Perbedaan Antara At Takfiir Al Mutlaq (Kufrun Nau’ ) Dan Takfiiru Mu’ayyan ( Kufrul ‘Ain ).

Syaikh ‘Abdul Qoodir Bin ‘Abdul ‘Aziiz

At takfiirul mutlaq adalah menjatuhkan hukum
kepada sebabnya saja (yaitu perkataan atau perbuatan
kufur). Maka dikatakan: orang yang mengatakan begini
kafir dan orang yang berbuat seperti ini ia kafir. Dengan
demikian maka at takfiirul mutlaq adalah mengetahui
hukum secara umum tanpa menjatuhkan hukum kepada
orang tertentu meskipun ia telah melakukan penyebab
kekafiran tersebut. Dan at takfiirul mutlaq adalah yang
telah kita bicarakan dalam fakroh-fakroh sebelumnya
dalam kaidah takfiir.
Adapun takfiirul mu’ayyan adalah menghukumi
(memvonis) kafir kepada orang tertentu yang melakukan
penyebab kekafiran (yaitu perkataan atau perbuataan
kekafiran), hal ini selain harus berdasarkan apa yang
telah dijelaskan di atas — yaitu meneliti kekafiran pada
perkataan atau perbuatan — ditambah lagi dengan
memperhatikan apakah orang tersebut benar-benar
benar-benar telah melakukan hal yang menjadi penyebab
kekafiran tersebut dan tidak terdapat mawaani’ul ahkaam
(penghalang hukum) pada dirinya.
Dengan kata lain dapat kita katakan bahwa
perbedaan antara dua macam di atas adalah :
Bahwa at takfiirul mutlaq adalah menghukumi
perbuatan dan dalam hal ini hanya memperhatikan satu
perkara saja yaitu penyebab kekafiran yaitu dengan
terpenuhunya syarat untuk di anggap sebagai mukaffir
dari sisi dalil syar inya dan dari sisi perbuatannya sendiri
yang qoth’iyud dalaalah.
Adapun takfiirul mu’ayyan adalah menghukumi
pelaku, dalam hal ini yang perlu dilihat adalah dua
masalah; yaitu hukum perbuatan itu sendiri
sebagaimana di atas dan melihat kepada keadaan
pelakunya yang mencakup menetapkan perbuatan itu
sendiri dan tidak terdapatnya maani’ul hukmi
(penghalang vonis / hukum) pada orang tersebut.
Dan melihat kepada cara pembuktian dan
mawaani’ takfiir (penghalang-penghalang vonis kafir)
adalah tema pembahasan alinea-alinea berikutnya.
4. Perkataanku –– dalam kaidah takfiir –– yang
berbunyi [dibuktikan dengan cara pembuktian yang
sesuai dengan syar’iy] maksudnya adalah pembuktian
perkataan atau perbuatan kafir yang menjadi sebab
kafirnya pelakunya. Jelasnya itu masuk kedalam kaidah
yang berbunyi “Memberlakukan Hukum Di Dunia
Berlandaskan Dhohir”.
Sesungguhnya perkataan dan perbuatan seorang
mukallaf di dunia itu tidak divonis dengan hukum yang
berlaku di dunia kecuali telah dibuktikan dengan cara
yang telah dijelaskan oleh syari’at. Cara itu dinamakan
‘thuruqul itsbaat asy syar’iyyah’ (cara pembuktian secara
syar’iy), yang diantara bentuknya adalah pengakuan
pelaku dan kesaksian para saksi. Sedangkan nishoob
(jumlah) kesaksian satu masalah berbeda dengan
masalah lain. Oleh karena itu jika perkataan atau
perbuatan itu sebelum dibuktikan dengan pembuktian
yang sesuai dengan syar’iy dan secara syah, maka ia
tidak terkena hukum tersebut (baca: sebenarnya ia
melakukan perbuatan yang mengharuskan untuk
mendapatkan vonis hukum, namun ia tidak divonis
sebelum melalui tata cara pembuktian syar’iy). Maka
barangsiapa berzina akan tetapi menurut tata cara
pembuktian syar’iy tidak terbukti, maka secara hukum
syar’iy dia tidak divonis berzina meskipun pada
hakekatnya dia berzina, dan Alloh akan membalas
perbuatanya itu, kecuali jika Alloh mengampuninya
karena dia bertaubat atau karena terhapus dengan amal
sholihnya atau karena mendapat safa’at. Adapun murtad
— yaitu mengatakan atau melakukan kekafiran — dapat
dibuktikan dengan salah satu dari dua cara, yaitu:
pengakuan pelaku atau kesaksian dua orang muslim
yang ‘aadil (punya sifat ‘adaalah / bisa dipercaya). Ini
adalah pendapat mayoritas ulama dan tidak ada yang
menyelisihkan kecuali Al Hasan, beliau mensyaratkan 4
orang saksi untuk memvonis murtad seseorang, karena
hukuman murtad itu adalah dibunuh, hal ini dikiyaskan
dengan zina. Namun Ibnu Qudaamah menyanggahnya
karena illah (sebab) jumlah saksi zina itu bukanlah
terletak pada hukuman bunuhnya, karena orang yang
tidak muhshon (belum kawin) pun jumlahnya saksinya 4
orang (padahal hukumnya bukan dibunuh-pent), dengan
demikian jelaslah perbedaanya. Lihat Al Mughniy
ma’asy Syarhil Kabiir 10/99.
Dan kesaksian terhadap kemurtadan juga harus
detil sebagaimana yang dikatakan Al Qoodliy
Burhaanud Diin bin Farhuun Al Maalikiy: ”Kesaksian
kemurtadan seseorang secara global tidak diterima,
misalnya seseorang mengatakan si fulan telah kafir atau
murtad, akan tetapi harus detail apa yang mereka dengar
dan apa yang mereka lihat dari orang tersebut, karena
bebtuk-bentuk kekafiran itu diperselisihkan, kadang
mereka meyakini kekafiran padahal buakn kekafiran.”
Tabshirotul Hukkaam II/244.
Lalu apakah kemurtadan itu dapat dibuktikan
berdasarkan kemasyhuran yaitu kesaksian banyak orang
tanpa mendengar atau melihat secara langsung dari
pelakunya?. Dalam hal ini terjadi perselisihan pendapat.
Ibnul Qoyyim berkata: “Menghukumi dengan
berlandaskan kemasyhuran, adalah tingkatan antara
mutawaatir (orang yang sangat banyak yang tidak
mungkin berdusta) dan ahaad (perorangan).
Kemasyhuran adalah apa yang banyak yang
dibicaraakan orang — sampai beliau mengatakan — dan
tingkatan ini lebih kuat daripada kesaksian dua orang
yang diterima kesaksianya.” Ath Thuruq Al Hukmiyyah
tuliasan Ibnul Qoyyim hal. 212 terbitan Al Madaniy.
Dan kaji juga Fat-hul Baariy V/254 Majmuu’ Fataawaa
XXXV / 312-314. diantara contoh kesaksian berdasarkan
kemasyhuran adalah kejadian yang diceritakan Ibnu
Katsiir dalam ceritanya pada tahun 741 H. beliau
mengatakan: ”Kemudian pada hari selasa 21 dzul qo’dah
dihadapan ‘Utsmaan Ad Dakaakiy Al Madzkuur ke
darus sa’adah dan diberdirikan dihadapan para
pemimpin dan hakim, dia ditanya tentang kekurangn
saksi, maka dia tidak mampu, lalu ditanyakan kepada
hakim yang bernadzhab Maalikiy tentang hukumanya,
maka dia memuji Alloh dan bersalawat lalu mejatuhkan
hukuman mati meskipun bertaubat. Maka Al Madzkuur
diambil dan dipenggal lehernya di Damaskus dipasar
kuda dan diumumkan; Inilah hukuman yang
bermadzhab Ittihaadiyyah. Pada hari itu disaksikan di
Darus Sa’aadah yang dihadiri kelompok syaikh, dan
juga dihadiri Syaikh kita Jamaalud Diin Al Miziy dan Al
Haafidz Syamsud Diin Adz Dzahabiy, keduanya
berbicara dan mengobarkan semangat tentang masalah
itu keduanya bersaksi atas kezindikan Al Madzkuur
karena kemasyhuranya. Dan begitu pula Syaikh Zainud
Diin saudara Ibnu Taimiyyah, maka keluarlah tiga
hakim seorang bermadzhab Hanafiy, seorang
bermadzhab Maalikiy dan seorang bermadzhab
Hambaliy, mereka melaksanakan hukuman Al
Madzkuur di dalam majlis tersebut dan mereka
menyaksikanya, dan aku menyaksikanya secara
langsung semua itu dari awal sampai akhir. Al Bidaayah
Wan Nihaayah XIV / 19. .
Inilah tata cara menetapkan hukum murtad di
dunia, kadang seorang pada hakekatnya ia kafir namun
tidak dibuktikan hukum kafir di dunia. Orang semacam
ini hisabnya diserahkan kepada Alloh (pada hari
tersingkap seluruh rahasia, ia tidak mempunyai
kekuatan atau penolong). Jika dia mati di atas
kekafiranya dan tidak bertaubat maka dimasukan neraka
kekal di dalamnya. Tidak semua orang yang pada
hakekatnya kafir dapat dibuktikan dan divonis kafir di
dunia, hal ini dapat dijelaskan dengan empat keadaan
berikut :
A. Apabila seseorang menyembunyikan
keyakinan kafirnya dan tidak menampakannya dalam
perkataan maupun amalanya, yaitu kufur dengan
keyakinan saja seperti mendustakan hari kebangkiatan,
maka ia secara dlohir hukumnya adalah orang Islam
namun hakekatnya dia adalah kafir. Orang semacam ini
masuk golongan orang-orang munafiq nifaaq akbar. Dan
pada macam ini Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan jika
mereka menyembunyikan kemunafiqan dan tidak
mengatakanya, maka mereka itu adalah orang-orang
munafiq. Alloh berfirman :
ي  ح َ ذ  ر اْل  منافُِقو َ ن َأ ْ ن تنز َ ل  عَليهِ  م  سو  رٌة تنبُئ  ه  م بِ  ما فِي ُقُلوبِهِ  م ُقلِ
ا  ست  هزُِئوا إِنَّ اللَّه م  خرِ  ج ما ت  ح َ ذ  رو َ ن
Orang-orang yang munafiq itu takut akan diturunkan
terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang
tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka:
“Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Alloh dan Rosul-
Nya)”. Sesungguhnya Alloh akan menyatakan apa yang kamu
takuti itu.(Qs. At Taubah: 64).
Majmuu’ fataawaa XIII/57. Ayat ini menunjukan
kemunafiqan dalam hati mereka dan tidak ia tampakkan
dalam perkataan atau amalan yang nampak.
B. Apabila seseorang menampakan atau
perbuatan kafir, akan tetapi tidak seorangpun yang
melihatnya, maka secara hukum dlohir dia adalah
muslim pada hakekatnya dia kafir. Dan orang semacam
ini termasuk golongan orang-orang munafiq nifak akbar.
Dan orang semacam ini dan yang sebelumnya masuk
kedalam pengertian firman Alloh:
ومِ  م  ن  ح  وَل ُ ك  م مِ  ن اْلَأ  عرابِ منافُِقو َ ن  ومِ  ن َأ  هلِ اْل  مدِينةِ مردوا  عَلى
النَفاقِ َلا ت  عَل  م  ه  م ن  ح  ن ن  عَل  مه  م  سنعذِّب  ه  م مرتينِ ُث  م يردو َ ن إَِلى
 ع َ ذابٍ  عظِيمٍ
Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu,
ada orang-orang munafiq; dan (juga) di antara penduduk
Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafiqannya. Kamu
(Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang
mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali
kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang
besar.(Qs. At Taubah 9: 101)
C. Apabila seseorang menampakan perkataan
atau perbuatan kafir dan ada beberapa orang yang
melihatnya akan tetapi mereka tidak memberikan
kesaksian kecuali salah seorang dari mereka atau
seorang anak atau seorang perempuan, maka
kekafiranya tidak dapat dibuktikan karena tidak
memcapai masa nishob kesaksian terhadap kemurtadan
pada orang tersebut. Orang semacam ini secara dlohir
muslim pada hakekatnya ia adalah kafir. Orang
semacam ini diperbolehkan bagi hakim untuk
menghukumnya di bawah hukum had seperti penjara
atau cambuk atau yang lain, sesuai dengan kuatnya
kesaksian, misalnya yang memberikan kesaksian adalah
ulama’ yang adil (dapat dipercaya) lagi sholih namun ia
seorang diri. Lihat Tabshirotul Hukkaam tulisan Ibnu
Farhun II / 281.
Masuk bagian yang ketiga inilah kebanyakan
orang-orang munafiq pada zaman Nabi SAW,
sesungguhnya mereka mengatakan kekafiran di
kalangan mereka namun mereka tidak memberikan
kesaksian pada yang lain, sebagai mana yang dikatakan
Ibnu Taimiyyah : “Ia munafiq dalam hatinya, dan
mungkin menampakan kemurtadan bahkan
mengucapkan kemunafiqan terhadap kawan dekatnya.”
Majmuu’ Fataawaa XIII/54, dan kadang mereka
memperdengarkan seorang dari kaum muslimin lalu ia
bersaksi terhadap ia dengar namun kesaksianya tidak
cukup untuk menetapkan hukum. Sebagaimana
kesaksian Zaid bin Arqom terhadap ‘Abdulloh bin
Ubay bahwa ia berkata: ”Jika kita kembali ke madinah
pasti orang-orang mulia akan mengusir orang-orang
yang hina dari madinah.” Sebagaimana terdapat dalam
Shohiih Al Bukhoriy dan meskipun wahyu
membenarkan apa yang disaksikan Zaid namun Nabi
saw, tidak menghukum berdasarkan wahyu namun
dengan cara pembuktian syar’iy dan juga karena
perkataan orang-orang munafiq itu muhtamilud dalaalah
dan tidak jelas sebagaimana firman Alloh:
 وَلت  عرَِفن  ه  م فِي َل  حنِ اْلَق  ولِ
Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasankiasan
perkataan mereka (Qs. Muhammad 47: 30)
sedangkan kiasan adalah perkataan yang difahami
artinya dan tidak ditanyakan dengan jelas, hal itu
disebutkan Al Qurthuubiy.
Dan beginilah para ulama’ menjawab pertanyaan
kenapa rosululloh tidak membunuh orang-orang
munafiq? Ibnu Taimiyyah berkata: “Pada umumnya
mereka tidak mengtakan kekafiran yang perkataannya
cukup untuk dijadikan bukti, akan tetapi mereka
menampakan keislaman. Sedangkan kemunafiqan
mereka kadang diketahui dari kata-kata yang didengar
oleh seorang sahabat lalu disampaikan kepada Nabi
SAW, lalu orang-orang munafiq itu bersumpah dengan
nama Alloh bahwa mereka tidak mengucapkannya atau
atau kadang tidak bersumpah. Dan kadang nampak dari
keterlambatan mereka dari sholat dan jihad dan
keberatan mereka untuk mengeluarkan zakat danjuga
nampak dari ketidak senangan mereka pada banyak
hukum Alloh, dan umumnya mereka dapat diketahui
dari sindiran-sindiran mereka — sampai beliau berkata —
– kemudian semua orang munafiq itu menampakan
keislaman dan mereka bersumpah bahwa mereka itu
Islam, mereka menjadikan sumpah mereka sebagai
perisai. Maka jika mereka keadaannya seperti ini Nabi
SAW, tidak menegakan hukum had kepada mereka
hanya berdasarkan pengetahuan beliau atau
pemberitahuan seorang atau berdasarkan wahyu atau
petunjuk atau penguat sampai dibuktikan dengan
sebuah pembuktian yang dapat mengharuskan untuk
ditegakan had, dengan bukti atau pengakuan — sampai
beliau berkata — maka beliau tidak membunuh mereka –
— meskipun mereka kafir — karena kekafiran merka
tidak nampak dengan alasan yang dibenarkan secara
syar’iy. Dan yang menunujukan hal ini adalah bahwa
beliau tidak menyuruh mereka, bertaubat secara
perorngan padahal sudah maklum bahwa minimal orang
yang telah dinyatakan murtad dan zindiq ia disuruh
bertaubat sebagai mana orang murtad, jika ia tidak mau
bertaubat ia di bunuh. Dan kami belum pernah
mendengar bahwa beliau menyuruh mereka bertaubat
secara perorangan. Dengan demikian maka
sesungguhnya kekafiran dan kemurtadan mereka belum
bisa di tetapkan atas mereka dengan sebuah ketetapan
yang mengharuskan pembunuhan sebagaimana orang
murtad. Oleh karena itu keadaan lahiriyah merka
diterima dan kita serahkan hati mereka kepada Alloh.
Jika begini keadaan orang yang telah nampak
kemunafiqannya namun belum bisa dibuktikan dengan
berdasarkan pembuktian yang sesuai dengan syar’iy,
maka terlebih lagi orang yang belum tampak
kemunafiqannya?.” Ash Shoorimul Masluul hal 355-357.
dan Al Qoodliy ‘Iyaadl berkata:” hati orang-orang
munafiq itu tersembunyi, sedangkan Nabi SAW,
menghukumi secara dlohir. Sedangkan kata-kata
(kekafiran) itu kebanyakan mereka ucapkan secara
sembunyi-sembunyi dan bersama orang-orang munafiq
seperti mereka, dan jika ketahuan maka mereka
mengingkarinya dan bersumpah atas nama Alloh bahwa
mereka tidak mengatakanya padahal mereka telah
mengucapkan kata-kata kafir tersebut — sampai beliau
berkata — dan beginilah para imam kami kami dalam
menjawab persoalan ini.” Dan beliau berkata: “mungkin
belum nyata bagi beliau SAW, perkataan mereka yang
disampaikan, akan tetapi hanya disampaikan oleh
seseorang yang tidak sampai bisa diterima kesaksiannya
dalam permasalahan semacam ini, seperti kesaksian
seorang yang masih anak-anak atau budak atau
perempauan sedangkan darah tidak bisa ditumpahkan
kecuali dengan kesaksian dua orang yang ‘aadil
(mempunyai sifat ‘adaalah / bisa diterima kesaksiannya).
— sampai beliau berkata — dan begitu pula sahabatsahabat
kami dari Baghdad mengatakan: ‘Sesungguhnya
Nabi SAW, tidak membunuh orang-orang munafiq
hanya berdasarkan pengetahuan beliau atas
kemunafiqan mereka namun tidak ada bukti atas
kemunafiqan mereka , oleh karena itu beliau
membiarkan mereka.’ Asy Syifaa II/ 961-963, terbitan Al
Halabiy.
Dan begini pulalah Ibnu Taimiyyah menjawab
pertanyaan tentang sabda rosululloh SAW,
دعه لا يتحدث الناس أن محمدا يقتل أصحابه
Biarkanlah dia (orang munafiq) supaya orang tidak
mengatakan; Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya.
Dan ketika ‘Umar ingin membunuh ‘Abdulloh bin Ubay
atas kesaksian Zaid bin Arqom. Hadits tersebut
diriwayatkan oleh Al Bukhooriy (4905), Ibnu
Taimiyyah berkata: “Yang menghalangi Rosululloh
untuk membunuhnya adalah sebagai mana yang beliau
katakan yaitu supaya orang tidak mengatakan bahwa
beliau membunuh sahabat-sahabatnya, karena
kemunafiqannya tidak ada buktinya, dan dia telah
bersumpah bahwa dia tidak mengatakannya, akan tetapi
kemunafiqannya beliau diketahui dari wahyu dan dari
pemberitahuan Zaid bin Arqom.” Ash Shoorimul
Masluul hal. 354. dan Al Qoodliy ‘lyaadl mengatakan:
”Jika Nabi membunuh mereka lantaran kemunafiqan
dan apa yang keluar dari mereka serta pengetahuan
beliau terhadap apa yang mereka sembunyikan dalam
jiwa mereka, pasti orang-orang yang menghalangi
mendapatkan bahan pembicaraan, orang yang enggan
jadi ragu dan orang yang ngeyel akan melemahkan
keyakinan dan tidak mau bersahabat dengan Nabi SAW,
enggan masuk Islam, orang akan berprasangka yang
macam-macam dan musuh yang dzolim akan
menyangka bahwa pembunuhan itu disebabkan oleh
permusuhan — sampai beliau mengataka — hal ini beda
jika yang diberlakukan terhadap mereka adalah hukum
secara dhzohir seperti membunuh mereka karena
berzina, karena mereka membunuhorang dan hal yang
semacam itu karena hal-hal semacam itu adalah nampak
dan manusia sama-sama mengetahuinya. Asy Syifaa II /
964, terbitan al Halabi.
D. Apabila seorang menampakan perkataan
atau perbuatan kafir, dan dia mengakuinya dan ada dua
orang ‘adil (dapat dipercaya) yang bersaksi atas dirinya
atau yang lebih kuat dari padaitu atau kekufurannya itu
telah tersebar di kalangan manusia, maka perbuatannya
itu telah terbukti secara syar’iy dan syah, namun hal ini
belum cukup untuk menghukuminya kafir sampai
dilihat mawaani’ul hukmi (penghalang-penghalang vonis
/ hukum) padanya.
Inilah empat keadaan orang yang pada
hakekatnya kafir, namun tidak bisa dibuktikan telah
berbuat kafir di dunia kecuali dalam satu keadaan saja.
Dan inilah yang berkaitan dengan pembuktian secara
syar’iy.
Di sini ada satu tambahan yaitu apakah orang
yang mengetahuai kekafiran seseorang boleh
menganggapnya kafir — sebagaimana pada point C di
atas — namun ia tidak memungkinkan untuk
membuktikannya secara syar’iy kepada orang tersebut.
Jawabannya adalah; justru dia wajib untuk
menghukumi (memvonis) nya sebagai orang kafir akan
tetapi dengan dua syarat:
Pertama: ia adalah orang yang layak untuk
menghukuminya baik karena ia sendiri seorang mufti
atau karena ia telah minta fatwa kepada orang lain,
untuk membedakan antara kekafiran dan yang bukan,
dan untuk melihat kepada penghalang-penghalang
kekafirannya.
Kedua: ia tidak boleh menghukumnya dengan
hukuman yang menjadi hak Alloh seperti menghalalkan
harta dan darahnya karena kemurtadannya tidak dapat
dibuktikan dengan cara pembuktian syar’iy secara
sempurna karena kalau hal ini diperbolehkan pasti akan
menimbulkan kekacauan dalam menghalalkan darah
dan harta hanya berlandaskan tuduhan, akan tetapi
hendaknya dia menghukum orang tersebut dengan
selain itu seperti menjauhinya (hajr) tidak menikah
dengannya dan tidak menikahkan orang dengannya,
tidak menyolatkannya dan yang lainnya, sebagaimana
yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu’
Fataawaa XXIV / 285-287. dan Ibnu Taimiyyah berkata
tentang orang-orang munafiq: ”Dan Nabi SAW, pada
awalnya menyolatkan dan memintakan ampun mereka
sampai Alloh melarang beliau. Alloh berfirman:
ولا تصل على أحد منهم مات أبدا ولا تقم على قبره
dan jangan menyolatkan seorangpun dari mereka jika mati dan
janganlah kamu berdiri di atas kuburnya.
Dan juga Alloh berfirman:
استغفر لهم أو لا تستغفر لهم لن يغفر الله لهم إن تستغفر لهم سبع ين
مرة فلن يغفر الله لهم
mintakanlah ampun mereka atau jangan kau mintakan ampun,
jika kau mintakan ampun mereka 70 kali Alloh tidak akan
mengampuni mereka.
Maka beliau tidak menyolatkan mereka dan tidak pula
memintakan ampun akan tetapi darah dan harta mereka
tetap terjaga dan tidak halal sebagaimana halalnya orang
kafir yang tidak menampakan keimanan, akan tetapi
mereka menampakan kekafiran.” Majmuu’ Fataawaa
VII / 212-213. Dalil yang menunjukan seseorang bisa
menghukumi orang lain kafir, jika ia mengetahuinya
adalah firman Alloh
وا  ضرِ  ب َل  ه  م مَثًلا  ر  جَلينِ  جعْلنا لَِأ  حدِهِ  ما  جنتينِ مِ  ن َأ  عنابٍ
 و  حَف ْ فنا  ه  ما بِن  خلٍ  و  جعْلنا بين  ه  ما  ز  ر  عا .كِْلتا اْل  جنتينِ ءَات  ت ُأ ُ كَل  ها
 وَل  م ت ْ ظلِ  م مِنه  شيًئا  وَف  ج  رنا خَِلاَل  ه  ما ن  هرا.  و َ كا َ ن َله َث  مر َفَقا َ ل
لِ  صاحِبِهِ  و  ه  و ي  حاوِ  ره َأنا َأ ْ كَثر مِن  ك ماًلا  وَأ  عز نَفرا.  ود  خ َ ل  جنته
 و  ه  و َ ظالِ  م لِن ْ فسِهِ َقا َ ل ما َأ ُ ظ  ن َأ ْ ن تبِي  د  هذِهِ َأب  دا.  وما َأ ُ ظ  ن ال  سا  عَة
َقائِ  مًة  وَلئِ  ن  ردِ  د  ت إَِلى  ربي َلَأجِ  دنَّ  خيرا مِن  ها منَقَلبا. َقا َ ل َله
 صاحِبه  و  ه  و ي  حاوِ  ره َأ َ كَف  ر  ت بِالَّذِي  خَلَق  ك مِ  ن ترابٍ ُث  م مِ  ن ن ْ طَفةٍ
ُث  م  س  وا  ك  ر  جًلا.
Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua
orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya
(yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua
kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua
kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu
menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya
sedikitpun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun
itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata
kepada kawannya (yang mu’min) ketika ia bercakap-cakap
dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan
pengikut-pengikutku lebih kuat”.Dan dia memasuki kebunnya
sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku
kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak
mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di
kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat
kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”.Kawannya
(yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap
dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang
menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani,
lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna” (
QS. Al Kahfi: 32-37).
Orang yang pertama kafir karena ragu terhadap hari
kebangkitan dan yang lainnya mengkafirkan lantaran
keraguannya tersebut. Dan mereka hanya berdua saja
sebagaimana Alloh katakan. Dan contoh semacam ini di
kalangan salaf banyak, di antaranya adalah Imam Asy
Syaafi’iy yang mengkafirkan Hafsh sendirian di dalam
sebuah majelis perdebatan. Lihat Asy Syarii’ah tulisan
Al Ajurriy hal. 81, Syarhu I’tiqoodu Ahlis Sunnah
tulisan Abdul Qoosim Al Laalikaa-iy I / 252-253, Ibnu
Taimiyyah berpendapat bahwa Asy Syaafi’iy tidak
mengkafirkan Haf-sh akan tetapi mengatakan kafir
terhadap perkataannya, namun yang benar jika dilihat
dari pembicaraan keduanya tidak sebagaiman yang di
katakan Ibnu Taimiyyah. Lihat perkataan beliau dalam
Majmuu’ Fataawaa XXIII / 349.
Dan orang yang mengkafirkan orang lain ini tidak
boleh mengharuskan orang Islam lainnya,
mengkafirkannya selama mereka belum bisa
menetapkan sebagaiman dia dan selama orang yang
kafir tersebut kekafirannya belum dibuktikan secara
syar’iy dan syah.
Akan tetapi orang yang mengkafirkan orang lain
ini diperbolehkan orang lain untuk taqlid kepadanya
jika ia faqiih dan tsiqqoh (terpercaya) dan contohnya
adalah taqlidnya ‘Umar bin Khothoob kepada
Hudzaifah bin yaman dalam tidak menyolatkan orang
yang diketahui oleh Hudzaifah atas kemunafiqan
mereka berdasarkan pemberitahuan dari Nabi SAW,
kepadanya. Lihat Majmuu’ Fataawaa VII / 213 dan Al
Umm tulisan Asy Syaafi’iy VI / 166.
Dan bolehkah orang yang mengetahui kekafiran
seseorang untuknya mengumumkannya di kalangan
manusia meskipun orang yang kafir itu menutupi
kekafirannya? Jawabannya adalah; Ya, bahkan wajib
karena dikhawatirkan bahayanya, khususnya jika orang
kafir tersebut termasuk penyeru bid’ah atau orang yang
di ambil ilmunya atau dia hendak menikahi seorang
muslimah atau yang semacam itu karena din itu nasehat.
Dalam masalah ini Al Qoodliy ‘lyaadl mengatakan:
”Jika orang yang mengatakan perkataan itu orang yang
diambil ilmunya atau periwayatan haditsnya atau
dipegangi keputusannya atau kesaksiannya atau
fatwanya dalam kepemilikan, maka wajib bagi orang
yang mendengar perkataannya untuk menyebarluaskan
apa yang ia dengar dan menjauhkan manusia darinya
dan bersksi terhadap apa yang ia dengar, dan para
pemimpin muslimah yang mendengarkan kesaksian
tersebut wajib untuk mengingkarinya, menerangkan
kekafirannya dan kerusakan perkataannya, untuk
memutuskan bahayanya dari muslimin dan juga untuk
melaksanakan hak sayyidul muslimin (Nabi Muhammad).
Dan begitu pula jika orang yang melakukan kekafiran
tersebut orang yang suka memberi nasehat kepada
manusia atau mendidik anak-anak, karena
sesungguhnya orang yang seperti ini tidak bisa di
percaya untuk menanmkannya pada hati mereka. Maka
pada orang-orang semancam mereka lebih wajib demi
hak Nabi saw, dan hak syariatNya.” Asy Syifaa II / 997-
998. Inilah yang berkaitan dengan pembuktian secara
syar’iy yaitu menetapakan penyebab kekafiran pada
pelakunya secara syah.
5. Perkataanku — dalam kaidah takfiir — yang
berbunyi [jika telah terpenuhi syarat-syarat untuk di
vonis kafir]. Melihat kepada syarat-syarat ini harus
dilakukan sebelum menghukumi. Karena kaidah
menghukumi secara umum di dalam syariat adalah:
“Sebab itu akan mengakibatkan sebuah hukum
jika terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak terdapat
penghalang-penghalangnya.”
Hukum adalah menyatakan adanya atau tidak
adanya sesuatu pada diri orang lain. Dalam hal ini
adalah menyatakan kekafiran (murtad) pada diri
seseorang.
Sababul hukmi (penyebab hukum) adalah sesuatu
yang keberadaannya dijadikan oleh Syaari’ (pembuat
syariat) sebagai tanda akan adanya hukum, dan
ketidakadaannya sebagai tanda akan tidak tidak adanya
hukum.
Syarthul hukmi (syarat hukum) adalah sesuatu
yang keberadaan suatu hukum itu tergantung pada
keberdaannya, namun keberadaannya tidak mesti
menunjukkan adanya hukum tersebut akan tetapi
ketidakadaannya mengakibatkan tidak adanya hukum.
Dan syarat-syarat vonis kafir itu ada tiga macam:
A. Syarat-syarat pada pelaku: yaitu dia harus mukallaf
(berakal dan baligh) tahu bahwa perbuatannya itu
kafir, sengaja melakukannya dan ia melakukannya
denagan kemauannya sendiri.
B. Syarat-syarat pada perbuatan (yang menjadi sebab
hukum); yaitu perbutan tersebut merupakan
kekafiran tanpa syubhat, dan telah di jelaskan di atas
syaratnya yaitu; perbuatan orang mukallaf itu
shoriihud dalaalah, dan dalil syar’iynya juga shoriihud
dalaalah.
C. Syarat-syarat dalam menetapkan perbuatan mukalaf
tersebut; yaitu dengan cara yang syar’iy dan benar.
6. Perkataanku — dalam kaidah takfiir — yang
berbunyi [dan tidak terdapat mawaani’ut takfiir
(penghalang-penghalang untuk di vonis kafir) pada
orang tersebut] maksudnya adalah penghalangpenghalang
untuk dihukumi kafir.
Sedangkan yang dimaksud dengan maani’
(penghalang); adalah sesuatu yang keberadaannya
menyebabkan tidak adanya hukum dan
ketidakadaannya tidak mesti adanya hukum.
Dan ketahuilah bahwasanya dalam kaidah takfiir
diperbolehkan hanya menyebutkan syarat-syaratnya
saja, karena keduanya saling berkebalikan, sehingga
salah satunya mewakili yang lainnya. Sebagaimana yang
dikatakan Ibnul Qoyyim: “Dan diantara yang
memperjelas masalah adalah bahwa manusia bersepakat
bahwa syarat itu terbagi menjadi syarat yang harus ada
dan syarat yang harus tidak ada. Dengan kata lain bahwa
ada sesuatu yang keberadaannya menjadi syarat sebuah
adanya hukum dan ada sesuatu yang tidakadanya
menjadi syarat sebuah hukum. Dan ini disepakati oleh
para ulama’ ahli ushul fikih, mutakallimiin dan semua
kelompok. Oleh karena itu apa saja yang
ketidakadaannya itu menjadi syarat maka
keberadaannya menjadi penghalang (maani’). Dan apa
saja yang keberadaannya merupakan syarat maka
ketidakadaannya adalah penghalang (maani’). Dengan
demikian maka tidak adanya syarat merupakan
penghalang sebuah hukum dan tidak adanya
penghalang merupakan syarat adanya sebuah hukum.
wabillaahit taufiiq.”Badaa-i’ul Fawaa-id IV /12, terbitan
Daarul Kitaab Al ‘Arobiy.
Penghalang-penghalang yang menjadi syarat itu
ada tiga macam:
A. Penghalang-penghalang yang terdapat pada pelaku
yaitu keadaannya yang menjadikan seseorang tidak
bisa dihukumi perkataan dan perbuatannya secara
syar’iy, dan penghalang penghalang ini di sebut
sebagai ’awaaridlul ahliyyah (hal-hal yang menjadi
penghalang kelayakan).
B. Penghalang-penghalang yang terdapat pada
perbuatan (yaitu hal-hal yang menjadi penyebab
kekafiran) seperti perbuatannya itu tidak shoriihud
dalaalah (jelas maksudnya) terhadap kekafiran atau
dalilnya tidak qoth’iyyud dalaalah terhadap kekafiran.
C. Penghalang-penghalang yang terdapat pada proses
pembuktian hukum; seperti salah satu dari saksinya
tidak bisa di terima kesaksiannya karena masih kecil
atau tidak ‘aadil (tidak bisa di percaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: