Panduan dalam berjuang

Segala puji hanya milik Robbul ‘Alamin, dan sholawat serta salam semoga tercurah selalu kepada Nabi Muhammad, keluarga serta para sahabat beliau seluruhnya.

Amma ba’du…

Ketika kita berbicara mengenai kondisi yang dialami oleh umat Islam dewasa ini, berikut penjajahan, kedholiman dan permusuhan yang yang dilakukan oleh pasukan Israel dan pasukan Amerika terhadap mereka, belum lagi terpuruknya naungan Islam di muka bumi, maka sudah seharusnya mencari kembali petunjuk Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan agama ini, di saat Islam datang dalam keadaan masih terasing. [1]

Sesungguhnya orang yang mau mencermati hal itu, ia akan dapati bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sejak pertama kali sangat serius dalam menawarkan dakwahnya kepada para kabilah ketika beliau memulai dakwahnya terang-terangan.[2] Kalau kita mau melihat pada unsur terpenting yang beliau gunakan dalam berdakwah kepada para kabilah Arab tadi, kita akan temukan hal itu sangat jelas sekali, yaitu:

1. Bahwa beliau mengajak mereka kepada syahadat tauhid, bersaksi bahwa tiada ilaah (sesembahan yang haq) selain Alloh, dan bahwa Muhammad adalah utusan Alloh.[3]

2. Point yang lain adalah bahwa beliau menyeru mereka agar siap untuk melindungi dan membela.[4]

Sebagaimana hal itu tampak jelas pada dakwah beliau kepada Bani ‘Amir bin Sho’sho’ah, ketika mereka mengatakan kepada beliau: “Kepada apa engkau mengajak kami wahai saudara Arab?” beliau menjawab, “Aku mengajak kalian agar bersaksi behwasanya tidak ada ilaah kecuali Alloh dan bahwa aku adalah utusan Alloh, dan agar kalian siap melindungi dan membelaku.[5]

Di sini, tampak di hadapan kita sebuah pelajaran yang jelas, bahwa dakwah dan kalimat agung ini (kalimat syahadat) harus memiliki miliu (basis), pohon yang mulia ini harus ada tanah untuk tumbuh berkembang, dan itulah yang akan menolong dan memberikan tempat bagiku. Dari sinilah, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam terus mencari tanah (untuk miliu) ini. Di tengah-tengah pencarian itu, beliau berdakwah di Makkah dan tinggal di sana selama 13 tahun.

Semua ilmu yang kita miliki hanya sebagian kecil dari ilmu beliau ~ Alaihis-Shalatu was Salam ~ sedangkan beliau adalah orang Arab terfasih dan diberi Jawaami’ul Kalim (kemampuan untuk berbicara secara simpel tapi mengandung pengertian yang luas). Beliau adalah orang yang dikuatkan oleh wahyu dari atas langit yang tujuh, namun bersamaan dengan itu semua, tidak ada yang mau beriman kepada beliau selain beberapa puluh sekian dari kalangan sahabat yang mulia ~ semoga Alloh meridhai mereka ~.

Dari sini, tampak jelas juga bahwa kalimat ini meski memiliki kekuatan yang besar, ia tetap harus didukung oleh unsur-unsur lain supaya bisa mengayomi bumi. Kondisi terus bertahan seperti itu, sampai akhirnya Alloh ta’ala menganugerahkan bumi Madinah Munawwarah, dan Alloh anugerahkan kaum Anshor ~Kabilah Aus dan Khozroj~. Tatkala mereka melindungi dakwah, Islampun menyebar luas, dan dalam jangka beberapa tahun saja, ratusan ribu orang masuk Islam di Jazirah Arab, dan manusiapun berbondong-bondong masuk Islam.

Maka di sini ada sebuah pelajaran sebagaimana telah saya sebutkan; bahwa dakwah tanpa kekuatan hanya akan menjadi pecundang, dakwah ini wajib mencari kekuatan di bumi dan pelosok negeri. Makna ini tampak jelas di saat-saat seperti sekarang ini, sejak runtuhnya daulah Islam dan daulah khilafah serta bangkitnya aturan-aturan yang berhukum kepada selain yang diturunkan Alloh ~ yang itu pada hakekatnya adalah memerangi syari’at Alloh ~ meskipun banyak sekali terdapat universitas, sekolah, buku, para khatib, imam masjid dan orang-orang yang hafal Al-Qur’an, namun Islam tetap saja dalam kondisi lemah dan sangat memprihatinkan, sebab manusia tidak berjalan sesuai dengan manhaj Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Maka manhajnya adalah yang nampak jelas dan terang di hadapan kita, yaitu beberapa kriteria pasti yang nampak gamblang tercantum pada nash syari’at yang turun terakhir kali, Alloh ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيم

“Hai orang-orang beriman, barangsiapa murtad dari agamanya di antara kalian, Alloh akan datangkan kaum yang Ia mencintai mereka dan merekapun mencintai Alloh; lunak terhadap orang-orang beriman, keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Alloh dan tidak pernah takut celaan orang yang suka mencela. Itulah keutamaan Alloh yang Ia berikan kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah : 45)

Nash ini persis seperti kondisi kita :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa murtad dari agamanya di antara kalian…”

Ketika terjadi riddah, apa saja hal-hal yang harus dipenuhi guna mengembalikan manusia kepada Islam? Di sini Alloh menyebutkan enam sifat :

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai Alloh; lunak terhadap orang-orang beriman, keras terhadap orang-orang kafir.”

Maka, kita harus menyandang sifat-sifat berikut :

1. Rasa cinta yang tinggi kepada Alloh ta’ala.

2. Lunak dan kasih sayang kepada kaum mukminin.

3. Saling memberi nasehat kepada kebaikan dan hal yang makruf.

4. Keras kepada orang-orang kafir. Dan ini nampak secara jelas pada ikatan Islam terkuat yaitu ikatan Al-Wala’ wal Bara’ ; kita berwali kepada orang beriman dan memusuhi orang-orang kafir serta bersikap keras kepada mereka. [6]

5. Kemudian sifat kelima (sekaligus keenam, penerj.) adalah:

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

“…Mereka berjihad di jalan Alloh dan tidak pernah takut celaan orang yang suka mencela…”

Jadi, jihad fii sabiilillah dan tidak takut kepada celaan siapapun orang yang suka mencela, keduanya adalah sifat yang sangat urgen dalam rangka mengembalikan manusia kepada agama ini.

Maka orang-orang yang mengira bahwa mereka sanggup mengembalikan manusia kepada agama ini dan menegakkan daulan Islam setelah naungan Islam melemah dari permukaan bumi, mereka tidak faham akan manhaj Alloh ta’ala. Ayat ini menyatakan dengan sangat jelas dan tegas mengenai kondisi riddah, maka kecintaan dan perwalian harus jelas di hadapan manusia, demikian juga dengan bara’ (berlepas diri) dari kaum kuffarpun harus jelas, disertai dengan jihad di jalan Alloh dan tidak takut celaan orang yang suka mencela; ini mencakup nasehat dengan segala bentuknya, amar ma’ruf dan segala macamnya.

Jika kita bisa memenuhi enam kriteria di atas, kemudian kita wujudkan unsur-unsur yang berkaitan dengan kriteria tersebut, berarti kita telah mewujudkan sebuah pijakan yang kokoh untuk memulai sebuah perubahan dan jihad fii sabiilillah hingga kebenaran tegak.

Termasuk nash-nash yang semakna dengan ini, adalah sebuah hadits dari Rosul kita, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam; hadits Al Harits Al Asy’ariy rodloyallohu ‘anhu, dalam hadits ini, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ أَمَرَ يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ يَعْمَلَ بِهَا وَيَأْمُرَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ‏ أَنْ يَعْمَلُوْا بِهَا، وَإِنَّهُ كَادَ أَنْ يبطئَ بِهَا، فَقَالَ عِيْسَى: إِنَّ اللهَ أَمَرَكَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ لِتَعْمَلَ بِهَا وَتَأْمُرَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ ‏أَنْ يَعْمَلُوْا بِهَا، فَإِمَّا أَنْ تَأْمُرَهُمْ وَإِمَّا أَنْ آمُرَهُمْ

“Sesungguhnya Alloh telah perintahkan Yahya bin Zakariya lima kalimat agar ia amalkan serta memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkanya. Dan hampir saja beliau berlamban dalam melaksankannya, lalu Isa AS. berkata: Sesungguhnya Alloh memerintahkanmu dengan lima kalimat, agar kau amalkan dan agar Bani Israil juga mengamalkannya, silahkan; Anda yang memerintahkan mereka, atau aku yang akan memerintahkan mereka.”

Di sini terdapat sebuah makna cukup agung kaitannya dengan dien ini, yaitu bahwa Alloh ta’ala Maha Terpuji dan Maha tidak butuh kepada segalanya, sedangkan sunnah akan adanya pergantian tidak terkecualikan bagi siapapun. Inilah dia seorang nabi dari nabi-nabi Alloh yang lain, beliau sedikit terlambat dalam menyampaikan apa yang diperintahkan kepadanya, maka Alloh ta’ala pun mewahyukan kepada nabi yang lain, “…dia yang menyampaikan atau Anda yang menyampaikan…”

Lantas siapakah kita sehingga kita bisa berlambat-lambat dalam melaksanakan perintah Alloh ta’ala, melaksanakan perintah Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ingat, jika kita berlambat-lambat, sunnah adanya pergantianpun akan berlaku atas kita.

Kemudian Isa AS. berkata kepada Yahya:

‏إِنَّ اللهَ أَمَرَكَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ لِتَعْمَلَ بِهَا وَتَأْمُرَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ أَنْ يَعْمَلُوْا بِهَا فَإِمَّا أَنْ تَأْمُرَهُمْ وَإِمَّا أَنْ آمُرَهُمْ، فَقَالَ يَحْيَى: أَخْشَى إِنْ سَبَقْتَنِيْ بِهَا أَنْ يخْسفَ بِيْ أَوْ أُعَذَّبَ، فَجَمَعَ النَّاسَ فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ‏فَامْتَلأَََََ الْمَسْجِدُ وَتَعدوْا عَلَى الشَّرَفِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ أَمَرَنِيْ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ أَعْمَلَ بِهِنَّ وَآمُرُكُمْ أَنْ تَعْمَلُوْا بِهِنَّ؛ أَوَّلُهُنَّ أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا، وَإِنَّ مَثَلَ مَنْ أَشْرَكَ بِاللهِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اشْتَرَى عَبْدًا مِنْ خَالِصِ مَالِهِ بِذَهَبٍ أَوْ وَرَقٍ، فَقَالَ؛ هَذِهِ دَارِيْ وَهَذَا عَمَلِيْ فَاعْمَلْ وَأَدِّ إِلَيَّ، فَكَانَ يَعْمَلُ وَيُؤَدِّيْ إِلَى غَيْرِ سَيِّدِهِ، فَأَيُّكُمْ يَرْضَى أَنْ يَكُوْنَ عَبْدُهُ كَذَلِكَ، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ فَإِذَا صَلَّيْتُمْ فَلاَ تَلْتَفِتُوْا فَإِنَّ اللهَ ينْصِبُ وَجْهَهُ لِوَجْهِ عَبْدِهِ فِيْ صَلاَتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ، وَآمُرُكُمْ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ فِيْ ‏عِصَابَةٍ ‏مَعَهُ صَرَّةٌ فِيْهَا مِسْكٌ فَكُلُّهُمْ يَعْجِبُ أَوْ يُعْجِبُهُ رِيْحُهَا، وَإِنَّ رِيْحَ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، وَآمُرُكُمْ بِالصَّدَقَةِ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَسرَهُ الْعَدُوُّ فَأَوْثَقُوْا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ وَقَدَّمُوْهُ لِيَضْرِبُوْا عُنُقَهُ، فَقَالَ؛ أَنَا أَفْدِيْهِ مِنْكُمْ بِالْقَلِيْلِ وَالْكَثِيْرِ فَفَدَى نَفْسَهُ مِنْهُمْ، وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوَّ فِيْ أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِيْنٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ كَذَلِكَ الْعَبْدُ لاَ يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ اللهِ

Sesungguhnya Alloh telah perintahkan kepadamu lima kalimat agar engkau melaksanakanya dan engkau perintahkan Bani Israil untuk melaksanakannya. Silahkan, Anda yang memerintahkan atau saya yang akan memerintahkan.” Nabi Yahya menjawab. “Akau khawatir jika engkau mendahuluiku, aku akan ditenggelamkan atau akan diadzab.” Akhirnya beliau mengumpulkan orang di Baitul Muqaddas, masjidpun penuh sesak dengan manusia. Lalu Nabi Yahya duduk di tempat yang mulia, lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya Alloh telah perintahkan kepadaku lima kalimat, dan memerintahkan kepadaku agar kalian mengamalkannya; pertama, hendaklah kalian beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Sesungguhnya perumpamaan orang yang menyekutukan Alloh itu seperti seorang yang membeli budak dari hartanya sendiri berupa emas atau uang, kemudian ia mengatakan, ‘Ini adalah rumahku, dan ini adalah pekerjaanku, maka bekerjalah kamu dan tunaikanlah hakku.’ Namun budak itu malah bekerja bukan untuk majikan itu. Maka siapa diantara kalian yang ridha jika budaknya berkelakuan seperti itu?

Kemudian, Alloh memerintahkan kalian untuk shalat, maka jika kalian shalat, jangan menoleh, sebab sesungguhnya Alloh telah hadapkan wajah-Nya ke wajah hamba-Nya dalam shalatnya selama ia tidak menoleh.

Dan aku perintahkan kalian untuk berpuasa. Sebab perumpamaan orang tersebut ibarat seseorang yang berada di tengah sebuah kelompok, ia membawa sebuah bungkusan berisi misik. Maka semua merasa takjub kepadanya atau takjub kepada aromanya. Dan sesungguhnya bau orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Alloh daripada aroma misik.

Dan aku perintahkan kalian untuk bersedekah, sebab perumpamaan orang seperti itu ibarat seorang lelaki yang ditawan musuh, lalu mereka ikat tangannya pada lehernya, kemudian mereka memancangnya untuk dipenggal lehernya. Kemudian ia berkata, ‘Aku akan menebusnya dengan sedikit atau banyak.’ Akhirnya ia menebus nyawanya dari mereka.

Dan aku perintahkan kepada kalian untuk berdzikir kepada Alloh. Sebab perumpamaan hal itu seperti seseorang yang musuh keluar untuk mengejar jejaknya dengan cepat, hingga ia mendatangi sebuah benteng milik seseorang, kemudian pemilik benteng itu melindunginya dari musuh tersebut. Demikian juga, tidak ada yang bisa melindungi dirinya dari syetan selain dzikrullah.”


[1] .Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‏إِنَّ اْلإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا، وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ، وَهُوَ يَأرزُ بَيْنَ الْمَسْجِدَيْنِ كَمَا تَأْرزُ الْحَيَّةُ فِيْ جُحْرِهَا

“Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing sebagaimana awal mulanya, ia akan kembali diantara dua masjid (Al Haram dan Nabawi, pen.) sebagaimana ular kembali ke dalam liangnya.” (HR. Muslim)

[2] . Ibnu Ishaq berkata: “… aku mendengar Robi’ah Bin ‘Ubbad, ia diberitahu oleh ayahnya, katanya: Dulu aku adalah seorang pemuda yang ketika itu menyertai ayahku di Mina. Saat itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan rumah-rumah para kabilah arab, beliau bersabda: “Wahai Bani Fulan! Sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada kalian, Ia memerintahkan kalian untuk beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, hendaknya kalian juga meninggalkan semua tandingan Alloh yang kalian ibadahi selainNya, hendaknya kalian beriman kepadaku, membenarkanku serta membela diriku sehingga aku bisa menerangkan ajaran yang Alloh mengutusku dengannya.”

Ayahku berkata: Kebetulan dibelakangnya ada seorang lelaki yang juling dan bersih wajahnya, ia memiliki dua guratan urat. Di badannya tersemat perhiasan dari tembaga. Setiap kali Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam selesai berbicara dan menyampaiakan dakwah, ia berkata: “Wahai Bani Fulan, sesungguhnya orang ini mengajak kalian untuk meninggalkan Latta dan ‘Uzza dari leher kalian juga dari sekutu bangsa jin kalian dari Bani Malik bin Aqyasy, dengan berpindah ke ajaran baru dan sesat yang ia bawa. Oleh karena itu, jangan taati dan jangan dengarkan kata-katanya.” Aku kemudian bertanya kepada ayahku, “Ayah, siapa orang yang selalu mengikuti dan membantah perkataannya itu?” Ayahku menjawab, “Dia adalah pamannya, Abdul ‘Uzza bin Abdul Muththalib, Abu Lahab.” (Siroh Ibnu Hisyam : II/ 48-49).

[3] Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab mengatakan, “Dan makna dari Syahadat Muhammad Rosululloh adalah mentaati perintah beliau, membenarkan apa yang beliau beritakan, menjauhi apa yang beliau larang dan peringatkan serta tidak beribadah kepada Alloh kecuali dengan apa yang beliau syareatkan” (Al Ushul Ats Tsalatsah) Al Hakim berkata: “Maksudnya adalah pembenaran yang mantap dari lubuk hati terdalam yang bersesuaian dengan lisan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya kepada semua manusia, orang maupun jin, sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan sekaligus da’i kepada Alloh dan lentera yang terang. (QS. Al Ahzab : 45).

Maka wajib mempercayai semua yang beliau beritakan baik berita yang telah berlalu maupun yang akan datang, membenarkan dalam perkara yang beliau halalkan dan haramkan, juga melaksanakan serta patuh terhadap perintah beliau, menahan diri serta berhenti dati semua yang beliau larang, mengikuti syareatnya, beriltizam terhadap sunnahnya baik ketika sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan diiringi rasa ridho terhadap keputusan beliau serta pasrah terhadapnya, juga mentaati beliau sama artinya mentaati Alloh, sementara bermaksiat kepadanya sama artinya bermaksiat kepada Alloh… (I’lamu ‘s-Sunnah Al Mansyurah Li I’tiqodi ‘t-Thoifah Al Manshuroh hal. 21).

[4] Sebagian kelompok keliru dalam memahami kata “An Nushroh”, lantas mereka membesar-besarkannya dan memberikan ukuran yang terlalu besar dari yang semestinya. Di dalam kitabnya yang berjudul Ath Thariq Ila Isti’nafi Hayatin Islamiyatin wa Qiyami Khilafah Roosyidah, Syaikh Abdul Mun’im Mushthofa Halimah menulis: “Mengenai perkataan sebagian orang: ‘Tidak ada jalan untuk tegaknya kekhilafahan melainkan dengan cara mencari nushrah (pertolongan), sebagai sikap mengambil contoh kepada perbuatan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang mana beliau memohon nushrah kepada para kabilah dan pemimpin arab.’ Kita bisa mengkonter syubhat ini dengan memaparkan beberapa pint dibawah ini: Pertama: Jika mereka mengatakan bahwa meminta nushrah itu disyareatkan, berarti boleh boleh saja bagi harakah islamiyah untuk melakukannya jika memungkinkan, dan tentu ia akan mendapat jalan dari sana. Ini pendapat yang benar dan tidak silang pendapat di dalamnya. Namun ini bukan berarti menjadi pembenaran bagi umat untuk kemudian duduk duduk saja tidak melakukan I’dad dan jihad di jalan Alloh, juga tidak boleh menghalangi mereka dari hal itu.

[5] Ini terjadi pada tahun 10 H (Ar Rakhiqul Makhtum: 115), Ibnu Ishaq berkata: Az Zuhri menceritakan kepadaku bahwa beliau — yakni Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam — mendatangi Bani Amir bin Sha’sha’ah, kemudian menyeru mereka kepada Alloh ta’ala, dan beliau menghadapi mereka langsung. Maka ada seorang dari mereka yang mengatakan, “Demi Alloh, kalau seandainya aku mengambil pemuda Quraisy ini, bangsa arab akan memangsanya.” Kemudian ia berkata: “Bagaimana menurutmu jika kami berbai’at kepadamu dalam urusan ini, kemudian Alloh memenangkanmu atas semua yang menyelisihimu, apakah kami akan mendapatkan urusan (kepemimpinan) sepeninggalanmu?” Beliau menjawab, “Kepemimpinan itu urusan Alloh, Ia meletakkannya sekehendak-Nya.” Orang itu mengatakan kepada beliau, “Apakah kau akan korbankan leher leher kami untuk menghadapi bangsa arab guna membelamu, kemudian setelah Alloh memenagkanmu, urusan dipegang oleh selain kami? Kami tidak butuh dengan urusanmu.” Akhirnya mereka menolak beliau. (Siroh Ibnu Hisyam: II/ 49-50).

[6] Imam Hamd bin Ali bin Utaiq berkata, “Adapun memusuhi orang-orang kafir dan musyrik, ketahuilah bahwa Alloh ta’ala telah wajibkan hal itu dan menegaskan akan kewajibannya. Alloh telah haramkan sikap loyal kepada mereka dan keras dalam hal itu, hatta tidak ada dalam kitab Alloh ta’ala satu hukum yang dalilnya lebih banyak dan lebih gamblang melebihi hukum ini setelah wajibnya tauhid dan haramnya syirik.” (Sabilun Najah wal Fikaak Min Muwaalaatil Murtaddiin Wa Ahlil Isyraak).

bersambung………………………………..???

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: