panduan dalam berjuang 3

Para ulama berkata, “Masuknya para ulama kepada penguasa itu terdapat tiga bahaya[1], di antara bahaya terbesarnya adalah penyesatan orang-orang awam, masyarakat pada umumnya mengatakan, kalau bukan karena imam ini, raja ini, pemimpin ini berada di atas kebaikan, tentu Syaikh Fulan tidak akan masuk kepadanya! Sementara mereka tidak mengerti bahwa orang yang masuk kepada raja ini adalah pegawai, persis dengan kantor kerajaan atau sama dengan Kementrian Dalam Negeri. Imam Ahmad rohimahulloh berkata, مِنْ قِلَّةِ فِقْهِ الرَّجُلِ أَنْ يُقَلِّدَ فِيْ دِيْنِهِ الرَّجَال “Termasuk sedikitnya pemahaman seesorang adalah ketika ia bertaqlid dalam urusan agamanya kepada para tokoh.” (I’lamul Muwaqqi’in: II/211) Kalau kita melihat kepada orang-orang yang oleh pengusa dicampakkan di jalan jihad dan kita ingatkan manusia agar mewaspadai mereka, maka dengan izin Alloh kita akan sampai pada jalan menuju jihad yang nantinya untuk menahan kekuatan orang-orang kafir serta membenarkan yang benar[2]. Para ulama negara dan ulama penguasa itu tidak memiliki pemahaman seperti pemahaman Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam serta pemahaman tabi’at Manhaj Alloh ta’ala. Harus tertanam dalam benak kita; bahwa sikap iltizam terhadap agama secara benar, pasti akan menghasilkan permusuhan dari ahli kebatilan. Sebagaimana tercantum di dalam sebuah hadits shahih dalam Shohih Al Bukhoriy sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ibunda kita ‘Aisyah rodliyallohu ‘anha ketika Rosullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pergi bersama ibunda kita Khodijah ra kepada Waraqah bin Naufal. Ketika beliau ceritakan kepadanya apa yang beliau alami ketika pertama kali menerima wahyu, maka Waroqoh berkata, يَا لَيْتَنِيْ كُنْتُ فِيْهَا جَذْعاً إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ “Duhai seandainya saja aku bisa menjadi jadz’an[3], di saat kaummu kelak mengusirmu.” Mendengar itu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bertanya, أَوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ؟ “Apakah mereka akan mengusirku?” Ia berkata, مَاجَاءَ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَاجِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُوْدِيَ “Tidak ada seorangpun yang datang membawa seperti yang engkau bawa melainkan pasti dimusuhi.” (Muttafaq ‘Alaih).[4] Inilah fikih (pemahaman) Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, siapa yang sungguh-sungguh beriltizam dengan Islam, pasti akan dimusuhi. Demikian juga dengan kaum Anshar ~Radhiyallohu ‘anhum~ ketika mereka datang di hari Bai’at Aqabah berbaiat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam atas Islam, beliau datang bersama ‘Abbas ~ saat itu masih berada dalam agama kaumnya, belum masuk Islam~ , ia berkata, يَامَعْشَرَ الْخَزْرَج إِنَّكُمْ قَدْ دَعَوْتُمْ مُحَمَّداً فَإِنْ كُنْتُمْ أَهْلَ قُوَّةٍ وَجَلَدٍ وَبَصِيْرَةٍ بِالْحَرْبِ وَاسْتِقْلاَلٍ بِمُعَادَاةِ الْعَرَبِ قَاطِبَةً. فَإِنَّهَا سَتَرْمِيْكُمْ عَنْ قَوْسٍ وَاحِدَةٍ فَأَرُوْنِيْ رَأْيَكُمْ وَأَنْتُمْ وَأْمَرَكُمْ, وَلاَ تَفَرَّقُوْا إِلاَّ عَنْ إِجْمَاعٍ فَإِنَّ أَحْسَنَ الْحَدِيْثِ أَصْدَقُهُ, صِفُوْا لِي الْحَرْبَ؟ كَيْفَ تُقَاتِلُوْنَ عَدُوَّكُمْ؟ “Wahai kaum Khazraj, sungguh aku telah memanggil Muhammad, jika kalian termasuk orang yang memiliki kekuatan, keteguhan serta keahlian dalam perang dan berani sendirian memusuhi seluruh bangsa Arab, karena mereka pasti akan membidik kalian dari satu busur. Maka perlihatkan kepadaku pendapat dan jati diri kalian. Dan jangan pernah kalian berpisah melainkan atas dasar kesepakatan, sebab sesungguhnya perkataan yang paling baik itu adalah perkataan yang paling jujur. Ceritakan kepadaku tentang perang? Bagaimana cara kalian memerangi musuh-musuh kalian? Ini adalah ‘Abbas ~ yang saat itu masih berada dalam agama kaumnya, masih kafir ~ tapi ia memberikan ‘warning’ kepada keponakannnya Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam serta memberikan pemahaman kepadanya bahwa makna La ilaha illallah adalah manusia dan seluruh alam akan memusuhi ahlinya. Maka saat itu, Abdulloh bin Amru angkat bicara, نَحْنُ وَاللهِ أَهْلُ الْحَرْبِ, وَغُذِيْنَا بِهَا, وَوَرَثْنَاهَا كَابِراً عَنْ كَابِرٍ نَرْمِي بِالنُّبُلِ حَتَّى تَفْنَى، وَنُطَاعِنُ بِالرِّمَاحِ حَتَّى تَكْسِرَ, ثُمَّ نَمْشِيْ بِالسُّيُوْفِ نُضَارِبُ بِهَا حَتَّى يَمُوْتَ اْلأَعْزَلُ مِنَّا أَوْ مِنْ عَدُوِّنَا “Demi Alloh, kami adalah ahli perang, kami tumbuh dengannya, kami telah mewarisi kebesaran dari pembesar, kami melempar lembing hingga usang. Kami biasa menikam dengan tombak sampai patah, lalu kami berjalan menenteng pedang untuk memenggal hingga orang yang tidak bersenjata mati di antara kami atau di antara musuh kami.” Abbas bertanya, هَلْ فِيْكُمْ دُرُوْعٌ “Apakah kalian memiliki baju besi?” … mereka mengatakan, “Ya, ini dia.” Ketika itu, majulah Al-Barro’ bin Ma’ruur rodliyallohu ‘anhu sembari berujar, قَدْ سَمِعْنَا مَا قُلْتَ, وَإِنَّا وَاللهِ لَوْ كَانَ فِيْ أَنْفُسِنَا غَيْرَ مَا نَنْطِقُ بِهِ لَقُلْنَاهُ, وَلَكِنَّا نُرِيْدُ الْوَفَاءَ وَالصِّدْقَ, وَبَذْلَ مُهَجِ أَنْفُسِنَا دُوْنَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم “Kami telah dengar apa yang Anda katakan, sedangkan kami, seandainya dalam diri kami ada hal yang berbeda dengan yang kami katakan, tentu akan kami utarakan terus terang. Namun, yang kami inginkan adalah menepati janji dan kejujuran, dan jiwa serta nyawa tercurahkan untuk membela Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.” Inilah pemahaman salaf ~ Rodhiyallohu ‘anhum ~ untuk beriltizam dengan agama serta mengorbankan jiwa dan nyawa untuk Alloh ta’ala dan dalam rangka membela agama-Nya serta membela Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Lagi, yang juga terjadi di hari penuh berkah itu ~ Hari Aqobah ~ adalah ketika sahabat berdiri ingin berbai’at kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka As’ad bin Zaroroh mengambil tangan beliau dan berkata, رُوَيْدًا يَا أَهْلَ يَثْرِب إِنَّا لَمْ نَضْرِبْ إِلَيْهِ أَكْبَادَ اْلإِبِلِ إِلاَّ وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَإِنَّ إِخْرَاجَهُ الْيَوْمَ مُفَارَقَةُ الْعَرَبِ كَافَّةً وَقُتْلُ خِيَارِكُمْ, وَأَنْ تَعُضَّكُمُ السُّيُوْفُ، فَإِمَّا أَنْتُمْ تَصْبِرُوْنَ عَلَى ذَلِكَ؛ فَخُذُوْهُ وَأَجْرُكُمْ عَلَى اللهِ, وَإِمَّا أَنْتُمْ تَخَافُوْنَ مِنْ أَنْفُسِكُمْ خِيْفَةً؛ فَذَرُوْهُ فَهُوَ أَعْذَرُ لَكُمْ عِنْدَ اللهِ “Pelan-pelan wahai penduduk Yatsrib, sungguh tidaklah kita memberikan hati unta kepada beliau, melainkan kita mengerti bahwa beliau adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan bahwa diusirnya beliau hari ini berlepas diri dari bangsa Arab semuanya dan akan dibunuhnya orang-orang terbaik di antara kalian seta kalian akan digigit oleh mata pedang-mata pedang, (maka semua itu pasti akan terjadi). Silahkan pilih, jika kalian bersabar atas hal itu, maka pegang-teguhlah ia, sesungguhnya pahala kalian ada pada Alloh, atau jika ada perasaan takut dalam hati kalian, maka menyingkirlah, sesungguhnya hal itu lebih ringan bagi kalian di sisi Alloh.” (HR. Imam Ahmad)[5] Inilah pemahaman salaf terhadap makna La ilaha illallooh serta kandungan dari kalimat Laa ilaaha illallooh yaitu berupa pemberlakuan hukum di muka bumi serta kepastian bahwa mereka akan menghadapi musuh. Juga sebagaimana yang dikatakan Mutsanna bin Haritsah kepada Rosul kita ~ ‘Alaihis salam ~ di hari ketika ditawarkan kepada mereka untuk beriman kepada Laa ilaaha illallooh, lalu mereka bersedia untuk menjaga dan melindungi beliau. Maka Mutsanna ~ saat itu masih musyrik ~ ia berkata, “Ini adalah urusan yang tidak disukai oleh para raja.” Dalam hadits lain ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ditanya dalam konteks pertanyaan tentang amalan yang paling utama di sepuluh hari pertama hari Dzulhijjah, kemudian beliau memberikan pengecualian, dan menjelaskan kepada mereka mengenai amalan yang paling utama, ia lebih utama daripada beramal di sepuluh hari bulan Dzulhijjah, beliau bersabda, إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجَعْ بِشَيْءٍ “…Kecuali seseorang yang keluar (menuju sesuatu yang) membahayakan nyawa dan hartanya, kemudian tidak pulang dengan apapun.” (HR. Al Bukhori) Adapun yang tersebar di kalangan para ulama, berupa kesejahteraan jiwa mereka, anak dan harta serta pekerjaan-pekerjaan mereka, bersama dengan tetap bertahannya agama, maka ini adalah pemahaman yang berbalik arah dari hakikat Laa ilaaha ilallooh serta permusuhan terhadap ahli batil karenanya. Keharmonisan serta keselarasan antar para ulama dan penguasa ~ yang kafir kepada Alloh dan Rosul-Nya ini ~ adalah posisi keliru yang terbalik. Di awal dikatakan bahwa para ulama itu telah meninggalkan hakikat Laa ilaaha illallooh, meninggalkan iltizam terhadap Laa ilaaha illallooh dan konsekwensi Laa ilaaha illallooh, mereka telah bertoleransi kepada para penguasa. Maka sudah seharusnya untuk waspada terhadap mereka. Sebab pemerintahan telah memposisikan mereka dengan sengaja untuk memalingkan dari jalan Alloh. Dan sungguh sejak seperempat abad silam, Syaikh Abdulloh bin Humaid ~ semoga rahmat Alloh tercurah kepada beliau ~ belum ada ceritanya ada ulama lain yang mendampingin beliau. Tapi, memang pemerintah itu tidak menginginkan ahli kebenaran, tidak menginginkan ahli ketakwaan dan waro’. Terus saja Syaikh ‘Abdulloh bin Humaid ditekan dan jarang sekali diambil pandangannya dibandingkan sejumlah ulama lain yang memiliki karakter lunak dan lembut terhadap pemerintah serta memiliki sedikit toleransi. Bandingkan apa yang disamarkan oleh pemerintah, mereka tinggalkan Syaikh ‘Abdullah bin Humaid, mempersempit ruang gerak amalnya sampai beliau mengundurkan diri ketika merasa bahwa negara sudah mulai sering menjauh dan nampak bahwa negara mulai berwali kepada orang-orang kafir, serta sering menjauh dari syariat Alloh ta’ala. Demikian juga dengan kondisi hari ini, opini-opini media informasi telah menguasai para ulama, tujuannya adalah menimbulkan kesamaran atas kaum muslimin. Di posisi seperti ini, harus dibicarakan bahwa bila kita mengetahui adanya para ulama’ suu’ dan ulama penguasa, sudah selayaknya kita mencari dengan serius dan sungguh-sunguh; mana ulama yang jujur, mereka yang berterus terang menyuarakan kebenaran serta tidak takut celaan orang yang suka mencela, sebab Alloh ta’ala berfirman, يَا أَيّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اِتَّقُوا اللَّه وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah : 19) Kita mesti berkumpul di sekeliling mereka serta bermusyawarah bersama mereka dalam rangka membela Laa ilaaha illallooh serta berjuang untuk memberlakukan syari’at Alloh ta’ala. Dan ulama-ulama yang jujur itu memiliki beberapa ciri. Orang-orang jujur telah Alloh ta’ala terangkan mengenai sifat mereka dalam kitab-Nya yang mulia, Ia berfirman, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ “Sesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah mereka yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya kemudian tidak merasa ragu serta berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwa mereka, merekalah orang-orang yang jujur.” (QS. Al-Hujurot: 15) Di antara sifat paling menonjol dari orang-orang yang jujur itu adalah: 1. Iman 2. Berjihad fii sabiilillah Makna seperti ini kita sering kali temukan, kejujuran selalunya sejajar dengan jihad, pembelaan, menyuarakan kebenaran serta berterus terang di dalamnya. Di antaranya adalah firman Alloh ta’ala, لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ “Bagi orang-orang fakir dan berhijrah yang mereka diusir dari kampung halaman dan hartanya karena mencari keutamaan dan ridha Alloh serta mereka menolong Alloh dan Rosul-Nya, merekalah orang-orang yang jujur.” (QS. Al-Hasyr : 8) Orang-orang yang berhijrah, membantu Alloh dan Rosul-Nya serta berjihad di jalan Alloh, mereka berada di jalan Alloh dan untuk mengokohkan posisi agama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, merekalah orang-orang jujur itu.

SHAPE \* MERGEFORMAT

Di antara sifat paling menonjol dari orang-orang yang jujur itu adalah: 1. Iman 2. Jihad fii sabiilillah

Termasuk jihad terbesar adalah kalimat haq serta berterus terang di dalamnya, sebagaimana telah disebutkan maknanya dalam sebuah hadits dari Rosul kita ~ ‘Alaihis sholaatu was salaam ~ أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ “Jihad paling utama adalah kalimat haq di hadapan penguasa lalim.” Jadi, para ulama yang berterus terang dalam kebenaran, merekalah orang-orang yang jujur, dan inilah sifat mereka. Adapun mereka yang condong kepada para penguasa yang telah berwali kepada orang-orang kafir, kepada para penguasa yang telah berhukum kepada selain hukum Alloh, sungguh mereka telah memuji-mujii para thoghut. Tidakkah mereka melihat menara-menara bank ribawi yang memberlakukan aturan selain hukum yang diturunkan Alloh?! Serta berpaling dari manhaj Alloh di samping tanah haram?! Ini adalah ilhad (kejahatan) di dekat Baitullah Al-Haram serta kejahatan di tanah haram yang tujuannya bukan sekedar kekufuran, lebih dari itu adalah sebagaimana tercantum dalam hadits yang telah kita lewati di muka ~ dalam hadits Shohih Al Bukhoriy~ : أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلاَثَةٌ “Orang yang paling dimurkai Alloh ada tiga..” … beliau bersabda, مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ “Orang yang berlaku jahat di tanah haram.” Ahlul ‘ilmi berkata, “Dosa besar di tanah haram termasuk ilhad, dan disebutkan sama dengan ilhad untuk memberikan kecaman dan betapa besarnya hal itu, juga supaya manusia menjauhinya.” Maka, sifat paling menonjol dari orang-orang jujur adalah jihad dengan menggunakan tangan dan lisan. Terkadang seseorang jujur dan ia hanya mengingkari dengan hati saja, tapi kita tidak bisa mengetahui dan mengenalinya, yang bisa kita kenali adalah yang mengingkari dengan tangan dan lidahnya. Di sini, kita harus semakin tegaskan kepada para pemuda kebangkitan Islam mengenai apa yang sudah kita bahas bersama; bahwa mereka memiliki kekuatan yang cukup bahkan lebih untuk menegakkan Al-Haq, untuk menegakkan Daulah Islamiyah, Daulah Khilafah. Tapi mereka harus bebas dan membebaskan akal mereka dari sikap taklid buta. Dalam sebuah hadits shahih dari Nabi kita ~ ‘Alaihis Salam ~ bahwa beliau bersabda, لاَ تَكُوْنُوْا إِمَعَّةً، تَقُوْلُوْنَ؛ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوْا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوْا أَنْفُسَكُمْ؛ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوْا، وَإِنْ أَسَاءُوْا فَلاَ تَظْلِمُوْا “Janganlah kalian menjadi “Imma’ah” (bersikap seperti bunglon, oportunis); yaitu kalian mengatakan: jika manusia baik, kami ikut baik. Jika mereka dholim, kamipun ikut dzalim. Tapi biasakan diri kalian; jika manusia baik, kalian ikut baik, jika mereka berbuat jahat, kalian jangan turut berbuat dzalim.” (HR. Tirmidzi dan ia menghasankannya) Saya akan bawakan sebuah kisah yang memiliki nilai moral yang besar, bahwa orang yang cerdas dan cerdik ketika mereka hanya mengekor kepada orang yang berada di depannya, tanpa berfikir, tak jarang ia kehilangan kebaikan yang besar, bahkan kehilangan akhirat ~ wa laa haula walaa quwwata illa billaah ~. Inilah Kholid bin Walid ra dan ‘Amru bin ‘Ash. ‘Amru bin ‘Ash termasuk pembesar cendekiawan Arab yang diperhitungkan. Sementara Kholid bin Walid adalah sosok jenius dalam urusan perang. Meski begitu, mereka berdua masuk Islam belakangan selama lebih dari 20 tahun kira-kira. Padahal cahaya ada di depan mereka, dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam selama 13 tahun berada di tengah-tengah mereka di Mekah, ternyata mereka tidak melihat cahaya ini dengan kecerdasan dan ketanggapan mereka yang luar biasa. Lantas, apa penyebabnya?! Sebabnya adalah taklid buta, mereka melihat kepada para tokoh Quraisy yang besar itu ~ Ahlun Nadwah [dewan permusyawaratan Quraisy] ~ dan mengikuti jejak mereka, mereka singkirkan akal mereka sendiri. Tatkala Kholid dan ‘Amru masuk Islam sebelum Fathu Makkah beberapa saat ~ atau sekitar dua puluh tahun sejak diutusnya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam ~ sebagian teman dekatnya berkata kepadanya, “Di mana akalmu saat itu hai Kholid, bagaimana kau tidak melihat cahaya (Islam) ini sejak dua puluh tahun silam?” maka Kholid menjawab dengan kata-kata yang mesti dijadikan patokan oleh orang-orang yang masih suka taklid, ia berkata, “Kami saat itu melihat para tokoh, kami melihat kegegap-gempitaan yang menghiasi diri mereka laksana gunung-gunung.” ~ Walid bin Mughiroh, Amru bin Hisyam, ‘Utbah dan Syaibah bin Robi’ah, Al-‘Ash bin Wa’il As-Sahmiy dan Umayyah bin Khalaf ~. Satu kaum yang membebani akal manusia bahwa merekalah orang-orang yang mengerti mana yang benar, padahal mengarahkan mereka kepada kehancuran di dunia dan akhirat. Tatkala Kholid membebaskan akalnya, Alloh memberikan manfaat dengannya dan meledaklah kekuatan-kekuatan itu. Maka beliau adalah salah satu dari pedang Alloh yang dengannya Alloh bukakan jengkalan tanah yang besar di Persi dan Romawi. Maka saya tegaskan, banyak manusia yang memiliki kekuatan besar, tapi mereka melenyapkannya dengan mengekor kepada pimpinan, dengan mengikuti orang yang ia ridha untuk tinggal bersama orang-orang yang tidak ikut berperang. Tidak ada keselamatan bagi umat ini melainkan dengan mengikuti manhaj secara utuh. Dan sebagaimana saya sebutkan, resiko marabahaya pasti selalu menyertai jalan dakwah ini hingga Alloh wariskan bumi dan penduduknya. Dalam hadits agung ini ada sebuah pemahaman yang sangat agung pula, di mana beliau menjelaskan kepada manusia dan kaum mukminin akan pentingnya prioritas dalam agama ini. Puncak segala urusan adalah Islam, dan puncak rukun iman dan Islam adalah syahadat Laa ilaaha illallooh dan Muhammad Rosululloh. Jadi, iman itu ada cabangnya,[6] maka tidak selayaknya ketika hilang cabang pertama yang merupakan terbesar dan paling utama serta yang paling tinggi yaitu syahadat Laa ilaaha illallooh kemudian menyibukkan diri dengan yang lebih rendah darinya. Syahadat Laa ilaaha illallooh adalah asas agama ini. Maka, apa yang dilakukan manusia zaman sekarang padahal mereka melihat dengan mata kepala mereka bahwa Laa ilaaha illallooh beserta maknanya sesuai yang diturunkan kepada Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menghilang dari percaturan hukum manusia dalam semua lini kehidupan, lantas mereka sangat sibuk dengan cabang-cabang lain dengan hilangnya asas ini. Ini adalah tidak pantas dijuluki bagi orang yang mengetahui hakekat-hakekat sebenarnya selain sikap lari dari menunaikan kewajiban. Lebih ekstrim lagi, lari dari kewajiban terbesar dalam hidup, yaitu memberlakukan hukum Laa ilaaha illallooh pada setiap mukmin. Seandainya seseorang tidak melaksanakan jihad tanpa udzur syar’i lalu menyibukkan diri menyingkirkan gangguan dari jalan (padahal itu merupakan bagian dari cabang iman) sementara jihad hukumnya fardhu ‘ain, maka tidak ada yang pantas dikatakan kepada orang yang melakukan satu cabang ini, atau satu ketaatan ini “Semoga Alloh memberikan ganjaran yang lebih baik.” Bahkan, dalam agama kita ia termasuk orang fasik, orang yang lari, ia lari dari membela Laa ilaaha illallooh, lari dari menolong agama Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Maka harus diperhatikan benar akan prioritas dalam hal ini. Ia sebagaimana bukan rahasia lagi

SHAPE \* MERGEFORMAT

Seandainya seseorang tidak melaksanakan jihad tanpa udzur syar’i lalu menyibukkan diri menyingkirkan gangguan dari jalan (padahal itu merupakan bagian dari cabang iman) sementara jihad hukumnya fardhu ‘ain, maka tidak ada yang pantas dikatakan kepada orang yang melakukan satu cabang ini, atau satu ketaatan ini “Semoga Alloh memberikan ganjaran yang lebih baik.” Bahkan, dalam agama kita ia termasuk orang fasik, orang yang lari, ia lari dari membela Laa ilaaha illallooh, lari dari menolong agama Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.

telah menghilang, hilang sama sekali dari semua negeri Islam tanpa terkecuali. Saya juga ingatkan kepada para Ikhwah, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits Rosul dari Abu Huroiroh, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ؛ مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ “Sesungguhnya, Alloh berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, Aku nyatakan perang kepadanya. Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku yang lebih Aku sukai daripada apa yang telah Ku wajibkan kepadanya.” (HR. Al Bukhori) Maka, berbagai faridloh, ketaatan dan amal ibadah adalah apa yang telah Alloh ta’ala wajibkan. Urutannya adalah sesuai apa yang Alloh ta’ala urutkan, bukan sesuai selera kita, atau yang pas dengan hawa nafsu kita, atau sesuai dengan jiwa kita serta rasa berat karena condong ke bumi. Nah, ketika prioritas pertama adalah dengan memberlakukan hukum Laa ilaaha illallooh, maka tidak dibenarkan saat itu untuk menyibukkan diri dengan ketaatan lain yang disejajarkan dengan perjuangan menegakkan Daulah Islamiyah dan memberlakukan syari’at Alloh ta’ala. Termasuk hal yang penting di sini, bahwa para ulama yang ditonjolkan oleh negara di hadapan manusia, mereka itu mengerti secara yakin bahwa Laa ilaaha illallooh itu tidak menjadi hakim bagi manusia hari ini. Juga bahwa berbagai mengara telah menghabisi kalimat agung ini. Di saat kondisi seperti itu, mereka justru menipu dirinya sendiri, mereka membohongi manusia dengan menyebutkan ibadah-ibadah serta fatwa-fatwa kepada manusia pada beberapa masalah bersamaan dengan menghilangnya sebuah pondasi agung, mereka ibarat orang yang mendirikan bangunan tanpa pondasi. Jadi, mereka yang berfatwa itu mengetahui, bahwa orang-orang itu telah pergi dan berhukum kepada Al Mahaakim At Tijaariyyah (mahkamah-mahkamah perdagangan), kepada lembaga-lembaga komisi persengketaan perdagangan, dan komisi problematikan kelompok-kelompok dagang. Ini adalah bentuk berhukum kepada selain hukum yang diturunkan Alloh, dan merupakan kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari millah (Islam), sebagaimana bukan rahasia lagi di kalangan ahlul ilmi [7], di saat yang sama, mereka sama sekali tidak membahasnya. Tentang riba bank-bank itu, tidak mungkin orang yang alim akan mengatakan itu semata-mata riba yang bernilai dosa besar, riba seperti ini adalah bentuk pensyari’atan selain Alloh, أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ “Apakah mereka memiliki serikat-serikat yang membuat undang-undang dalam agama selain Alloh?” (QS. Asy-Syuro : 21) Di saat yang sama, manusia justru membicarakan tema lain ~ yang itu tak disangkal, memang termasuk cabang dari iman ~, tetapi jauh betul dari akar masalah. Ini adalah masalah besar yang lantaran hal itu, para Rosul diutus, karenanya kitab-kitab diturunkan, supaya dijadikan sebagai hukum di tengah manusia. Hendaklah hal ini mendapat perhatian ekstra. Di antara masalah penting lain di sini adalah, hendaknya para pemuda menjauh dari orang-orang yang telah menyia-nyiakan amanah serta mengkhianati ummat pada perkara yang mereka dipercaya memegangnya. Terdapat dalam hadits Hudzaifah ra, ia berkata, حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَدِيْثَيْنِ، رَأَيْتُ أَحَدَهُمَا وَأَنَا أَنْتَظِرُ اْلآخَرَ، حَدَّثَنَا؛ أَنَّ اْلأَمَانَةَ نَزَلَتْ فِيْ جذْرِ قُلُوْبِ الرِّجَالِ ثُمَّ عَلِمُوْا مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ عَلِمُوْا مِنَ السُّنَّةِ، وَحَدَّثَنَا عَنْ رَفْعِهَا، قَالَ؛ يَنَامُ الرَّجُلُ النَّوْمِةَ فَتُقْبَضُ اْلأَمَانَةُ مِنْ قَلْبِهِ، فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثْلُ أَثَرِ الْوَكْتِ، ثُمَّ يَنَامُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ، فَيَبْقَى فِيْهَا أَثَرُهَا مِثْلُ أَثَرِ الْمجلِ، كَجَمْرٍ دَحْرَجَتْهُ عَلَى رِجْلِكَ فَنفط فَتَرَاهُ مُنْتَبِرًا، وَلَيْسَ فِيْهِ شَيْءٌ Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepadaku dua buah hadits, aku telah menyaksikan salah satunya dan kini sedang menunggu yang satu lagi. Beliau menceritakan kepada kita bahwa amanat itu turun pada akar hati para tokoh, kemudian mereka mengerti tentang Al-Qur’an dan mereka mengerti tentang sunnah, beliau menceritakan kepada kami akan hilangnya hal itu. Beliau bersabda, Seseorang tidur sekali tidur, lantas sikap amanah dicabut dari hatinya, bekasnya terus ada seperti bekas noda tipis, kemudian ia tidur lagi, lalu dicabut lagi sehingga bekasnya seperti bekas nanah, seperti bara yang kau gelindingkan di telapak kakimu kemudian melepuhkannya lalu kau melihatnya membengkak sementara di dalamnya tidak berisi apa-apa.” (Muttafaq ‘Alaih) Dan inilah kondisi kebanyakan orang hari ini. Anda menyangkanya hebat. Anda menyangkanya ia memiliki amanah dan ia akan memberikan fatwa kepada Anda sesuai yang diridhai Alloh, tapi ternyata ia keropos. Seperti bara yang kau gilingkan pada telapak kakimu ~ sebagaimana dalam teks lengkap hadits, sebagaimana yang Hudzaifah rodliyallohu ‘anhu nukil dari Rosul kita shollallohu ‘alaihi wa sallam ~ : وَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَايَعُوْنَ، فَلاَ يَكَادُ أَحَدٌ يُؤَدِّي اْلأَمَانَةَ، فَيُقَالُ؛ إِنَّ فِيْ بَنِيْ فُلاَنٍ رَجُلاً أَمِيْنًا! وَيُقَالُ لِلرَّجُلِ؛ مَا أَعْقَلَهُ! وَمَا أَظْرَفَهُ! وَمَا أَجْلَدَهُ! وَمَا فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ “Akhirnya manusia saling mengadakan transaksi, sementara hampir tiada seorangpun yang menunaikan amanat, lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya di Bani Fulan ada seorang yang terpercaya! Dan dikatakan mengenai seseorang, ‘Betapa mahirnya ia, betapa terpercaya ia, betapa uletnya ia!’ Padahal dalam hatinya tidak ada iman seberat biji sawi sekalipun.” Maka sudah selayaknya dibedakan antara orang yang bisa memegang amanah di mana mereka menunaikan apa yang dibebankan kepada mereka berupa warisan kenabian atas Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam ~ semoga tercurah atas beliau sholawat dan salam yang paling utama ~ dan antara orang yang sekedar mengambil ijazah ilmiyah serta menjadikan agama sebagai profesi yang mereka mencari makan dengannya dari dunia ini sesuai kapasitas agama mereka ~ Walaa haula wala quwwata illa billaah ~. Bahwa di sana ada perkara-perkara baku yang besar di mana semua itu harus diperhatikan, pada masalah al-wala’ dan al-baro’; bahwa perundang-undangan itu berusaha sekuat tenaganya untuk mengaburkan masalah al-wala’ wal bara’ dengan tujuan mengkacaukan manusia dalam hal itu. Di antara hal yang prinsipil, bahwa kaum Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah ridha kepada kita sebagaimana yang Alloh ta’ala kisahkan di dalam kitab-Nya yang Mulia, Ia berfirman: وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah ridha kepada kalian hingga kalian ikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqoroh : 120) Di antara hal baku yang menjadi fakta sekarang adalah, bahwa negeri kita sedang dijajah, dan jika negeri dijajah, perkara paling wajib setelah iman adalah mengusir musuh yang menyerang. Inilah penegasan berulang kali dari mereka, dan inilah kenyataan yang kita saksikan pada diri mereka. Pangeran Tholal bin Abdul Aziz mengatakan dalam pertemuannya dengan beberapa lembaga-lembaga seluruh dunia, katanya, “Jika kami katakan kepada kekuatan Amerika, ‘Keluarlah dari negeri kami!’ Mereka tidak akan mau keluar.” Ini adalah penegasan yang sangat jelas sekali. Demikian halnya dengan Menteri Luar Negeri Qatar, ia mengatakan, “Seandainya kami katakan kepada pemerintah Amerika dan kekuatan militernya, ‘Keluarlah dari Qatar!’ Kita akan dihapu dari peta dunia.” Katanya. Jadi, negeri-negeri Islam sedang terjajah, apapun maksud dari kalimat ini. Sementara manusia masih sibuk saja dengan berbagai ibadah, amalan-amalan sunnah dan ketaatan-ketaatan yang jauh dari kewajiban yang semestinya ditunaikan sekarang! Maka, sudah selayaknya kita untuk berkonsentrasi : 1. Bahwa solusinya adalah jihad fii sabiilillaah. 2. Waspada dari orang yang hanya duduk saja. 3. Bahwa hijroh dan jihad fii sabiilillaah, keduanya tidak bisa dipisahkan ~ di saat-saat seperti sekarang ~ dalam rangka menegakkan yang haq serta menumpas yang bathil. Wallahu A’lam [8] [1] Abul Faraj Ibnul Jauziy berkata: “Diantara bentuk talbis iblis terhadap para fuqaha’ adalah bergaulnya mereka dengan para pemimpin dan penguasa, serta bermudahanah dan meninggalkan sikap pengingkaran kemungkaran mereka — padahal ia mampu melakukannya —, tak jarang mereka memberikan rukhsoh kepada para penguasa itu dalam hal yang sebenarnya tidak ada rukhsoh di dalamnya dengan tujuan memperoleh dunia yang mereka miliki. Dengan itu, terjdilah kerusakan dari tiga segi, pertama: Penguasa tersebut akan mengatakan, ‘Seandainya aku tidak diatas kebenaran, tentu orang fakih ini akan mengingkari perbuatanku, bagaimana aku tidak dalam posisi yang benar, sedangkan ia makan dari hartaku’. Kedua: orang-orang awam akan mengatakan, ‘Tidak ada masalah dengan penguasa ini, tidak ada masalah dalam harta dan apa yang ia lakukan, sebab fulan yang fakih itu terus berada di sisinya’. Ketiga: Pada si fakih itu sendiri, sesungguhnya ia telah merusak agamanya dengan perbuatannya itu.” (Talbis Iblis, hal. 118). [2] Syaikh Aiman Adh Dhowaahiriy mengatakan: “Ada ribuan pemuda yang hidup terbelunggu oleh nama-nama yang tampak menggema ini; Ibnu Baaz, Al ‘Utsaimin, Abu Bakar Al Jazaairiy, para pemuda itu asal ikut saja kepada mereka, atau minimal tidak berani berpendapat lain dengan mereka, meskipun mereka melakukan kesalahan yang besar dan penyimpangan yang parah… sudah saat bagi para pemuda muslim untuk membebaskan diri dari mereka, dari nama-nama yang bergaung besar yang masih saja berada bersama kemunafikan para thoghut hingga akhirnya nama-nama itu menjadi remeh dan mengundang sikap merendahkan dimulut kawan maupun lawan! Dan saatnya bagi para pemuda untuk berkumpul disekeliling para ulama’ pejuang yang jujur dimana mereka menghadapi rintangan dan menanggung cobaan demi agama mereka, serta mereka yang disifati Alloh dalam firmannya: وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ “Dan kami jadikan mereka pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah kami, ketika mereka bersabar dan mereka yakin terhadap ayat-ayat kami”. Sudah saatnya para pemuda itu keluar dari ketidaksadaran yang ia hidup di dalamnya serta hendaknya mengerti bahwa peperangan antara islam dan kekafiran, antara yang haq dan yang bathil adalah perang yang menjadi keharusan dan tidak boleh darinya. Siapa yang belum siap menghadapinya atau tidak membuat persiapan untuk menghadapinya, ia akan menjadi korban pertama dari perang itu… kebenaran itu terang sementara kebathilan itu samar; sesungguhnya bin Baaz dan ulama’ kelompoknya adalah ulama’ penguasa, mereka menjual kami kepada musuh-musuh kami demi gaji dan jabatan. Biarlah marah orang yang marah dan rela orang yang rela, sesungguhnya barisan iman sebelum menghadapi barisan kafir harus membersihkan diri dari orang-orang yang tidak jelas dan munafik, وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ “Dan demikianlah, kami rincikan ayat-ayat dan agar jelas mana jalan orang-orang yang jahat” (Majalah Al Mujahid, edisi ke 11, 3 Sya’ban 1415 H) [3] An Nawawiy berkata, “Yang dimaksud Jad’an adalah pemuda yang kuat, hingga aku bisa maksimal dalam membantumu.” (Syarkhul Muslim II/ 203). [4] Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy berkata, “Sedikit sekali dari mereka yang memahami hakekat manhaj dari din yang agung ini serta besarnya beban-bebannya. Ketika Alloh telah ciptakan surga dan neraka serta mengutus jibril untuk melihat keduanya, lalu ia melihat surga dan nikmat yang ada di dalamnya kali pertama, ia mengatakan, ‘Demi Alloh, wahai Rabbku tidak ada seorangpun mendengar tentangnya kecuali akan memasukinya. Tapi tatkala ia melihat surga itu ternyata dikelilingi oileh hal-hal yang tidak menyenangkan, ia berkata, ‘Demi Alloh wahai Rabbku aku khawatir tidak ada seorangpun yang memasukinya’ jadi, jalan yang diinginkan Alloh untuk sampai ke surga tidaklah yang sipenuhi dengan bunga-bunga dan wewangian. Tidak! Tetapi jalan itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan dan berbagai ujian, gangguan dan darah. Kalau ada orang yang masuk surga tanpa menempuh jalan seperti ini, tentu yang paling layak adalah para Rosul Alloh dan nabi-nabiNya yang mana mereka telah Alloh pilih dari makhluk-makhluknya yang terbaik, namun ternyata mereka juga disakiti, dijelek-jelekkan dan didustakan. فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ “Lalu mereka bersabar atas pendustaan mereka dan disakiti hingga datang pertolongan kami, dan tidak akan berubah kalimat Alloh”. Hakekat ini diketahui setiap orang yang berfikir akan pelajaran manhaj para nabi dan sejarah dakwah. Oleh karena itu, kalimat pertama yag didengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam setelah diangkat menjadi nabi dari waraqah bin Naufal adalah — ia membaca kitab-kitab terdahulu —, tidak ada seorangpun yang datang membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi! Maka orang yang mimpi telah membawa warisan para nabi kemudian mencari keridhoan manusia atau pemerintahan, mereka tidaklah paham akan hakekat manhaj ini…! (Dari sebuah makalah berjudul Lam Ya’ti Rajulun Bi Mitsli Ma Ji’ta Bihi Illa ‘Udiya, Jumadal Akhirah 1423 H). [5] Teks selengkapnya adalah, قَالُوْا: (أَمِطْ عَنَّا يَا أَسْعَد! فَوَاللهِ لاَ نَدَعُ هَذِهِ الْبَيْعَةَ أَبَدًا وَلاَ نَسْلُبُهَا أَبَدًا)، قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه: (فَقُمْنَا إِلَيْهِ فَبَايَعْنَاهُ، فَأَخَذَ عَلَيْنَا وَشَرَّطَ، وَيُعْطِيْنَا عَلَى ذَلِكَ الْجَنَّةَ … mereka berkata, “Jangan halangi kami wahai As’ad, demi Alloh kami tidak akan meninggalkan bai’at ini dan tidak akan kami cabut selamanya.” Jabir ra berkata, “Maka kamipun berdiri dan berbai’at kepada beliau, beliaupun mengambil kami dan memberikan syarat, dan memberikan surga akan hal itu.” [6] Rosululloh bersabda, َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً – فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ “Iman itu ada tujuhpuluh sekian — atau enampulah sekian — cabang, yang paling utama adalah kalimat laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah bagian dari iman.” (HR. Muslim) [7] Asy Syanqithiy rh berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti aturan-aturan positif yang dibuat oleh setan melalui lidah wali-walinya merupakan penentangan terhadap apa yang telah disyareatkan Alloh ta’ala melalui lisan para Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, hal itu tidak diragukan lagi merupakan kekufuran dan kesyirikannya kecuali orang yang bashirohnya dihilangkan Alloh dan ia butakan dari cahaya wahyu seperti mereka.” (Adhwa-ul Bayaan IV/ 83-84). Dan Ahmad Syakir berkata, “Sesungguhnya perkara dalam undang-undang positif ini sudah jelas seperti jelasnya matahari; itu adalah kufuh bawwah, tidak ada rahasia di dalamnya dan tidak ada yang ditutup-tutupi, serta tidak ada udzur bagi seorangpun yang menisbatkan dirinya kepada Islam — siapapun orangnya — untuk mengamalkannya dan tunduk serta mengakuinya. Maka hendaklah seseorang waspada terhadap dirinya sendiri, dan masing-masing orang menjadi penghisab dirinya sendiri.” (‘Umdatut Tafsir IV/ 172). [8] Sampai di sini selesai sudah ceramah Syaikh Mujahid Usamah bin Ladin hafidzahullah, dan semoga Alloh menjadikan beliau sebagai penyumbat di tenggorokan-tenggorokan orang-orang kafir. Perlu diketahui bahwa penukilan ini selesai dalam bentuk tulisan dari suara rekaman kaset beliau, disertai sedikit perubahan sesuai dengan kebutuhan. Tak lupa, kami memohon kepada Alloh ta’ala agar membesarkan ganjaran dan pahala bagi siapa saja yang turut merampungkan mudhoharah ini dengan suara Syaikh Usamah bin Ladin langsung terdapat qismu shoutiyyat (Kolom suara) di situs kami: “Mimbar Tauhid dan Jihad.” tawhed.ws).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: