penataan aqidah dan akhlak, bukan dari syariat dan sistem. Dan hari ini pun Harakah dan dakwah juga harus dimulai dari titik yang sama ketika dulu Islam memulainya, dengan tetap memperhatikan beberapa kondisi yang berbeda.

Namun, masa yang mereka lalui belumlah cukup untuk membentuk sebuah pemahaman yang luas dan menyeluruh terhadap manhaj ini. Ia hanya sekadar membukakan jendela untuk berpikir kembali dan membaca buku-buku yang dapat membantunya untuk memahami. Di antara buku-buku yang aku sebutkan kepada mereka, sebagiannya ada padaku di penjara Liman Turoh dan di perpustakaannya, sehingga mereka dapat membaca sebagiannya dan menyelesaikan sisanya setelah dia kembali. Awalnya, ini hanya berjalan secara individu, namun tak berapa lama, di penjara Al-Qanathir terbentuk usrah-usrah (kelompok studi-ed) untuk mengkaji buku-buku tersebut, ditambah dengan buku-buku lain yang mereka pilih sendiri di sana.

Kelompok yang pertama kali aku dapat berbicara mengenai pamahaman semacam ini secara luas—seingatku pada tahun 1962—terdiri dari Ikhwan: Musthafa Kamil, Sayyid Ied, dan Yusuf Kamal dari penjara Al-Qanathir dalam waktu kurang dari satu minggu. Terlihat mereka begitu bersemangat menyambut pemahaman ini. Setelah itu mereka kembali, dan dengan semangat mereka mendiskusikan pemahaman ini dengan beberapa ikhwan. Akibatnya, muncul reaksi yang keras di tengah-tengah mereka. Sebagian di antara mereka ada yang bersemangat menyambut pemikiran ini dan meminta penjelasan tambahan. Sebagian lagi ada yang bersemangat menentangnya, dengan alasan bertentangan dengan garis pergerakan yang ditempuh oleh Jamaah sebelumnya, dan mereka menyalahkan beberapa poinnya. Dari sisi lain, karena pemikiran ini muncul dari ‘jalur yang tidak resmi’ bagi mereka.

Dalam rentang waktu antara tahun 1962 sampai tahun 1964, silih berganti kedatangan anggota Ikhwanul Muslimin lainnya yang sebagiannya masih aku ingat, namun urutan waktunya aku sudah tidak ingat. Dan mudah saja jika ingin mengetahui semuanya, bisa melalui ikhwan-ikhwan yang ada di penjara Al-Qanathir atau dari catatan-catatan data.

Yang aku ingat di antaranya adalah: Rif’at Ash-Shayyad, ‘Abul Hamid Madli, Sa’id Mansi, Abduh Shalih, Fauzi Najm, H. ‘Abdur Razzaq Amanuddin, Mushthafa Dayyab, Sa’id Dasuqi, Musa Jawisy, Shabri ‘Anbar, Mahmud Hamid, Rusydi ‘Afifi, ‘Abdus Salam ‘Ammarah. ‘Abdur Ra’uf Kamil, Sayyid …, Rajab Sa’id ‘Afifi, Hasan ‘Abdul ‘Adhim, Shalah Al-Anwar.

***

Catatan:

Mengingat nama-nama itu merupakan pekerjaan yang sangat berat bagiku dan memerlukan waktu yang cukup lama. Sehingga aku tidak sempat untuk menceritakan peristiwa-peristiwa terbaru. Dalam mengingat-ingat nama ini, aku menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Padahal sebenarnya, tidak terlalu penting memaparkannya seperti ini. dan bisa dibantu dengan ingatan Akh Hawwasy atau dengan ingatan Akh Ath-Thukhi yang dia sendiri belum pernah datang. Akan tetapi, dia termasuk salah seorang mas’ul (penanggung jawab -ed.) Ikhwan yang berada di penjara Al-Qanathir, atau melalui siapa saja yang pernah datang. Hal itu supaya aku dapat menulis apa yang lebih penting, yaitu bagaimana hubunganku dengan masing-masing dari mereka, kemudian sikap mereka dan sikap Ikhwan yang berseberangan dengan mereka.

Orang-orang yang datang dari penjara Al-Qanathir dan mendengar dariku apa yang seharusnya menjadi manhaj (pedoman) Harakah Islamiyah dan mendengar pemahaman-pemahaman aqidah yang benar, serta sejauh mana masyarakat ini telah jauh dari pemahaman-pemahaman tersebut—termasuk masyarakat Islam tradisional sendiri, mereka semua tidak sebaya dan tidak memiliki wawasan yang sama. Di antara mereka ada yang menjadi buruh, sebagian lagi ada yang menjadi pelajar dalam berbagai tingkatan dan kemampuan. Selain itu, di antara mereka ada yang selama beberapa hari menemuiku hanya selama satu atau dua jam saja, namun ada yang tinggal selama beberapa minggu dan beberapa bulan lamanya. Oleh karena itu, apa yang mereka sampaikan kepada ikhwan-ikhwan yang berada di penjara Al-Qanathir berbeda-beda dan bermacam-macam. Sebagian ada yang menyampaikan pemikiran tersebut secara buruk dan sepotong-sepotong, sebagian lagi ada yang secara lengkap dan benar. Hal ini menjadikan para mas’ul di penjara Al-Qanathir—yang mereka pilih di antara mereka sendiri, kurang lebih berjumlah lima orang untuk mengatur urusan mereka selama beberapa waktu sampai mereka lelah, kemudian mereka memilih yang lainnya—meminta kepadaku judul-judul buku yang dijadikan referensi kajian Ikhwan. Karena buku itu dapat menyampaikan pemikiran secara lengkap dan benar.

Maka aku tulis sekitar 40 judul buku untuk mereka dan sebagiannya mereka pilih sendiri, serta mereka menambah berberapa lagi yang lain. Semua itu mereka jadikan sebagai program tsaqafah (pemberian wawasan-ed.) yang dikaji oleh usrah-usrah di antara mereka sebatas yang diizinkan oleh petugas penjara. Usrah tersebut menurut perkiraanku adalah penghuni sel, namun aku tidak mengetahuinya secara rinci dan detail. Akan tetapi, semua ini tidak dapat meredam musykilah (problem-ed.) yang timbul dari penolakan sekelompok orang di antara mereka terhadap pemikiran-pemikiran atau mengkaji pro­gram yang tidak datang dari ‘jalur resmi’ Jamaah. Sedangkan beberapa orang anggota Maktab Al-Irsyad (Dewan Pimpinan) bersamaku, yang masih di dalam penjara Al-Wahat.

Dan antara tahun 1962 sampai 1964, kondisi ikhwan yang ada di penjara Al-Qanathir—jumlahnya sekitar 100 orang—terbagi menjadi beberapa kelompok berikut: Sekitar 35 orang yang tekun dalam kajian, kemudian mereka memiliki pemahaman yang jelas terhadap aqidah Islam dan manhaj Harakah Islamiyah … Sekitar 23 orang yang lain menentang sama sekali terhadap pemikiran ini, dan mereka tidak mau mendengar sama sekali kecuali dari Qiyadah Jamaah yang berada di Al-Wahat. Sementara itu, sekitar 50 orang lainnya ikut mempelajari fikrah (pemikiran-ed.) ini, namun mereka belum mencapai pemahaman yang jelas dan lengkap. Mereka tetap ikut dalam kajian, sampai masa tahanan mereka selesai pada tahun 1965.

Nama-nama yang menonjol dari mereka yang telah mempelajari dan memahami adalah: Mushthafa Kamil, Rif’at Ash-Shayyad, Sayyid ‘Ied, Fauzi Najm, Ath-Thukhi, Shabri Anbar, dan Abdul Majid Madhi. Aku tidak dapat mengingat nama-nama mereka semua, karena aku senantiasa mengandalkan ingatan orang lain. Dan dalam hal ini, aku bisa memanfaatkan ingatan Akh Hawwasy atau Akh Ath-Thukhi atau Akh Fauzi Najm untuk mengingatkanku tentang nama-nama mereka, karena mereka mengetahuinya.

Sementara yang menonjol di antara mereka yang menentang dengan keras dan membuat keributan adalah: Amin Shidqi, ‘Abdur Rahman Al-Banna. Luthfi Salim, ‘Abdul Aziz Jalal, dan lain-lain. Ath-Thukhi atau Fauzi Najm atau Musthafa Kamil ingat nama-nama mereka.

Di antara mereka ini ada yang menyampaikannya kepada Ustadz ‘Abdul ‘Aziz Athiyyah dan lainnya yang berada di kelompok penjara Al-Wahat. dengan penyampaian yang dibesar-besarkan dan diperburuk tentang perpecahan yang terjadi di kelompok penjara Al-Qanathir. Mereka juga menyampaikan tentang dasar pemikiran dan manhaj yang menimbulkan perselisihan. Informasi ini membuat mereka yang berada di penjara Al-Wahat sangat kaget, baik terhadap pemikiran tersebut atau terhadap perpecahan yang terjadi.

Salah seorang dari mereka sempat datang sendiri untuk berobat ke rumah sakit penjara Liman Turoh, yakni Akh Abdurra’uf Abul Wafa. Dia menyampaikan kepadaku tentang keterkejutan mereka pada satu sisi, dan bahwa kelompok yang berada di penjara Al-Wahat memiliki pandangan mengkafirkan semua orang pada sisi yang lain!

Maka aku katakan kepadanya, “Kami tidak mengkafirkan semua orang, dan berita yang sampai kepada Anda ini adalah berita yang sudah diperburuk isinya. Kami hanya mengatakan bahwa sesungguhnya mereka diliputi kebodohan terhadap hakikat aqidah dan tidak memiliki tashawwur (gambaran-ed.) tentang pemahaman aqidah yang benar. Mereka telah terjauhkan dari kehidupan Islam sampai pada kondisi yang mirip dengan kondisi masyarakat pada zaman jahiliyyah. Oleh karenanya, sudah semestinya bila gerakan ini tidak dimulai dari masalah menegakkan sistem Islam, tetapi dimulai dengan menanamkan kembali aqidah dan tarbiyah akhlak Islam. Maka sebenarnya, permasalahan­nya lebih banyak berkaitan dengan manhaj Harakah Islamiyah daripada berkaitan dengan menghukumi orang”

Ketika dia kembali, dia menyampaikan kepada mereka dengan penyampaian yang benar sebatas apa yang dia pahami dari fikrah tersebut. Akan tetapi, kelompok penentang yang berada di penjara Al-Qanathir tetap bersikeras mendesak para Qiyadah (pimpinan-ed.) untuk menghentikan aktivitas yang mereka sebut sebagai fitnah dalam barisan Jamaah tersebut. Begitulah keadaan terus berjalan, sampai kemudian Ustadz Abdul ‘Aziz ‘Athiyyah dan Ustadz Umar At-Tilmisani dari anggota Maktab Al-Irsyad (Dewan Pimpinan Jamaah) yang di penjara dipindahkan ke rumah sakit penjara Liman Turoh. Disana keduanya bertemu denganku, dan aku pun menjelaskan kepada keduanya tentang duduk permasalahan yang sebenarnya, sehingga keduanya menjadi tenang.

Ketika Amin Shidqi dan Abdur Rahman Al-Banna datang ke rumah sakit penjara Liman Turoh—ketika itu aku telah bebas dengan pengampunan kesehatan, akibat memburuknya penyakit paru-paru yang aku derita di penjara dan penyakit-penyakit lainnya, aku mendengar dari Akh Hawwasy—setelah dia bebas—bahwa dia ikut hadir dalam pertemuan anggota Maktab Al-Irsyad bersama dua orang pemuda yang datang dari penjara Al-Qanathlr. Mereka berusaha memberi pengertian kepada keduanya, bahwa permasalahannya tidak sebagaimana yang mereka pahami. Tetapi setelah kembali ke penjara Al-Qanathir, mereka berdua dan orang-orang yang bersama mereka tetap ngotot dengan sikap mereka.

Setelah mereka semuanya bebas, mereka tetap seperti pembagian yang telah aku sebutkan di awal tadi.

Kelompok pertama yang merupakan dai-dai dengan pemahaman Islam yang benar, mayoritas mereka mengunjungiku setelah kebebasan mereka. Meskipun keberadaanku di Kairo teramat singkat—dimana waktu keseluruhan dari aku bebas sampai ditangkap lagi adalah 8 bulan tepat, sehingga kunjungan-kunjungan tersebut hanya berlangsung secara terbatas. Mushthafa Kamil aku lihat hanya sekali, Rif’at Ash-Shayyad mungkin hanya lima atau enam kali, Sa’id ‘Ied lebih dari sepuluh kali, Fauzi Najm tiga kali, Ath-Thukhi tiga kali dan semuanya hanya sebentar, Sayyid Dasuqi mungkin tiga atau empat kali, sementara yang lainnya sekitar itu atau bahkan kurang. Ada pula di antara mereka yang aku lihat hanya sekali saja. Sedang dari kelompok yang kedua pun—yang belum memiliki pemikiran yang matang, ada juga yang datang mengunjungiku, meski hanya sekali atau dua kali.

Ketika itu, orang yang paling banyak berhubungan denganku adalah Akh Hawwasy, karena dialah orang yang hidup bersamaku sepanjang waktu 10 tahun. Kami berpikir tentang manhaj bersama, dan kami sepakat sepenuhnya dengan pemahaman tersebut. Dialah yang telah aku pilih dalam jiwaku untuk meneruskan langkah penyadaran—baik kepada kelompok yang kedua maupun kelompok yang pertama, setelah keluar dari penjara Al-Qanathir. Selain itu, aku juga memilihnya untuk melanjutkan perjuangan dengan tanzhim baru, namun hal itu tidak terlaksana.

Keinginanku untuk membuat tanzhim baru bersama ikhwan-ikhwan yang keluar dari penjara ternyata tidak kesampaian, sekalipun untuk kelompok pertama yang terdiri dari 25 pemuda. Hal ini lantaran beberapa sebab:

1. Status mereka adalah sama dengan anggota Ikhwan yang lain, yakni sama-sama berada dalam kondisi vakum tanpa gerakan pada situasi saat itu. Tidak ada ikatan khusus yang dapat menghubungkan aku dengan mereka selain persamaan pemikiran. Selain itu, aku tidak ingin masuk dalam pusaran kegaduhan sebagaimana yang dibesar-besarkan oleh kelompok yang menentang di penjara Al-Qanathir.

2. Orang yang baru bebas setelah dipenjara selama 10 tahun, ibarat orang buta dalam melihat kondisi masyarakat. Dia membutuh sedikit waktu untuk berbaur dengan masyarakat dan untuk memperbaiki keadaan serta posisinya di tengah masyarakat. Terlebih lagi, setiap gerakannya masih dipantau secara ketat.

3. Situasi di luar tidak sama dengan situasi di dalam penjara. Di dalam penjara, kekuatan terbelenggu, terkonsentrasi, dan digiring dalam kasus yang menyebabkan seorang yang beraqidah itu dipenjara. Adapun di luar, ia disibukkan dengan berbagai kesibukan, permasalahan, dan pemikiran yang bermacam-macam. Maka mereka harus dibiarkan dalam beberapa waktu, agar terlihat siapa yang tenggelam dalam kehidupan duniawi, dan siapa yang masih konsisten dengan aqidah dan dakwahnya?

Karena alasan-alasan itulah, maka pembicaraan tentang tanzhim terpaksa aku tunda. Meskipun ada di antara mereka yang mengajak bicara tentang itu, dan ada pula salah seorang dari 5 pemuda yang menjadi pemimpin tanzhim baru—yang terbentuk ketika aku masih di penjara—menemuiku setelah aku bebas, dan menanyakannya kepadaku. Tanzhim baru inilah yang akan menjadi topik utama pada pembahasan berikutnya dalam tulisan ini. Yakni pada jawaban untuk pertanyaan: Apa pandanganmu terhadap si Fulan yang telah keluar dari penjara? Dan kenapa mereka tidak bergabung semuanya ke dalam tanzhim kami?

Pernah sekali aku katakan kepada mereka, “Kita harus membiarkan mereka minimal selama 6 bulan, dan jika toh mereka kita buat tanzhim, itu pun harus tanzhim yang terpisah.” Ketika itu aku berpikir, bahwa yang akan memimpin mereka adalah Akh Hawwasy dan hanya dia sajalah yang berhubungan dengan tanzhim yang baru … Namun semua itu tidak terlaksana.

Untuk mengetahui kondisi mereka yang telah keluar, aku memanggil Akh Ath-Thukhi dan mengklasifikasikan mereka berdasarkan pemahaman dan kesadaran. Dia adalah orang lebih banyak bertemu dengan mereka daripada aku, dan aku percaya dengan penilaiannya serta kejujurannya dalam memberikan kesaksian.

Sekarang aku ingat, dialah orang yang berkunjung sebagaimana diceritakan oleh Akh Ali ‘Isyawi, bahwa dia hadir ketika mereka berkumpul denganku. Ketika itu saudaraku Muhammad Quthb memanggilku, maka aku pun menemuinya. Setelah aku kembali, aku katakan kepada mereka: Aku melakukan pertemuan secara singkat, supaya segera meninggalkanku, karena ketika itu dia berada di pusat bahaya atau sensitif. Aku tidak ingat, sebagaimana yang nampak dari kata-katanya. Ingatannya dalam hal ini lebih kuat.

Sementara kondisi Akh Ath-Thukhi ketika itu, dia mendapat tugas di Al-Isma’iliyah, perkiraanku di Maktab At-Taukilat (Kantor Pendelegasian-ed.). Sementara itu, intel-intel Al-Isma’iliyah terus memantau gerakannya secara ketat. Mungkin karena dia pernah menjabat sebagai mas’ul Ikhwan di penjara Al-Qanathir dalam waktu yang lama, atau karena alasan lain yang aku tidak mengetahuinya. Maka dia harus kembali ke Al-Isma’iliyah malam hari, supaya dia sampai di sana pagi hari. Sebenarnya, dia sendiri tidak suka bila ada yang melihatnya berada bersamaku atau mengetahui keberadaannya di Kairo. Ketika itu aku ada perlu dengannya untuk mengklasifikasikan ikhwan-ikhwan yang keluar dari penjara Al-Qanathir. Maka dia pun datang dengan tergesa-gesa, lalu dia bertanya kepadaku, “Apa yang kau inginkan?”

Aku sampaikan hal ini kepada lima orang yang berkumpul bersamaku, karena aku segera berdiri dan meninggalkan mereka hanya lantaran Muhammad Quthb, saudaraku, menyebutkan namanya di telingaku dan bahwa dia ingin cepat melihatku. Aku memahami betul dengan kondisinya ini.

Catatan:

Kebiasaan yang berlaku di rumahku; apabila aku bersama tamu-tamuku, sementara itu saudaraku atau keponakanku atau pembantu ingin memanggilku untuk urusan di dalam, atau karena ada tamu di depan pintu, atau di ruang duduk lainnya, mereka akan membisikkan ke telingaku dan tidak memanggilku secara keras dan untuk apa. Ini adalah adab yang biasa di rumahku. Sementara itu, saudaraku Muhammad tidak mengenal Akh Ath-Thukhi dan apa keperluannya? Dan mungkin dia sudah lupa peristiwa itu.

Selain menanyakan kepada Akh Ath-Thukhi mengenai kondisi ikhwan-ikhwan yang keluar dari penjara. Belum ada langkah apa pun yang kulakukan untuk menghimpun mereka dalam satu tanzhim secara terpisah atau dengan digabungkan dengan tanzhim baru. Akan tetapi aku tahu dari Akh Ath-Thukhi bahwa mereka—sebelum keluar penjara—telah diserahkan masing-masing kepada satu orang untuk tiga atau empat orang atau lebih, yang tidak tinggal secara berdekatan.

Supaya mereka senantiasa mengunjungi dan menanyakan keadaan mereka dengan tanpa sepengetahuan selain mereka dan tanpa mereka menyadari bahwa di belakang mereka ada sesuatu. Hal itu hanya sekadar hubungan—tidak lebih—dan untuk menunggu arahan selanjutnya untuk mengatur mereka dalam tanzhim jika keadaan memungkinkan. Lalu aku katakan kepadanya: Ini cukup….

Dan tidak ada sesuatu yang lebih penting dari itu, khususnya yang berkaitan dengan ikhwan-ikhwan yang keluar dari penjara. Dan waktunya tidak mencukupi bagiku untuk mencari tahu, apakah kebijakan yang telah disepakati di penjara Al-Qanathir untuk ikhwan-ikhwan yang keluar dari penjara ini merupakan kebijakan lokal yang mereka putuskan sendiri? Atau ini bersifat umum yang dikeluarkan oleh Qiyadah mereka dari anggota Maktab’ Al-Irsyad? Yang jelas bukan aku yang memerintahkan hal itu. Akan tetapi, secara pribadi aku lebih meyakini bahwa ini merupakan kebijakan dari diri mereka sendiri. Karena yang aku pahami, hal ini hanya berlaku untuk golongan yang memiliki kesadaran dan tidak berlaku untuk seluruh ikhwan yang keluar dari penjara. Dan aku melihat, ini cukup pada saat ini. Karena membuat tanzhim untuk ikhwan-ikhwan yang keluar dari penjara itu adalah sesuatu yang tidak memungkinkan untuk dilakukan menurut perhitunganku.

Dan aku mencukupkan diri dengan tanzhim baru. Yang mana ketika aku keluar dari penjara, tanzhim itu telah terbentuk. Aku sibukkan diriku dengan tanzhim ini dan aku memberikan perhatian kepada perbaikan dan pembentukan pemikiran, pemahaman, dan manhaj harakahnya, sebagaimana yang akan aku jelaskan secara lebih rinci. Ketika itu aku tidak memberitahukan sedikit pun mengenai tanzhim baru ini kepada seorang pun. Dan selain Akh Hawwasy yang telah kuterangkan kepadanya secara umum dan tidak rinci, tidak ada seorang pun yang tahu mengenai tanzhim tersebut, baik mereka yang telah keluar dari penjara maupun ikhwan yang lain ataupun orang lain secara umum.

MENCARI SENJATA DAN DANA

Tanzhim Baru

Ketika aku bebas dari penjara, di dalam benakku telah tergambar secara jelas dan rinci mengenai bagaimana seharusnya sebuah Harakah Islamiyah eksis di tengah kondisi Internasional dan lokal saat ini. Juga mengenai gambaran langkah-langkah manhaj yang harus ditempuh. Hal ini telah kusebutkan sebelumnya, maka di sini saya ingin menyampaikannya kembali secara ringkas, sebelum nanti membicarakannya secara rinci:

1.   Umat pada hari ini telah terjauhkan dari pemahaman makna Islam itu sendiri, baik dari sisi akhlak Islamiyah, sistem Islam, maupun Syariat Islam. Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi setiap Harakah Islamiyah untuk mengawali gerakannya dengan mengembalikan pemahaman manusia tentang makna Islam dan aqidah yang benar. Yaitu agar setiap ibadah ditujukan hanya kepada Allah semata. Baik dalam berkeyakinan mengenai uluhiyah-Nya atau dalam menjalankan syi’ar-syi’ar ibadah kepada-Nya, atau untuk tunduk dan berhukum hanya kepada peraturan dan syariat-Nya.

2.   Orang-orang yang menyambut pemahaman ini dipilih dan kemudian di-tarbiyah dalam akhlak Islam serta dibekali dengan kajian Harakah Islamiyah dan sejarahnya. Dipahamkan mengenai perjalanan sejarah Islam dalam berinteraksi dengan berbagai kekuatan, masyarakat, dan berbagai rintangan yang dihadapinya di tengah jalan yang setiap hari makin meningkat dengan kuat, khususnya dari kekuatan Kolonial Zionis dan Salibis.

3.         Tidak memulai dengan membuat tanzhim apa pun, kecuali setelah semua anggotanya mencapai pemahaman aqidah yang benar dan berakhlak Islami dalam berinteraksi dan berperilaku, serta memiliki bekal sebagaimana yang telah disebutkan di atas dalam tingkat pemahaman yang tinggi.

4.         Titik tolak itu bukan dimulai dari menuntut ditegakkannya sebuah sistem Islam dan pemberlakukan syariat Islam. Akan tetapi, titik tolak itu dimulai dari merubah masyarakat itu sendiri—baik penguasa maupun rakyat—dari kondisi yang telah diterangkan di atas kepada pemahaman Islam yang benar dan membentuk pondasi yang kokoh. Meskipun tidak mencakup seluruh masyarakat, minimal mencakup unsur-unsur yang dapat mengarahkan atau memiliki pengaruh untuk mengarahkan masyarakat secara keseluruhan. Agar mereka cinta dan berjuang untuk menegakkan sistem Islam dan menjalankan syariat Islam.

5.         Selanjutnya, penegakan sistem Islam dan pemberlakuan syariat Islam tidak dapat dilakukan dengan cara merebut kekuasaan yang datang dari lapisan atas. Akan tetapi, melalui perubahan masyarakat secara keseluruhan—atau pemahaman beberapa kelompok masyarakat dalam jumlah yang mencukupi untuk mengarahkan seluruh masyarakat—pada pemikirannya, nilai-nilainya, akhlaknya, dan komitmennya dengan Islam. Sehingga tumbuh kesadaran dalam jiwa mereka, bahwa menegakkan sistem dan syariat Islam itu merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan.

6.         Pada waktu yang sama, harakah ini harus dilindungi ketika ia tengah menapaki tahap-tahap langkahnya. Sehingga apabila harakah ini diserang, serangan itu dapat dilawan. Akan tetapi, selama harakah tersebut tidak hendak menyerang atau menggunakan kekuatan untuk memaksakan sistem yang diyakini harus ditegakkannya—atas dasar apa yang telah disebutkan di depan, dan setelah melalui proses pendahuluan yang telah disinggung di depan, dan yang mana keislaman manusia itu tidak akan beres kecuali dengan tegaknya sistem tersebut sebagaimana yang Allah tetapkan—dengan kekuatan dari lapisan atas, maka harakah ini harus dibiarkan untuk melaksanakan kewajibannya dan tidak boleh diserang. Namun apabila harakah ini diserang, maka harakah wajib melawan serangan tersebut.

***

Inilah gambaran yang lengkap untuk sebuah harakah Islamiyah pada hari ini yang ada dalam benakku. Akan tetapi, setelah aku bebas dari penjara, terjadi interaksi secara berturut-turut antara diriku dengan para pemuda— ada yang dari kalangan Ikhwanul Muslimin dan ada yang berasal dari kalangan orang-orang yang memiliki pemikiran Islam di luar Ikhwanul Muslimin—yang namanya sebagai berikut: Abdul Fattah Ismail, Ali Al-‘Isymawi, Ahmad Abdul Majid (nama panjangnya telah kukenal di penjara militer), Majdi, dan Shabri. Setelah beberapa kali pertemuan, aku jadi mengetahui bahwa mereka telah membentuk sebuah tanzhim yang telah bergerak selama 4 tahun atau lebih. Sebagian kecil mereka berasal dari kalangan Ikhwanul Muslimin yang pernah di penjara, sedang mayoritasnya bukan dari Ikhwanul Muslimin dan belum pernah dipenjara. Tanzhim ini terbentuk setelah sebelumnya, masing-masing dari mereka memiliki pemikiran secara pribadi.

Pada waktu-waktu ini, pekerjaan yang paling mendesak adalah menghidupkan kembali Ikhwanul Muslimin dan tidak mencukupkan diri dengan kondisi Jamaah yang ada. Dimana di sana terjalin beberapa kerjasama dan bantuan untuk menanggung keluarga-keluarga yang tidak memiliki sumber penghasilan. Dimana di sana, di kalangan Ikhwan, yang ada adalah ‘interaksi bisu’, berpangku tangan, dan diam menunggu. Ketika mereka bergerak, masing-masing bergerak sesuai bentuknya sendiri-sendiri.

Maka, untuk mengorganisir kembali anggota Ikhwanul Muslimin yang memiliki perhatian terhadap harakah, mereka pun saling bertemu. Ada pula yang bergabung dan memberikan kepercayaan kepada kelompok yang sebelumnya dia ada di dalamnya, lalu mereka membentuk tanzhim baru ini. Dan mereka—semuanya dari kalangan pemuda yang belum banyak mereguk pengalaman—masih mencari qiyadah (pemimpin) dari para petinggi Jamaah yang berpengalaman. Mereka pun menghubungi Ustadz Farid ‘Abdul Khaliq dan juga ikhwan-ikhwan Al-Wahat—yang mana mereka semua dekat dengan Ustadz Farid, sedangkan orang yang menghubungi Al-Wahat adalah Abdul Fattah—dan yang lainnya.

Namun sampai sekarang, mereka belum menemukan qiyadah yang mereka harapkan. Mereka pun menginginkan diriku agar menjadi qiyadah mereka setelah aku bebas nanti. Hal itu setelah mereka membaca tulisan-tulisanku dan mendengar pembicaraanku bersama mereka. Sejak itu, pemikiran mereka berubah, dan pandangan mereka meluas secara drastis. Sebelumnya mereka memikirkan bagaimana membuat tanzhim untuk kelompok fidaiyyah (berani berkorban) untuk merubah kondisi atau menghabisi orang-orang yang menyerang Jamaah Ikhwanul Muslimin dan hendak menghentikan gerakannya. Mereka hendak membangun Jamaah dan menegakkan sistem Islam dengan cara seperti ini. Adapun sekarang, mereka telah memahami bahwa ternyata persoalannya jauh lebih besar dari itu, jalan perjuangan ini masih panjang dan berliku. Perjuangan di tengah-tengah masyarakat itu harus didahului perjuangan di dalam sistem negara dan bahwa pembentukan tanzhim harus didahului dengan pembentukan dan pembinaan personalnya … dan seterusnya

Para pemuda tersebut mulai menyerap pemikiran seperti ini dalam batas-batas tertentu. Akan tetapi, mereka membutuhkan qiyadah yang dapat memberikan perbekalan kepada mereka secara lebih dalam bergerak. Supaya mereka bisa menyebarkan pengaruhnya kepada orang-orang yang ada di belakang mereka, memperluas pemahaman mereka, dan merubah arah pandangan mereka….

Ketika itu aku dihadapkan pada dua pilihan: Antara menolak ajakan mereka untuk beramal bersama mereka … karena bagaimanapun, mereka belum memiliki for­mat sebagaimana yang aku yakini. Anggota-anggota mereka belum mendapat tarbiyah dan pembekalan sebelum mereka membentuk sebuah tanzhim dan sebelum mereka melakukan berbagai latihan untuk aksi-aksi pengorbanan … Atau aku terima ajakan mereka dengan terus mengupayakan perbaikan manhaj—yang sebelumnya telah tergambar dalam benakku—yang belum terlaksana. Dan dasar keyakinan bahwa gerakan mereka itu bisa dikawal, sehingga tidak terjadi letupan yang tidak tepat, terutama karena sebagian mereka memang benar-benar telah memiliki niat untuk itu. Sementara itu, pemikiran untuk menegakkan sistem Islam dari puncak kekuasaan telah mengalahkan pemahaman yang baru. Dan juga telah menggeser pemahaman untuk memulai dari membangun aqidah, akhlak, dan pemikiran pada pondasi masyarakat… Lalu aku putuskan untuk mengambil pilihan kedua, yakni beramal bersama mereka dan menjadi qiyadah mereka.

Akan tetapi, tulus aku katakan kepada mereka ketika itu. “Sebenarnya dalam kondisi sekarang ini, Harakah Islamiyah harus memiliki pandangan yang luas dan pemahaman tentang Islam itu sendiri, sejarah gerakannya, dan terhadap kondisi internasional yang mengelilingi Islam … dan seterusnya. Sementara kalian katakan bahwa kalian belum mendapatkan qiyadah. sehingga kalian menginginkan agar diriku mengambil peran ini untuk kalian … Akan tetapi, sebagaimana yang kalian ketahui, aku adalah orang yang menderita penyakit berat dan tidak dapat disembuhkan sampai sekarang.

Memang ajal itu di Tangan Allah. Akan tetapi, takdir Allah itu berjalan sesuai dengan sebab-sebab yang Dia ciptakan … Oleh karena itu, kalian harus bersandar kepada Allah dan berusaha agar kalian sendiri yang menjadi qiyadah. Sementara tugasku terhadap kalian yang sebenarnya adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mendidik dan membentuk pemikiran kalian, supaya kalian menjadi qiyadah … Adapun dien (iman), akhlak, takwa, keikhlasan, dan interaksi kalian dengan Allah dapat aku lihat dan aku rasakan, alhamdulillah, semuanya baik….” Hal ini berulang-ulang aku katakan kepada mereka.

Ketika itu cara yang aku tempuh adalah berkumpul dengan mereka, kadang sekali sepekan atau sekali dalam dua pekan … Dan ketika masa-masa aku sibuk, sekali dalam tiga pekan atau dalam sebulan … Aku memulai kajianku bersama mereka mengenai sejarah Harakah Islamiyah, beserta sikap tentara-tentara penyembah berhala, kafir, Zionis, dan Salibis, baik zaman dulu maupun zaman sekarang terhadap Islam, serta sedikit menyinggung tentang situasi kawasan Islam dalam sejarah modern sejak agresi Prancis. Terkadang aku sisipkah, komentarku terhadap beberapa kasus, berita, dan siaran untuk melatih mereka agar terbiasa mengikuti peristiwa. Aku perintahkan mereka agar memilih orang khusus di antara mereka untuk mengikuti setiap surat kabar internasional dan siaran internasional. Dan jika memungkinkan ditambah dengan buku-buku yang terbit dalam bahasa Inggris dan Prancis, atau buku yang membahas tentang Islam di kawasan-kawasan Islam.

Walhasil, sebanyak empat kali Ahmad Abdul Majid datang menemuiku dengan membawa hasil pemantauan mereka terhadap berita-berita di surat kabar, baik lokal maupun internasionall, demikian pula siaran radio. Pada awalnya hasil pemantauan itu teramat polos dan sederhana. Akan tetapi, ini penting sebagai langkah awal, dan dari situ aku dapat mengetahui sejauh mana pemikiran mereka secara umum. Sayangnya, pertemuanku dengan mereka sangat terbatas, lantaran waktu yang mereka gunakan untuk menghubungiku pun singkat. Jika dipotong waktu-waktu sibukku atau ketika aku sakit atau berada jauh dari Kairo, maka keseluruhannya tidak lebih dari 6 bulan. Kisaran pertemuannya sekitar 10 sampai 12 kali, sehingga hanya sedikit permasalahan yang sempat kita bahas. Itu pun masih dikurangi untuk membahas beberapa persoalan lain. terutama berkaitan dengan status tanzhim dari ikhwan-ikhwan yang lain, serta masalah tadrib (latihan) dan persenjataan … Juga mengenai strategi perlawanan jika ada serangan terhadap tanzhim dan kemungkinan terjadinya serangan terhadapnya, sebagaimana yang sering diberitakan dalam siaran … Dan saya kira, inilah persoalan inti yang seharusnya lebih diperhatikan para penanggung jawab terhadap persoalan ini daripada persoalan lainnya … Akan tetapi, waktu itu aku ingin persoalan ini disampaikan secara lengkap, sehingga dapat membantu memahami persoalan ini dari semua sisinya.

***

Kami sepakat tidak akan menggunakan kekuatan untuk mengubah sistem negara atau untuk menegakkan sistem Islam, namun kami juga siap mengerahkan kekuatan jika tanzhim ini diserang. Tanzhim ini akan berjalan sesuai manhaj pengajaran aqidah, tarbiyah. akhlak, dan pembentukan pondasi Islam di tengah-tengah masyarakat. Itu artinya, kita harus mencari tempat tadrib (latihan-ed) untuk regu yang akan mengemban tugas melindungi tanzhim dan melawan setiap serangan yang datang, berikut sumber persenjataan yang kita perlukan dalam misi ini, serta sumber dana yang kita butuhkan. Mengenai tadrib, aku tahu, mereka telah melakukannya sebelum bertemu denganku. Akan tetapi, ketika itu tidak diperhatikan bahwa yang boleh ikut tadrib itu hanya ikhwan yang telah memahami aqidah dan telah matang kesadarannya. Maka aku meminta agar mereka pemegang prinsip ini. Aku tanyakan kepada mereka berapa jumlah anggota yang telah memenuhi syarat-syarat tersebut. Setelah mereka melakukan evaluasi di antara ikhwan-ikhwan. mereka mengatakan bahwa jumlahnya sekitar 70 orang. Mereka memutuskan untuk segera melaksanakan tadrib, karena melihat mulai menjalarnya rasa bosan di hati para pemuda jika mereka hanya berbekal kata-kata tanpa ada tadrib dan i’dad (persiapan diri). Apalagi muncul alasan baru lainnya, yakni mulai tersebarnya isu penangkapan, dan bahkan kemudian beberapa ikhwan benar-benar ditangkap. Adapun mengenai senjata, persoalannya ada dua sisi:

Sisi pertama: Mereka memberitahuku—dan yang ditugaskan untuk menjelaskan persoalan ini kepadaku adalah Majdi—bahwa melihat susahnya mendapatkan senjata—meskipun hanya sekadar untuk tadrib, maka mereka mencoba membuat beberapa bahan peledak lokal. Percobaan ini terbilang sukses dan dapat menghasilkan beberapa buah granat, hanya saja butuh beberapa perbaikan. Percobaan itu pun terus berlanjut.

Sisi kedua: ‘Ali ‘Isymawi mengunjungiku tanpa ada perjanjian sebelumnya. Dia menceritakan kepadaku bahwa kira-kira dua tahun sebelum kami bertemu, dia telah meminta sejumlah senjata kepada seorang ikhwan di sebuah negara Arab yang dia tentukan kepadanya secara terang-terangan. Kemudian dia tinggalkan pembicaraan itu sejak itu juga. Dan kini ada berita darinya, bahwa senjata-senjata tersebut akan dikirim dalam jumlah yang besar, yakni sekitar satu kereta angkut. Senjata-senjata tersebut akan dikirim melalui Sudan dan diperkirakan akan sampai dalam waktu dua bulan. Ini terjadi sesaat sebelum terjadi penangkapan-penangkapan, meski situasi tidak menunjukkan akan adanya bahaya dalam waktu dekat…

Karena datangnya berita itu sangat mendadak, kami tidak bisa memutuskan persoalan ini sebelum kami membicarakannya dengan ikhwan-ikhwan yang lain. Maka kami pun sepakat bertemu untuk membahas masalah ini dengan yang lain. Keesokan harinya— seingatku, sebelum tiba waktu yang telah disepakati. Syaikh ‘Abdul Fattah Isma’il datang kepadaku dan menyampaikan perkara itu. Tentu sebelumnya aku sudah tahu, bahwa dia mendengar perkara ini dari ‘Ali. Tampaknya dia tidak setuju, dan bahkan merasa khawatir. Dia mengatakan, “Keputusan masalah ini harus diundur sampai Shabri datang.” Aku katakan kepadanya, “Kita akan berkumpul untuk membahasnya.”

Pada pertemuan pertama yang telah disepakati seingatku Shabri belum datang, sehingga saat itu tidak ada sesuatu pun yang dapat diputuskan. Kemudian pada pertemuan selanjutnya, kelima orang itu hadir semua dan diputuskan agar Ali menghentikan pengiriman senjata dari sana sampai diketahui dari pihak yang hendak mengirim, dari mana sumber dana yang digunakan untuk membeli senjata-senjata tersebut. Jika dananya bukan dari ikhwan, maka ditolak. Dan perlu dijelaskan juga mengenai transaksi pembeliannya, apakah dibeli semua sekaligus ataukah sebagian-sebagian? Bagaimana cara pengirimannya dan harus diyakinkan, apakah proyek ini telah tercium atau belum? Dan dikatakan kepada akh yang akan mengirim agar tidak mengirimnya, kecuali setelah diberi aba-aba untuk mengirim….

Setelah satu bulan berlalu—seingatku, datang jawaban kepada Akh ‘Ali. Di antara isinya yang masih aku ingat adalah: Bahwa senjata-senjata ini dibeli dengan harta Ikhwan dari harta pribadi mereka. Mereka berikan harta itu untuk membeli senjata tersebut, padahal mereka sendiri sebenarnya memerlukannya untuk keperluan hidup mereka. Hal itu lantaran mereka sangat tertarik dengan apa yang disampaikan dari sini, dan bahwa senjata-senjata tersebut dibeli dan dikirim dengan cara yang aman….

Aku tidak ingat bahwa di antara isi jawaban itu atau jawaban setelahnya menyebutkan bahwa barang-barang tersebut telah dikirim dan tidak mungkin dihentikan. Mereka memikirkan jalur melalui Libya selain jalur melalui Sudan, atau karena jalur Libya lebih mudah daripada jalur Sudan (aku tidak ingat betul isi jawaban tersebut). Namun yang lebih meyakinkan, jawaban itu hanya sekali. Tatkala disebutkan Libya, aku katakan kepada mereka, “Jika mereka memikirkan jalur Libya, aku tahu orang-orang yang dapat membantu kita mengirim barang-barang semacam ini.” Ketika itu aku berpikir tentang dua ikhwan Libya yang aku kenal setelah aku bebas dari penjara, salah satunya adalah Ath-Thayyib Asy-Syin. Dulu dia belajar di Markazut Ta’lim Al-Asasi di Sarsullayan. Dia memiliki hubungan dengan para sopir angkutan yang melintasi padang pasir antara Libya dan Mesir. Satunya lagi adalah Al-Mabruk. Aku tidak ingat jika di depan namanya ada Muhammad atau tidak, karena aku mengenalnya dengan satu nama. Pernah sekali waktu dia mengatakan kepadaku bahwa beberapa kerabatnya bekerja di kereta api antara Mesir dan Libya.

Namun, ketika itu aku tidak meminta penjelasan kepadanya mengenai kereta api tersebut. Karena pembicaraan mengenai itu hanya selingan saja ketika aku menyampaikan padanya, bahwa aku punya kebutuhan yang tidak bisa aku dapatkan di Mesir, dan bisa didapatkan di Libya atau di luar negeri. Dia mengatakan kepadaku. “Silakan minta saja. karena pengirimannya benar-benar aman, kerabat-kerabat saya bekerja di kereta api….” Aku juga tidak tahu secara pasti perdagangan apa yang dia tekuni dan yang menyebabkan dia datang ke Mesir. Pernah dia berkata padaku, bahwa dia mengimport burnus (peci panjang) yang dipakai di daerah Maghrib dari Iskandariyah, sedangkan burnus-burnus tersebut diproduksi di Mesir dan tidak diproduksi di Maghrib. Pernah juga dia bilang padaku, bahwa dia membawa kargo yang berisi buku-buku. Akan tetapi, aku tetap tidak tahu persis apa pekerjaan yang dia tekuni.

Adapun mengenai dana, berulang kali ia dibahas dalam pertemuan-pertemuan kami atau dalam pembicaraan-pembicaraan mereka di berbagai tempat bersamaku. Setahuku Syaikh Abdul Fattah memiliki sejumlah harta, namun beliau pernah mengatakan bahwa harta itu adalah amanah yang dititipkan kepadanya supaya digunakan untuk keperluan tertentu. Oleh karena itu, dia tidak memiliki hak untuk menggunakannya, meskipun untuk membantu keluarga-keluarga (mereka yang dipenjara) misalnya. Selain itu, dia tidak memiliki hak   untuk   menggunakannya   kecuali   setelah mendapatkan izin … Inilah yang dikatakan Syaikh Abdul Fattah kepadaku.

Namun, ketika ditawarkan untuk proyek pembuatan bahan peledak dan menerima kiriman senjata yang tidak mungkin dihentikan pengirimannya dan tidak mungkin pula untuk dibiarkan begitu saja, dia mengatakan kepadaku. “Harta itu tergantung Anda dalam penggunaannya.” Dia pun meminta izin kepadaku untuk persoalan ini, maka aku pun mengizinkannya. Dari situ aku paham, bahwa amanat harta itu adalah agar tidak dipergunakan kecuali atas izin qiyadah syar’iyah. Akan tetapi, aku tidak tahu dari mana asal dana itu dan berapa jumlahnya … Semua itu jelas menunjukkan bahwa dana tersebut berasal dari ikhwan yang ada di luar, bukan dari pihak lain.

Inilah yang ingin aku perjelas dalam hubungan mereka sebelumnya. Sebab—sebagaimana yang telah aku katakan kepada mereka, aku tidak mengizinkan harakah Islamiyah minta bantuan kepada pihak luar, baik mengenai dana, senjata, maupun gerakan. Berapa jumlah dana itu aku tidak tahu, namun aku perkirakan lebih dari seribu junaih (pound) … Jumlah itu aku simpulkan dari beberapa kata dalam pemaparannya. Syaikh Abdul Fattah juga menyatakan bahwa harta itu sekarang berada di tempat yang aman … Namun aku tidak menanyakan kepadanya secara lebih rinci … karena aku ingin mencukupkan diri dengan data yang seminimal mungkin tentangnya. Demikian pula dengan setiap aktivitas mereka dalam rangka melaksanakan program, cukup bagiku mengetahui langkah-langkahnya secara global. Adapun rinciannya aku serahkan kepada mereka, karena mereka lebih paham daripada aku. Akan tetapi, tentu saja risikonya tetap menyangkut diriku, karena secara global rencananya dibuat atas persetujuanku.

Selain itu, aku juga menerima uang senilai 200 junaih (pound) dari seorang Ikhwan di Iraq, aku pun langsung menyerahkan kepada Akh Ali. Ketika itu dia pun ada, supaya uang itu menjadi tanggung jawab mereka dan diatur oleh mereka. Adapun rincian mengenai hubungan kami dengan Ikhwan Iraq, akan aku jelaskan nanti.

***

Rencana Perlawanan Terhadap Serangan yang Ditujukan Kepada Harakah Islamiyah

Sebagaimana telah kami sepakati bahwa prinsip kami adalah tidak mempergunakan kekuatan untuk menggulingkan pemerintah dan tidak pula memaksakan hukum Islam dari atas. Selain itu kami juga sepakat bahwa karni akan melawan setiap serangan yang dilancarkan kepada Harakah Islamiyah yang memiliki manhaj perlawanan dengan kekuatan jika ia diserang.

Sementara itu, di hadapan kami tertera prinsip yang telah ditetapkan oleh Allah:

“Barangsiapa menyerang kalian, maka seranglah ia seperti serangan yang dilakukan kepada kalian.”

Benar saja, serangan itu datang kepada kami pada tahun 1954 dan pada tahun 1957 dalam bentuk penangkapan, penyiksaan, dan penodaan terhadap kehormatan dengan penyiksaan, pembunuhan, dan penghancuran rumah, serta pengusiran terhadap anak-anak dan kaum wanita. Namun kami tetapkan bahwa itu semua telah berlalu, sehingga tidak ada gunanya melancarkan serangan balasan terhadap apa yang kami alami dalam serangan tersebut.

Kini, yang menjadi permasalahan adalah serangan yang dilancarkan kepada kami pada hari ini. Inilah yang jika terjadi, maka kami akan membalasnya … Hanya saja kami tidak bisa membalas mereka dengan tindakan serupa, karena Islam melarang seorang muslim untuk menyiksa orang, menodai kehormatan, atau membiarkan kaum wanita dan anak-anak kelaparan. Sampai-sampai dalam Islam, jika orang yang dijatuhi hukuman had itu meninggal dunia, maka anak-istri mereka ditanggung oleh negara. Maka kami tidak memiliki cara perlawanan yang diizinkan oleh agama kami kecuali dengan cara membunuh dan memerangi.

Adapun tujuannya adalah; pertama, untuk melawan serangan supaya musuh tidak dapat menghancurkan harakah Islamiyah. Kedua, untuk menyelamatkan dan menghindarkan sebanyak mungkin pemuda muslim yang bersih dan berpegang teguh dengan akhlak yang baik, yang berada di tengah-tengah masyarakat yang bebas, rusak, dan menyeleweng dalam tingkah laku dan interaksinya. Sebagaimana yang beredar dalam pembicaraan manusia dan terlihat nyata di depan mata, sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi.

Karena alasan-alasan tersebut, kami merancang strategi dan sarana untuk melakukan perlawanan … maka aku sampaikan kepada mereka, agar mereka merancang strategi dan sarana yang dapat dilakukan dengan kemampuan yang mereka miliki—sedang aku memiliki pengetahuan tentangnya secara rinci dan pasti … Aku katakan kepada mereka. “Jika kita melancarkan perlawanan ketika terjadi serangan, maka haruslah perlawanan itu dapat membendung serangan dan setara dengan serangan tersebut, serta dapat menyelamatkan pemuda muslim dalam jumlah yang sebanyak mungkin.”

Atas dasar ini, mereka pun hadir pada pertemuan berikutnya bersama Ahmad ‘Abdul Majid. Mereka mengusulkan beberapa aksi yang cukup untuk sekadar melumpuhkan aparat pemerintah dalam memburu Ikhwan, jika nanti terjadi serangan terhadap mereka— sebagaimana yang terjadi pada waktu-waktu yang lalu, apa pun sebabnya. Baik itu terjadi dengan skenario sebagaimana kasus di penjara Al-Mansyiyah—yang kami ketahui. Ikhwan tidak memprogramkan kasus tersebut. Atau seperti pembantaian di penjara Liman Turoh—yang kami yakini bahwa kasus tersebut merupakan skenario untuk memberanguskan Ikhwan. Atau sebab-sebab lainnya yang tidak diketahui oleh pemerintah, atau yang dilakukan oleh konspirasi pihak asing maupun pihak lokal.

Program ini merupakan reaksi spontan yang dilancarkan ketika terjadi penangkapan-penangkapan terhadap anggota tanzhim, yakni dengan cara membunuh para pentolan mereka. Target utama adalah presiden, perdana menteri, panglima militer, ketua badan intelejen, dan kepala polisi militer. Dilanjutkan kemudian dengan memutus instalasi-instalasi yang dapat melumpuhkan transportasi Kairo, sehingga dapat dipastikan dihentikannya ikhwan-ikhwan lainnya yang masih tersisa, baik yang ada di dalam maupun yang di luar, seperti instalasi listrik dan club-club malam. Hanya saja, aku melarang penghancuran club-club malam sebagaimana yang akan aku jelaskan nantinya.

Aku katakan kepada mereka, “Jika semua ini dapat dilakukan, cukup untuk membendung serangan terhadap harakah berupa penangkapan, penyiksaan, pembunuhan, dan pengusiran sebagaimana yang terjadi sebelumnya. Akan tetapi, seberapa kemampuan yang kalian miliki untuk melaksanakan rencana ini?”

Dari ucapan mereka, dapat aku pahami bahwa mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup. Selain itu, beberapa personal yang dijadikan target, seperti presiden dan perdana menteri—sebagaimana yang mereka sebutkan—mungkin juga yang lainnya, penjagaannya sangat ketat, sehingga kecil kemungkinan rencana itu dapat dilaksanakan. Apalagi di antara mereka tidak terdapat orang yang terlatih dan juga tidak memiliki senjata yang cukup untuk melaksanakan operasi semacam ini. Bertolak dari itu, kita sepakat untuk segera melakukan tadrib (latihan)—dimana sebelumnya aku ingin tadrib ini diundur, dan aku tidak terlalu bersemangat untuk program ini. Sebab, ini merupakan langkah terakhir bagi Harakah Islamiyah, bukan langkah pertama. Namun kini, ada gelagat yang menunjukkan akan terjadinya serangan terhadap Ikhwanul Muslimin.

Serangan itu—sebagaimana pengalaman yang pernah kami rasakan—berupa penyiksaan, pembunuhan, penghancuran rumah, pengusiran anak-anak dan kaum wanita. Orang-orang komunis mulai menyebarkan isu di setiap tempat, bahwa Ikhwanul Muslimin telah melakukan reorganisasi dan menunjuk qiyadah baru. Kami juga mendengar isu, bahwa orang-orang komunis membuat lambang Ikhwanul Muslimin pada kartu para jurnalis untuk memancing emosi. Ini tidak aneh, karena sebelumnya pun kami telah mendengar bahwa beberapa tahun yang lalu, telah ditemukan banyak selebaran di dua buah koper milik dua orang aktivis Kristen yang tewas dalam sebuah kecelakaan. Pada selebaran tersebut terdapat tanda tangan Ikhwanul Muslimin, dengan tujuan untuk mencelakakan mereka….

Demikian pula Ustadz Munir Ad-Dallah, sebelumnya dia telah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap para pemuda ceroboh yang telah membuat tanzhim. Dia yakin, mereka ini adalah orang-orang yang disusupkan ke dalam tubuh Ikhwanul Muslimin berdasarkan informasi intelejen Amerika yang diperoleh dari Hj. Zainab Al-Ghazali. Intelejen Amerika telah mencium gerakan mereka dan kini mereka berencana untuk segera memukul Ikhwanul Muslimin, atau membiarkannya sesaat. Hal senada juga diungkapkan H. ‘Abdur Razzaq Huwaidi, beliau menyampaikannya dari Ustadz Murad Az-Ziyat, iparnya Ustadz Farid Abdul Khaliq dan Ustadz Munir. dan keduanya memiliki pandangan dan pemikiran yang sama.

H. Abdur Razzaq Huwaidi mengatakan kepadaku bahwa para pemuda itu memiliki hubungan dengan Abdul Aziz ‘Ali (mantan menteri), atau pernah kontak dengannya, padahal dia diisukan sebagai agen Amerika yang disusupkan di tengah-tengah mereka. Sebelumnya pun para pemuda itu pernah bercerita bahwa mereka memang pernah menghubungi Ustadz Abdul Aziz Ali dan Ustadz Farid di rumah Hj. Zainab Al-Ghazali ketika dulu mereka tengah mencari qiyadah. Akan tetapi, mereka tidak merasa nyaman dengannya, sehingga mereka tidak memberitahukan hal-hal rahasia yang berkaitan dengan tanzhim mereka kepadanya. Dalam pembicaraannya denganku, Ustadz Farid mengisyaratkan bahwa mereka telah berhubungan dengan orang-orang yang meragukan. Dan aku tahu bahwa yang dia maksud itu adalah Ustadz Abdul ‘Aziz dan Hj. Zainab. Sementara dia memiliki pandangan yang dia peroleh dari Ustadz Munir, bahwa keduanya merupakan orang yang disusupkan untuk proyek pembantaian Ikhwanul Muslimin.

Mengenai Ustadz Abdul ‘Aziz Ali—setahuku, hubungan mereka dengannya telah terputus. Adapun mengenai Hj. Zainab—setahuku, dia adalah orang yang memiliki banyak jasa beberapa tahun terakhir ini dalam membantu keluarga-keluarga (Ikhwan yang tertangkap-pent.). Selain itu, dia juga dekat dengan keluarga Ustadz Mursyid, dan bahkan dipercaya oleh mereka. Di sisi lain hanya Syaikh Abdul Fattah sajalah yang berhubungan dengan Hj. Zainab. Aku sendiri tidak merasa khawatir sedikit pun jika memang dia dimanfaatkan oleh intelejen, karena dia orang yang terbuka (dipermukaan).

Intinya, semua ini mengisyaratkan akan adanya serangan terhadap ikhwanul Muslimin, khususnya terhadap tanzhim ini. Maka kami putuskan untuk segera mengadakan tadrib semampunya. Akan tetapi, program ini pun tidak jadi kami laksanakan, karena kami tidak memiliki kemampuan untuk itu saat sekarang ini.

Seingatku, ini adalah pertemuan terakhir untuk kelompok ini. Setelah itu, aku tidak bertemu dengan seorang pun di antara mereka selain Syaikh Abdul Fattah dan Akh Ali isymawi di Ra’sul Barr. Aku sendiri tidak mengetahui secara rinci, apa yang mereka lalukan berkenaan dengan tadrib atau program lainnya yang bersifat operasional. Dan aku juga tidak ingat bahwa telah terjadi sesuatu selain itu semua, baik tentang pertemuanku dengan Syaikh Abdul Fattah atau dengan Akh Ali di Ra’sul Barr, sampai benar-benar terjadi berbagai penangkapan pertama terhadap Ikhwanul Muslimin. Namun tidak seorang pun di antara mereka yang dari anggota tanzhim ini.

Waktu antara pertemuan terakhir dengan penangkapan-penangkapan ini teramat pendek, sehingga tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk mengadakan tadrib secara riil. Dari sini aku menulis surat kepada mereka melalui Hj. Zainab dengan kata-kata kiasan, agar mereka menghentikan secara total proyek Sudan (yakni khusus proyek senjata) dalam bentuk apa pun. Begitu pula dengan program-program lainnya— khususnya yang berkaitan dengan program perlawanan, agar dibatalkan. Melalui Hj. Zainab juga, akh Ali bertanya kepadaku. Apakah himbauan ini bersifat permanen meskipun tanzhim sendiri telah melakukannya?” Maka aku jawab, bahwa ini berlaku hanya saat ini saja. Sehingga nanti ketika kita telah memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan yang menyeluruh dan menimbulkan efek jera, barulah kita bisa dijalankan. Namun jika tidak, semua harus dihentikan. Sedangkan aku tahu, mereka benar-benar tidak memiliki kemampuan, sehingga tak ada sesuatu pun yang dapat mereka lakukan.

Sebelumnya telah terjadi perbincangan awal mengenai langkah-langkah yang akan ditempuh untuk melakukan perlawanan apabila terjadi penyerangan terhadap Ikhwan. Ketika itu disepakati, bahwa cara perlawanan adalah dengan menghancurkan jembatan di Al-Khairiyah baru atau club-club malam sebagai tindakan untuk menghalangi pihak penyerang. Akan tetapi rencana ini dibatalkan, karena ini sama artinya dengan menghancurkan instalasi-instalasi penting bagi kehidupan rakyat dan efeknya sangat besar pada perekonomian. Pembatalan ide ini disepakati ketika terjadi diskusi antara aku dan mereka mengenai target-target Zionis pada periode ini. yakni menghancurkan kawasan Timur Tengah:

Pertama: Dari sisi manusia dengan cara menyebarkan kerusakan aqidah dan akhlak.

Kedua: Dari sisi penghancuran ekonomi… dan yang ketiga adalah penghancuran militer… Maka Akh “Isymawi ketika itu mengatakan. “Tidakkah kita khawatir ketika kita menghancurkan jembatan-jembatan dan club-club malam, berarti kita telah membantu menyukseskan rencana Zionis tanpa kita sadari dan kita inginkan?”

Ucapan beliau ini menyadarkan kami, bahwa di sana ada bahaya yang bisa ditimbulkan oleh program ini. Maka kami putuskan untuk membatalkannya, dan kami mencukupkan diri dengan program yang seminim mungkin. Cukup penghancuran beberapa instalasi di Kairo, sekedar untuk melumpuhkan gerakan aparat pemerintah dalam melakukan penangkapan. Karena memang hanya ini saja yang menjadi target dalam program ini … Akan tetapi, semua ini—baik program membunuh beberapa personal atau menghancurkan instalasi—tidak lebih hanya rencana semata sebagaimana yang telah disebutkan di depan. Hal itu karena sampai detik terakhir sebelum kami ditangkap, mereka tidak memiliki kemampuan yang riil untuk melaksanakan program tersebut, sebagaimana yang mereka katakan kepadaku. Sementara itu, aku menghimbau mereka agar tidak berbuat apa pun, kecuali jika mereka memiliki kemampuan yang cukup.

Inilah gambaran kami sampai aku ditangkap, dan aku tidak mengetahui bagaimana keadaannya setelah itu. Namun tidak ada tindakan apa pun yang jelas terjadi… Padahal, mereka memiliki kesempatan selama tiga minggu jika mereka ingin berbuat sesuatu.

HUBUNGAN KAMI DENGAN IKHWANUL MUSLIMIN DI LUAR NEGERI

Pada tahun lalu—tepatnya tanggal berapa aku tidak ingat. Akh ‘Ali ‘Isymawi memberitahuku bahwa ada seorang anggota Ikhwanul Muslimin Iraq yang ingin bertemu denganku. Dia adalah salah seorang perwakilan Ikhwan Iraq di Mesir. Sebelumnya dia belajar di Mesir, dan sekarang dia akan pulang karena dia telah menyelesaikan belajarnya. Dia menentukan waktu untuk bertemu denganku di rumahku. Akhirnya jadilah kami bertemu … Namanya Hazim atau Ashim, aku tidak ingat betul.

Terjadilah pembicaraan secara rinci, namun aku tidak ingat lagi apa yang kami bicarakan ketika itu. Hanya saja topiknya berkisar soal kondisi Ikhwan di berbagai negeri dan perbedaan mereka sesuai dengan perbedaan kondisi di sekitar mereka. Mereka selalu menunggu-nunggu berita mengenai qiyadah yang ada di Mesir. Hanya sayangnya, qiyadah di sini tidak pernah menghubungi mereka dan tidak pula memberikan pengarahan kepada mereka. Oleh karena itu. setiap kelompok berijtihad untuk membuat kebijakan politik sendiri yang dianggap sesuai. Dan karena itu pula, maka Ikhwan di Iraq memilih qiyadah dan program sendiri yang mereka sesuaikan dengan kondisi mereka di sana. Namun demikian, mereka berusaha untuk menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok lain di berbagai negara, meski hanya sebatas hubungan saja. Mereka tidak memberitahu siapa pun dari kelompok lain tentang organisasi mereka, ataupun tentang qiyadah mereka. Akan tetapi, yang berhubungan hanyalah utusan saja, itu pun hanya untuk memantau perkembangan. Maka meskipun di Beirut ada kantor untuk perwakilan Ikhwan Iraq, Yordan, dan Suriah, juga Ikhwan Mesir yang ada di Saudi, namun program Ikhwan Iraq adalah sebagaimana yang saat ini dia ceritakan. Karena model kelompok-kelompok lainnya masih berpemikiran klasik, sehingga perlu waktu untuk menyelaraskan pemikiran dengan mereka.

Aku jelaskan kepadanya tentang bentuk akhir dari pemikiran kami mengenai manhaj Harakah, yakni perlunya mengawali pergerakan dengan memahamkan tentang hakikat aqidah sebelum menerangkan tentang sistem dan syariat. Dimulai dengan membentuk pribadi sebelum membentuk tanzhim jama’i. Tidak berusaha memaksakan sistem Islam dengan cara merebut kekuasaan dari atas; sehingga dengan demikian, kita tidak membuang-buang tenaga dengan ikut serta dalam aksi-aksi politik lokal yang tengah berlangsung … dan seterusnya mengenai manhaj kami.

Ketika itulah dia mengatakan, bahwa dia telah menjalin hubungan dengan Ustadz Farid ‘Abdul Khaliq. Sebagai orang yang mewakili Ikhwanul Muslimin di sini dan yang memiliki otoritas untuk berhubungan dengannya, dirinya melihat adanya perbedaan pemikiran dan manhaj antara apa yang telah aku sampaikan dengan apa yang dia ketahui dari pemikiran Ustadz Farid, begitu juga dengan manhaj Jamaah yang dia pahami sebelumnya. Dia juga bertanya. “Kenapa tidak ada renungan di dalam Jamaah?” Aku katakan kepadanya. “Bagaimanapun ini adalah pemikiran kami. sedangkan dalam kondisi sekarang ini. kami tidak leluasa untuk bergerak menyatukan pemikiran Jamaah. Ini adalah buah dari pengalaman yang kami lalui dan waktulah yang sebagai jaminannya.”

Aku tidak memberitahukan kepadanya secara lebih de­tail mengenai tanzhim kami, hanya saja, terlihat dia merasa kecewa melihat Ikhwan telah terpecah. Dia pun pulang, dan mengatakan akan tetap berhubungan dengan Ustadz Farid sebagai perwakilan Jamaah. Dia juga akan menyampaikan kepada Ikhwan Iraq mengenai apa yang dia dengar dariku, serta kondisi kami. Beberapa bulan kemudian dia datang kembali, dan menemuiku melalui Akh Ali. Kali ini dia datang bersama seorang Ikhwan lagi dari Iraq. Mereka menceritakan bahwa dia telah menyampaikan kondisi Mesir kepada Ikhwan di sana, lalu mereka menugaskannya untuk berhubungan dengan kami. Menurut mereka, manhaj dan pemikiran kami lebih dekat dengan manhaj dan pemikiran mereka, namun tetap berbeda karena perbedaan kondisi. Dia menyerahkan kepadaku uang sejumlah 200 junaih (pound) sebagai hadiah dari Ikhwan-ikhwan di sana untuk  membantu kami … Demikian secara global tanpa ada rincian, lalu uang tersebut aku serahkan kepada Akh ‘Ali sebagaimana yang telah aku ceritakan sebelumnya dalam pertemuan kami, tidak ada hubungan lainnya selain ini.

***

Bulan Mei yang lalu, seorang Ikhwan Yordania mengunjungiku sendirian. Dia seorang dokter, namanya ‘Abdurrahman … nama panjangnya aku tidak ingat— namun hal itu bisa ditanyakan kepada Ustadz Farid Abdul Khaliq. Dia menjelaskan, bahwa dia diutus oleh Ikhwan Yordan untuk bertemu dengan Ikhwan di sini, dan dia ke sini untuk menyampaikan ucapan selamat dari Ikhwan Yordania atas kebebasanku dari penjara. Dia juga menyampaikan salam dari Muraqib ‘Am (pengawas, semacam penanggung jawab-penf.) mereka, Ustadz Abdur Rahman Khalifah.

Selanjutnya dia berbicara banyak tentang hal-hal yang ingin dia mintakan arahan dariku, terutama mengenai hubungan mereka dengan organisasi At-Tahrir (Pembebasan, mungkin yang dimaksud PLO-pent.) dan dengan Asy-Syuqairi. Panjang lebar dia ceritakan mengenai hubungan mereka dengan Asy-Syuqairi sejak dibentuknya organisasi Palestina. Apa yang mereka bicarakan, pada saat ini aku tidak dapat mengingatnya, karena aku mengikutinya tidak dengan sepenuh perhatian. Kecuali satu poin yang intinya: Asy-Syuqairi Meminta  bantuan  kepada mereka untuk ikut mengkampanyekan partainya. Dia terlihat serius dalam masalah Palestina, sehingga mereka pun memberikan berbagai bantuan kepadanya. Namun ketika membentuk Dewan Eksekutif—atau yang semacam itu, ternyata dia tidak memasukkan Ikhwanul Muslimin dalam lembaga tersebut. Justru mayoritas—yang dia masukkan—adalah orang-orang yang berhaluan Komunis. Mereka pun mendatanginya, dan mengungkap borok-borok orang-orang yang berhaluan Komunis tersebut di hadapannya. Maka dia pun berjanji untuk memperhatikan dan berpikir ulang mengenai persoalan ini. Sampai di sinilah permasalahan mereka dengan orang tersebut.

Ikhwan Yordan ini juga mengeluhkan, kenapa qiyadah di Mesir tidak pernah menghubungi mereka dan tidak pula memberi arahan kepada mereka, padahal mereka merasa terikat dengan Kairo. Dia menuturkan, pernah seorang utusan dari Mesir bertanya kepada Ustadz ‘Abdurrahman Khalifah: apa sikapnya jika ada seruan dari Kairo? Ustadz ‘Abdurrahman menjawab, “Engkau memiliki qiyadah yang engkau ikuti dan engkau taati perintah-perintahnya. Aku juga begitu, aku memiliki qiyadah dan aku akan menyambut jika ada seruan dari Ustadz Mursyid atau atas persetujuannya.” Utusan itu berkata kepadanya: Kalian harus menggantungkan masa depan kalian dengan masa depan Ikhwan di Mesir. Maka dia menjawab, “Kami terikat dengan Mesir sebatas karena Mesir adalah salah satu kelompok Ikhwanul Muslimin.”

Dia meminta arahan kepadaku mengenai posisi mereka, maka aku katakan kepadanya, “Aku tidak bisa memberikan arahan mengenai persoalan yang bersifat intern. Alasannya: pertama, aku bukan Mursyid; kedua, kalian lebih tahu kondisi kalian sendiri dan kalian lebih dekat dengan problematika Palestina, juga yang lebih paham dengan segala apa yang ada di sekeliling kawasan Timur Tengah.” Lalu dia meminta agar dipertemukan dengan Mursyid, maka aku katakan hal yang serupa kepadanya, bahwa aku tidak bisa menghubungkannya dengan Mursyid. Karena aku tahu, kondisi kesehatan Mursyid tidak memungkinkan baginya untuk menangani permasalahan seperti ini. Selain itu, aku juga tahu bahwa Mursyid tidak menyukai pertemuan semacam ini. Hal ini aku dengar dari keluarganya.

Kemudian dia mengatakan bahwa dia akan bertemu dengan Ustadz Farid. Namun dia meminta saranku: Apakah sebaiknya dia teruskan keinginannya untuk bertemu atau cukup bertemu denganku saja? Maka aku katakan, bahwa dia bisa bertemu dengan Ustadz Farid tanpa ada halangan apa pun … Sebelum itu, dia meminta arahan-arahanku secara global, sebelum dia meminta arahan khusus mengenai Palestina. Maka aku sampaikan kepadanya pandanganku mengenai manhaj harakah Islamiyah sebagai satu pola pemikiran semata, bukan sebagai arahan untuk mereka. Karena aku telah mengetahui sejak tahun 1953—ketika aku berada di Yordania, bahwa Ikhwan Yordania larut dalam aktivitas politik lokal. Sehingga aku tidak mungkin bagiku untuk menyarankan mereka agar keluar darinya. Sementara berdasarkan kondisi dan sejarah mereka dalam pergerakan, mereka tidak akan menerima saran tersebut.

Sebelumnya, aku telah mendengar dari Ustadz Farid ketika kami mengadakan pertemuan—ini adalah satu-satunya pertemuan dengannya, selain kedatangannya untuk menyampaikan ucapan selamat atas kebebasanku pada tahun lalu. bahwa Akh dari Yordan tersebut telah mengunjungi Ustadz Farid dan Ustadz Mursyid. Namun dia tidak meminta arahan kepada keduanya perihal organisasi, apalagi Mursyid sendiri memang menampakkan ketidak-sukaannya berbicara masalah seperti ini. Aku juga mendengar hal ini dari Mursyid ketika aku mengunjunginya untuk menanyakan perihal penyakitnya dan untuk ta’ziyah atas kematian sepupunya.

Aku sampaikan kepadanya mengenai permintaan Akh dari Yordan tersebut untuk mengunjunginya dan kusampaikan pula jawabanku kepadanya. Juga mengenai cerita Akh dari Yordan tersebut, bahwa orang-orang nasionalis Arab di Suriah meminta Ustadz ‘Isham Athar agar beliau mau bekerja sama dengan mereka dalam menghadapi Partai Ba’ats (sosialis) dan Amin Al-Hafizh. Pertimbangannya adalah bahwa Partai Ba’ats dan pemerintah Suriah menangkapi dan memburu Ikhwanul Muslimin sebagaimana menangkapi dan memburu orang-orang nasionalis Arab. Ketika itu, Ustadz ‘Isham mengatakan kepada mereka. “Kerja sama ini akan mendapat kritikan dari Ikhwanul Muslimin Suriah dan Ikhwanul Muslimin dari berbagai negara Arab lainnya, sementara Ikhwan-Ikhwan kami di Mesir ada yang dipenjara. Padahal, gerakan orang-orang nasionalis Arab yang memiliki hubungan dengan Kairo telah lama diketahui. Maka situasinya tidak kondusif. Sebaiknya persoalan Ikhwan Mesir dihentikan, agar tercipta peluang untuk melakukan kerjasama semacam ini.”

***

Aku ingat, Akh ‘Ali Al-‘Isymawi memberitahuku bahwa ada seorang Ikhwan dari Sudan yang tengah berkunjung. Dia merupakan utusan dari Ikhwan di sana. Mungkin dia ingin mengunjungiku, hanya saja dia belum menentukan kapan waktunya. Meski demikian, pertemuan itu tidak jadi terlaksana. Namun aku diberitahu Akh Ali, bahwa dia sempat menemui Ikhwan tersebut sekali atau dua kali. Ikhwan tersebut menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di Sudan, dan berbagai peran penting yang dilakukan Ikhwan di sana dalam mengakhiri kekuasaan militer. Ikhwan tersebut juga mengungkapkan optimismenya yang besar, bahwa pemerintahan Islam akan segera berdiri di Sudan, hasil dari pemilu yang sebentar lagi akan berlangsung.

Dan aku ingat, ketika itu aku katakan bahwa negara Islam itu tidak akan pernah berdiri di negara mana pun dengan cara seperti ini. Negara Islam itu tidak akan terwujud kecuali dengan manhaj yang panjang dan perlahan. Manhaj yang menjadikan pondasi sebagai wilayah kerjanya, bukan atap. Dimulai dari penanaman kembali aqidah dan pendidikan moral (akhlak) secara Islami. Ketahuilah, jalan ini memang panjang dan perlahan, namun ia merupakan jalan yang tercepat dan sekaligus tersingkat.

Maka aku katakan. “Mereka belum pernah terasakan pengalaman yang telah kami rasakan di Mesir. Oleh karena, itu biarkan saja mereka mencoba … karena aku yakin, mereka tidak akan mendengar nasihatku ketika mereka tengah berada dalam puncak optimisnya.”

Maka tatkala nampak hasil pemilu, runtuhlah seluruh optimismenya. Seingatku, dia kembali menemui Akh ‘Ali. Dalam pembicaraannya ketika itu, terlihat betapa dia sangat terpukul, sebagaimana yang diceritakan Akh ‘Ali kepadaku. Namun aku tidak ingat detail permasalahan yang dia bicarakan, karena aku tidak hadir dalam pertemuan itu.

***

Dari Libya ada juga ikhwan yang datang untuk menemuiku pada bulan Agustus tahun ini, sepekan sebelum aku ditangkap. Mereka bertiga, satu di antaranya bernama Al-Fatih, sedang yang lain aku tidak ingat namanya. Sebelumnya, Akh Thayyib Syin—sebelum pergi—memberitahukan kepadaku mengenai keinginan Akh Al-Fatih untuk bertemu denganku. Sebenarnya sudah sangat lama dia berangan-angan untuk bisa berkunjung menemuiku ketika aku masih berada dalam penjara. Mungkin, dia akan datang pada akhir bulan Juli.

Benar saja, kami akhirnya bertemu. Aku menemui mereka di hotel tempat mereka singgah, yaitu hotel Atlas. Ketika itu mereka bersama Akh Mabruk. Pertanyaan yang pertama kali mereka ajukan adalah mengenai apa sebenarnya yang terjadi pada kasus Al-Mansyiyah pada bulan Oktober 1954? Mereka tidak percaya jika itu dilakukan oleh Ikhwan, karena tersirat dari apa yang mereka dengar bahwa mustahil bagi orang yang berakal untuk melakukan tindakan sejauh itu hanya dengan sebuah pistol. Maka aku katakan kepada mereka bahwa info yang kami terima, peristiwa itu adalah skenario yang dimainkan oleh Shalah Dasuqi dan seorang mayor jenderal—keduanya akhirnya mati di Iskandariyah, serta seorang lagi yang sampai sekarang belum kami ketahui.

Sementara itu, saudaraku Muhammad Quthb telah ditangkap dua atau tiga hari sebelum aku bertemu dengan mereka. Mereka menanyakan tentang penangkapan itu dan di mana dia ditangkap? Namun aku tidak tahu di mana dan kenapa dia ditangkap? Karena sejauh yang aku tahu, sepanjang hidupnya, dia tidak pernah bergabung dengan tanzhim, lembaga, partai atau jamaah apa pun. Aku sampaikan kepada mereka bahwa kemungkinan besar aku juga akan ditangkap, karena melihat semakin meluasnya penangkapan itu. Indikasinya, penangkapan itu akan mencakup seluruh anggota Ikhwan.

Ketika pembicaraan sampai pada masalah skenario dibalik kasus 26 Oktober di penjara Al-Mansyiyah—yang diperankan oleh Sayyid Shalah Dasuqi dan seorang mayor jenderal yang akhirnya mati di Iskandariyah, serta seorang lagi yang belum diketahui namanya, juga kecolongannya Ikhwan dalam kasus tersebut, maka terungkap pula kekhawatiran akan terulangnya skenario yang sama. Pihak mana pun bisa melakukannya dengan cara membujuk pemerintah agar melakukannya terhadap Ikhwan, terutama dari unsur-unsur Komunis, yang ketika itu telah diisukan akan membuat beberapa aksi yang akan dituduhkan kepada Ikhwan.

Sementara itu, Akh Al-Fatih hendak pergi mengunjungi Libanon dan Yordan. Dia mengatakan, bahwa di sana dia bermaksud hendak menemui Ustadz Isham Athar dan Ustadz ‘Abdurrahman Khalifah. Akan dia sampaikan berita tentang berbagai penangkapan, kasus Al-Mansyiyah, serta kekhawatiran akan terulangnya skenario yang sama. Aku pun tidak melarangnya. Hanya aku katakan padanya, bahwa untuk menguak misteri di batik kasus Al-Mansyiyah diperlukan pembahasan dan penelitian. Maka cukuplah hal ini sebagai pengetahuan dan tidak disebarluaskan dulu sampai kami memiliki data yang lengkap. Kecuali jika nanti muncul skenario yang sama terhadap Ikhwan—yang dilakukan oleh pihak mana pun, maka ketika itu barulah ini disebarluaskan.

Aku sempat mendengar kabar, bahwa beberapa bukuku akan ditarik dari peredaran dan tidak boleh diterbitkan lagi. Maka aku katakan padanya, jika hal ini terjadi, aku izinkan kepada penerbit mana pun di luar untuk menerbitkan buku-buku tersebut tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadaku. Pada kesempatan tersebut, mereka mengatakan bahwa mereka berencana akan membuat perpustakaan dan percetakan di Libya. Mereka menganggap ucapanku ini merupakan izin bagi mereka. Selain itu, mereka juga akan membuka cabang di Beirut, karena di sana merupakan pasar bebas yang tidak ada persyaratan apa pun untuk melakukan eksport-import. Maka semuanya aku serahkan kepada mereka apabila terjadi apa yang sebelumnya aku dengar dari beberapa pemilik perpustakaan yang berniat untuk tidak menerbitkan beberapa bukuku.

Mereka menawarkan untuk membayar sejumlah uang sebagai uang muka untuk penerbitan buku-buku tersebut, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para penerbit. Karena ini dilakukan sebelum waktunya, maka aku berterima kasih kepada mereka. Kami pun meninggalkan permasalah-permasalahan ini ketika kegiatanku sudah berjalan. Namun aku katakan kepada mereka: Jika ini semua berjalan, maka serahkan hasil penerbitan buku tersebut kepada keluargaku. Karena Muhammad telah ditangkap, maka kusebutkan kepada mereka nama keponakanku Rif’at atau Azmi. Supaya masing-masing mereka dapat menerima hasil penerbitan buku-bukuku tersebut sebagai penggantiku. Menurut perkiraanku, mereka berdua tidak akan ditangkap, karena keduanya bukan anggota tanzhim baru dan bukan pula anggota jamaah Ikhwanul Muslimin.

Ada juga seorang Ikhwan dari Suriah yang datang berkunjung sesaat setelah aku bebas dari penjara pada tahun lalu. Mengenai orang ini, tidak ada yang tersisa dalam ingatanku selain hanya samar-samar, itupun aku telah bekerja keras mengingat-ingatnya. Akan tetapi, mungkin nanti aku bisa bertanya kepada Akh Ali ­Isymawi. Mungkin dia ingat namanya—dan aku kira dia mengetahuinya, meskipun aku tidak yakin betul. Yang bisa aku ingat sekarang adalah bahwa orang tersebut datang dari Suriah dan hendak pergi ke Inggris untuk meneruskan sekolah di sana, dimana sebelumnya dia belajar di Mesir dan telah selesai.

Dia menyampaikan salam dari Ustadz ‘Isham Al-‘Athar—pimpinan Ikhwanul Muslimin di Suriah—dan ucapan selamat atas kebebasanku. Dia sedikit berceritatentang posisi Ikhwan di Suriah, dan adanya kemungkinan akan mendapat serangan dari orang-orang Ba’ats (sosialis). Dia bertanya, apakah aku punya saran untuk mereka? Seingatku aku katakan kepadanya, “Aku tidak bisa memberikan saran tertentu untuk kasus tertentu, karena itu adalah tugas orang-orang yang menghadapi kasus dan situasi secara langsung. Merekalah yang lebih paham tentang kasus-kasus tersebut. Akan tetapi, aku hanya bisa memberikan arahan secara umum untuk setiap anggota Ikhwan dan setiap harakah Islamiyah. Yaitu, agar mereka tidak larut dengan berbagai kasus yang tengah terjadi dan jangan sampai terhanyut dalam berbagai manuver partai maupun politik. Sebab, kita memiliki ladang garapan lain yang lebih luas dan lebih jauh jangkauannya ke depan meski pun lambat dan lama. Yaitu ladang membangun Islam dari sisi aqidah, nilai, moral, dan tradisi-tradisi Islam di tengah-tengah masyarakat, hingga Allah mengizinkan—dengan kerja keras dan kesabaran yang panjang—tegaknya sebuah sistem (pemerintahan) Islam.

Aku menyaksikan sendiri betapa Ikhwan di Suriah itu sangat jauh terlarut dalam persoalan-persoalan politik, dan sedikit perhatiannya terhadap tarbiyah. Ketika itu dia memberi alasan padaku, “Jika kami tidak ikut serta dalam politik, kami akan terpinggirkan oleh unsur-unsur kekuatan rakyat lainnya, sehingga akan mudah bagi partai Ba’ats (sosialis) untuk memukul kami.”

Aku katakan kepadanya. “Setelah mengamati berbagai kasus yang pernah terjadi, aku yakin bahwa pukulan terhadap Ikhwanul Muslimin dan terhadap harakah-harakah Islam lainnya tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor lokal. Akan tetapi justru disebabkan oleh skenario Kolonial Zionis dan Salibis yang telah terlatih mengolah situasi, sehingga pukulan yang mereka lakukan itu seolah-olah disebabkan oleh faktor lokal. Harus kita pertimbangkan juga bahwa musuh-musuh kita, musuh-musuh Islam, dan musuh-musuh harakah Islamiyah yang berada di luar itu lebih banyak daripada yang ada didalam.

Setelah itu, Ustadz ‘Isham meninggalkan Suriah dan pergi ke Libanon. Seingatku. dia menceritakan kepadaku mengenai Ustadz Sa’id Ramadhan dan kekecewaan ikhwan Suriah serta ikhwan Libanon terhadap langkah-langkahnya Karena dia tidak bermusyawarah kepada mereka mengenai langkah-langkah yang dia tempuh. Dia melangkah sendirian meskipun dia berada di tengah-tengah mereka. Dia singgah di hotel-hotel dan mengunjungi orang-orang yang tidak mereka sukai untuk dikunjungi, karena mereka lebih tahu dengan situasi negeri dan orang-orang yang ada di dalamnya. Akan tetapi, dia tidak mendengarkan saran-saran mereka. Padahal dalam tradisi ikhwan, orang yang mengunjungi suatu tempat maka ia berada dalam tanggung jawab penduduk dan qiyadah setempat.

Setiap kali mereka mengkritisi beberapa hal yang dialakukan, dia hanya menjawab bahwa dia telah mendapat izin dari Jamaah. Ikhwan Suriah ini menanyakan, apakah memang Ustadz Sdid benar-benar telah diberi wewenang untuk mengambil langkah-langkah sendiri? Maka aku jawab, “Aku sama sekali tidak mengetahui persoalan-persoalan semacam ini—dan memang demikian adanya, apalagi aku baru saja keluar dari penjara. Dan tipeku sendiri memang tidak suka turut campur dalam urusan-urusan semacam ini ….”

Sekarang aku juga ingat bahwa ikhwan dari Yordan tadi (Dr. Abdurrahman …) yang aku ceritakan telah mengunjungiku. Dia bercerita juga kasus seperti ini kepadaku mengenai Ustadz Said Ramadhan. Aku pun memberikan jawaban yang sama kepadanya.

***

Setelah aku keluar dari penjara tahun lalu. Sayyidah Khairiyah Az-Zahawi datang mengunjungiku. Dia adalah anak perempuan dari Akhi Ustadz Syaikh Az-Zahawi-ulama besar Iraq, dan tujuan kedatangannya adalah untuk berobat serta konsultasi kepada dokter. Kepadaku dia menyampaikan salam dan ucapan selamat daripamannya yang mulia. Ustadz Amjad, serta kegembiraannya atas kebebasanku. Sebelumnya dia merasa gelisah mendengar berita-berita yang dia dengar mengenai kondisi kesehatanku yang memburuk di dalam penjara, dan bahkan terkadang mendengar isu dengan kematianku.

Sayyidah Khairiyah juga bercerita, bahwa Ustadz Amjad membicarakan diriku dengan Presiden Abdussalam `Arif, dan menyanggupi untuk mengupayakan keringanan kepada Presideii Jamal Abdul Nashir. Bahkan dia sendiri telah berpikir untuk itu, karena bukuku Fi Zhilalil Qur’an menjadi teman kesepiannya ketika mendekam di dalam penjara.

Benar saja, dia memintakan keringanan untukku, dan alhamdulillah dikabulkan. Kemudian dia pulang dari Kairo. Setelah turun dari pesawat, dia langsung meminta seseorang untuk menemui yang mulia Syaikh Amjad. Dan mengabarkan kepadanya atas keberhasilan misinya dalam memintakan keringanan untuk Sayyid Quthb.

Mendengar berita itu, gembiralah Syaikh Amjad beserta seluruh saudara dan anak-anaknya yang berada di Majlis Ulama Iraq. Aku pun berterima kasih kepada Sayyidah Khairiyah atas kunjungannya tersebut, dan aku meminta kepadanya agar menyampaikan terima kasihku kepada Syaikh Amjad dan menanyakan kondisi kesehatan beliau. Karena Sayyidah Khairiyah memberitahuku. bahwa dia tidak dapat keluar dari rumah karena penyakit parah yang dideritanya.

Sayyidah Khairah menginap di rumah kami selama dua hari. Dan ketika dia berangkat, dia mengirim surat kepada saudara perempuanku Aminah Quthb setelah sekian lama dia pergi. Dalam surat itu, dia menyampaikan salamnya dan salam dari sepupu perempuannya, yakni anak perempuan dari Syaikh Amjad. Dia juga menyampaikan berita bahwa pamannya itu sakit keras dan dia menyampaikan salam dan doanya kepada kami.

***

Setelah keluar dari penjara, aku dikunjungi oleh duta Iraq di Al-Jumhuriyah Al-Arabiyah Al-Muttahidah (Persatuan Republik Arab, mungkin yang dimaksud Liga Arab–pent.). Dia menyampaikan salam dari presiden ‘Abdussalam ‘Arif kepadaku. Menurutnya, presiden merasa sangat gembira karena telah berhasil memintakan keringanan untukku kepada presiden Jamal Abdun Nashir. Dia menanyakan tentang kesehatanku dan mungkin juga ada permintaan yang bisa dia lakukan. Duta presiden itu menceritakan bahwa buku Fi Zhilalil Qur’an telah menjadi penghiburnya dalam kesepian ketika dia dipenjara di era Abdul Karim Qasim. Maka aku ucapkan terima kasih kepada duta tersebut atas kunjungannya dan aku meminta dia agar menyampaikan ucapan terima kasihku kepada presiden Irak itu.

Tiada sesuatu pun yang aku pinta kecuali satu hal saja, yaitu agar dia meneruskan usaha-usahanya yang baik, karena ini merupakan problematika seluruh Ikhwanul Muslimin. semoga Allah senantiasa memberikan taufiq (bimbingan-ed.) kepadanya. Duta itu pun berjanji untuk menyampaikannya kepada presiden Iraq.

Tatkala presiden ‘Abdussalam Arif mendatangi pertemuan puncak, aku kirimkan sebuah telegram kepadanya yang berisi salam dan ucapan terima kasih. Dia pun membalasnya dengan mengirim surat kepadaku, namun surat tersebut tidak sampai kepadaku. Aku baru mengetahui hal itu belakangan.

Pada tahun ini, Duta tersebut kembali datang mengunjungiku. Sekarang dia telah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Pengajaran—sebelum akhirnya menjadi sekretaris dalam Majlis Bersama untuk Persatuan Dengan Republik Arab. Dia membawa sebuah hadiah kartu dari presiden Arif untukku. Ketika berbincang-bincang ringan, aku baru tahu bahwa presiden telah membalas telegramku. Namun tidak aku katakan kepadanya bahwa surat balasan itu tidak sampai ke tanganku.

Setelah itu aku kirimkan kumpulan buku-bukuku dalam satu jilid sebagai hadiah untuk Presiden Arif dan sekumpulan lagi untuk menteri tersebut. Hadiah itu kukirimkan melalui kedutaan Iraq di Kairo. Kami telah sepakat bahwa setelah selesai dijilid, buku-buku itu akan segera dikirim ke kedutaan, dan dia sendiri yang akan mengirimnya.

Aku juga dikunjungi oleh Sayyid Dhiya’ Syait Khathab—seorang hakim dari Iraq, untuk mengucapkan selamat kepadaku. Dia juga mengabarkan upaya Presiden Abdussalam Arif untuk memintakan keringanan untukku. Selain itu, dia juga menceritakan kegembiraan rekan-rekanku di Iraq—yang tidak aku kenal—dari kalangan pemuka agama, pemikir, dan ulama atas kebebasanku yang disiarkan di berbagai surat kabar Iraq. Dia menceritakan tentang pribadi Presiden ‘Abdussalam Arif yang taat beragama, begitu juga orang tua dan seluruh anggota keluarganya.

Setelah itu, keponakannya juga mengunjungiku. Seingatku namanya adalah Hazim. Dia menyampaikan salam dari pamannya yang kedua, yaitu Mayor Jenderal Mahmud Syait Khathab. dengan membawa buku tulisannya yang berjudul Muhammad Al-Qaid (Muhammad Sang Panglima), sebagai hadiah darinya untukku. Maka aku pun memintanya agar menyampaikan ucapan terima kasihku kepada Syait Khathab. Dan aku hadiahkan beberapa bukuku kepadanya.

Kira-kira enam bulan kemudian, aku menerima surat dalam bentuk kaset rekaman dari Kantor Siaran Saudi yang dilampiri transfer uang sejumlah 143 junaih (pound) di Bank Bursa’id. Disebutkan dalam surat tersebut, bahwa uang ini merupakan royalti dari radio Saudi yang menyiarkan pembacaan hadits-hadits yang diambil dari bukuku Fi Zhilalil Qur’an pada bulan Sya’ban dan Ramadhan 1385 H.

Sebelumnya aku sudah tahu bahwa radio Saudi menyiarkan hadits-hadits yang diambil dari bukuku sejak beberapa tahun yang lalu. Maka ketika telah ditetapkan sejumlah bayaran tertentu untuk masa waktu tertentu, aku pun meminta royalti, baik untuk siaran yang telah lalu maupun yang akan datang. Dan ini merupakan hakku sebagai penulis.

Namun sebelum menerima dan meminta sisa-sisa royalti tersebut. aku beritahukan hal ini kepada penyidik, agar di kemudian hari tidak disalah pahami. Sesuai dengan rencana, aku pun menemui Letnan Kolonel Mahmud Al-Ghimrawi, lalu kutunjukkan kepadanya surat dan bukti transferan tersebut. Juga aku sampaikan kepadanya perihal keinginanku untuk meminta hakku. Maka aku putuskan untuk membuat catatan mengenal materi yang akan disiarkan. Supaya catatan itu dapat disimpan dalam arsip mereka sebagai ganti dari pembicaraan lisan yang tidak memungkinkan untuk dirujuk ketika dibutuhkan. Maka aku tulis catatan itu dan aku berikan kepadanya. Dia setuju untuk memberikan bayaran tersebut dan akan menyerahkan sisanya kepadaku.

Aku pun menerima royalti tersebut dan menulis surat kepada Menteri Informasi Saudi. Dalam surat tersebut aku jelaskan mengenai tema hadits-hadits tersebut. Dan aku meminta agar membayarkan sisa royalti yang merupakan hakku selama pihak radio telah menetapkan untuk membayar siaran untuk jangka waktu tertentu, selama tidak ada perbedaan dengan waktu-waktu lainnya. Gambaran surat itu juga aku perlihatkan kepada penyidik.

Akan tetapi aku tidak pernah menerima jawaban secara resmi, baik dari Departemen Informasi Saudi maupun dari stasiun radio. Justru aku mendapat informasidari Akh Abdul Fattah Ismail dan dari Hj. Zainab Al-Ghazali. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari beberapa orang yang pulang haji tahun ini—aku tidak tahu siapa mereka—bahwasanya di sana telah diputuskan untuk memberikan royalti secara khusus untuk siaran-siaran yang telah lalu kepadaku. Sementara siaran-siaran yang masih berlangsung akan dikirim bayarannya dengan cara yang sama dengan pengiriman bayaran sebelumnya. Namun dari semua itu, tidak ada satu pun yang terrealisasi.

***

Ketika berlangsung Kongres Ulama di Kairo tahun ini, aku dikunjungi oleh seorang utusan dari Al-Jazair dalam kongres tersebut. Namanya adalah (aku tidak ingat namanya, tapi Hj. Zainab Al-Ghazali mengetahuinya, karena dia yang menelponku untuk membuat kesepakatan waktu berkunjung). Ikhwan ini memaparkan kepadaku mengenai kondisi dan situasi di Al-Jazair dari sisi aliran-aliran aqidah. Dia mengatakan, tidak diragukan lagi bahwa pondasi dari revolusi Islam itu adalah aqidah. Rakyat secara keseluruhan berhaluan Islam—meskipun sebagian mereka tidak memahami hakikatnya. karena kolonial Prancis yang menjajah dalam rentang waktu yang sangat lama berupaya keras menjauhkan masyarakat dari agamanya.

Di sisi lain, saat ini di tingkat atas ada gerakan beraliran komunis yang  tengah menyebarkan paham sosialisnya dengan berkedok wawasan sosial dan ekonomi. Sementara itu, tidak ada gerakan Islam yang berupaya menghadangnya, karena para syaikh dan para pemberi nasihat di sana berpikiran tradisional. Sehingga mereka tidak mampu mengimbangi gerakan-gerakan komunis tersebut. Oleh karena itu. dia sangat khawatir bila masyarakat disesatkan dengan cara-cara seperti ini. Begitulah keadaannya sebelum terjadinya revolusi Al-Jazair terakhir.

Dia memintaku agar aku menulis untuknya sebuah penjelasan singkat mengenai sistem sosial Islam dan cara-cara untuk mewujudkan keadilan sosial. Dia berharap tulisan itu bisa membantu dirinya dan juga ikhwan-ikhwan di sana dalam menghadang gerakan-gerakan Komums tersebut. Aku katakan kepadanya, “Aku punya tiga buku mengenai tema ini, yaitu: Al-Adalah Al-ljtima’iyah Fil Islam (Keadilan Sosial Dalam Islam), As-Salam Al-Alami Wal Islam (Perdamaian Dunia dan Islam), dan Ma’rakatul Islam War Ra’samaliyah (Pertarungan Antara Islam dan Kapitalisme).” Selain itu, Ustadz Al-Maududi juga memiliki beberapa buku yang membahas hal itu, dan aku sebutkan kepadanya judul-judulnya.

Namun ikhwan itu mengatakan, bahwa bukan ini yang dia minta. Yang dia minta adalah catatan ringkas yang dapat dibaca oleh orang-orang yang bisa berbahasa Arab, kemudian akan diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis karena mayoritas para pemikir di sana tidak dapatmembaca kecuali bahasa Prancis. Adapun buku-buku tersebut tidak ada yang dapat membacanya selain para pemikir yang memiliki wawasan bahasa Arab secara sempurna, sementara jumlah mereka sedikit sekali. Akupun menjanjikan kepadanya untuk menulis penjelasan singkat tersebut. Akan tetapi—yang aku tahu, dia keburu pergi sebelum aku menulis tema yang dia inginkan tersebut.

Aku juga dikunjungi oleh mufti Troblus Libanon, namun aku tidak ingat namanya. Mungkin namanya Ju Zu, dia ditemani oleh Mayor Jenderal Sa’ad (menurut perkiraanku, dia adalah sekretaris pembantu dalam mu’tamar Islam) dan Ustadz Jamal As-Sanhuri. Dia menjelaskan kepadaku mengenai pentingnya usaha untuk menghidupkan mu’tamar Islam dengan seluruh kegiatannya. Serta menjauhi perselisihan gerakan-gerakan politik antar negara Arab. Dia juga mengatakan, bahwa mereka mengunjungiku karena mereka butuh bantuan dan ingin meminta pendapatku mengenai masalah ini.

Mereka juga punya proyek membuat majalah untuk mu’tamar yang diterbitkan dan dijelaskan di dalamnya mengenai misi-misi dan tema-temanya. Aku pun membacanya, dan aku sampaikan kepadanya beberapa komentar dan usulan yang mereka setujui juga. Akhirnya mereka pulang dengan niatan untuk kembali lagi kepadaku, setelah menyelesaikan tahapan-tahapan penerbitan majalah dan memulai kegiatan yang rill untuk mu’tamar. Inilah akhir dari pertemuan itu….

Aku juga ingat bahwa selain semua hubungan tersebut, aku juga mendapat beberapa kiriman surat ucapan selamat atas kebebasanku dari penjara. Diantaranya dikirim dari anggota Dewan Ulama India dan juga dari Jamaah Islamiyah Pakistan. Semuanya berbahasa Inggris. Namun saat ini, aku tidak ingat nama-nama pengirimnya, kecuali seseorang yang bernama Ghulam Ahmad—yang menurut perkiraanku, dia iniadalah pimpinan Jamaah Islamiyah di Karachi (sementara Ustadz Al-Maududi sebagai pimpinan Jamaah, masih dipenjara). Satu lagi namanya Ash-Shiddiqi dan satu lagi dari Dewan Ulama India yang menurut perkiraanku dia adalah deputi (wakil) Dewan Ulama tersebut.

Pada surat yang pertama atau pada salah satu dari surat-surat yang datang dari Pakistan, seingatku isinya mengucapkan selamat atas kebebasanku bersama orang-orang yang bebas bersamaku (karena dia menyangka bahwa amnesti itu diberikan kepada seluruh tahanan Ikhwanul Muslimin). Pembebasan ini dilakukan setelah sepuluh tahun dari penahanan. Dimana pada saat itu. Jawaharlal Nehru Al-Hindi (India)—seorang penyembah berhala trinitas (berkeyakinan bahwa tuhan itu tiga dalam satu, mirip dengan keyakinan orang-orang Nasrani) dan sebagian lagi menyembah sapi, namun memberi amnesti untuk orang-orang yang menzhalimi dan melukainya, sehingga mereka tidak dipenjara. Akan tetapi, negara-negara Islam tidak memberikan toleransi semacam ini, padahal setiap muslim itu berada di bawah perlindungan Allah, baik dia dipenjara atau bebas.

Pada surat yang kedua (yakni surat dari Shiddiqi), setelah dia memberikan ucapan selamat, dia memberitahukan bahwa dua buah bukuku tengah dalam proses cetak setelah diedit terjemahannya ke dalam bahasa Urdu (sebelumnya bukuku yang berjudul Al-Adalah Al-ljtima’iyah telah diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu dan diedarkan di Pakistan). Dia juga memiliki ide untuk menerjemahkan kedua buku tersebut ke dalam bahasa Inggris, karena mayoritas pemikir di Pakistan dan India berbicara dan membaca dengan bahasa Inggris. Kemudian Shiddiqi mengatakan permintaan maafnya, karena sampai sekarang jatah penulis dari hasil penerbitan buku Al-Adalah Al-ljtimaiyah yang telah diterbitkan sejak beberapa tahun lalu itu belum juga dikirim. Sebab, hasilnya tidak sesuai dengan yang diperkirakan. Mereka menjual buku tersebut dengan harga yang murah, sehingga keuntungannya pun tak begitu banyak. Harapan mereka hanyalah agar buku tersebut dapat beredar secara luas. Maka dengan diterbitkan dua buah buku berikutnya, diharapkan hasilnya sesuai dan akan dikirimkan Namun, sampai detik ini, semua itu tidak terwujud sama sekali.

Sementara pada surat yang ketiga, yang datang dan dewan ulama India. Setelah menyampaikan ucapan selamat, mereka mengungkapkan keinginan mereka untuk pertukaran pikiran antara aku dengan mereka. Karena alangkah baiknya jika kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia ini saling bertukar pikiran untuk tujuan persatuan, dan pembersihan dari kesalahan serta penyimpangan.

Namun, aku tidak memiliki waktu untuk menjawab semua surat ini, baik yang datang dari India maupun dari Pakistan. Sebab, surat-surat tersebut datang belakangan. Selain itu, antara aku dengan mereka tidak ada hubungan selain surat yang mereka kirim tersebut, padahal aku tidak menyimpannya.

Dan aku tidak ingat lagi apakah masih ada hubungan-hubungan lainnya selain apa yang telah kusebutkan dalam lembaran-lembaran di atas.

ISLAM ADALAH SISTEM HIDUP YANG SEMPURNA

Hubungan-hubungan Lain Dalam Negeri

Di atas telah aku jelaskan hubungan-hubungan yang aku jalin dengan ikhwan yang berada di dalam penjara atau di luar penjara setelah aku bebas. Dimana dalam hubungan-hubungan tersebut dibicarakan mengenai jamaah dan harakah. baik dari dekat maupun dari jauh… Selain apa yang telah aku sebutkan di atas. tidak ada yang aku ingat selain kunjungan Muhammad Abdul ‘Aziz Athiyah pada tahun ini ketika aku di Ra’sul Barr. Dia bersama seorang yang berasal dari Dimyath, namun dia tinggal di Iskandariyah. Namanya “… Mukmin”, dan seorang lagi dari Libya yang aku tidak tahu namanya. Dari pembicaraannya, terlihat dia tidak memiliki hubungan dengan harakah Islamiyah ataupun pemikiran Islam. Ketika mereka berkunjung, Akh Ali Al-‘Isymawi dan istrinya ada bersamaku—seingatku, setelah menikah, dia tinggal selama hari di Ra’sul Barr.

Muhammad ‘Abdul ‘Aziz mengatakan, bahwa dia mendengar kalau Sayyid Zakariya Muhyiddin berbicara dengan beberapa ikhwan tentang masuknya ikhwan kedalam Al-Ittihad Al-Isytiraki (Persatuan Sosialis) dalam rangka membendung aliran Komunis—atau perkataan semacam itu, tepatnya aku tidak ingat lagi. Dia juga mendengar bahwa Sayyid Zakariya telah mengunjungi Al-Mursyid Hasan Al-Hudhaibi untuk membicarakan persoalan ini, atau membangun kembali Jamaah dengan sebuah bentuk tertentu untuk misi ini. Ketika itu aku katakan kepadanya bahwa aku tidak percaya dengan isu tersebut, karena setahuku, Sayyid Zakariya Muhyiddin datang ke mu’askar (camp) milik para pimpinan pemuda Karena dia ada di Halwan untuk beberapa minggu.

Hal itu dia lakukan setelah para pemuda menyayangkan dirinya, karena isi dari ceramahnya dalam mu’askar tersebut dan mayoritas pembicaranya berpandangan komunis dan menyebarkan pemikiran Marksisme berkedok sosialisme. Sebagiannya malah menyinggung permasalahan aqidah Islam dengan secara tidak langsung. Dia juga mengatakan kepada para pemuda itu, bahwa negara ini bukan negara komunis dan pemikiran apa pun tidaklah mengindikasikan kecuali mengenai jati diri para pemilik pemikiran tersebut. Selain itu, dia juga berbicara dengan Dr. Kamal Abul Majid-salah seorang pembicara yang mewakili pemikiran Islam mengenai penyebaran pemikiran Islam di dalam tubuh Al-Ittihad Al-Isytiraki (Persatuan Sosialis), atau mengenai cara mewujudkan pemikiran Islam di dalam Al-Ittihad Al-Isytiraki, atau sesuatu yang semacam ini.

Berita ini disampaikan oleh seorang pemuda dari desaku yang bernama Asy-Syadzili’, seorang guru di Ma’had Mu’allimin Asyuth. Dia termasuk salah seorang pimpinan pemuda yang datang ke mu’askar Halwan, dan dia menyampaikan kasus ini ketika dia mengunjungiku pada waktu dia berada di Halwan. Bersama itu, dia membawakan satu bendel ceramah yang disampaikan kepada mereka, yang semuanya—atau sebagian besarnya—mereka kaji dan mereka diskusikan. Maka ketika aku tahu bahwa ceramah-ceramah darinya tersebut disampaikan dalam mu’askar, aku mencium adanya bau-bau komunis yang sangat kental—meskipun yang dijadikan kedok adalah sosialisme. Sampai-sampai mereka tidak mau mengatakan ‘Sosialis Arab’ terhadap kasus-kasus yang terjadi di Republik Arab. Akan tetapi,yang mereka katakan adalah ‘Implementasi Arab Sosialis’, supaya yang menjadi dasar itu sosialisme Karl Marx. Sementara yang terjadi di Mesir itu hanyalah implementasi yang dikendalikan sesuai dengan kondisi yang ada di Republik Arab. Maka aku meminta kepadanya agar bendel tersebut dia tinggalkan untukku selama beberapa waktu agar dapat aku baca, setelah itu akan aku kembalikan kepadanya. Dan begitulah yang terjadi.

Ketika aku sampaikan kepadanya beberapa catatan tersebut—yakni bahwa ceramah-ceramah tersebut didominasi oleh warna komunis—dia mengatakan kepadaku, bahwa memang itulah yang akhirnya memicu kontroversi di tengah-tengah para pelajar. Dan bahwa Sayyid Zakariya Muhyiddin telah datang dan mengatakan apa yang tadi aku sebutkan.

Akan tetapi, katanya kemudian, para pemuda yang mendengarkan ceramah-ceramah tersebut—meskipun mereka memprotes, mereka tidak memiliki pemahaman Islam yang sebenarnya ketika aqidah Islam disinggung secara terang-terangan dalam diskusi. Oleh karena itu, mereka pun terpengaruh dengan ceramah-ceramah tersebut. Sebagai akibatnya, pemikiran-pemikiran yang disampaikan dalam ceramah-ceramah tersebut melandasi pemikiran mereka selanjutnya, meski mereka tetap memiliki semangat terhadap aqidahnya ketika aqidah tersebut disinggung secara terang-terangan. Dan akhirnya, timbullah keraguan pada pemikiran para pemuda tersebut, antara dukungan emosionalnya dengan pola pemikirannya.

Ini semua adalah koreksi yang benar dan tepat. Apalagi jika ditambah dengan dominasi pemikiran Komunis dan kerusakan akhlak yang disebar-luaskan melalui surat-surat kabar secara umum. Terutama majalah Ath-Thalah, majalah Al-Katib, majalah Ruzul Yusuf, dan majalah Shabahul Khair yang menciptakan iklim dan situasi sebuah pemikiran yang tidak mungkin dapat dibendung hanya dengan menggunakan gerakan kecil bergaya tradisional yang mewakili pemikiran Islam. Sehingga menjadikan pertarungan ini berjalan tidak seimbang—yang secara nyata, gerakan pemikiran materialis atheis dan gerakan kerusakan akhlak berada di atas angin.

Hubungan Dengan Kalangan di Luar Ikhwanul Muslimin

Pada akhir tahun 1960, ketika aku berada di penjara Liman Turoh, kondisi kesehatanku semakin memburuk, sedangkan pengobatan di rumah sakit penjara Liman Turoh tidak ada gunanya lantaran minimnya peralatan medis di sana. Ketika itu aku mendengar dari ikhwan-ikhwan bahwa keluarga H. Husain Shidqi di Al-Ma’adi adalah keluarga yang selalu mengikuti berita kesehatanku. Dan mereka juga membaca beberapa bukuku. Akhirnya mereka memperkenalkan diri dan menyatakan keinginannya untuk membantu memindahkanku ke rumah sakit pusat mana pun.

Aku tidak mengerti secara pasti, apa yang menyebabkan mereka memberikan perhatian seperti ini, sementara kami belum pernah saling kenal sebelumnya. Apakah memang karena mereka membaca beberapa bukuku? Ataukah karena mereka memiliki hubungan dengan Hj. Zainab Al-Ghazali—yang dikenal sebagai orang yang memberikan banyak bantuan kepada keluarga-keluarga (ikhwan yang ditahan–pent.) yang tidak memiliki sumber penghasilan. Ataukah karena mereka memiliki hubungan dengan Syaikh Al-Audin? Kemudian aku mengetahui, bahwa mereka juga mendengar buruknya kondisi kesehatanku, dan bahkan aku hampir mati ataukah karena semua faktor tersebut? Namun tidak ada sedikit pun bantuan yang terealisasi. Yang terjadi setelah itu adalah kondisi kesehatanku semakin memburuk dan kedokteran bagian urusan penjara meminta agar aku dipindahkan ke rumah sakit pusat.

Selain itu, dokter yang bertugas dalam satu kepanitiaan dengan pimpinan dokter untuk urusan penjara memutuskan hal ini, sehingga aku pun dipindahkan ke rumah sakit pusat Manil. Setelah diperiksa, hasilnya menunjukkan adanya pendarahan hebat pada paru-paru. Hal ini tidak dapat dideteksi di rumah sakit penjara, karena minimnya fasilitas alat pemeriksaan dan tidak tersedianya dokter spesialis jantung di sana. Bahkan kondisi itu sudah merembet ke paru-paru, lambung, dan penyakit-penyakit lainnya. Aku tinggal di rumah sakit Manil selama enam bulan, kemudian aku kembali ke rumah sakit penjara. Tahun berikutnya kesehatanku kembali memburuk, sehingga aku dibawa kembali ke rumah sakit Manil. Disana aku tinggal enam bulan lagi, kemudian aku dikembalikan ke rumah sakit penjara. Dan ketika kondisi kesehatanku memburuk lagi yang ketiga kalinya, keluarlah amnesti kesehatan untukku sehingga aku pun bebas.

H. Husain Shidqi datang bersama keluarganya untuk mengunjungiku dan memberikan ucapan selamat kepadaku. Ketika itulah mereka menceritakan kepadaku tentang perhatian Syaikh Al-Audin mengenai berita-berita kesehatanku. Mereka juga menceritakan kepadaku bahwa Syaikh Al-Audin ini adalah seorang yang bertakwa, wara’, dan zuhud sebagaimana generasi sahabat. Sebelumnya aku sendiri tidak mengenal beliau. Beliau sendiri menderita sakit pergeseran tulang rawan, sehingga tidak dapat berpindah dan bergerak. Oleh karena itu, aku putuskan untuk mengunjunginya untuk mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.

Pada saat itu, aku telah mengenal Hj. Zainab Al-Ghazali. Aku bertemu dengannya pertama kali di rumah H. Husain Shidqi dalam jamuan makan siang, kemudian di rumahnya—juga dalam jamuan makan siang setelah aku bebas. Dan kunjungan ke Syaikh Al-Audin yang pertama kali aku lakukan bersama H. Husain Shidqi beserta keluarganya. Hj. Zainab Al-Ghazali. dan seingatku juga dengan saudaraku Muhammad Quthb. Kami pergi dengan menggunakan kereta milik H. Husain.

Dan seingatku aku melakukan kunjungan kepada Syaikh Al-Audin sebanyak dua atau tiga kali. Sekali bersama Muhammad dan sekali aku datang sendirian. Pada saat berkunjung dengan Muhammad, Syaikh Al-Audin juga dikunjungi oleh satu orang lagi yang tidak beliau kenalkan kepada kami. Dan Dr. Mudhhir Asyur datang untuk mengetahui tentang orang tersebut, kemudian dia pergi.

Ketika aku berkunjung sendirian, beliau sempat menyesalkan para pemuda di negeri ini yang rnulai menjauh dari agamanya dan rusak akhlaknya. Maka aku berkata untuk menenangkannya, “Di sana masih tersisa sejumlah pemuda yang baik dan taat menjalankan agamanya, berjuang untuk agamanya, dan berakhlak dengan akhlak Islam. Mereka ini juga sisa-sisa pemuda yang akan membawa kebaikan.” Ketika itu aku tunjukkan kepadanya kelompok yang bekerja bersamaku tanpa memberitahukan apa pekerjaan mereka secara jelas. Maka dia pun meminta kepadaku untuk meyakinkan dirinya akan adanya sisa-sisa pemuda tersebut. Maka aku pun meyakinkan kepadanya mengenai apa yang telah aku katakan kepadanya. Lalu dia bertanya, “Apakah Engkau memiliki hubungan dengan sisa-sisa pemuda yang baik itu?” Jawabku. “Ya, aku yang membimbingnya dan mereka menerima arahan-arahanku.” Maka dia rnengatakan, “Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu, karena engkau telah membuatku tenang.-Dan dia pun mendoakanku agar mendapat taufiq.

Pembicaraan yang terjadi ketika itu masih bersifat global dan tidak lebih hanya memberi isyarat akan adanya sisa-sisa pemuda yang baik itu. Di tengah-tengah pembicaraan itu dia mengatakan, “Dahulu pernah aku katakan kepada Syaikh Hasan (yang beliau maksud adalah Hasan Al-Banna), ‘Janganlah kalian masuk ke dalam urusan-urusan politik. Cukuplah kalian membina generasi Islam di dalam negeri ini. Akan tetapi berbagai peristiwa menggulungnya. Dan akhirnya Ikhwanul Muslimin pun digulung. Kerusakan merajalela. Para pemuda terjauh dari agama dan akhlak Islam.” Saat itulah aku katakan kepadanya mengenai adanya sisa-sisa pemuda yang masih komitmen dan memperjuangkan Islam … secara global sebagaimana yang telah aku katakan.

Hubungan-hubungan Lain

Selama delapan bulan aku di Kairo, antara masa aku bebas dengan aku ditangkap untuk yang kedua kalinya -karena enam bulan sisanya pada tahun lalu dan ini aku habiskan di kediaman musim panas di Ra’sul Barr, untuk menghindari hawa panas yang senantiasa mengancam jantung dan paru-paruku, aku dikunjungi oleh banyak rombongan. Sebagiannya adalah kenalan-kenalan lamaku yang tidak memiliki hubungan dengan harakah-harakah Islam. Akan tetapi, yang menjalinkanku dengan mereka adalah hubungan-hubungan sastra dan pemikiran atau kepribadian. Namun mayoritas mereka adalah para pemuda yang telah membaca buku-bukuku, baik yang berasal dari negara-negara Arab dan negara-negara Islam secara umum maupun yang berasal dari Mesir. Mereka semua belum pernah mengenalku sebelum aku dipenjara, karena kebanyakan mereka adalah para pemuda yang masih belia yang berumur antara dua puluh sampai tiga puluh tahun. Dimana sebelum aku dipenjara. Mereka adalah para remaja yang masih kecil yang tidak memiliki hubungan denganku.

Kunjungan mereka ini banyak membahas persoalan-persoalan yang mereka baca dari buku-bukuku atau buku-buku orang lain atau hal-hal yang berkaitan dengan berbagai peristiwa yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Semua pembicaraan berlangsung secara terbuka dan tidak terbatas untuk orang-orang tertentu, serta diikuti oleh semua orang yang hadir di situ tanpa terkecuali. Sebagian mereka pamitan keluar, sebagian lagi tetap tinggal dan datang lagi pengunjung-pengunjung baru demikian seterusnya.

Perkenalan nama dalam kunjungan-kunjungan semacam ini hanya dilakukan secara sekilas saja dan tidak menjadi perhatian. Sebab tujuan dari kunjungan-kunjungan mereka tersebut adalah ingin berkenalan dengan seseorang yang telah mereka dengar, mereka baca tulisan-tulisannya, mereka diskusikan pemikiran-pernikirannya, dan mereka ingin mencari penjelasan mengenai pemikiran-pemikiran tersebut. Sementara bagi saya, kunjungan-kunjungan tersebut saya gunakan untuk mengenal pemikiran para pemuda generasi sekarang yang sebelumnya belum pernah aku bertemu mereka. Selain itu, aku juga ingin menjelaskan pemikiran-pemikiranku kepada mereka, sesuai dengan kesempatan yang ada pada pertemuan yang sangat heterogen dan tidak teratur itu. Dimana pertemuan tersebut memang terbuka untuk semua orang yang ingin berkunjung.

Meskipun demikian, kondisi semacam ini tidak menghalangiku untuk merasakan adanya beberapaorang di antara mereka yang memiliki keinginan dan niat yang tulus untuk mengabdi kepada agamanya. Mereka ikhlas bertanya dalam rangka mencari tahu dan ingin memahami Islam yang benar. Akan tetapi, masalahnya bukan hanya sampai di situ: mengenal orang tanpa menghafal nama khususnya memang karena ingatanku tidaklah kuat dalam menghafal nama sejak aku belum sakit. Ini sudah dipahami oleh kawan-kawanku. Aku hanya cukup menghafal bentuk rupa dan kepribadian. Padahal diharapkan di antara mereka ada ‘biji besi’ yang dapat dibina, dibentuk, dan digabungkan ke dalam barisan pergerakan pada masa yang akan datang. Akan tetapi, ketika itu aku sibuk dengan tanzhim yang telah terbentuk, dan aku tidak menghendaki ada seseorang yang bergabung dengannya sampai tanzhim tersebut terbentuk sesuai dengan kualitas yang aku inginkan. Bahkan para pemuda ikhwan yang telah bergabung dengan tanzhim sekalipun, sering aku katakan kepada pimpinan-pimpinan tanzhim ini bahwa mereka itu tergesa-gesa untuk membentuk tanzhim. Selain juga mereka terlalu tergesa-gesa dalam merekrut banyak anggota tanzhim tersebut, sehingga tidak memungkinkan untuk di-tarbiyah lantaran banyaknya jumlah anggota tanzhim. Padahal menurut pemikiranku, pergerakan ini harus dimulai dari individu-individu dan satu persatu.

Inilah gambaran secara umum hubunganku dengan para pemuda tersebut—yang secara bergelombang dan berbondong-bondong, mereka mengunjungiku pada masa itu. Sebagian mereka berasal dari Mesir dan sebagian lagi dari Luar Mesir. Suatu hubungan yang tidak memperhatikan soal nama dan personal, selain hanya sebatas niat untuk kepentingan di masa yang akan datang. Selain itu, pada masa itu aku juga sibuk mengurusi tanzhim yang belum selesai aku persiapkan sebagaimana yang aku inginkan. Sementara aku belum ingin menambah jumlah anggotanya—dan justru jika bisa. Aku ingin menguranginya. Belum lagi kondisi kesehatanku yang buruk, sehingga kemampuanku menjadi sangat terbatas, dan aku tidak ingin mengurasnya untuk orang-orang baru kecuali hanya sepintas saja. Dan ditambah kesibukanku untuk menulis dan mempersiapkan beberapa buah buku, serta membaca referensi-referensi yang diperlukan.

Supaya gambarannya jelas, aku katakan bahwa mayoritas mereka itu datang berdua, bertiga, atau berempat, baik mereka orang Mesir atau bukan. Dan yang aku pahami dari pembicaraan mereka, mereka membaca secara bersama-sama atau mereka membaca secara bergantian. Maksudnya, mereka itu saling bertukar pikiran dengan seseorang atau lebih. misalnya dengan kawan-kawan mereka.

Akan tetapi, aku tidak pernah mendengar lebih dari itu. Aku tidak pernah menyarankan kepada seorang pun untuk membuat perkumpulan atau tanzhim. Peranku hanyalah mengarahkan tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan di masa mendatang, dan agar mereka bergabung dengan barisan yang tengah berjuang. Aku tidak menambah apa pun, lantaran waktunya yang sangat sernpit dan banyak kesibukan. Kondisinya tidak lebih dari apa yang telah kuceritakan.

Aku ingin gambaran tentang hal ini jelas dan dipahami sebagaimana adanya. Sebagaimana yang telah aku katakan sebelumnya—sarna sebagaimana yang dikatakan oleh Akh ‘Ali Al-lsymawi—bahwa aku juga menyimpan beberapa orang atau beberapa kelompok yang terpisah-pisah yang tidak aku gabungkan dengan tanzhim. Inilah yang aku maksudkan dan jangan sampai hal ini dipahami tidak sebagaimana mestinya. Aku menyimpan mereka hanya sekadar untuk memberikan saran kepada mereka dan karena mereka adalah orang-orang yang telah siap untuk masuk dalam barisan untuk masa yang akan datang. Hal itu aku simpulkan dari pembicaraan dan pertanyaan mereka, apa yang mereka baca dan apa yang mereka pahami, serta apa yang nampak pada pembicaraan mereka yang serius, ikhlas,dan penuh kesiapan. Juga berdasarkan hubungan yang telah mereka jalin denganku.

PENUTUP

Inilah hal-hal penting yang dapat aku ingat untuk saat ini, mengenai kegiatanku di dalam gerakan Islam semenjak aku bergabung dengan barisan Ikhwanul Muslimin. Jika masih ada rincian atau sisi lainnya, maka bisa ditanyakan kepadaku.

Sekarang, tinggal kata penutup yang ingin aku sampaikan. Aku tidak peduli apakah sekarang ini engkau dapat memahaminya secara benar atau tidak, karena kewajibanku adalah menyampaikan. Yaitu beberapa poin singkat sebagai berikut:

1. Perlakukan keras terhadap Ikhwanul Muslimin pada tahun 1954, yakni peristiwa di penjara Al-Mansyiyah adalah skenario yang dibuat untuk menghancurkan mereka dan bukan skenario yang mereka buat. Tindakan semacam ini hanya diperlakukan kepada Ikhwanul Muslimin dan tidak diperlakukan kepada orang lain atau kelompok lain yang dituduh hendak melakukan kudeta untuk menggulingkan pemerintah, atau dituduh melakukan tindakan mata-mata, atau yang lainnya. Kekerasan yang berupa penyiksaan, pembunuhan, pengusiran, dan penghancuran rumah. Kekerasan inilah yang mendorong munculnya ide perlawanan dengan kekuatan jika hal itu terulang kembali. Seandainya kami tahu, bahwa penangkapan itu hanya sekadar penangkapan yang akan berakhir dengan proses pengadilan yang adil dan dihukum sesuai dengan undang-undang—meskipun berdasarkan hukum positif buatan manusia sekalipun—tentu tidak akan ada seorang pun yang berpikir melakukan perlawanan dengan kekuatan. Dan aku mengerti,bahwa tidak akan ada gunanya aku sampaikan kenyataan ini pada saat ini. Akan tetapi, ini adalah sebuah kenyataan yang harus terekam dalam kata-kataku yang terakhir ini.

2. Di antara hal yang tidak perlu diragukan lagi adalah bahwa penghancuran terhadap Ikhwanul Muslimin dan gerakan-gerakan Islam yang ada di kawasan Timur Tengah itu merupakan proyek Kolonial Zionis dan Salibis. Dan ini merupakan salah satu cara untuk menghancurkan aqidah dan akhlak di kawasan timur tengah. Mereka membuat berbagai macam usaha dan konspirasi untuk mencapai misi mereka ini. Seandainya mereka melakukan cara lain untuk menghadapi Ikhwanul Muslimin selain cara yang mereka gunakan pada tahun 1954 atau yang mereka gunakan sekarang ini, tentu strategi Kolonial Zionis dan Salibis di kawasan timur tengah ini akan hancur sebagai ganti atas hancurnya harakah Islamiyah. Sebab kesalahan apa pun yang ditimpakan kepada harakah tersebut, ia adalah gerakan yang menghadang gerakan materialis kafir dan kerusakan moral yang mulai menjalar setelah gerakan sekuler Ataturk di Turki dan berbagai dampak yang ditimbulkannya di kawasan timur tengah.

3. Serangan terhadap Ikhwanul Muslimin pada tahun 1954 itu disusul dengan gelombang kerusakan moral (akhlak) dan pemikiran sekulerisme. Dan serangan terhadap Ikhwanul Muslimin sekarang ini akan disusul dengan gelombang yang lebih besar. Hanya Allah sajalah yang tahu batas ujungnya. Maka siapakah yang diuntungkan dengan kehancuran ini? Yang jelas, yang diuntungkan bukan negeri ini, bukan pula pemerintah yang tengah berkuasa dalam waktu yang lama dan memiliki pandangan yang jauh. Karena semua negara di dunia ini—terutama negara yang baru tumbuh dalam tahapan-tahapan percobaan-nya—membutuhkan unsur-unsur yang berpegang kuat dengan aqidah dan akhlak supaya menjayakannya dan menjaganya. Tidak hanya sekadar membutuhkan kekuatan. Terlebih lagi musuh-musuh yang sebenarnya bagi kawasan timur tengah ini adalah orang-orang yang pada akhirnya akan berjalan lebih mudah dalam menghadapi suatu masyarakat yang telah rusak aqidah dan akhlaknya. Meskipun pada saat ini. telinga ini belum siap mendengar kata-kata seperti ini. Namun aku memiliki kewajiban untuk menyampaikan dan melepaskan tanggung jawab dengan cara mengatakannya.

Beberapa kali aku pernah mendengar orang yang mengatakan: Apakah yang Islam itu hanya kalian saja? Apakah kalian tidak merasa cukup dengan kongres Islam, program nurun ‘ala nurin (cahaya diatas cahaya), orang-orang melaksanakan shalat dimasjid-masjid, pergi haji dan seterusnya?

Harus aku katakan bahwa Islam itu lebih besar dari ini semua … Islam adalah aturan hidup yang sempurna. Islam itu tidak tegak kecuali dengan tarbiyah dan pembentukan individu. Kecuali dengan menegakkan syariat Allah di dalam kehidupan manusia setelah mereka di-tarbiyah secara Islami. Islam itu bukan sekadar pemikiran yang disebarluaskan tanpa dilaksanakan dalam realita yang nyata, yang pertama pada tarbiyah dan yang terakhir pada sistem kehidupan dan negara. Sementara itu, harakah Ikhwanul Muslimin adalah gerakan yang paling berhasil dalam melakukan tarbiyah dan (persiapan). Dan sesungguhnya, kesalahan apa pun yang mereka lakukan di tengah perjalanan, sama sekali tidak dapat dijadikan alasan untuk menghancurkannya. Terlebih lagi bila kesalahan itu muncul sebagai reaksi atas sebuah kesalahan dalam memperlakukannya.

Pada tahun 1952, aku pernah berkeinginan untuk melakukan tindakan yang sama dalam Hai-atu Syababit Tahrir (Lembaga Pembebasan Kaum Muda). Pada awalnya, aku yang mendominasi pemikiran di dalamnya. Akan tetapi di akhirnya, kemenangan ada di pihak pemikiran Jam’iyatul Fallah Al-Amrikiyah (Organisasi Kaum Tani Amerika). Orang-orang yang hanya mau mencari keuntungan dan kelompok-kelompok oportunis yang menghendaki Haiatut Tahrir (Lembaga Pembebasan) dengan bentuk yang sangar cemerlang, namun bertentangan dengan apa yang telah kami sepakati sebelumnya. Maka tinggal Ikhwanul Muslimin, satu-satunya gerakan yang melaksanakan peran ini.

Sesungguhnya, Islam itu tidak akan tegak di sebuah negara yang di dalamnya tidak terdapat gerakan tarbiyah, yang pada akhirnya berwujud sebagai sistem Islam yang menjalankan hukum berdasarkan syariat Allah.

Inilah kata-kata terakhir dari seseorang yang tengah menyongsong Wajah Allah dengan mengikhlaskan hati dan menyampaikan dakwahnya sampai akhir hayatnya.

Wassalamu ‘ala manit taba’al huda (salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti kebenaran).

Penjara Militer, 22 Oktober 1965

Sayyid Quthb

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: