KISAH ORANG-ORANG BURON DALAM ISLAM

Ditulis oleh: Seorang pecinta orang-orang buron, Abû Jandal Al-Azdî Dari Semenanjung Arabia Wahai Para Pemuda Yang Telah Menceraikan Dunianya…

Wahai para Syuhada’, sepengetahuanku kalian adalah syuhada’ … Darah kalian adalah panji dan cahaya bagi kami … Wahai para Syuhada’, aku menangisi kalian dan sudah seharusnya aku menangis … Orang-orang semacam kalian adalah orang-orang yang terasing dalam agama kami … Wahai para Syuhada’, penduduk semenanjung Arabia menangisi kalian … Di sana musuh-musuh telah bercokol … Wahai para Syuhada’, kalian ditangisi oleh pedang, dan juga oleh … Badar, Thoyyibah serta tanah padang pasir … Wahai para Syuhada’, kalian ditangisi oleh payung Ahmad … Tangisannya adalah darah dari orang yang terluka … Mereka adalah Syuhada’, yang meskipun jasad mereka pergi … Meninggalkan kami, namun amalan mereka tetap hidup … Mereka adalah Syuhada’, yang telah menanggalkan pakaian kehinaan … Mereka telah tinggal di atas langit yang tinggi … Mereka adalah Syuhada’, yang telah menyatakan secara tegas karena Alloh … Menyatakan suatu permasalahan yang para ulama’ takut untuk menyatakannya … Mereka adalah Syuhada’, yang telah terbunuh oleh … Kelompok biadab beserta para hakimnya yang bodoh … Mereka adalah Syuhada’, yang menolak untuk berkhianat terhadap agama mereka … Agama Nabi yang merupakan jalan yang jelas dan terang … Mereka adalah para pemuda, yang demi Alloh, sungguh hebat jiwa mereka … Kalian dihormati, semoga orang-orang pengecut tidak dapat tidur … Mereka adalah pemuda, yang telah mengorbankan jiwa mereka untuk Alloh … Tatkala para pengecut telah absen dari perjuangan … Mereka adalah pemuda, yang telah menghidupkan perasaan umat … Sejarah mereka dalam pengorbanan adalah cahaya … Mereka adalah pemuda, yang telah menerangkan dengan darah mereka … Bagaimana merealisasikan Al Wala’ (loyalitas) dan Al Baro’ (permusuhan) … Mereka adalah pemuda, yang telah menceraikan dunia … Mereka tidak terpedaya dengan wanita yang lembut dan cantik … Demi Alloh, kalian telah membuat sebaik-baik teladan … Niscaya kalian akan mendapatkan pahala orang-orang yang mengikuti jejak kalian … Duhai seandainya aku menjadi rambut kalian … Wahai para suri tauladan dalam kebaikan, wahai orang-orang yang mulia … Dalam anggapan kami, kalian telah meraih Firdaus … Alangkah beruntungnya kalian, alangkah beruntungnya kalian wahai orang-orang yang berbahagia … Kalian pun menerima berbagai rahmat dan ampunan dari … Robb kalian yang Maha Mulia, secara deras … Wahai para pemuda, ketika Nayif melihat mereka … Dan Fahd ruhnya menggigit penyakit … Wajahnya berubah lantaran takut yang … Menyelimuti dirinya, seolah-olah seperti bunglon … Janganlah kalian bergembira wahai Alu Sa’ud dengan mengumumkan mereka … Di layar televisi, wahai para pengkhianat … Karena kemuliaan mereka benar-benar akan menghidupkan generasi sebagaimana … Ghulam telah menghidupkan generasi, wahai orang pandir … Generasi yang menghunus pedangnya dan tidak akan tunduk … Sampai kembali umat yang perwira … Sampai kembali dua kiblat dan negeri kami … Dan diusir dari hadapan kami para pendholim itu … Wahai para pemuda Islam, bangkit dan sambutlah … Kini telah tiba saatnya untuk mengembalikan bangunan … Telah tiba saatnya Robb kalian melihat kalian … Memiliki tekad dalam berperang, dan supaya para syuhada’ merasa tenang … Bismillâhirrohmânirrohîm MUKADDIMAH Segala puji bagi Alloh yang telah memudahkan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa menuju keridhoan-Nya. Dan telah menjelaskan jalan hidayah bagi mereka serta menjadikan ittibâ‘ kepada rosul sebagai petunjuk di atasnya. Yang telah menjadikan mereka sebagai hamba sahaya, maka merekapun mengakui hak peribadatan-Nya serta tidak mau mengambil pelindung selain-Nya. Dialah yang menetapkan keimanan di dalam hati mereka serta menguatkannya dengan rûh dari-Nya ketika mereka ridho Alloh sebagai robbnya, Islam sebagai agamannya dan Muhammad sebagai rosulnya. Dan segala puji bagi Alloh yang telah menjadikan dalam zaman-zaman kekosongan, orang yang dapat menjelaskan sunnah para rosul. Yang telah menetapkan ketentuan khusus untuk ummat ini, yaitu di dalam diri mereka akan selalu ada satu kelompok yang berada di atas kebenaran, mereka tidak terpengaruh oleh orang yang tidak menterlantarkan mereka atau menyelisihi mereka sampai tiba keputusan dari-Nya, meskipun berbagai kelompok dari kalangan jin maupun manusia telah berkumpul untuk memerangi mereka. Mereka ajak orang sesat kepada petunjuk, bersabar atas gangguan dari mereka, memberikan penglihatan kepada orang-orang yang buta dengan cahaya Alloh. Mereka hidupkan orang-orang mati dengan kitab-Nya. Merekalah manusia yang paling baik ajarannya, paling lurus kata-katanya; betapa banyak orang yang terbunuh oleh iblis mereka hidupkan, orang sesat dan bodoh yang tidak mengerti jalan petunjuk mereka tuntun ke jalan yang lurus, ahli bid‘ah dalam din Alloh mereka lempari dengan pelontar-pelontar api kebenaran, sebagai bentuk jihad di jalan Alloh serta dalam rangka mencari keridhoan-Nya, sebagai keterangan dan bukti-bukti nyata dari hujjah-hujjah-Nya untuk seluruh semesta alam. Karena mencari kedekatan di sisi-Nya, untuk memperoleh keridhoan dan jannah-Nya; maka merekapun memerangi orang-orang yang keluar dari agamanya yang benar, dan dari jalan-Nya yang lurus, yaitu merekalah orang-orang yang memasang panji-panji kebid‘ahan, menarik tali kekang fitnah, menyelisihi dan saling berselisih perihal Al-Qur’an serta sepakat untuk memisahkan diri darinya, mereka campakkan ia di belakang punggungnya serta rela terhadap yang selain sebagai gantinya. Aku memuji-Nya dan Dialah yang berhak dipuji dalam semua yang Ia takdirkan dan Ia tentukan. Dan aku memohon pertolongan kepada-Nya, sebuah permintaan pertolongan dari orang yang mengerti bahwa tidak ada robb selain Dia, tidak ada ilâh (sesembahan yang hakiki) kecuali Dia. Aku memohon petunjuk kepada-Nya jalan yang ditempuh orang-orang yang telah Ia beri nikmat dari mereka yang Ia pilih untuk bisa menerima kebenaran sekaligus meridhoinya. Aku juga bersyukur kepada-Nya, dan kesyukuran ini menjamin adanya tambahan pemberian-Nya. Aku memohon ampun kepada-Nya dari berbagai dosa yang menjadi penghalang antara hati dan petunjuk-Nya. Dan aku berlindung kepada Alloh dari kejahatan diriku serta keburukan perbuatanku; permintaan lindungan dari seorang hamba yang lari menuju robbnya dengan membawa dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya. Aku berlindung kepada-Nya dari godaan-godaan nafsu yang keras kepala, dan kebid‘ahan yang menyesatkan, tidaklah merugi orang yang berada di waktu pagi dalam keadaan berlindung kepada-Nya, dan berada di dalam penjagaan-Nya. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilâh (sesembahan yang hakiki) selain Alloh, satu-satu-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya. Sebuah persaksian yang aku persaksikan bersama orang-orang yang bersaksi, aku pikul bebannya dari orang-orang yang membangkang, dan aku menyimpannya di sisi Alloh sebagai bekal untuk menghadapi hari berbangkit. Akupun bersaksi bahwa yang halal adalah apa yang Alloh halalkan, yang haram adalah yang Ia haramkan dan agama itu adalah apa yang Ia syari‘atkan, dan bahwasanya hari kiamat pasti tiba tidak ada keraguan di dalamnya serta Alloh pasti membangkitkan penghuni kubur. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya yang terpilih, nabi-Nya yang mendapatkan ridho, rosul-Nya yang benar lagi dibenarkan, di mana beliau tidak berbicara atas dasar hawanafsu, kata-katanya tak lain adalah wahyu yang diwahyukan. Alloh mengutus beliau sebagai rahmat seru sekalian alam, hujjah bagi para penempuh jalan serta bagi seluruh hamba. Alloh telah mengutusnya di zaman kosong dari rosul, maka Allohpun memberi hidayah kepada jalan paling lurus dengannya, menerangkan jalan, mewajibkan para hamba untuk mentaati, mengagungkan, menghormati dan memuliakannya, serta menunaikan hak-hak terhadap beliau. Alloh telah tutup semua jalan menuju-Nya, maka tidak ada seorangpun yang bisa membukanya selain melalui jalannya. Maka Alloh lapangkan dadanya, mengangkat namanya, mengajarinya setelah dulunya bodoh, memberikan penglihatan kepada orang yang tadinya buta, memberikan petunjuk dari kezaliman. Dengan beliau, Alloh telah bukakan mata yang buta, telinga yang tuli serta hati yang tertutup, maka iapun tak hentinya melaksanakan perintah Alloh, tidak ada seorangpun yang mampu menghalanginya. Berdakwah (menyeru) kepada Alloh, tidak dipalingkan oleh orang yang suka memalingkan, hingga tibalah saat risalahnya menerangi bumi setelah gelap sebelumnya, hati-hati bersatu setelah tercerai berai sebelumnya, dakwahnyapun terus berjalan seiring beredarnya matahari pada semua penjuru dunia, agamanya mencapai semua tempat yang terjamah malam dan siang. Tatkala Alloh telah sempurnakan agama-Nya melalui perantara beliau, ia lengkapkan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman melalui perantara beliau, Allohpun memilihnya sehingga Ia memindahkannya ke Ar-Rofîqu `l-A‘lâ dalam kemuliaan-Nya, tempat yang tertinggi dari tingkatan surga teratas. Akhirnya beliaupun tinggalkan ummat ini, dan beliau tinggalkan mereka di atas hujjah yang jelas; tiada yang menyimpang darinya kecuali ia pasti dari golongan orang-orang yang binasa. Semoga Alloh senantiasa mencurahkan sholawat kepada beliau dan keluarganya yang baik dan bersih, semoga selama masih ada langit dan bumi, tetap tercurah sholawat kepada mereka selamanya, yang tidak akan pindah atau bergeser dari diri mereka. Ammâ ba‘d… Kepada para mujahidin yang di atas pundak mereka mengusung perubahan keadaan yang menyedihkan ini. Kepada mereka yang menjadi kaum minoritas lagi tertindas di muka bumi, yang senantiasa takut dilibas manusia. Kepada mereka saya katakan, “Sungguh, sejarah akan senatiasa berulang, dan sunnatullôh akan terus berjalan, siapapun tak akan bisa menghentikannya. سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلاً Sebagai sunnatulloh yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnatulloh. (Al Ahzab: 62) فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلاً وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلاً Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnatulloh yang telah berlaku kepada orang-orang yang terdahulu.Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan perubahan pada sunnatulloh, dan sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan penyimpangan pada sunnatulloh itu. (Fathir: 43) سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلاً Sebagai suatu sunnatulloh yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan pada sunnatulloh itu. (Al Fath: 23). سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلاً Kami menetapkan yang demikian sebagai suatu sunnah (ketetapan) bagi rosul-rosul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi sunnah (ketetapan) Kami itu. (Al Isro’: 77) Oleh karena kalian telah bertekad untuk merubah dan membalikkan penguasa kafir yang sekarang sedang berkuasa atas nagara-negara kaum muslimin. Maka, yang mesti kalian pertimbangkan adalah bahwasanya realita ini sangatlah pahit. Sebuah struktur pemerintahan kafir yang berkuasa, ia yang mengendalikan keuangan dan informasi, mengendalikan sejumlah ulama dan berbagai sumber daya, mengendalikan berbagai kelompok dan partai yang berjejal dalam tubuh dunia Islam, sejak dari kelompok dan partai yang kafir, sesat, bid‘ah hingga kelompok Islam yang kalah mental…dst. Sementara itu, kaum muslimin telah merasakan hidup selama puluhan tahun di bawah kehinaan dan perbudakan seperti ini. Sungguh, kini mereka telah menjadi generasi yang kalah sebelum bertempur. Adapun kalian, kalianlah generasi pembawa perubahan, kalian telah menempuh langkah yang telah ditempuh oleh para pendahulu kalian: Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam serta para shahabatnya ~ridlwânullôhi ‘alaihim~. Oleh karena itu, teruslah berjalan, sesungguhnya mereka dulupun berjalan dalam realita yang pahit juga, dan dalam kondisi yang mengenaskan bagi umat manusia. Kemudian ~atas anugerah Alloh SWT~ mereka bisa membalikkan keadaan mereka serta bangkit secara serempak di hadapan kekufuran, kedzaliman dan keangkaramurkaan. Dan hanya dalam beberapa tahun saja, mereka taklukan semenanjung Arab, mereka tancapkan pilar-pilar negara Islam, kemudian mereka bergerak menaklukkan dunia. Dalam waktu kurang dari setengah abad, negara Islam telah terbentang mulai dari India, Sind dan China pada arah timur, hingga ke Maroko, dan Spanyol pada arah barat. Semua itu tidak datang dengan cuma-cuma, namun mereka harus tetapkan diri mereka untuk menanggung sulitnya jalan; mereka diusir, disiksa, dipenjara bahkan dibunuh serta dipisahkan dari keluarga dan hartanya. Namun akhirnya, hasil akhir itu menjadi milik mereka. Kini, lihatlah sejarah, ia mulai berulang kembali, kalian adalah anak cucu para shahabat, kalian berjalan di atas manhaj mereka dengan izin Alloh, kalian ikuti jejak mereka dalam perjalanan melakukan perubahan. Maka bersabarlah menanggung kepayahan dan kesulitan yang kalian hadapi, pertolongan itu sudah dekat dengan izin Alloh, maka waspadalah! Sekali lagi, waspadalah jangan sampai mundur atau merubah langkah, dan saya berdoa kepada Alloh agar diberi keteguhan. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً * وَلَمَّا رَأى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَاناً وَتَسْلِيماً * مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh. Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Alloh dan Rosul-Nya kepada kita”.Dan benarlah Alloh dan Rosul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Alloh; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya). (Al Ahzab: 21-23) Sayyid Qutb rohimahulloh berkata di dalam buku Hâzda `d-Dîn, “Hari pertama kedatangan Islam, ia berhadapan dengan sebuah kenyataan besar; kenyataan di Jazirah Arab, kenyataan di seluruh bola bumi…! Berhadapan dengan beraneka ragam keyakinan dan pandangan, berhadapan dengan bermacam norma dan timbangan, berhadapan dengan berbagai sistem dan kondisi, berhadapan dengan berbagai kepentingan dan fanatisme golongan… Ketika itu, jurang pemisah antara Islam, ketika ia baru pertama kali datang, dengan manusia di semenanjung Arab serta di seluruh dunia sangatlah jauh dan dalam, sedangkan target perubahan yang dikehendaki teramat jauh…amat jauh. Sedangkan yang melatar belakangi kenyataan tersebut adalah sejarah yang berabad-abad, kepentingan yang bermacam-macam dan kekuatan yang banyak. Semuanya berdiri menghadang di depan agama ‘baru’ ini; di mana agama ini tidak hanya ingin merubah keyakinan dan carapandang, norma dan timbangan, budaya dan adat, akhlak dan perasaan … tapi ia juga ingin ~dan tak henti-hentinya~ untuk merubah hukum dan perundang-undangan, syari’at dan aturan bahkan dalam urusan pembagian harta dan rezeki. Sebagaimana ia bersikukuh untuk merebut kepemimpinan terhadap umat manusia dari tangan taghut dan jahiliyyah, untuk mengembalikannya kepada Alloh dan kepada Islam! Seandainya saja saat itu kita katakan kepada siapapun orangnya, bahwa agama baru inilah yang akan merubah semua ini, di hadapan realita yang sungguh dahsyat, di mana ia ditopang dengan kekuatan seluruh dunia, bahwa agama inilah yang akan menang, ialah yang akan menggantikan kondisi sekarang ini dalam kurun waktu kurang dari setengan abad, tentu kata-kata ini hanya akan menuai cercaan, hinaan dan penolakan! Namun demikian, kenyataan ini betigu cepat berpindah dari tempatnya, untuk ia kosongkan sebagai tempat bagi ‘si pendatang baru’. Dan ternyata, begitu cepat sang pemimpin baru menerima tampuk kepemimpinan umat manusia untuk ia keluarkan dari kegelapan menuju cahaya dan dia atur dengan syari‘at Alloh, di bawah bendera Islam! Bagaimana perkara ini bisa terjadi, padahal semula ia tampak mustahil dalam perkiraan orang yang kuwalahan menghadapi kenyataan tersebut dan dilindas oleh kerasnya beban-bebannya, serta merekalah yang selalu mempertimbangkan berbagai urusan dan realita yang ada?! Bagaimana bisa, hanya satu orang, Muhammad bin ‘Abdullôh shollallohu ‘alaihi wa sallam, berdiri seorang diri di hadapan dengan seluruh dunia, atau paling tidak di hadapan jazirah Arab semuanya di awal-awal? Atau paling tidak di hadapan kaum Quraisy, si penguasa seluruh dunia arab kala itu, di awal-awal perintisan dakwah? Di hadapan semua keyakinan, pandangan, nilai dan timbangan, hukum dan undang-undang, kepentingan dan fanatisme kelompok, setelah itu ia bisa menang melawan semuanya, mengganti semuanya, dan mendirikan perundangan baru, di atas pondasi manhaj yang baru serta cara pandang baru? Ia tidak memperlunak keyakinan dan pandangan hidup mereka, tidak ber mudâhanah (kompromi) terhadap perasaan dan pembawaan hati mereka, tidak ber mudâhanah terhadap sesembahan dan para pemimpin mereka … tidak tidak akan diam sebelum berkuasa …sesungguhnya ia diperintahkan untuk mengatakannya sejak beberapa hari pertama, ketika ia masih di Mekkah, ketika semua kekuatan mengeroyoknya: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ * لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ *وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُد * وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ *وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ Katakanlah:”Hai orang-orang kafir!” aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. (Al Kafirun: 1-6) Ia tidak hanya memproklamirkan perpecahan antara agama dia dengan agama mereka, ibadah dia dengan ibadah mereka, pemisahan diri dengan mereka ini adalah buat selamanya. Ia juga diperintah agar jangan mengharapkan pertemuan pada satu titik dengan mereka di masa mendatang. Maka iapun berulang kali menegaskan kepada mereka: وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ *وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan agar terus-menerus bersikukuh dalam melaksanakan pemisahan diri dalam urusan ini, di mana tidak akan lagi pernah bertemu: لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku. Ia juga tidak menampakkan kepada mereka seolah ia punya kekuasaan tersembunyi, kelebihan-kelebihan tak manusiawi, ataupun tempat-tempat rahasia. Tetapi ia diperintahkan agar mengatakan kepada mereka: قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ Katakanlah:”Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku. Katakanlah:”Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat”. Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya). (Al An’am: 50) Ia juga tidak mengobral janji berupa jabatan dan harta ghanimah kepada orang yang mau mengikutinya, di saat ia menang melawan musuh-musuhnya. Ibnu Ishaq berkata, “Adalah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menawarkan diri kepada para kabilah di musim hajji, beliau mengatakan: يا بني فلان، إني رسول الله إليكم، يأمركم أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئاً، وأن تخلعوا ما تعبدون من دونه من هذه الأنداد، وأن تؤمنوا بي وتصدقوا بي، وتمنعوني حتى أبين عن الله ما بعثني به “Wahai Bani Fulân, sesungguhnya Aku adalah seorang Rosul yang Alloh utus kepada kalian, Dia memerintahkan kalian agar beribadah (hanya) kepada-Nya serta tidak mensekutukan dengan sesuatu apapun, dan hendaknya kalian melepas semua yang kalian sembah selain-Nya dari tandingan-tandingan ini, dan hendaknya kalian beriman dan membenarkanku, serta melindungi diriku sampai aku terangkan apa yang Alloh utus kepadaku.” Ibnu Ishaq berkata, Telah menceritakan kepadaku Az-Zuhri, bahwasanya beliau mendatangi Bani Amir bin Sho‘sho‘ah, maka beliau menyeru mereka kepada Alloh , serta menawarkan diri kepada mereka. Kemudian ada seorang dari mereka bernama Baijuroh bin Farôs mengatakan, “Demi Alloh, seandainya aku menuruti pemuda Quraisy ini, bangsa arab akan memangsanya!” lalu ia bertanya, “Bagaimana, jika kami berbai‘at mentaati perintahmu, kemudian Alloh menangkan engkau atas musuhmu, adakah bagian kekuasaan yang akan kami terima sepeninggalmu?” beliau menjawab, “Urusan itu semuanya milik Alloh, Dia letakkan kepada siapa saja yang Ia kehendaki.” “Apakah engkau akan jadikan leher-leher kami menjadi sasaran bangsa arab, lantas jika Alloh menangkan engkau, kami tidak mendapatkan jatah apapun? Kami tidak butuh kepada urusanmu!” akhirnya merekapun menolak beliau. Kalau begitu sejarahnya, lantas bagaimana bisa terjadi apa yang telah terjadi? Bagaimana satu orang saja kuat mengalahkan realita yang ada kala itu? Beliau tidak mengalahkan keadaan semata-mata dengan mukjizat di luar kebiasaan yang tidak pernah terulang, beliau telah nyatakan terang-terangan bahwa beliau tidak bekerja di lading ini dengan kejaiban, beliau juga tidak pernah sekali saja mengabulkan permintaan mereka untuk melakukan perbuatan di luar kewajaran. Sesungguhnya semua yang telah terjadi itu adalah sunnah yang selalu terulang setiap kali manusia mengambil dan menyambutnya. Kemenangan manhaj yang ketika itu terwujud, dikarenakan keterlibatannya secara langsung dalam realita yang nyata, disertai dengan kesiapan fitroh yang tersembunyi, sebuah fitroh yang besar dan kokoh, yang tidak terkalahkan oleh hiruk-pikuknya kenyataan yang kasat mata, ketika ia ketika ia membebaskan diri, dikumpulkan dan diarahkan, kemudian dilepaskan ke target yang telah direncanakan. Sungguh, berbagai keyakinan yang rusak dan menyimpang saat itu memandang hati manusia. Sembahan-sembahan palsu itu penuh sesak memenuhi teras Ka‘bah sebagaimana ia juga memenuhi pandangan hidup manusia, akal dan hati mereka. Kepentingan-kepentingan golongan dan ekonomi yang dibangun di atas punggung sesembahan-sembahan palsu, belum lagi kuburan dan perdukunan yang berada di balik semua itu, perundangan-perundangan di tengah kehidupan manusia, terbentang dari pembagian kekhususan penuhanan antar manusia, memberikan para ahli kubur dan sihir hak pengaturan kepada manusia serta dalam peletakkan manhaj kehidupan!!! Islampun datang menghadapi semua realita ini dengan konsep Lâ ilâha illallôh, berbicara kepada fithroh yang tidak mengenal adanya ilâh (yang hak) selain Alloh saja, mengenalkan manusia akan sesembahan mereka yang sebenarnya, kekhususan dan sifat-Nya yang dikenal fitroh mereka dari bawah dari bawah reruntuhan dan berbagai timbunan. Alloh ta‘âlâ berfirman: قُلْ أَغَيْرَ اللّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلاَ يُطْعَمُ قُلْ إِنِّيَ أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ وَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكَينَ * قُلْ إِنِّيَ أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ * مَّن يُصْرَفْ عَنْهُ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمَهُ وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ * وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدُيرٌ * وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ * قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادةً قُلِ اللّهِ شَهِيدٌ بِيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللّهِ آلِهَةً أُخْرَى قُل لاَّ أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ Katakanlah:”Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan”. Katakanlah:”Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Alloh). Katakanlah:”Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Robbku. Barangsiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Alloh telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Alloh menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah:”Siapakah yang lebih kuat persaksiannya. Katakanlah:”Alloh. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur’an ini dwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada ilah-ilah yang lain disamping Alloh”. Katakanlah:”Aku tidak mengakui”. Katakanlah:”Sesungguhnya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Alloh)”. (Al An’am: 14-19) Dan Alloh SWT berfirman: قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ قُل لاَّ أَتَّبِعُ أَهْوَاءكُمْ قَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ * قُلْ إِنِّي عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَكَذَّبْتُم بِهِ مَا عِندِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ * قُل لَّوْ أَنَّ عِندِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ لَقُضِيَ الأَمْرُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَاللّهُ أَعْلَمُ بِالظَّالِمِينَ * وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ * وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ * وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ * ثُمَّ رُدُّواْ إِلَى اللّهِ مَوْلاَهُمُ الْحَقِّ أَلاَ لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ * قُلْ مَن يُنَجِّيكُم مِّن ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً لَّئِنْ أَنجَانَا مِنْ هَـذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ * قُلِ اللّهُ يُنَجِّيكُم مِّنْهَا وَمِن كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنتُمْ تُشْرِكُونَ * قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ Katakanlah:”Sesungguhnya aku dilarang menyembah ilah-ilah yang kamu sembah selain Alloh”. Katakanlah:”Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demukian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”. Katakanlah:”Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (al-Qur’an) dari Robbku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Alloh. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik. Katakanlah:”Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu telah diselesaikan Alloh urusan yang ada antara aku dan Kamu. Dan Alloh lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim. Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melaimkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada sing hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Alloh-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya, dan diutusnya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudan mereka (hamba Alloh) dikembalikan kepada Alloh, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat. Katakanlah:”Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengataka):”Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur. Katakanlah:”Alloh menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya. Katakanlah:”Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). (Al An’am: 56-65) Sang fithrohpun mendengarkan suara lama, yang memanggilnya dari balik hiruk-pikuk realita yang berat, di dalam kegamangan yang tak berujung, iapun menjadi teguh kepada ilâh satu-satunya, dakwah barupun menang atas realitas berat tadi! Dan ketika manusia mulai sadar untuk kembali kepada ilâh Yang Mahaesa, iapun menolak kalau ada manusia menyembah manusia, semua orangpun mendongakkan kepala satu sama lain di hari ketika semua kepala menunduk kepada ilâh yang satu, Yang Mahamemaksa atas para hamba-Nya. Dan, selesailah peradaban ketinggian darah, ketinggian suku, kemuliaan warisan, hukum dan kekuasaan warisan. Namun…bagaimana semua ini bisa terjadi? Dulupun terjadi realita kepentingan kelompok di balik kepentingan-kepentingan kasta dan ras, material maupun moral. Sebuah realita yang merata di jazirah Arab, bahkan telah mereta di wilayah-wilayah sekitarnya. Realitas yang tidak ada seorangpun berani menentang, sebab orang yang berkepentingan terhadapnya tidak pernah merasa bosan, orang-orang yang lemah di bawahnya tidak mengingkarinya! Bangsa Quraisy dulu menamakan dirinya “Al-Hams” serta menetapkan hak-hak dan ikatan-ikatan yang tidak dimiliki semua bangsa arab yang lain. Mereka melaksanakan hajji di Muzdalifah ketika semua orang melaksanakannya di Arofah! Dengan kelebihan-kelebihan ini, mereka mengambil kepentingan-kepentingan ekonomi yang mereka wajibkan kepada semua penduduk Arab, semuanya mereka wajibkan untuk tidak berthowaf di Ka‘bah kecuali menggunakan pakaian yang dibeli dari mereka, kalau tidak mau, mereka terpaksa thowaf dengan telanjang! Seluruh dunia yang berada di sekeliling Jazirah Arab kala itu rebut dengan berbagai pertikaian yang dipicu oleh perbedaan darah, suku dan tingkatan sosial… Masyarakat Iran berdiri di atas landasan keturunan dan profesi. Antar kelas di dalam masyarakat terdapat lobang besar tak berjempatan serta tidak ada penghubung. Pemerintah melarang kepada semua orang untuk membeli ladang milik seorang pemimpin atau orang besar. Di antara prinsip politik sasan adalah hendaknya masing-masing orang mesti menerima garis keturunan yang ia tempati, tak usah mengharap yang lebih tinggi. Seseorang tidak boleh mengambil profesi selain yang telah Alloh ciptakan untuknya. Para penguasa Iran tidak mengangkat orang yang mempunyai derajat rendah untuk memegang tugas-tugas mereka. Demikian juga dengan rakyat secara umum, mereka berada dalam kasta-kasta tertentu, sebagian memiliki hak istimewa yang begitu mencolok, dan masing masing memiliki basis sendiri-sendir di dalam masyarakat. Para kisra, penguasa persi, mengklaim bahwa dalam dirinya mengalir darah tuhan. Sedangkan bangsa persi sendiri memandang mereka layaknya tuhan serta mendendangkan nyanyian mengenai ketuhanan mereka. Mereka juga memandang bahwa para raja itu berada melampaui di atas undang-undang, di atas kritikan dan di atas manusia biasa. Mereka tidak berani menyebut nama para raja itu dengan lidahnya, tidak ada seorangpun berani duduk di majelis mereka serta meyakini bahwa mereka memiliki hak atas manusia manapun sedangkan manusia tidak punya hak atas mereka. Dan bahwa apa saja dari kelebihan harta yang mereka berikan kepada seseorang dari kelebihan harta dan secuil kenikmatan mereka, maka berarti itu adalah sedekah dan pemuliaan, tak ada hak menuntut, dan tidak ada pilihan bagi manusia di hadapan mereka selain mendengar dan taat. Mereka juga membuat rumah khusus –yakni semacam rumah-rumahan—mereka meyakini hanya personal-personal dari raja-raja itulah yang berhak untuk mengenakan mahkota, mereka juga mewajibkan pajak tanah. Hak ini mereka wariskan dari satu pembesar ke pembesar berikutnya, ayah dari kakeknya, tidak ada yang merampasnya selain orang dzalim, tidak ada yang menyainginya selain orang hina yang diragukan keturunannya.Jadi mereka menganut agama raja dan waris di dalam rumah raja, tidak akan mencari pengganti dan tidak ada istilah penyeleksian sebagai ganti. Jika mereka tidak temukan orang dewasa yang memerintah mereka, maka mereka angkat anak kecil. Kalau tidak mereka temukan laki-laki, mereka angkat wanita. Karena dulu, pasca kekuasaan Syirwaih yang menjadi raja adalah anak lelakinya, Ardasyir, padahal usianya waktu itu masih tujuh tahun. Farkh Zad Khosru, putra dari Kisra Abrowis juga menjadi raja padahal ia masih kecil. Baurôn putri Kisrô juga mereka angkat menjadi raja, demikian juga dengan putri Kisra kedua yang bernama: “Azromi Dakhot. Tidak pernah terbetik dalam benak mereka untuk mengangkat pemimpin bagi mereka seorang komandan besar atau salah satu pemuka mereka seperti Rustum atau Jaban atau yang lain, sebab mereka bukan dari keluarga kerajaan! Hukum kasta yang berlaku di India adalah yang paling bengis dan parah dari yang pernah diperbuat manusia terhadap manusia. Tiga abad sebelum kelahiran Al-Masih, di India sudah muncul budaya brahmanisme, dan di sana sudah diletakkan tatanan baru bagi masyarakat India. Di sana disusun sebuah peraturan kependudukan politik yang disepakati dan menjadi undang-undang resmi serta rujukan agama dalam kehidupan negara dan sipilnya, dan itulah yang hari ini dikenal dengan sebutan: “Monosyaster.” Hukum adat ini terbagi kepada empat kasta yang berbeda, yaitu: 1- Brahmana: yaitu tingkatan para dukun dan tokoh agama. 2- Satria: untuk para tokoh peperangan. 3- Wisnu : Para petani dan pedagang 4- Sudra: para pelayan. Mano, si pengarang aturan ini mengatakan: Sesungguhnya penguasa mutlak telah menciptakan kemaslahatan alam Brahma dari mulutnya. Syatro adalah para lengan-lengannya sedangkan Waisy adalah pahanya dan Syuder adalah kakinya. Ia membagikan kewajiban-kewajiban demi kemaslahatan alam. Kasta brahmana bertugas mengajarkan “Weda” atau mempersembahkan nadzar bagi para dewa dan membayar sedekah. Kasta Syatro bertugas menjaga manusia, bersedekah dan mempersembahkan nadzar serta mempelajari weda serta nyanyian tentang hawa nafsu. Sedangkan kasta wisnu bertugas menggembalakan binatang ternak serta merawatnya dan membaca weda sekaligus berdagang dan bercocok tanam. Sedangkan kasta sudra tidak punya tugas selain melayani ketiga kasta ini!. Peraturan ini telah memberikan kasta brahma beberapa keistimewaan serta menyamakan mereka dengan tuhan. Ia berkata: “Orang-orang brahmana adalah makhluk pilihan tuhan, mereka adalah raja para makhluk dan bahwa semua yang ada di dunia ini adalah raja mereka, sebab mereka adalah makhluk termua dan pemuka bumi. Mereka boleh mengambil harta budak mereka, sudra, sesuka mereka tanpa harus ada alasan, sebab budak itu tidak memiliki hak apapun dan semua hartanya adalah milik tuannya. Dan bahwasanya seorang brahma yang menghafal rek weda (kitab suci mereka) orang yang sudah diampuni, meskipun ia membinasakan tiga kasta yang lain dengan dosa-dosa dan perbuatannya. Dan seorang raja tidak diperbolehkan –walaupun dalam kondisi mendesak dan paceklik sekalipun—menjadikan hidup kasta brahmana dalam pajak, atau mengambil upeti, tidak dibenarkan ada seorang brahmana mati kelaparan. Dan jika ada seorang brahmana yang berhak dibunuh, maka ia cukup digundul kepalanya, sedangkan kalau orang lain yang melakukan hal sama, ia harus dibunuh!. Adapun kasta satria, meski mereka berada dua strip di atas dua kasta lain (wisnu dan sudra) namun mereka jauh berada di bawah brahmana. Mano berkata, “Sesungguhnya seorang brahmana yang berusia sepuluh tahun, ia lebih tinggi kedudukannya daripada orang satria yang berusia mendekati seratus tahun, seperti lebih tingginya seorang ayah di atas anaknya! Adapun satria, kelompok tersisih, mereka dalam masyarakat hindu berdasarkan ketetapan peraturan kependudukan dan agama ini lebih rendah daripada hewan serta lebih hina daripada anjing. Peraturan ini dengan terang-terangan mengatakan: “Kebahagiaan bagi kasta syuder ketika ia melayani kasta brahma, mereka tidak perlu mendapat upah atau imbalan tanpa itu. Mereka juga tidak boleh mengumpulkan harta atau menyimpan harta, sebab itu akan menyakiti kasta brahmana! Kalau ada dari kasta tersisih ini yang mengacungkan tangan atau tongkat untuk memukulnya, maka tangannya harus dipotong. Jika ia menendangnya karena marah, kakinya harus ditanggalkan. Jika ada dari mereka yang coba-coba duduk satu majelis dengan kasta brahma, maka raja harus menyeterika pantatnya, atau memboikot atau mengasingkannya dari negeri. Adapun kalau menyentuh dengan tangan, atau mencacinya, maka lidahnya harus dicabut. Kalau ia mengaku-ngaku telah mengajari seorang brahma, ia harus diberi minum dengan minyak yang mendidih. Dan denda membunuh kucing, katak, cicak, burung gagak dan burung hantu, dengan membunuh seorang lelaki dari kasta tersingkir itu sama!!!” Adapun budaya romawi yang terkenal itu, ia terbangun di atas asas kemewahan yang mana tiga perempat dari penduduknya berperan sebagai sahaya, sedangkan seperempat sisanya adalah orang-orang mulia! Juga dibangun di atas pemilahan dalam konteks perundang-undangan antara majikan dan sahaya, antara kelas masyarakat mulia dengan rendahan: Di dalam naskah Gustinian, sebuah undang-undang yang cukup masyhur, disebutkan: “Dan barangsiapa yang merayu seorang janda yang jujur atau seorang gadis, maka hukumannya, jika ia berasal dari kalangan kelas orang mulia adalah menyerahkan separo hartanya. Namun jika dia dari kalangan masyarakat rendahan, maka hukumannya adalah didera serta diasingkan dari negeri.” Nah, ketika fakta seperti ini merata di saentero penjuru bumi, Islam mengetuk fitroh dari bawah hiruk-pikuk kenyataan. Fithroh yang mengingkari dan tidak mengenal semua ini sebagai perbuatan baik. Dan sambutan fithroh terhadap seruan Islam ini jauh lebih kuat dibandingkan kenyataan yang berat ini. Terdengar suara fithroh untuk kepada Alloh Swt mengatakan kepada seluruh manusia: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling bertaqwa di antara kalian. (Al Hujurot: 13) Fithroh untuk kembali kepada Alloh ta’ala ini juga terdengar mengatakan khusus kepada bangsa Quraisy: ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاس Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafat). (Al Baqoroh:199) Ia juga mendengarkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada manusia seluruhnya: يا أيها الناس إن ربكم واحد، وان أباكم واحد كلكم لآدم وآدم من تراب إن أكرمكم عند الله اتقاكم وليس لعربي على عجمي، ولا لعجمي على عربي، ولا لأحمر على أبيض ولا لأبيض على أحمر فضلٌ إلا بالتقوى “Wahai manusia, sesungguhnya tuhan kalian adalah satu, ayah kalian adalah satu yaitu Adam, kalian semua berasal dari Adam sedangkan Adam itu dari tanah. Sesungguhnya orang termulia dari kalian di sisi Alloh adalah kalian yang paling bertakwa. Tidak ada keunggulan antara orang arab atas non arab, orang non arab atas orang arab, yang merah atas yang putih, ataupun yang putih atas yang merah, selain dengan ketakwaan.” Fithroh itu juga mendengarkan beliau bersabda khusus kepada orang Quraisy: يا معشر قريش.. اشتروا أنفسكم، لا أغنى عنكم من الله شيئاً، ويا بني عبد مناف لا أغني عنكم من الله شيئاً ، يا عباس بن عبد المطلب، ما أغني عنك من الله شيئاً، يا فاطمة بنت محمد سليني ما شئت من مالي ، لا أغني عنك من الله شيئاً “Hai orang-orang Quraisy, belilah diri kalian. Aku tidak akan memberikan manfaat sedikitpun kepada kalian di sisi Alloh. Hai Bani Abdi Manâf, aku tidak akan memberikan manfaat sedikitpun kepada kalian di sisi Alloh. Hai Abbâs bin Abdul Mutholib, aku tidak akan memberikan manfaat sedikitpun kepada kalian di sisi Alloh. Hai Fâthimah putri Muhammad, mintalah harta sesukamu kepadaku, aku tidak akan memberikan manfaat sedikitpun kepada kalian di sisi Alloh.” (Muttafaq ‘Alaih) Fithroh ini mendengar kepada seruan tersambut lalu menyingkirkan hiruk-pikuk kondisi realita, kemudian berangkat bersama manhaj ilahi … maka terjadilah apa yang terjadi sesuai dengan sunnatulloh yang sudah menjadi kaidah umum dan memungkinkan untuk terjadai kapan saja. Saat itu, sistem ribawi sedang merajalela di jazirah Arab dan di atas sistem inilah central perekonomian mereka tegak. Dan jangan dikira bahwa semua itu hanya sebatas hubungan kerja perorangan sempit. Sebab bangsa Quraisy saat itu sudah melakukan perdagangan dalam skala besar dengan Syam di saat ekspidisi musim panas dan dengan Yaman di saat perjalanan di waktu musim dingin. Dalam perdagangan ini, modal-modal bangsa Quraisy diputar. Kita juga tidak boleh lupa bahwa kafilah Abû Sufyan yang diintai kaum muslimin di perang Badar meski kemudian berhasil lolos sebelum akhirnya Alloh ganti dengan yang lebih baik, itu terdiri dari seribu unta penuh muatan komoditi dagang! Seandainya riba saat itu semata-mata hanya muamalah antar personal terbatas saja, bukan sebuah sistem global dalam iklim perekonomian, tentu tidak selayaknya mendapatkan serangan menakutkan yang beruntun di dalam Al-Qur’an serta tidak diikuti dengan serangan susulan dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam di dalam hadistnya. Semua harta ini, semua aktifitas perdangan dan perekonomian yang tegak di atasnya, adalah tegak di atas asas sistem ribawi. Dalam sistem ini pulalah kira-kira perekonomian negara-negara berkumpul sebelum masa diutusnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga sistem kehidupan di Madinah. Pelaku perekonomian di sana adalah yahudi, padahal riba merupakan landasan perekonomian yahudi!. Inilah fakta perekonomian yang menjadi penopang kehidupan negeri-negeri kala itu. Setelah itu, datanglah Islam. Ia datang mengingkari asas dzalim dan jahat ini dengan memberikan asas lain sebagai ganti: Asas zakat, peminjaman ringan, sistem ta‘âwun dan takâful. الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ * إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَآتَوُاْ الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ * يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ * فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ * وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ * وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ Orang-orang yang menginfaqkan hartanya pada waktu malam dan pada waktu siang hari secara tersembunyi maupun secara terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Robbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Orang-orang yang makan harta riba itu tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran penyakit gila. Hal itu disebabkan karena mereka mengatakan, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka, barangsiapa yang telah sampai kepadanya larangan dari Robbnya, lalu terus berhenti (tidak memakan harta riba lagi), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Alloh. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni nerakan; mereka kekal di dalamnya. Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholeh, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Robbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Alloh dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Alloh dan Rosul-Nya akan memerangimu. Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagi kalian pokok harta kalian; kalian tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui. Dan peliharalah diri kalian dari (siksa yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Alloh. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya. (Al Baqoroh: 274-281) Fithroh suci ini menemukan bahwa dakwah untuk kembali kepada Alloh ini lebih baik daripada keadaan dia sekarang, ia merasa tidak suka terhadap asas rendahan di mana sistem ribawi tegak di atasnya. Bersamaan dengan beratnya berpindah dari realita perekonomian yang menopang kehidupan manusia, hanya sambutan fithroh ini lebih kuat daripada beratnya kenyataan dan fithroh ini membersihkan masyarakat muslim dari noda jahiliyyah tersebut. Dan terjadilah apa yang sudah terjadi sesuai sunnatullôh yang akan terus berulang, setiap kali fithroh ini diseru lantas ia bangkit dari bawah tumpukan dan puing-puing!. Kita cukupkan dalam tiga contoh akan bagaimana fithroh itu mampu mengalahkan kenyataan, bagaimana ia bisa bangkit dari bawah tumpukan dan puing reruntuhan serta keberhasilannya untuk menang atas realita luar yang dilahirkan oleh budaya-budaya jahiliyyah. Itu juga menggambarkan akan kenyataan sebuah akidah serta cara pandang sekaligus kenyataan dari kondisi realita dan sikap-sikap mengekor…kenyataan perekonomian dan hubungan muamalah. Itu merupakan warna paling kuat dari sebuah kenyataan dari sisi pandang orang yang tidak mengerti akan kekuatan sebuah akidah dan kekuatan fithroh, seolah itulah satu hakikat yang menentukan yang tidak terkira bagi fithroh maupun akidah!. Sesungguhnya Islam tidak berhenti pasrah, lemah dan terbelenggu kedua tangannya di hadapan realita seperti ini. Tetapi Islam menolaknya, atau menggantinya serta menggantikan posisinya dengan bangunannya yang tinggi dan unik, di atas asasnya yang kokoh dan mendalam. Apa yang sudah terjadi, mungkin saja akan terjadi lagi untuk kedua kalinya. Dulupun terjadi apa yang sudah pernah terjadi sesuai sunnah yang berjalan, bukan sesuai sebuah mukjizat yang tak wajar. Bangunan itu berdiri di atas kemurnian fitroh yang tersimpan dalam diri setiap orang yang ingin menyelamatkan kemurnian tersebut, mengumpulkan, mengarahkan dan melepaskannya pada arahan yang benar. Manusia hari ini mungkin saja lebih dari mampu untuk berada di atas arahan yang benar ini berdasarkan apa yang sudah terdapat secara pasti dalam sejarah dan kehidupannya dari bekas bekas bentangan generasi pertamanya tersebut di mana ia menghadapi perlawanan paling keras, kemudian setelah itu berjalan pada jalannya serta meninggalkan bekas paling mendalam setelah itu…” Ditulis oleh : Sang pecinta para buron, Abû Jandal Al-Azdî 10/ 11/ 1424 H Semoga Alloh palingkan pendengaran dan penglihatan para thoghut serta antek-anteknya dari beliau. Nabiyyulloh Mûsâ ‘Alaihis Salam Keluar Dari Mesir Dalam Keadaan Takut Dan Was-Was. Kisah nabi Musa ‘alaihis salam mengambil banyak bagian dari kitabulloh, sejak beliau masih kecil hingga masa muda, kemudian diangkat menjadi rosul, hingga menghadapi Fir’aun…dst. Di antara kisah itu adalah larinya beliau dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya ketika ada seseorang memberitahu kepadanya mengenai rencana yang dibicarakan oleh garda keamanan Fir’aun. Mendengar itu, beliau tidak kemudian menyerahkan diri, tapi langsung keluar dari kota dan pergi ke kota Madyan. Maka Allohpun memudahkan urusan beliau di sana, beliau menikah dan tinggal di sana hingga habis masa beliau bekerja kepada mertuanya, Syuaib, yakni selama lebih dari delapan tahun. Setelah itu, Alloh ta’ala mengutus beliau serta memberikan anugerah kepadanya berupa hukum dan ilmu. فَفَرَرْتُ مِنكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ Lalu aku lari meningggalkan kalian ketika aku takut kepada kalian, kemudian Robbku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rosul-rosul. (Asy Syu’aro’: 21) Di dalam kisah di atas terdapat pelajaran dan ibroh bagi siapa saja yang menghendaki adanya perubahan yang mengakar bagi realita yang sekarang sedang dialami oleh umat Islam, serta menginginkan kebangkitan kaum muslimin dari pijakan kehinaan yang kini mereka derita. Alloh ta’ala berfirman: وَجَاء رَجُلٌ مِّنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ * فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفاً يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاء مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاء السَّبِيلِ * وَلَمَّا وَرَدَ مَاء مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاء وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ * فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ * فَجَاءتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاء قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ * قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ * قَالَ ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata:”Hai Musa, sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding untuk membunuhmu, oleh karena itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut dan was-was, dia berdo’a: “Wahai Robbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang dholim itu”. Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan ia berdo’a (lagi): “Mudah-mudahan Robbku memimpinku ke jalan yang benar”. Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia di sana menjumpai sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya).Musa berkata:”Kalian berdua kenapa?” Kedua wanita menjawab:”Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo’a: “Wahai Robbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu untuk memberi balasan kepadamu atas kebaikanmu memberi minum ternak kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang dholim itu”. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Berkatalah dia: “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Alloh akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. Dia (Musa) berkata: “Inilah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Alloh adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”. (Al Qoshosh: 20-28) Ibnu Katsîr rohimahulloh berkata: Maka Fir’aunpun mengutus para tukang jagal guna membunuh Musa. Mereka berjalan dengan tenang di jalan paling besar untuk memburu Musa, tidak ada perasaan khawatir dalam diri mereka akan kehilangan Musa. Maka datanglah seorang lelaki dari bangsa Musa dari ujung kota, ia memotong jalan hingga bisa menemui Musa lebih dahulu daripada para penjagal tadi, tanpa pikir panjang ia segera memberitahu Musa. Semua itu termasuk ujian … Musapun keluar menuju ke arah Madyan, beliau tidak mendapatkan ujian sebelum itu, ia juga tidak tahu jalan, dan tidak ada yang ia andalkan selain rasa husnu dz-dzonn dia kepada robbnya ta’ala, ia mengatakan: عَسَى رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاء السَّبِيلِ * وَلَمَّا وَرَدَ مَاء مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ “Mudah-mudahan Robbku memimpinku ke jalan yang benar”. Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Maksud dari ayat ini adalah kedua wanita tersebut menahan kambing-kambingnya. Maka Musa berkata kepada mereka berdua: “Mengapa kalian memisahkan diri, tidak memberi minuman kambing seperti yang lain?” “Kami tidak kuat berdesakan dengan orang, kami hanya memberi minum dari sisa air yang telah mereka gunakan.” Maka Musapun memberikan minum kambing mereka, ia menciduk air begitu banyak sampai beliaulah penggembala kambing yang pertama. Kedua wanita itupun pergi membawa kambingnya kepada ayah mereka. Sementara Musa ‘alaihis salam pergi berteduh di bawah sebatang pohon sembari mengatakan, رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ “Wahai Robbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Sementara itu, ayah dari kedua perempuan tadi tidak percaya, cepat sekali mereka datang bersama kambingnya dalam keadaan penuh susunya dan kenyang, ia mengatakan,“Kalian pasti mengalami sesuatu hari ini.” Maka keduanyapun memberitahu apa yang baru saja dilakukan Musa. Maka sang ayahpun menyuruh salah satu dari keduanya untuk memanggil Musa. Berangkatlah satu orang mendatangi dan memanggil Musa.Ketika sang ayah bertemu dan berbicara langsung dengan Musa, ia mengatakan, “Jangan takut, kini kamu selamat dari kaum dholim; Fir’aun dan balatentaranya tidak berkuasa sedikitpun atas kita, kami tidak dalam kekuasaanya.” Kemudian salah seorang dari putrinya mengatakan, “Hai ayah, pekerjakanlah dia, sesungguhnya orang terbaik yang kau pekerjakan adalah yang kuat lagi terpercaya.” Sang ayah penasaran, ia bertanya kepada si putri: “Kekuatan dan sikap terpercaya apa yang kau ketahui darinya?” Putrinya menjawab: “Adapun kekuatan, maka ketika aku menyaksikannya mengangkat timba di saat ia memberi minum kambing kami; belum pernah aku melihat seorang lelaki yang lebih kuat daripada dia ketika itu. Sedangkan sikap terpercaya, sesungguhnya ia melihat ke arahku ketika aku menghadap ke arahnya dan kupandang dia, maka tatkala ia tahu bahwa aku adalah wanita, ia segera menundukkan pandangannya dan tidak mengangkatnya hingga surat Anda kusampaikan kepadanya. Kemudian ia berkata kepadaku, Berjalanlah di belakangku dan berilah tanda jalan kepadaku.’ Tidak ada yang melakukan perbuatan seperti ini kecuali orang yang terpercaya.”Hal itupun dapat menghilangkan kesedihan ayahnya, ia percaya dengan kata-kata putrinya dan ia yakin bahwa Musa itu sesuai dengan apa yang dikatakan putrinya. Maka sang ayahpun mengatakan kepada Musa, “Maukah kamu … أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ … kunikahkan engkau dengan salah satu putriku dengan syarat engkau menjadi pekerjaku selama delapan tahun. Jika engkau mau menggenapkan sepuluh tahun, itu terserah engkau dan aku tak ingin memberatkan dirimu. Insya Alloh, engkau dapati aku termasuk orang-orang sholeh.” Musapun mau melaksanakannya, sang nabi Alloh Musa mendapatkan kewajiban selama delapan tahun, ini yang wajib. Sedangkan yang dua tahun adalah tambahan dari beliau, maka Allohpun menetapkan agar Musa menjalani tambahannya, sehingga beliau menyempurnakan selama sepuluh tahun.” Sayyid Qutb rohimahulloh berkata seputar ayat ini, “Ketika itu, seorang lelaki datang kepada Musa dari ujung kota terjauh untuk mengingatkan beliau akan rencana para petinggi Fir’aun, dan menyarankan agar beliau keluar dari kota demi keberlangsungan hidup beliau: وَجَاء رَجُلٌ مِّنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”. (Al Qoshosh: 20) Sungguh, semua itu adalah uluran tangan takdir (takdir Alloh) yang memancar pada saat yang diharapkan untuk terlaksannya keinginan dia! Para petinggi Fir’aun, yaitu para tokoh pendukungnya, pegawai pemerintahan dan orang-orang terdekatnya, mengetahui bahwa ini adalah ulah Musa. Tak diragukan lagi, mereka merasa berada dalam kondisi bahaya. Itu merupakan perbuatan yang biasanya berbau revolusi dan perlawanan serta pembelaan terhadap Bani Israil, berarti itu adalah gejala berbahaya yang mesti dibicarakan. Kalau itu hanya pembunuhan biasa, tidak perlu menyita perhatian Fir’aun dan para petingginya. Maka taqdir menentukan salah seorang di antara mereka untuk pergi, menurut pendapat yang kuat dia adalah seorang lelaki beriman dari pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya. Sedangkan yang disebutkan di dalam surat Ghôfir ia pergi untuk menemui Musa, مِّنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ … dia berasal dari ujung kota. … dalam keadaan serius, penuh perhatian dan segera, untuk memberitahu kepadanya sebelum pasukan kerajaan sampai kepadanya: إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ … sesungguhnya para pembesar negeri ini sedang berunding untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”. فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفاً يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut dan was-was, dia berdo’a: “Wahai Robbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang dholim itu”. Sekali waktu, sekilas kita lihat ada satu ciri cukup jelas yang ada di dalam sebuah pribadi nan emosional, selalu siaga dan waspada. Sikap segera menghadapkan diri untuk meminta kepada Alloh, mencari perlindungan serta penjagaan-Nya, berlindung kepada lindungannya di saat tercekam rasa takut, serta merasakan rasa aman dan selamat ketika berada di sisi-Nya: رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ “Wahai Robbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang dholim itu”. Kemudian disertai konteks bahwa beliau keluar dari kota, dalam keadaan takut dan was-was, seorang diri, tidak memiliki bekal selain rasa bersandar kepada Sang Majikannya, menghadapkan diri kepada-Nya dalam rangka memohon pertolongan sekaligus petunjuk dari-Nya: وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاء مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاء السَّبِيلِ Dan tatkala ia menuju negeri Madyan ia berdo’a: “Mudah-mudahan Robbku menuntunku ke jalan yang benar”. Sekilas juga kita lihat bagaimana kepribadian Nabi Mûsâ ‘alaihis salam yang hanya seorang diri, benar-benar seorang diri, beliau terusir di jalanan-jalanan padang pasir menuju ke arah Madyan, daerah selatan Syam dan utara Hijaz, sebuah jarak perjalanan yang sangat jauh, tanpa bekal tanpa persiapan. Beliau keluar dari kota dalam keadaan takut dan merasa terawasi, keluar dalam keadaan tidak tenang dengan peringatan yang disampaikan oleh si lelaki yang memberikan saran kepadanya tadi, beliau tidak diam sejenakpun, tidak sempat berbekal dan tidak mengangkat seorang guide. Dari sini kita bisa saksikan secara sekilas saja akan sebuah jiwa yang selalu menghadapkan diri kepada tuhannya, pasrah kepada-Nya, melihat kepada petunjuk-Nya: عَسَى رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاءالسَّبِيلِ “Mudah-mudahan Robbku memimpinku ke jalan yang benar”. … sekali waktu, kita juga temukan sosok Nabi Musa ‘alaihis salam berada dalam hati yang takut setelah sebelumnya sedikit mengecap rasa aman. Tak sekedar itu, bahkan kehidupan mewah, kelembutan dan kenikmatan. Kita lihat, bagaimana beliau tidak memiliki kekuatan fisik sedikitpun, beliau diusir oleh Fir’aun dan balatentaranya, mereka mencari-carinya di mana saja, untuk memberikan kepadanya sesuatu yang lain dengan apa yang pernah mereka berikan kepadanya di masa kecil. Namun tangan yang melindungi dan menjaga beliau pada saat itu juga menjaga dan melindungi pada saat sekarang, dan tidak akan pernah menyerahkannya kepada musuh-musuh-Nya sampai kapanpun. Inilah Musa, beliau menapaki jalan panjang, dan sampai ke negeri yang tidak bisa dijangkau oleh tangan yang kejam: وَلَمَّا وَرَدَ مَاء مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاء وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ * فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Kalian berdua kenapa?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo’a: “Wahai Robbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Perjalan panjang yang telah ia tempuh, kini berakhir di mata air milik bangsa Madyan. Ia sampai dalam keadaan lelah dan letih. Ternyata di sana ia malah melihat sesuatu yang tidak nyaman dilihat oleh jiwa yang kesatria, yang fitrhahnya sehat, seperti jiwa Musa ‘alaihis salam ; ia menyaksikan para penggembala dari kaum lelaki yang menggiring binatang-binatang ternaknya agar bisa minum air, lantas di sana ada dua orang perempuan yang tidak menggiring kambingnya ke mata air. Padahal bagi orang yang memiliki jiwa kesatria dan fitroh yang sehat pasti mengatakan, seharusnya dua wanita itu dululah yang menggiring kambingnya, dan seharusnya kaum pria mempersilahkan dan memberikan kemudahan kepada mereka berdua. Musa, yang berstatus pelarian dan terusir, musafir yang sedang kepayahan itu tidak lantas duduk berpangku tangan sementara ia menyaksikan kemungkaran yang menyelisihi kemakrufan ini. Tapi ia maju kepada kedua wanita itu dan bertanya tentang keadaan keduanya yang aneh: قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاء وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ “Kalian berdua kenapa?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Mereka berdua memberitahu Musa mengenai sebab dari tersingkir dan keterlambatan serta mengapa mereka menahan dombanya untuk mendatangi air. Sebabnya adalah karena lemah, keduanya adalah wanita sedangkan para penggembala itu lelaki. Sementara ayahanda dari keduanya adalah orang yang sudah tua, ia tidak sanggup menggembala dan berdesakkan dengan kaum pria! Maka bergejolaklah emosi dan fitroh Musa yang sehat. Akhirnya ia maju untuk meletakkan perkara sesuai tempatnya. Ia maju untuk lebih dahulu memberi minum kambing kedua wanita itu. Selayaknya yang harus dilakukan para rijâl yang memiliki keberanian, sementara Musa adalah orang asing di daerah yang tidak ia kenal, tidak memiliki pendukung dan penolong, sedangkan ia sendiri dalam keadaan lelah yang baru saja datang dari perjalanan panjang, tanpa bekal tanpa persiapan, ia adalah orang yang terusir, di belakangnya ada para musuh yang tak memiliki belas kasihan. Tapi, semua ini tidak lantas menjadikannya berpangku tangan untuk menyambut dorongan rasa kebaikan diri, rasa peduli untuk menolong dan berbuat makruf, serta mengakui kebenaran alami yang jiwa pasti mengenalinya, akhirnya: فَسَقَى لَهُمَا Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya … Yang mana, ini menunjukkan akan sebuah jiwa mulia yang terbentuk oleh tangan Alloh. Sebagaimana ia juga dihiasi dengan kekuatannya yang menakutkan hatta meskipun beliau berada dalam kepayahan perjalanan panjang. Barangkali, kekuatan jiwanya yang dilihat oleh hati para penggembala itu, lebih membuat mereka takut daripada kekuatan fisiknya. Sebab, manusia itu jauh lebih terkesan dengan kekuatan ruh dan hati. ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ Kemudian dia kembali ke tempat yang teduh … Yang ini menunjukkan, waktu sedang dalam kondisi yang sangat panas, safar yang beliau tempuh berarti juga dalam kondisi yang sangat panas seperti ini… فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ Maka ia berdo’a: “Wahai Robbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Beliau berteduh pada sebuah naungan nyata yang mendinginkan badannya, sekaligus pada naungan yang luas terbentang; yaitu naungan Alloh Yang Mahamulia lagi Mahamemberi anugerah, dengan ruh dan hatinya: رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ “Wahai Robbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Robbku, aku dalam keadaan gerah, aku fakir, aku seorang diri, aku lemah, aku sangat butuh kepada anugerah dan pemberian-Mu. Dari ungkapan ini, kita bisa mendengar bagaimana bergantungnya hati beliau, bagaimana rasa bersandar beliau kepada perlindungan Dzat Yang memberi keamanan, pelindung yang kokoh, naungan yang sangat teduh. Kita bisa dengarkan bagaimana munâjât yang dekat, bisikan lirih, perasaan yang akrab, hubungan yang dalam: رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ “Wahai Robbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Hampir saja kita larut tenggelam bersama Musa ‘alaihis salam dalam satu ekspresi munajat sampai-sampai ungkapan itu segera menunjukkan sebuah pemandangan akan adanya jalan keluar, tersusul dengan ungkapan menggunakan huruf “fâ’” (lalu), seolah langit segera memberi sambutan kepada hati yang tunduk dan terasing. فَجَاءتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاء قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا Lalu datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu, ia berkata:”Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadapku atas kebaikanmu memberi minum ternak kami”. Duhai, jalan keluar dari Alloh, alangkah dekatnya ia, duhai seruan dia! Itulah solusi berupa panggilan dari seorang tua renta, sebagai bentuk pengkabulan doa dari langit untuk Musa yang fakir. Sebuah panggilan untuk memberi tempat “escape”, untuk sebuah kemuliaan serta balasan atas kebaikan dia. Panggilan yang dibawa oleh salah seorang dari kedua putri yang datang kepadanya sembari berjalan malu-malu, gaya berjalan seorang wanita muda yang suci, bermartabat, menjaga kesucian lagi bersih tatkala ia menemui kaum pria: Dalam keadaan malu. Tanpa berlebihan, tabarruj (menampakkan perhiasan), tampil wah maupun hal-hal yang dapat mengundang fitnah. Ia datang kepada Musa untuk menyampaikan panggilan dengan kata-kata yang sangat ringkas, paling singkat namun paling jelas, ini dikisahkan Al-Qur’an dengan firman-Nya: إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu untuk memberi balasan kepadamu atas kebaikanmu memberi minum ternak kami”. Dengan rasa malu, namun memberikan keterangan yang jelas, rinci dan gamblang; tidak gagap, membingungkan dan kacau. Ini tentunya juga terilhami oleh fithroh yang bersih, sehat dan lurus. Seorang wanita yang lurus, secara fitroh pasti malu ketika bertemu dan berbincang dengan kaum pria. Namun, karena ia yakin dengan keterpercayaan, kesucian dan keistiqomahan dirinya sendiri, ia tidak goncang. Tidak goncang dengan kegoncangan yang menunjukkan ketamakan, keterpukauan dan emosi yang meluap-luap; ia hanya berbicara secukupnya secara jelas, tak lebih dari itu. Konteks kisah yang kita baca berhenti sampai pada pemandangan ini, tidak menyisakan tempat selain untuk sebuah panggilan dari seorang wanita muda dan sambutan dari Musa. Kemudian, disusul dengan sebuah pemandangan pertemuan antara Musa dan seorang yang sudah tua, di mana tidak ada nash yang menyebutkan siapa nama orang tua itu sebenarnya. Ada yang mengatakan, dia adalah keponakan Syu’aib, seorang Nabi yang cukup masyhur itu, namanya adalah Yatsrun. فَلَمَّا جَاءهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِين َ Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), ia berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang dholim itu”. Padahal Musa sedang butuh-butuhnya kepada rasa aman, sebagaimana ia juga sedang butuh kepada makanan dan minuman. Namun, hajatnya kepada rasa aman jauh lebih besar ketimbang kebutuhannya kepada bekal jasmani. Di antara hal yang paling mengindikasikan hal itu dari konteks ayat di atas adalah perkataan orang tua yang teduh itu: لَا تَخَفْ “Jangan takut.” Ia menjadikan ini sebagai kata pertama setelah Musa selesai mengisahkan perihal dirinya, hal itu untuk menanamkan rasa tenang dalam hati Musa, agar ia merasa aman. Setelah itu, barulah ia mengatakan dan memberikan argumen mengapa ia mengatakan seperti itu: نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ “Kamu telah selamat dari kaum yang dholim itu.” Mereka tidak punya kuasa atas negeri Madyan, mereka tidak akan dapat menyebarkan gangguan dan marabahaya kepada penduduk negeri tersebut. Setelah itu, kita mendengar lantunan suara dari pribadi wanita yang lurus dan sehat: قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ Salah seorang dari kedua wanita itu berkata:”Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Ia dan saudara perempuannya merasakan betul payahnya menggembala kambing, yang harus berdesakan dengan kaum pria untuk berebut air dan tekanan batin yang pasti ada pada diri wanita yang menangani pekerjaan kaum pria. Dia merasa tak nyaman dari semua ini, demikian juga saudara perempuannya. Ia ingin menjadi wanita yang diam di dalam rumah, seorang wanita yang menjaga ‘iffah dan yang menutup diri, tidak bercampur dengan para lelaki asing di tempat gembala dan air, menjadi wanita yang suci jiwanya dan bersih hatinya, sehat fithrohnya, tidak merasa nyaman dengan berdesakan dengan kaum pria, juga dengan pengorbanan yang menjadi konsekuensi dari berdesakan. Inilah dia, seorang pemuda terusir yang dalam waktu bersamaan ia adalah sosok yang kuat lagi terpercaya. Ia melihat sendiri kekuatannya yang membuat para penggembala lain menjadi gentar sehingga membukakan jalan untuknya guna memberikan minum kambing kedua wanita tersebut. Padahal dia orang asing, sedangkan orang asing itu bagaimanapun lemah meski seperkasa apapun dia. Ia juga melihat sikap amanahnya yang membuat dirinya menjaga lisan dan pandangan ketika dirinya menghadap untuk memanggilnya. Maka, ia memberikan saran kepada sang ayah agar mengangkatnya sebagai pekerja menggantikan dirinya dan saudara perempuannya dalam memikul beban pekerjaan, berbaur dengan kaum laki-laki dan kerja keras. Musa itu kuat dalam bekerja, terpercaya dalam urusan harta, sebab orang yang terpercaya dalam menjaga kehormatan, pasti terpercaya dalam urusan lain. Sang putri ini tidak gagap maupun ‘keder’ dalam menyampaikan saran ini. Tidak khawatir akan mendapat persangkaan buruk dan tuduhan. Dia adalah wanita berjiwa suci dan berperasaan bersih. Oleh sebab itu, ia tidak takut apapun, tidak komat-kamit atau berbicara secara tidak jelas, ketika ia menyampaikan sarannya kepada sang ayah. Untuk membuktikan kekuatan Musa, kita tidak memerlukan berbagai kisah yang diriwayatkan para ahli tafsir, seperti kemampuannya mengangkat batu yang menutup sumur yang mana batu itu ~kata mereka~ tidak bisa diangkat kecuali oleh duapuluh atau empat puluh orang, atau kurang atau lebih dari jumlah itu. Sebenarnya, sumur itu tidak tertutup, yang terjadi sebenarnya adalah para penggembali itu sedang memberi minum kambingnya kemudian Musa menyuruh mereka menyingkir dan iapun memberi minum kambing kedua wanita tersebut, atau kemungkinan lain ia memberi minum kambing mereka berdua berbarengan dengan para penggembala yang lain. Kita juga untuk membuktika sifat amanah Musa kita tidak memerlukan berbagai kisah yang diriwayatkan para mufassir, seperti perkataan Musa kepada wanita: “Berjalanlah di belakangku dan tunjukkanlah jalan.” Lantaran ia khawatir akan melihat wanita itu. Atau pendapat yang mengatakan bahwa Musa mengatakan hal itu setelah ia terlebih dahulu berjalan di belakang si wanita, kemudian angin menyingkap bajunya sehingga terlihat matakakinya … semua ini adalah sikap memberat-beratkan diri yang tidak perlu serta akan membawa kerancuan yang sebenarnya tidak ada. Sedangkan Nabi Musa ‘alaihis salam itu adalah seorang yang menjaga kesucian pandangan dan bersih perasaannya, demikian juga dengan wanita itu. Sedangkan rasa iffah dan amanah itu tidak memerlukan sikap terlalu memaksakan diri seperti ini dikala seorang lelaki berjumpa dengan seorang wanita. Sikap ‘iffah akan senantiasa tersirat di dalam perilaku kebiasaan tanpa membebani diri dan dibuat-buat! Kita lanjutkan, orang tua itu akhirnya menerima saran putrinya itu. Mungkin, ia bisa merasakan adanya rasa saling percaya antara putrinya dan Musa, kecenderungan yang wajar serta sehat, yang cocok untuk pembinaan keluarga. Sedangkan sifat kuat dan amanah itu ketika berkumpul menjadi satu dalam diri seorang lelaki, tak diragukan lagi akan disenangi oleh naluri wanita yang bersih dan belum rusak maupun terkontaminasi atau menyimpang dari fitroh Alloh. Maka sang orang tuapun mengumpulkan antara tujuan dari keduanya masing-masing, dan iapun menawarkan kepada Musa untuk menikahkannya dengan salah satu dari kedua putrinya dengan syarat ia harus membantu dan menggembalakan dombanya selama delapan tahun. Kalau ia masih mau menambah sampai sepuluh tahun, ia mempersilahkan namun tidak mengharuskan hal itu kepadanya. قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ Berkatalah dia: “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Alloh akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. Demikianlah, dengan simpel dan jelas, seseorang menawarkan salah satu putrinya tanpa mengekang, barangkali ~sebagaimana kami sebutkan semula~ Musa merasa bahwa wanita itu terkekang dengan batas tertentu, dan dialah wanita yang terjalin interaksi dan kepercayaan antara hatinya dan hati sang pemuda bernama Musa itu. Ya, orang itu menawarkan putrinya tanpa seperti ada beban atau memelintir kata-kata. Ia menawarkan pernikahan kepadanya tanpa merasa malu. Ia tawarkan proyek pembinaan keluarga dan rumah tangga, sehingga dalam urusan seperti ini ia tidak perlu merasa malu, tidak perlu memberatkan diri, ragu atau memberi isyarat dari kejauhan atau kesan dibuat-buat dan memaksakan diri sebagaimana yang kita saksikan dalam lingkungan yang sudah menyimpang dari fithroh yang lurus, yang tunduk kepada sikap tradisi-tradisi bikinan yang batil lagi tidak berharga, yang mana seorang ayah atau wali menolak maju meminang orang yang baik akhlak dan agamanya serta tanggungjawab untuk putrinya, saudarinya atau kerabat wanitanya; ia mengharuskan calon suami atau walinya atau wakilnya yang maju untuk meminang, atau yang beranggapan bahwa penawaran itu tak layak jika datang dari fihak wanita! Di antara perbedaan yang sangat menonjol dari lingkungan masyarakat seperti ini adalah adanya pemuda dan pemudi yang diizinkan bertemu, saling berbincang, berikhthilath, dan satu sama lain saling melihat tanpa ada tujuan yang pasti untuk meminang atau niat menikah. Di saat ditawarkan pinangan, atau diingatkan tentang nikah, maka segera muncul sikap malu yang dibuat-buat dan timbullah alasan-alasan yang ~sekali lagi~ dibuat-buat serta tidak mau singkat kata, terus terang dan menjelaskan apa adanya! Padahal dulu, para bapak di zaman Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menawarkan putrinya kepada kaum lelakinya. Bahkan, para wanita menawarkan dirinya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam atau kepada orang yang mau menikahkan dirinya dengan seorang lelaki dari mereka. Semua ini dilakukan dengan penuh keterusterangan, sikap yang bersih, penuh tatakrama dan sikap yang baik, yang tidak merusak kemuliaan dan rasa malu. Pernah ‘Umar rodliyallohu ‘anhu menawarkan putrinya Hafshoh kepada Abû Bakar, namun beliau hanya terdiam. Lantas ia bawa kepada Utsman, namun ia mengundurkan diri. Kemudian ketika ia memberitahukan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini, beliau menyenangkan hatinya: semoga Alloh memberikan untuk anakmu orang yang lebih baik daripada mereka berdua; Abû Bakar dan Utsman. Kemudian beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam pun menikahinya. Pernah juga ada seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam namun beliau tidak menerimanya, akhirnya wanita itu menyerahkan hak perwaliannya kepada beliau, terserah mau dinikahkan dengan siapa saja. Akhirnya beliau menikahkannya dengan seorang lelaki yang tidak memiliki apa-apa selain dua surat Al-Qur’an yang ia ajarkan kepadanya, inilah yang dijadikan mahar baginya. Dengan sikap jelas dan terus terang seperti inilah masyarakat Islam dulu berjalan dalam membangun rumah dan eksistensinya. Dengan tidak gagap, komat-kamit atau mengucapkan kata-kata secara tidak jelas. Demikian juga yang dilakukan oleh orang tua ini, ia bergaul dengan Musa kemudian memberikan tawaran ini dengan berjanji untuk tidak memberatkan dan membuat dirinya capek dalam bekerja, diiringi rasa harap terhadap kehendak Alloh supaya Musa mendapati dirinya termasuk orang-orang sholih dalam muamalah dan dalam dia menepati janji. Ini adalah adab yang bagus dalam berbicara tentang pribadi serta di hadapan Alloh, ia tidak menganggap dirinya suci serta tidak memastikan bahwa dirinya termasuk orang-orang sholeh, namun ia tetap berharap hal itu dengan menyerahkan urusan dalam hal ini kepada kehendak Alloh. Musapun akhirnya menerima tawaran dan melangsungkan akad, dengan jelas dan rinci serta mempersaksikan di hadapan Alloh: قَالَ ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ Musa berkata: “Inilah (perjanjian) antara aku dan kamu.Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Alloh adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”. Sesungguhnya tempat-tempat yang di sana ada akad serta perjanjian kerjasama itu tidak boleh ada yang tersembunyi, tidak boleh gagap atau malu. Dari sanalah maka Musa menerima tawaran serta melangsungkan akad sesuai dengan syarat yang ditawarkan oleh orang tua ini, kemudian ia menegaskan dan menjelaskan : أَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ “di antara dua batas waktu itu yang engkau laksanakan, tak ada masalah bagiku…” …sama saja apakah aku menjalaninya delapan tahun atau sepuluh tahun, maka tak ada yang melampaui batas dalam beban-beban pekerjaan, tidak ada keharusan harus sepuluh tahun. Menambah lebih dari delapan tahun adalah pilihan, terserah. وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ Dan Alloh adalah saksi atas apa yang kita ucapkan. Dialah Yang Mahamenyaksikan serta Yang disandari keadilan dari masing-masing fihak yang mengadakan akad, dan cukuplah Alloh sebagai penjamin. Musa ‘alaihis salam menjelaskan keterangan ini dengan tetap berjalan di atas keistiqomahan fithrohnya, jernihnya kepribadiannya, dan sebagai sikap pelaksanaan dia akan kewajiban masing-masing dari dua fihak yang mengadakan akad, ia meniatkan untuk melaksanakan dua batas baktu yang terbaik sebagaimana akhirnya ia lakukan. Diriwayatkan bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memberitahu dengan bersabda, قضى أكثرهما وأطيبهما “Beliau menyelesaikan waktu yang paling lama dan paling baik.” Demikianlah Musa ‘alaihis salam merasa tenang dengan posisi dia di rumah yang melindunginya dan ia telah merasa aman dari Fir’aun dan tipudayanya. Dengan hikmah yang telah Alloh takdirkan di dalam ilmu-Nya maka terjadilah apa yang kini telah terjadi, maka biarlah kita biarkan mata rantai ini berjalan sesuai jalannya sampai masa akhirnya, dan konteks kisah ini terdiam hingga di sini dan kini saya tutup tirai…” Hingga beliau ~maksudnya Sayyid Qutb~ rohimahulloh mengatakan bahwa Alloh itu dengan kekuasaan-Nya telah memindahkan Musa ‘alaihis salam selangkah demi selangkah sejak ia masih menyusu dalam buaian hingga tiba pada rangkaian serial cerita ini yang melemparkan dirinya ke sungai agar bisa diambil oleh keluarga Fir’aun, yang menumbuhkan rasa cinta dalam hati isteri Fir’aun supaya Musa tumbuh di dalam asuhan musuhnya, yang menjadikan ia masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah agar ia membunuh salah seorang dari mereka, kemudian mengirim kepadanya seorang lelaki beriman yang menyembunyikan keimanannya dari keluarga Fir’aun untuk mengingatkan dan memberi nasehat kepadanya agar keluar dari kota itu, yang mendampinginya di jalan padang pasir sejak dari Mesir hingga Madyan, beliau sendirian dan dalam keadaan terusir, tanpa membawa bekal dan persiapan. Kemudian mengumpulkannya bersama seorang yang telah lanjut usia untuk selanjutnya ia mengangkatnya sebagai pekerja selama sepuluh tahun itu. Kemudian kembali setelah itu dalam rangka menerima beban ini.. Ini adalah garis panjang dari sebuah pemeliharaan dan pengarahan, dari sebuah proses penerimaan dan percobaan, sebelum adanya panggilan dan beban .. pengalaman dari sebuah pemeliharaan, kecintaan dan pengarahan. Pengalaman dalam melakukan reaksi di bawah tekanan kemarahan yang tertahan, pengalaman dari penyesalan, merasa berdosa kemudian beristighfar. Pengalaman rasa takut, terusir dan keresahan. Pengalaman keterasingan, kesendirian, kelaparan dan percobaan dari sebuah khidmat serta menggembalakan kambing setelah kehidupan istana. Pengalaman besar ini masih teriringi di sela-selanya berbagai macam cobaan kecil, perasaan-perasaan yang tak karuan, perasaan was-was dan bisikan-bisikan hati, ilmu dan pengetahuan, di samping ilmu dan hikmah yang Alloh berikan kepada beliau ketika beliau mencapai usia baligh. Sesungguhnya risalah ini adalah beban besar yang berat serta banyak sekali sisi dan konsekuensi-konsekuensinya; pengembannya memerlukan bekal yang besar, berupa ujicoba-ujicoba, daya tangkap, pengetahuan serta kepekaan dalam kehidupan nyata di samping adanya anugerah yang murni dari sisi Alloh dan wahyu maupun pengarahan-Nya terhadap hati dan perasaan. Sedangkan risalah Musa, dilihat kandungannya, mungkin adalah beban paling besar yang pernah diterima manusia — selain risalah Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam —, sebab beliau di utus kepada Fir’aun yang berjiwa thoghut lagi bengis, raja paling pongah di muka bumi di zamannya, paling unggul singgasananya, paling kuat kekuasaannya, paling mengakar kebudayaannya, serta orang yang paling minta disembah makhluk dan paling angkuh di muka bumi. Beliau juga diutus untuk menyelamatkan satu kaum yang telah menenggak kehinaan dari gelas-gelas sampai mereka ‘keenakan’ dalam merasakan kehinaan itu, mereka terus menerus berada di atasnya serta pasrah selama waktu yang panjang. Padahal kehinaan itu merusak fitroh manusiawi sehingga ia berubah dan keras; kehinaan itu juga melenyapkan kebaikan, keindahan dan kepekaan dalam hati. Ia juga melenyapkan rasa benci terhadap kebusukan, kotoran dan najis. Sehingga menyelamatkan kaum seperti mereka adalah pekerjaan berat dan sulit. Beliau juga dalam waktu pengutusan singkat untuk mengembalikan bangunan umat, bahkan untuk membuatnya kembali dari pondasinya. Pada kali pertama, memang Bani Israil adalah bangsa yang merdeka, ia memiliki gaya hidup tersendiri yang diatur oleh risalah, sementara membangun umat adalah sebuah pekerjaan besar, berat dan sulit. Barangkali karena makna inilah Al-Qur’anul Karim begitu perhatian terhadap kisah beliau. Kisah beliau adalah contoh yang lengkap dari sebuah pembinaan umat di atas pondasi dakwah, berikut contoh dari tantangan yang menghadang perjuangan beliau ini berupa penghambat dari luar dan dalam. Belum lagi berbagai hal yang merusak, yang berupa berbagai penyimpangan, luapan, ujian dan aral. Adapun ujian pada sepuluh tahun di mana beliau menjadi pekerja, hal itu untuk memisahkan antara kehidupan istana yang Nabi Musa ‘alaihis salam tumbuh berkembang di dalamnya, dengan kehidupan kerja keras dan berat nantinya di dalam dakwah serta beban-bebannya yang sulit. Sesungguhnya kehidupan istana itu memiliki iklim tersendiri, tradisi-tradisi khusus dan pengayoman-pengayoman istimewa yang merasuk ke dalam jiwa sekaligus membentuknya dengan suasana itu, meskipun jiwa itu memiliki pengetahuan, pemahaman serta pencermatan. Padahal risalah ini diarahkan kepada seluruh manusia, di antara mereka ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang sukses ada juga yang gagal. Ada yang bersih, ada juga yang kotor. Ada yang sudah terdidik, ada juga yang berwatak kasar. Ada yang bagus, ada juga yang buruk, ada yang baik dan juga yang jahat. Ada yang kuat, ada juga yang lemah. Ada yang sabar, ada juga yang gampang mengeluh. Ada lagi…ada lagi…dst. Orang-orang miskin memiliki kebiasaan tersendiri dalam urusan makan, minum, berpakaian, cara berjalan, cara memahami urusan, cara pandang terhadap kehidupan, cara berbicara dan bergerak serta cara mengungkapkan perasaan mereka. Kebiasaan-kebiasaan ini berat kalau harus ditanggung oleh jiwa orang-orang yang hidup nikmat dan perasaan orang-orang yang terdidik di dalam istana; mereka tidak akan mampu untuk sekedar melihat saja, apalagi menghadapi dan merubahnya, walaupun sebenarnya hati orang-orang miskin tersebut penuh dengan kebaikan dan siap untuk diperbaiki, sebab penampilan dan tabiat dari kebiasaan mereka tidak mudah mendapatkan tempat di hati orang-orang yang terbiasa hidup di dalam istana. Terkadang, beban risalah itu bisa berupa rasa berat, keterasingan dan kesempitan … sementara hati penghuni istana — walaupun bisa saja ia siap berkorban lantaran ia terbiasa dengan kehidupan yang rendah, lemah dan senang — tidak akan kuat bersabar dalam waktu panjang untuk hidup sederhana, terasing dan memikul beban-beban berat ketika ia menghadapi realita kehidupan … maka takdir berkehendak (yang benar adalah: Alloh berkehendak dengan qudroh-Nya) yang memindahkan langkah kehidupan Musa ‘alaihis salam untuk menukik dari kebiasaan hidup yang telah ia jalani serta membawanya lari ke dalam masyarakat penggembala, dan untuk menjadikan beliau bisa merasakan kenikmatan ketika seorang penggembala kambing memperoleh makanan dan tempat tinggal setelah sebelumnya ia ketakutan, terusir, susah dan lapar. Dan untuk mencabut dari hati beliau perasaan benci kepada kefakiran dan orang-orang fakir, menggerutu dengan kebiasaan, akhlak, kekasaran serta kesederhanaan mereka, mencabut sikap merasa lebih tinggi atas kebodohan mereka, kefakiran mereka, usangnya penampilan mereka serta semua kebiasaan dan karakter yang ada pada diri mereka. Dan agar beliau terdampar dalam samudra kehidupan ketika sudah dewasa setelah sebelumnya ia berada dalam gelombang lautan di masa kecil supaya beliau terbiasa menanggung beban dakwah yang beliau emban sebelum menerimanya… Ketika jiwa Musa ‘alaihis salam telah menyelesaikan uji cobanya dan merampungkan latihannya dengan latihan uji coba terakhir ini di negeri keterasingan, maka tangan kodrat mengarahkan (yang benar: Alloh mengarahkannya dengan kekuasaan, pemilihan dan penyaringan dari-Nya) langkah beliau untuk kedua kalinya kembali ke tempat asalnya, tempat tinggal keluarga dan kaumnya, medan ia menyampaikan risalah dan perjuangannya. Pengarahan ini mengarahkan beliau untuk menempuh jalan yang dulu ia tempuh sendirian dan dalam keadaan buron serta dalam keadaan takut dan was-was. Lantas, apa sebenarnya kedatangan dan kepergian melewati jalan yang sama ini? Sesungguhnya itu adalah latihan dan pembiasaan serta pengalaman sampai dalam masalah cabang-cabang jalan. Jalan yang mana Musa akan memimpin kaumnya kelak dengan perintah Robbnya. Supaya kriteria sebagai penunjuk jalanpun sempurna berikut pengalamannya. Sehingga ia tidak perlu bergantung kepada orang lain, walaupun hanya dalam urusan menunjukkan jalan. Kaumnya membutuhkan seorang penunjuk jalan yang akan membimbing mereka dalam hal yang kecil dan besar setelah kehinaan, kekerasan dan penghinaan merusak mereka, sampai-sampai mereka kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dan berfikir. Demikianlah kita memahami bagaimana Musa terbentuk dalam pengawasan mata Alloh, dan bagaimana Alloh menyiapkan beliau dengan kekuasaan-Nya untuk menerima beban tugas.” Ambillah Oleh Kalian Berdua Beberapa Rumah Di Mesir Untuk Tempat Tinggal Bagi Kaummu Dan Jadikanlah Rumah-Rumah Kalian Itu Tempat Sholat … Alloh ta‘âlâ berfirman: فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلاَّ ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَن يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ * وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ * فَقَالُواْ عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ * وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan dzurriyyah dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan mala’ mereka akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Alloh, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri”. Lalu mereka berkata: “Kepada Alloh-lah kami bertawakal! Wahai Robb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang dholim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir”. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat sholat dan dirikanlah olehmu sholat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. (Yunus: 83-87) Ibnu Katsîr rohimahulloh berkata, “Alloh ta‘âlâ mengkhabarkan bahwasanya tidak ada yang mau beriman kepada Musa ‘alaihis salam beserta ayat-ayat yang jelas, hujjah-hujjah yang pasti dan bukti-bukti gamblang yang beliau bawa selain beberapa orang dari kaum Fir’aun. Itupun dari kalangan para dzurriyyah, yaitu para pemuda. Mereka masih teriringi rasa takut terhadap dia dan balatentaranya kalau-kalau akan mengembalikan mereka kepada kekufurannya. Sebab Fir’aun — semoga Alloh melaknatnya — adalah orang yang bengis, keras kepala dan sudah kelewatan dalam pembangkangan dan kesombongan. Ia juga memiliki pengaruh dan kewibawaan yang menjadikan rakyatnya sangat takut kepadanya. Al-‘Aufî berkata dari Ibnu ‘Abbâs: فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلاَّ ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَن يَفْتِنَهُمْ Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan dzurriyyah dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan mala’ mereka akan menyiksa mereka. Beliau berkata: “Sesungguhnya para pemuda yang beriman kepada Musa adalah bukan orang-orang dari Bani Isroil, tapi sekelompok kecil dari kaum Fir’aun. Di antara mereka adalah isteri Fir’aun, lelaki dari keluarga Fir’aun, seorang lelaki yang menjadi pengawal Fir’aun dan isteri pengawal tersebut.” Ali bin Abî Tholhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firman Alloh ta’ala: فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلاَّ ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan dzurriyyah dari kaumnya … Beliau mengatakan: Mereka adalah Bani Isroil. Masih riwayat dari Ibnu Abbas, Adh-Dhohâk dan Qotâdah: “Adz-Dzurriyyah artinya adalah sekelompok kecil orang.” Mujahid berkata mengenai firman Alloh: إِلاَّ ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ …melainkan dzurriyyah dari kaumnya … Ia berkata, “Mereka adalah anak-anak dari kaum yang Musa diutus kepadanya sejak waktu yang lama kemudian ayah mereka meninggal dunia.” Ibnu Jarir memilih pendapat Mujahid bahwa dzurriyyah itu dari kalangan Bani Israil, bukan dari kaum Fir’aun, mengingat bahwa dlomîr (kata ganti) di sini kembali kepada yang paling dekat disebutkan. Hanya, pendapat beliau ini perlu ditinjau ulang, sebab yang beliau maksud dari dzurriyyah adalah para pemuda yang masih belia, kemudian mereka adalah dari kalangan Bani Israil. Sementara yang masyhur, Bani Isroil itu semuanya beriman kepada Musa ‘alaihis salam dan mereka mendapatkan kabar gembira akan kedatangan beliau. Dulunya, mereka sudah mengetahui ciri dan sifat beliau, dan kabar gembira mengenai beliau ini bersumber dari kitab-kitab mereka terdahulu, dan bahwasanya Alloh akan selamatkan mereka dari kungkungan keterbudakan kepada Fir’aun sekaligus memenangkan mereka atas dia dengan perantara beliau. Oleh karena itu, ketika hal itu didengar oleh Fir’aun, ia sangat sangat waspada, namun ia tidak temukan apapun dalam diri Musa. Sedangkan tatkala Musa datang, Fir’aun sangat luar biasa dalam memberikan siksaan kepada Bani Isroil, dan: قَالُواْ أُوذِينَا مِن قَبْلِ أَن تَأْتِينَا وَمِن بَعْدِ مَا جِئْتَنَا قَالَ عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan juga sesudah kamu datang.” Musa menjawab:”Mudah-mudahan Alloh membinasakan musuh kalian dan menjadikan kalian khofilah di muka bumi, lalu Alloh akan melihat bagaimana perbuatan kalian.” (Al A’rof: 129) Kalau hal ini dipahami, lantas bagaimana mungkin bahwa yang dimaksud dengan dzurriyyah itu adalah para pemuda dari kaumnya Musa, yaitu Bani Isroil yang: عَلَى خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ “…mereka ini berada dalam keadaan takut kepada Fir’aun dan mala’ mereka..” ..yakni, dari para punggawa kaumnya, takut kalau-kalau menyiksa mereka? Padahal di kalangan Bani Isroil itu tidak ada orang yang disiksan oleh Fir’aun lantaran beriman selain Qôrûn. Dia ini adalah dari kaum Musa lalu bertindak melampaui batas kepada mereka. Akan tetapi dia ini berlindung kepada Fir’aun, mengadakan hubungan dan memiliki keterikatan dengan jaringan Fir’aun. Adapun yang berpendapat bahwa dlomîr dalam firman Alloh yang berbunyi: وملئهم “…dan mala’ mereka..” itu kembali kepada Fir’aun, dan juga para pembesar kerajaan karena mereka mengikuti Fir’aun, atau ada kata alu (keluarga) Fir’aun dan menempatkan posisi mudhôf ilaih menggantikan posisinya, maka pendapatnya ini terlalu jauh, meskipun Ibnu Jarir telah meriwayatkan dua pendapat tersebut dari sejumlah ahli ilmu Nawu (tata bahasa Arab). Dan di antara yang menunjukkan bahwa di kalangan Bani Israel tidak ada orang yang tidak beriman adalah firman Alloh ta’ala yang berbunyi: وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ * فَقَالُواْ عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ Musa berkata: “Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Alloh, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kalian benar-benar orang yang berserah diri”. Lalu mereka berkata: “Kepada Alloh-lah kami bertawakal! Wahai Robb kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai fitnah bagi kaum yang dholim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir”. Alloh ta’ala berfirman dalam mengisahkan Musa ‘alaihis salam, bahwasanya ia mengatakan kepada Bani Israel: يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Alloh, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kalian benar-benar orang yang berserah diri. Maksudnya adalah, sesungguhnya Alloh akan mencukupi orang yang bertawakkal kepada-Nya. أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ Bukankah Alloh yang mencukupi hamba-Nya. وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ Dan barangsiapa bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh mencukupinya. Dan seringkali Alloh menyebutkan ibadah dan tawakal secara beriringan, seprti dalam firman-Nya yang berbunyi: فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ Maka beribadahlah kepada Alloh dan bertawakallah kepada-Nya. قُلْ هُوَ الرَّحْمَنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا Katakanlah: Dialah (Alloh) yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya. رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا Robb (penguasa) timur dan barat, tidak ada ilah (sesembahan yang hakiki) melainkan Dia, maka jadikanlah Dia yang mencukupimu. Dan Alloh ta’ala memerintahkan orang-orang beriman agar mengucapkan beberapa kali dalam sholat mereka: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ Hanya kepada-Mulah kami beribadah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan. Sedangkan Bani Israel telah melaksanakan perintah tersebut. فَقَالُواْ عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ Lalu mereka berkata: “Kepada Alloh-lah kami bertawakal! Wahai Robb kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai fitnah bagi kaum yang dholim, Maksudnya, janganlah Engkau jadikan mereka berhasil menangkap kami dan jangan Engkau kuasakan mereka atas kami, sehingga mereka akan menyangka bahwasanya mereka dapat berkuasa itu lantaran mereka adalah pihak yang benar sementara kami adalah pihak yang salah, sehingga mereka terfitnah (tertipu). Demikianlah yang diriwayatkan dari Abu Mijlaz dan Abudl Dluha. Sedangkan Ibnu Abi Nujaih dan yang lain meriwayatkan bahwasanya Mujahid berkata: Janganlah Engkau siksa kami dengan tangan keluarga Fir’aun ataupun dengan siksaan yang datang dari sisi-Mu, sehingga kaum Fir’aun akan mengatakan: Seandainya mereka berada di atas kebenaran, tentu mereka tidak akan disiksa dan kami tidak akan dapat berkuasa atas mereka, sehingga kami dapat memfitnah (menyiksa) mereka. Sedangkan ‘Abdur Rozzaq berkata: Ibnu ‘Uyainah telah memberitakan kepada kami, ia dari Abu Nujaih, ia dari Mujahid, (bahwasanya yang dimaksud dengan firman Alloh yang berbunyi): رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ Wahai Robb kami janganlah Engkau jadikan kami sebagai fitnah bagi orang-orang yang dholim. Yakni, janganlah Engkau jadikan mereka berkuasa atas kami sehingga mereka akan memfitnah (menyiksa) kami, adapun firman Alloh ta’ala yang berbunyi: وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ .. dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu… Yakni, loloskanlah kami dengan rahmat dan kebaikan dari-Mu. مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ .. dari orang-orang kafir.. Yakni, orang-orang yang mengingkari dan menutup-nutupi kebenaran, sedangkan kami telah beriman dan bertawakal kepada-Mu. وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya:”Ambillah oleh kalian berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai tempat sholat dan dirikanlah sholat serta berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. Di sini Alloh menerangkan apa yang menjadi penyebab Alloh menjauhkan Bani Israel dari Fir’aun dan kaumnya, dan bagaimana bereka bisa lolos dari mereka. Yaitu, Alloh ta’ala memerintahkan Musa dan saudaranya, Harun ‘alaihimas salam, agar membuat beberapa rumah buat kaum mereka berdua di Mesir. Para ahli tafsir berselisih pendapat mengenai maksud dari ayat yang berbunyi: وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً .. dan jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai kiblat, Ats Tsauri dan yang lainnya meriwayatkan dari Khushoib bin ‘Ikrimah, ia dari Ibnu ‘Abbas, bahwa yang dimaksud dengan firman Alloh ta’ala yang berbunyi: وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً .. dan jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai kiblat, Yakni, mereka diperintahkan untuk menjadikannya sebagai masjid. Ats Tsauri juga meriwayatkan dari Ibnu Manshur, ia dari Ibrohim, bahwa yang dimaksud dengan firman Alloh yang berbunyi: وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً .. dan jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai kiblat, Yakni, dahulu mereka dalam keadaan takut lalu mereka diperintahkan untuk melaksanakan sholat di rumah-rumah mereka. Yang demikian juga dikatakan oleh Mujahid, Abu Malik, Ar Robi’ bin Anas, Adl Dlohak, ‘Abdur Rohman bin Zaid bin Aslam dan bapaknya, yaitu Zaid bin Aslam. Sepertinya, yang dimaksud adalah, tatkala siksaan yang mereka dapatkan dari Fir’aun dan kaumnya semakin keras, dan Fir’aun beserta kaumnya menekan mereka, Alloh memerintahkan mereka untuk banyak melaksanakan sholat, wallohu a’lam. Ini seperti firman Alloh ta’ala yang berbunyi: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ Wahai orang-orang beriman, Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong kalian. Dan dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila tertimpa kesusahan beliau melakukan sholat. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud. Oleh karena itu Alloh ta’ala berfirman dalam ayat tersebut: وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ .. dan jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai kiblat, dan dirikanlah sholah. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. Yakni, berikanlah kabar gembira berupa pahala dan pertolongan yang dekat. Sedangkan Al ‘Aufi meriwayatkan bahwasanya Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat ini, beliau berkata: Bani Israel mengatakan kepada Musa ‘alaihis salam, kami tidak dapat menampakkan sholat kami di hadapat bangsanya Fir’aun. Maka Alloh pun mengijinkan mereka untuk sholat di rumah mereka, dan mereka diperintahkan untuk menjadikan rumah mereka menghadap ke arah kiblat. Sedanglan Mujahid berkata, mengenai firman Alloh ta’ala yang berbunyi: وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً .. dan jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai qiblat.. Yakni, tatkala Bani Israel takut dibunuh oleh Fir’aun di gereja-jereja pusat, mereka diperintahkan untuk menjadikan rumah-rumah mereka sebagai masjid yang menghadap ka’bah untuk mereka jadikan tempat sholat, yang mereka kerjakan secara sembunyi-sembunyi. Demikian pula yang dikatakan oleh Qotadah dan Adl Dlohak. Sedangkan Sa’id bin Jubair mengatakan, mengenai firman Alloh ta’ala yang berbunyi: وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً .. dan jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai qiblat.. Yakni, saling berhadapan satu dengan yang lainnya.” Sayyid Quthub rohimahulloh berkata di dalam Fi Dhilalil Qur’an: “Di sini tersingkaplah rahasianya, yaitu tujuannya adalah untu mengangkat derajat Musa dan orang-orang yang beriman bersamanya, yang berasal dari kalangan para pemuda, bukan dari kalangan orang-orang tua!. Inilah salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari kisah tersebut. Nash ini juga menjelaskan bahwasanya orang-orang yang menampakkan iman mereka dan bergabung dengan Musa dari kalangan Bani Israel adalah para pemuda yang masih belia, bukan seluruh bangsa Israel. Bahwasanya para pemuda itulah yang dikhawatirkan akan mendapatkan siksaan dan dipaksa keluar kembali dari ajaran Musa lantaran takut kepada Fir’aun dan pengaruh para pemuka kaum mereka yang memiliki banyak kepentingan dengan kawan, dan orang-orang hina yang berlindung dengan pemegang kekuasaan, khususnya dari kalangan Bani Israel. Padahal Fir’aun ketika itu memiliki kekuasaan yang besar dan diktator, selain ia juga melampau batas dalam berbuat dholim, tidak mengenal batas dan tidak segan-segan untuk bertindak keras. Pada saat seperti ini diperlukan adanya iman yang dapat mengalahkan rasa takut, yang dapat menenangkan dan meneguhkan hatinya di atas kebenaran yang dilaluinya. وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ Musa berkata: Wahai kaumku, jika kalian beriman kepada Alloh maka bertawakallah kalian kepada-Nya, jika kalian memang berserahdiri kepada-Nya. Dengan demikian, tawakal kepada Alloh adalah pertanda dan konsekuensi dari iman, dan unsur kekuatan yang memperkuat jumlah yang sedikit dan kekuatan yang lemah, dalam menghadapi kediktatoran thoghut, sehingga tanpa diduga ia menjadi sangat kuat dan sangat teguh. Dan Musa dalam ayat tersebut mengingatkan iman dan Islam (berserah diri kepada Alloh) kepada mereka, dan menjadikan tawakal kepada Alloh sebagai konsekuensi iman dan Islam … konsekuensi dari keyakinan terhadap Alloh, keyakinan terhadap Islam (berserah diri) nya jiwa kepada Alloh secara murni, dan mengamalkan apa yang Ia kehendaki … Dan sambutan orang-orang beriman terhadap seruan iman melalui lisan Nabi mereka: فَقَالُواْ عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا Maka mereka mengatakan: “Hanya kepada Alloh kami bertawakal.” Dan dari situ mereka kemudian memanjatkan do’a kepada Alloh: رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ Wahai Robb (tuhan) kami janganlah Engkau jadikan kami sebagai fitnah bagi orang-orang yang dholim. Yang dimaksud dengan do’a supaya Alloh tidak menjadikan mereka sebagai fitnah bagi orang-orang dholim adalah, do’a supaya Alloh tidak menjadikan orang-orang dholim itu berkuasa atas mereka, sehingga mereka akan menyaka bahwa berkuasanya mereka atas orang-orang beriman kepada Alloh itu merupakan pertanda bahwa keyakinan mereka itu lebih benar, sehingga mereka menang sedangkan orang-orang yang beriman kalah! Dengan demikian, ini semua merupakan istidroj (pemberian kebaikan secara berangsur-angsur sebagai tipuan) dari Alloh untuk mereka dan sebagai tipudaya supaya mereka semakin terjerumus ke dalam kesesatan mereka. Maka dari itu, orang-orang beriman berdo’a kepada Alloh agar menjaga mereka jangan sampai dikuasai oleh orang-orang dholim, meskipun sebagai istidroj (tipuan). Dan ayat yang kedua lebih jelas dalam menyebutkan permohonan yang diinginkan: وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ … dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang kafir… Do’a mereka kepada Alloh, supaya Alloh tidak menjadikan mereka sebagai fitnah untuk orang-orang dholim, dan supaya menyelamatkan mereka dari orang-orang kafir, ini semua tidak bertentangan dengan tawakal dan taqwa mereka kepada Alloh. Namun justru hal itu merupakan pertanda yang sangat jelas bahwa mereka bertawakal dan bersandar hanya kepada Alloh semata. Karena orang beriman itu tidak akan berharap mendapatkan ujian, akan tetapi ia tetap teguh jika menghadapi bencana. Setelah terjadi pemisahan ini, dan pada masa penantian setelah episode pertama, serta berimannya orang-orang yang mau beriman kepada Musa, Alloh mewahyukan kepadanya dan kepada Harun supaya mereka berdua membuat rumah yang khusus untuk Bani Israel. Hal itu dilakukan untuk memisahkan dan mengorganisir mereka sebagai persiapan untuk meninggalkan Mesir pada waktu yang ditentukan. Mereka diperintahkan untuk membersihkan rumah mereka, mensucikan jiwa mereka dan memberikan kabar gembira dengan pertolongan Alloh: وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ Dan kami telah wahyukan kepada Musa dan kepada saudaranya: Hendaknya kalian berdua membuat rumah untk kaum kalian berdua di Mesir, dan jadikanlah rumah kalian sebagai qiblat, dan tegakkanlah sholat. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang beriman… Itu semua adalah persiapan mental yang beriringan dengan persiapan sistem. Keduanya adalah sangat diperlukan oleh setiap indifidu dan kelompok, terutama sebelum menghadapi pertempuran dan ujian-ujian yang berat. Terkadang segolongan manusia menganggap enteng persiapan mental ini. Akan tetapi, pengalaman-pengalaman sampai saat ini membuktikan bahwasanya aqidah itu menjadi senjata utama dalam pertempuran, dan bahwasanya peralatan perang yang berada di tangan seorang prajurit yang lemah aqidahnya itu tidak banyak berguna pada saat-saat kritis. Eksperimen ini, Alloh jelaskan terhadap sekelompok orang beriman supaya dijadikan pelajaran. Akan tetapi tidak khusus untuk Bani Israel saja, karena ini semua adalah murni eksperimen iman. Sementara itu, terkadang pada masa-masa tertentu orang-orang beriman itu mendapatkan dirinya terkucil dalam sebuah masyarakat jahiliyah, sedangkan ujian merajalela, thoghut berlaku kejam, manusia rusak dan lingkunganpun membusuk. Demikianlah yang terjadi pada masa Fir’aun ketika itu. Pada saat itulah Alloh memberikan petunjuk kepada mereka beberapa poin berikut: • Menjauhkan diri dari kejahiliyahan dengan segala kebusukan, kerusakan dan kejahatannya — sedapat mungkin — dan mengisolir kelompok orang-orang beriman yang baik dan bersih dalam kelompoknya sendiri, dalam rangka untuk membersihkan dan mensucikan diri, melatih dan menata barisan, sampai janji Alloh datang kepadanya. • Menjauhkan diri dari tempat-tempat peribadahan jahiliyah, dan menjadikan rumah-rumah kelompok orang-orang Islam itu sebagai masjid. Sehingga di sana mereka merasakan terisolir dari masyarakat jahiliyah, di sana mereka beribadah kepada Robb mereka secara tekun di atas manhaj yang benar, dan menekuni ibadah itu sendiri merupakan salah satu bentuk pengorganisasian dalam suasana ibadah yang suci. Musa ‘alaihis salam pun menghadapkan diri kepada Robbnya. Ia telah putus asa untuk mendapatkan kebaikan pada Fir’aun dan para pengikutnya, atau sesuatu yang tersisa pada diri mereka, atau harapan untuk baik. Beliau menghadapkan diri kepada Robbnya berdo’a kepada-Nya agar membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya, yang memiliki harta dan perhiasan dunia yang dapat melemahkan hati banyak orang, sehingga hati mereka tunduk di hadapan harta dan perhiasan dunia tersebut, dan berakhir dengan kesesatan .. Musa menghadapkan diri kepada Robbnya, ia berdo’a agar Robbnya agar menghancurkan harta benda mereka, dan agar mengunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat beriman kecuali pada saat iman itu sudah tidak berguna lagi bagi mereka. Maka Alloh pun mengabulkan do’a beliau. وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلأهُ زِينَةً وَأَمْوَالاً فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُواْ حَتَّى يَرَوُاْ الْعَذَابَ الأَلِيمَ * قَالَ قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلاَ تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ Musa berkata: “Wahai Robb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi perhiasan dan harta kekayaan kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya dalam kehidupan dunia, Wahai Robb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Wahai Robb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih”. Alloh berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu berdua mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلأهُ زِينَةً وَأَمْوَالاً فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا Wahai Robb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi perhiasan dan harta kekayaan kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya dalam kehidupan dunia. … yang menyebabkan manusia tersesat dari jalan-Mu, baik dengan mengecoh yaitu orang lain melihat seolah-olah mereka mendapatkan kenikmatan, atau dengan kekuatan yang dimiliki para pemilik harta tersebut, sehingga mereka mampu menghinakan atau menyesatkan orang lain. Dan adanya kenikmatan di tangan orang-orang perusak, tidak diragukan lagi akan menggoncangkan banyak hati yang keyakinannya kepada Alloh tidak sampai memahamkan dirinya bahwa kenikmatan tersebut hanyalah ujian, dan tidak memiliki nilai sama sekali dibandingkan dengan karunia Alloh di dunia dan di akherat. Sedangkan di sini, Musa berbicara sesuai dengan kondisi yang dihadapinya pada kebanyakan manusia. Dan dalam rangka untuk menghentikan aktifitas penyesatan ini, dan melucuti sarana-sarana kedholiman dan penyesatan dari kekuatan yang dholim dan menyesatkan, beliau memohon kepada Alloh agar menghancurkan dan memusnahkan harta tersebut, sehingga para pemiliknya tidak dapat menggunakannya lagi. Adapun do’a beliau agar Alloh mengunci mati hati mereka sehingga mereka tidak akan beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih, adalah do’a orang yang telah putus asa bahwa hati-hati yang dido’akan tersebut akan baik, atau akan bertaubat dan kembali, sebuah do’a agar Alloh semakin mengeraskan dan mengunci mati hati tersebut sampai mereka mendapatkan siksa, sedangkan ketika itu iman mereka tidak diterima, karena iman yang muncul setelah mendapat siksaan itu tidak diterima, dan juga hal ini menunjukkan bahwa taubat tersebut bukan taubat yang sebenarnya yang murni keinginan manusia. قَالَ قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا Alloh berfirman: Do’a kalian berdua telah dikabulkan…. Do’a tersebut telah ditetapkan untuk diterima dan perkaranya telah diputuskan. فَاسْتَقِيمَا .. maka tetap istiqomahlah kalian berdua .. .. di atas jalan kalian dan di atas petunjuk, sampai ajal menjemput kalian: وَلاَ تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ … dan janganlah kalian mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.. .. sehingga mereka berjalan dalam kegelapan tanpa dasar ilmu, ragu-ragu dalam membuat perencanaan dan program, goyang dalam berjalan, dan mereka tidak mengetahui apakah mereka berjalan di atas jalan yang benar atau mereka telah tersesat jalan.” Maka Berlindunglah Kalian Ke Dalam Goa Niscaya Robb Kalian Melimpahkan Rahmat-Nya Kepada Kalian. Alloh ta’ala berfirman: أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا * إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا * فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا * ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى * وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَهاً لَقَدْ قُلْنَا إِذاً شَطَطاً * هَؤُلَاء قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِباً * وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحمته ويُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقاً Ataukah kamu mengira bahwa para penghuni Al Kahfi dan Ar Roqim (goa) itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: “Wahai Robb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Robb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Robb kami adalah Robb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyembah Ilah (sesembahan) selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai ilah-ilah (sesembahan). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka) Siapakah yang lebih dholim daripada orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Alloh. Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Alloh, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Robbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna untuk kalian dalam urusan kalian. (Al Kahfi: 9-16) Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: “Ini merupakan pemberitahuan dari Alloh ta’ala mengenai kisah Ash-habul Kahfi secara global dan ringkas. Kemudian, setelah itu Alloh ta’ala memperincinya. Alloh ta’ala berfirman: أَمْ حَسِبْتَ Ataukah engkau mengira… ..yakni, wahai Muhammad, أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا … bahwa para penghuni Al Kahfi dan Ar Roqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. Yakni, sebenarnya kejadian mereka itu tidaklah mengherankan dalam kemampuan dan kekuasaan Kami. Karena sesungguhnya penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, menundukkan matahari, rembulan dan bintang-gemintang, serta ayat-ayat besar lainnya yang menunjukkan atas kekuasaan Alloh ta’ala, dan bahwasanya Ia Maha kuasa untuk melakukan apa saja yang Ia kehendaki, dan tidak ada sesuatupun kejadian yang melebihi kejadian yang dialami Ash-habul Kahfi kecuali Ia pasti bisa melakukannya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, bahwasanya Mujahid mengatakan, tentang firman Alloh ta’ala yang berbunyi: أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا … bahwa para penghuni Al Kahfi dan Ar Roqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. Yakni, telah ada ayat-ayat kami yang lebih mengherankan daripada itu. Sedangkan Al ‘Aufi meriwayatkan, bahwa mengenai ayat yang berbunyi: أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا Ataukah kamu mengira bahwa para penghuni Al Kahfi dan Ar Roqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. .. mengenai ayat ini Ibnu ‘Abbas berkata: “Apa yang telah Aku berikan kepadamu berupa ilmu, sunnah dan kitab itu lebih utama daripada para penghuni Al Kahfi dan Ar Roqim.” Sedangkan Muhammad bin Ishaq mengatakan: “Alasan-alasan yang Aku perlihatkan kepada hamba-hamba-Ku itu lebih mengagumkan daripada peristiwa yang dialami oleh para penghuni Al Kahfi dan Ar Roqim. Sedangkan yang dimaksud dengan Al Kahfi adalah goa yang berada di gunung yang dijadikan tempat berlindung oleh para pemuda tersebut. Adapun yang dimaksud dengan Ar Roqim, Al ‘Aufi meriwayatkan bahwasanya Ibnu ‘Abbas berkata: Ar Roqim adalah sebuah lembah yang terdapat di dekat Ailah. Demikian pula menurut pendapat ‘Ithiyah Al ‘Aufi dan Qotadah. Sedangkan Qotadah berkata: Adapun yang dimaksud dengan Al Kahfi adalah goa yang terdapat di lembah, sedangkan Ar Roqim adalah nama lembah. Sedangkan Qotadah mengatakan: Ar Roqim adalah bangunan mereka. Sedangkan sebagian yang lain mengatakan, bahwa ¬Ar Roqim adalah lembah di mana goa mereka berada … (sampai Ibnu Katsir mengatakan) … dan ‘Abdur Rohman bin Zaid bin Aslam berkata: Ar Roqim adalah kitab. Kemudian ia membaca ayat yang berbunyi: كتاب مرقوم Kitab yang tertulis. Dan demikianlah maksudnya secara dhohir dari ayat tersebut. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Beliau mengatakan: Ar Roqiim adalah bentuk Al Fa’iil yang berarti Al Marquum, sebagaimana Al Maqtuul itu juga disebut dengan Al Qotiil (artinya: terbunuh), dan Al Majruuh juga disebut dengan Al Jariih (artinya: terluka), wallohu a’lam. Sedangkan firman Alloh ta’ala yang berbunyi: إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا Ingatlah tatkala para pemuda itu berlindung ke dalam sebuah goa, lalu mereka berdo’a: “Wahai Robb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. Di sini Alloh ta’ala mengkhabarkan tentang para pemuda yang lari menyelamatkan agama mereka dari kaum mereka supaya kaum mereka tidak mengeluarkan mereka dari agama yang telah mereka anut, maka mereka melarikan diri dari kaum mereka dan berlindung ke dalam sebuah goa di gunung, untuk menyembunyikan diri dari kaum mereka. Lalu tatkala mereka telah masuk ke dalam goa, mereka berdo’a, seraya memohon rahmat dan kasih sayang kepada Alloh ta’ala: رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً “Wahai Robb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu … Yakni, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, yang dengannya Engkau merahmati kami dan menyembunyikan kami dari kaum kami. وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا … dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. Yakni, dan tetapkanlah bahwa apa yang kami lakukan ini adalah benar, yakni, kesudahan yang kami dapatkan adalah kebenaran. Sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits yang berbunyi: وما قضيت لنا من قضاء فاجعل عاقبته رشداً Dan apapun yang Engkau tetapkan kepada kami, maka jadikanlah kesudahannya adalah kebenaran. Dan juga di dalam Al Musnad, dari riwayat Bisr bin Artho-ah, dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beilau pernah berdo’a: اللهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلها, وأجرنا من خزي الدنيا وعذاب الآخرة Ya Alloh, perbaikilah kesudahan kami dalam segala urusan, dan selamatkanlah kami dari kehinaan di dunia dan siksaan di akherat. نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ Kami ceritakan kisah mereka kepadamu secara benar. Dari sini Alloh ta’ala mulai memperinci dan menjelaskan ceritanya secara detail. Maka Alloh ta’ala menyebutkan bahwasanya mereka itu adalah fityah, yakni para pemuda. Mereka menerima kebenaran, dan lebih mendapat petunjuk daripada kaum tua yang telah melampaui batas dan tenggelam di dalam agama yang batil. Oleh karena itu, kebanyakan yang menyambut seruan Alloh ta’ala dan Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam itu adalah kaum muda, sementara kaum tua dari bangsa Quraisy, kebanyakan mereka tetap bersikukuh menganut agama mereka, dan tidak ada yang mau masuk Islam kecuali hanya sedikit. Demikianlah yang Alloh ta’ala beritakan tentang Ash-habul Kahfi, mereka adalah para pemuda. Mujahid berkata: Telah sampai berita kepadaku bahwasanya dahulu di telinga mereka terdapat anting-anting, lalu Alloh ta’ala memberikan petunjuk kepada mereka dan memberikan mereka ketaqwaan, maka mereka beriman kepada Robb mereka, yakni mereka mengakui wahdaniyah (keesaan)-Nya, dan mereka bersaksi bahwasanya tidak ada ilah (sesembahan yang hakiki) kecuali Dia. وَزِدْنَاهُمْ هُدًى Dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Beberapa ulama’, seperti Al Bukhori dan yang lainnya, dengan ayat ini mereka berdalil bahwasanya iman itu bertingkat-tingkat, dan dapat bertambah dan berkurang. Oleh karena itu Alloh ta’ala berfirman: وَزِدْنَاهُمْ هُدًى Dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Sebagaimana Alloh ta’ala juga berfirman: وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْواهُمْ Dan orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk, Alloh tambahkan kepada mereka petunjuk, dan Alloh berikan ketaqwaan kepada mereka. Juga berfirman: فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ Maka, adapun orang-orang beriman, Kami tembahkan mereka dengan keimanan sedangkan mereka bergembira. Juga berfirman: لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ Supaya iman mereka bertambah. Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan hal itu. Para ulama’ tersebut juga mengatakan bahwasanya para pemuda tersebut menganut agama Al Masih Isa bin Maryam, wallohu a’lam. Namun yang dapat dipahami secara dhohir adalah bahwasanya para pemuda tersebut hidup sebelum agama Nasrani diturunkan, karena seandainya mereka menganut agama Nasrani tentu para pendeta Yahudi tidak terlalu perhatian untuk menghafal kisah dan ajaran mereka lantaran mereka mempunyai ajaran yang berbeda dengan ajaran mereka. Padahal di depan telah kami sebutkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menyebutkan bahwasanya orang-orang Quraisy mengutus utusan kepada para pendeta Yahudi di Madinah, meminta beberapa persoalan kepada mereka yang akan digunakan untuk menguji Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Maka para pendeta Yahudi tersebut mengirim utusan kepada orang-orang Quroisy untuk memberitahukan kepada mereka agar menanyainya tentang kisah para pemuda Ah-habul Kahfi tersebut, tentang Dzul Qornain dan tentang ruh. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan ini terabadikan di dalam kitab-kitab Ahlul Kitab, dan bahwasanya peristiwa tersebut terjadi sebelum adanya agama Nasrani, wallohu a’lam. Adapun firman Alloh ta’ala yang berbunyi: وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ … dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Robb kami adalah Robb langit dan bumi … Di sini Alloh ta’ala berfirman: Dan kami jadikan mereka tetap bersabar untuk meninggalkan kaum dan kampung mereka, dan meninggalkan kehidupan mereka yang nikmat dan bahagia. Karena sesungguhnya sebagian ahli tafsir dari kalangan salaf dan kholaf mengatakan bahwasanya para pemuda tersebut adalah anak-anak para raja dan pembesar Romawi. Mereka keluar meninggalkan kaumnya pada hari raya kaum mereka, karena mereka dahulu memiliki satu hari raya dimana pada hari itu mereka berkumpul sekali dalam setahun di luat kota. Di sana mereka menyembah patung dan thoghut, mereka menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada patung dan thoghut tersebut. Mereka memiliki seorang raja yang diktator dan keras kepala, yang bernama Diqyanus. Raja itu memerintahkan, memotifasi dan mengajak rakyatnya agar melakukan upacara peribadahan tersebut. Maka tatkala seluruh manusia keluar menuju tempat perayaan mereka, para pemuda tersebut ikut keluar bersama bapak-bapak dan kaum mereka, dan mereka menyaksikan apa yang dilakukan oleh kaum mereka dengan mata hati mereka. Mereka mengetahui bahwa apa yang perbuat oleh kaum mereka tersebut, yang bersujud kepada berhala-berhala mereka dan mempersembahkan binatang kurban untuk berhala-berhala tersebut, yang semestinya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi, merekapun masing-masing memisahlkan diri dari kaumnya dan berbelok arah. Orang yang pertama kali memisahkan diri di antara mereka pada waktu itu duduk sendirian di bawah naungan sebuah pohon. Lalu yang lain datang dan duduk di sampaingnya, kemudian yang lain datang lagi dan duduk di samping mereka berdua, kemudian datang lagi yang lainnya dan duduk di samping mereka, sedangkan satu sama lain mereka tidak saling mengenal, akan tetapi yang mengumpulkan mereka di tempat tersebut adalah (Alloh) yang telah mengumpulkan hati mereka dalam keimanan. Sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhori secara mu’allaq, dari Yahya bin Sa’id, ia dari ‘Amroh, ia dari ‘Aisyah rodliyallohu ‘anha, ia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam terlah bersabda: الأرواح جنود مجندة, فما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف Ruh itu adalah tentara yang patuh, jika ruh-ruh itu saling mengenal maka ia akan bersatu, dan jika ruh-ruh itu tidak saling mengenal maka ia akan berpisah. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shohihnya, dari jalur Suhail, dari Abu Huroiroh, dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dan dalam kata pepatah dikatakan, kesamaan jenis itu adalah penyebab perkumpulan. Intinya adalah, para pemuda itu masing-masing saling merahasiakan apa yang mereka pendam lantaran mereka takut, karena mereka tidak mengetahui bahwa mereka semua itu sama. Sampai akhirnya salah seorang di anatara mereka mengatakan: “Tahukah kalian wahai kawan-kawan, bahwa demi Alloh, sesungguhnya pasti ada sesuatu yang membuat kalian keluar dan menyendiri dari kaum kalian, maka hendaknya masing-masing kalian memperhatikan permasalahannya.” Maka yang lain lagi mengatakan: “Adapun aku, demi Alloh aku mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh kaumku itu adalah batil, dan bahwasanya yang berhak untuk diibadahi itu hanyalah Alloh semata, tidak ada sekutu baginya, Dialah yang menciptakan langit dan bumi, serta segala sesuatu yang berada di antara keduanya.” Yang lain lagi mengatakan: “Demi Alloh, aku juga demikian.” Yang lain lagi mengatakan seperti itu juga, sehingga mereka semua bersepakat pada satu kata, menjadi satu kesatuan dan persaudaraan yang tulus. Maka merekapun membuat satu tempat ibadah yang mereka gunakan untuk beribadah kepada Alloh ta’ala. Sampai akhirnya mereka diketahui oleh kaum mereka sehingga mereka dilaporkan kepada raja mereka, sehingga mereka dipanggil ke hadapan raja dan ditanyai perkara mereka. Maka, merekapun menjawabnya secara benar dan mengajaknya untuk beribadah kepada Alloh ta’ala. Oleh karena itu Alloh mengisahkan mereka dengan firman-Nya: وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَهاً … dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Robb kami adalah Robb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak beribadah kepada Ilah (sesembahan) selain Dia… Kata ” لن ” berfungsi untuk penafiaan selama-lamanya, artinya selamanya kami tidak akan melakukannya, karena jika kami melakukannya tentu hal itu merupakan kebatilan. Oleh karena itu Alloh ta’ala berfirman mengenai mereka: لَقَدْ قُلْنَا إِذاً شَطَطاً … sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Yakni, perkataan yang batil dan mengada-ada. هَؤُلَاء قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai sesembahan. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang. Yakni, mengemukakan alasan yang jelas dan shohih yang menunjukkan bahwa apa yang mereka kerjakan itu adalah benar. فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِباً Siapakah yang lebih dholim daripada orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Alloh. Mereka mengatakan: Justru mereka itulah yang dholim dan dusta ketika mereka mengatakan seperti itu. Lalu ada yang mengtakan, bahwa sesungguhnya ketika mereka mengajak raja mereka untuk beriman kepada Alloh, ia menolak dan mengancam mereka. Lalu memerintahkan agar pakaian mereka yang padanya terdapat perhiasan kaum mereka dilepas, lalu memberikan tenggang waktu kepada mereka supaya mereka berfikir kembali, sehingga mereka kembali lagi dari agama yang mereka anut. Dan ini adalah di antara kasing sayang Alloh kepada mereka. Karena dengan diberi tenggang waktu, mereka dapat melarikan diri menyelamatkan iman mereka dari fitnah. Dan beginilah tindakan yang disyareatkan ketika terjadi fitnah di tengah-tengah manusia, yaitu lari menyelamatkan agamanya, jika ia khawatir agamanya goyah. Sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadits: يوشك أن يكون خير مال أحدكم غنماً يتبع بها شعف الجبال ومواقع القطر يفر بدينه من الفتن Hampir-hampir tiba masanya, di mana pada waktu itu sebaik-baik harta kalian adalah domba yang kalian bawa ke puncak-puncak gunung dan lembah-lembah, untuk menyelamatkan agamanya dari kesesatan. Maka, dalam kondisi semacam ini seseorang disyareatkan untuk melakukan ‘uzlah (mengasingkan diri) dari manusia. Dan Alloh ta’ala memilihkan tindakan tersebut untuk mereka serta menceritan tentang tindakan yang mereka lakukan tersebut dalam firman-Nya: وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ Dan tatlaka kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Alloh… Yakni, dan tatkala kalian meninggalkan mereka dan memisahkan diri dari mereka dengan segala agama dan sesembahan mereka selain Alloh, kalian juga meninggalkan mereka secara fisik. فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحمته … maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Robb kalian akan menyebarkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian… Yakni, melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian dengan menyembunyikan kalian dari kaum kalian. ويُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم … dan menyiapkan urusan kalian untuk kalian… .. yang tengah kalian hadapi, مِّرْفَقاً … yang berguna. Yakni, perkara yang berguna bagi kalian. Ketika itulah mereka lari menuju goa, lalu mereka berlindung di dalamnya. Maka, rajapun merasa kehilangan dan mencari mereka. Maka konon, raja itu tidak berhasil menangkap merena dan Alloh membutakan matanya untuk melihat keberadaan mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam bersama sahabatnya Ash Shiddiq tatkala keduanya berlindung di goa Tsur. Orang-orang musyrik dalam perburuannya mereka mendatangi beliau, manun mereka tidak menemukan beliau padahal mereka melewati beliau. Pada saat itulah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabatnya, Abu Bakar, ketika sahabatnya itu mengatakan kepada beliau: “Wahai Rosululloh, seandainya salah seorang di antara mereka ada yang melihat kepada tempat berpijaknya, tentu ia akan melihat kita.” Beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, apakah engkau tidak tahu bahwa setiap ada dua orang Alloh adalah yang ketiga dari kedua orang tersebut?” Dan Alloh ta’ala telah berfirman: إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ Jikalau kalian tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Alloh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengusirnya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam goa, diwaktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah bersedih, sesungguhya Alloh bersama kita”. Maka Alloh menurunkan ketenangan kepada (Muhammad), dan membantunya dengan tentara yang kalian tidak melihatnya, dan Alloh menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Alloh itulah yang tinggi. Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At Taubah: 40) Maka, kisah di goa tsur ini lebih mulia, lebih besar, lebih agung dan lebih mengherankan daripada kisah Ash-habul Kahfi. Sayyid Quthub rohimahulloh berkata di dalam Fi Dhilalil Qur’an: “Alloh ta’ala berfirman: إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى Sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Robb mereka, maka Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. .. dengan mengilhamkan kepada mereka bagaimana mengatur urusan mereka. وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ … dan Kami telah meneguhkan hati mereka … .. sehingga hati mereka menjadi teguh dan kokoh, tenang dengan kebenaran yang telah dipahaminya. Merasa mulia dengan iman yang menjadi pilihannya, إِذْ قَامُوا … di waktu mereka berdiri … Sedangkan berdiri adalah sebuah gerakan yang menunjukkan tekad dan keteguhan, فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ … lalu mereka berkata:”Robb kami adalah Robb langit dan bumi, … .. karena Ia adalah Robb alam semesta ini, لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَهاً … kami sekali-kali tidak beribadah kepada sesembahan selain Dia… .. Dia adalah Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, لَقَدْ قُلْنَا إِذاً شَطَطاً … sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran… .. dan berarti kami telah melanggar kebenaran serta berpaling dari kebenaran. Kemudian mereka menoleh kepada apa yang dianut oleh kaum mereka lalu mereka mengingkarinya, dan mengingkari manhaj yang mereka tempuh dalam membangun aqidah, هَؤُلَاء قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai sesembahan-sesembahan. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Inilah cara berkeyakinan yang benar, yaitu hendaknya seseorang itu memiliki landasan dalil yang kuat, dan alasan yang mantap dalam jiwa dan akal. Jika tidak, maka ini bukanlah keyakinan akan tetapi ini adalah kedustaan yang besar, karena hal ini merupakan kedustaan terhadap Alloh: فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِباً Siapakah yang lebih dholim daripada orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Alloh. ..?? Sampai di sini nampaklah sikap tegas dan jelas yang diambil oleh para pemuda itu, dengan tanpa keragu-raguan atau gagap .. sungguh mereka itu adalah pada pemuda, yang mempunyai fisik yang kuat, yang memiliki iman yang kuat, yang mengingkari ajaran kaum mereka dengan kuat… Sungguh dua ajaran tersebut telah jelas, dua manhaj tersebut telah bertentangan, sehingga tidak ada celah untuk bertemu, atau melakukan gotong-royong dalam kehidupan. Sehingga harus lari menyelamatkan aqidah. Sesungguhnya mereka bukanlah Rosul yang diutus kepada kaum mereka sehingga mereka harus menyampaikan dan mendakwahkan aqidah yang benar tersebut kepada kaum mereka, kemudian harus menghadapi apa yang biasa dihadapi oleh para Rosul. Akan tetapi mereka itu adalah para pemuda yang memahami kebenaran di tengah-tengah kedholiman dan kekafiran. Mereka tidak akan dapat hidup di tengah-tengah masyarakat tersebut jika mereka menyatakan aqidah mereka secara terang-terangan, selain itu mereka juga tidak bisa untuk berbasa-basi dan dan merayu kaum mereka, sehingga mereka harus ikut beribadah kepada apa yang diibadahi kaum mereka dalam rangka taqiyah (menutupi keimanan mereka) dan menutupi ibadah mereka kepada Alloh. Karena, menurut pendapat yang lebih kuat adalah sesungguhnya perkara para pemuda tersebut telah terungkap, sehingga tidak ada pilihan bagi mereka selain mereka harus lari menyelamatkan agama mereka, dan memilih berlindung di dalam goa daripada kesenangan dunia. Mereka telah bersepakat dengan berbisik-bisik di antara mereka: وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحمته ويُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقاً Dan tatkala kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Alloh, maka carilah tempat berlindung ke dalam goa itu niscaya Robb kalian akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian. Di sini sirnalah keheranan hati orang-orang yang beriman. Karena, para pemuda yang memisahkan diri dari kaum mereka itu, yang meninggalkan rumah dan keluarga mereka, dan menanggalkan perhiasan hidup dan kesenangan dunia, mereka yang berlindung ke dalam goa yang sempit, kotor dan gelap itu, mereka merasa tenang dengan rahmat Alloh, dan mereka merasakan rahmat Alloh ini bagaikan sebuah naungan yang terbentang luas. يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحمته … niscaya Robb kalian akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian. Kata ” يَنْشُرْ ” (melimpahkan) menggambarkan naungan yang luas, enak dan longgar. Sehingga goa itu terasa sangat lapang, luas dan longgar, di sana tertebar rahmat, terpancar cahaya dan terbentang naungan, dan menaungi mereka dengan lemah lembut dan kelapangan .. sesungguhnya batas-batas yang sempit telah sirna, dinding yang keras menjadi lunak, kesepian yang mencekam telah hilang, kemudian berganti dengan rahmat, kelembutan, ketenangan dan berguna. Sungguh ini adalah iman .. Apalah nilainya materi? Dan apalah nilainya situasi dan keadaan yang dikenal oleh manusia dalam kehidupan mereka di dunia? Sesungguhnya di sana ada sebuah alam lain, di dalam hati yang dipenuhi dengan iman, yang terhibur oleh Ar Rohman (Alloh yang Maha Pengasih), sebuah alam yang dinaungi oleh rahmat, kelembutan, ketenangan dan keridloan.” Perburuan Terhadap Manusia Terbaik, Penutup Para Nabi Dan Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam Sesungguhnya orang yang membaca sejarah akan menemukan bahwa peristiwa hijrah termasuk peristiwa terbesar dalam sejarah. Ia merupakan kejadian yang terkait dengan sejarah umat Islam, dengan itulah syariat jihad dimulai melawan kekufuran dan orang-orang kafir. Dengan hijrah pulalah perubahan besar bagi kaum muslimin terjadi, yang semula lemah dan terusir berubah menjadi kuat dan mampu menjadi orang-orang penakluk dan mulailah benih-benih daulah Islam tumbuh berkembang di Madinah Nabawiyyah, kemudian terbentanglah negara Islam ini hingga belahan bumi timur dan barat. Alloh ta‘âlâ telah perintahkan sang penutup para nabi dan rosul, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, agar keluar dari Mekah menuju Madinah, maka beliau mendatangi Abû Bakar Ash-Shiddîq pada waktu yang tak biasanya, dan menggunakan cadar. Beliau bersama Abû Bakar mengatur secara urut proses keluar serta mengambil ‘cover’ yang pas untuk keluar dan bersembunyi dengan menjadikan Ali bin Abi Thôlib rodliyallohu ‘anhu tidur di tempat yang biasa beliau gunakan tidur. Di dalam hal ini terdapat unsur tipudaya terhadap musuh, sedangkan perang itu sendiri adalah tipudaya. Beliau juga menyewa seorang penunjuk jalan untuk melarikan diri. Dan jaringan yang berfungsi menyampaikan informasi yang sedang beredar di Mekahpun bisa terbentuk dengan baik. Alloh ta’ala berfirman: وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quroisy) memikirkan daya upaya untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Alloh pun membuat tipu daya itu. Dan Alloh sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Al Anfal: 30) Sayyid Qutb berkata di dalam Fi Dhilalil Qur’an: “Itu adalah peringatan terhadap apa yang dialami beliau di Mekah sebelum adanya perubahan dan pergantian posisi. Dan sungguh Alloh ta’ala telah wahyukan kepada beliau akan sebuah kepercayaan dan keyakinan di masa mendatang, sebagaimana Dia juga mengingatkan akan pengaturan kodrat dan hikmah Alloh dalam apa yang Ia putuskan dan perintahkan. Generasi kaum muslimin yang pertama kali menerima seruan Al-Qur’an ini mengetahui dua keadaan yang mereka alami langsung, melihat dan merasakannya. Makanya mereka cukup diingatkan dengan peristiwa masa lampau yang baru saja mereka lewati serta bagaimana mereka dahulu begitu takut dan resah di mana kini mereka sedang menghadapi sebuah kondisi dengan segala keamanan dan ketenangan yang dirasakan di dalamnya .. yang dahulu orang-orang musyrik senantiasa membuat tipu daya dan siasat terhadap Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, di mana sekarang beliau telah menguasai mereka, bukan hanya sekedar telah selamat dari mereka! Orang-orang kafir itu membuat makar untuk menahan dan memenjara Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam hingga mati; atau membunuhnya atau bagaimana caranya bisa bebas dari beliau; atau mengusirnya dari Mekkah supaya beliau terasing dan terusir. Mereka telah merencanakan semua ini, lantas mereka memutuskan untuk membunuh beliau saja, caranya dengan mengutus seorang pemuda dari masing-masing kabilah untuk melaksanakan eksekusi terhadap beliau, sehingga darah beliau terpisah pada diri para kabilah itu, yang pada akhirnya nanti, Bani Hasyim tidak mampu memerangi semua bangsa arab, lantas mereka akan cukup menuntut diyat dan selesai perkara! Imam Ahmad berkata, Abdur Rozzâq menceritakan kepadaku, ia berkata: Ma‘mar memberitahukan kepadaku, ia berkata: Utsman Al-Jarîrî menceritakan kepadaku, dari Maqsam Maulâ Ibnu Abbâs, bahwasanya Ibnu Abbas memberitahukan kepadanya tentang firman Alloh: “Wa idz Yamkuru bika…dst.” Beliau mengatakan, “Orang-orang Quraisy berunding di suatu malam di Mekkah, sebagian mereka mengatakan, ‘Besok, ikat dia dengan tali.’ — maksud dia adalah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam —, sebagian lagi mengatakan: ‘Dibunuh saja.’ Sebagian mengatakan, ‘Diusir saja.’ Kemudian Alloh memberitahukan hal itu kepada Nabi-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka ‘Ali rodliyallohu ‘anhu pun tidur di kasur Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sendiri keluar hingga sampai di gua. Malam itu, kaum musyrikin menjaga ‘Ali karena menyangka bahwa dia adalah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Pagi harinya, mereka menangkapnya, tapi tatkala ternyata yang mereka lihat adalah Ali, Allohpun balikkan tipudaya mereka, mereka mengatakan, “Mana shahabatmu itu?”, “Aku tidak tahu.” Jawab Ali. Akhirnya mereka menguntit jejak beliau. Tatkala mereka sampai di gunung, merekapun bingung, lantas mereka daki gunung tersebut serta melewati sebuah gua, namun mereka melihat ada sarang laba-laba di mulut gua tersebut. Maka mereka berkata, “Kalau Muhammad memasuki gua ini, tentu tidak akan ada sarang laba-laba di sini.” Merekapun pergi dan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menetap di sana selama tiga malam. Ibnu Katsîr berkata di dalam Al-Bidâyah wa `n-Nihâyah mengenai riwayat dari kisah sarang laba-laba di atas: “Ini isnadnya hasan dan termasuk riwayat terbaik tentang kisah sarang laba-laba di depan pintu gua. Ini termasuk penjagaan Alloh kepada beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam.” وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ Mereka membuat tipu daya sedangkan Alloh juga membuat tipu daya. Dan Alloh sebaik-baik Pembalas tipu daya. Satu gambaran dalam Al-Qur’an yang diungkapkan oleh firman Alloh ta‘âlâ ; وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللّهُ Mereka membuat tipu daya sedangkan Alloh juga membuat tipu daya. … adalah ungkapan yang memiliki kesan mendalam, ini ketika majlis permusyawaratan Quraisy bertukar pikiran untuk berunding dan saling bertukar pikiran serta membuat rencana dan makar, padahal Alloh di belakang mereka Mahamengetahui, Dia membuat makar terhadap mereka, mematahkan tipudaya mereka sementara mereka tidak sadar! Sungguh itu adalah ungkapan penghinaan, tapi dalam waktu yang sama ia adalah ungkapan yang menakutkan, maka di mana gerangan orang-orang lemah dan kurus itu dibandingkan sebuah takdir yang menentukan … takdir Alloh Yang Mahamemaksa dan berkuasa atas para hamba-Nya, yang menang atas urusan-Nya sedangkan Dia Mahamengetahui segala sesuatu?” Alloh ta‘âlâ berfirman: إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ Jikalau kalian tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Alloh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengusirnya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah bersedih, sesungguhya Alloh bersama kita”. Maka Alloh menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kalian tidak melihatnya, dan Alloh menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Alloh itulah yang tinggi. Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At Taubah: 40) Ibnu Katsîr rohimahulloh berkata tentang ayat ini: Alloh ta‘âlâ berfirman: إِلاَّ تَنصُرُوهُ … jika kalian tidak menolongnya … … maksudnya, menolong rosul-Nya, maka sesunggunya Allohlah yang menjadi penolongnya, penguatnya, pelindung dan penjaga-Nya sebagaimana dulu Dia juga menolongnya secara langsung: إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ …ketika ia diusir oleh orang-orang kafir, berdua (dengan Abû Bakar), … yakni ketika hijrah tatkala kaum musyrikin bermaksud membunuh beliau, menahan atau mengasingkannya. Maka beliaupun keluar meninggalkan mereka, beliau lari bersama shahabatnya yang jujur Abû Bakar bin Abi Quhâfah. Kemudian beliau berlindung di gua Tsûr selama tiga hari, menunggu agar orang-orang yang memburu beliau, yang mengikuti jejak rombongan beliau itu kembali. Kemudian beliau bersama rombongan terus berjalan ke arah Madinah. Saat itu, Abû Bakar sangat mengkhawatirkan, seandainya ada salah seorang yang mengetahui mereka, sehingga mereka akan menyakiti Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam . Maka Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menenangkan dan meneguhkannya, beliau bersabda: “Wahai Abû Bakar, apakah engkau tidak tahu bahwa tidak ada dua orang kecuali Alloh yang ketiganya?” sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Affân, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hammâm, ia berkata: telah memberitahu kami Tsâbit dari Anas, bahwasanya Abû Bakar bercerita kepadanya, ia berkata: “Aku mengatakan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika kami berada di dalam gua: “Seandainya di antara mereka ada yang melihat ke arah kedua kakinya, tentu ia akan melihat kita di bawah kakinya.” Maka beliau bersabda: يا أبا بكر ما ظنك باثنين الله ثالثهما “Hai Abû Bakar, apakah engkau tidak tahu bahwa tidak ada dua orang kecuali Alloh yang ketiganya?” HR. Bukhôrî dan Muslim. Oleh karena itu, Alloh ta‘âlâ berfirman: فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ … maka Allohpun menurunkan ketenangan dari-Nya … … maksudnya, dukungan dan pertolongan kepada beliau, yakni kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam — ini menurut salah satu pendapat — . Ada juga yang mengatakan, maksudnya adalah kepada Abû Bakar. Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas serta yang lain bahwa mereka mengatakan, “…sebab Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam senantiasa dalam ketenangan, dan ini tidak menafikan adanya perbaruan ketenangan yang khusus bagi beliau kala itu, oleh karena itu Alloh berfirman: وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا …dan Alloh menguatkan dia dengan pasukan yang tidak kalian lihat… ..yakni para malaikat, وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا … dan Dia menjadikan kalimat orang kafir itu rendah, sedangkan kalimat Alloh itulah yang tinggi. Ibnu Abbâs berkata, “Maksud dari kalimat orang-orang kafir adalah kesyirikan, sedangkan kalimat Alloh adalah Lâ ilâha illallôh.” Dan di dalam Ash-Shohîhain disebutkan riwayat dari Abû Mûsâ Al-Asy‘arî rodliyallohu ‘anhu ia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang seorang lelaki yang berperang karena keberanian, berperang karena kesombongan dan berperang karena riya’; manakah yang di jalan Alloh?” beliau bersabda: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ “Barangsiapa berperang agar kalimat Alloh tinggi, maka ia berada di jalan Alloh.” Kemudian firman Alloh yang berbunyi: “وَاللّهُ عَزِيزٌ …” (Dan Alloh Mahaperkasa) maksudnya dalam memberikan balasan dan pertolongan, yang kokoh perlindungannya sehingga orang yang berlindung kepada-Nya tidak akan terancam, serta orang yang melindungi diri dengan berpegang teguh dengan firman-Nya: “حَكِيمٌ..” (Mahabijaksana) dalam firman dan perbuatan-Nya.” Beliau juga berkata di dalam Al-Bidâyah wa `n-Nihâyah: Alloh ta‘âlâ berfirman mencela orang tidak mau turut serta berjihad dengan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam : jika kalian tidak mau menolongnya, maka sesungguhnya Allohlah yang menjadi Penolong, penguat serta yang memenangkannya, sebagaimana ketika ia diusir oleh orang-orang kafir Mekkah ketika ia lari. Tidak ada yang menyertainya selain shahabat dan karib dekatnya Abû Bakar, tak ada yang lain. Oleh karena itu, dikatakan sebagai Tsâniyu `ts-Nain (orang kedua dari dua orang), sebab keduanya berada dalam gua, artinya berlindung di dalam gua, lantas tinggal di sana selama tiga harus untuk meredakan perburuan terhadap keduanya. Hal itu mengingat kaum musyrikin telah menempuh jalan manapun dari segala penjuru untuk memburu keduanya, dan menyediakan seratus ekor unta bagi yang mengembalikan keduanya atau salah satu dari keduanya, mereka melacak jejak sampai akhirnya mereka dibuat bingung. Dan pada waktu itu orang yang menguntit jejak beliau untuk kepentingan kaum Quraisy adalah Surôqoh bin Mâlik bin Ja‘syam sebagaimana yang telah kami ceritakan. Kembali, orang-orang Quraisy itu lantas mendaki gunung Tsûr di mana kedua orang yang mereka cari sedang berada di sana. Tak lama kemudian mereka melewati sebuah pintu goa, lalu mereka menginjakkan kaki-kakinya di depan pintu gua, namun karena Alloh melindungi keduanya, mereka tidak melihatnya … sebagian ahli sejarah menceritakan bahwa ketika Abû Bakar mengucapkan perkataannya tersebut — sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, penerj.— , Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: لو جاءونا من ههنا لذهبنا من هنا “Kalau mereka mendatangi kita dari pintu gua sebelah sini, kita akan pergi dari sebelah sini.” Maka Abû Bakar Ash-Shiddîq melihat ke sisi lain dari gua itu, ternyata ia sudah berlubang dari arah yang lain, dan setelah itu ada laut serta sebuah perahu terikat di sampingnya. Dan ini bukan suatu yang mustahil ditinjau dari takdir Alloh yang agung, hanya saja cerita ini tidak teriwayatkan dengan isnâd yang kuat, tidak juga dho‘îf, sedangkan kami tidak bisa menetapkan sesuatu menurut keinginan kami, namun kami menetapkan sesuatu hanya berdasarkan riwayat yang sanadnya shohih dan hasan. Wallôhu A`lam.” Ibnu Katsîr rohimahulloh berkata lagi, “Kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan Abû Bakar datang ke sebuah gua di gunung Tsûr. Keduanya tinggal di sana selama tiga malam. Yang turut mendampingi tinggal bermalam di sana adalah ‘Abdullôh putra Abû Bakar, saat itu ia masih remaja, cerdas dan fasih. Ketika menjelang subuh meninggalkan keduanya, sehingga pagi harinya ia kembali bersama kaum Quraisy di Mekkah sebagai pemantau; tidaklah ia mendengar sebuah perkara yang itu merupakan makar kepada beliau berdua kecuali ia perhatikan betul lalu ia datang kepada keduanya dengan membawa berita itu di kala gelapnya malam tiba. Adalagi yang menggembalakan domba untuk keduanya, yaitu Amir bin Fuhairoh budak Abû Bakar, pada waktu isya’ ia giring kambing-kambingnya ke tempat yang berdekatan dengan beliau berdua, sehingga keduanya tidur bermalam dengan membawa susu dari kambing yang diberikan kepada keduanya dan yang mereka peras sendiri, kemudian pada akhir malam Amir bin Fuhairoh meneriaki kambingnya tadi untuk ia giring pulang. Hal ini ia lakukan setiap malam selama tiga malam saat mereka berdua tinggal di sana.” Beliau rohimahulloh juga berkata, “Ibnu Ishaq berkata, Menurut riwayat yang sampai kepada saya, tidak ada seorangpun yang tahu keluarnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika beliau hijrah selain Ali, Abû Bakar dan keluarga Abû Bakar. Adapun Ali, karena Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dia agar menggantikan posisinya sampai ia tunaikan titipan-titipan yang menjadi tanggungan beliau kepada orang-orang, padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam kala itu tidak ada seorangpun yang memiliki barang yang ia khawatirkan melainkan dititipkan kepada beliau, sebab beliau dikenal memiliki sifat jujur dan amanahnya.” Ibnu Ishaq berkata, “Tatkala Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memutuskan untuk berhijrah, ia mendatangi Abû Bakar bin Abî Quhâfah, lalu kedua orang itu keluar dari sebuah pintu belakang rumah Abû Bakar, …” Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian keduanya menuju ke gua di Tsûr, sebuah gunung di dekat Mekah, lalu mereka berdua memasukinya dan Abû Bakar memerintahkan anaknya, ‘Abdullôh, untuk menguping apa yang dikatakan orang-orang di Mekkah tentang mereka berdua di waktu siang, kemudian dia datang kepada beliau berdua apabila tiba waktu sore untuk memberitahukan khabar hari ini kepada mereka. Ia juga menyuruh budaknya, Amir bin Fuhairoh untuk menggembalakan kambingnya di siang hari kemudain pada waktu sorenya dia giring kambing-kambing tersebut ke tempat mereka berdua di gua. Jadi, ‘Abdullôh bin Abû Bakar berada di tengah-tengah kaum Quraisy untuk mendengarkan apa yang mereka rencanakan dan bicarakan kaitannya dengan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan Abû Bakar, kemudian dia datang kepada beliau berdua jika sudah tiba waktu sore, lalu ia beritahu khabar tersebut. Sedangkan Amir bin Fuhairoh menggembala di tempat gembala penduduk Mekkah, jika tiba waktu sore, ia menghalau kambingnya ke tempat beliau berdua, maka merekapun bisa memerah susu dan menyembelih kambing. Jika ‘Abdullôh bin Abû Bakar pulang di pagi hari setelah menemui beliau berdua menuju Mekah, maka disusul Amir bin Fuhairoh menutup jejaknya dengan kambing yang menginjak bekas kakinya… Ibnu Ishaq berkata, “Tak ketinggalan, Asma binti Abû Bakr rodliyallohu ‘anha. juga mengirim makanan yang dibutuhkan oleh keduanya di waktu sore. Asma berkata, ‘Ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam keluar bersama Abû Bakar, kami didatangi oleh beberapa orang Quraisy, di antara mereka ada Abû Jahal bin Hisyâm, mereka berdiri di depan pintu rumah Abû Bakar, maka aku keluar menemui mereka. Mereka berkata, “Di mana ayahmu, hai putri Abû Bakar?” aku katakan, “Demi Alloh saya tidak tahu di mana ayahku?” Asma melanjutkan, ‘Lalu Abû Jahal mengangkat tangannya — padahal dia adalah orang yang jahat lagi bengis — lantas ia tampar pipiku hingga anting-antingku terlempar, baru kemudian mereka pergi. Ibnu Ishaq berkata, telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abbâd bin ‘Abdullôh bin Zubair bahwa ayahnya bercerita tentang neneknya, Asma, ia berkata: “Tatkala Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam keluar bersama Abû Bakar, Abû Bakar membawa seluruh hartanya yang berjumlah lima ribu atau enam ribu dirham, ia pergi dengan membawa semua harta tadi. Asma melanjutkan, “Kemudian kakekku, Abû Quhafah masuk menemui kami, saat itu beliau sudah buta, ia mengatakan, ‘Demi Alloh, sungguh aku melihat Abû Bakar telah membuat kalian sedih dengan harta dan diri yang ia bawa.” Aku menimpali, “Sama sekali tidak wahai Abah! Beliau justeru telah meninggalkan kebaikan yang banyak bagi kita.” Asma berkata lagi, “Kemudian aku mengambil banyak batu lalu kutaruh di dalam sebuah kantong di dalam rumah yang biasa ayahku menaruh hartanya, kemudian aku letakkan kain di atasnya dan kutarik tangan kakekku, aku katakan, “Hai abah, letakkan tanganmu di atas harta ini.” Asma melanjutkan, “Maka iapun meletakkan tangannya di atasnya lalu berkata, “Tidak apa-apa, kalau ia meninggalkan harta seperti ini buat kalian, berarti ia telah berbuat baik dan ini cukup bagi kalian.” Padahal, demi Alloh, ayahku tidak meninggalkan apa-apa buat kami, tapi saya hanya ingin menenangkan orang tua ini. Ibnul Qoyyim berkata dalam Zâdu `l-Ma‘âd fî Hadyi Khoiri `l-‘Ibâd, ketika beliau mengkisahkan hijrohnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dari Mekkah menuju Madinah: “Tatkala kaum musyrikin melihat para shahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersiap-siap, keluar dan menanggung beban serta menggiring anak-anak dan hartanya kepada suku Aus dan Khozroj, dan mereka tahu bahwa negeri itu adalah negeri kuat, penduduknya adalah penyandang kesatuan, persenjataan dan kekuatan, maka merekapun takut kalau Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam turut keluar ke tempat mereka dan bergabung dengan mereka. Maka keluarnya beliau menjadi perkara besar bagi mereka, merekapun berkumpul di Dâru `n-Nadwah, tidak ada seorangpun pemikir yang absen, untuk merundingkan tentang beliau. Dan hadirlah wali sekaligus pembesar mereka, Iblis, dalam wujud orang tua dari Nejed, yang berselimut dengan pakaiannya. Musyawarah dimulai, dan masing-masing menyebutkan tentang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam , masing-masing mengemukakan pendapatnya, tapi si orang tua ini membantah dan tidak menyetujuinya, hingga akhirnya Abû Jahal angkat bicara: “Pendapatku berbeda dengan pendapat yang kalian semua telah kemukakan tadi.” Para hadirin berkata, “Pendapat apa itu?” ia berkata, “Menurut saya, kita ambil dari setiap kabilah Quraisy satu orang pemuda yang perkasa dan kuat, kemudian kita beri masing-masing pedang tajam, lalu mereka akan menebasnya secara bersamaan sekali tebas, sehingga darahnya terpisah-pisah di antara para kabilah dan Bani Manaf tak akan tahu apa yang harus ia lakukan setelah itu, ia juga tidak akan mungkin melawan seluruh kabilah, dan kita arahkan mereka agar menuntut diyat saja.” Mendengar itu, si tua tadi menyahut, “Beruntunglah pemuda ini, demi Alloh inilah pendapat yang tepat.” Mereka pun berpisah dengan keputusan itu, mereka sepakat untuk melaksanakannya. Maka Jibril datang kepada beliau dengan membawa wahyu dari Robbnya tabâroka wa ta‘âlâ dan mengkhabarkan beliau akan hal itu, serta memerintahkannya agar tidak tidur di kasurnya malam ini. Kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam datang kepada Abû Bakar di pertengahan siang di saat tak biasanya beliau datang kepadanya dengan bercadar, maka beliau bersabda kepadanya: “Keluarkan orang yang ada di sisimu.” Ia mengatakan, “Wahai Rosululloh, mereka adalah keluargamu juga.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Alloh telah izinkan aku untuk keluar berhijrah.” Maka Abû Bakar mengatakan, “Pendamping wahai Rosululloh?” beliau menimpali, “Ya.” Abû Bakar berkata, “Demi ayah dan Ibuku, kalau begitu ambillah salah satu dari dua hewan tungganganku ini.” Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dengan harga.” Beliau juga memerintahkan Ali untuk bermalam di tempat tidurnya malam itu. Orang-orang Quraisypun berkumpul sembari mengintip dari celah pintu serta mengintai beliau, mereka ingin menyergapnya dan memutuskan siapa yang akan menjadi eksekutornya. Tak lama kemudian, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam keluar ke arah mereka dan mengambil segenggam pasir dan menaburkannya di atas kepala mereka sementara mereka tidak melihat beliau, dan beliau membaca ayat: وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لاَ يُبْصِرُونَ Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 9) Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun berlalu ke rumah Abû Bakar, lantas keduanya keluar dari sebuah pintu rumah Abû Bakar di waktu malam. Setelah itu, datanglah seorang lelaki dan melihat orang-orang berada di depan pintu rumah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ia berkata, “Apa yang sedang kalian nanti?” Mereka menjawab, “Muhammad.” Ia berkata, “Sungguh sial dan merugi kalian, demi Alloh ia telah melewati kalian dan menaburkan tanah di kepala kalian.” Mereka berkata, “Demi Alloh, kami tidak melihatnya.” Maka mereka menyeka tanah di kepala mereka. Mereka adalah: Abû Jahal, Hakam bin Ash, Uqbah bin Abi Mu`ith, Nadhr bin Harits, Umayyah bin Kholaf, Zam`ah bin Al-Aswad, Thu‘aimah bin Adi, Abû Lahab, Ubay bin Kholaf dan dua orang pemberi peringatan, yaitu dua anak Al-Hajjaj. Tatkala pagi, Ali bangun dari tempat tidur maka merekapun bertanya kepadanya tentang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam maka ia mengatakan, “Aku tidak tahu.” Kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan Abû Bakar pergi ke gua Tsûr dan memasukinya, dan ada laba-laba yang membuat sarang di pintunya. Keduanya menyewa ‘Abdullôh bin Uroiqith Al-Laitsi, ia adalah seorang penunjuk jalan yang mengerti betul tentang jalan, ia masih memeluk agama kaumnya, Quraisy. Keduanya mempercayakan urusan jalan kepada dia, dan menyerahkan kendaraan kepadanya, dan menjanjinya untuk datang ke gua Tsûr setelah tiga hari kemudian, sementara kau Quraisy mati-matian mencari keduanya, mereka sampai menderita kerugian, sampai akhirnya mereka tiba di pintu gua Tsûr, maka terhentilah mereka sampai di situ. Di dalam Ash-Shohîhain disebutkan bahwa Abû Bakr berkata, “Wahai Rosululloh, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kedua kakinya pasti ia melihat kita.” Maka beliau bersabda: يَا أَبَا بَكُرٍ ؛ مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا، لاَ تَحْزَنْ فإنَّ الله مَعَنَا “Hai Abû Bakar, bagaimana menurutmu dengan dua orang yang Alloh menjadi fihak ketiga, jangan sedih, Alloh bersama kita.” Padahal saat itu, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan Abû Bakar mendengar perbincangan mereka di atas kepalanya. Tetapi Alloh membutakan mereka dalam urusan keduanya. Sedangkan Amir bin Fuhairoh menggembalakan kambing Abû Bakar untuk mereka keduanya sekaligus menguping berita yang sedang dibicarakan di Mekkah, kemudia dia datang kepada beliau berdua dengan membawa kabar, jika tiba waktu sahur, ia pergi menggembala bersama orang-orang. ‘Aisyah berkata: Dan kami mempersiapkan keduanya dengan persiapan yang paling cepat, dan kami letakkan rangsum makanan untuk keduanya di dalam sebuah kantong kulit. Lalu Asma’ binti Abi Bakar memotong ikat pinggangnya kemudian ia ikat kantong kulit tersebut dengannya. Lalu Asma’ bin ti Abi Bakar memotong ikat penggangnya lagi untuk ia jadikan tali pada mulut geriba (tempat air / susu yang terbuat dari kulit). Oleh karena itulah Asma’ binti Abi Bakar dijuluki dengan Dzatun Nithoqoin (yang memiliki dua ikat pinggang). Hâkim menyebutkan dalam Mustadrok-nya dari ‘Umar ia berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam keluar menuju gua bersama Abu Bakar rodliyallohu ‘anhu. Abu Bakar rodliyallohu ‘anhu sesaat berjalan di hadapan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan pada saat yang lain ai berjalan di belakang beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam, hingga akhirnya Rosululloh memahami gerak-gerik Abu Bakar ini. Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya kenapa ia berbuat seperti itu. Maka Abu Bakar menjawab: Wahai Rosululloh, terkadang saya teringat orang-orang yang memburu Engkau sehingga saya berjalan di belakangmu. Kemudia terkadang saya teringat dengan orang-orang yang mengintaimu sehingga saya berjalan di hadapanmu. Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: يا أبا بكر ؛ لو كان شيء أحببتَ أن يكون بِكَ دوني؟ Wahai Abu Bakar, apakah Engkau ingin mengorbankan dirimu untuk menghindarkan diriku dari sesuatu yang akan mengenaiku. Abu Bakar menjawab: “Benar wahai Rosululloh, demi (Alloh) yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran.” Kemudian tatkala beliau sampai goa, Abu Bakar berkata: “Tetaplah Engkau di tempatmu wahai Rosululloh, saya akan bersihkan terlebih dahulu goa ini dari segala gangguan.” Maka Abu Bakarpun masuk ke dalam goa dan membersihkannya dari gangguan. Sampai tatkala ia berada di atas, konon ia belum membersihkan bagian goa yang paling dalam. Lalu ia mengatakan kepada Rosululloh: “Tetaplah di tempat wahai Rosululloh, biar saya bersihkan terlebih dahulu bagian goa yang paling dalam. Kemudian ia berkata: Turunlah wahai Rosululloh. Kemudian beliau turun dan keduanya tinggal di dalam goa selama tiga malam, sehingga intensitas perburuan kepada keduanya mereda. Kemudian datanglah ‘Abdulloh bin ‘Uroiqith dengan membawa dua binatang tunggangan, lalu keduanyapun berangkat, sedangkan Abu Bakar memboncengkan ‘Amir bin Fuhairoh, sedangkan penunjuk jalannya berjalan di depan keduanya. Sementara itu “mata Alloh” senantiasa mengawai keduanya, pertolongan-Nya senantiasa menyertai keduanya dan Alloh juga senantiasa membahagiakan keduanya pada saat keduanya berangkat dan pada saat keduanya bersinggah. Dan tatkala orang-orang musyrik mulai putus asa untuk dapat menangkap keduanya, mereka membuat sayembara barangsiapa dapat menangkap keduanya akan diberi hadiah sebesar harga diyatnya masing-masing (100 ekor onta untuk satu orang). Maka semua orangpun bersungguh-sungguh dalam memburu keduanya, sedangkan Alloh menang atas urusan-Nya. Kemudian tatkala mereka melewati perkampungan Bani Mudlij, ketika tengah naik dari Qudaid, ada seorang penduduk kampung tersebut yang melihat mereka. Maka orang tersebutpun mengatakan kepada seluruh penduduk kampung tersebut: “Aku tadi melihat beberapa orang di tepi pantai, dan aku yakin mereka itu adalah Muhammad dan rombonganya.” Mendengar hal itu, Suroqoh bin Malik berpikir agar dia sendiri saja yang mendapatkan keuntungan. Dan sebelumnya dia telah mendapatkan keuntungan yang belum pernah ia perkirakan sebelumnya. Maka ia mengatakan: “Bukan, mereka itu adalah si Fulan dan si Fulan. Mereka berdua keluar untuk suatu keperluan.” Lalu ia diam sejenak. Kemudian ia bangkit, lalu masuk ke dalam tendanya dan mengatakan kepada pembantunya: “Keluarlah dengan membawa kuda lewat belakang tenda. Kita akan bertemu di belakang bukit.” Kemudian ia mengambil tombaknya. Ujung tombaknya ia arahkan ke bawah untuk membuat garis di atas tanah sampai ia menjumpai kudanya. Lalu tatkala sudah dekat dengan rombongan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, ia mendengar bacaan Al Qur’an Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, sementara itu Abu Bakar banyak menoleh untuk mengawasi sekitar lokasi sedangkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menoleh. Lalu Abu Bakar berkata: “Wahai Rosululloh, Suroqoh bin Malik telah mengejar kita.” Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akannya, sehingga kaki kudanya tenggelam dalam tanah. Lalu Suroqoh berkata: “Aku tahu bahwa apa yang menimpaku ini adalah disebabkan do’a kalian berdua, maka saya mohon agar kalian berdo’a kepada Alloh agar menyelamatkanku, niscaya aku akan melindungi kalian dari orang yang hendak berbuat jahat kepada kalian.” Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akannya sehingga ia terbebas. Lalu ia memohon agar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menulis sebuah tulisan untuknya, maka Abu Bakarpun menuliskan untuk Rosululloh atas perintah beliau di atas kulit yang telah disamak. Tulisan itu selanjutnya ia bawa sampai terjadi Fat-hu Makkah (penaklukan kota Mekah). Lalu ia menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan membawa tulisan tersebut, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun memenuhi janjinya yang tertera di dalam tulisan tersebut. Dan berliau bersabda: يَوْمُ وَفَاءٍ وَبِرٍّ Ini adalah hari untuk memenuhi janji dan hari kebaikan Lalu Suroqoh menawarkan perbekalan dan dua buah sekedup (sejenis tandu yang diletakkan dia atas onta). Namun Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar menjawab: “Kami tidak memerlukannya, namun tolong rahasiakanlah kami dari perburuan.” Suroqoh menjawab: “Kerahasiaan kalian telah terjamin.” Kemudian Suroqoh kembali dan mendapatkan semua orang tengah mengadakan perburuan. Maka Suroqohpun mengatakan: “Aku telah mengecek berita tersebut, dan cukuplah kalian sampai di sini saja perburuan kalian.” Demikianlah, pada waktu pagi Suroqoh dengan sungguh-sungguh memburu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar, namun ketika menjelang sore ia melindungi keduanya.” Dalam mengomentari ayat yang terdapat dalam surat At Taubah tersebut, Sayyid Quthub rohimahulloh di dalam Fi Dhilalil Qur’an mengatakan: “Sesungguhnya membebaskan diri dari beban-beban dunia dan lemahnya jiwa itu akan membuahkan eksistensi manusia yang mulia, dan inilah kehidupan yang memiliki nilai tinggi. Dan sesungguhnya merasa berat dengan dunia adalah berarti tunduk dengan rasa takut, dan melenyapkan eksistensi manusia yang mulia, dan inilah kanihilan dalam timbangan Alloh, dan dalam pandangan ruh manusia yang istimewa. Sementara Alloh membuat permisalan untuk mereka dalam realita sejarah yang mereka ketahui, atas pertolongan Alloh kepada Rosul-Nya, dengan tanpa pertolongan dan perlindungan dari mereka. Karena pertolongan itu hanyalah datang dari sisi Alloh, yang Alloh berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki: إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ . . Jikalau kalian tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Alloh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengusirnya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah bersedih, sesungguhya Alloh bersama kita”. Maka Alloh menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Alloh menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Alloh itulah yang tinggi. Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At Taubah: 40) Peristiwa itu terjadi tatkala bangsa Quraisy mulai kehabisan kesabaran terhadap apa yang dilakukan oleh Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, karena memang kekuatan jahat itu senantiasa sesak nafas dalam menghadapi kebenaran, tidak dapat membantah dan tidak mampu bersabar, maka merekapun merencanakan makar terhadapnya dan memutuskan untuk menyingkirkan kebenaran tersebut dari hadapannya. Namun, Alloh ta’ala mengetahui perencanaan mereka, sehingga Alloh ta’ala mewahyukan kepada beliau agar keluar meninggalkan rumanya. Maka beliaupun keluar tanpa dengan siapapun selain dengan sahabatnya Ash Shiddiq. Tidak dikawal oleh pasukan dan tidak membawa perlengkapan perang. Sementara itu musuhnya banyak, dan kekuatan mereka jauh lebih besar daripada kekuatan beliau. Teks ayat tersebut menggambarkan kondisi Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan sabahatnya: إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ “.. tatkala keduanya berada di dalam goa ..” Sedangkan bangsa Quraisy memburu mereka berdua dari belakang mereka, semantara itu Ash Shiddiq senantiasa khawatir, bukan atas dirinya sendiri akan tetapi atas diri Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam jika orang-orang Quraisy melihat mereka berdua. Maka iapun membisikkan kepada sahabat tercintanya: “Seandainya di antara mereka ada yang melihat ke arah kedua kakinya, tentu ia melihat kita di bawah kakinya.” Semantara itu Alloh telah menurunkan ketenangan ke dalam hati Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau menenangkan hatinya. Beliau bersabda kepada Abu Bakar: “Wahai Abu Bakar, apakah kamu tidak mengetahui bahwasanya jika ada dua orang maka Alloh adalah yang ke tiganya?” Kemudian apa yang terjadi. Seluruh kekuatan materi mengepung. Sementara Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersama sahabatnya tidak memiliki apa-apa sama sekali? Bala bantuan datang dari sisi Alloh, berupa tentara-tentara yang tidak dapat dilihat oleh manusia. Sedangkan orang-orang kafir itu memperoleh kekalahan dan kehinaan. وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى … dan Alloh menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah… Sementara itu kalimat Alloh tetap pada posisinya yang tinggi, menang, kuat dan berlaku. Dan terkadang ayat: وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا .. dibaca nashob (fat-hah). Akan tetapi bacaan rofa’ (dlommah) itu lebih kuat dari sisi artinya. Karena dengan begitu berarti penetapan bahwa kalimat Alloh itu tinggi secara tabiat dan dasar, tanpa menggantungkan ketinggian tersebut dengan suatu kejadian tertentu. Sedangkan Alloh [ عزيز ]”..Maha Perkasa..” yang tidak akan menghinakan para wali-Nya, [ حكيم ]”..Maha Bijaksana..” mampu memberikan pertolongan pada waktu yang tepat kepada orang yang berhak mendapatkannya. Ini adalah permisalan pertolongan Alloh terhadap Rosul dan kalimat-Nya. Dan Alloh Maha Kuasa untuk mengulanginya kembali kepada bangsa lain yang tidak merasa berat dengan dunia dan tidak berlambat-lambat. Inilah permisalan dari realita nyata, jika mereka menginginkan dalil dari selain firman Alloh!” Perburuan Terhadap Para Sahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam Dan Hijroh Mereka Ke Habasyah. Ketika Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam diutus dan mengajak kepada Islam, tidak ada yang mau menyahut selain satu orang demi satu orang saja dari setiap kabilah. Itupun, orang yang mau menyambut seruan beliau pasti merasa takut terhadap keluarga serta kabilah asalnya, ia disiksa dengan siksaan di luar batas, ia terima semua itu sementara ia tetap bersabar karena Alloh ta’ala. Kala itu, kaum muslimin masih dalam kondisi lemah lagi terusir dari tempat manapun mereka berada dan mereka lari ke negeri jauh untuk menyelamatkan agamanya, sebagaimana hijrah yang mereka lakukan ke Habasyah sebanyak dua kali sebelum akhirnya mereka berhijrah ke Madinah. Di antara mereka ada yang disiksa karena iman mereka kepada Alloh, ada juga yang dibunuh. Intinya, orang-orang yang masuk Islam saat itu menjadi orang-orang asing. Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata di dalam Zâdu `l-Ma‘âd: “Maka kaum muhajirin bergabung ke kerajaan Ashhimah An-Najasyi dalam keadaan aman. Tatkala kaum Quraisy mengetahui hal itu, mereka mengutus ‘Abdullôh bin Abî Robî‘ah untuk menyusul mereka bersama Amru bin Al Ash dengan membawa hadiah dan barang-barang yang berharga dari negeri mereka kepada raja Najasyi dengan tujuan agar ia mau mengembalikan kaum muslimin. Sayang, ia menolak permintaan tersebut. Dan mereka memintakan permohonan dengan melalui perantara para pemuka Patrik (komandan pasukan yang membawahi 10.000 prajurit) nya An Najasyi, namun ia tetap tidak mau menuruti permintaan mereka. Akhirnya mereka memfitnah kaum muslimin di hadapannya, dengan mengatakan: “Bahwasanya kaum muslimin itu memiliki keyakina yang sangat melecehkan Isa; mereka mengatakan bahwa ia hanyalah hamba Alloh. Mendengar itu, raja Najasyi memanggil kaum muhajirin ke Majelisnya. Sebagai juru bicara tampil Ja‘far bin Abi Tholib, maka tatkala mereka hendak masuk menghadap raja, Ja‘far mengatakan, “Pasukan Alloh minta izin kepada Anda.” Raja mengatakan kepada pemberi izin: “Katakan agar ia mengulangi izinnya.” Akhirnya iapun mengulangi izinnya. Ketika masuk, raja bertanya: “Apa yang kalian katakan mengenai Isa?” maka Ja‘far membacakan bagian awal dari surat Kâf-hâ-yâ-‘Aîn-shôd — surat Maryam, penerj. — maka raja Najasyi mengambil kayu dari tanah lantas berkata, “Isa tidak lebih dari ini atau dari kayu ini.” Maka para komandan pasukan yang berada di sisinya pun mendengus. Lalu ia berkata: “Meskipun kalian mendengus, (aku tidak peduli).” Raja Najasyi berkata: “Pergilah kalian, kalian sayyûm di negeriku, orang yang berani menawan kalian akan didenda. (Sayyûm dalam bahasa mereka artinya adalah aman). Setelah itu, ia berkata kepada kedua utusan Quraisy tadi, “Seandainya kalian memberikan dua gunung emas, aku tidak akan serahkan mereka kepada kalian berdua.” Kemudian ia memerintahkan agar mengembalikan hadiah mereka berdua. Akhirnya merekapun pulang, keduanya gagal. Di dalam Musnad Imâm Ahmad disebutkan bahwasanya Ja‘far bin Abî Thôlib rodliyallohu ‘anhu menceritakan bagaiamana kondisi mereka ketika bersama kaum Quraisy: “…Tatkala mereka menekan kami, menzalimi serta menimpakan beban berat kepada kami serta menghalang-halangi kami untuk menganut agama kami, kamipun keluar menuju negeri Anda, serta kami pilih Anda dari yang lain, dan kami mengharapkan perlindungan Anda, dengan harapan kami tidak lagi dizalimi di sisimu, wahai raja.” Ibnu Katsîr berkata dalam Al-Bidâyah wa `n-Nihâyah: “…adapun riwayat Ja‘far, sangatlah kuat sekali, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asâkir dari ‘Abdullôh bin Ja‘far dari ayahnya, ia berkata: Kaum Quraisy mengirim Amru bin Al Ash dan Imaroh bin Al-Walid dengan membawa hadiah dari Abû Sufyân kepada raja Najasyi, mereka berkata kepadanya — saat itu kami ada di sana —, “Telah datang kepada Anda orang-orang kami yang hina dan bodoh di antara kami, maka kembalikanlah mereka kepada kami.” “Tidak, sampai aku dengar dulu kata-kata mereka.” Kata raja. Maka dikirimlah utusan untuk memanggil kami, raja berkata: “Apa yang dikatakan orang-orang itu?” Ja‘far berkata, “Kami mengatakan: Mereka adalah kaum penyembah berhala, dan sesungguhnya Alloh telah mengutus seorang rosul kepada kami, maka kamipun beriman dan membenarkannya.” Mendengar itu, raja Najasyi berkata kepada mereka: “Apakah mereka ini budak kalian?” mereka mengatakan: “Bukan.” “Kalau begitu, apakah mereka memiliki hutang kepada kalian?” lanjutnya. Mereka menjawab, “Tidak.” “Kalau begitu bebaskan mereka.” Tukas raja Najasyi. Ja‘far berkata: “Akhirnya kami keluar darinya.” Tiba-tiba Amru bin Al Ash berkata: “Sesungguhnya orang-orang itu mengatakan perihal Isa berbeda dengan perkataan kalian.” Maka raja berkata, “Kalau mereka tidak sependapat denganku tentang Isa, aku tidak akan berikan kesempatan sedikitpun mereka berada di negeriku.” Akhirnya, diutuslah orang untuk memanggil kami, panggilan kedua ini lebih keras daripada panggilan pertama. Raja berkata: “Apa kata teman kalian itu mengenai Isa bin Maryam.” Kami mengatakan: “Ia mengatakan, Isa adalah ruh Alloh serta kalimat-Nya yang Dia lemparkan kepada seorang wanita perawan.” Ja’far melanjutkan kisahnya: Lalu Raja memanggil utusan dan mengatakan kepadanya: “Panggilkan Pastur Fulan dan Pendeta Fulan.” Maka datanglah beberapa orang yang Raja inginkan, lalu Raja bertanya: “Apa pendapat kalian mengenai Isa bin Maryam?” Mereka menjawa: “Engkau adalah orang yang paling tahu di antara kami, lalu apa yang engkau katakan?” An Najasyi berkata sambil mengambil sesuatu dari tanah: “Selain tentang Isa mereka tidak mengatakan seperti ini.” Kemudian Raja berkata lagi: “Apakah ada orang yang menyakiti kalian?” Mereka menjawab: “Ya.” Maka dikumandangkanlah pengumuman: “Barangsiapa menyakiti seorang dari mereka, dendalah ia empat dirham.” Kemudian Raja bertanya: “Apakah ini cukup bagi kalian?” Kami menjawab: “Alangkah banyaknya ini.” Ja’far melanjutkan kisahnya: Lalu tatkala Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berhijroh ke Madinah dan berkuasa di sana, kami mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menang dan berhijroh ke Madinah, dan telah membunuh orang-orang yang kami ceritakan kepadamu dahulu. Dan sekarang kami ingin pergi bergabung dengan beliau, maka kembalikanlah kami kepada beliau.” Raja menjawab: “Baiklah.” Maka Raja memberikan kendaraan dan perbekalan kepada kami, kemudian berkata: “Beritahukan kepada kawanmu itu mengenai apa yang telah kuperbuat kepada kalian, dan ini sahabatku aku sertakan dengan kalian. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah (sesembahan yang hakiki) selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh. Dan katakan kepadanya supaya ia memintakan ampun untukku.” Ja’far melanjutkan kisahnya: Selanjutnya kami keluar sampai Madinah dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun menyambut dan memeluk kami. Kemudian beliau bersabda: ما أدري أنا بفتح خيبر أفرح أم بقدوم جعفر Aku tidak tahu, aku senang karena penaklukan Khoibar atau karena kedatangan Ja’far. Karena ketika itu bertepatan dengan penaklukan Khoibar. Kemudian beliau duduk, lalu berkatalah utusan An Najasyi: “Tanyakanlah kepada Ja’far mengenai apa yang diperbuat kawan kami terhadap dirinya.” Maka Ja’far berkata: “Ya, ia telah memperlakukan kami begini dan begini. Ia memberikan kendaraan dan perbekalan kepada kami, dan bersaksi bahwasanya tidak ada ilah (sesembahan yang benar) kecuali Alloh, dan bahwasanya engkau adalah utusan Alloh. Dan ia mengatakan kepadaku: Katakan kepadanya, supaya ia memintakan ampun untukku.” Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bangkit dan berwudlu, kemudian beliau berdo’a tiga kali: اللهم اغفر للنجاشي Ya Alloh ampunilah An Najasyi. Lalu kaum musliminpun mengucapkan: “Amin.” Kemudian Ja’far mengatakan kepada utusan An Najasyi: “Pulanglah dan beritahukan kepada kawanmu mengenai apa yang engkau lihat dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian Ibnu ‘Asakir mengatakan: “Hadits ini hasan ghorib.” Demikianlah para sahabat Rosululloh SAW rodliyallohu ‘anhum, mereka telah diusir dari kampung halaman mereka dan dari harta benda mereka, mereka diburu, berhijroh, bersembunyi dan menghadapi berbagai mara bahaya serta kesulitan, mereka menempuh perjalanan yang jauh, bahkan mereka menyeberang laut. Lalu di antara mereka ada yang pergi ke Habasyah dan tinggal di bawah perlindungan An Najasyi (pada hari ini disebut dengan suaka politik), dan mereka baru kembali ketika penaklukan Khoibar (berarti mereka tinggal di Habasyah selama bertahun-tahun). Dan di antara mereka adalah yang berhijroh ke Madinah Nabawiyah, meninggalkan keluarga, harta dan kampung halaman untuk kepentingan Islam. Oleh karena itu Alloh memuji mereka dalam firman-Nya: لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ *وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Bagi orang-orang faqir yang berhijrah, yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Alloh dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang tulus. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al Hasyr: 8-9) Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: “Alloh ta’ala menerangkan kondisi orang-orang faqir yang berhak untuk mendapatkan bagian harta fai’ (harta rampasan yang diperoleh tanpa peperangan-pentj.), bahwasanya mereka itu adalah: الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً … orang-orang yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Alloh dan keridhoan-(Nya)… Yakni, mereka meninggalkan kampung halaman dan kaum mereka hanya untuk mendapatkan ridlo Alloh, وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ .. dan menolong Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang tulus. Yakni, mereka membuktikan ucapan mereka dengan perbuatan mereka. Mereka itu adalah para pemuka Muhajirin. Kemudian Alloh ta’ala memuji orang-orang Anshor, dan menerangkan keutamaan, kemuliaan dan kedermawanan mereka, dan ketidakkikiran mereka, serta itsar (lebih mengutamakan orang lain) mereka ketika mereka sendiri sedang membutuhkan, Alloh ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), Yakni, mereka telah menempati bumi hijroh sebelum para Muhajirin datang, dan telah beriman sebelum sebagian orang-orang Muhajirin beriman. ‘Umar berkata: “Dan Aku wasiatkan kepada Kholifah setelahku, agar melindungi hak-hak para Muhajirin yang pertama-tama masuk Islam, dan menghormati mereka. Dan Aku juga wasiatkan kepadanya agar berbuat baik kepada orang-orang Anshor yang telah menempati bumi hijroh dan beriman terlebih dahulu, agar menerima orang yang baik di antara mereka dan memaafkan yang salah di antara mereka.” Ini juga diriwayatkan oleh Al Bukhori. Firman Alloh ta’ala yang berbunyi: يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ .. mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Yakni, lantaran mereka dermawan dan hati mereka mulia, mereka mencintai dan membantu orang-orang Muhajirin dengan harta mereka. Imam Ahmad berkata: Yazid telah bercerita kepada kami, iaberkata: Humaid telah bercerita kepada kami, ia dari Anas, ia bertutur: Orang-orang Muhajirin mengatakan: “Wahai Rosululloh, kami tidak pernah melihat sebuah kaum yang pernah kami kunjungi yang lebih baik dalam memberikan bantuan, baik dalam masalah yang kecil maupun yang lebih baik pengorbanannya dalam masalah yang besar, daripada mereka ini. Mereka telah mencukupi makan kami, dan mereka mengikut sertakan kami dalam kesenangan mereka, sampai-sampai kami khawatir jika mereka telah memborong semua pahala (sehingga kami tidak kebagian).” Beliau bersabda: لا ما أثنيتم عليهم ودعوتم الله لهم Tidak, (kalian tetap akan kebagian pahala) selama kalian berterima kasih kepada mereka dan mendo’akan kepada Alloh untuk mereka. Aku belum pernah melihat periwayatan seperti ini di berbagai kitab. Sedangkan Al Bukhori berkata: ‘Abdulloh bin Muhammad telah bercerita kepada kami, ia berkata: Sufyan telah bercerita kepada kami, ia dari Yahya bin Sa’id, ia mendengar Anas bin Malik ketika ia pergi menjumpai Al Walid bersamanya, ia berkata: Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mendo’akan orang-orang Anshor agar Alloh membelah dua lautan untuk mereka. Orang-orang Anshorpun mengatakan: Tidak, kecuali jika saudara-saudara kami dari kalangan Muhajirin juga mendapatkan hal yang sama. Beliau bersabda: إما لا فاصبروا حتى تلقوني فإنه سيصيبكم أثرة Jika tidak, maka bersabarlah sampai kalian bertemu denganku, karena sesungguhnya kalian akan mendapatkan orang-orang egois (yang lebih mengutamakan diri mereka sendiri). Al Bukhori meriwayatkan ini sendirian. Dan Al Bukhori juga mengatakan: Al Hakam bin Nafi’ telah bercerita kepada kami, ia berkata; Syu’aib telah mengkhabarkan kepada kami, ia berkata; Abuz Zinad telah bercerita kepada kami, ia dari Al A’roj, ia dari Abu Huroiroh, ia berkata: Orang-orang Anshor berkata: Bagikanlah pohon korma ini untuk kami dan untuk saudara-saudara kami. Ia menjawab: Tidak. Maka mereka berkata: Apakah cukup bagi kalian kami sertakan kalian dalam memetik buahnya. Mereka menjawab: Baiklah, kami mendengar dan kami taat. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Al Bukahori sendirian tanpa dengan Muslim. وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin). Yakni, tidak ada rasa iri dalam hati mereka kepada orang-orang Muhajirin meskipun orang-orang Muhajirin dianugerahi oleh Alloh berupa kedudukan, kemuliaan, disebut duluan dan derajat. Al Hasan Al Bashri berkata: Firman Alloh yang berbunyi: وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka … yakni, hasad. مِّمَّا أُوتُوا Yakni, dari apa yang diberikan kepada saudara-saudaranya. Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Zaid. Di antara yang dijadikan dalil dari makna ini adalah yang diriwayatkan Imam Ahmad, beliau berkata: “Abdur Rozzaq menceritakan kepadaku, ia berkata: Ma‘mar bercerita kepadaku, ia dari Az-Zuhrî, ia dari Anas, ia berkata: “Kami sedang duduk bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau bersabda: يطلع عليكم الآن رجل من أهل الجنة “Akan datang di hadapan kalian sekarang seorang lelaki dari penduduk surga.” Maka muncullah seorang lelaki dari Anshor yang basah jenggotnya karena wudhu yang ia lakukan sedangkan kedua sandalnya ia tenteng di tangan kirinya. Keesokan harinya, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda seperti itu juga. Lalu muncullah lelaki itu juga, persis seperti kemarin keadaanya. Maka ketika hari ketiga, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan kata-kata yang sama. Lagi-lagi, orang itu yang muncul dengan keadaan seperti kemarin. Akhirnya, ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri, ‘Abdullôh bin Amru bin Al Ash menguntitnya, ia berkata: “Sesungguhnya aku telah berselisih dengan ayahku, lalu aku bersumpah untuk tidak masuk menemuinya selama tiga hari, kalau engkau mau menampungku di rumahmu sampai tiga hari, aku akan lakukan.” Ia menjawab, “Baiklah.” Anas berkata, “‘Abdullôh bercerita bahwa dirinya bermalam bersama selama tiga malam tersebut, namun dirinya tidak pernah melihat ia melakukan sholat malam sedikitpun, kecuali hanya ketika ia berbalik tubuh di malam hari di atas kasurnya, ia berdzikir kepada Alloh dan mengucapkan takbir sampai ia bangun untuk melaksanakan sholat Fajar. ‘Abdullôh berkata, “Hanya, aku tidak pernah mendengar darinya selain perkataan yang baik.” Ketika tiga malam telah berlalu dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku mengatakan, “Hai hamba Alloh, sebenarnya tidak ada saling marah maupun saling mendiamkan antara diriku dan ayahku. Tetapi aku mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai dirimu sampai tiga kali: يطلع عليكم الآن رجل من أهل الجنة “Akan muncul sekarang seorang lelaki dari penghuni jannah.” Maka yang muncul selama tiga kali itu adalah engkau. Maka aku ingin bermalam di rumahmu untuk melihat amalanmu sehingga aku bisa mencontoh dirimu. Namun aku tidak melihatmu melakukan amalan besar. Lantas apa sebenarnya yang menjadikanmu sampai kepada derajat seperti yang disabdakan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ?” ia berkata, “Tidak ada selain yang engkau lihat sendiri.” Tatkala aku berbalik, ia memanggilku sembari berkata, “Tidak ada selain yang engkau lihat, namun aku tidak mendapatkan dalam diriku perasaan jahat kepada seorangpun dari kaum muslimin, dan aku tidak pernah mendengki akan kebaikan yang Alloh berikan kepada seorangpun.” Maka ‘Abdullôhpun berkata, “Inilah yang menjadikan dirimu mencapai derajat itu dan itulah yang tidak mampu dilakukan orang lain.” An-Nasâ’î juga meriwayatkannya dalam pembahasan Al Yaum Wal Lailah, dari Suwaid bin Nash-r, ia dari Ibnul Mubarok, ia dari Ma’mar. Dan riwayat ini sanadnya shohih sesuai dengan syarat Al Bukhori dan Muslim, akan tetapi ‘Uqoil dan lainnya meriwayatkan hadits ini dari Az Zuhri, ia dari seseorang, ia dari Anas. Wallohu a’lam. Sementara itu, ‘Abdur Rohman bin Zaid bin Aslam mengatakan mengenai firman Alloh ta’ala: وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka… Yakni, terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin. Ia mengatakan: Lalu sebagian orang yang membicarakan orang-orang Anshor berbicara tentang harta yang diperoleh dari Bani An Nadlir, maka Alloh mencela mereka dan berfirman mengenai persoalan itu: وَمَا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَى مَن يَشَاء وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Dan apa saja harta rampasan (fai’) yang diberikan Alloh kepada Rosul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kalian tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun, tetapi Alloh yang memberikan kekuasaan kepada Rosul-Nya atas siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Hasyr: 6) Ia malanjutkan: Dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: إن إخوانكم قد تركوا الأموال والأولاد وخرجوا إليكم Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah meninggalkan harta benda dan anak-anak mereka, dan pergi kepada kalian. Maka mereka mengatakan: “Harta kami, kami bagi di antara kita.” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menyahut: “Juga yang lainnya.” Mereka bertanya: “Apa yang lain itu wahai Rosululloh?” beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti bagaimana berkerja, maka tanggunglah kebutuhan mereka dan bagilah hasil buah-buahan kalian.” Maka mereka berkata: “Baik wahai Rosululloh.” Sedangkan firman Alloh ta’ala yang berbunyi: وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ … dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Yakni, meskipun mereka juga memerlukan, mereka lebih mendahulukan orang lain yang membutuhkannya meskipun mereka sendiri membutuhkan, dan mereka lebih mendahulukan orang lain daripada diri mereka sendiri ketika mereka sendiri membutuhkan. Dan telah diriwayatkan dalam Shohih Al Bukhori, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: أفضل الصدقة جهد المقل Sedekah yang paling utama itu adalah sedekah yang diberikan oleh orang yang kesusahan. Derajat ini lebih tinggi daripada derajat orang-orang yang Alloh ta’ala sebutkan dalam firman-Nya: وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ Dan mereka memberikan makanan yang mereka sukai. Dan dalam firman-Nya: وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ … dan ia memberikan harta yang ia cintai.. Karena, mereka itu menyedekahkan harta yang mereka cintai, namun bisa jadi mereka tidak membutuhkan dan tidak memerlukannya. Sedangkan mereka yang disebutkan sebelumnya, lebih mengutamakan orang lain daripada diri mereka sendiri padahal mereka sangat memerlukan apa yang mereka infakkan tersebut. Termasuk dalam hal ini adalahAbu Bakar Ash Shiddiq rodliyallohu ‘anhu ketika menginfakkan seluruh hartanya, sehingga Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Ia menjawab: “Aku sisakan untuk mereka Alloh dan Rosul-Nya.” Demikian juga dengan air yang ditawarkan kepada ‘Ikrimah dan kawan-kawannya pada perang Yarmuk. Mereka masing-masing meminta agar air itu diberikan kepada yang lain, sedangkan dia sendiri dalam keadaan terluka berat yang sangat membutuhkan air, kemudian yang lain juga meminta agar air itu diberikan kepada yang lain lagi, sampai akhirnya air itu belum sampai kepada orang yang ketiga namun mereka semua mati dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang meminumnya, semoga Alloh meridloi mereka semua. Dan Al Bukhori berkata: Ya’qub bin Ibrohim bin Katsir telah bercerita kepada kami, ia berkata: Abu Usamah telah bercerita kepada kami, ia berkata: Fudloil bin Ghozwan telah bercerita kepada kami, ia berkata: Abu Hazim Al Asyja’i telah bercerita kepada kami, ia dari Abu Huroiroh, ia berkata: Ada seseorang yang datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Wahai Rosululloh, saya tertimpa kesusahan.” Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam membawanya kepada istri-istri beliau namun beliau tidak mendapatkan apa-apa pada istri-istri beliau. Maka beliau bersabda: أَلاَ رَجُلٌ يُضِيْفُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ رَحِمَهُ اللهُ Adakah orang yang mau menjamu tamu pada malam hari ini, semoga Alloh merahmatinya. Lalu ada seorang Anshor yang berdiri dan berkata: “Saya wahai Rosululloh.” Maka orang itupun pulang menemui istrinya dan mengatakan kepadanya: “Ini tamu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka janganlah ada makanan yang engkau simpan.” Istrinya menjawab: “Demi Alloh, aku tidak memiliki makanan kecuali makanan anak-anak kita.” Maka orang Anshor tersebut mengatakan: “Nanti jika anak-anak kita mau makan malam, tidurkanlah mereka. Lalu mendekatlah kepadaku dan matikanlah lampu, kita akan melipat perut kita malam ini.” Maka sang istripun melaksanakan apa yang diperintahkan suaminya kepadanya. Kemudian orang Anshor itu pergi menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: لقد عجب الله عز وجل – أو ضحك – من فلان وفلانة “Sungguh Alloh ta’ala telah kagum — atau tertawa — terhadap si fulan dan istrinya.” Dan Alloh ta’ala menurunkan ayat yang berbunyi: وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ … dan mereka lebih mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Bukhori pada tempat yang lain, dan juga diriwayatkan oleh Muslim, At Tirmidzi dan An Nasa’i dari jalur Fudloil bin Ghozwan, dan di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa nama orang Anshor tersebut adalah Abu Tholhah rodliyallohu ‘anhu. Sedangkan firman Alloh ta’ala yang berbunyi: وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Yakni, barangsiapa yang terbebas dari sifat kikir maka dia telah beruntung dan sukses. Ahmad berkata: ‘Abdur Rozzaq telah bercerita kepada kami, ia berkata: Dawud bin Qois Al Farro’ telah menghabarkan kami, ia dari ‘Ubaidulloh bin Muqsim, ia dari Jabir bin ‘Abdulloh, ia berkata bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَاتَّقُوْا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوْا مَحَارِمَهُمْ Janganlah kalian berbuat dholim, karena kedholiman itu adalah kegelapan pada hari qiyamat. Dan jagalah diri kalian dari sifat kikir, karena sifat kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Ia menyebabkan mereka saling menumpahkan darah mereka sendiri, dan menghalalkan hal-hal yang haram. Hadits ini diriwayatkan sendirian oleh Muslim dari Al Qo’anbi, ia dari Dawud bin Qois. Al A’masy dab Syu’bah meriwayatkan dari ‘Amru bin Murroh, ia dari ‘Abdulloh bin Al Harits, ia dari Zuhair bin Al Aqmar, ia dari ‘Abdulloh bin ‘Amr, ia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَاتَّقُوْا الْفحشَ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْفحشَ وَلاَ التَّفَحُّشَ, وَإِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ, أَمَرَهُمْ بِالظُّلْمِ فَظَلَمُوْا, وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُوْرِ فَفَجَرُوْا, وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيْعَةِ فَقَطَعُوْا Jagalah diri kalian dari kedholiman, karena sesungguhnya kedholiman itu adalah kegelapan pada hari qiyamat. Dan jagalah diri kalian dari perbuatan keji, karena sesungguhnya Alloh itu tidak mencintai perbuatan keji dan berlagak keji. Dan jauhkanlah diri kalian dari sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, sifat kikir itu telah mendorong mereka untuk berbuat dholim sehingga mereka pun berbuat dholim, dan mendorong mereka berbuat jahat sehingga mereka pun berbuat jahat, dan mendorong mereka untuk memutuskan hubungan kekeluargaan, sehingga mereka memutuskan hubungan kekeluargaan. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari jalur Syu’bah, dan diriwayatkan oleh An Nasa’i dari jalur Al A’masy, keduanya dari ‘Amr bin Murroh. Sedangkan Al Laits meriwayatkan dari Yazid bin Al Hadi, ia dari Suhail bin Abi Sholih, ia dari Shofwan bin Abi Yazid, ia dari Al Qo’qo’ bin Al Jallah, ia dari Abu Huroiroh, bahwasanya ia mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِيْ جَوْفِ عَبْدٍ أَبَداً, وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَاْلإِيْمَانُ فِيْ قَلْبِ عَبْدٍ أَبَداً Debu jihad fi sabilillah itu tidak akan berkumpul dengan asap neraka jahannam pada lambung seseorang selamanya. Dan sifat kikir itu tidak akan berkumpul dengan iman pada hati seseorang selamanya. Sedangkan Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku telah bercerita kepadaku, ia berkata: ‘Abdah bin Sulaiman telah bercerita kepada kami, ia berkata: Ibnul Mubarok telah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al Mas’udi telah bercerita kepada kami, ia dari Jami’ bin Syidad, ia dari Al Aswad bin Hilal, ia berkata: Ada seseorang datang kepada Abdulloh lalu berkata: “Wahai Abu Abdir Rohman, sesungguhnya aku takut termasuk orang yang telah binasa.” Maka Abdulloh berkata skepadanya: “Kenapa?” Ia menjawab: “Aku telah mendengar Alloh ta’ala berfirman: وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Aku adalah orang yang kikir, hampir-hampir aku tidak pernah melepaskan sesuatu apapun dari tanganku.” ‘Abdulloh berkata: “Bukan itu kikir yang disebutkan Alloh dalam Al Qur’an. Sesungguhnya kikir yang dimaksudkan oleh Alloh di dalam Al Qur’an itu adalah engkau memakan harta saudaramu secara dholim. Yang engkau lakukan itu adalah bakhil, dan bakhil adalah sesuatu yang buruk.” Sedangkan Sufyan Ats Tsauri berkata: Dari Thoriq bin ‘Abdur Rohman, ia dari Sa’id bin Jubair, ia dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata: Aku pernah melakukan thowaf di ka’bah, lalu aku melihat seseorang mengatakan: “Ya Alloh jagalah Aku dari sifat kikir.” Hanya itu saja yang ia ucapkan dan dia tidak menambahkan do’a apapun. Lalu aku tegur dia, maka ia menjawab: “Sesungguhnya jika diriku telah terjaga dari sifat kikir, aku tidak akan mencuri, tidak akan berzina dan tida akan berbuat yang lain.” Ternyata orang tersebut adalah ‘Abdur Rohman bin ‘Auf rodliyallohu ‘anhu. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Dan Ibnu Jarir berkata: Muhammad bin Ishaq telah bercerita kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin ‘Abdur Rohman Ad Dimasyqi telah bercerita kepada kami, ia berkata: Isma’il bin ‘Ayyasy telah bercerita kepada kami, ia berkata: Majma’ bin Jariyah Al Anshori telah bercerita kepada kami, ia dari pamannya, Yazid bin Jariyah, ia dari Anas bin Malik, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: برىء من الشح من أدى الزكاة وقرى الضيف وأعطى في النائبة Telah terbebas dari sifat kikir siapa saja yang membayar zakat, menjamu tamu dan memberi orang yang terkena musibah. Sedangkan firman Alloh ta’ala yang berbunyi: وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Wahai Robb kami, berilah ampun kepada kami dan kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”. Mereka adalah orang-orang faqir golongan ketiga yang berhak mendapatkan harta fai’ (harta rampasan yang diperoleh tanpa peperangan-pent.), yaitu para Muhajirin, kemudian para Anshor, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, sebagaimana yang difirmankan Alloh ta’ala dalam surat At Taubah: وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridlo kepada mereka dan mereka ridlo dengan Alloh. Maka, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik itu adalah orang-orang yang mengikuti jejak mereka yang baik, sifat-sifat mereka yang mulia, dan mendo’akan mereka baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terang. Oleh karena itu Alloh ta’ala berfirman dalam ayat yang mulia tersebut: وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka mengatakan (berdo’a). Yakni, seraya mereka mengatakan: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا Wahai Robb kami, berilah ampun kepada kami dan kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami… Yakni, marah dan iri, لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ … terhadap orang-orang yang beriman, Wahai Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang. Dan alangkah baiknya kesimpulan Imam Malik rohimahulloh dari ayat yang mulia ini, yaitu bahwasanya orang yang berpaham Rofidloh, yang mencaci para sahabat, mereka tidaklah berhak mendapatkan harta fai’, karena mereka tidak memiliki sifat yang Alloh sebutkan dalam pujian-Nya terhadap orang-orang yang disebutkan dalam ayat tersebut, bahwasanya mereka senantiasa berdo’a: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ “Wahai Robb kami, berilah ampun kepada kami dan kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Wahai Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”. Sementara itu, Sayyid Quthub rohimahulloh mengatakan di dalam Fi Dhilalil Qur’an: “Ini merupakan gambaran nyata yang menggambarkan secara jelas sifat-sifat istimewa yang dimiliki oleh orang-orang Muhajirin … mereka diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka. Mereka terpaksa keluar lantaran disakiti, ditindas dan dimusuhi oleh kaum kerabat dan keluarga mereka di Mekah, tidak ada salah mereka selain mereka mengatakan, Alloh adalah Robb kami … dan merekapun keluar meninggalkan kampung halaman dan harta benda mereka… يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا … untuk mencari karunia dan ridlo dari Alloh… Bersandar mereka kepada Alloh terhadap karunia dan keridloannya, tidak ada tempat berlindung bagi mereka selain Alloh, dan tidak ada perlindungan bagi mereka selain perlindungan-Nya .. sedangkan mereka dalam keadaan buron dan berjumlah sedikit. يَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ … mereka menolong Alloh dan Rosul-Nya… .. baik dengan hati maupun dengan pedang mereka, dalam kondisi yang paling susah dan pada saat yang paling sempit .. أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ .. mereka adalah orang-orang yang tulus.. … yang mengucapkan kata-kata iman dengan lisan mereka, lalu mereka membuktikannya dengan tindakan mereka. Dengan demikian mereka adalah orang-orang yang jujur terhadap Alloh ketika mereka mengatakan bahwa mereka memilih-Nya. Mereka jujur terhadap Rosul-Nya ketika mereka mengatakan bahwa mereka mengikutinya. Dan mereka jujur terhadap kebenaran ketika mereka mengatakan bahwasanya mereka adalah gambaran nyata dari kebenaran yang berjalan di muka bumi dan yang dilihat manusia! وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Ini juga sebuah gambaran yang berkilau dan jelas, yang membuktikan bahwa mereka adalah fenomena yang paling penting dan istimewa bagi orang-orang yang menjadi Anshor (penolong). Kelompok ini memiliki ciri-ciri yang istimewa, yang mencapai cakrawala, yang mana seandainya hal itu tidak benar-benar terjadi, tentu manusia menyangka bahwa ini semua hanyalah angan-angan semu, mimpi bohong dan permisalan tinggi yang terbentuk oleh khayalan yang membumbung tinggi… وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), Yakni, kota tempat hijroh Yatsrib, Madinah kota Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang telah ditempati oleh orang-orang Anshor sebelum orang-orang Muhajirin, selain itu mereka juga telah menempati kota tersebut dengan iman. Maka seolah-olah kota tersebut adalah rumah dan kota mereka sendiri. Ini adalah sebuah ungkapan yang memiliki bayangan. Ini adalah ungkapan yang paling jelas yang menggambarkan dekatnya sikap orang-orang Anshor dengan keimanan. Kota, tempat tinggal dan negeri yang menjadi kehidupan hati mereka, tempat tinggal jiwa mereka, yang merupakan tempat bernaung mereka dan yang mereka merasa tentram tinggal di sana, sebagaimana seseorang yang bernaung dan tentram dengan rumah tempat tinggalnya. يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا … mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin)… Sejarah manusia belum pernah mencatat adanya sebuah peristiwa dari suatu komunitas sebagaimana peristiwa sambutan orang-orang Anshor terhdap orang-orang Muhajirin. Dengan kecintaan yang mulia semacam ini, dengan pengorbanan yang luar biasa semacam ini, dengan kerjasama yang menyenangkan semacam ini, dan dengan saling berlomba untuk menampung dan menanggung penderitaan semacam ini. Sampai-sampai ada riwayat yang menyebutkan bahwa tidak ada seorang Muhajirinpun yang tinggal di rumah orang Anshor kecuali setelah diundi. Karena jumlah orang yang ingin menampung lebih banyak daripada jumlah orang-orang Muhajirin. وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin)… Dan terhadap kedudukan mulia yang didapatkan oleh para Muhajirin pada beberapa ayat dalam Al Qur’an, dan jatah harta yang mereka dapatkan seperti fai’. Hati mereka tidak keberatan terhadap ini semua. Dan Alloh juga tidak mengungkapkan dengan kata “iri” atau “sempit” akan tetapi menggunakan kata “حاجة” (keinginan), hal ini mengisyaratkan kebersihan dada mereka yang sempurna dan terbebasnya hati mereka secara total dari kotoran, sehingga tidak ada apa-apa sama sekali dalam hati mereka. وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ … dan mereka lebih mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Padahal itsar (lebih mengutamakan orang lain) pada saat diri sendiri membutuhkan itu adalah derajat yang sangat tinggi. Namun orang-orang Anshor telah mencapai derajat tersebut, di mana manusia belum pernah menyaksikan ada orang yang mencapai derajat seperti itu. Dan mereka pada setiap kondisi dan setiap keadaan selalu di luar kebiasaan manusia, baik dahulu maupun sekarang. وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Sifat kikir semacam ini, jiwa yang kikir, merupakan penghalang segala kebaikan. Karena kebaikan itu adalah pengorbanan dalam segala bentuknya. Pengorbanan harta, pengorbanan perasaan, pengorbanan tenaga, pengorbanan dalam kehidupan ketika dituntut untuk berkorban. Sedangkan orang kikir yang senantiasa ingin mengambil atau yang tidak pernah ingin memberi itu tidak akan mungkin untuk berbuat baik. Maka, barangsiapa terjaga dari kekikiran jiwanya, ia telah terjaga dari penghalang kebaikan, sehingga ia akan senantiasa memberi, berkorban dan berderma. Dan inilah arti keberuntungan yang sebenarnya. وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Wahai Robb kami, berilah ampun kepada kami dan kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Wahai Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”. Inilah gambaran ketiga yang bersih, menyenangkan dan menarik. Yang menunjukkan sifat terpenting pada orang-orang yang mengikuti. Selain juga menunjukkan keistimewaan yang paling menonjol pada umat Islam secara umum di setiap tempat dan waktu. Mereka yang datang setelah orang-orang Muhajirin dan Anshor, — dan ketika ayat ini turun di Madinah mereka belum ada, akan tetapi mereka telah ada dalam ilmu Alloh dan dalam hakekat yang ada dalam ilmu Alloh tersebut yang tidak terbatasi oleh batas-batas waktu dan tempat — ciri-cirinya, hati mereka menghadap kepada Robbnya memohon ampunan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri akan tetapi juga untuk pada pendahulunya yang telah beriman terlebih dahulu daripada mereka, dan memohon agar hati mereka dibersihkan dari perasaan dengki kepada orang-orang beriman secara umum dan kepada orang yang mempunyai ikatan iman dengan mereka. Selain juga mereka merasakan kasih sayang Alloh, dan berdo’a dengan kasing sayang-Nya tersebut: رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ “Wahai Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.. ” Dari balik nas-nas tersebut memancarlah gambaran tabiat umat Islam ini secara kemilau di jagad raya ini. Dan memancarlah gambaran ikatan yang sangat kuat yang menjalinkan antara generasi awal umat ini dengan generasi akhirnya, dan yang menjalin antara generasi akhirnya dengan generasi awalnya, dalam bahu-membahu, tolong-menolong, saling mencintai dan saling kasih sayang. Dan mempunyai perasaan seolah-olah terjalin kekerabatan yang sangat dalam, yang menembus batasan-batasan waktu, tempat, kebangsaan dan nasab. Menyatu dengan sendirinya di dalam hati, lalu menggerkkan perasaan selama berabad-abad lamanya. Sehingga seorang yang beriman mengingat saudaranya yang beriman meskipun setelah terpaut beberapa abad lamanya, sebagaimana ia mengingat saudaranya yang masih hidup, atau bahkan lebih dari itu, dengan memuliakan, menyanjung dan mencinta. Dan memandang salaf dengan pandangan kholaf, yang kholaf mengikuti jejak salaf, satu barisan dan satu kesatuan sepanjang masa dan dalam berbagai negeri, di bawah naungan bendera Alloh berjalan naik ke atas cakrawala kemuliaan, menghadap Robbnya Yang Maha Esa, Maha Penyantun dan Maha Penyayang. Ini adalah sebuah gambaran yang sangat jelas, yang menggambarkan sebuah kenyataan yang terjadi, bagaikan menggambarkan manusia yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di dalam hati yang mulia. Sebuah gambaran yang memancarkan kemuliaan dan sinarnya yang paling sempurnya, yang dihadapkan dengan gambaran kedengkian yang tercela, pertumpahan darah yang sangat buruk, yang diperankan dan ditawarkan oleh kumunisme dalam injilnya Karl Marks. Gambaran kedengkian yang bergejolak dalam dada dan berdengus dalam hati, terhadap kasta-kasta, terhadap generasi manusia yang terdahulu dan terhadap bangsa-bangsa hari ini yang tidak menyimpan dendam tercela kasta, serta terhadap iman dan orang-orang beriman di setiap bangsa dan agama! Dua gambaran yang tidak akan bertemu ciri-ciri dan sifatnya, atau sentuhan dan naungannya. Yang satu adalah gambaran yang mengangkat derajat manusia ke puncak kemuliaan, sedangkan yang satu lagi adalah gambaran yang menjerumuskan manusia ke dalam kehinaan yang paling bawah. Yang satu adalah gambaran yang menggambarkan generasi dari balik waktu, tempat, kebangsaan, negeri, suku, dan nasab, yang saling bahu-membahu, tolong-menolong, saling berhubungan erat, saling mambatu, saling mencintai dan saling memahami, yang berjalan naik menuju Alloh, dada mereka bersih dari sifat dengki, hati mereka terbebas dari dendam. Sedangkan satu lagi adalah gambaran yang menggambarkan manusia yang saling bermusuhan dan berperang, saling dendam, saling cela, saling caci, saling curang, saling membuat tipu daya dan saling membuat kekacauan. Itu semua terjadi meskipun mereka melakukan sholat di rumah ibadah, karena sholat itu bukan lain hanyalah sebuah trik dan tipu daya, dan seluruh ajaran agama itu hanyalah sebagai perangkap yang dipasang oleh Kapitalis untuk kaum buruh! رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ “Wahai Robb kami, berilah ampun kepada kami dan kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Wahai Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”. Inilah kafilah iman, inilah seruan iman. Dan sungguh ini adalah sebuah kafilah yang mulia, dan sungguh ini adalah sebuah seruan yang mulia.” Kisah Dua Orang Sahabat Yang Menjadi Buron Setelah Melakukan Aksi Jihad, Keduanya Tidak Menyerahkan Diri Kepada Hukum Quraisy (Yang Toleran)!!! Ibnu Katsir rohimahulloh di dalam Al Bidayah Wan Nihayah mengatakan: “Sariyah (ekspedisi jihad) ‘Amr bin Umayyah Adl Dlomri: Al Waqidi menuturkan: Ibrohim bin Ja’far telah bercerita kepada kami, ia dari Ayahnya dan dari ‘Abdulloh bin Abi ‘Ubaidah, keduanya dari Ja’far bin Al Fadl-l bin Al Hasan bin ‘Amr bin Umayyah Adl Dlomri, dan dari ‘Abdulloh bin Ja’far, ia dari ‘Abdul Wahid bin Abi ‘Auf, sebagian mereka menambahkan kepada sebagian yang lain, mereka mengatakan: Abu Sufyan bin Harb pernah mengatakan kepada seseorang dari suku Quraisy di Mekah: “Tidak ada seorangpun yang dapat memebunuh Muhammad secara diam-diam, padahal dia berjalan-jalan di pasar, sehingga kita dapat membalaskan dendam kita.” Kemudian ia didatangi oleh seorang Arab Badui di dalam rumahnya, orang Arab Badui itu mengatakan kepadanya: “Jika engkau mau memenuhi kebutuhanku, aku akan datangi Muhammad kemudian akan kubunuh secara diam-diam. Karena sesungguhnya aku adalah seorang penunjuk jalan, aku bawa sebilah pisau besar seperti sebuah bulu burung nasar yang baru tumbuh.” Abu Sufyan bin Umayyah berkata: “Engkau adalah sahabat kami.” Lalu Abu Sufyan memberikan seekor onta kepadanya dan menghiasinya. Kemudian Abu Sufyan bin Harb mengatakan: “Rahasiakanlah apa yang akan Engkau lakukan ini, karena aku khawatir ada orang yang mendengarnya lalu menyampaikannya kepada Muhammad.” Orang Arab Badui itu menjawab: “Tidak ada seorangpun yang tahu.” Lalu orang Arab Badui itu keluar pada malam hari dengan menggunakan ontanya, dan berjalan selama lima hari. Kemudian pada pagi hari keenamnya ia sampai di sebuah perkampungan. Kemudian ia menanyakan tentang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, ia bertanya kepada seseorang yang sedang sholat, kemudian orang itu menjawab: “Beliau pergi ke Bani ‘Abdul Asyhal.” Maka orang Arab Badui itu pun menuntun ontanya ke perkampungan Bani ‘Abdul Asyhal. Lalu ia tambatkan ontanya dan berjalan mencari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendapatkannya berada dalam sekerumunan orang, beliau sedang merbicara dengan para sahabanya di masjid. Lalu tatkala ia masuk dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun melihatnya, beliau bersabda kepada para sahabat beliau: إِنَّ هَذَا الرَّجُلَ يُرِيْدُ غَدْرًا وَاللهُ حَائِلٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَا يُرِيْدُهُ Sesungguhnya orang ini ingin berkhianat, namun Alloh menghalanginya untuk melakukan apa yang ia inginkan. Lalu orang itu berhenti dan bertanya: “Siapakah di antara kalian yang anaknya ‘Abdul Muthollib?” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Aku Anak Abdul Muthollib.” Maka orang Arab Badui itupun menundukkan kepalanya kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam seolah-olah ia menunjukkan rasa senangnya kepada beliau. Kemudian ia didorong oleh Usaid bin Hudloir, ia pegang dan ia tarik leher baju orang Arab Badui itu. Lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada orang Arab Badui tersebut: “Jujurlah kepadaku, siapa kamu ini dan apa tujuanmu kemari. Jika engkau jujur maka itu akan berguna bagimu, namun jika engkau berdusta maka sesungguhnya aku telah mengetahui apa yang hendak engkau lakukan.” Orang Arab Badui itu bertanya: “Apakah engkau menjamin keamananku?” Rosululloh menjawab: “Aku jamin keamananmu.” Maka orang Arab Badui itupun menceritakan tentang Abu Sofyan dan apa yang dijanjikannya kepadanya. Maka orang Arab Badui itupun ditahan di rumah Usaid bin Hudloir. Kemudian keesokan harinya beliau bersabda: “Aku telah menjamin keamananmun, sekarang pergilah kemana engkau mau, atau pilihlah yang lebih baik daripada itu.” Orang Arab Badui itu bertanya: “Apa itu?” beliau menjawab: “Bersaksilah bahwasanya tidak ada ilah (sesembahan) selain Alloh dan bahwasanya Aku adalah utusan Alloh.” Orang Arab Badui itupun berkata: “Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah (sesembahan yang hakiki) selain Alloh dan bahwasanya engkau adalah utusan Alloh. Demi Alloh wahai Muhammad, aku belum pernah takut kepada seorangpun sampai aku bertemu denganmu, lalu hilang akalku dan aku menjadi lemah, kemudian engkau mengetahui apa yang hendak aku lakukan, padahal tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Dari situ saya mengetahui bahwasanya engkau itu terjaga dan bahwasanya engkau berada di atas kebenaran. Sedangkan kelompoknya Abu Sufyan adalah kelompok syetan.” Mendengar hal itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun tersenyum. Kemudian orang Arab Badui tersebut tinggal bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam selama beberapa hari lalu meminta ijin untuk pergi meninggalkan beliau namun ia tidak menyebutkan mau kemana. Kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Amr bin Umayyah Adl Dlomri dan Salamah bin Aslam bin Huroisy: أُخْرُجَا حَتَّى تَأْتِيَا أَبَا سُفْيَان بْنَ حَرْبٍ فَإِنْ أَصَبْتُمَا مِنْهُ غرَّةً فَاقْتُلاهُ Pergilah kalian berdua menemu Abu Sufyan bin Harb, lalu jika kalian menemuinya dalam keadaan lengah bunuhlah ia. ‘Amr menuturkan: Lalu Aku pergi bersama kawanku (Salamah bin Aslam), lalu tatkala kami sampai di tengah-tengah daerah Ya’juj kami tambatkan onta kami. Lalu kawanku itu berkata kepadaku: “Wahai ‘Amr, bagaimana pendapatmu jika kita pergi ke Mekah lalu kita bertawaf di Ka’bah tujuh kali dan sholat dua rokaat.” Maka aku menjawab: “Aku lebih memahami penduduk Mekah daripada kamu. Mereka itu jika berbuat dholim mereka memerciki halaman mereka dengan air lalu mereka duduk di sana, dan aku lebih mengetahui daripada kuda belang.” Lalu ia menolakku dan kemudian kami pergi ke Mekah dan melakukan thowaf tujuh kali dan sholat dua rokaat. Kemudian tatkala aku keluar, aku dipergoki oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan, maka iapun mengenaliku. ‘Amr bin Umayyah berkata: Dan kami membuatnya sedih, maka penduduk Mekah bersumpah: “‘Amr tidak akan datang dalam keadaan baik.” Dahulu pada masa jahiliyah ‘Amr adalah orang yang pemberani. Maka penduduk Mekah berkumpul. Sedangkan ‘Amr dan Salamah lari dari kejaran mereka, dan mereka memburunya di gunung. ‘Amr berkata: Lalu aku masuk ke dalam goa sehingga aku dapat bersembunyi dari mereka sampai pagi. Dan pada malam hari itu mereka mencarinya di gunung, namun Alloh membutakan mereka sehingga mereka tidak mendapatkan jalan menuju Madinah. Lalu tatkala pagi harinya datanglah ‘Utsman bin Malik bin ‘Ubaid At Taimi memotong rumput untuk makan kudanya. Maka aku katakan kepada Salamah bin Aslam: “Apabila ia melihat kita niscaya penduduk Mekah akan mendapatkan kita, padahal mereka telah meninggalkan kita.” ‘Utsman bin Malik pun terus mendekat ke pintu goa dan melihat kami. ‘Amr melanjutkan: Maka aku keluar dan aku tusuk tepat di bawah dadanya dengan menggunakan golokku. Iapun tersungkur dan berteriak sehingga penduduk Mekan berkumpul dan datang lagi padahal mereka telah bubar. Akupun kembali ke tempatku semula dan aku katakan kepada kawanku: “Kamu jangan bergerak.” Penduduk Mekahpun datang dan bertanya kepada ‘Utsman bin Malik: “Siapa yang membunuhmu?” Ia menjawab: “‘Amr bin Umayyah Al Dlomri.” Maka Abu Sufyan berkata: “Kami telah mengetahui bahwasanya ia datang bukan dengan niat baik.” Namun ‘Utsman bin Malik tidak dapat menunjukkan kepada mereka tempat persembunyian kami, karena dia telah menghembuskan nafas yang terakhir, maka iapun tewas. Sedangkan orang-orang Quraisy tersibukkan mengurusi ‘Utsman bin Malik dan membawanya sehingga mereka tidak mencari kami. Kamipun tinggal di tempat kami selama dua malam sehingga pencarian mereda. Kemudian kami keluar ke At Tan’im. Kawanku bertanya kepadaku: “Wahai ‘Amr bin Umayyah, apa pendapatmu jika kita mampir ke tempat Khubaib bin ‘Adi?” Maka aku menjawab: “Dia di mana?” Kawanku menjawab: “Di sana, dia disalib sementara di sekelilingnya ada para penjaga.” Lalu aku katakan: “Tunggu aku dan menjauhlah dariku, dan jika engkau khawatir sesuatu maka pergilah ke ontamu dan temuilah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, lalu sampaikanlah kepadanya apa yang terjadi, dan tinggalkanlah aku karena sesungguhnya aku tahu Madinah , kemudian aku mengelilinginya sampai aku mendapatkannya, lalu aku angkat dia di atas punggungku. Namun baru saja aku melangkah dua puluh hasta tiba-tiba para penjaganya bangun dan mencari jejakku. Lalu aku campakkan kayu padanya tanpa suara. Kemudian ia kututupi tanah dengan kakiku, dan aku menuju arah Ash Shofro’, merekapun lelah dan kembali sementara aku tidak mengetahuinya. Sementara kawanku menuju ontanya dan mengendarainya untuk menemui Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia menyampaikan kepada beliau nengenai apa yang terjadi. Akupun menyusul. Setelah aku sampai di sebuah sendang, sendang Dlonjanan, aku masuk kedalam goa dengan membawa anak panah, busur, dan golok. Katika aku berada di situ, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Ad Dail bin Bakar. Matanya buta sebelah dan badannya tinggi. Ia menggiring kambing dan domba. Lalu dia masuk ke dalam goa dan bertanya: “Siapa engkau?” Aku menjawab: “Aku dari Bani Bakar.” Orang itu berkata: “Aku juga dari bani Bakar.” Kemudian ia bersandar dan mengangkat suaranya dan bernyanyi. Dalam nyanyiannya itu dia berkata: فلست بمسلم ما دمت حيا ولست أدين دين المسلمينا Aku bukanlah seorang Muslim selama aku hidup… Dan aku tidak lah menganut agamanya orang-orang Islam… Aku berkata dalam hatiku: “Demi Alloh, aku sangat ingin untuk membunuhmu.” Lalu tatkala ia tidur, kubunuh dia dengan seburuk-buruk pembunuhan yang pernah dilakukan orang. Kemudian aku keluar dan turun. Tatkala aku berjalan di jalan datar, tiba-tiba ada dua orang yang diutus oleh kaum Quroisy untuk mencari-cari informasi. Maka aku katakan kepada keduanya: “Menyerahlah!” Namun salah seorang di antara mereka menolak, maka aku panah dia hingga tewas. Tatkala kawannya melihat hal itu ia menyerah. Maka aku ikat dia kemudian aku bawa kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Lalu tatkala aku sampai di Madinah, anak-anak Anshor datang, sementara mereka bermain dan mendengar para orang tua mereka mengatakan: “Inilah ‘Amr.” Maka anak-anak Anshor itu bergegas menuju Rosululloh, lalu mereka menyampaikan kepada beliau tentang kedatanganku. Akupun datang kepada Rosululloh dengan membawa orang tadi yang telah aku ikat ibu jarinya dengan tali busurku. Sungguh aku melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tertawa dan mendo’akan kebaikan untukku. Sedangkan jarak antara kedatangan Salamah dengan kedatangan ‘Amr adalah tiga hari. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Dan di muka telah disebutkan bahwasanya tatkala ‘Amr menurunkan Khubaib, tidak disebutkan ia membawa mayat. Ini bisa jadi ia menguburkannya di tempat jatuhnya, wallohu a’lam. Sariyyah (ekspedisi jihad) ini merupakan tambahan Ibnu Hisyam terhadap Ibnu Ishaq, dan ia menceritakannya sebagaimana yang diceritakan oleh Al Waqidi. Akan tetapi menurut riwayat dia, orang yang menjadi kawan ‘Amr bin Umayyah di dalam sariyyah tersebut bernama Jabbar bin Shokhr, wallohu a’lam, walillahil hamd.” Para Sahabat Bersembunyi Dari Musrif (Seorang Yang Melampaui Batas, Muslim Bin ‘Uqbah) Ketika Ia Menghalalkan Kota Madinah Selama Tiga Hari. Ketika Musrif (yang melampai batas, maksudnya adalah Muslim-pent.) bin ‘Uqbah menghalalkan kota Madinah selama tiga hari, sejumlah pembesar dari kalangan sahabat rodliyallohu ‘anhum pergi menuju goa-goa. Lalu bagaimana halnya dengan orang yang menghalalkan jazirah Arab kepada orang-orang Salib dan kaki-tangannya selama berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun, untuk memburu dan membunuh orang-orang Islam di setiap tempat, sampai-sampai mereka menghalalkan darah mujahidin di Mekah dan Madinah, dan melontarkan berbagai tuduhan dan fitnah kepada mereka. Apakah dalam keadaan seperti ini tidak sepantasnya bagi para pemuda pilihan itu, untuk mengikuti jejak para sahabat Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam, menghindarkan diri dari penglihatan manusia sampai Alloh menurunkan kemenangan atau keputusan dari sisi-Nya?!. Ibnu Katsir rohimahulloh bercerita dengan nada yang meluap-luap dan sedih, mengenai peristiwa Al Hurroh yang terjadi pada tahun 63 H, dan perbuatan yang dilakukan oleh Yazid bin Mu’awiyah dan Musrif bin ‘Uqbah pada tahun itu: “… kemudian Muslim bin ‘Uqbah, yang disebut oleh salaf dengan sebutan Musrif bin ‘Uqbah, semoga Alloh menghinakan orang tua yang jahat dan tolol ini, menghalalkan kota Madinah selama tiga hari, sesuai dengan yang diperintahkan oleh Yazid, semoga Alloh tidak memberikan ganjaran yang baik kepadanya. Ia banyak membunuh orang-orang yang terpandang dan ahli Al Qur’an, ia merampas banyak harta dan menebar kejahatan serta kerusakan menurut riwayat sejumlah perowi. Dia membunuh Mu’qil bin Sinan di hadapannya dalam keadaan terikat, padahal dia sebelumnya adalah sahabatnya, akan tetapi ia mengucapkan kata-kata keras terhadap Yazid, sehingga Muslim bin ‘Uqbah dendam kepadanya. Dan ia memanggil ‘Ali bin Al Husain. Maka datanglah ‘Ali bin Al Husain dengan berjalan di antara Marwan bin Al Hakam dan anaknya, ‘Abdul Malik, dengan tujuan supaya ia mendapat jaminan keamanan lantaran keduanya, sedangkan dia tidak tahu bahwasanya Yazid telah berwasiat agar mengamankannya. Lalu Marwan minta diambilkan air minum. Sebelumnya Muslim bin ‘Uqbah telah membawa es dari Syam ke Madinah untuk campuran air minumnya. Kemudian tatkala telah didatangkan air minum, Marwan minum sedikit kemudian sisanya diberikan kepada ‘Ali bin Al Husain, supaya dengan begitu ia mendapatkan jaminan keamanan. Sedangkan Marwan itu adalah orang yang dicintai oleh ‘Ali bin Al Husain. Lalu tatkala Muslim bin ‘Uqbah melihanya, ia mengambil bejana yang ada di tangannya. Ia mengatakan: “Jangan minum minuman kami.” Kemudian ia mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya aku datang bersama dua orang ini dengan tujuan supaya engkau memberikan jaminan keamanan kepadaku.” Maka bergetarlah tangan ‘Ali bin Al Husain sehingga ia tidak meletakkan bejana tersebut dari tangannya dan juga tidak meminumnya. Kemudian Muslim bin ‘Uqbah mengatakan kepadanya: “Kalau bukan karena Amirul Mukminin telah memerintahkanku untuk mengamankanmu, pasti aku penggal lehermu.” Kemudian ia mengatakan: “Jika engkau ingin minum, minumlah. Jika tidak, kami akan memberimu yang lainnya.” Ia menjawab: “Aku ingin minum air yang ada ditanganku ini.” Maka iapun meminumnya. Kemudian Muslim bin ‘Uqbah mengatakan kepadanya: “Kemarilah dan duduklah!” maka iapun mendudukkannya di atas singgasana, dan mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya Amirul Mukminin telah memerintahkanku agar mengamankanmu, akan tetapi mereka telah menyibukkanku sehingga aku lupa denganmu.” Kemudian ia berkata kepada ‘Ali bin Al Husain: “Mungkin keluargamu khawatir.” Ia menjawab: “Demi Alloh, benar.” Maka ia memerintahkan agar kudanya dipasangkan pelananya, kemudian ia dibawa diatasnya dan dikembalikan kepada keluarganya secara terhormat. Kemudian ia memanggil ‘Amr bin ‘Utsman bin ‘Affan, ia tidak ikut keluar bersama Bani Umayyah. Kemudian ia mengatakan kepadanya: “Sungguh engkau ini, jika penduduk Madinah menang engkau akan mengatakan kepada mereka, Aku bersama kalian. Dan jika penduduk Syam menang engkau akan mengatakan, Aku adalah anak Amirul Mukminin.” Kemudian ia memerintahkan agar mencabuti jennggotnya di hadapannya padahal dia adalah orang yang memiliki jenggot yang lebat. Al Mada-ini berkata: “Muslim bin ‘Uqbah menghalalkan Madinah selama tiga hari untuk membunuh siapa saja yang mereka jumpai dan merampas harta. Maka Su’da binti ‘Auf Al Mariyyah mengirim surat kepada Muslim bin ‘Uqbah, di dalam surat itu ia mengatakan: “Aku adalah anak perempuan dari pamanmu. Perintahkanlah para pengikutmu agar tidak mengganggu onta-onta kami yang berada di sini, dan di sini.” Namun ia malah mengatakan kepada para pengikutnya: “Janganlah kalian mengambil onta sebelum kalian mengambil onta wanita tersebut.” Kemudian datang pula seorang perempuan dan mengatakan: “Aku adalah budakmu, dan anakku ikut tertawan.” Namun malah dia mengatakan: “Segera penggal lehernya!” Maka anak si perempuan itupun dipenggal lehernya, lalu ia mengatakan: “Berikan kepalanya kepadanya. Tidakkah engkau senang anakmu tidak dibunuh sebelum engkau berbicara tentang anakmu.” Dan mereka memperkosa kaum wanita sampai-sampai, konon akibatnya ketika itu seribu wanita Madinah hamil tanpa suami setelah peristiwa Al Hurroh itu, wallohu a’lam. Al Mada-ini meriwayatkan bahwa Abu Qurroh berkata: Hisyam bin Hassan berkata: “Setelah peristiwa Al Hurroh itu ada seribu orang wanita Madinah yang melahirkan tanpa suami. Sementara itu sejumlah sahabat terkemuka menyembunyikan diri, di antara mereka adalah Jabir bin ‘Abdulloh. Dan Abu Sa’id Al Khudri keluar menyelamatkan diri ke dalam goa di suatu gunung. Lalu ia dipergoki oleh seseorang dari Syam. Abu Sa’id mengatakan: Tatkala aku melihatnya, akupun menghunus pedangku, lalu iapun mendekatiku. Kemudian tatkala ia melihatku ia berniat untuk membunuhku, maka aku cium pedangku kemudian aku katakan: “Aku Abu Sa’id Al Khudri.” Orang itu bertanya: “Sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam?” Ku jawab: “Ya.” Maka ia pun pergi dan meninggalkanku. Al Mada-ini berkata: Kemudian Sa’id bin Al Musayyaib didatangkan kepada Muslim bin ‘Uqbah, lalu Muslim bin ‘Uqbah mengatakan kepadanya: “Barbaiatlah!” Sa’id bin Al Musayyib menjawab: “Aku berbaiat sebagaimana Abu Bakar dan ‘Umar.” Maka Muslim memerintahkan untuk memenggal lehernya, namun kemudian ada seseorang yang memberikan kesaksian bahwa Sa’id bin Al Musayyab itu adalah orang gila, sehingga ia dilepaskan. Dan Al Mada-ini meriwayatkan dari ‘Abdulloh Al Qurosyi dan dari Abi Ishaq At Tamimi, keduanya mengatakan: Tatkala penduduk Madinah kalah pada peristiwa Al Hurroh, kaum wanita dan anak-anak menjerit. Maka Ibnu ‘Umar berkata: “Demi ‘Utsman dan Robb Ka’bah.” Al Mada-ini meriwayatkan dari seorang syeikh penduduk Madinah, ia mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Az Zuhri: “Berapa jumlah orang yang terbunuh pada peristiwa Al Hurroh?” Ia menjawab: “Tujuh ratus dari berbagai kalangan, dari kalangan Muhajirin dan Anshor, dari kalangan budak dan dari kalangan manusia yang aku tidak ketahui, baik orang merdeka maupun budak maupun yang lainnya, sebanyak sepuluh tahun.” Ia mengatakan: “Peristiwa itu terjadi pada tiga hari terakhir dari bulan Dzul Hijjah tahun 63. Mereka menjarah kota Madinah selama tiga hari.” Al Waqidi dan Abu Ma’syar berkata: “Peristiwa Al Hurroh itu terjadi pada hari rabo, dua hari terakhir pada bulan Dzul Hijjah tahun 63 … (sampai ia mengatakan) … dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan … dari Al Mada-ini ia berkata: “Tatkala orang-orang Al Hurroh dibunuh, ada seseorang di Mekah yang berseru kepada Abu Qois pada sore hari itu, sementara Ibnu Az Zubair duduk mendengarkannya: والصائمون القانتون أولوا العبادة والصلاح المهتدون المحسنون السابقون إلى الفلاح ماذا بواقم والبقيع من الجحاجحة الصباح وبقاع يثرب ويحهنن من النوادب والصياح قتل الخيار بنوا الخيار ذوى المهابة والسماح Wahai orang-orang yang berpuasa, orang-orang yang khusyu’, orang-orang yang ahli ibadah dan orang-orang yang suka berbuat baik … Orang-orang yang mendapatkan petunjuk, orang-orang yang baik, orang-orang yang senantiasa berlomba-lomba melakukan kebaikan … Apa yang telah terjadi di Waqim dan Al Baqi’, yang dilakukan oleh para pemimpin yang pemurah hati pada pagi ini … Sementara seluruh wilayah Yatsrib, duh sungguh malang nasibnya, di sana orang-orang menangisi mayat dan menjerit … Telah dibunuh orang-orang baik dari anak-anak orang-orang yang baik, yang disegani dan dihormati … Ibnu Az Zubair berkata: “Wahai kalian, kawan-kawan kalian telah dibunuh, inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.” Dan sungguh Yazid telah melakukan kesalahan besar tatkala mengatakan kepada Muslim bin ‘Uqbah, untuk menghalalkan kota Madinah selama tiga hari. Ini adalah kesalahan besar dengan terbunuhnya banyak dari kalangan para sahabat dan anak-anak mereka. Di depan telah disebutkan bahwasanya Al Husain dan para pengikutnya telah dibunuh dihadapan ‘Ubaidulloh bin Ziyad. Pada tiga hari tersebut telah terjadi kerusakan yang sangat besar dan yang sangat luar biasa di kota Madinah, dan tidak ada yang mengetahui kedahsyatannya selain Alloh ta’ala. Yazid mengirim Muslim bin ‘Uqbah dengan tujuan untuk meneguhkan dan melanggengkan kekuasaan dan kerajaannya tanpa ada orang yang menentangnya. Maka Allohpun menghukumnya dengan yang sebaliknya. Alloh menghalanginya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, Alloh membinasakannya secara mengenaskan. Dan demikianlah jika Alloh hendak menghukum seuatu kaum yang berbuat dholim, sesungguhnya hukuman-Nya itu sangat pedih dank eras. Al Bukhori meriwayatkan di dalam kitab Shohihnya: Al Husain bin Al Harits telah bercerita kepada kami, ia berkata: Al Fadl-l bin Musa telah bercerita kepada kami, ia berkata: Al Ja’d telah bercerita kepada kami, ia dari ‘Aisyah binti Sa’ad bin Abi Waqqosh, ia dari ayahnya, ia berkata: Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ يَكِيْدُ أَهْلَ الْمَدِيْنَةِ أَحَدٌ إِلاَّ انْمَاعَ كَمَا يَنْمَاعُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ Tidak ada seorangpun yang membuat tipu daya tehadap penduduk Madinah kecuali ia akan mencair sebagaimana garam mencair dalam air. Dan Muslim telah meriwayatkan dari Abu ‘Abdulloh Al Qorrodh Al Madini, sedangkan namanya adalah Dinar, ia dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا يريد أحد المدينة بسوء إلا أذابه الله في النار ذوب الرصاص أو ذوب الملح في الماء Tidak ada seorangpun yang mempunyai niat buruk terhadap penduduk Madinah, Alloh akan mencairkannya di neraka sebagaimana mencairnya timah atau garam yang mencair dalam air. Dan dalam riwayat Muslim yang lainnya, dari Abu ‘Abdillah Al Qorrodh, ia dari Saad dan Abu Huroiroh, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: من أراد أهل المدينة بسوء أذابه الله كما يذوب الملح في الماء Barangsiapa mempunyai niat jahat terhadap penduduk Madinah, niscaya Alloh akan mencairkannya sebagaimana garam mencair di dalam air. Sedangkan Imam Ahmad berkata: Anas bin ‘Iyadl telah bercerita kepada kami, ia berkata: Yazid bin Khoshifah telah bercerita kepada kami, ia dari ‘Atho’ bin Yasar, ia dari As Saib bin Khollad, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ أَخَافَ أَهْلَ الْمَدِيْنَةِ ظُلْمًا أَخَافَهُ اللهُ وَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يُوْمَ الْقِيَامَةِ صِرْفًا وَلاَ عَدْلاً Barangsiapa menteror penduduk Madinah secara dholim, niscaya Alloh akan menterornya, dan ia mendapat laknat dari Alloh, Malaikat dan seluruh manusia. Alloh tidak akan menerima pengganti atau tebusan darinya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh An Nasa’i dari Yahya bin Habib bin ‘Arobi, ia dari Hammad, ia dari ‘Abdul ‘Aziz bin Abi Hazim, ia dari Yazid bin Hashifah, ia dari ‘Abdur Rohman bin ‘Abdillah bin ‘Abdir Rohman bin Abi Sho’sho’ah, ia dari ‘Atho’ bin Yasar, ia dari Khollad bin Manjuf bin Al Khozroj, bahwasanya ia bercerita .. kemudian ia menyampaikan hadits di atas. An Nasa’i juga meriwayatkannya dari Yahya bin Habib bin ‘Arobi, ia dari Hammad, ia dari Yahya bin Sa’id, ia dari Muslim bin Abi Maryam, ia dari ‘Atho’ bin Yasar, ia dari Ibnu Khollad, ia adalah termasuk sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, lalu ia menyampaikan hadits di atas. Sedangkan Ibnu Wahab berkata: Hayuwah bin Syuroih telah mengkhabarkan kepada kami, ia dari Ibnul Had, ia dari Abu Bakar, ia dari ‘Atho’ bin Yasar, ia dari As Saib bin Khollad, ia berkata: Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ أَخَافَ أَهْلَ الْمَدِيْنَةِ أَخَافَهُ اللهُ وَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ Barangsiapa menteror penduduk Madinah, Alloh akan menterornya, dan ia akan mendapatkan laknat Alloh, Malaikat dan seluruh manusia. Sedangkan Ad Daruquthni berkata: ‘Ali bin Ahmad bin Al Qosim telah bercerita kepada kami, ia berkata: Ayahku telah bercerita kepada kami, ia berkata: Sa’id bin ‘Abdul Hamid bin Ja’far telah bercerita kepada kami, ia berkata: Abu Zakariya, Yahya bin ‘Abdillah bin Yazid bin ‘Abdillah bin Unais Al Anshori telah bercerita kepada kami, ia dari Muhammad dan dari ‘Abdur Rohman, keduanya bin Jabir bin ‘Abdillah, keduanya berkata: Kami pernah keluar bersama bapak kami pada peristiwa Al Hurroh, sedangkan kedua matanya telah buta. Ia berkata: “Celakalah orang yang menteror Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.” Maka kami bertanya: “Wahai ayah, apakah ada orang yang menteror Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab: “Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ أَخَافَ أَهْلَ هَذَا الْحَيِّ مِنَ اْلأَنْصَارِ فَقَدْ أَخَافَ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ وَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبِيْنِهِ Barangsiapa menteror penduduk kota ini, dari kalangan Anshor, maka dia tekah menteror orang yang berada di antara ini. Seraya beliau meletakkan tangannya pada kening beliau. Ad Daruquthni berkata: Hadits yang seperti ini secara lafadh hanya diriwayatkan oleh Sa’ad bin ‘Abdul ‘Aziz. Hadits ini dijadikan landasan bagi orang-orang yang berpendapat bolehnya melaknat Yazid bin Mu’awiyah. Pendapat ini disebutkan dalam suatu riwayat merupakan pendapat Ahmad bin Hanbal, dan pendapat inilah yang dipilih oleh Al Khollal, Abu Bakar ‘Abdul ‘Aziz, Al Qodli Abu Ya’la dan anaknya, yaitu Al Qodli Abul Husain, dan pendapat ini didukung oleh Abul Faroj ibnul Jauzi di dalam sebuah buku tersendiri. Di dalam buku tersebut ia membolehkan melaknat Yazid bin Mu’awiyah. Sementara itu yang lain berpendapat tidak boleh melaknatnya, dan untuk itu mereka juga menulis buku yang membahas tentang masalah ini, dengan tujuan supaya menutup kemungkinan akan menyebabkan melaknat bapaknya atau salah seorang sahabat yang lain. Dan mereka memandang bahwa perbuatan buruknya itu muncul dari takwil yang salah. Dan mereka mengatakan, meskipun ia berbuat seperti itu, ia adalah seorang pemimpin yang fasik, sedangkan seorang imam itu apabila berbuat kefasikan, ia tidak boleh dipecat hanya lantaran kefasikan yang ia lakukan, menurut pendapat yang paling benar dari dua pendapat para ulama’ mengenai masalah ini, bahkan tidak diperbolehkan memberontaknya karena hal itu akan menimbulkan bencana, pembunuhan, pertumpahan darah yang diharamkan untuk ditumpahkan, perampasan harta, pemerkosaan terhadap kaum wanita, dalan lain-lain yang mana masing-masing mengandung kerusakan yang berlipat ganda daripada rusaknya kefasikan yang dilakukan oleh pemimpin tersebut, sebagaimana yang telah terjadi, sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas, sampai hari ini. Adapun apa yang dikatakan oleh sebagian orang, bahwasanya Yazid sangat bersuka cita tatkala mendengar apa yang dilakukan oleh Muslim bin ‘Uqbah dan pasukannya terhadap penduduk Madinah pada peristiwa Al Hurroh itu. Karena sesungguhnya ia berpandangan bahwa dirinya adalah seorang pemimpin, lalu mereka membangkangnya dan mengkat seorang pemimpin selain orang yang telah ditentukannya, maka ia berhak untuk memerangi mereka sampai mereka mau mentaatinya kembali dan mau bergabung lagi dengan jama’atul muslimin, sebagaimana hal itu telah diperingatkan melalui An Nu’man bin Basyir dan Muslim bin ‘Uqbah, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Dan dalam sebuah hadits yang shohih disebutkan, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ جَاءَكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ يُرِيْدُ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ كَائِناً مَنْ كَانَ Barangsiapa hendak memecah belah persatuan kalian bunuhlah ia siapapun orangnya. Adapun sebuah syair yang mereka riwayatkan tentang hal itu dan mati syahidnya, dengan sebuah syair Ibnu Az Zab’ari pada perang Uhud, yang berbunyi: ليت أشياخي ببدر شهدوا جزع الخزرج من وقع الأسل حين حلت بفنائهم بركها واستمر القتل في عبد الأشل قد قتلنا الضعف من أشرافهم وعدنا ميل بدر فاعتدل Duh, andaikata para orang tua kami di Badar menyaksikan kesedihan Al Khozroj lantaran tertusuk pedang … Tatkala sekawanan onta menderum di halaman mereka, dan pembunuhan terus berlanjut pada ‘Abdul Asyal … Kami telah membunuh para pemuka mereka yang lemah, dan kami kembali ke arah Badar sehingga tegak … Sebagian Rofidloh menambahkan bait syairnya dengan: ليت هاشم بالملك فلا ملك جاءه ولا وحي نزل Duh, seandainya Hasyim jadi raja, namun tidak ada kerajaan yang mendatanginya dan tidak ada wahyu yang turun… Jika bait-bait syair ini diucapakn oleh Yazid bin Mu’awiyah maka laknat Alloh dan laknat orang-orang yang melaknatlah baginya, namun jika Yazid tidak mengucapkannya, maka laknat Alloh bagi orang yang mengada-adakan hal ini dengan tujuan untuk memperburuk Yazid dengan syair tersebut. Dan segala apa yang akan ditulis atau yang telah ditulis mengenai biografi Yazid bin Mu’awiyah, dan segala perbuatan dan perkataan kejinya, sesungguhnya setelah kejadian Al Hurroh dan pembunuhan Al Husain, Yazid tidak hidup lama kemudian Alloh membinasakannya sebagaimana Alloh membinasakan para penguasa diktator sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.” Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan bahwasanya Muslim bin ‘Uqbah berkata ketika menjelang kematiannya: “Ya Alloh, sesungguhnya aku tidak beramal apapun selain bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan yang benar) selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, yang paling saya senangi dan paling berpahala di akherat selain membunuh penduduk Madinah. Jika karenanya aku masuk neraka sungguh aku benar-benar celaka.” Kemudian ia meningal dunia, semoga Alloh menghinakannya. Lalu dia dikuburkan di Al Maslak sesuai dengan yang dikatakan oleh Al Waqidi, kemudian Alloh menyusulkannya dengan Yazid bin Mu’awiyah, di mana Yazid bin Mu’awiyah meninggal dunia pada tanggal 14 hari bulan Robi’ul Awwal, semoga Alloh tidak membahagiakan keduanya dengan apa yang mereka harapkan, akan tetapi justru semoga Yang Maha Kuasa atas seluruh hamba-Nya menghinakan mereka, dan semoga Yang Maha Kuasa untuk merampas kekuasaan dari siapa saja yang dikehendaki merampas kekuasaannya.” Sa’id Bin Jubair Melarikan Diri Dari Kejaran Al Hajjaj Bin Yusuf Ats Tsaqofi Selama 12 Tahun. Setelah seorang yang fasik dari kalangan Bani Tsaqif (Al Mubir) Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi memenangkan pertempuran atas Ibnul Asy’ats, ia berniat untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membantu Ibnul Asy’ats dalam melakukan pemberontakan terhadap dirinya. Sedangkan dia adalah orang yang dholim dan kejam. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rohimahulloh bertutur tentang dirinya: “Seandainya semua bangsa itu datang dengan membawa semua orang jahatnya, kemudian kami datang membawa Al Hajjaj, tentu lebih berat kami daripada mereka.” Sedangkan Adz Dzahabi menuturkan tentang Al Hajjaj di dalam Siyarul A’lam An Nubala’: “Al Hajjaj dibinasakan oleh Alloh pada bulan romadlon tahun 95 karena tua. Dia adalah orang yang sangat dholim, diktator, nashibi (pencela sahabat), jahat dan suka menumpahkan darah. Dia pemberani, licik, cerdik, fasih dalam berbicara, ahli berbahasa dan menghormati Al Qur’an. Sebelumnya telah saya ceritakan tentang perangainya yang buruk di dalam At Tarikh Al Kabir, pengepungannya terhadap Ibnuz Zubair di Ka’bah, dan ia menyerang Ka’bah dengan manjaniq, ia juga menghinakan penduduk dua tanah suci. Kemudian ia berkuasa atas Irak dan seluruh Masyriq (wilayah timur) selama 20 tahun, Ibnul Asy’ats mengobarkan berbagai peperangan melawannya, dan ia menunda-nunda pelaksanaan sholat, sampai akhirnya Alloh membinasakannya, kemudian kita mencacinya dan tidak mencintainya, justru kita membencinya karena Alloh, karena hal itu merupakan autsaqu ‘urol iman (ikatan iman yang paling kuat). Ia juga mempunyai kebaikan-kebaikan akan tetapi tenggelam dalam lautan dosanya, sehingga perkaranya diserahkan kepada Alloh. Secara umum dia memiliki tauhid, dan telah ada orang-orang yang seperti dia dari kalangan orang-orang dholim yang kejam dan dari kalangan para pemimpin.” Adapun mengenai Sa’id bin Jubair rohimahulloh, Adz Dzahabi rohimahulloh menuturkan tentang dirinya dalam Siyarul A’lam An Nubala’: “Sa’id bin Jubair bin Hisyam, seorang imam yang hafidz, ahli membaca Al Qur’an, ahli tafsir yang mati syahid, kuniyahnya adalah Abu Muhammad, ada juga yang mengatakan bahwa kuniyahnya adalah Abu Abdillah Al Asadi Al Walibi, pemimpin kaum muslimin dari Kufah, salah seorang tokoh.” Sedangkan Ibnu Katsir rohimahulloh menuturkan tentang dirinya di dalam Al Bidayah Wan Nihayah: “Sa’id bin Jubair Al Asadi, seorang pemimpin kaum muslimin, kuniyahnya adalah Abu Muhammad, ada juga yang mengatakan Abu ‘Abdillah Al Kufi Al Makki, salah seorang tokoh dari kalangan murid Ibnu ‘Abbas, ia juga salah seorang imam kaum muslimin dalam urusan tafsir, fikih dan berbagai macam ilmu, dan banyak melakukan amal sholih, semoga Alloh merahmatinya. Ia sempat melihat beberapa orang sahabat, dan ia juga meriwayatkan hadits dari sejumlah sahabat, dan sejumlah tabi’in meriwayatkan hadits darinya. Ada yang bercerita bahwasanya ia pernah mengkhatamkan Al Qur’an dalam sholat yang ia kerjakan antara maghrib dan isya’. Dia juga pernah duduk di dalam ka’bah lalu membaca Al Qur’an sampai khatam. Terkadang dia membacanya dalam satu rokaat di dalam ka’bah. Ada riwayat yang menyebutkan bahwasanya ia pernah mengkhatamkan Al Qur’an dua setengah kali dalam sholat pada suatu malam di dalam ka’bah. Sufyan Ats Tsauri meriwayatkan dari ‘Amr bin Maimun, ia dari ayahnya, ia mengatakan: Sa’id bin Jubair telah meninggal dunia sementara itu tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang tidak membutuhkan ilmunya. Dan dia termasuk dalam kelompok Ibnul Asy’ats yang memberontak Al Hajjaj. Lalu tatkala Al Hajjaj memenangkan pertempuran, Sa’id bin Jubair melarikan diri ke Ashbahan, kemudian ia pulang pergi ke Mekah dua kali dalam satu tahun, satu kali untuk umroh dan satu kali untuk haji. Dan terkadang ia pergi ke Kufah lalu mengajarkan hadits di sana. Namun di Khurosan ia tidak mengajarkan hadits karena di sana tidak ada seorangpun yang bertanya masalah ilmu kepadanya. Dan dia pernah mengatakan: Sesungguhnya yang penting bagiku adalah supaya ilmu yang ada padaku itu diambil oleh seluruh manusia. Dan keadaanya seperti itu, bersembunyi dari Al Hajjaj, terus berlanjut sampai hampir 12 tahun. Kemudian ia dikirim kepada Al Hajjaj oleh Kholid Al Qusari dari Mekah.” Adz Dzahabi rohimahulloh mengisahkan di dalam Siyarul A’lam An Nubala’: “Lama dia bersembunyi, karena sesungguhnya pemberontakan kaum qurro’ (yaitu para ulama’) terhadap Al Hajjaj terjadi pada tahun 82, sedangkan mereka berhasil menangkap Sa’id pada tahun 95, yaitu pada tahun di mana Alloh mencabut nyawa Al Hajjaj.” Ibnu Katsir rohimahulloh mengisahkan di dalam Al Bidayah Wan Nihayah: “Terbunuhnya Sa’id bin Jubair rohimahulloh. Ibnu Jarir berkata: Pada tahun ini (yaitu tahun 95 H) Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi membunuh Sa’id bin Jubair. Hal itu disebabkan karena dahulu Al Hajjaj memasukkannya dalam pasukan yang digaji, ketika Al Hajjaj mengirimnya bersama Ibnul Asy’ats untuk memerangi Raja Turki, Rotbil. Kemudian tatkala Ibnul Asy’ats memberontaknya, Sa’id bin Jubair bergabung dengan Ibnul Asy’ats. Maka tatkala Al Hajjaj berhasil mengalahkan Ibnul Asy’ats bersama para pengikutnya, Sa’id bin Jubair melarikan diri ke Ashbahan. Maka Al Hajjaj mengirim surat kepada wakilnya di wilayah Ashbahan agar ia mengirimkan Sa’id bin Jubair kapadanya. Tatkala Sa’id mendengar berita itu, ia melarikan diri dari Ashbahan. Kemudian beliau setiap tahun menunaikan haji dan umroh. Kemudian beliau berlindung dan tinggal di Mekah, sampai Kholid bin ‘Abdilloh Al Qusari menjadi penguasa di Mekah, lalu ada orang yang menyarankan kepada Sa’id agar beliau pergi meninggalkan Mekah. Namun Sa’id mengatakan: Demi Alloh, Aku telah malu kepada Alloh karena Aku melarikan diri padahal tidak ada jalan lari dari taqdir Alloh. Sedangkan di Madinah dipimpin oleh ‘Utsman bin Hayyan sebagai ganti dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Kemudian ia mengirimkan orang-orang yang menjadi pengikut Ibnul Asy’ats yang berada di Madinah yang berasal dari Irak kepada Al Hajjaj dalam keadaan diikat. Setelah itu Kholid bin Al Walid Al Qusaripun belajar darinya, maka ia pun melihat kepada orang-orang yang berada di dalam kekuasaannya di Mekah, yaitu Sa’id bin Jubair, ‘Atho’ bin Abi Robah, Mujahid bin Jabr, ‘Amr bin Dinar dan Tholiq bin Habib. Konon, Al Hajjaj mengirim utusan kepada Al Walid, untuk memberitahukan kepadanya bahwasanya di Mekah ada beberapa orang dari kelompok pembangkang. Maka Kholidpun mengirimkan orang-orang tersebut kepada Al Hajjaj. Kemudian Kholid memberikan ampunan kepada ‘Atho’ dan ‘Amr bin Dinar karena keduanya adalah penduduk Mekah, sedangkan yang tiga orang lagi dikirimkan kepada Al Hajjaj. Namun Tholiq meninggal dalam perjalanan, sebelum sampai kepada Al Hajjaj. Sedangkan Mujahid, beliau dipenjara sampai Al Hajjaj meninggal dunia. Dan sedangkan Sa’id bin Jubair, tatkala dihadapkan kepada Al Hajjaj … dst.” Dan berikut ini saya nukilkan dialog Sa’id bin Jubair, akan tetapi dari kitab Wafayatul A’yan, karangan Ibnu Kholkan rohimahulloh. Penulis mengatakan: Al Hajjaj berkata: Siapa Namamu? Sa’id: S’aid bin Jubair (artinya, Bahagia bin Penutup kekurangan, pent.). Al Hajjaj: Bukan, namamu adalah Syaqiy bin Kusair (Sengsara bin Pemecah, pent.). Sa’id: Ibuku lebih tahu tentang namaku. Al Hajjaj: Ibumu sengsara dan Engkau juga sengsara. Sa’id: Yang ghoib itu bukan Engkau yang tahu. Al Hajjaj: Di dunia Engkau harus dimasukkan ke dalan neraka yang menyala-nyala. Sa’id: Jika Engkau berkuasa atas itu pasti Engkau kujadikan ilah (Tuhan). Al Hajjaj: Apa pendapatmu tentang Muhammad? Sa’id: Dia adalah Nabi pembawa rahmat dan petunjuk. Al Hajjaj: Apa pendapatmu tentang ‘Ali? Dia berada di syurga atau di neraka? Sa’id: Jika Aku telah masuk syurga tentu saya mengetahui siapa yang berada di dalamnya dan siapa yang menjadi penghuninya. Al Hajjaj: Apa pendapatmu tentang para Kholifah? Sa’id: Aku tidak ditugasi mengurus mereka. Al Hajjaj: Lalu siapa diantara mereka yang paling Engkau kagumi? Sa’id: Yang paling diridloi oleh Yang Menciptakanku. Al Hajjaj: Lalu siapa di antara mereka yang paling diridloi oleh Yang Maha Pencipta. Sa’id: Ilmu tentang itu ada di sisi yang Maha Mengatahui rahasia hamba dan bisikan hambaNya. Al Hajjaj: Aku berharap Engkau jujur kepadaku! Sa’id: Meskipun aku tidak menyukaimu tapi aku sekali-kali tidak akan pernah berbohong kepadamu. Al Hajjaj: Kenapa Engkau tidak pernah tertawa?. Sa’id: Bagaimana seorang makhluq yang diciptakan dari tanah akan bisa tertawa, sedangkan tanah itu akan dilahap oleh api!! Al Hajjaj: Lalu kenapa kami tertawa? Sa’id: Karena hati kalian tidak tenang. Kemudian Al Hajjaj memerintahkan untuk mengambil mutiara, batu permata dan yaqut, lalu dikumpulkan dihadapannya. Sa’id berkata: Jika Engkau kumpulkan ini semua Engkau gunakan untuk bertaqwa kepada Alloh maka berbagai kegoncangan pada hari qiyamat itu adalah kebaikan bagimu. Namun jika tidak, maka satu goncangan saja pada hari qiyamat itu dapat menjadikan semua ibu yang menyusui lalai terhadap bayi yang ia susui, dan dunia itu tidak ada kebaikannya sama sekali kecuali yang baik dan bersih. Kemudian Al Hajjaj minta diambilkan gitar dan seruling, lalu tatkala ia memainkan gitar dan meniup seruling, Sa’idpun menangis. Al Hajjaj pun bertanya: Apa yang menyebabkanmu menangis? Apakah musik ini? Sa’id: Aku sedih, tiupan seruling itu mengingatkanku dengan sebuah hari yang sangat besar di mana pada hari itu sangkakala ditiup, sedangkan gitar itu adalah seonggok kayu yang digunakan secara tidak benar!! Dan adapun tali-tali senar pada gitar itu adalah berasal dari domba yang akan dibangkitkan pada hari qiyamat!!. Al Hajjaj berkata: Celaka Engkau wahai Sa’id. Sa’id berkata: Tidak ada kecelakaan bagi orang yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam syurga. Al Hajjaj berkata: Wahai Sa’id, pilihlah dengan cara yang bagaimana Aku akan membunuhmu? Sa’id menjawab: Pilihlah sendiri, karena demi Alloh, Engkau tidak akan membunuhku dengan suatu cara kecuali Alloh akan membunuhmu dengan cara itu di akherat kelak. Al Hajjaj berkata: Apakah Engkau menginginkan aku memaafkanmu? Sa’id menjawab: Ampunan itu hanyalah diminta kepada Alloh, adapun Engkau, tidak ada ampunan atau maaf yang patut diminta darimu. Al Hajjaj berkata: Wahai para prajurit, bawa dan bunuh dia. Tatkala Sa’id keluar ia tertawa. Maka hal itupun disampaikan kepada Al Hajjaj, lalu ia dibawa kembali kepada Al Hajjaj. Al Hajjaj berkata: Apa yang membuatmu tertawa? Sa’id menjawab: Saya kagum dengan keberanianmu kepada Alloh dan dengan kesabaran Alloh kepadamu. Lalu Al Hajjaj memerintahkan untuk membentangkan hamparan dari kulit. Al Hajjaj berkata: Bunuh dia. Maka Sa’id berkata: Kuhadapkan wajahku kepada (Alloh) yang telah menciptakan langit dan bumi, dalam keadaan lurus dan menyerahkan diri kepada-Nya, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Al Hajjaj berkata: Hadapkan dia kepada selain arah kiblat. Sa’id berkata: Ke mana saja kalian menghadap, di sanalah wajah Alloh. Al Hajjaj berkata: Telungkupkanlah dia di atas wajahnya. Sa’id berkata: Darinya Kami ciptakan kalian, dan kepadanya Kami kembalikan kalian, dan darinyalah kalian Kami keluarkan kembali. Al Hajjaj berkata: Sembelih dia. Sa’id berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Alloh, yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ambillah nyawaku supaya kamu bertemu aku dengannya pada hari qiyamat. Ya Alloh janganlah Engkau dajikan dia berkuasa atas seorangpun supaya ia tidak membunuh lagi seorangpun setelahku.” Sementara itu Adz Dzahabi rohimahulloh meriwayatkan dengan sanad beliau dalam buku Siyarul A’lam An Nubala’, “Telah sampai kepadaku berita, bahwasanya tatkala diceritakan kepada Al Hajjaj mengenai Sa’id bin Jubair, ia mengirim seorang komandan pasukan yang bernama Al Multamis bin Ahwash bersama dua puluh orang penduduk Syam kepada Sa’id bin Jubair. Ketika mereka mencari Sa’id bin Jubair, tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang pendeta yang berada di dalam biaranya. Lalu mereka menanyai pendeta tersebut tentang Sa’id bin Jubair: Ceritakanlah kepada kami ciri-ciri Sa’id bin Jubair. Maka pendeta itupun menunjukkan Sa’id bin Jubair kepada mereka. Maka merekapun segera bergegas menuju tempat Sa’id bin Jubair. Lalu mereka mendapatkan Sa’id bin Jubair dalam keadaan bersujud dan berdo’a dengan suara yang sangat keras. Merekapun mendekati Sa’id bin Jubair dan mengucapkan salam kepadanya. Sa’id pun mengangkat kepalanya dan menyelesaikan sholatnya, kemudian menjawab salam mereka. Mereka mengatakan: Sesungguhnya kami adalah utusan Al Hajjaj untuk memanggilmu. Sa’id bertanya: Apakah panggilannya harus dipenuhi. Mereka menjawab: Ya, Engkau harus memenuhi panggilannya. Maka Sa’idpun memuji Alloh dan bersyukur kepada-Nya, lalu berjalan bersama mereka sampai ke biara pendeta tadi. Pendeta itu pun mengatakan: Wahai para prajurit, kalian telah mendapatkan orang yang kalian cari? Mereka menjawab: Ya. Pendeta itu mengatakan: Naiklah kalian, karena sesungguhnya singa-singa jantan dan betina bersarang di sekitar biara. Meka mereka pun menuruti saran pendeta tersebut, sedangkan Sa’id menolak untuk masuk. Maka para prajurit itu mengatakan: Menurut kami Engkau hanya ingin melarikan diri dari kami. Sa’id menjawab: Tidak, akan tetapi Aku sekali-kali tidak akan masuk ke dalam rumah orang musyrik. Mereka mengatakan: Tapi kami tidak akan membiarkanmu dimakan oleh binatang-binatang buas. Sa’id menjawab: Bagiku tidak akan ada sesuatu yang membahayakanku, karena sesungguhnya Robbku bersamaku yang akan menghindarkan binatang buas tersebut dariku dan akan menjadikan binatang-binatang buas tersebut sebagai penjaga yang akan menjagaku. Mereka mengatakan: Apakah Engkau dari kalangan para Nabi? Sa’id menjawab: Aku bukan dari kalangan para Nabi akan tetapi aku adalah dari kalangan hamba Alloh yang banyak berbuat dosa. Pendeta itu mengatakan: Suruh dia memberikan kepadaku sebuah jaminan yang dapat meyakinkanku. Maka para utusan itu menyampaikan kepada Sa’id agar memberikan kepada pendeta tersebut sesuatu yang diinginkannya. Sa’id berkata: Sesungguhnya aku memberikan Alloh yang Maha Agung, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai jaminan bahwa insya Alloh, aku tidak akan meninggalkan tempatku sampai pagi. Maka pendeta itupun dapat menerimanya. Lalu pendeta itu berkata kepada mereka: Naiklah kalian dan pasanglah tali busur dengan kencang untuk mengusir binatang-binatang buas dari hamba yang sholih ini, karena sesungguhnya ia tidak mau masuk ke dalam biara lantaran segan dengan pangkat kalian. Maka tatkala mereka naik dan memasang tali busur dengan kencang, tiba-tiba seekor singa betina datang. Lalu tatkala singa betina itu telah dekat dengan Sa’id bin Jubair, singa betina itu menggosokkan tubuhnya kepada Sa’id bin Jubair kemudian menderum di dekat Sa’id bin Jubair. Kemudian datang lagi seekor singa jantan dan melakukan apa yang dilakukan oleh singa betina tadi. Tatkala pendeta tersebut menyaksikan peristiwa itu, pada pagi harinya ia turun dan bertanya kepada Sa’id tentang ajaran agamanya dan sunnah-sunnah Rosulnya. Maka Sa’id bin Jubairpun menerangkannya kepadanya, kemudian pendeta itupun masuk Islam. Lalu para utusan tersebut datang menemui Sa’id bin Jubair dan meminta maaf kepadanya, mereka mencium kedua tangan dan kedua kakinya, dan mereka mengambil tanah yang diinjak oleh Sa’id. Kemudian mereka mengatakan: Wahai Sa’id, Al Hajjaj telah menjajikan kami, bahwa ia akan membebaskan dan memerdekakan kami jika kami melihatmu lalu kami tidak membiarkanmu sampai kami membawamu kepadanya. Maka perintahkanlah kepada kami dengan perintah apa saja yang Engkau kehendaki. Sa’id berkata: Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian, karena sesungguhnya aku berlindung kepada Penciptaku, dan tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. Merekapun terus berjalan sampai daerah Wasith. Lalu Sa’id berkata: Aku telah terhalangi oleh kalian (untuk beribadah) dan aku telah menemani kalian, dan aku tidak ragu-ragu lagi bahwasanya ajalku telah tiba. Maka biarkanlah aku malam ini untuk bersiap-siap menghadapi kematian, dan bersiap-siap untuk menghadapi Munkar dan Nakir, dan mengingat mati. Lalu jika tiba waktu pagi, kita akan bertemu di sebuah tempat yang kalian kehendaki. Sebagian di antara mereka mengatakan: Apakah kalian tidak menginginkan hasil dari jerih payah kalian. Sebagian yang lain mengatakan: Kalian telah tiba di tempat aman kalian, dan hadiah dari Amir (gubernur) telah di depan mata, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Namun sebagian lagi mengatakan: Ia telah memberikan suatu jaminan sebagaimana yang telah diberikan kepada pendeta. Celakalah kalian, tidakkah kalian mengambil pelajaran dari singa itu. Lalu mereka melihat kepada Sa’id bin Jubair, ternyata kedua matanya telah berlinangan air mata, rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu. Ia belum makan, belum minum dan tidak pernah tertawa semenjak mereka menangkap dan mengawalnya. Lalu mereka mengatakan: Wahai sebaik-baik penduduk bumi, alangkan baiknya seandainya kami tidak mengenalmu dan tidak diutus untuk menangkapmu. Celakalah kami dengan kecelakaan yang lama. Kami telah diuji denganmu, mintakanlah ampun kepada Penciptamu untuk kami pada saat perkumpulan akbar, karena sesungguhnya Dialah hakim akbar, yang Maha Adil dan tidak akan berlaku dholim. Sa’id bin Jubair berkata: Sungguh aku adalah orang yang paling pemaaf dan rela terhadap kalian, karena aku tahu bahwa semua apa yang menimpaku itu adalah atas sepengetahuan Alloh sebelumnya. Lalu tatkala mereka telah usai menangis dan berdialog, orang yang sanggup untuk menjadi penjaminnya mengatakan kepadanya: Aku memohon kepadamu atas nama Alloh, lantaran engkau telah membekali kami dengan do’a dan perkataanmu, supaya kami tidak akan menjumpai lagi orang semacam Engkau selama-lamanya. Maka Sa’idpun memenuhi permintaannya. Merekapun membiarkannya pergi. Lalu Jubair bin Sa’id mencuci rambut, jubah dan pakaiannya. Sedangkan mereka melalui malam itu dengan selalu mengucakan kata-kata kecelakaan dan penyesalan. Lalu tatkala datang waktu pagi, Sa’id datang kepada mereka dan mengetuk pintu. Merekapun turun dan menangis bersamanya, lalu mereka membawanya kepada Al Hajjaj bersama satu orang lagi. Maka keduanya masuk. Al Hajjaj berkata: Apakah kalian telah membawa Sa’id bin jubair kepadaku? Mereka menjawab: Ya, dan kami telah menyaksikan suatu keajaiban padanya. Maka Al Hajjaj pun memalingkan mukanya dari mereka. Lalu berkata: Bawa masuk dia ke mari. Kemudian Al Multamis berpamitan dan mengatakan kepada Sa’id: Aku titipkan Engkau kepada Alloh dan saya ucapkan selamat tinggal. Maka iapun memasukkan Sa’id kepada Al Hajjaj. Lalu Al Hajjaj berkata: Siapa namamu? Sa’id bin Jubair menjawab: Sa’id bin Jubair (bahagia bin penutup kekurangan). Al Hajjaj berkata: Engkau Syaqiy bin Kusair (sengsara bin pemecah) … kemudian Adz Dzahabi menuturkan kisahnya sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Kholkan.” Adz Dzahabi juga menuturkan di dalam buku Siyarul A’lam An Nubala’: Telah diriwayatkan bahwasanya Dawud bin Abi Hind berkata: Ketika Al Hajjaj menangkap Sa’id bin Jubair, Sa’id berkata: Aku mempunyai perkiraan bahwa aku pasti akan dibunuh, maka aku akan memeritahukan sesuatu kepada kalian: yaitu sesungguhnya dahulu ketika Aku dan dua orang sahabatku telah mendapatkan manisnya do’a, kami berdoa kepada Alloh agar menganugerahkan mati syahid kepada kami. Lalu kedua sahabatku tersebut Alloh anugerahkan mati syahid, sedangkan Aku senantiasa menunggu anugerah tersebut. Ia berkata, seolah-oleh ia berpendapat bahwa waktu terkabulnya do’a itu adalah ketika do’a itu dirasa manis. Saya katakan: Tatkala ia mengetahui keutamaan mati syahid, ia tetap tegar menghadapi pembunuhan dan tidak peduli dengannya, ia juga tidak berlaku taqiyyah (berpura-pura dengan tujuan untuk menyelamatkan diri dari bahaya) yang sebenarnya ia diperbolehkan untuk itu, semoga Alloh merahmati beliau.” ‘Abdulloh Bin Al Harits Al Hasyimi Rohimahulloh, Melarikan Diri Dari Kejaran Al Hajjaj. Adz Dzahabi menuturkan di dalam Siyarul A’lam An Nubala’, “Bahwasanya ‘Abdulloh bin Al Harits Naufal Al Hasyimi yang dijuluki “Bah”, beliau dilahirkan pada masa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam masih hidup … Ibnu Sa’ad mengatakan: Dia adalah orang yang tsiqqoh (terpercaya), seorang tabi’in. Dahulu ibunya membawanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, lalu tatkala beliau menemuinya, beliau meludahi mulutnya dan mendo’akannya. Ia menuturkan: Dia melarikan diri dari Bashroh ke ‘Amman karena takut dari Al Hajjaj pada peristiwa pemberontakan ‘Abdur Rohman bin Muhammad bin Al Asy’ast. Kemudian ia meninggal dunia di ‘Amman pada tahun 84. Abu ‘Ubaid berkata: Ia meninggal dunia pada tahun 83. Saya (Adz Dzahabi) katakan: Dia termasuk orang-orang yang hidup pada tahun delapan puluhan, hadits-haditsnya ditulis di dalam Kutubus Sittah. Beliau banyak meriwayatkan hadits. Beliau juga meriwayatkan hadits dari Shofwan bin Umayyah, Ummu Hani’ binti Abi Tholib dan Hakim bin Hizam.” Asy Sya’bi Rohimahulloh Bersembunyi Dari Kejaran Al Mukhtar Bin ‘Ubaid Selama Delapan Bulan. Adz Dzahabi menuturkan di dalam Siyarul A’lam An Nubala’,”Bahwasanya Asy Sya’bi rohimahulloh tinggal di Madinah selama delapan bulan karena melarikan diri dari kejaran Al Mukhtar bin ‘Ubaid.” Al Hasan Al Bashrî Rohimahulloh Bersembunyi Dari Kejaran Al Hajjâj Sampai Tidak Bisa Mengantar Jenazah Putrinya Adz-Dzahabî rohimahulloh menyebutkan di dalam Siyaru A‘lâmi `n-Nubalâ’ bahwa Al Hasan Al-Bashrî rohimahulloh terus bersembunyi dari Al-Hajjâj sampai ketika putrinya meninggal beliau tidak bisa keluar untuk mengantar jenazahnya, maka Ibnu Sirîn menggantikan beliau dalam urusan itu. Dari Tsâbit Al-Banânî ia berkata, Al Hasan Al-Bashrî bersembunyi dari Al-Hajjâj, kemudian salah seorang putrinya meninggal dunia, aku segera menemuinya dengan harapan ia akan mengatakan kepadaku: “Sholatkanlah ia.” Maka menangislah beliau sampai isakannya terdengar keras. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Pergilah kepada Muhammad bin Sîrîn dan katakan kepadanya agar ia menyolatkan anakku.” Maka ketika telah datang kenyataan-kenyataan, barulah ia tahu bahwa ternyata tidak ada seorangpun yang menyamai Ibnu Sîrîn seorangpun. Ibnu Katsîr berkata dalam Al-Bidâyah wa `n-Nihâyah: Abdur Rozzâq meriwayatkan dari Ma‘mar dari Ibnu Thôwûs dari ayahnya bahwa ia diberitahu berkali-kali mengenai kematian Al-Hajjâj, maka tatkala ia sudah benar-benar pastikan kematiannya, ia berkata: “Faquthi‘a Dâbirul Qoumil Ladzîna Dzolamû wal Hamdu lillâhi robbil ‘Âlamîn.” (maka orang-orang dholim itu dibinasakan sampai akar-akarnya, dan segala puji bagi Alloh Robb semesta alam). Dan lebih dari satu orang yang meriwayatkan bahwasanya Al-Hasan ketika diberi kabar gembira mengenai kematian Al-Hajjâj, beliau sujud syukur kepada Alloh ta‘âlâ dan kala itu beliau masih sembunyi maka beliau keluar dan berkata: “Ya Alloh, Engkau telah matikan dia, maka hilangkanlah jalan-jalan yang telah ia tempuh dari kami.” Hammâd bin Abî Sulaimân berkata: “Ketika aku beritahu Ibrôhîm An-Nakho‘î mengenai kematian Al Hajjaj, beliau menangis lantaran saking gembiranya. Abû Bakar bin Abî Khoitsamah berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaimân bin Abî Syaikh, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Shôlih bin Sulaimân, ia berkata, Ziyâd bin Ar-Robî‘ bin Hârits berkata kepada para penghuni penjara: “Hajjaj telah mati karena penyakit yang deritanya pada malam anu dan anu.” Maka ketika tiba malam tersebut, para penghuni penjara tidak ada yang tidur karena saking gembiranya, mereka duduk sampai mendengar seorang wanita yang menangisi kematiannya. Ini terjadi pada malam dua puluh tujuh Romadhon. Ada yang mengatakan terjadi di lima hari sisa bulan Romadhon. Ada juga yang berpendapat pada bulan Syawwâl dari tahun ini. Kala itu ia berusia limapuluh lima tahun, sebab kelahirannya adalah di tahun jama‘ah pada tahun 40 H, ada yang berpendapat satu tahun setelah itu, ada juga yang berpendapat satu tahun sebelumnya. Ia meninggal di daerah Wâshith, dan kuburannya ditinggikan dan dialiri air agar tidak tergali dan terbakar. Wallôhu A‘lam.” Sufyan Ats-Tsaurî Rohimahulloh Lari Dan Menghindar Dari Kholifah Al-‘Abbâsî Adz-Dzahabî rohimahulloh menyebutkan dalam Siyar A‘lâmi `n-Nubalâ’ : Ia berkata, Ketika Al-Mahdi diangkat sebagai kholifah, ia datang kepada Sufyân (Ats-Tsaurî rohimahulloh maksudnya). Maka tatkala ia masuk ke rumah beliau, ia lempar cincinnya ke arah beliau sembari berkata, “Wahai Abû Abdillâh, inilah cincinku, maka aturlah umat ini dengan Al-Qur’an dan sunnah.” Maka beliau memungut cincin tersebut dan berkata, “Izinkan aku menyampaikan satu permintaan, wahai Amirul Mukminin.” Ia berkata lagi, “Wahai Amirul Mukminin.” “Silahkan.” sahutnya, Sufyan berkata, “Aku akan berbicara asal keamananku dijamin.” Ia berkata, “Baiklah.” Sufyan berkata, “Jangan lagi Anda datang kepadaku sampai aku sendiri yang datang kepada Anda, dan jangan pernah memberi aku sampai aku sendiri yang meminta.” Mendengar itu, Al-Mahdî marah dan ingin menghukumnya. Tapi, juru tulisnya berkata kepadanya: “Bukankah Anda telah jamin keamanannya?” Ia berkata: “Benar.” Maka tatkala Sufyan keluar, namun para shahabatnya mencegatnya, mereka berkata: “Apa yang menghalangi Anda padahal ia menyuruh Anda untuk mengatur umat ini dengan Al-Qur’an dan sunnah.” Namun beliau menganggap lemah akal mereka dan beliau lari ke Bashroh. Dan dari Sufyân ia berkata, “Aku tidak takut hinaan mereka, yang aku takutkan justeru penghormatan mereka. Aku tidak melihat kejahatan mereka sebagai kejahatan, aku tidak melihat ada permisalan yang lebih tepat bagi penguasa selain ibarat lidah seekor musang.” Beliau berkata, “Aku melihat dalam diri anjing ada tujuh puluh lebih tipudaya, dari sekian tipu muslihat itu, aku tidak melihat ada yang lebih baik selain aku tidak melihat anjing itu dan anjing itupun tidak melihatku.” Adz-Dzahabi rohimahulloh berkata, Muhammad bin Sa‘d berkata, Sufyan menjadi buron, maka ia keluar menuju Mekkah, maka Al-Mahdi meminta Muhammad bin Ibrohim yang saat itu berkuasa di Mekkah untuk mencarinya, maka iapun memberitahu Sufyan akan permintaan itu. Muhammad berkata kepadanya, “Kalau Anda ingin mendatangi mereka, silahkan menampakkan diri kemudian aku akan kirim Anda kepada mereka. Tapi kalau tidak, silahkan bersembunyi.” Adz-Dzahabi berkata: Maka Sufyânpun bersembunyi, sedangkan Muhammad mencarinya serta memerintahkan agar mengumumkan bahwa siapa saja yang berhasil membawa Sufyân ia akan mendapatkan hadiah begini dan begitu. Maka Sufyan terus bersembunyi di Mekkah, ia tidak menampakkan diri kepada para ulama maupun orang yang tidak ia takuti sekalipun. Dan diriwayatkan dari Abu Syihab Al Hannath (penjual gandum), ia berkata: Saudara perempuan Sufyan mengirimkan kantong kulit bersamaku kepada Sufyan, sedangkan Sufyan berada di Mekah. Di dalam kantong kulit tersebut ada sepotong kue dan dua khosykan. Lalu Akupun datang dan menanyakan tentang dirinya, lalu ada yang mengatakan kepadaku: Mungkin dia duduk di sisi ka’bah dibelakang para penjual gandum. Maka Akupun mendatanginya dan Aku mendapatkannya sedang berbaring. Kemudian Aku mengucapkan salam kepadanya, namun dia tidak menanyakan mengenai permasalahannya dan juga tidak menyalamiku sebagaiamana yang saya ketahui dahulu. Lalu saya katakan kepadanya: Sesungguhnya saudara perempuanmu mengirimkan kantong kulit bersamaku. Lalu ia bangkit dan duduk. Dia mengatakan: Berikan kepadaku kantong kulit itu, cepat. Lalu saya terangkan kepadanya mengenai permasalahanya. Lalu ia berkata: Wahai Abu Syihab, janganlah engkau cela diriku karena aku sudah tiga hari belum merasakan makanan dan minuman, sehingga aku menderita. Ibnu Sa’ad berkata: Tatkala ia khawatir dengan perburuan terhadap dirinya di Mekah, ia keluar ke Bashroh dan ia tinggal di dekat rumah Yahya bin Sa’id. Kemudian ia berpindah ke samping rumahnya, dan dibukakan sebuah pintu antara rumahnya dan rumah Yahya bin Sa’id. Lalu Yahya mendatangkan kepadanya para ahli hadits Bashroh, mereka menyalaminya dan belajar darinya.” Ashbagh Bin Al Faroj Rohimahulloh Melarikan Diri Dari Al Mu’tashim Ketika Terjadi Ujian. Adz Dzahabi rohimahulloh mengisahkan Ashbagh bin Al Faroj di dalam Siyarul A’lam An Nubala’, beliau menuturkan: “Beliau adalah seorang Syekh, imam besar, mufti dan ulama’ Mesir, kuniyahnya adalah Abu ‘Abdillah Al Umawi, pemimpin kaum muslimin di Mesir … Ibnu Ma’in bertutur tentangnya: Beliau adalah termasuk hamba Alloh yang paling alim terhadap pendapat Malik, ia memahaminya satu masalah demi satu masalah dan kapan pendapat itu diucapkan oleh Malik, dan siapa saja orang setelahnya yang mengikuti pendapatnya tersebut. Ahmad bin Abdillah berkata: Ashbagh adalah orang yang tsiqqoh (terpercaya), ahli di bidang sunnah. Sementara Abu Hatim mengatakan: Ia adalah pengikut Ibnu Wahab yang paling terkemuka. Sedangkan Abu Sa’id bin Yunus mengatakan: Ia adalah Yahya bin ‘Utsman bin Sholih, ia adalah anak seorang budak yang mengurusi masjid. Dahulu Bani Umayyah membeli budak-budak untuk mengurusi masjid. Dari budak-budak itulah Ashbagh dilahirkan. Ia sangat tajam pemahaman dan pandangannya … dahulu beliau pernah ditunjuk untuk menjadai qodli (hakim) di dalam majlis Amir (gubernur) ‘Abdulloh bin Dhohir, namun ia didahului oleh Sa’id bin ‘Ufair. Ia berkata: ‘Ali bin Al Hasan bin Qodid telah bercerita kepada kami, ia dari Yahya bin ‘Utsman bin Sholih, ia dari Abu Ya’qub Al Buwaithi, bahwasanya ketika Ibnu Dhohir memerintahkan untuk mengumpulkan para ulama’ Mesir ia ikut hadir dalam majlis tersebut. Ia menuturkan: Ibnu Dhohir berkata kepada kami: Sesungguhnya Aku mengumpulkan kalian supaya kalian memilih seorang qodli di antara kalian. Ketika itu yang pertama kali angkat bicara adalah Yahya bin Bakir, kemudian Ibnu Dlomroh. Ibnu Dlomroh berkata: Semoga Alloh memperbaiki Amir (Gubernur), pilihlah Ashbagh bin Al Faroj, seorang yang fakih, alim dan waro’. Kemudian ia menceritakan kisah selanjutnya. Sebagian ulama’ mengatakan: Mesir tidak pernah melahirkan manusia seperti Ashbagh. Dan Abu Nashr Al Faqih mengatakan: Saya pernah mendengar Al Mazni dan Ar Robi’, keduanya mengatakan: Sebelum datang Asy Syafi’i kami pernah mendatangi Ashbagh, lalu kami katakan kepadanya: Ajarkanlah kepada kami ilmu yang telah Alloh ta’ala ajarkan kepadamu. Sementara Muthorrif bin ‘Abdillah mengatakan: Ashbagh itu lebih fakih daripada ‘Abdulloh bin ‘Abdul Hakam. ‘Ali bin Qodid pernah menyampaikan kisah dari orang yang bercerita kepadanya, ia mengatakan: Antara Ashbagh dengan Ibnu ‘Abdil Hakam itu terjadi gap, masing-masing saling menuding. Sedangkan Ibnu Wazir mengatakan: Ashbagh adalah orang yang jelek perkataannya, ia adalah petir. Ibnu Qodid berkata: Al Mu’tashim mengirim surat perintah penangkapan Ashbagh, supaya didatangkan kepadanya pada masa-masa terjadi ujian (maksudnya adalah tatkala tersebarnya paham yang mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluq-pent.). Maka beliau rohimahulloh melarikan diri dan bersembunyi di Halwan. Dalam hal itu seorang penyair, Al Jamal membuat syair yang berbunyi: وطويت أصبغ حقبة في بيته فسترنه جدر البيوت الستر أبدلته برجاله وجموعه خرقا مقاعدة النساء الخدر فإذا أراد مع الظلام لحاجة أخذ النقاب وفضل مرط المعجر Ashbagh terkurung dalam satu masa di dalam rumahnya … Selama itu dia ditutupi oleh dinding-dinding rumahnya … Apabila dalam kegelapan ia menginginkan sesuatu … Ia mengenakan cadar dan serban yang lebar … Ahmad Bin Hanbal Rohimahulloh Tidak Keluar Rumah Untuk Ikut Sholat Berjamaah Atau Untuk Keperluan Lain Sampai Meninggalnya Al-Wâtsiq Di dalam Manâqib Imâm Ahmad karangan Ibnul Jauzî disebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rohimahulloh ketika menyatakan akidahnya secara terang-terangan dalam masalah Al-Qur’an makhluk, di saat pemerintahan khalifah Al-Wâtsiq dan beliau menerima ujian yang luar biasa besar, maka beliau memutuskan untuk bersembunyi sampai Al-Wâtsiq mangkat. Ibrôhîm bin Hânî berkata: Imam Ahmad pernah bersembunyi di tempatku selama tiga hari, kemudain beliau berkata: “Carikan tempat yang aku bisa pindah ke sana.” Kukatakan, “Tidak ada tempat aman buat Anda wahai Abû Abdillâh.” Beliau berkata, “Yang penting carikan saja, jika engkau mau melakukannya, maka aku telah memberi manfaat kepadamu.” Akhirnya aku mencarikan tempat untuk beliau. Tatkala beliau keluar, beliau berkata: “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dulu bersembunyi di dalam gua selama tiga hari kemudian berpindah. Tidak selayaknya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam diikuti ketika lapang dan diabaikan di waktu susah.” Di dalam riwayat Hanbal disebutkan mengenai kisah bersembunyinya Imam Ahmad di masa kekuasaan Al-Wâtsiq, ia berkata: Abû Abdillâh terus bersembunyi di Al-Qurb, kemudian beliau baru kembali ke kediamannya setelah beberapa bulan atau sekitar satu tahun tatkala khabar tentang beliau sudah mereda. Beliau terus berada di dalam rumah, tidak keluar untuk melaksanakan sholat atau aktifitas lain sampai Al-Wâtsiq meninggal.” Adz-Dzahabî rohimahulloh berkata di dalam Siyar A‘lâmi `n-Nubalâ’: “Maka Abû Abdillâh bersembunyi selama sisa usia Al-Wâtsiq, ketika itu fitnah sedang terjadi dan Ahmad bin Nash Al-Khozâ‘î dibunuh, sedangkan Abû Abdillâh (Imam Ahmad, penerj.) masih terus bersembunyi di dalam rumah, beliau tidak keluar untuk sholat atau untuk aktifitas lainnya sampai Al-Wâtsiq meninggal. Kemuidan Adz-Dzahabî rohimahulloh menceritakan kisah yang dituturkan Ibrôhîm bin Hânî sebagaimana yang dikisahkan Ibnu `l-Jauzî. Adz-Dzahabî rohimahulloh berkata, “Al-Maimûnî berkata, Al-Qôdhî Muhammad bin Muhammad bin Idris Asy-Syâfi‘î (putra dari Imam Syâfi‘î, penerj.) berkata kepadaku, Ahmad berkata kepadaku, “Ayahmu adalah salah satu dari enam orang yang aku doakan di waktu sahur. Dan dari Ibrôhîm bin Hânî An-Naisâbûrî berkata, “Abû Abdillâh (Imam Ahmad) selalu bersama aku ketika beliau bersembunyi dari penguasa, kemudian ia menyebutkan bagaimana kesungguhan beliau dalam beribadah, sungguh menakjubkan. Ia berkata, “Aku tidak kuat melakukan ibadah bersamanya, dia hanya pernah berbuka satu hari saja karena dia berbekam.” Hasan Bin Ali Al-Barbahârî Rohimahulloh Melarikan Diri Ketika Akan Ditangkap Adz-Dzahabî rohimahulloh berkata mengenai Al-Barbahârî rohimahulloh di dalam Siyar A‘lâmin Nubalâ’ : “Seorang syaikh madzhab Hanbali, seorang panutan, imam, Abû Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Kholaf Al-Barbahârî, seorang fakih, beliau gigih menyuarakan yang benar, menyeru kepada atsar, karena Alloh beliau tidak takut celaan orang yang suka mencela.” Beiau juga menyebutkan kisah persembunyiannya yang menyedihkan, beliau menuturkan: “Abul Hasan bin Al Farro’ berkata: Al Barbahari adalah orang yang memiliki mujahadat (amalan ibadah) dan maqomat (tingkatan) dalam agama. Sedangkan orang-orang yang tidak sependapat dengannya memanas-manasi hati penguasa terhadap dirinya. Maka pada tahun 321, mereka hendak menangkapnya sehingga ia bersembunyi. Para pengikutnya yang terkemuka pun ditangkap dan dibawa ke Bashroh. Maka Allohpun menghukum menteri Ibnu Maqlah, dan Allohpun mengembalikan Al Barbahari kepada kerabatnya. Kemudian pengikutnyapun semakin banyak, lalu kami mendengar berita bahwasanya ia berlindung ke wilayah barat. Lalu ia bersin dan para pengikutnyapun mengucapkan yarhamukalloh (do’a untuk orang yang bersin-pent.) sehingga suara mereka terdengar gemuruh sampai terdengar oleh kholifah. Kholifahpun diberitahu tentang apa yang terjadi sehingga ia takut. Kemudian para ahli bid’ah terus-menerus menakut-nakuti hati Ar Rodli sehingga di Baghdad diumumkan larangan dua orang dari pengikut Al Barbahari berkumpul. Maka beliau pun bersembunyi hingga beliau meninggal dalam keadaan bersembunyi pada bulan Rojab tahun 328, dan beliau dikuburkan di kampung saudara perempuannya, Tuzun. Konon, tatkala ia dikafani, sementara di sisinya ada seorang pembantu yang menyolatkannya sendirian, saudara perempuannya mengintipnya dari jendela loteng, ternyata ia melihat rumah tersebut dipenuhi oleh kaum laki-laki yang berpakaian putih yang menyolatkannya. Maka iapun takut dan mencari pembantu tersebut. Maka pembantu tersebut bersumpah bahwasanya pintunya tidak pernah dibuka.” Abu Bakar An-Nablusî Rohimahulloh Melarikan Diri Dari Kejaran Penguasa ‘Ubaidiyyîn Adz-Dzhahabi menyebutkan di dalam Siyar A‘lâmin Nubalâ’ mengenai An-Nablusî rohimahulloh dengan mengatakan: “Beliau, seorang Imam panutan Asy-Syahîd Abû Bakr Muhammad bin Ahmad bin Sahl Ar-Romlî dan terkenal dengan sebutan Ibnu An-Nablusî … Abû Dzar Al-Hâfidz berkata, “Ia dipenjara dan disalib oleh Bani Ubaid ketika beliau berpegang teguh di atas As-Sunnah. Aku mendengar Ad-Dâruquthnî mengisahkan beliau sembari menangis dan mengatakan: ‘Beliau mengatakan ketika dikuliti: كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُوراً Semua itu telah tertulis di dalam kitab (lauhul mahfudh) .. Adz Dzahabi juga bercerita bahwa Abu Bakar An Nablusi lari berkali-kali dari kejaran penguasa Ubaidiyyah, ia berkata: “Abul Faroj ibnul Jauzi berkata, ‘Jauhar Al Qoid memanggil Abu Bakar An Nablusi untuk menghadap Abu Tamim, penguasa Mesir. Sementara Abu Bakar An Nablusi tinggal di gubuk-gubuk. Abu Tamim berkata kepadanya: Kami mendengar bahwasanya engkau mengatakan, apabila seseorang itu mempunyai sepuluh anak panah maka harus dipanahkan kepada bangsa Romawi satu buah dan dipanahkan kepada kami sembilan buah. Abu Bakar An Nablusi menjawab: Aku tidak mengatakan seperti itu, akan tetapi Aku mengatakan, jika seseorang mempunyai sepuluh anak panah maka harus dipanahkan kepada kalian sembilan buah dan yang satu lagi dipanahkan kepada kalian juga karena sesungguhnya kalian telah merubah ajaran Islam, membunuh orang-orang sholih dan kalian mengaku mempunyai cahaya ilahi. Maka Abu Tamim mempertontonkan beliau kepada masyarakat kemudian memukulinya, kemudian Abu Tamim memerintahkan seorang Yahudi untuk mengulitinya. Ibnul Akfani berkata: Seorang hamba yang sholih dan zuhud, Abu Bakar An Nablusi telah wafat. Dahulu ia berpendapat wajib memerangi Al Maghoribah (penguasa maghrib, banu Ubaid,-pent.). Ia melarikan diri dari Ar Romalah ke Damaskus. Maka penguasa di sana, Abu Mahmud Al Kattami menangkapnya dan mengurungnya dalam sangkar kayu, lalu mengirimnya ke Mesir. Tatkala telah sampai, mereka bertanya: Apakah Engkau orang yang mengatakan, seandainya Aku memiliki sepuluh anak panah, dan beliau menuturkan kisah seterusnya. Lalu ia dikuliti, kemudian ditimbun dengan jerami, kemudian disalib. Ma’mar bin Ahmad bin Ziyad Ash Shufi berkata: Ada seseorang yang tsiqqoh (terpercaya) yang memberitakan kepadaku bahwasanya Abu Bakar An Nablusi dikuliti dari ubun-ubunnya sampai wajahnya. Dan dia tetap bersabar dan berdzikir kepada Alloh, hingga dikuliti sampai dadanya, kemudian orang yang mengulitinya merasa kasihan terhadapnya sehingga ia hunjamkan ulu hatinya dengan pisau, sehingga beliaupun meninggal dunia. Dan orang yang tsiqqoh (terpercaya) tersebut memberitakan kepadaku bahwasanya Abu Bakar adalah seorang Imam di bidang hadits dan fikih. Beliau puasa sepanjang masa, orang yang berwibawa di hadapan orang-orang awam maupun dihadapan orang-orang terkemuka. Dan tatkala ia dikuliti, terdengar bacaan Al Qur’an dari tubuhnya. Kemudian Al Maghribi (penguasa maghrib, penguasa bani Ubaid,-pent.) menguasai Syam, kemudian ia menyebarluaskan pemahaman yang jelek, meniadakan sholat tarowih dan sholat dluha, memerintahkan qunut pada sholat dhuhur dan membunuh An Nablusi pada tahun tiga. Sedangkan Abu Bakar An Nablusi adalah seorang yang mulia, pemimpin Ar Romlah, kemudian melarikan diri, lalu ditangkap di Damaskus. Konon, seorang pemuka yang menentangnya mengatakan kepada beliau tatkala beliau dating ke Mesir: Segala puji bagi Alloh atas keselamatanmu. Abu Bakar An Nablusi menjawab: Segala puji bagi Alloh atas keselamatan agamaku dan atas keselamatan duniamu. Saya (Adz Dzahabi) katakan: Ajaran Islam yang diputar balikkan oleh orang-orang Ubaidiyyah tidak dapat digambarkan. Mereka menguasai Maroko, kemudian Mesir dan Syam, dan mereka mencela sahabat. Ibnus Sa’sa’ Al Mishri menuturkan, bahwasanya ia bermimpi bahwa Abu Bakar bin An Nablusi setelah disalib dalam kondisi yang sangat baik. Ia bertanya kepada Abu Bakar An Nablusi: Apa yang Alloh lakukan terhadap dirimu? Abu Bakar An Nablusi menjawab: حباني مالكي بدوام عز وواعدني بقرب الانتصار وقربني وأدناني إليه وقال انعم بعيش في جواري Rajaku menganugerahkan kepadaku kemuliaan yang abadi… Dan menjajikan kepadaku kemenangan yang tidak lama lagi … Dan Ia mendekatkan diriku kapada-Nya … Dan Ia berfirman: Berbahagialah hidup di sisi-Ku … Penutup Di akhir risalah ini, saya katakan kepada saudara-saudaraku para mujahidin yang terusir serta yang diburu oleh para thaghut di belahan bumi timur maupun barat: Tetap teguhlah di atas jalan yang sedang kalian tempuh. Ini semua adalah tauladan kalian, sejak dari para nabi, para rosul, shahabat, tabi‘în, para ulama dan orang-orang sholih dalam pentas sejarah. Al Bukhôrî rohimahulloh telah meletakkan satu bab di dalam Shohîh-nya pada bagian Kitâbu `l-Îmân dengan kata-kata: Minad-Dîn; Al-Firôru minal Fitan (lari menyelamatkan diri dari fitnah adalah termasuk ajaran Islam) dan beliau menyebutkan hadis Abû Sa‘îd Al-Khudrî rodliyallohu ‘anhu bahwa beliau berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: يوشك أن يكون خير مال المسلم غنم يتبع بها ‏شعف ‏الجبال ‏‏ومواقع القطر ‏ ‏يفر بدينه من الفتن “Hampir tiba saat di mana harta terbaik seorang muslim adalah seekor domba yang ia bawa ke puncak-puncak gunung dan tempat-tempat turunnya air hujan (lembah), ia lari menyelamatkan agamanya dari fitnah.” Ini menunjukkan bahwa bersembunyi dan lari dari para thoghut adalah bagian dari iman dan din (ajaran Islam), dan bukan merupakan sikap pengecut atau lemah sebagaimana anggapan sebagian orang. Bagaimana mungkin jalan yang ditempuh para nabi, rosul, para shahabat, tabi‘in, para ulama dan orang-orang sholeh disebut sebagai sikap pengecut dan lemah??! Ibnu Rojab rohimahulloh berkata di dalam Syarah beliau terhadap Shohîh Al Bukhôrî yang berjudul Fathul Bârî: “Al Bukhôrî membuat bab yang menyebutkan bahwa lari dari fitnah itu termasuk bagian dari din (ajaran Islam). Hadits ini tidak mengandung makna selain kesan adanya keutamaan bagi orang yang lari dengan membawa agamanya menghindari fitnah; tetapi ketika beliau menjadikan kambing sebagai harta terbaik seorang muslim dalam kondisi ini, maka itu menunjukkan bahwa perbuatan ini termasuk ajaran Islam sedangkan Islam itu adalah agama.” Beliau juga berkata dalam risalah berjudul Kasyful Kurbah Fî Washfi Ahlil Ghurbah : “Mereka ini adalah para ghurobâ’ yang paling istimewa, merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agamanya menghindari fitnah, dan merekalah orang-orang yang terkucil dari kabilah mereka, yang akan dikumpulkan bersama Isa ‘alaihis salam, mereka di kalangan para penghuni akhirat lebih berkilau daripada batu pemantik merah, maka bagaimana keadaan mereka di tengah para penduduk dunia. Keadaan mereka biasanya tersembunyi di antara kedua kelompok, sebagaimana dikatakan: تواريت عن دهري بظل جناحه فعيني ترى دهري وليس يراني ولو تسأل الأيام ما اسمي ؟ لما درت وأين مكاني ؟ ما عرفن مكاني Aku bersembunyi dari bangsaku dengan berpayung sayapnya Mataku melihat bangsaku namun mereka tidak melihatku Kalau saja engkau tanyakan kepada hari-hari, siapa namaku? Ia pasti tak tahu Dan kau tanyakan di mana tempatku? Ia tidak akan tahu di mana posisiku Wahai para mujahidin yang menjadi buron, hari ini kalian minoritas, namun kalian akan menjadi kelompok mayoritas, kalian sekarang lemah dan kalian akan menjadi kaum yang kuat. Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hasil akhir itu milik kalian sedangkan masa depan adalah milik Islam, dengan kemuliaan orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina, kemuliaan yang Alloh muliakan Islam dengannya, atau kehinaan yang Alloh hinakan kekufuran dan pemeluknya dengannya. Maka bersabarlah kalian dan saya ingatakan kalian dengan firman Alloh ta’ala ketika Dia memberikan anugerah kepada generasi awal di saat kondisi mereka seperti kondisi yang sekarang kalian alami, Alloh ta‘âlâ berfirman: وَاذْكُرُوَاْ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مّسْتَضْعَفُونَ فِي الأرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطّفَكُمُ النّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيّدَكُم بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مّنَ الطّيّبَاتِ لَعَلّكُمْ تَشْكُرُونَ Dan ingatlah, ketika kalian masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kalian takut orang-orang akan menculik kalian, maka Alloh memberi kalian tempat berlindung dan dijadikan-Nya kalian kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kalian bersyukur. Ibnu Katsîr rohimahulloh berkata, “Alloh ta‘âlâ mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman akan kenikmatan yang Dia berikan kepada mereka, kebaikan yang Dia curahkan kepada mereka, di mana dulu mereka sedikit kemudian Alloh jadikan mereka banyak, mereka lemah dan takut kemudian Alloh jadikan mereka kuat dan menang, mereka dulu orang-orang miskin dan papa kemudian Alloh berikan rezeki berupa kebaikan-kebiakan serta menyuruh mereka agar bersyukur. Maka merekapun mentaati-Nya serta melaksanakan semua yang Alloh perintahkan kepada mereka. Dan inilah kondisi kaum mukminin, keadaan mereka ketika di Mekah, sedikit, diremehkan dan ditindas, mereka takut kalau manusia menyerang mereka dari segala penjuru negeri Alloh, baik dari kalangan musyrik, majusi atau romawi. Semuanya menjadi musuh bagi mereka karena sedikitnya jumlah mereka dan tidak adanya kekuatan yang mereka miliki. Inilah keadaan yang mereka terus rasakan hingga akhirnya Alloh izinkan mereka untuk berhijrah ke Madinah, maka Allohpun berikan tempat mereka di sana, menyiapkan penduduknya untuk menerima mereka, dan mereka ikut membantu dan menolong pada saat perang Badar serta peperangan yang lain. Mereka tunjukkan solidaritas dengan harta yang mereka miliki dan mereka korbankan nyawa mereka dalam rangka mentaati Alloh dan rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam. Qotadah bin Di‘âmah As-Sadusi rohimahulloh berkata mengenai firman Alloh ta‘âlâ: وَاذْكُرُوَاْ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مّسْتَضْعَفُونَ فِي الأرْضِ Dan ingatlah, ketika kalian masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi … Penduduk arab yang satu ini adalah manusia paling hina, paling sengsara penghidupannya, paling lapar perutnya, paling telanjang kulitnya dan paling jelas kesesatannya. Siapa yang hidup di antara mereka, ia hidup dalam keadaan sengsara, siapa yang mati di antara mereka dilemparkan ke dalam api neraka, mereka dimakan dan tidak makan. Demi Alloh, kami tidak mengetahui ada satu kabilah dari semua penduduk bumi saat itu yang lebih buruk derajatnya daripada mereka hingga Alloh datangkan Islam, kemudian Dia jadikan mereka berkuasa di negeri-negeri serta Dia lapangkan rizki dengannya, serta menjadikan mereka sebagai raja pada leher manusia karenanya. Dan dengan Islam, Alloh telah berikan apa yang kalian lihat, maka bersyukurlah kepada Alloh atas anugerah-anugerah-Nya yang diberikan kepada kalian, sebab sesungguhnya Robb kalian adalah Dzat Yang Mahapemberi nikmat, Ia menyukai sikap bersyukur, dan orang-orang yang bersyukur itu berada dalam tambahan dari Alloh.” Sayyid Qutb rohimahulloh memiliki perkataan cukup berharga kaitannya dengan ayat ini serta ayat-ayat sebelumnya, dan yang mengajak agar menyambut Alloh dan rosul dengan cara berjihad di jalan Alloh dan bahwa menempuh jalan ini adalah kehidupan. Beliau rohimahulloh telah hidup di saat kondisi lemah, belum ada jihad, dan beliau belum sempat menyaksikan pengusiran serta serangan yang sedang dilewati umat Islam hari ini di saat mereka menempuh jalan kehidupan hakiki: Jalan jihad. Beliau rohimahulloh berkata, Alloh ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ * وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ * وَاذْكُرُواْ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مُّسْتَضْعَفُونَ فِي الأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Hai orang-orang beriman, sambutlah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan. Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dholim saja diantara kalian. Dan ketahuilah bahwa Alloh amat keras siksaan-Nya. Dan ingatlah, ketika kalian masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kalian takut orang-orang akan menculik kalian, maka Alloh memberi kalian tempat berlindung dan dijadikan-Nya kalian kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kalian rezki dari yang baik-baik agar kalian bersyukur. (Al Anfal: 24-26) Sesungguhnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tak lain adalah mengajak kepada apa yang menjadikan mereka hidup … sungguh itulah seruan kepada kehidupan dengan segala bentuk kehidupan serta dengan segala makna kehidupan… Sungguh beliau mengajak mereka kepada akidah yang menghidupkan hati dan akal serta membebaskannya dari belenggu kebodohan dan khurafat, dari tekanan kegamangan dan imperium, dari ketundukan yang hina terhadap sebab-sebab yang nampak serta kepastian-kepastian yang memaksa, dari peribadatan kepada selain Alloh serta kehinaan terhadap hamba atau terhadap syahwat…sama saja. Dan mengajak mereka kepada syariat yang datang dari sisi Alloh, yang mengumumkan pembebasan serta pemuliaan manusia akan asal dia yang dari Alloh saja. Dan berdirinya manusia semuanya dalam satu barisan yang sama di hadapan syariat tersebut, bukan hukum yang dipaksakan oleh seseorang kepada suatu bangsatertentu, atau sebuah tingkatan sosial kepada satu umat tertentu, atau satu ras kepada suku tertentu, satu kaum kepada sebuah kaum tertentu, tetapi mereka semua dalam keadaan mereka dan sama dihadapan hukum syareat Islam, yang dibuat oleh Alloh, tuhan semua manusia. Beliau menyeru mereka kepada sebuah manhaj kehidupan, manhaj untuk berfikir, manhaj cara pandang, beliau bebaskan mereka dari semua belenggu selain rambu-rambu fithroh yang tertuangkan dalam kaidah-kaidah yang diletakkan oleh Dzat Pencipta manusia, Yang Mahamengetahui tentang apa yang Dia ciptakan. Kaidah-kaidah inilah yang menjaga kekuatan membangun dari kehancuran, dan kekuatan ini tidak tersungkur, tidak hancur serta tidak terhalangi dari kegiatan-kegiatan positif dan membangun. Beliau mengajak mereka kepada kekuatan dan ‘izzah serta ketinggian dengan akidah dan manhaj mereka, yakin terhadap agama dan robb mereka, kebangkitan di seluruh muka bumi untuk membebaskan seluruh umat manusia serta mengeluarkannya dari peribadatan kepada para hamba menuju peribadatan kepada Alloh saja, dalam rangka mewujudkan nilai kemanusiaannya yang tinggi yang telah Alloh berikan kepadanya, yang kemudian dirampas oleh para thoghut. Beliau mengajak mereka kepada jihad fi sabilillah untuk menetapkan ulûhiyyah Alloh ta’ala di muka bumi dan di dalam kehidupan manusia, serta menghancurkan peribadatan manusia yang palsu. Untuk menghalau orang-orang yang melampaui batas uluhiyah, hak hukum serta kekuasaan Alloh sampai mereka mau kembali kepada kekuasaan hukum Alloh saja, sehingga di saat itulah agama itu semuanya hanya menjadi milik Alloh. Sampai apabila mereka tertimpa kematian dalam jihad ini, mereka mendapatkan kehidupan dalam kesyahidan. Itulah dakwah yang diserukan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam secara global, yaitu dakwah kepada kehidupan dengan semua makna kehidupan. Sesungguhnya din ini adalah manhaj kehidupan yang sempurna, bukan sekedar keyakinan tersembunyi. Sebuah manhaj nyata yang menumbuhkan dan mengembangkan kehidupan dalam nauangannya. Dan dari sana, dialah dakwah kepada kehidupan dalam semua gambaran dan bentuknya, dalam semua lini dan petunjukknya. Ungkapan Al-Qur’an meringkaskan semua ini dalam beberapa kalimat pendek yang terwahyukan: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ Hai orang-orang beriman, sambutlah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian… Sambutlah ia dengan taat dan atas pilihan sendiri, dan sesungguhnya Alloh ta’ala Mahakuasa untuk memaksa kalian kepada petunjuk jika Dia menghendaki. وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ … dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh membatasi antara manusia dan hatinya … Aduhai betapa mengerikan dan menakutkannya gambaran akan sebuah kekuasaan yang Mahamemaksa lagi lembut: يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ ..membatasi antara manusia dan hatinya … ..sehingga Dia menghalangi antara dirinya dan hatinya, menguasai atas hati ini dan menutupinya, Dia atur sesuai yang Ia kehendaki, Ia bolak-balikkan sesuai yang Dia kehendaki, sedangkan si pemilik hati itu justru tidak berkuasa sedikitpun, padahal itu adalah hati dia yang berada dua sisi lambungnya! Benar, itu adalah sebuah gambaran yang mengerikan, yang diperankan oleh hati dalam nash Al-Qur’an, tetapi ungkapan manusia tak mampu untuk menggambarkan pengaruhnya dalam hati ini serta mensifati pengaruh ini dalam urat dan perasaan! Sungguh, itu adalah sebuah gambaran yang mau-tidak mau menjadikan seseorang selalu tersadar, selalu waspada dan hati-hati. Kesadaran akan perasaan was-was, berdebar-debar dan marah; waspada terhadap semua yang melintas di dalamnya dan setiap kecenderungan yang dikhawatirkan akan keterusan menjadi ketergelinciran; waspada selalu terhadap penggelincir-penggelincir, bisikan-bisikan dan segala sesuatu yang terlintas dalam hati serta ketergantungan yang selalu ada terhadap Alloh ta’ala karena takut kalau-kalau hati ini terbalik dalam salah satu kealpaannya, dalam salah satu kelalaiannya, atau dalam salah satu dorongannya. Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam saja, yang beliau merupakan seorang utusan Alloh yang maksum, memperbanyak berdoa kepada Robbnya: اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك “Ya Alloh Yang Mahamembolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu.” Lantas bagaimana dengan manusia biasa, yang mereka bukan rasul dan tidak ma‘shum?! Sungguh, itu adalah gambaran yang benar-benar membuat hati bergetar dan menjadikan seorang mukmin merinding ketika ia sejenak mengosongkan fikiran dengan memberikan fokus kepadanya, sembari melihat hatinya yang berada di antara dua lambungnya sementara ia berada dalam genggaman Dzat Yang Mahapemaksa lagi MahaKuasa dan ia sendiri tidak berkuasa terhadapnya sedikitpun meskipun ia membawanya di antara kedua lambungnya sambil berjalan! Sebuah gambaran yang Dia sodorkan kepada orang-orang beriman sembari menyeru: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ Hai orang-orang beriman, sambutlah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian… Untuk mengatakan kepada mereka: Sesungguhnya Alloh Mahakuasa untuk memaksa kalian terhadap petunjuk kalau Dia menghendaki, dan kuasa untuk menjadikan kalian menyambut apa yang Dia serukan kepada kalian. Tetapi Alloh ta’ala memuliakan kalian, sehingga Dia menyeru kalian agar kalian mau menyambut karena berangkat dari rasa sukarela untuk kemudian bisa mendapatkan pahala, dan berangkat dari kemauan yang akan menjadikan harkat kalian sebagai manusia terangkat serta kalian naik ke derajat amanah yang Alloh gantungkan terhadap satu makhluk bernama manusia ini … amanah hidayah pilihan, amanah khilafah yang penuh kesadaran dan amanah kemauan yang terkendali oleh sebuah tujuan dan pengetahuan. وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ … dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan. Jadi, hati kalian itu berada di hadapan-Nya, bersamaan dengan itu kalian akan dikumpulkan kepada-Nya, maka kalian tidak akan memiliki tempat berlari darinya; tidak di dunia, tidak pula di akhirat. Di saat yang sama, Alloh menyeru kalian agar kalian mau menyambut dengan sambutan kebebasan dan mendapatkan pahala, bukan sambutan seorang budak yang dipaksa. Setelah itu, Alloh mengingatkan kalian dari bahaya tidak berangkat jihad, serta bahaya menyambut panggilan kehidupan dunia dan berlonggar-longgar dari merubah kemungkaran apapun bentuknya: وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ * وَاذْكُرُواْ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مُّسْتَضْعَفُونَ فِي الأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dholim saja diantara kalian. Dan ketahuilah bahwa Alloh amat keras siksaan-Nya. Dan ingatlah, ketika kalian masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kalian takut orang-orang akan menculik kalian, maka Alloh memberi kalian tempat berlindung dan dijadikan-Nya kalian kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kalian bersyukur. (Al Anfal: 26) Sedangkan makna fitnah di sini adalah ujian dan cobaan … Dan satu komunitas yang memberikan kelonggaran kepada anggotanya untuk melakukan kezaliman dalam salah satu bentuknya — padahal kedzaliman paling besar adalah membuang syariat Alloh serta penggunaannya sebagai sistem kehidupan — dan tidak mau menghadapi orang-orang dholim serta tidak mau menempuh jalan untuk menumpas orang-orang yang berbuat kerusakan, maka itu adalah komunitas yang berhak mendapatkan hukuman lantaran kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang dholim dan perusak … Islam adalah manhaj yang saling menopang dan bersifat positif, ia tidak akan memberikan kelonggaran bagi siapapun untuk duduk diam dari kezaliman dan kerusakan serta kemungkaran yang tersebar, apalagi membiarkan mereka menyaksikan agama Alloh tidak diikuti, bahkan melihat ulûhiyah Alloh diingkari sedangkan ulûhiyyah hamba justeru tegak menggantikannya, lantas mereka diam saja kemudian setelah itu mereka mengharap agar Alloh mengeluarkan mereka dari fitnah, sebab diri mereka sendiri adalah orang-orang sholeh dan baik! Tatkala perjuangan melawan kedholiman ini membebankan beban-beban jiwa dan harta kepada manusia, maka Al-Qur’an kembali mengkisahkan mengenai generasi Islam yang pertama kali mendapatkan perintah dari Al-Qur’an ini, bagaimana mereka dahulu juga lemah dan sedikit jumlahnya, bagaimana siksaan yang harus mereka terima serta bagaimana rasa takut yang senantiasa mencekam diri mereka. Dan bagaimana kemudian Alloh memberikan tempat kepada mereka dengan agama-Nya, memuliakan dan memberinya rezeki yang baik … oleh karena itu, janganlah kalian duduk terdiam saja dari kehidupan yang diserukan oleh Sang Utusan Alloh, jangan pula duduk terdiam dari beban-beban kehidupan ini yang mana Alloh telah muliakan ia dengannya, memberinya dan menjaganya: وَاذْكُرُواْ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مُّسْتَضْعَفُونَ فِي الأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Dan ingatlah, ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kalian takut orang-orang akan menculik kalian, maka Alloh memberi kalian tempat berlindung dan dijadikan-Nya kalian kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kalian bersyukur. (Al Anfal: 26) Ingatlah akan hal ini agar kalian yakin bahwa rosul itu mengajak kalian terhadap sesuatu yang menjadikan kalian hidup, dan ingatlah hal itu agar kalian tidak hanya duduk saja dari melawan kezaliman dalam semua bentuk dan gambarannya … ingatlah hari-hari kelemahan dan ketakutan sebelum Alloh hadapkan kalian kepada peperangan melawan orang-orang musyrik dan sebelum kalian diseru rosul untuk menghadapi pasukan bersenjata sedangkan kalian saat itu merasa berat. Kemudian lihatlah bagaimana setelah seruan yang menghidupkan ini kalian menjadi orang-orang mulia, ditolong, mendapatkan pahala dan mendapatkan rezeki..Alloh beri kalian rezeki berupa kebaikan-kebaikan guna menyiapkan diri kalian untuk bisa bersyukur kepada-Nya, sehingga kalianpun mendapatkan pahala atas kesyukuran kalian karena anugerah darinya! Ungkapan ini melukiskan sebuah gambaran hidup mengenai kondisi minoritas, lemah, resah dan takut: تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ.. … kalian takut orang-orang akan menculik kalian … Itulah pemandangan akan sebuah penantian penuh kecemasan, menunggu dengan penuh mencekam, sampai-sampai mata benar-benar melihat tanda-tanda ketakutan, gerakan-gerakan mengerikan dan mata-mata yang menyimpang, tangan-tangan yang siap menerkan; sementara minoritas muslim ini sedang dalam pengawasan dan intaian! Dari pemandangan mengerikan ini menuju kepada keamanan, kekuatan, kemenangan, rezeki yang baik dan perbendaan yang mulia, di bawah naungan Alloh yang telah memberikan tempat kepada mereka menuju penjagaan dari-Nya: فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ … maka Alloh memberi kalian tempat berlindung dan dijadikan-Nya kalian kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik … Di bawah naungan pengarahan dari Alloh kepada mereka agar mereka mau bersyukur sehingga merekapun diberi pahala: لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ … agar kalian bersyukur . Maka, siapakah gerangan yang mau merenungkan pergeseran yang sedemikian jauh ini, kemudian ia tidak mau menyahut suara kehidupan yang aman, kuat dan kaya..suara seorang rosul terpercaya lagi mulia..kemudian siapakah gerangan yang tidak mau bersyukur kepada Alloh atas penempatan yang Ia berikan, atas pertolongan dan kenikmatan-kenikmatan-Nya, sedangkan pemandangan ini dan yang itu terpampang di hadapannya, dan masing-masing memiliki pengaruh dan ilham? Kaum tersebut hidup dalam pemandangan pertama dan kedua, jadi mereka ingat akan apa yang mereka ketahui sendiri dari kondisi mereka tempo dulu dan sekarang. Dari sanalah, Al-Qur’an ini begitu terasa dengan kesan seperti dalam diri mereka. Sedangkan kelompok muslim yang berjihad hari ini untuk mengembalikan terbentuknya din ini dalam kehidupan nyata di muka bumi dan di dalam kehidupan manusia, barangkali ia tidak melewati dua tahapan di atas serta tidak merasakan dua perasaan. Akan tetapi ternyata Al-Qur’an ini memanggil dengan hakikat ini juga kalaulah mereka hari ini ternyata mereka hanya merasakan hidup seperti dalam firman Alloh ta‘âlâ: إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مُّسْتَضْعَفُونَ فِي الأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ … ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kalian takut orang-orang akan menculik kalian … Maka yang lebih baik baginya adalah menyambut dakwah kepada kehidupan yang diserukan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan hendaknya ia selalu menghadirkan rasa yakin dan percaya akan janji Alloh terhadap kelompok yang Islam, janji yang telah direalisasikan oleh generasi pertama, dan Dia berjanji akan merealisasikannya bagi setiap kelompok yang selalu istiqômah di atas jalan-Nya serta bersabar di atas beban-bebannya..dan hendaknya ia selalu menanti firman Alloh ta‘âlâ: فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ … maka Alloh memberi kalian tempat berlindung dan dijadikan-Nya kalian kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kalian bersyukur. Dan sesungguhnya ia sedang bergaul dengan janji Alloh yang pasti benar, bukan dengan tanda-tanda yang nampak dalam kenyataan serta yang menipu itu. Sementara janji Alloh itulah kenyataan yang terjadi dalam kelompok muslim yang menguatkan keadaan! Daftar Isi Judul Wahai Para Pemuda Yang telah menceraikan Dunia Kata Pengantar Nabi Musa AS keluar dalam keadaan takut dan was-was Bangunlah perumahan untuk kaum kalian berdua di Mesir dan jadikanlah perumahan kalian sebagai qiblat Berindunglah kalian ke dalam goa niscaya Robb kalian akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian Perburuan terhadap sebaik-baik manusia dan penutup para nabi dan Rosul Perburuan terhadap para sahabat Rosul dan hijroh mereka ke Habasyah Kisah perburuan terhadap dua orang sahabat setelah melakukan aksi jihad, dan keduanya tidak menyerahlan diri kepada hukum Quroisy (yang toleran) Bersembunyinya para sahabat dari Al Musrif (Muslim bin ‘Uqbah) ketika ia menghalalkan kota Madinah selama tiga hari Sa’id bin Jubair dan kisah pelariannya selama 12 tahun dari Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi ‘Abdulloh bin Al Harits Al Hasyimi rohimahulloh melarikan diri dari kejaran Al Hajjaj Asy Sya’bi rohimahulloh bersembunyi selama delapan bulan dari kejaran Al Mukhtab bin ‘Ubaid Al Hasan Al Bashri rohimahulloh bersembunyi dari kejaran Al Hajjaj sehingga tidak dapat mengiringi jenazah anak perempuannya Sufyan Ats Tsauri rohimahulloh melarikan diri dari kejaran seorang Kholifah dari Bani ‘Abbasiyah Ashbagh bin Al Faroj rohimahulloh melarikan diri dari kejaran Al Mu’tashim ketika terjadi fitnah Ahmad bin Hambal rohimahulloh tidak keluar mengikuti sholat jama’ah atau yang lainnya sampai Al Watsiq binasa Al Hasan bin ‘Ali Al Barbahari rohimahulloh melarikan diri ketika hendak ditangkap Abu Bakar An Nablusi rohimahulloh melarikan diri kejaran orang-orang ‘Ubaidiyyun Penutup Selesai diterjemahkan oleh Pada tgl. 10 Juli 2006 M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: