Kepada Mereka Yang BURON & TERTAWAN

Syaikh Abu Muhammad
‘ashim Al Maqdisi

Janganlah Bersedih …
Sesungguhnya Alloh Bersama Kita
Al-qo’idun Group
Kelompok Simpatisan dan Pendukung Mujahidin
1
Judul Asli :
La Tahzan… Innalloha Ma’anaa…
Penulis :
Asy Syaikh Al Asir Al Muwahhid Abu Muhammad ‘Ashim
Al Burqowi Al Maqdisi –fakkallohu asroh-
Judul Terjemahan :
Kepada Mereka Yang Buron & Tertawan… Janganlah
Bersedih Sesungguhnya Alloh Bersama Kita
Alih Bahasa :
Al Akh Al Asir Abu Hafs As Sayyar
Publisher
Al Qo’idun Group
Jama’ah Simpatisan & Pendukung Mujahidin
[ http://www.alqoidun.net / qoidun@yahoo.co.id ]
Semoga Alloh Jalla wa ‘Alaa membalas kebaikan orang
yang menyebar buku ini tanpa merubah isinya dan tidak
mempergunakannya untuk kepentingan komersil kecuali
seijin Publisher, pergunakanlah untuk kepentingan kaum
Muslimin !
“…Maka Bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja
kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan
intailah ditempat pengintaian…”
2
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat
dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada
penutup para Nabi dan Rosul … wa ba’du:
Ketahuilah, semoga Alloh membimbingmu kepada
segala kebaikan. Sesungguhnya antek-antek thoghut telah
memburu kami dan beberapa ikhwan muwahhidin lainnya
sejak akhir bulan Rojab tahun ini, lalu di antara ikhwan
ada yang berhasil mereka tangkap … sementara sebagian
lagi belum berhasil mereka tangkap, maka mereka
meninggalkan perintah kepada keluarganya supaya ia
datang menyerahkan diri kepada mereka … kemudian
terjadilah sedikit perselisihan antara ikhwan-ikhwan yang
tengah buron tersebut, mengenai hukum memenuhi
panggilan orang-orang kafir tersebut …
Di antara ikhwan ada yang berpendapat sebaiknya
memenuhi panggilan orang-orang kafir tersebut …
Sebagian lagi berpendapat untuk tidak memenuhi
panggilan mereka … kelompok yang berpendapat seperti
inipun terbagi menjadi dua bagian. Salah satunya
mengatakan bahwasanya kita tidak akan menyerahkan diri
dan memenuhi panggilan mereka kecuali kita telah yakin
bahwa hal itu tidak akan menimbulkan fitnah atau kita
dipenjara secara paksa …
Satu kelompok lagi mengatakan kita tidak akan
memenuhi panggilan mereka selamanya, dan jika mereka
menyergap kita, kita akan lawan dan perangi mereka
sampai kita lolos atau kita terbunuh …
3
Oleh karena itu, saya ingin — sebagai kecintaan
saya kepada para ikhwan — untuk menulis masalah ini
berdasarkan dalil syar’i supaya saya dan ikhwan-ikhwan
memahami mana yang benar dalam masalah ini …
Dengan memohon petunjuk dan bimbingan kepada
Alloh, saya katakan:
Pertama:
Disyariatkannya Dan Diperbolehkannya Lari
Dari Orang-Orang Kafir, Dan Bersembunyi
Dari Kejaran Mereka Ketika Dalam Keadaan
Lemah.
Al Bukhori meriwayatkan di dalam Shohih nya pada
Kitabul Iman; Babu Minad Dini Al Firoru Minal Fitan [Bab:
Termasuk ajaran agama adalah melarikan diri dari
bencana], dari Abu Sa’id Al Khudri, berkata: Telah
bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:
ي  وشِ  ك َأ ْ ن ي ُ ك  و َ ن  خير مالِ ْاُلم  سلِمِ َ غن  م يتب  ع بِ  ها  شع  ف اْلجِبالِ ،
 وم  واقِ  ع اْلقِ ْ طرِ ، يفِر بِدِينِهِ مِ  ن اْلفِتنِ
Hampir tiba saatnya dimana harta terbaik bagi seorang
muslim adalah kambing yang ia bawa ke puncak-puncak
gunung dan lembah-lembah. Ia lari menyelamatkan
imannya dari bencana.
Al Bukhori juga meriwayatkan di dalam Kitabul
Fitan; Babu An Takuna Fitnatul Qo’idi Fiha Khoirun Minal
4
Qo-im [Bab: Terjadi bencana, di mana pada saat itu orang
yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri], dari
Abu Huroiroh rodliyallohu ‘anhu, ia berkata: Telah
bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:
 ست ُ ك  و ُ ن فِت  ن اْلَقاعِ  د فِي  ها  خير مِ  ن اْلَقائِمِ ،  واْلَقائِ  م فِي  ها  خير مِ  ن
اْل  ماشِي  واْل  ماشِي فِي  ها  خير مِ  ن ال  ساعِي ، م  ن ت  شر  ف َل  ها ت  ست  شرُِفه
، َف  م  ن  و  ج  د مِن  ها مْل  جًأ َأ  و معاًذا َفْليع ْ ذ بِهِ
Akan terjadi fitnah (bencana, kekacauan) di mana ketika
itu orang yang duduk lebih baik daripada orang yang
berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang
berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada
orang yang berjalan cepat. Barangsiapa melongok
kepadanya akan tercebur kedalamnya. Maka barangsiapa
mendapatkan tempat berlindung atau tempat bernaung
hendaknya ia berlindung dengannya.
Dalam hadits-hadits tersebut ada pelajaran yang
mulia dan agung, yaitu disyariatkannya lari dari fitnah
(bencana), dan jangan sampai kita berjalan atau berlari ke
sana …
Di dalam hadits-hadits tersebut juga diterangkan
bahwasanya lari dari fitnah itu termasuk dari ajaran
agama dan dari iman … dan hal itu bukanlah termasuk
pengecut atau penakut sebagaimana anggapan banyak
orang.
Bagaimana lari bersembunyi dari fitnah (bencana,
cobaan) itu bisa dikategorikan dalam sifat pengecut atau
penakut sementara itu adalah tindakan yang dicontohkan
5
oleh para Nabi dan orang-orang sholih ketika dalam
kondisi lemah dan tertindas …
Lihatlah sang penutup para Nabi dan Rosul
(Muhammad), setelah beliau menyatakan dan
menyampaikan dakwahnya secara terang-terangan, dan
menunjukkan penentangan dan baro’nya terhadap orangorang
kafir dan sesembahan-sesembahan mereka yang
bathil … terkadang beliau beserta beberapa sahabatnya
menyembunyikan diri … setelah orang-orang kafir
menguasai mereka dan menyakiti mereka.
– Di dalam Shohih Al Bukhori disebutkan kisah
masuk Islamnya Abu Dzar, dan kisah pertemuannya
dengan Ali yang mengantarkannya kepada Nabi
shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan dalil untuk
persoalan ini.
– Yang lain lagi adalah hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya III/322, 339, dll
dari Jabir, tentang bai’atul ‘aqobah. Di sana Jabir
mengatakan: ” … sehingga tidak ada sebuah rumah anshor
pun kecuali di dalamnya ada beberapa orang Islam yang
menampakkan Islamnya. Kemudian mereka semua
mengadakan pertemuan. Kami berkata: Sampai kapan kita
biarkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam terusir
dan ketakutan di pegunungan Mekah? Maka 70 orang di
antara kami datang kepada beliau pada musim haji. Lalu
kami bersepakat untuk bertemu dengan beliau di lembah
Al ‘Aqobah. Maka kami menemui beliau satu-satu dan
dua-dua sampai kami semua berkumpul … sampai akhir
hadits.”
– Dan di dalam Shohih Al Bukhori disebutkan
riwayat dari ‘Abdulloh bin Mas’ud, ia berkata: “Tatkala
6
kami bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam di dalam
goa, tiba-tiba turun surat Al Mursalat kepada beliau.
Sungguh beliau membacanya dan aku menerimanya dari
mulut beliau langsung, dan sungguh bibir beliau basah
karenanya, lalu tiba-tiba ada ular melompat kepada kami.
Maka Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bunuh
dia!” Kamipun langsung mengejarnya hingga ia pergi. Lalu
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ia terjaga
dari kejahatan kalian dan kalian terjaga dari
kejahatannya.”
– Dan hadits-hadits semacam ini banyak …
– Dan Alloh ta’ala berfirman:
إِلاَّ تن  صروه َفَق  د ن  صره اللهُ إِ ْ ذَأ  خر  جه الَّذِي  ن َ كَفروا َثانِ  ي اْثنينِ إِ ْ ذ  ه  ما
فِي اْلغارِ إِ ْ ذيُقو ُ ل لِ  صاحِبِهِ َ لات  حز ْ ن إِنَّ اللهَ معنا َفَأنز َ ل اللهُ  سكِينته
 عَليهِ  وَأي  ده بِ  جنودٍ لَّ  م تر  و  ها  و  جع َ ل َ كلِ  مَة الَّذِي  ن َ كَفروا ال  س ْ فَلى
و َ كلِ  مُة اللهِ هِ  ي اْلعْليا  واللهُ  عزِيز  حكِي  م
Jikalau kalian tidak menolongnya (Muhammad) maka
sesungguhnya Alloh telah menolongnya (yaitu) ketika
orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya
(dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang
ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata
kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih,
sesungguhnya Alloh beserta kita.” Maka Alloh
menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan
membantunya dengan tentara yang kalian tidak
melihatnya, dan Alloh menjadikan kalimat orang-orang
kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Alloh itulah yang
7
tinggi. Dan Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At
Taubah: 40)
– Dan dalam kisah hijroh juga terdapat pelajaran
tentang masalah ini …
– Dan lihatlah Nabi Musa ‘alaihis salam, Alloh ta’ala
berfirman tentang beliau:
 و  جآءَ  ر  ج ٌ ل م  ن َأْق  صا اْل  مدِينةِ ي  سعى َقا َ ل يامو  سى إِنَّ اْل  ملأَ يْأتمِرو َ ن
بِ  ك لِيقْتُلو  ك َفا  خر  ج إِني َل  ك مِ  ن الناصِحِ  ين َف  خر  ج مِن  ها  خآئًِفا
يترقَّ  ب َقا َ ل  ر  ب ن  جنِي مِ  ن اْلَق  ومِ الظَّالِمِ  ين
Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota
bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa,
sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang
kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota
ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
memberi nasehat kepadamu”. Maka keluarlah Musa dari
kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan
khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku
dari orang-orang yang zalim itu”. (Al Qoshosh: 20-21)
Jika ada yang mengatakan: Itukan terjadi sebelum
beliau diangkat sebagai Nabi …
Kami jawab: Namun Nabi Musa ‘alaihis salam setelah
menjadi Nabipun tidak menyalahkan perbuatannya
tersebut, bahkan beliau membenarkannya sebagaimana
yang Alloh ta’ala beritakan dalam firman-Nya:
َففِ  ر  ت مِن ُ ك  م َل  ما خِ ْ فت ُ ك  م َف  و  ه  ب لِ  ي  رب  ي  ح ْ ك  ما  و  جعَلنِ  ي مِ  ن
اْل  م  ر  سلِي  ن
8
Lalu aku melarikan diri dari kalian tatkala aku ketakutan,
kemudian Robbku memberikan kepadaku ilmu dan
menjadikanku salah seorang diantara para Rosul. (Asy
Syu’aro’: 26)
Dan Alloh ta’ala juga berfirman tentang beliau
setelah itu:
 وَأ  و  حينآ إَِلى م  و  سى  وَأخِيهِ َأ ْ ن تب  وءَا لَِق  ومِ ُ ك  ما بِمِ  صر بي  وتا  وا  جعُل  وا
بي  وت ُ ك  م قِبَلًة  وَأقِي  م  وا ال  ص َ لاَة  وب  شرِ اْل  م  ؤمِنِي  ن
Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya:
“Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir
untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu
rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah sholat
serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. (Yunus:
87)
Ketika itu mereka bersembunyi dan sholat di rumahrumah
mereka … dalam hal ini ada kata-kata Sayyid
Quthub yang bagus yang bisa dirujuk kepada Fi Dhilalil
Qur-an, hal. 1816.
– Demikian pula para pemuda ash-habul kahfi,
setelah mereka menyampaikan tauhid mereka secara
terang-terangan dan mereka diancam oleh kaum mereka,
mereka berlindung ke goa … sebagaimana yang Alloh
ta’ala ceritakan:
 وإِذِ ا  عتزْلت  مو  ه  م  وماي  عب  دونَ إِلاَّ اللهَ َفْأ  ووا إَِلى اْل َ ك  هفِ ين  ش  ر َل ُ ك  م
 رب ُ كم من  ر  ح  متِهِ  وي  هي ْ ئ َل ُ كم م  ن َأ  مرِ ُ ك  م م  رَفَقا
Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang
mereka sembah selain Alloh, maka carilah tempat
9
berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhan kalian akan
melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan
menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam
urusan kalian. (Al Kahfi:16)
Dan Alloh ta’ala berfirman tentang mereka:
َقاُلوا  رب ُ ك  م َأ  عَل  م بِ  ما َلبِْثت  م َفابعُثوا َأ  ح  د ُ ك  م بِ  ورِقِ ُ ك  م  هذِهِ إَِلى اْل  مدِينةِ
َفْلين ُ ظ  ر َأي  هآ َأ  ز َ كى َ طعاما َفْليْأتِ ُ ك  م بِرِ  زقٍ منه  وْليتَلطَّ  ف  و َ لاي  شعِرنَّ
بِ ُ ك  م َأ  حدا إِن  ه  م إِن ي ْ ظ  هروا  عَلي ُ ك  م ي  ر  ج  مو ُ ك  م َأ  و يعِي  دو ُ ك  م فِي
مِلَّتِهِ  م  وَل  ن ت ْ فلِ  حوا إًِذا َأب  دا
Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka
saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah
seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kalian
berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini)
sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi):
“Tuhan kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian
berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara
kalian untuk pergi ke kota dengan membawa uang perak
kalian ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang
lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu
untuk kalian, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan
janganlah sekali-kali menceritakan tentang diri kalian
kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat
mengetahui tempat kalian, niscaya mereka akan
melempari kalian dengan batu, atau memaksa kalian
kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya
kalian tidak akan beruntung selama lamanya”. (Al Kahfi:
19-20)
10
Demikianlah keadaan orang-orang sholih tatkala
mereka dalam keadaan tertindas dan lemah … jika engkau
mau meneliti kisah-kisah tabi’in, pendahulu umat ini, tentu
engkau akan mendapatkan banyak contoh dalam hal ini …
Di sini saya cukup memberikan tiga contoh yang
dikatakan oleh Ibnul Jauzi di dalam kata pengantar
kitabnya yang berjudul Manaqibul Imam Ahmad bin
Hanbal: “… namun aku mencari orang-orang yang telah
berhasil mecapai tingkat kesempurnaan dalam dua hal —
– yakni ilmu dan amal — dari kalangan tabi’in dan
generasi setelah mereka. Tapi aku tidak mendapatkan
orang yang sempurna dalam dua hal tersebut, yang
kesempurnaannya tidak ternodai dengan kekurangan,
kecuali tiga orang: Al Hasan Al Bashri, Sufyan Ats Tsauri
dan Ahmad bin Hanbal.” Halaman 5.
– Adapun Al Hasan Al Bashri, ia memberontak, dan
ada yang mengatakan dia diajak memberontak, bersama
orang-orang yang memberontak Al Hajjaj pada peristiwa
pemberontakan ‘Abdur Rohman bin Al Asy’ats1, di mana
pada saat itu Ibnu Al Asy’ats bersama sekelompok qurro’
(ahli Al Qur’an) dan fuqoha’ memberontak atas kedholiman
dan kelaliman Al Hajjaj … lalu setelah Ibnu Al Asy’ats
kalah, Al Hasan Al Bashri menyembunyikan diri dari Al
Hajjaj, sampai-sampai ketika anak perempuannya
meninggal ia tidak dapat keluar menemuinya, sehingga ia
mewakilkannya kepada Ibnu Sirin …2
– Adapun Sufyan Ats Tsauri, ia melarikan diri ke
Bashroh ketika Kholifah Al Mahdi menawarkan jabatan
kepadanya … beliaulah orang yang mengatakan: “Aku
1 Lihat Siyarul A’lam An Nubala’, karangan Adz Dzahabi IV/583
2 Ibid IV/610.
11
tidak takut mereka akan menghinakan aku. Akan tetapi
yang aku takutkan hanyalah jika mereka memuliakanku
sehingga aku tidak lagi memandang kejelekan mereka
sebagai kejelekan. Aku tidak mendapatkan permisalan
untuk kekuasaan itu selain seperti lidah musang.” Ia
melanjutkan: “Aku mengetahu anjing itu memiliki 70 lebih
dustan3, dan tidak ada dustan yang lebih baik selain aku
tidak melihatnya dan ia tidak melihatku.”4
– Adapun Imam Ahmad, beliau telah bersembunyi
selama kekhilafahan Al Watsiq. Hal itu ia lakukan setelah
ia menyatakan keyakinannya tentang Al Qur’an (yakni
bahwa Al Qur’an itu kalam Alloh dan bukan makhluq –
pen.) secara terang-terangan, dan ia mendapatkan ujian
yang sangat berat karenannya … maka iapun
menyembunyikan diri selama sisa umur Al Watsiq, di
mana beliau senantiasa berpindah-pindah dari satu tempat
ke tempat lain, kemudian ia baru kembali ke rumahnya
setelah beberapa bulan, beliau bersembunyi di sana
sampai Al Watsiq meninggal dunia … Ibrohim bin Hani
berkata: Ahmad bin Hanbal bersembunyi di tempatku
selama tiga hari … kemudian Ahmad mengatakan: Carikan
tempat untukku supaya aku pindah ke tempat tersebut.
Aku jawab: Aku tidak merasa aman atas dirimu wahai Abu
‘Abdillah. Ahmad berkata: Lakukanlah! Jika aku
melakukannya aku berarti akan membinasakanmu. Akupun
mencarikan tempat untuknya. Lalu tatkala ia keluar dari
tempatku ia berkata kepadaku: Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam dahulu bersembunyi di dalam goa selama
tiga hari kemudian berpindah. Tidak sepantasnya
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam itu diikuti ketika
3 Dustan adalah bahasa Persi yang berarti makar dan tipu daya.
4 As Siyar VII/262.
12
dalam keadaan lapang saja sementara ketika dalam
keadaan susah tidak diikuti.”5
– Dalam riwayat Hanbal, mengenai bersembunyinya
Imam Ahmad semasa hidup Al Watsiq, ia mengatakan:
“Abu ‘Abdillah terus bersembunyi di Al Qorob, kemudian
kembali ke rumahnya setelah beberapa bulan atau satu
tahun ketika isu tentang dirinya telah mereda. Dan beliau
terus bersembunyi di dalam rumahnya, tidak keluar untuk
sholat atau untuk yang lainnya, sampai Al Watsiq binasa.
– Maka apabila seseorang itu menyampaikan
dakwahnya secara terang-terangan sesuai dengan
petunjuk para Nabi, ia bersikap baro’ kepada kemusyrikan
dan orang-orang musyrik, kemudian mereka memburunya
ketika ia dalam keadaan lemah, tidak memiliki kemampuan
apa-apa dan sedikit pendukungnya, maka ia tidak tercela
jika ia lari dan bersembunyi dari mereka … karena ini
adalah jejak langkah para Nabi dan orang-orang sholih
ketika mereka tertindas, sebagaimana yang engkau lihat.
Kedua:
Hukum Melarikan Diri Dari Orang-Orang Kafir
Ketika Dalam Keadaan Lemah Dan Tertindas,
Apakah Ini Wajib Atau Sunnah Atau Apa?
Apabila engkau telah memahami atas disyariatkanya
melarikan diri dari orang-orang kafir ketika dalam
5 Manaqibul Imam Ahmad, karangan Ibnul Jauzi, hal. 349.
13
keadaan tertindas dan lemah, sekarang tinggal memahami
apa hukumnya. Dengan memohon petunjuk kepada Alloh
kami jawab:
Sesungguhnya hukumnya itu dikembalikan kepada
kondisi orang yang memburu dan orang yang menjadi
buron …
– Apabila orang yang dicari itu adalah orang yang
memiliki pengaruh atau kerabat atau kekuatan, sementara
ia tahu atau yakin bahwa ia tidak akan dihinakan atau
disakiti jika ia memenuhi panggilan mereka, ia
diperbolehkan memenuhi panggilan mereka. Bahkan
mungkin dianjurkan jika ia mampu idh-harud din
(menunjukkan keyakinannya) di hadapan mereka, dan
memperdengarkan apa yang mereka benci, berupa ajaran
tauhid dan celaan bagi sesembahan-sesembahan dan
tuhan-tuhan mereka, serta baro’ terhadap kebatilan dan
kemusyrikan mereka.
– Adapun jika orang yang dicari itu adalah orang
yang lemah, dan ia yakin mereka akan menghinakannya
atau menyakitinya atau mereka akan memperdengarkan
kekafiran dan kemusyrikan yang nyata kepadanya, yang
mana ia tidak mampu membantahnya atau justru ia akan
menampakkan sikap setuju dan ridlo sebagai bentuk
taqiyyah setelah ia memenuhi panggilan mereka secara
suka rela … orang yang seperti ini sama sekali tidak halal
baginya mendatangi mereka secara suka rela tanpa
penangkapan …
Karena dengan begitu berarti ia pergi menuju fitnah
(bencana), padahal di depan telah disebutkan larangan
berbuat seperti itu dalam berbagai hadits … dalam kondisi
seperti ini hendaknya orang yang dicari itu mengikuti
14
teladan yang baik dari para Nabi dan para pengikut
mereka yang sholih, yang mana mereka lari
menyelamatkan din (iman) mereka dari orang-orang kafir

– Dan hijroh ke Habasyah yang dilakukan oleh kaum
muhajirin tahap pertama itu merupakan contoh dalam
persoalan ini …
– Karena orang-orang yang takut dan khawatir
terhadap gangguan dan kejahatan orang-orang musyrik
telah berhijroh ke sana, sementara itu orang-orang yang
terpandang seperti Abu Bakar, Umar dan lain-lain tidak
berhijroh sampai mereka diperintahkan untuk hijroh ke
Madinah …
– Dan dalam kondisi semacam ini tidak bisa
dikatakan bahwa orang yang dicari itu dalam keadaan
mukroh (dipaksa) sehingga ia boleh memenuhi panggilan
mereka, kemudian ia bersikap taqiyah terhadap mereka …
Sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang
yang mendatangi antek-antek thoghut secara suka rela,
tatkala mereka ditanya tentang kami dan tentang kajian
kami, di antara mereka ada yang mengatakan: Seandainya
kami tahu bahwa kajian Abu Muhammad itu akan
mengancam keamanan negara atau yang semacam itu
tentu kami orang yang pertama kali menyampaikannya …
Apa yang mereka lakukan ini adalah menunjukkan sikap
wala’ (loyal) mereka kepada antek-antek thoghut tersebut
dan sikap permusuhan mereka terhadap orang yang
mengancam keamanan negara kafir, dengan tanpa ada
kebutuhan yang mendesak dan ikroh (keterpaksaan) …
Jika ada yang mengatakan: Dahulu tatkala kami
mengucapkan seperti itu kami tengah berada di hadapan
15
mereka dan di bawah kekuasaan mereka … maka dijawab:
Akan tetapi kalian sendiri yang telah pergi kepada mereka
dan masuk ke dalam kekuasaan mereka secara suka rela
dengan tanpa proses penangkapan atau ikroh (paksaan) …
Oleh karena itu saya katakan, sungguh kondisi
mereka itu — yakni kondisi orang yang menunjukkan
keberfihakkannya dan keridloannya kepada kekafiran dan
kesyirikan mereka dan kemudian beralasan dengan
taqiyah atau ikroh padahal sebelumnya ia memiliki
kemampuan untuk hijroh dan melarikan diri — sangatlah
mirip dengan kondisi orang yang dahulu masuk Islam di
Mekah kemudian tidak berhijroh dan tidak menyusul Nabi
shollallohu ‘alaihi wa sallam ke Madinah, karena sayang
dengan tempat tinggal atau istri atau negeri mereka,
sehingga tatkala terjadi yaumul furqon (hari yang
memisahkan antara pasukan Alloh dan pasukan Syetan), di
mana dua pasukan saling bertemu, orang-orang musyrik
memaksa mereka untuk ikut berperang bersama mereka
dan menempatkan mereka di barisan depan. Sehingga
apabila kaum muslimin memanah, terkena salah seorang
di antara mereka itu, lalu kaum muslimin yang memanah
itu mengatakan: Kita telah membunuh saudara-saudara
kita. Maka Alloh ta’ala menurunkan firman-Nya:
إِنَّ الَّذِي  ن ت  وفَّا  ه  م اْل  م َ لائِ َ كُة َ ظالِمِي َأنُفسِهِ  م َقاُلوا فِي  م ُ كنت  م َقاُلوا ُ كنا
م  ست  ضعفِ  ين فِي ْالأَ  رضِ َقاُلوا َأَل  م ت ُ ك  ن َأ  ر  ض اللهِ  واسِعًة َفت  هاجِروا
فِي  ها َفُأ  و َ لائِ  ك مْأ  وا  ه  م  ج  هن  م  و  سآءَ  ت مصِ  يرا
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat
dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka)
malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kalian
16
ini?”. Mereka menjawab: “Kami dahulu adalah orangorang
yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat
berkata: “Bukankah bumi Alloh itu luas, sehingga kalian
dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya
neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk
tempat kembali, (An Nisa’: 97)
Kenapa Alloh ta’ala tidak menerima udzur mereka yang
beralasan tertindas dan lemah, lalu mereka dipaksa keluar
dalam barisan orang-orang kafir ..??! Jawabannya adalah:
Karena mereka tinggal di tengah-tengah orang-orang
kafir sebelum kejadian itu bukan karena terpaksa, akan
tetapi sebenarnya pada awalnya mereka mampu untuk
melarikan diri dan hijroh … maka tatkala mereka
melakukan kesalahan seperti itu, alasan mereka dikuasai
orang-orang musyrik dan lemah itu tidak diterima, karena
mereka sendiri yang menyebabkan diri mereka lemah dan
dikuasai orang-orang kafir …
Di dalam risalah Hukmu Muwalati Ahlil Isyrok yang
dikenal oleh penduduk Nejd dengan Ad Dalail karena di
dalam risalah tersebut disebutkan lebih dari dua puluh
dalil atas kafirnya orang yang berwala’ kepada orang
musyrik, Syaikh Sulaiman bin ‘Abdulloh bin Muhammad bin
‘Abdul Wahhab berkata: “Jika ada yang bertanya: Apakah
ikroh (paksaan) agar ikut berperang yang dialami oleh
orang-orang yang terbunuh pada perang Badar itu dapat
diterima sebagai udzur? Jawabnya adalah hal itu tidak
diterima sebagai udzur, karena pada awalnya mereka
bukanlah orang-orang yang berudzur untuk tetap tinggal
bersama orang-orang kafir, maka alasan ikroh mereka
tidak diterima, karena mereka sendirilah yang
menyebabkan seperti itu, lantaran mereka tinggal
bersama orang-orang kafir dan tidak mau hijroh.”
17
Hendaknya orang yang berakal memperhatikan,
memahami dan mengerti bahwasanya barangsiapa
mengetahui bahwa dirinya lemah dan bahwa dirinya tidak
akan mampu idh-harud din (menunjukkan keyakinannya)
di hadapan orang-orang kafir, akan tetapi justru
sebaliknya, ia akan menampakkan wala’ dan keridloannya
kepada kekafiran, kesyirikan dan kebatilan mereka …
maka tidak halal baginya dalam kondisi semacam ini untuk
pergi kepada mereka secara suka rela ketika mereka
mencarinya … kecuali jika mereka memaksa dan
menangkapnya, ketika itu jika memaksanya untuk suatu
kekafiran yang disertai dengan ikroh yang shah secara
syar’i, yang batasan-batasan dan syarat-syaratnya
dikenal oleh para ulama’ … maka orang yang semacam ini
diterima alasannya …6 Namun jika ia sendiri yang datang
dan menjemput fitnah (bencana) kemudian dia dipanggil
untuk masuk ke dalamnya secara sukarela, kemudian dia
beralasan dengan ikroh (dipaksa) … padahal tidak ada
ikroh, maka dalam kondisi seperti ini hendaknya dia takut
terhadap murka Alloh … karena Alloh ta’ala telah
berfirman, setelah Ia melarang berwala’ kepada orangorang
kafir, kemudian Alloh ta’ala mengecualikan orang
yang terkena ikroh sehingga ia bersikap taqiyah terhadap
mereka, Alloh ta’ala berfirman:
 وي  حذِّ  ر ُ ك  م اللهُ ن ْ ف  سه  وإَِلى اللهِ اْل  مصِ  ير
Dan Alloh memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-
Nya. Dan hanya kepada Alloh kalian kembali (Ali ‘Imron:
28).
6 Lihat Risalah Millah Ibrohim, hal. 50.
18
– Kemudian, untuk kepentingan apa seorang
miwahhid itu dicari, ini juga menjadi bahan pertimbangan

Karena tidaklah masuk akal jika seorang muwahhid
diminta datang untuk suatu urusan sepele yang tidak
mengandung unsur penghinaan atau fitnah (gangguan)
atau mendengar kekafiran, kemudian dia melarikan diri
atau melakukan perlawanan atau yang semacam itu …
demikian pula jika dia diminta untuk memberikan
kesaksian untuk orang yang haknya dirampas secara
dholim supaya haknya dikembalikan, sementara di sana
tidak ada unsur penghinaan atau penjerumusan kepada
kekafiran. Dalam keadaan seperti ini bisa jadi hukumnya
malah wajib baginya, jika persoalannya berkaitan dengan
dirinya sementara tidak ada saksi lain selain dirinya atau
kasus-kasus lain yang semacam ini. Maka masalah ini
haruslah diperinci dan harus mempertimbangkan
persoalan-persoalan semacam ini …
– Demikian pula kondisi orang yang mencarinya juga
harus dijadikan bahan pertimbangan, meskipun yang
tengah kita bicarakan adalah orang-orang kafir dan
antek-antek mereka. Karena terkadang diantara orangorang
kafir itu ada orang yang dikenal sebagai orang yang
tidak suka dengan kedholiman. Sebagaimana berita
tentang An Najasyi ketika dia masih menganut Kristen dan
belum masuk Islam … dan demikianlah ketika pada
sahabat yang berada di negerinya dipanggil, kemudian
datang dua orang utusan Quraisy, yakni ‘Abdulloh bin Abi
Robi’ah bin Mughiroh dan ‘Amr bin Al ‘Ash, supaya ia
mengembalikan para sahabat itu ke Mekah. Maka An
Najasyi pun memanggil para sahabat Nabi tersebut untuk
mengkaji kasus mereka, supaya dia dapat memustuskan
19
apakah mereka akan dikembalikan ke Mekah atau tetap
dibiarkan tinggal di negerinya … saya katakan:
Sesungguhnya yang mendorong para sahabat memenuhi
panggilan An Najasyi secara sukarela, meskipun mereka
mampu untuk melarikan diri, adalah karena mereka yakin
bahwa An Najasyi tidak akan berbuat dholim kepada
mereka … silahkan lihat kisah mereka ini di dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, istri Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dengan sanad jayyid (I/5, 201, 290). Di sana
disebutkan perkataan Ja’far rodliyallohu ‘anhu tentang
orang-orang Quraisy, ia mengatakan: “Tatkala mereka
menindas, menganiaya dan menekan kami, dan
menghalangi kami untuk menganut agama kami, kami
pergi ke negerimu, kami memilihmu daripada yang lain,
kami ingin mendapat perlindunganmu dan kami mengharap
tidak didholimi tinggal bersamamu, wahai Raja.”
Seandainya tindakan mereka ini salah atau munkar,
tentu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak tinggal
diam, dan tentu beliau tidak membiarkannya akan tetapi
beliau pasti akan menyalahkannya … karena di antara
sifat beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam itu adalah:
يْأمر  ه  م باِْل  م  عر  وفِ  وين  ها  ه  م  عنِ اْل  من َ كرِ  ويحِلُّ َل  ه  م الطَّيباتِ  وي  حرم
 عَليهِ  م اْل  خبائِ َ ث
… memerintahkan mereka agar berbuat ma’ruf, melarang
mereka agar tidak berbuat munkar, menghalalkan yang
baik-baik untuk mereka dan mengharamkan yang burukburuk
untuk mereka. (Al A’rof: 157)
– Apabila hal ini telah dimengerti, sesungguhnya jika
orang yang dicari itu memiliki perkiraan kuat bahwa orang
20
kafir yang mencarinya itu tidak akan mendholiminya atau
menyakitinya, maka boleh baginya untuk memenuhi
panggilannya dan mendatanginya, karena dikhawatirkan
kasusnya akan semakin besar dan naik … kasus semacam
ini terjadi di banyak negara yang menyerukan kebebasan,
hak asasi manusia, demokrasi dan ideologi-ideologi kafir
modern lainnya … Ini bukan berarti mendukung atau
berhukum dengan ideologi-ideologi, sistem-sistem dan
pemikiran-pemikiran tersebut … akan tetapi ini adalah
mengambil manfaat dari suatu situasi yang mau tidak mau
tetap ada. Hal ini sebagaimana halnya dengan mengambil
manfaat dari fanatisme golongan atau suku tatkala
anggota suku tersebut bangkit membela seorang
muwahhid yang berasal dari suku mereka sementara suku
tersebut adalah suku kafir … yang semacam ini; yakni
fanatisme kesukuan yang jahiliyah, yang membela
saudaranya meskipun mereka tidak mendukung
keyakinannya, tidak merusak dan tidak menodai
tauhidnya, atau dianggap sebagai dukungan dan berhukum
kepada kejahiliyahan!! Dalilnya adalah, Alloh ta’ala
menganugerahi Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan
perlindungan dan pembelaan pamannya yang kafir. Alloh
ta’ala berfirman:
َأَل  م يجِ  د  ك يتِيمًا َفآ  وى
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu
Dia melindungimu. (Adl Dluha: 93)
Artinya, menyerahkan perlindunganmu kepada pamanmu
yang kafir … Hal ini sebagaimana keluarga Syu’aib yang
membelanya dari orang-orang kafir. Alloh ta’ala
berfirman mengenai musuh-musuh Nabi-Nya:
21
 وَل  و َ لا  ر  ه ُ ط  ك َلر  ج  منا  ك
“kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah
merajam kamu.” (Hud: 11)
Padahal keluarganya adalah orang-orang kafir …
Demikian pula walinya Nabi Sholih ‘alaihis salam yang
ditakuti oleh orang-orang kafir.
َقاُل  وا تَقا  س  م  وا بِاللهِ لِنبيتنه  وَأ  هَله ُث  م َلنُق  وَل  ن لِ  ولِيهِ ما  شهِ  دنا م  هلِ  ك
َأ  هلِهِ  وإِنا َل  صادُِق  و َ ن
Mereka berkata: Bersumpahlah kalian kepada Alloh
bahwa kami benar-benar akan menyergap keluarganya
pada malam hari kemudian kami akan mengatakan kepada
walinya; Kami tidak menyaksikan binasanya keluarganya
dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang jujur.
– Maka ketika seseorang itu memiliki perkiraan kuat
bahwa orang kafir yang mencarinya itu terhalangi oleh
penghalang-penghalang berupa hukum atau etika atau
fanatisme atau kejahiliyahan, untuk mendholimi atau
menyakitinya, maka ia diperbolehkan untuk datang
menemuinya, jika dikhawatirkan ia akan terkena fitnah
(bencana) yang lebih besar atau perkaranya akan
diperbesar … wallohu a’lam … kemudian ia tinggal
bermusyawaroh dan beristikhoroh mana yang baik
baginya dalam persoalan ini …
– Lain ceritanya jika ia memiliki perkiraan kuat
bahwa orang kafir tersebut akan membunuhnya jika ia
menemuinya, atau ia akan menawan dan
memenjarakannya dalam waktu yang lama atau seumur
hidup, maka yang semacam ini haram dilakukan karena
22
hal ini termasuk dalam kategori menceburkan diri dalam
kebinasaan, padahal Alloh ta’ala telah berfirman:
 و َ لا تْلُق  وا بَِأيدِي ُ ك  م إَِلى الت  هُل َ كةِ
Dan janganlah kalian ceburkan diri kalian dalam
kebinasaan.7
Atau dia mempunyai perkiraan kuat bahwa jika ia
mendatangi orang kafir tersebut ia akan menyakitinya.
Dalam kondisi seperti ini di depan telah kami bahas
tentang larangan mendatangi fitnah (bencana).
– Demikian pula jika ia tahu bahwa jika ia
mendatangi orang kafir tersebut ia akan mendholimi
dirinya, maka janganlah ia mendatangi orang yang akan
mendholiminya, kecuali jika dikhawatirkan kalau dia tidak
mendatanginya akan timbul kedholiman yang lebih besar

– Demikian pula jika ia mengetahui bahwa orang
kafir tersebut akan memperdengarkan kepadanya katakata
kekafiran, kesyirikan dan kebatilan, sementara orang
yang dicari tersebut tidak mampu untuk melawan atau
membantah atau idh-harud din (menunjukkan
7 Tidak boleh dikatakan bahwa ayat ini turun sebagai peringatan terhadap orang
yang tidak mau berjihad dan berinfak di jalan Alloh saja, dan bahwasanya ayat
ini khusus berkenaan dengan kasus seperti ini. Karena suatu kesimpulan itu
diambil dari lafadh nashnya yang bersifat umum dan bukan dari sebab turunnya
yang bersifat khusus. Sementara itu kami tidak menggunakan dalil ini untuk
meninggalkan jihad, akan tetapi kami menggunakannya sebagai dalil untuk tidak
mendatangi orang kafir secara sukarela sementara ia memiliki perkiraan kuat
bahwa jika ia menemuinya ia akan dibunuh atau dipenjara seumur hidup atau
yang lainnya. Hal ini masuk dalam firman Alloh ta’ala yang berbunyi:
 و َ لا ت ْ قتُل  وا َأنُف  س ُ ك  م إِنَّ اللهَ َ كا َ ن بِ ُ ك  م  رحِي  ما
Janganlah kalian bunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Alloh itu Maha
Penyayang terhadap diri kalian. (An Nisa’)
Ini bukan persoalan perang dan jihad.
23
keyakinannya) … karena Alloh ta’ala telah mengharamkan
duduk di tempat yang seperti ini … terlebih lagi
mendatanginya secara sukarela … Alloh ta’ala berfirman:
 وَق  د نز َ ل  عَلي ُ ك  م فِي اْلكِتابِ َأ ْ ن إَِذا  سمِ  عت  م ءَاياتِ اللهِ ي ْ كَفر بِ  ها
 وي  ست  هزُأ بِ  ها َف َ لا ت ْ قع  دوا مع  ه  م  حتى ي  خو  ضوا فِي  حدِيثٍ َ غيرِهِ
إِن ُ ك  م إًِذا مْثُل  ه  م إِنَّ اللهَ  جامِ  ع اْل  منافِقِ  ين  واْل َ كافِرِي  ن فِي  ج  هن  م  جمِيعا
Dan sungguh Alloh telah menurunkan penjelasan kepada
kalian di dalam Al Quran bahwa apabila kalian mendengar
ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan, maka
janganlah kalian duduk beserta mereka, sehingga mereka
memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya
(kalau kalian berbuat demikian), tentulah kalian serupa
dengan mereka. Sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan
semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di
dalam Jahannam. (An Nisa’: 140)
– Maka, janganlah ia secara suka rela pergi untuk
duduk di sebuah majlis seperti ini, sementara dia tahu
bahwa pada waktu itu dirinya tidak akan mampu untuk
menentang atau meninggalkan majlis tersebut …
– Lain halnya jika dia tahu bahwa dirinya mampu
untuk membantah dan idh-harud din (menunjukkan ajaran
agama) dan keyakinannya, dan dia aman dari gangguan
dan pembunuhan atau yang lainnya …
* Ini pembahasan tentang pergi menemui orang kafir
… adapun jika orang-orang kafir telah mengepungnya
dari segala penjuru, dan tidak memungkinkan baginya
untuk melarikan diri, dan dia tidak tahu apa yang bakal
dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap dirinya, maka
24
ia diperbolehkan untuk berijtihad sesuai dengan perkiraan
dia yang paling kuat, ia boleh menyerah jika ia perkirakan
ia akan selamat, atau melawan sampai ia selamat atau
terbunuh jika ia memiliki perkiraan kuat mereka akan
mengkhianatinya. Dalam hal ini dalilnya adalah hadits
yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dalam Babu Hal
Yasta’sirur Rojulu? Wa Man Lam Yasta’sir. (Bab: Apakah
seseorang boleh menyerah untuk ditawan? Dan bagaimana
dengan orang yang tidak mau menyerah untuk ditawan)
(VI/165), dari Abu Huroiroh mengenai kisah sepuluh orang
yang diutus Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pada
peristiwa Ar Roji’. Di mana mereka dikepung oleh 100
orang yang seluruhnya adalah pemanah. Kemudian
mereka memberikan jaminan kepada sepuluh orang
sahabat tersebut bahwa mereka tidak akan membunuh
seorangpun dari mereka. Lalu di antara sahabat ada yang
tidak mau menerima menjadi tawanan orang kafir karena
khawatir mereka akan berkhianat kemudian
membunuhnya. Dan di antara sahabat ada yang menyerah
untuk ditawan, namun kemudian orang-orang kafir itu
mengkhianatinya. Di antara mereka yang menyerah untuk
ditawan adalah Khubaib rodliyallohu ‘anhu, yang kisahnya
disebutkan dalam hadits tersebut. Namun demikian tidak
ada riwayat dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang
menyebutkan bahwa beliau menyalahkan salah seorang
dari mereka di dalam berijtihad untuk menentukan sikap
masing-masing. Karena ketika itu mereka dikepung dan
tidak mungkin mereka untuk melarikan diri atau untuk
menang … wallohu a’lam.
25
Ketiga:
Tidak Diperbolehkannya Seorang Muwahhid
Mendatangi Dan Memenuhi Panggilan Orang
Kafir Itu Bukan Berarti Ia Harus Melakukan
Konfrontasi Bersenjata
Yang kita bahas ini adalah ketika seorang muwahhid
dalam kondisi lemah dan sedikit kemampuannya.
Sedangkan dalam kondisi semacam ini ia tidak wajib untuk
berperang dan melakukan konfrontasi … Memang kami
tahu bahwa di sana ada nash-nash yang bersifat umum
yang menerangkan atas disyariatkannya berperang atau
berjihad secara sendirian atau bersama beberapa ikhwan
melawan orang-orang kafir. Dan hal itu menurut kami
diperbolehkan dan disyariatkan, meskipun ketika tidak
ada imam (pemimpim yang memimpin umat Islam), yang
mana permasalahan ini telah kami bahas secara terperinci
di dalam risalah kami yang berjudul Naz’ul Hussam. Akan
tetapi dalam kasus seperti ini berlaku pertimbangan
mafasid dan masholih syar’iyah (untung rugi menurut
timbangan syar’i) …
Karena suatu perbuatan itu jika menimbulkan
mafsadah dan kemungkaran yang lebih besar maka
perbuatan tersebut tidak masyru’ (disyariatkan) …
Sedangkan konfrontasi yang dapat mewujudkan
kemaslahatan yang besar dan hakiki untuk Islam dan
kaum muslimin, memerlukan persiapan yang serius, dan
bukan muncul karena dipaksa oleh orang-orang kafir
sementara mereka yang menentukan waktunya … karena
seorang muslim yang cerdas hendaknya berbuat
26
berdasarkan perencanaan dan persiapan yang dia buat …
bukan malah terpancing dan terdorong oleh perencanaan
musuh … hal ini jika seorang muwahhid tersebut
termasuk orang yang menginginkan kemenangan yang
hakiki dan besar untuk Islam, dan menyiapkan
pertempuran yang dahsyat dengan thoghut … dan juga,
jika ia termasuk orang yang berorientasi jihad dan perang,
seperti aksi-aksi ightiyal (membunuh secara diam-diam)
terhadap aimmatul kufri (para pentolan kekafiran) dan
antek-anteknya … sesungguhnya orang semacam ini
hendaknya berbagai serangannya terfokus dan terencana
betul, jika ia ingin membuat pukulan yang semaksimal
mungkin pada musuh-musuh Alloh. Atas dasar ini,
hendaknya ia tidak terpancing oleh aksi-aksi musuh untuk
melakukan konfrontasi tanpa perhitungan …
– Adapun orang yang berhujjah dengan kisah Abu
Bashir yang memerangi orang-orang kafir, sementara dia
bersama sekelompok kecil dari orang-orang beriman
yang tertindas, yang melarikan diri dari bangsa Quraisy,
hendaknya ia memperhatikan betul terhadap kasus yang
ia jadikan hujjah tersebut, jika ia benar-benar hendak
mencari kebenaran … karena sesungguhnya Abu Bashir
yang memerangi dan menyergap kafilah-kafilah Quraisy
itu tidak bergabung dengan Nabi shollallohu ‘alaihi wa
sallam dan Nabipun tidak pula bertanggungjawab dan dan
tidak menanggung akibat-akibatnya … karena kelompok
Abu Bashir tersebut tidak dianggap oleh orang-orang
kafir sebagai bagian dari Jama’ah Islam … sehingga aksiaksi
mereka tidak menimbulkan hal-hal negatif, atau
manimpakan mafsadah dan bahaya terhadap Jama’ah
Islam, atau katakanlah terhadap dakwah … jika orang
yang berhujjah dengan kisah tersebut memperhitungkan
mafsadah dan mashlahah … maka hujjahnya itu
27
dibenarkan dan tindakannya itu masyru’ … Oleh karena itu
tatkala Abu Bashir membunuh seseorang dari Bani ‘Amir,
di mana dia adalah salah satu dari dua orang yang
dipasrahi kembali Abu Bashir oleh Nabi shollallohu ‘alaihi
wa sallam untuk dikembalikan kepada bangsa Quraisy,
bangsa Quraisy tidak menuntut diyat (denda) kepada
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, atau menyalahkan
beliau atas kejadian itu, atau mengganggu perjanjian
sedikitpun. Karena tindakan-tindakan Abu Bashir ketika
itu tidak dianggap sebagai bagian dari tindakan Jama’ah
Islam, karena Abu Bashir belum masuk ke dalam
kekuasaan dan hukum Jama’ah Islam. Oleh karena itu ia
tidak wajib untuk mematuhi perjanjian yang terjalin antara
Jama’ah Islam dengan Quraisy … Perhatikanlah baik-baik
hal ini, karena tindakan-tindakan yang tanpa perhitungan
dan tidak berdasarkan dalil syar’i itu akan mengakibatkan
kebinasaan …
– Jika ada yang bertanya: Melawan agresor itu
disyariatkan, sedangkan aksi semacam ini adalah masuk
katagori ini … Kami jawab: Ya, jika telah dipastikan
bahwa orang yang menyerang itu hendak membunuh atau
menyakitimu atau membahayakan dirimu dengan tingkat
bahaya yang menyakitkan. Ketika itu maka tidak ada
pilihan lagi, dan yang lebih utama adalah melarikan diri
atau membela diri sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki …
– Akan tetapi harus diperhatikan pula bahwasanya
tidak semua pencarian yang dilakukan oleh orang-orang
kafir dan antek-antek mereka itu masuk dalam katagori
agresor yang hendak membunuhmu atau menyakitimu …
Prinsipnya adalah meletakkan segala sesuatu itu sesuai
dengan proporsinya yang benar dan menimbangnya
28
dengan timbangan syar’i … dan tidak terpancing atau
berreaksi berdasarkan semangat dan emosi yang tidak
dikendalikan dengan timbangan syar’i. Dan masingmasing
orang itu lebih mengetahui dengan kondisinya
sendiri, kondisi dakwahnya dan kondisi ikhwanikhwannya
… Hendaknya ia berhati-hati, meminta
pertimbangan kepada ikhwan-ikhwannya dan
beristikhoroh kepada Robbnya … karena tidak akan
kecewa orang yang meminta pertimbangan, dan tidak
akan menyesal orang yang beristikhoroh …
– Terakhir, apa yang kami terangkan di sini tidaklah
bertentangan dengan firman Alloh ta’ala di dalam surat Al
Ahzab, yang berbunyi:
ُقل لَّن ينَفع ُ ك  م اْلفِرا  ر إِن َفر  رتم م  ن اْل  م  وتِ َأوِ اْلَقتلِ  وإًِذا لاَّت  متعو َ ن
إِلاَّ َقلِي ً لا
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagi
kalian, jika kalian melarikan diri dari kematian atau
pembunuhan, dan jika (kalian terhindar dari kematian)
kalian tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali
sebentar saja”. (Al Ahzab: 16)
Engkau sendiri telah mengerti bahwa pembahasan kita ini
adalah tentang larinya dan bersembunyinya seorang
beriman dari orang-orang kafir ketika dalam kondisi
lemah dan tidak memiliki kesiapan, pada waktu ia dicari
oleh thoghut atau antek-anteknya … Adapun ayat
tersebut adalah berbicara tentang perang pada saat jihad
itu hukumnya fardlu ‘ain, kemudian dua barisan telah
saling berhadap-hadapan, maka melarikan diri dari medan
perang ketika itu adalah dosa besar … Ayat itu sendiri
turun berkenaan dengan orang-orang munafiq yang
29
meminta ijin kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam
untuk tidak ikut perang pada perang Ahzab, ketika
pasukan sekutu mengepung Madinah dan dua pasukan
telah saling berhadapan …
يُقوُلو َ ن إِنَّ بيوتنا  ع  و  رةٌ  وماهِ  ي بِع  و  رةٍ إِن يرِي  دو َ ن إِلاَّ فِرا  را
… mereka berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami
terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu
sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak
lari. (Al Ahzab: 13)
30
Penutup:
“Jangan Kalian Takut Kepada Mereka Tapi Takutlah
Kepada-Ku Jika Kalian Beriman”.
Sebuah Motifasi Untuk Tetap Teguh Di Atas
Kebenaran Dan Anjuran Untuk Menyatakan
Kebenaran Secara Terang-Terangan Dan
Tidak Takut Kepada Antek-Antek Thoghut
Ketahuilah, sesungguhnya tetap teguh dalam
mengucapkan kebenaran di hadapan antek-antek thoghut,
dan memperdengarkannya kepada mereka apa yang
mereka benci berupa tauhid, mencela sesembahansesembahan
mereka dan baro’ terhadap mereka dan
terhadap para penyembah dan pendukungnya, itu adalah
lebih baik bagi orang yang ingin menjadi pembela din
Alloh ta’ala dan menjadi golongon Thoifah Manshuroh
yang tegak melaksanakan din Alloh ta’ala, yang tidak
perduli dengan orang-orang yang memusuhi mereka serta
orang-orang yang enggan menolong mereka, sampai
datang keputusan Alloh ta’ala sedangkan mereka tetap
seperti itu … Namun mesti diingat bahwa yang tengah kita
bahas ini adalah tentang dakwah dan tauhid … dan bukan
memberikan pengakuan tentang program secara detail,
nama-nama ikhwan dan berbagai persoalan yang akan
membahayakan ikhwan-ikhwan yang lain … Mungkin akan
ada yang mengatakan bahwa penyidikan itu bukan tempat
untuk menyampaikan kebenaran secara terang-terangan,
karena ketika itu antek-antek thoghut itu tidak ingin
mengetahui dan mencari kebenaran, yang mereka
inginkan dari keteranganmu mengenai pandangan dan
31
aqidahmu itu adalah untuk mengadili dan menghakimimu
… Maka kami jawab: Memang benar, tapi meskipun
demikian, bisa jadi kebenaran yang kita sampaikan itu
akan berkesan di dalam jiwa salah seorang di antara
mereka dan menggoncangnya sehingga masuk ke dalam
hatinya … Yang jelas, bagaimanapun waktu penyidikan itu
kondisinya masing-masing orang berbeda …
– Maka jika orang yang tertawan itu memandang
dirinya adalah orang yang lemah dan tidak akan mampu
bersabar terhadap dampak-dampak yang akan timbul
akibat jika dia menyampaikan kebenaran secara terangterangan,
maka dia boleh menyembunyikan keyakinannya
dan bersikap taqiyah terhadap mereka, dengan syarat ia
tidak mengucapkan kata-kata kafir secara jelas dengan
tanpa ada ikroh yang hakiki. Karena banyak orang yang
terlalu longgar dalam memberikan rukhshoh pada
permasalahan ini, juga mengucapkan kata-kata kafir
dengan alasan tertindas dan lemah padahal ia tidak
dipaksa ataupun dipukul ataupun disakiti agar
mengucapkan kata-kata tersebut … Selain itu ia juga
masih bisa mengucapkannya dengan kata-kata kiasan,
atau memberikan jawaban dalam bentuk pertanyaan, atau
mengaku tidak mengerti, atau beralasan takut berfatwa,
atau pura-pura hati-hati dalam mengucapkan kata-kata
tentang agama Alloh tanpa berlandaskan ilmu. Saya
katakan; Sesungguhnya ini semua dapat dilakukan untuk
mengelak dari mengucapkan kata-kata batil dan kafir
secara terang-terangan, atau mencampur adukkan
kebenaran, atau menunjukkan sikap ridlo kepada
kekafiran-kekafiran mereka dan kepada sesembahansesembahan
batil mereka dengan tanpa ada ikroh. Di
dalam hadits disebutkan:
32
م  ن َ كا َ ن ي  ؤمِ  ن بِاللهِ  واْلي  ومِ ْالآخِرِ َفْليُق ْ ل  خيرًا َأ  و لِي  ص  م  ت
Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir
hendaklah berkata baik atau diam.
Yang jelas bagaimanapun keadaannya … yang terjadi di
banyak negara, mereka tidak perduli dengan apa yang
menjadi keyakinanmu atau yang engkau katakan dan apa
yang engkau sampaikan kepada para penyidik,
sebagaimana mereka tidak perduli dengan apa yang
engkau katakan di jalan atau di masjid dan dihadapan
orang banyak, berupa celaan terhadap thoghut dan
hasungan untuk itu … Di sebagian negara lagi, tidak akan
membahayakanmu apa yang engkau katakan di hadapan
para penyidik kecuali setelah engkau menandatangani
berita acara penyidikan (BAP). Dalam kondisi semacam ini
seorang muwahhid bisa mengucapkaan dan
menyampaikan kebenaran secara terang-terangan,
dengan tidak menandatangai berita acara penyidikan
(BAP). Bisa juga seorang muwahhid menyebut thoghut
secara umum dan tidak menyebut namanya secara
spesifik. Maka kata-kata yang cocok untuk setiap tempat
itu berbeda-beda dan setiap negara itu memiliki kondisi
yang berbeda-beda … maka seorang muwahhid-lah yang
menentukan mana yang sesuai … Akan tetapi sebaiknya
bagi seorang muwahhid, khususnya jika ia dikenal sebagai
seorang da’i dan menyampaikan kebenaran … hendaknya
dia tetap teguh di hadapan thoghut meskipun ia dipukul
atau disakiti, apapun yang dikatakan oleh thoghut dan
antek-anteknya kepadanya … karena dia bukanlah orang
yang pertama kali yang menempuh jalan mulia yang
seperti ini, dan bukan pula orang yang terakhir …
sebelum mereka, jalan tersebut telah dilalui oleh para
33
Nabi dan para Syuhada’ … Berapa banyak Rosul yang
disakiti sampai-sampai di antara mereka ada yang
terbunuh, demikian pula orang-orang sholih yang
mengikuti mereka, mereka diangkat di atas papan lalu
digergaji, namun hal itu malah semakin menambah iman
dan keyakinan mereka8. Di dalam hadits shohih
disebutkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
 سي  د ال  ش  ه  داءِ  ح  مزة  و  ر  ج ٌ ل َقام إَِلى إِمامٍ  جائِرٍ َفَأمره َفن  هاه َفَقتَله
Pemuka para Syuhada’ adalah Hamzah, dan seorang yang
bangkit kepada pemimpin yang dholim kemudian dia
beramar ma’ruf dan nahi munkar lalu ia dibunuh oleh
pemimpin tersebut.
Oleh karena itu, jangan sampai engkau berusaha
menyenangkan orang dengan kemurkaan Alloh, akan
tetapi buatlah manusian murka dalam rangka mencari ridlo
Alloh, nisacaya engkau akan menaklukkan dan menguasai
hati manusia, dan Alloh akan menanamkan rasa takut
kepadamu di dada mereka … hal itu telah dicoba oleh
ikhwan-ikhwan muwahhidin kita pada saat-saat yang
menakutkan, dan ternyata hal itu malah menjadikan
mereka semakin dihormati, disegani dan ditakuti oleh
musuh-musuh Alloh … Imam Ahmad dan lainnya telah
meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwasanya
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
8 Lihat Manaqibul Imam Ahmad, karangan Ibnul Jauzi, hal. 342, 343. Di sana
disebutkan para ulama’ salaf sebelum Imam Ahmad yang dipukuli dan disakiti
karena keteguhan mereka untuk mengucapkan kebenaran … Dan contoh
mengenai hal ini banyak.
34
َأ َ لا َ لا ي  منع  ن َأ  ح  د ُ ك  م  ر  هبُة الناسِ َأ ْ ن يُق  و َ ل بِ  ح  ق إَِذا  رآه َأ  و  ش هِ  ده
َفإِنه َ لا يَقر  ب مِ  ن َأ  جلٍ  و َ لا يباعِ  د مِ  ن رِ  زقٍ َأ ْ ن يُق  و َ ل بِ  ح  ق َأ  و يذَكِّر
بِعظِيمٍ
Ingatlah! Janganlah sekali-kali ketakutan kalian kepada
orang itu menghalangi kalian untuk berkata yang benar,
jika ia melihatnya atau menyaksikannya. Karena dengan
mengatakan yang benar atau menasehati orang besar itu
tidak dapat memperpendek ajal, atau menjauhkan rizki.
Kemudian jangan lupa wahai saudaraku muwahhid.
Sesungguhnya sikap-sikap yang seperti ini akan
disaksikan oleh para Malaikat, dan akan dilihat, didengar
dan ditulis oleh Alloh ta’ala. Maka buatlah catatan untuk
dirimu sendiri sebuah sikap yang dapat menjauhkan
dirimu dari musuh-musuh Alloh dan mendekatkanmu
kepada Robbmu, serta dapat engkau banggakan pada hari
di mana tidak ada manfaatnya harta dan anak, kecuali
orang yang datang kepada Alloh dengan hati yang bersih

 وتِْل  ك  حر  و  ب م  ن يغِ  ب  ع  ن غِ  مارِ  ها لِي  سَل  م يقرع ب  ع  د  ها سنة
نادِم
Dan itu adalah berbagai peperangan, yang mana
barangsiapa tidak terjun ke dalamnya …
… dengan tujuan menyelamatkan diri, setelah itu ia akan
digoncang dengan masa-masa penyesalan …
Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh di dalam kitabnya
yang berjudul Ighotsatul Lahfan berkata: “Di antara tipu
35
daya musuh Alloh ta’ala adalah: ia menakut-nakuti orangorang
beriman terhadap bala tentara dan antek-anteknya;
sehingga kalau sudah takut, orang-orang beriman tidak
akan lagi berjihad melawan mereka, tidak menyuruh
mereka berbuat ma’ruf dan tidak melarang mereka
berbuat munkar. Dan ini adalah termasuk tipu daya musuh
yang paling besar terhadap orang-orang beriman. Dan
Alloh ta’ala pun telah memberitakan kepada kita tentang
hal ini, dalam firman-Nya yang berbunyi:
إِن  ما َذلِ ُ ك  م ال  شي َ طا ُ ن ي  خ  و  ف َأ  ولِياَئه َف َ لا ت  خاُف  و  ه  م  و  خاُف  ونِ إِ ْ ن ُ كنت  م
م  ؤمِنِي  ن
Sesungguhnya dia itu adalah syetan yang menakut-nakuti
para pengikutnya. Maka janganlah takut kepada mereka
dan takutlah kepada-Ku jika kalian beriman.
Menurut seluruh ahli tafsir, yang dimaksud ayat
tersebut adalah menakut-nakuti kalian terhadap
pengikut-pengikutnya. Qotadah berkata: Menampakkan
mereka itu besar di dada kalian. Oleh karena itu Alloh
ta’ala berfirman:
َف َ لا ت  خاُف  و  ه  م  و  خاُف  ونِ إِ ْ ن ُ كنت  م م  ؤمِنِي  ن
Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah
kepada-Ku jika kalian beriman.
Dan jika iman seseorang itu kuat, akan hilang dari hatinya
rasa takutnya terhadap para pengikut syetan. Dan jika
imannya lemah, akan menguatlah rasa takutnya kepada
mereka.” Sampai di sini perkataan Ibnul Qoyyim.
Ya, karena sesungguhnya rasa takut kepada Alloh
ta’ala itu telah memenuhi hati seseorang, maka tidak akan
36
ada lagi tempat untuk rasa takut kepada yang lain-Nya …
dan apabila seorang hamba itu merasakan keagungan
Alloh ta’ala dan bahwasanya Alloh itu memiliki kekuatan
yang sangat dahsyat, yang Maha berkuasa, Maha Perkasa,
Maka Kuasa, Maha Sombong, Yang memegang ubun-ubun
seluruh manusia, dan juga merasakan akan kebersamaan
Alloh, pasti seluruh kekuatan bumi itu akan menjadi
remeh dan kecil di dalam hatinya dan ia tidak akan
menghiraukannya … Dan jika tawakal dan keyakinan itu
telah menancap di dalam hati, dan telah memahami bahwa
apa yang tidak ditaqdirkan untuknya itu tidak akan
menimpanya dan apa yang telah ditaqdirkan untuknya itu
tidak akan meleset darinya, dan bahwa seandainya
seluruh jin dan manusia berkumpul untuk
mencelakakannya, mereka tidak akan dapat
mencelakakannya kecuali dengan sesuatu yang Alloh
telah tetapkan dia akan celaka dengannya; pasti Alloh
akan teguhkan dan mantapkan hatinya. Dan meskipun
seluruh kekuatan bumi berkumpul tentu mereka tidak
akan dapat menggesernya dari jalannya, dan tidak pula
dapat mencabut aqidahnya yang benar, dan tidak
menambah sedikitpun kecuali keimanan dan ketundukan
kepada Alloh …
الَّذِي  ن يبلِّغو َ ن رِ  سا َ لاتِ اللهِ  وي  خ  شونه  و َ لا ي  خ  ش  و َ ن َأ  ح  دا إِلاَّ اللهَ
 و َ كَفى بِاللهِ  حسِيبا
…(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah
Alloh, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada
merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Alloh.
Dan cukuplah Alloh sebagai Pembuat Perhitungan. (Al
Ahzab: 39)
37
Dan di antara cara Thoghut dan musuh-musuh Allh
ta’ala dalam berperang melawan orang-orang beriman
adalah menakut-nakuti dan menteror, yang mana cara ini
mereka warisi dari imam mereka yang pertama yaitu Iblis
… Maka, sebagaimana Iblis — semoga Alloh ta’ala
melaknatnya — senantiasa berusaha untuk membikin
besar para pengikutnya dalam jiwa orang beriman,
menakut-nakuti orang beriman tersebut terhadap para
pengikunya supaya dapat memalingkannya dari jalan yang
benar … demikian pula yang dilakukan oleh musuh-musuh
Alloh. Mereka berusah menampakkan kekuatan mereka
dan membanggakan kelompok, pasukan, persenjataan,
sarana-sarana penyiksaan, perangkat keamanan dan
inteligen mereka, dan mereka sering-sering memuji dan
membesar-besarkannya, bahwasanya semua yang mereka
miliki itu meliputi dan mengetahui segala sesuatu yang
ada di dalam negeri baik yang kecil maupun yang besar …
dan bahwasanya itu semua … dan bahwasanya itu semua
… dst. Sebagaimana yang telah Alloh ta’ala beritakan di
dalam Al Qur’an tentang mereka, dalam firman-Nya:
 وي  خ  وُفون  ك بِالَّذِي  ن مِن دونِهِ  ومن ي  ضلِلِ اللهُ َف  ماَله مِ  ن  هادٍ
Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan yang selain
Alloh? Dan siapa yang disesatkan Alloh maka tidak
seorangpun pemberi petunjuk baginya. (Az Zumar: 36)
Cara-cara semacam ini tidak akan berguna kecuali
terhadap orang-orang yang imannya lemah, yang rasa
takut dan pengagungannya terhadap Alloh belum
menancap di dalam hatinya. Sehingga rasa takut mereka
kepada manusia melebihi rasa takut mereka kepada Alloh
ta’ala … mereka ini sangat membahayakan orang-orang
beriman karena mereka akan menyebarkan kata-kata
38
yang melemahkan semangat dalam barisan Islam, maka
hendaknya mereka-mereka ini dijauhkan dari posisiposisi
yang berpengaruh, dan hendaknya tidak
menghitung mereka atau tertipu dengan mereka ketika
menghitung barisan … Alloh ta’ala berfirman mengenai
orang-orang yang seperti mereka ini:
َل  و  خر  جوا فِي ُ كم ما  زادو ُ ك  م إِ لاَّ  خبا ً لا  ولأَ  و  ضعوا خِ َ لاَل ُ ك  م يبغون ُ ك  م
اْلفِتنَة  وفِي ُ ك  م  س  ما  عو َ ن َل  ه  م
Jika mereka berangkat bersama-sama kalian, niscaya
mereka tidak menambah kalian selain dari kerusakan
belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di
celah-celah barisan kalian, untuk mengadakan kekacauan
di antara kalian; sedang di antara kalian ada orang-orang
yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. (At
Taubah: 47)
Karena usaha-usaha melemahkan semangat, yang
muncul pada kondisi-kondisi kritis seperti ini dangatlah
berdampak pada jiwa. Sebab dalam kondisi semacam ini
jiwa itu sangat memerlukan orang yang memberikan
dorongan agar tetap teguh dan menegarkan hati, dengan
cara mengingatkan kembali sikap para mujahidin dan para
ulama’ robbaniyin yang berjuang untuk Islam … Oleh
karena itu Alloh ta’ala mencela usaha-usaha melemahkan
semangat yang dilakukan pada kondisi-kondisi semacam
ini. Alloh ta’ala berfirman:
39
 وإَِذا  جآءَ  ه  م َأ  مُر م  ن ْالأَ  منِ َأ  و اْل  خ  وفِ َأَذا  عوا بِهِ  وَل  و  ردوه إَِلى
الر  سولِ  وإَِلى ُأ  ولِى ْالأَ  مرِ مِن  ه  م َلعلِ  مه الَّذِي  ن ي  ستنبِ ُ طونه مِن  ه  م  وَل  و َ لا
َف  ض ُ ل اللهِ  عَلي ُ ك  م  و  ر  ح  مته َ لاتب  عت  م ال  شي َ طا َ ن إِلاَّ َقلِي ً لا
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang
keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.
Dan seandainya mereka menyerahkan berita tersebut
kepada Rosul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah
orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan
dapat) mengetahuinya dari mereka (Rosul dan Ulil Amri).
Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Alloh kepada
kalian, tentulah kalian mengikut syaitan, kecuali sebagian
kecil saja (di antara kalian). (An Nisa’: 83)
Sesungguhnya situasi semacam ini adalah situasi
yang besar yang dengannya Alloh uji hamba-hamba-Nya,
untuk menyaring barisan mereka sehingga yang jelek
terpisahkan dari yang baik … Setelah Alloh ta’ala
berfirman:
إِن  ما َذلِ ُ ك  م الشي َ طا ُ ن ي  خ  و  ف َأ  ولِياَئه َف َ لا ت  خاُف  و  ه  م
Sesungguhnya dia itu adalah syetan yang menakut-nakuti
para pengikutnya. Maka janganlah kalian takut kepada
mereka …
… setelah itu Alloh ta’ala berfirman:
ما َ كا َ ن ا للهُ لِي َ ذ  ر ا ْل  م  ؤمِنِي  ن  عَلى ما َأنت  م  عَليهِ  حتى يمِيز ا ْل  خبِي َ ث مِ  ن
الطَّيبِ
40
Alloh tidak akan membiarkan orang-orang beriman
sebagaimana keadaan kalian sekarang, sampai Alloh
memisahkan yang jelek dari yang baik …
Maka, orang-orang beriman yang membuktikan janji
mereka kepada Alloh tidak akan terpengaruh dengan
cara-cara thoghut semacam ini. Cara-cara semacam ini
juga tidak akan merubah atau menggeser sikap mereka,
bahkan cara-cara semacam ini hanya akan menambah
keimanan dan keteguhan.
َالَّذِي  ن َقا َ ل َل  ه  م ال نا  س إِنَّ ال نا  س َق  د  ج  مع  وا َل ُ ك  م َفا  خ  ش  و  ه  م َفزاد  ه  م
إِي  مانًا  وَقاُل  وا  ح  سبنا ا للهُ  ونِ  ع  م ا ْل  وكِيل * َفانَقَلب  وا بِنِ  ع  م ةٍ مِ   ن ا للهِ
 وَف  ضلٍ َل  م ي  م  س  س  ه  م  س  وءٌ  واتبع  وا ر  ض  وا َ ن ا للهِ  واللهُ ُذ  و َف  ضلٍ  عظِيمٍ
* إِن  ما َذلِ ُ ك  م ال  شي َ طا ُ ن ي  خ  و  ف َأ  ولِياَئه َف َ لا ت  خاُف  و  ه  م  و  خاُف  ونِ إِ ْ ن
ُ كنت  م م  ؤمِنِي  ن
Yaitu orang-orang yang mana dikatakan kepada mereka
oleh manusia: Sesungguhnya semua orang telah
berkumpul untuk menyerang kalian maka takutlah kalian
kepada mereka. Maka hal itu menambah keimanan
mereka, dan mereka mengatakan: Cukuplah Alloh bagi
kami dan Alloh adalah sebaik-baik yang mencukupi. Maka
merekapun kembali dengan membawa nikmat dan karunia
dari Alloh, mereka tidak tersentuh oleh keburukan dan
mereka mengikuti apa yang diridloi Alloh. Dan Alloh itu
memiliki karunia yang sangat besar. Sesungguhnya dia itu
adalah syetan yang menakut-nakuti para pengikutnya.
Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah
kepada-Ku jika kalian beriman.
41
Sebelum itu Alloh ta’ala telah menyebutkan sikapsikap
yang dilakukan oleh orang-orang munafiq dalam
usaha mereka untuk melemahkan semangat dan menakutnakuti
orang-orang beriman, dan Alloh pun membantah
perkataan mereka dalam hal ini:
َالَّذِي  ن َقاُل  وا لإِ  خ  وانِهِ  م  وَقع  د  وا َل  و َأ َ طا  ع  ونا ما ُقتُِل  وا ُق ْ ل َفا  د  ر  ؤا  ع   ن
َأنُفسِ ُ ك  م اْل  م  و  ت إِ ْ ن ُ كنت  م  صادِقِي  ن
Yaitu orang-orang yang mengatakan kepada saudarasaudara
mereka, dan mereka hanya duduk-duduk saja:
Seandainya mereka menurut kepada kami tentu mereka
tidak akan terbunuh. Katakanlah: Hindarkanlah diri kalian
dari kematian jika kalian benar.
Setelah itu Alloh ta’ala menerangkan kedudukan para
syuhada’ yang telah menepati janji mereka terhadap Alloh,
supaya orang-orang beriman mengetahui jalan yang
mereka tempuh dan supaya mereka menyenangi dan
mencintai kedudukan yang mereka capai … Alloh ta’ala
berfirman:
 و َ لا ت  ح  سب  ن ا لَّذِي  ن ُقتُِل  وا فِ  ي  سبِيلِ ا للهِ َأ  م  واتا ب ْ ل َأ  حياءٌ عِن  د  ربهِ   م
ي  ر  زُق  و َ ن
Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa orangorang
yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, akan tetapi
mereka itu hidup di sisi Robb mereka dengan
mendapatkan rizqi.
… sampai:
42
اَلَّذِي  ن َقا َ ل َل  ه  م النا  س إِنَّ النا  س َق  د  ج  مع  وا َل ُ ك  م َفا  خ  ش  و  ه  م َفزاد  ه  م
إِي  مانًا  وَقاُل  وا  ح  سبنا اللهُ  ونِ  ع  م اْل  وكِيل
Yaitu orang-orang yang mana dikatakan kepada mereka
oleh manusia: Sesungguhnya semua orang telah
berkumpul untuk menyerang kalian maka takutlah kalian
kepada mereka. Maka hal itu menambah keimanan
mereka, dan mereka mengatakan: Cukuplah Alloh bagi
kami dan Alloh adalah sebaik-baik yang mencukupi.
Alloh ta’ala juga memberikan petunjuk kepada Nabi-
Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam agar mengucapkan
sebuah perkataan, setelah Alloh ta’ala berfirman:
 وي  خ  وُف  ون  ك بِالَّذِي  ن مِ  ن د  ونِهِ
Dan mereka menakut-nakutimu dengan yang selain-Nya.
Setelah itu Alloh memerintahkan:
ُق ْ ل  ح  سبِ  ي اللهُ  عَليهِ يت  وكَّ ُ ل اْل  مت  وكُِّل  و َ ن
Katakanlah: Alloh yang mencukupiku dan hanya kepada-
Nyalah hendaknya orang-orang itu bertawakal.
Apabila semua orang yang ada di jagad raya ini
adalah masuk dalam katagori selain Alloh yang hanya
kepada-Nya orang-orang itu bertawakal … termasuk juga
segala sesuatu yang diancamkan oleh orang-orang
musyrik untuk menakut-nakuti orang-orang beriman …
jika mereka semua itu adalah termasuk dalam katagori
selain Alloh ta’ala, bagaimana seorang mukmin yang
bertawakal hanya kepada Alloh ta’ala yang Maha Perkasa
lagi Maka Berkuasa dengan tawakal yang sebenar43
benarnya, akan takut kepada mereka semua … Dan
sesungguhnya kita ini memiliki teladan dari sejarah …
sementara teladan yang paling baik adalah para Nabi
dalam menghadapi kaum mereka. Lihat dan perhatikanlah
bagaimana sikap mereka terhadap kaum mereka yang
sombong. Bagaimana kaum mereka itu menakut-nakuti
mereka dengan sesembahan-sesembahan mereka, dan
mengancam mereka dengan kekuatan dan banyaknya
jumlah mereka … Lalu lihatlah pada sisi yang lain,
bagaimana para Nabi itu tetap teguh dan tegar. Minumlah
dari sejarah mereka tersebut dari sumbernya yang jernih,
sungguh di sana terdapat bekal … segala macam bekal …
– Sebagai contoh lihatlah Nabi Nuh pada zaman
dahulu. Dengarkanlah ketika ia berbicara kepada kaumnya
sendirian, namun beliau merasakan kebersamaan Alloh,
yang ia bertawakal kepada-Nya, dan ia rasakan
keagungan-Nya … beliau berbicara kepada mereka
sementara beliau tidak takut kepada kekuasaan dan
kedholiman mereka. Beliau mengatakan:
إِن َ كا َ ن َ كبر  عَلي ُ كم مَقامِي  وت ْ ذكِيرِي بَِئاياتِ اللهِ َفعَلى اللِه ت  وكَّْل  ت
َفَأ  جمِعوا َأ  مر ُ ك  م  و  شر َ كآءَ ُ ك  م ُث  م َ لاي ُ ك  ن َأ  مر ُ ك  م  عَلي ُ ك  م ُ غ  مًة ُث  م
اْق  ضوا إَِل  ى  و َ لاتنظِرونِ
” … jika terasa berat bagi kalian tinggal (bersamaku) dan
peringatanku (kepada kalian) dengan ayat-ayat Alloh,
maka hanya kepada Alloh-lah aku bertawakal, karena itu
bulatkanlah keputusan kalian dan (kumpulkanlah) sekutusekutu
kalian (untuk membinasakanku). Kemudian
janganlah keputusan kalian itu dirahasiakan, lalu
44
lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kalian memberi
tangguh kepadaku.” (Yunus: 71)
Bulatkanlah keputusan kalian dan kumpulkanlah
seluruh kekuatan dan kekuasaan yang kalian miliki
bersama sekutu-sekutu kalian yang kalian banggakan.
Kemudian lakukanlah semau kalian dengan tanpa memberi
tangguh lagi kepadaku … Beliau mengatakan seperti itu
bukan tanpa pertimbangan atau hanya terdorong
kesemangatan dan perasaan yang membabi-buta, yang
akan segera sirna dan padam … akan tetapi beliau
mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa ia bersama
kekuatan yang tidak terkalahkan, ia yakin bahwa Alloh
ta’ala bersamanya … dan mereka tidak akan mampu
berbuat jahat kepada dirinya selama ia bertawakal kepada
Alloh dan berpegang teguh denga tali-Nya yang kokoh,
kecuali jika Alloh menghendaki. Namun jika Alloh
menghendaki mereka dapat berbuat jahat kepada dirinya,
hal itu bukan berarti Alloh menterlantarkan hamba-Nya,
akan tetapi hal itu adalah sebuah ujian, cobaan dan
penyaringan …
– Lihatlah Nabi Hud ‘alaihis salam, bagaimana beliau
menghadapi kaumnya secara sendirian, sementara mereka
adalah orang-orang yang paling kuat dan paling kejam
dimuka bumi ini. Mereka menakut-nakuti beliau dengan
sekutu-sekutu dan sesembahan-sesembahan mereka
yang palsu yang mereka agungkan. Mereka mengatakan:
إِن نُقو ُ ل إِلاَّ ا  عترا  ك ب  ع  ض ءَالِ  هتِنا بِ  سوءٍ
Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian
sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas
dirimu.” (Hud: 54)
45
Dengan bertawakal kepada Alloh beliau berdiri dihadapan
mereka dengan tegar setegar gunung atau lebih tegar
lagi. Dan beliau mengucapkan kata-kata seorang yang
beriman yang tidak takut kepada siapapun kecuali Alloh:
إِني ُأ  شهِ  د اللهَ  وا  ش  ه  دوا َأني برِيءٌ م  ما ت  شرِ ُ كو َ ن مِن دونِهِ َف كِي  دونِي
 جمِيعا ُث  م َ لاتنظِرونِ إِني ت  وكَّْل  ت  علَى اللهِ  ربي  و  رب ُ ك  م مامِن دابةٍ
إِلاَّ  ه  و ءَاخِ ٌ ذ بِناصِيتِ  هآ إِنَّ  ربي  عَلى صِراطٍ م  ستقِيمٍ
“Sesungguhnya aku persaksikan kepada Alloh, dan
saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya aku berlepas
diri dari apa yang kalian persekutukan, dari selain-Nya,
sebab itu jalankanlah tipu daya kalian semuanya
terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh
kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Alloh
Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang
melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubunubunnya.
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang
lurus.” (Hud: 54-56)
– Perhatikan pula sikap Nabi Ibrohim kholilur
rohman, ketika beliau berdialog dengan kaumnya, beliau
menghadapi mereka dan menyampaikan kepada mereka
bahwa beliau tidak perduli dengan mereka dan dengan
tuhan-tuhan palsu mereka, yang mana mereka menakutnakuti
beliau dengan tuhan-tuhan tersebut … karena
keamanan, ketenangan dan keteguhan itu adalah bagi para
pembela Alloh yang benar-benar mentauhidkan-Nya dan
tidak menyekutukan-Nya … Sementara itu orang-orang
musyrik, bagaimana mereka akan mendapatkan keamanan
dan ketenangan, sedangkan mereka menyekutukan Alloh
yang mana perbuatan tersebut Alloh tidak menurunkan
46
keterangan tentangnya. Justru bagi mereka itu tidak ada
lain kecuali ketakutan, kegundahan dan keterlantaran …
 و  حا  جه َق  ومه َقا َ ل َأت  حا  ج  ون  ي بِاللهِ  وَق  د  ه   دانِ  ي  و َ لا َأ  خ ا  ف م ا
ت  شرِ ُ ك  و َ ن بِهِ إِلاَّ َأ ْ ن ي  شاءَ  ربي  شيًئا  وسِ  ع  ربي ُ كلَّ  ش  يءٍ عِْل  ما َأَف َ لا
تت َ ذكَّر  و َ ن *  و َ كي  ف َأ  خا  ف ما َأ  ش ر ْ كت  م؟؟  و َ لا ت  خ اُف  و َ ن َأن ُ ك   م
َأ  شر ْ كت  م بِاللهِ ماَل  م ينز ْ ل بِهِ  سْل َ طانا؟؟؟ َفَأ  ي ا ْلَفرِيَقينِ َأ  ح  ق بْالأَ  منِ إِ ْ ن
ُ كنت  م ت  عَل  م  و َ ن ؟؟؟
Dan kaumnya membantahnya. Ia berkata: Apakah kalian
membantahku tentang Alloh sementara Alloh telah
memberi petunjuk kepada-Ku. Dan aku tidak takut kepada
apa yang kalian jadikan sekutu-sekutu bagi Alloh itu,
kecuali jika Robbku menghendaki sesuatu. Robbku itu
ilmu-Nya mencakupi segala sesuatu. Tidakkah kalian
mengambil pelajaran. Dan bagaimana aku takut kepada
apa yang kalian sekutukan?? Sementara kalian tidak takut
menyekutukan Alloh yang mana hal itu Alloh tidak
menurunkan keterangan??? Lalu kelompok manakah yang
paling berhak untuk mendapatkan keamanan jika kalian
mengetahui???
Lalu jawabannya menyusul dengan tegas dan jelas,
yang memekakkan telinga mereka sebagaimana halilintar:
َالَّذِي  ن آ من  وا  وَل  م يْلبِ  س  وا إِي  مان  ه  م بِ ُ ظْلمٍ ُأوَلئِ  ك َل  ه  م الأَ  م   ن  و  ه   م
م  هت  د  و َ ن
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri
keimanan mereka dengan kedholiman (kemusyrikan),
47
mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mereka
itulah yang mendapatkan petunjuk.
– Lihatlah pula kepada Nabi Musa kalimulloh ketika
dalam situasi yang paling berat ujian dan cobaannya.
Beliau telah terkejar oleh Fir’an dengan bala pasukan,
kekuatan dan persenjataannya. Yang mana mereka pada
waktu itu adalah para pemuka yang memiliki kekuatan dan
kekuasaan. Sedangkan Musa ‘alaihis salam bersama
sedikit orang yang tertindas, yang tidak memiliki
kekuatan dan persenjataan. Mereka lari menyelamatkan
iman mereka dari Thoghut, namun mereka terhalang oleh
laut dan tidak ada lagi jalan … maka berkatakalah para
pengikutnya, tatkala mereka melihat Fir’an datang dengan
membawa kekuatan, pasukan dan kekuasaannya:
إِنا َل  م  د  ر ُ ك  و َ ن
… kita benar-benar terkejar…
Akan tetapi Musa, dalam kondisi yang sangat berat,
genting dan menentukan itu, menjawab dengan dengan
penuh tawakal, yakin dan ketegaran yang tidak tidak
kalah dengan keteguhan gunung yang tinggi dan kokoh:
َ كلاَّ .. إِنَّ معِ  ي  رب  ي  سي  هدِينِ
Sekali-kali tidak … sesungguhnya Robbku bersamaku dan
akan memberi petunjuk kepadaku
Lalu apa hasil dari perasaan akan kebersamaan
Alloh ta’ala dan keteguhan serta tawakal tersebut …
48
َفَأ  و  حينا إَِلى م  و  سى َأنِ ا  ضرِ  ب بِع  صا  ك ا ْلب  حر َفانَفَل  ق َف َ كا َ ن ُ كلُّ فرق
َ كالطَّ  ودِ ْالعظِيمِ *  وَأ  زَل ْ فنا َث  م ْالآ  خرِي  ن *  وَأن  جينا م  و  سى  وم  ن مع ه
َأ  ج  معِي  ن * ُث  م َأ ْ غرْقنا ْالآ  خرِي  ن * إِنَّ فِ  ي َذلِ  ك َلآيًة  وما َ كا َ ن َأ ْ كَثر  ه  م
م  ؤمِنِي  ن *  وإِنَّ  رب  ك َل  ه  و اْلعزِيز الرحِي  م
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu
dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiaptiap
belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di
sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami
selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya
semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) akan tetapi
kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya
Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi
Maha Penyayang.” (AsySyu’aro’: 63-68)
– Lihat pula kepada para tukang sihir Fir’aun,
setelah keimanan itu menancap di dalam hati mereka.
Bagaimana mereka tidak takut terhadap ancaman dan
gertakan thoghut kepada mereka, yang mengancam akan
menyiksa dengan siksaan yang pedih. Ia berkata:
َقا َ ل ءَامنت  م َله َقب َ ل أَ ْ ن ءَاَذ َ ن َل ُ ك  م إِنه َل َ كبِ  ير ُ ك  م ا لَّذِي  علَّ  م ُ ك  م ال  س  حر
َفلأَُقطِّع  ن َأيدِي ُ ك  م  وَأ  ر  جَل ُ كم م  ن خِ َ لافٍ  ولأُ  صلِّبن ُ ك  م فِي  ج ُ ذوعِ
الن  خلِ  وَلت  عَل  م  ن َأينا َأ  ش  د عذابًا
“Berkata Fir’aun: “Apakah kalian telah beriman kepadanya
(Musa) sebelum aku memberi izin kepada kalian.
49
Sesungguhnya ia adalah pemimpin kalian yang
mengajarkan sihir kepada kalian. Maka sungguh aku akan
memotong tangan dan kaki kalian secara bersilang, dan
sesungguhnya aku akan menyalib kalian pada pangkal
pohon kurma dan sesungguhnya kalian akan mengetahui
siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal
siksanya.” (Thoha: 71)
Dengarkanlah bagaimana para tukang sihir itu
menjawabnya dengan penuh kekuatan, keteguhan dan
tawakal yang besar terhadap Alloh yang Maha Esa dan
Maha Perkasa. Kekuatan dan siksaan Fir’aun yang ia
ancamkan kepada mereka tidak menjadikan mereka
gentar, dan kekuasaannya yang menyeramkan itu tidak
menjadikan mereka gelisah … Karena di dalam hati
mereka telah tertanam keimanan bahwa Alloh lah yang
memiliki kekuatan yang dahsyat, dan bahwa siksaan-Nya
lah yang maha pedih dan kekal … dan bahwasanya Alloh
ta’ala lah yang memiliki kekuasaan yang abadi …
Bagaimana bisa dibandingkan antara kekuatan Pencipta
dengan kekuatan makhluq, antara siksaan Raja dengan
siksaan hamba, dan antara kekuasaan yang Maha Perkasa
dengan kekuasaan orang-orang lemah dan hina … Dahulu
para tukang sihir itu membangga-banggakan keperkasaan
thoghut dan melaksanakan perintahnya. Akan tetapi
keimanan terhadap Alloh ta’ala lah yang telah membuat
mu’jizat tatkala mereka berdiri tegap menentang thoghut
tersebut dengan tegas dan tanpa rasa takut atau gentar:
َقاُلوا َلن ن  ؤثِر  ك  عَلى ما  جآءَنا مِ  ن الْبيناتِ  والَّذِي َف َ طرنا َفاْقضِ
ماَأن  ت قَاضٍ إِن  ما ت ْ قضِي  هذِهِ اْل  حياَة ال  دنيآ إِنآ ءَامنا بِربنا لِي  غفِ  ر َلنا
 خ َ طايانا  ومآَأ ْ كر  هتنا  عَليهِ مِ  ن ال  س  حرِ  واللهُ  خير  وَأبَقى
50
“Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan
mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata
(mukjizat), yang telah datang kepada kami dan dari Tuhan
yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang
hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan
dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.
Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami,
agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir
yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya.
Dan Alloh lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-
Nya).” (Thoha: 72-73)
Dan masih banyak lagi contoh yang lain.
Dan sungguh pada Sang Nabi dan Rosul penutup,
benar-benar ada contoh yang paling baik dalam masalah
ini … Coba perhatikan hadits yang dikisahkan ‘Amr bin Al
‘Ash dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya
dengan isnad shohih … Perhatikanlah bagaimana sikap
beliau ketika beliau berdiri di hadapan orang-orang kafir
di Mekah, sedangkan mereka mengepung beliau pada
suatu periode di mana Islam masih lemah. Salah seorang
di antara mereka memegang sorban beliau, sementara
yang lainnya bertanya kepada beliau:
َأن  ت الَّذِ  ي تُق  و ُ ل َ ك َ ذا  و َ ك َ ذا
“Apakah engkau yang mengatakan begini dan begini?”
Yaitu tatkala mereka mendengar bahwa beliau mencela
sesembahan dan agama mereka … Maka beliau
shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan tegas dan
jelas, dan dengan tanpa takut atau gentar:
نع  م، َأنا الَّذِ  ي َأُق  و ُ ل َذلِ  ك
51
Ya, akulah yang mengatakan seperti itu.
Dan sebelum itu beliau mengatakan kepada mereka:
ت  س  مع  و َ ن يا م  ع  شر ُقريشٍ َأما  والَّذِ  ي ن ْ ف  س م  ح  مدٍ بِيدِهِ َلَق  د جِْئت ُ كم
بِالذَّبحِ
Dengarkan wahai orang-orang Quraisy. Demi (Alloh) yang
jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, aku diutus kepada
kalian dengan sembelihan.
… sehingga orang-orang Quraisy sangat terkejut dengan
kata-kata beliau itu, sampai-sampai tidak ada seorangpun
di antara mereka kecuali seolah-olah di atas kepalanya
ada burung yang hinggap. Bahkan orang yang paling
garang di antara mereka ketika itu betul-belul berusaha
menenangkan beliau dengan perkataan yang paling santun
…9 Dan dahulu beliau senantiasa meneguhkan para
sahabatnya dengan Al Qur’an yang diturunkan Robb nya
kepada beliau, yang menceritakan kepada mereka kisah
keteguhan umat-umat terdahulu. Beliau bersabda:
َق  د َ كا َ ن م  ن َقبَل ُ ك  م ي  ؤ  خ ُ ذ ال ر  ج ُ ل َفي  حَفر َله فِي ْالأَ  رضِ َفي  جع ُ ل فِي  ها
، ُث  م ي  ؤتى بِاْلمِن  شارِ َفي  و  ض  ع  عَلى  رْأسِهِ َفي  جع ُ ل نِ  صَفينِ  وي  م   ش ُ ط
بَِأ  م  شاطِ ا ْل  حدِيدِ ما د  و َ ن َل  حمِهِ  و  ع ْ ظمِهِ ما ي  ص  ده َذلِ  ك  ع  ن دِينِ هِ ،
 واللهِ َليتِ  م  ن ا للهُ تعاَلى  ه َ ذا ْالأَ  مر  حتى يسِير ال راكِ  ب مِ  ن  صنعاء إَِلى
9 Lihat hadits selengkapnya pada Musnad Imam Ahmad yang telah ditahqiq oleh
Ahmad Syakir no. 7036.
52
 ح  ضرم  وت َف َ لا ي  خا  ف إِلاَّ الله  والذِّْئب  عَلى َ غنمِهِ  وَلكِ ن ُ ك  م َق   وم
ت  ست  عجُِل  و َ ن
Dahulu orang-orang sebelum kalian, ada seseorang yang
ditangkap lalu ditanam dalam tanah. Kemudian
didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya, lalu
ia dibelah menjadi dua bagian, dan disisir dengan sisir
besi antara daging dan tulangnya, namun hal itu tidak
dapat mengeluarkan mereka dari agamanya. Demi Alloh,
Alloh pasti akan menyempurnakan ajaran ini sampai
seseorang menunggang unta berjalan dari Shon’a ke
Hadlromaut tidak ada yang ia takuti kecuali Alloh dan
srigala yang akan menerkam dombanya. Akan tetapi
kalian adalah orang-orang yang tergesa-gesa. [HR. Al
Bukhori dan yang lainnya.]
Setelah itu semua … Sesungguhnya di sana masih
ada satu kenyataan yang tidak boleh dilalaikan oleh
orang-orang beriman dan tidak boleh hilang dari mata dan
pikiran mereka, yaitu; bahwasanya kebatilan itu sangatlah
lemah meskipun ia memiliki berbagai hal untuk membuat
dirinya menyeramkan, dan meskipun ia menunjukkan
kekuatan dan pertahanannya. Sesungguhnya, demi Alloh,
ia itu di sisi Penguasa langit dan bumi lebih rendah
daripada seekor lalat. Semoga Alloh merahmati Ibnul
Qoyyim, tatkala beliau mengatakan di dalam sya’ir
Nuniyah nya:
53
َ لا ت  خ  ش َ كْثرت  ه  م َف  ه  م  ه  م  ج اْل  و  رى  وُذبابه ، َأت  خا  ف مِ  ن ُذبانٍ
؟
Janganlah takut dengan banyaknya jumlah mereka, karena
mereka itu adalah nyamuk …
… dan lalat, apakah engkau takut kepada lalat …
Ya, demi Alloh mereka itu adalah seperti lalat …
bahkan lebih rendah daripada lalat …
 وإِن ي  سُلب  ه  م الذُّبا  ب  شيًئا لاَّي  ستنقِ ُ ذوه مِنه  ضع  ف الطَّالِ  ب
 واْل  م ْ طُلو  ب
Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah
mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat
lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang
disembah. (Al Hajj: 73)
Jika orang-orang kafir itu memiliki sejarah kejayaan
… sesungguhnya kebenaran itu jauh lebih banyak memiliki
sejarah kejayaan.
Dan sungguh kekuatan mereka yang semu telah
tersingkap di sepanjang sejarah, di tangan orang-orang
yang menepati janji mereka kepada Alloh, lalu di antara
mereka ada yang menemui ajalnya dan di antara mereka
ada yang masih menunggu, dan mereka tidak merubah
janji mereka sama sekali … sementara kebatilan dan para
penganutnya itu tidak akan berlagak … dan tidak akan
menunjukkan kekuatannya yang semu kecuali pada saat
medan perang itu kosong dari orang-orang yang menepati
janji mereka kepada Alloh tersebut … duhai … betapa
54
banyak kita membutuhkan orang-orang yang perwira
seperti mereka …
Terakhir … Sesungguhnya Al Qur’an itu menarik
perhatian kita kepada akhir dari perjalanan para
pembangkang tersebut. Yang telah berbuat aniaya di
muka bumi, dan membuat banyak kerusakan di sana, yang
mana dahulu mereka adalah orang yang paling perkasa
dan banyak meninggalkan bekas di muka bumi …
َأَل  م تر َ كي  ف َفع َ ل  رب  ك بِعادٍ إِ  رم َذاتِ اْلعِ  مادِ الَّتِي َل  م ي  خَل  ق مِْثَل  ها فيِ
الْبِ َ لادِ  وَث  مود الَّذِي  ن  جابوا ال  ص  خر بِاْل  وادِ  وفِ  ر  ع  و َ ن ذِى ْالأَ  وتادِ الَّذِي  ن
َ طغ  وا فيِ اْلبِ َ لادِ َفَأ ْ كَثروا فِي  ها اْلَف  ساد َف  ص  ب  عَليهِ  م  رب  ك  س  و َ ط
 ع َ ذابٍ إِنَّ  رب  ك َلبِاْلمِ  ر  صادِ
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu
berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk Irom yang
mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. yang belum
pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri
lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar
di lembah, dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasakpasak
(tentara yang banyak), yang berbuat sewenangwenang
dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak
kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu
menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya
Tuhanmu benar-benar mengawasi. (Al Fajr: 6-14)
َأَل  م تر َ كي  ف َفع َ ل  رب  ك بَِأ  ص  حابِ ا ْلفِيلِ َأَل  م ي  جع ْ ل َ كي   د  ه  م فِ   ي
ت  ضلِيلٍ
55
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu
telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia
telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? (Al Fil: 1-
2)
Al Qur’an menarik penglihatan dan pendengaran kita
kepada akhir dari perjalanan mereka. Lihatlah bekasbekas
peninggalan mereka dan rumah-rumah mereka
runtuh, Alloh ta’ala binasakan mereka dan Alloh ta’ala
menangkan tentara-Nya yang bertauhid … Tidak ada
gunanya kekuatan mereka yang mereka banggabanggakan
… juga jumlah, persenjataan dan kelompok
mereka yang mereka sombongkan … Alloh ta’ala
hancurkan mereka, dan tidak ada pelindung dan penolong
bagi mereka … Hal itu karena Alloh adalah pelindung
orang-orang yang beriman sedangkan orang-orang kafir
itu tidak memiliki pelindung …
َأَفَل  م يسِير  وا فِي ْالأَ  رضِ َفين ُ ظر  وا َ كي  ف َ كا َ ن  عاقِبُة ا لَّذِي  ن مِ  ن َقبلِهِ  م
َ كان  وا َأ ْ كَثر مِن  ه  م  وَأ  ش  د ُق  وًة  وآَثارًا فِي ْالأَ  رضِ َف  ما َأ ْ غنى  عن  ه  م م ا
َ كان  وا ي ْ كسِب  و َ ن * َفَل  ما  جاءَت  ه  م  ر  سُل  ه  م بِاْلبيناتِ َفرِ  ح  وا بِ  ما عِن  د  ه  م
مِ  ن ا ْلعِْلمِ  و  حا  ق بِهِ  م ما َ كان  وا ي  ست  هزُِئ  و َ ن * َفَل  ما  رَأ  وا بْأ  سنا َق اُل  وا
آمنا بِاللهِ  و  ح  ده  و َ كَف  رنا بِ  ما ُ كنا بِهِ م  شرِكِي  ن * َفَل  م ي  ك ي نَفع  ه  م
إِْي  مان  ه  م َل  ما  رَأ  وا بْأ  سنا  سنة ا للهِ ا لَّتِي َق  د  خَل  ت فِ  ي عِبادِهِ  و  خ سِر
 هنالِ  ك اْل َ كافِر  و َ ن
Apakah mereka belum berjalan di muka bumi, lalu melihat
bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka.
Dahulu orang-orang sebelum mereka itu lebih banyak
56
jumlahnya dan lebih dahsyat kekuatan dan peninggalannya
di muka bumi daripada mereka, namun semua itu tidak
berguna bagi mereka lantaran apa yang mereka perbuat.
Lalu tatkala para Rosul mereka dengan membawa buktibukti
yang nyata, mereka menyobongkan diri dengan ilmu
yang mereka miliki, lalu mereka pun tertimpa siksaan
yang mereka olok-lokkan. Maka tatkala mereka melihat
siksaan kami, mereka mengatakan: Kami beriman kepada
Alloh saja dan kami mengkufuri apa yang mereka
sekutukan. Namun iman mereka tidak ada gunanya tatkala
mereka melihat siksaan kami. Yang demikian itu adalah
sunnatulloh yang berlaku pada hamba-hamba-Nya. Dan di
sanalah orang-orang kafir itu merugi.
Wa ba’du … Inilah beberapa kenyataan yang harus
direnungkan dan dipikirkan secara mendalam … oleh kita
… oleh musuh-musuh kita … supaya mereka kembali.
 و َ لا ي  ح  سب  ن الَّذِي  ن َ كَفر  وا  سبُق  وا إِنه  م َ لا ي  عجِز  و َ ن
Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu mengira
akan dapat mengalahkan Kami. Sesungguhnya mereka itu
tidak akan lepas (dari kekuasaan Kami).
57
Sya’ir Imam Ibnul Qoyyim
Al ‘Allamah Ibnul Qoyyim di dalam Nuniyah nya berkata:
يا قاعدا سارت به أنفاسه سير البريد وليس
بالذملان
حتى متى هذا الرقاد وقد سرى وفد المحبة مع ألي
الإحسان
اصدع بأمر الله لا تخش الورى في الله واخشاه تفز
في أمان
وانصر كتاب الله والسنن التي جاءت عن
المبعوث بالقرآن
واضرب بسيف الله كل معطل ضرب المجاهد فوق
كل بنان
واحمل بعزم الصدق حملة مخلص متجرد لله
غير جبان
واثبت بصبرك تحت ألوية الهدى فإذا أصبت ففي
رضى الرحمن
58
واجعل كتاب الله والسنن التي ثبتت سلاحك ثم
صح بجنان
من ذا يبارز فليقدم نفسه أو من يسابق يبد
في الميدان
واصدع بما قال الرسول ولا تخف من قلة الأنصار
والاعوان
فالله ناصر دينه وكتابه والله كاف عبده
بأمان
لا تخش من كيد العدو ومكرهم فقتالهم بالكذب
والبهتان
فجنود أتباع الرسول ملائك وجنودهم فعساكر
الشيطان
شتان بين العسكرين فمن يكن متحيرًا فلينظر
الفئتان
واثبت وقاتل تحت رايات الهدى واصبر فنصر الله
ربك دان
59
فالله ناصر دينه وكتابه ورسوله بالعلم
والسلطان
والحق ركن لا يقوم لهده أحد ولو جمعت
له الثقلان
وإذا تكاثرت الخصوم وصيحوا فاثبت فصيحتهم
كمثل دخان
يرقى إلى الأوج الرفيع وبعده يهوي إلى قعر
الحضيض الداني
لا تخش كثرتهم فهم همج الورى وذبابه أتخاف من
ذبان
لا ترتض برياسة البقر التي رؤساؤها من جملة
الثيران
وإذا همو حملوا عليك فلا تكن فزعًا لحملتهم
ولا بجبان
واثبت ولا تحمل بلا جند فما هذا بمحمود لدى
الشجعان
60
هذا وإن قتال حزب الله بالأعمال لا بكتائب
الشجعان
والله ما فتحوا البلاد بكثرة أنا وأعداهم بلا
حسبان
فإذا رأيت عصابة الإسلام قد وافت عساكرها مع
السلطان
فهناك فاخترق الصفوف ولا تكن بالعاجز الواني ولا
الفزعان
والحق منصور وممتحن فلا تعجب فهذه سنة
الرحمن
وبذاك يظهر حزبه من حربه ولأجل ذاك الناس
طائفتان
ولأجل ذاك الحرب بين الرسل والكفار مذ قام الورى
سجلان
لكنما العقبى لأهل الحق إن فاتت هنا كانت
لدى الديان
61
Wahai orang yang duduk berpangku tangan…
telah berjalan nafas-nafasnya sebagaimana berjalannya surat yang
berjalan, tidak dengan pelan-pelan …
Sampai kapan engkau tidur, sementara telah berjalan utusan cinta
bersama orang-orang yang baik …
Sampaikanlah perintah Alloh secara terang-terangan, jangan takut
manusia dalam meniti jalan Alloh…
dan takutlah Alloh niscaya engkau dapatkan keamanan …
Belalah kitab Alloh dan sunnah-sunnah yang datang dari Nabi yang
diutus dengan membawa Al Qur’an …
Tebaslah dengan pedang Alloh setiap orang yang membangkang …
Sebagaimana tebasan seorang mujahid pada kaki dan tangan musuh

Seranglah dengan tekad yang kuat, sebagaimana serangan orang
yang tulus dan ikhlas kepada Alloh, yang tidak pengecut …
Tetap teguhlah dengan sabar di bawah bendera kebenaran …
karena jika engkau terluka, itu adalah dalam keridloan Alloh yang
Maha pengasih …
Jadikanlah Kitabulloh dan sunnah-sunnah yang shohih sebagai
senjatamu, kemudian selamatlah dengan syurga …
Siapakah yang berani bertarung silahkan mengorbankan dirinya …
atau siapakah yang berani bertanding silahkan menampakkan diri di
medan perang …
Sampaikanlah dengan terang-terangan apa yang dikatakan oleh
Rosul, dan jangan takut lantaran sedikitnya pendukung dan
penolong …
Karena Alloh pasti membela agama dan kitab-Nya …
62
Dan Alloh akan mencukupi hamba-Nya dengan keamanan …
Jangan takut kepada tipu daya dan makar musuh …
karena yang mereka andalkan dalam perang itu adalah dusta dan
bohong …
Tentara para pengikut Rosul itu adalah malaikat …
Sedangkan tentara mereka adalah pasukan syetan …
Amatlah beda antara dua pasukan tersebut…
maka barangsiapa kebingungan, silahkan melihat kepada dua
kelompok tersebut …
Tetaplah tegar dan berperanglah di bawah bendera kebenaran …
Dan bersabarlah, karena pertolongan Alloh itu dekat …
Karena Alloh itu menolong agama-Nya, kitab-Nya dan Rosul-Nya
dengan ilmu dan kekuatan …
Dan kebenaran itu adalah sebuah bangunan yang tidak akan dapat
seorangpun meruntuhkannya…
meskipun seluruh bangsa jin dan manusia berkumpul …
Jika musuh itu banyak dan berteriak …
Tetaplah teguh karena teriakan mereka itu seperti asap …
Yang naik kepada ketinggian, kemudian setelah itu ia turun kepada
titik yang sangat rendah …
Jangan takut kepada jumlah mereka yang banyak…
karena mereka itu adalah nyamuk dan lalat, apakah engkau takut
kepada lalat …
Jangan mau dipimpin oleh sapi, yang mana para pemimpinnya
adalah golongan banteng …
Jika mereka menyerangmu, maka janganlah kamu gundah dan takut
terhadap serangan mereka …
63
Teguhlah dan janganlah menyerang tanpa pasukan, karena ini tidak
terpuji munurut para pemberani …
Dan sesungguhnya pasukan Alloh itu berperang dengan amalan,
bukan dengan pasukan yang gagah berani …
Demi Alloh mereka tidaklah menaklukkan berbagai negeri dengan
banyaknya jumlah …
bagaimana mungkin sedangkan jumlah musuh mereka tidak
terhitung …
Maka jika engkau melihat kelompok Islam, pasukannya telah datang
bersama penguasa …
Meneroboslah ke tengah-tengah barisan…
dan janganlah bersama orang lemah yang tidak bersemangat, atau
bersama orang yang takut …
Kebenaran itu akan ditolong dan diuji…
maka jangan heran karena ini adalah sunnatulloh …
Dengan begitu akan terpisah segolongan dari golongan-Nya …
Dan oleh karena itulah manusia itu menjadi dua golongan …
Dan oleh karena itu pulalah para Rosul berperang dengan orangorang
kafir, sejak adanya manusia …
Akan tetapi kesudahan itu adalah kemenangan bagi pengikut
kebenaran…
jika di sana tidak didapatkan, maka akan didapatkan di hadapan
Alloh…
Al Hamdulillah selesai …
Ditulis oleh Abu Muhammad Al Maqdisi
pada bulan Sya’ban 1414 H.
64
Daftar Isi
Pertama:
Disyariatkannya Dan Diperbolehkannya Lari Dari Orang-
Orang Kafir, Dan Bersembunyi Dari Kejaran Mereka
Ketika Dalam Keadaan Lemah.
Kedua:
Hukum Melarikan Diri Dari Orang-Orang Kafir Ketika
Dalam Keadaan Lemah Dan Tertindas, Apakah Ini Wajib
Atau Sunnah Atau Apa?
Ketiga:
Tidak Diperbolehkannya Seorang Muwahhid Mendatangi
Dan Memenuhi Panggilan Orang Kafir Itu Bukan Berarti Ia
Harus Melakukan Konfrontasi Bersenjata.
Penutup:
Sebuah Motifasi Untuk Tetap Teguh Di Atas Kebenaran
Dan Anjuran Untuk Menyatakan Kebenaran Secara
Terang-Terangan Dan Tidak Takut Kepada Antek-Antek
Thoghut
Sya’ir Imam Ibnul Qoyyim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: