Kepada Mujahidah yang sedang diuji dengan kepergian suaminya[1]

Dia keluar dari rumahnya dan pulang ke rumah keluarganya dengan menangis dan mengadukan permasalahannya.

Belum genap dua tahun dia meninggalkan rumah keluarganya bersama suaminya, dan pada hari ini dia kembali lagi. Dia kembali dengan membawa bayinya yang masih kecil. Semua yang dia miliki dia bawa pulang…

Tahukah anda ke mana suaminya? Dan kenapa dia meninggalkannya? Apakah dia menceraikannya?

Ketika ditanya dia menjawab; “Dia telah berpamitan untuk selamanya, dia mengatakan mau keluar untuk berjihad di jalan Alloh.”

Duh…. seandainya dia mau berjihad di negeri yang jauh … Dia mau berjihad di sini .. Di dalam negeri ini…

Keluarga dan kerabatnya pun ribut dan mengatakan: “Gila …bodoh… sinting …dst.”

Bagaimana dia tinggalkan keluarganya? Jika dia belum menikah itu lebih baik baginya.. bagaimana dia rela istrinya menjanda? Dan bagaimana dia rela anaknya menjadi yatim? Bagaimana dia bisa meninggalkan pekerjaannya? Sedangkan dia berkeinginan untuk menekuninya… sesungguhnya dia bisa beramal dibidang dakwah dan dapat membela agama Alloh jika dia memang sungguh-sungguh. Dia bisa ikut bekerja untuk membuat majalah yang bertujuan untuk berjihad, bukankah jihad itu juga bisa dengan pena..

Temannya mengatakan: “Aku tahu apa yang mendorong dia untuk meninggalkanmu. Kamu tidak bisa berbuat baik dan berdandan di hadapannya… Seandainya kamu bisa melakukan hal itu dengan baik pasti dia tidak akan meninggalkanmu.

Dan saudara perempuannya mengatakan: “Aku telah ingatkan kamu agar jangan menikah dengan pemuda semacam dia ini. Mereka itu tidak bertanggung jawab… dan tidak mampu mengendalikan semangatnya.

Wahai saudariku… Jangan kau hiraukan manusia-manusia itu. …Teguhkanlah pendirianmu sesungguhnya kamu diatas kebenaran….. Sungguh suamimu telah keluar untuk berjihad … dia pergi bukan karena tidak mencintaimu…Tapi dia pergi untuk melaksanakan perintah Alloh dan kamu akan ikut menuai pahalanya jika kamu bersabar dan ikhlas. Jangan terpedaya dengan sedikitnya orang yang menempuh jalan ini. Sungguh itulah keterasingan dikatakan oleh rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam., :

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Sungguh orang-orang asing itu akan mendapatkan Thuba (sebuah pohon di syurga).”

Sungguh apa yang telah kamu dengar itu sangat sedikit jika dibanding dengan apa yang menimpa Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istrinya dan anak-anaknya. Sungguh Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa sallam, berhijroh dan beliau tinggalkan anak-anaknya di Makkah. Dan begitu pula Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sesungguhnya itu semua adalah demi Dienul Islam yang hanya untuk itulah kita diciptakan. Dan semuanya jika untuk Dienul Islam menjadi ringan.

Dan janganlah kamu terpengaruh dengan seorang syaikh yang berceramah di televisi dan mengatakan: “Jihad itu adalah bencana …” Sesungguhnya bencana itu jika kamu mengikuti keinginan pemerintah.. Jangan sekali-kali kamu terkecoh dengan para syaikh itu. Alloh berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ

“ Jika kamu mentaati kebanyakan orang di muka bumi ini pasti mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka itu hanyalah mengikuti prasangka belaka “. (QS. Al An’am : 116).

Apakah kamu melihat mereka mengatakan sesuai dengan Agama Alloh.? Ataukah kamu melihat mereka bertoleransi dengan pemerintah?

Jika kamu mengatakan : ” Suamiku akan meninggalkanku selamanya…” Perkataanmu ini tidaklah benar, tidak….tidak selamanya… besok kamu akan berjumpa dengannya di Syurga kelak jika kamu tetap teguh pendirian.

Dan kamu juga tahu bahwa tidak ada seorang pun kecuali pasti berpisah dengan kekasihnya, namun Alloh mempercepat perpisahanmu dengan suamimu. Dan Alloh telah tetapkan sebagian manusia sebentar dalam bersenang-senang dengan kekasih mereka lalu akhirnya mereka berpisah… Temanmu itu pasti juga akan berpisah dengannya yang dia kira dia tidak akan meninggalkannya karena dia mencintainya.. Pasti dia akan meninggalkannya meskipun dia tidak suka… dia pasti mati… atau temanmu itu akan mati terlebih dahulu lalu suaminya menikah lagi dan melupakannya.

Ini semua adalah hukum alam, pasti semuanya itu akan berakhir… Adapun di akherat, di sanalah kehidupan kekal itu…kekal dan tidak akan berakhir…. Maka tutuplah matamu dari ujian yang menimpamu di dunia ini, betapapun beratnya dan beramallah… bersungguh-sungguhlah dalam beramal… sampai kamu berjumpa dengan Robbmu dalam keadaan ridlo kepadamu.. supaya kamu dapat berjumpa dengan orang-orang yang kamu cintai disana… kedua orang tuamu…suamimu… saudara-saudaramu.

Disadur dari majalah Shoutul Jihad,

edisi ke-Sembilan, Dzul Hijjah 1424 H.


[1] Ditulis oleh Ummu Da’d

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: