KAJIAN TERHADAP TATA CARA PELAKSANAAN JIHAD

Sesungguhnya kalau kita mau mengkaji dengan baik hukum-hukum jihad yang telah dijelaskan dalam syarti’at Islam, maka kita akan mendapati bahwa tidak ada sesuatu apapun yang dibutuhkan oleh manusia dalam menghadapi keadaan-keadaan di sepanjang zaman dan dalam berbagai keadaan dan kondisi kecuali Islam telah memberikan petunjuk secara jelas dan gamblang. Dari situ kita akan semakin memahami bagaimana Alloh yang rahmat dan kasih sayang-Nya yang maha luas itu tidak akan mungkin membiarkan hamba-Nya yang serba terbatas itu berada dalam kebingungan dalam menghadapi permasalahan yang menghadang di hadapannya. Selain itu, hal tersebut juga menunjukkan mu’jizat Al-qur’an yang tidak pernah ada kesalahan dari berbagai sisinya serta selalu realistis dan aplikatif sepanjang zaman dan untuk berbagai keadaan dan kondisi.

Pada bab ini kami mencoba untuk memaparkan kepada para pembaca beberapa ketentuan syar’i pada pelaksanaan jihad pada masa kini dalam bentuk kesimpulan-kesimpulan dari pembahasan-pembahasan yang telah lalu sekaligus tambahan untuk beberapa masalah yang belum terbahas pada bab-bab yang telah lalu, terutama tata cara pelaksanaan jihad.

Umar bin Mahmud Abu Umar berkata:

“Di dalam siroh nabawiyah terdapat al-harbush shodaamiyatusy syamilah (seperti badar dan uhud)

Di dalam siroh nabawiyah terdapat ightiyal dan pembersihan terhadap para pemimpin. (seperti yang terjadi ketika pembunuhan Ka’ab bin Al-Asyrof dan yang lain)

Di dalam siroh nabawiyah terdapat perjanjian-perjanjian damai (seperti shulhul Hudaibiyah dan perjanjian keamanan yang diadakan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dengan orang-orang Yahudi ketika awal hijroh)

Di dalam siroh nabawiyah terdapat revolusi dan perubahan total mendasar   (peristiwa Fairuz Ad-Dailami dengan Al-Aswad Al-‘Unsi di Yaman)

Di dalam siroh nabawiyah terdapat jihad defensif sebagaimana yang terjadi ketika perang Uhud dan perang Khondaq. Di dalam siroh nabawiyah terdapat jihad offensif seperti fathu makkah dan perang Hunain, bahkan yang terjadi pada perang Mu’tah, Tabuk dan yang lainnya tergabung padannya defensif, offensif dan pengusiran.

Di dalam siroh nabawiyah terdapat undang-undang yang berbunyi

و شرد بهم من خلفهم

(Seperti yang terjadi pada perang Khomro’ul Asad, Mu’tah dan Tabuk)

Demikianlah, siroh nabawiyah sangat kaya dengan pengalaman-pengalaman yang memenuhi jiwa setiap muslim dan memuaskannya dengan contoh-contoh yang baik untuk kebanyakan pertempuran dan tata caranya.”[412]

I. KAJIAN TERHADAP BEBERAPA BENTUK OPERASI DALAM PEPERANGAN

A.  INGHIMAS

Ibnu Hajar berkata:”Para ulama’ telah sepakat atas bolehnya menceburkan diri kedalam kehancuran di dalam jihad. (Fathul Bari XII/330)

Secara umum dalil-dalil yang digunakan dalam masalah ini adalah disyareatkannya memburu mati syahid namun kemenangan itu, secara umum tidak bisa dipastikan oleh perhitungan manusia.

ِإنَّ الله اشْتَرَى ِمنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَ أَمْوَالَهُمْ ِبأَنَّ لَهُمُ اْلجَنَُةِ يُقَاتَلُوْنَ ِفيْ سَبِيْلِ اللهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَ يُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا ِفي التَوْرَاِة وَ اْلِإنْجِيْلِ وَ اْلقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهْ ِمنَ اللهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَ ذَلِكَ هُوَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيْم

Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mukmin, jiwa dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Alloh lalu mereka membunuh atau dibunuh. Itu telah menjadi janji dari Alloh di dalam Taurot, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada selain Alloh? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 111)

و من الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضات الله و الله رؤوف بالعباد

Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari keridlon Alloh dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS.Al-Baqoroh: 207)

كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Berapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak atas ijin Alloh.” (Al-Baqoroh249)

Ayat ini menunjukkan bahwasanya ukuran kemenangan tidaklah diukur dengan ukuran duniawi secara materi sebagai ukuran utama.

Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya kisah ashabul ukhdud, yang menunjukkan hal ini, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Dahulu ada seorang Raja yang mempunyai seorang tukang sihir, ketika tukang sihir itu umurnya mulai tua ia berkata kepada raja tersebut:”sesungguhnya aku sudah tua, maka utuslah seorang pemuda kepadaku untuk kuajari ilmu sihir.” Maka raja tersebut mengutus seorang pemuda untuk diajari ilmu sihir. Ketika pemuda tersebut dalam perjalanan, ia melewati seorang pendeta lalu iapun duduk mendengarkan perkataannya, maka iapun tertarik terhadap perkataannya tersebut, maka setiap kali ia pergi ke tukang sihir ia melewati pendeta tersebut dan duduk mendengarkan ajarannya dan ketika sampai kepada tukang sihir tesebut ia dipukul oleh tukang sihir tersebut, maka hal itu dilaporkan kepada pendeta tersebut, lalu pendeta itu berkata:”Jika kau takut pada tukang sihir tersebut maka katakanlah, aka ditahan keluargaku dan jika kau takut pada keluargamu maka katakanlah, aku ditahan tukang sihir. Ketika ia melakukan hal itu, tiba-tiba ia berjumpa dengan seekor binatang yang besar yang menghalangi manusia, maka ia berkata:” Pada hari ini aku akan mengetahui siapakah yang lebih utama, pendeta atau tukang sihir.” Lalu ia mengambil sebuah batu dan berkata:”Ya Alloh, jika ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai dari pada ajaran tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini supaya manusia bisa lewat.” Lalu ia lempar binatang tersebut dan matilah binatang tersebut sehingga manusia bisa lewat. Lalu pemuda itu menemui pendeta dan bercerita kepadanya, maka pendeta itu berkata kepadanya:”Wahai anakku, engkau hari ini lebih utama dari padaku, sungguh urusanmu telah sampai pada apa yang telah aku lihat, dan sesungguhnya engkau akan mendapatkan ujian. Maka jika engkau mendapatkan ujian, janganlah kepadaku.” Dan pemuda itu bisa menyembuhkan orang buta, kusta dan mengobati orang dari segala macam penyakit. Maka hal itu didengar oleh seorang pendamping raja yang telah buta, maka ia mendatangi pemuda tersebut dengan membawa hadiah banyak sekali, lalu ia berkata:”Semua ini kuberikan kepadamu jika engkau bisa menyembuhkanku.” Maka pemuda itu menjawab:”Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan seorangpun, akan tetapi yang menyembuhkan hanyalah Alloh, maka jika engkau beriman kepada Alloh dan berdo’a kepadanya, Alloh akan menyembuhkanmu.” Lalu ia beriman kepada Alloh, maka Allohpun menyembuhkannya. Maka ia kembali kepada raja tersebut dan mendampinginya seperti dulu. Lalu raja tersebut bertanya kepadanya:”Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” Ia menjawab:”Robbku.” Raja bertanya:”Apakah kamu mempunyai Robb selain aku?” Ia menjawab:”Robbku dan Robbmu adalah Alloh.” Maka iapun menyiksanya dan terus menyiksanya sampai ia menunjukkan kepada pemuda tersebut. Maka didatangkanlah pemuda tersebut dan rajapun berkata kepadanya:”Wahai anakku, aku telah mendengar sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta, kusta dan melakukan ini dan itu.” Maka pemuda itu menjawab:”Aku tidak bisa menyembuhkan seorangpun akan tetapi yang bisa menyembuhkan hanyalah Alloh.” Maka ia disiksa dan terus disiksa hingga ia menunjukkan kepada pendeta. Lalu didatangkanlah pendeta tersebut dan dikatakan kepadanya:”Kembalilah dari agamamu!” Ia pun menolak, maka diambillah gergaji dan diletakkan ditengah-tengah kepalanya lalu dibelahlah hingga jatuh kepalanya. Lalu pendamping raja itu didatangkan dan dikatakan kepadanya:”Kembalilah dari agamu!” Kemudian didatangkanlah pemuda tersebut dan dikatakan kepadanya:”tinggalkanlah agamamu!” Lalu ia menolak, maka iapun diserahkan kepada beberapa orang sahabatnya dan berkata:”Bawalah dia ke gunung ini, lalu bawalah dia mendaki, kalau sudah sampai puncak, jika ia tetap tidak mau meninggalkan agamanya maka lemparkanlah dia!” Maka merekapun membawanya ke gunung tersebut. Maka pemuda tersebut berkata: “Ya Alloh cukupkanlah aku dari mereka sesuai kehendak-Mu.” Maka gunung itupun goncang lalu merekapun jatuh. Lalu pemuda itu berjalan menemui raja dan rajapun bertanya kepadanya:”Apa yang dikerjakan teman-temanmu tadi?” Ia menjawab:”Alloh mencukupiku dari mereka.”Lalu ia diserahkan kepada beberapa orang sahabat-sahabatnya dan berkata:”Bawalah dia ketengah laut dengan perahu, jika ia tetap tidak mau meninggalkan agamanya maka lemparkanlah.” Maka pemuda tersebut berkata: “Ya Alloh cukupkanlah aku dari mereka sesuai kehendak-Mu.” Maka terbalikkah perahu tersebut dan tenggelamlah mereka. Lalu pemuda itu berjalan menemui raja dan raja pun bertanya kepadanya:”Apa yang dikerjakan teman-temanmu tadi?” Ia menjawab:”Alloh mencukupiku dari mereka.”Lalu ia berkata kepada raja tersebut:”Sesungguhnya engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika engkau mengerjakan apa yang kuperintahkan kepadamu.” Raja bertanya:” Apa itu?” Ia menjawab:” Engkau kumpulkan manusia di sebuah dataran tinggi dan engkau salib aku pada sebatang pohon lalu ambillah sebuah anak panah dari tempat anak panahku lalu letakkanlah anak panah itu pada busurnya dan katakanlah; Atas nama Alloh Robb pemuda ini.Lalu panahlah aku. Sesungguhnya jika engkau melakukan hal tersebut, engkau akan bisa membunuhku.” Maka iapun mengumpulkan manusia di sebuah dataran tinggi dan menyalibnya pada sebatang pohon lalu ia mengambil sebuah anak panah dari tempat anak panahnya lalu ia meletakkan anak panah itu pada busurnya dan berkata:” Atas nama Alloh Robb pemuda ini. Lalu panahlah aku.” Lalu ia memanahnya dan kena pelipisnya lalu ia meletakkan tangannya pada pelipisnya tempat anak panah tersebut dan matilah ia. Maka semua orang mengatakan:”Kami beriman kepada Robnya pemuda tersebut, kami beriman dengan Robnya pemuda tersebut.” Maka raja itu didatangi dan dikatakan kepadanya:” Tahukah engkau bahwa apa yang engkau khawatirkan demi Alloh telah terjadi, semua orang beriman kepada Alloh.” Maka raja itu memerintahkan untuk membuat parit pada setiap permulaan jalan, maka dibikinlah parit dan dinyalakan api dan ia berkata:”Barang siapa yang tidak meninggalkan agamanya maka akan kupanggang dalam parit atau diperintahkan kepadanya untuk mencebur kedalamanya, maka merekapun menceburkan diri mereka kedalam parit tersebut hingga datang seorang perempuan dengan membawa anaknya ragu-ragu untuk masuk kedalamnya, maka bayinya berkata:”Ibu! Bersabarlah, sesungguhnya engkau diatas kebenaran.”[413]

Ibnu Taimiyah berkata:”Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya tentang ashabul ukhdud, disebutkan di dalamya; bahwasanya seorang pemuda menyuntuk membunuh dirinya untuk kemaslahatan tegaknya din. Oleh karena itu empat imam madzhab membolehkan seorang muslim menceburkan diri ke dalam barisan musuh meskipun menurut perkiraannya musuh akan membunuhnya, dengan catatan di dalamnya terdapat kemaslahatan bagi kaum muslimin. Maka jika seseorang melakukan perbuatan yang menurut keyakinannya ia terbunuh karena perbuatannya tersebut, untuk kemaslahatan jihad, padahal membunuh dirinya urusannya lebih besar dari pada membunuh orang lain, maka perbuatan yang menyebabkan terbunuhnya orang lain untuk kemaslahatan din yang tidak bisa dicapai kecuali dengan perbuatan itu dan menahan bahaya musuh yang merusak agama dan dunia yang tidak bisa di bendung kecuali dengan perbuatan tersersebut lebih utama.” [414]

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abu Musa Al-Asy’ari bahwasanya beliau berkata:”Aku mendengar bapakku berkata ketika berhadapan dengan musuh. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

إن أبواب الجنة تحت ظلال السيوف

Sesungguhnya pintu-pinti jannah itu dibawah naungan pedang.”

Maka seorang yang berbusang berdiri dan berkata:”Hai Abu Musa, engkau mendengar Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam berkata seperti itu?”Beliau menjawab:”Ya.”Maka orang tersebut kembali kepada teman-temannya dan berkata:”ku ucapkan salam kepada kalia.” Maka ia memecahkan sarung pedangnya dan membuangnya, lalu ia berjalan dengan pedangnya kearah musuh maka ia tebaskan pedangnya sampai ia terbunuh.”[415]

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:”Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bertolak bersama para sahabatnya sehingga mendahului orang-orang musyrik ke Badar. Dan datanglah orang-orang musyrik orang-orang musyrik, lalu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يقدمن أحد منكم إلي شيء حتى أكون أنا دونه

Tidak ada seorangpun yang maju diantara kalian, kecuali aku dibelakangnya!”

lalu mendekatlah orang-orang musyrik, maka Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قوموا إلي جنة عرضها السماوات و الأرض

Bangkitlah kalian menuju jannah yang luasnya seluas langit dan bumi!”

Ia berkata:” Umair ibnul Hamam Al-Anshori:” Wahai Rosululloh, jannah seluas langit dan bumi?” Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Ya.” Umair berkata:”Bakhin bakhin (ungkapan senang).” Maka Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Kenapa kau bilang bakhin bakhin?” ia menjawab:”Tidak wahai Rosululloh, demi Alloh kecuali hanya aku mengharapkan termasuk penghuni jannah.” Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Engkau termasuk penduduk jannah.” Lalu iapun mengeluarkan korma dari tempatnya lalu ia mulai makan kurma tersebut, lalu berkata:”Jika aku hidup sampai menghabiskan korma ini, akan lama sekali.” Lalu ia buang korma tersebut kemudian ia berperang sampai terbunuh.”[416]

Al-Bukhori membuat satu bab firman Alloh :

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَاعَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَابَدَّلُوا تَبْدِيلاً

Dan beliau meriwayatkan dari Anas ra. Bahwasanya beliau berkata:”Pamanku Anas ibnun Nadlr dulu tidak ikut dalam perang Badar, maka ia berkata:”Wahai Rosululloh, aku tidak mengikuti peperangan pertama kali engkau memerangi orang-orang musyrikk, maka jika seandainya Alloh menyertakanku dalam peperangan melawan orang-orang musyrik, Ia pasti akan melihat apa yang akan perbuat.” Maka ketika perang Uhud dan kaum muslimin kocar-kacir, ia berkata:” Ya Alloh, aku memohon Engkau maafkan mereka (para sahabatnya) dan aku berlepas diri terhadap apa yang diperbuat mereka (orang-orang musyrik). Lalu ia maju dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz maka ia berkata:”Wahai Sa’ad bin Mu’adz, Jannah demi Robbnya An-Nadlr, aku mencium baunya dari bawah gunung Uhud.” Maka Sa’ad berkata:”Wahai Rosululloh, aku tidak bisa berbuat seperti dia.” Anas berkata:”Kami mendapatkan padanya delapan puluh lebih sabetan pedang atau tusukan tombak atau lemparan anak panah, kami mendapatkannya telah terbunuh dan telah dicincang oleh orang-orang musyrik, dan tidak ada yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya dengan tanda yang berada di jari-jarinya.”Anas berkata:”Kami berpendapat (atau mengira) bahwasanya ayat ini turun berkenaan dengannya atau hal-hal yang seperti itu.”

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَاعَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَابَدَّلُوا تَبْدِيلاً

Ibnu Hajar berkata:”Pada kisah Anas bin An-Nadlr ini ada beberapa pelajaran yaitu bolehnya mengorbankan nyawa dalam jihad dan keutamaan menepati janji walaupun berat dalam hati sampai mendapatkan kebinasaan, dan bahwasanya mencari mati syahid tidaklah termasuk ke dalam larangan menceburkan diri kedalam kebinasaan. Dan padanya juga terdapat keutamaan yang nyata bagi Anas ibnu Nadlr dan syahnya keimanannya serta sangat berhati-hati, waro’ dan keyakinan yang kuat.”[417]

Dalam kitab Shohih Bukhori dan Muslim disebutkan riwayat dari Jabir beliau berkata:”Ada seseorang bertaya kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam:”Jika aku mati aku berada dimana wahai Rosululloh?”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Di jannah.”Maka ia membuang korma yang berada di tangannya dan berperang sampai terbunuh.”[418]

Dan dari Anas ra. Beliau berkata bahwasanya ada seseorang berkata:”Wahai Rosululloh, apa pendapatmu jika aku menceburkan diri kedalam barisan orang-orang musyrik lalu aku berperang sampai terbunuh, apakah aku masuk jannah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Ya.” Maka orang itupun menceburkan ke dalam barisan musuh dan berperang sampai terbunuh.”[419]

Ibnu Ishaq meriwayatkan dalam kitab Al-Magozi dari ‘Ashim bin Umar bin Qotadah beliau berkata:”Ketika pasukan bertemu pada perang Badar ‘Auf ibnul Harits berkata:”Wahai Rosululloh, apakah yang membuat Alloh itu tertawa kepada hamba-Nya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Jika Ia melihat hamba-Nya menceburkan diri ke barisan musuh dan berperang dengan terbuka (tanpa menggunakan baju besi), ia membuka baju besinya lalu maju berperang sampai terbunuh.”[420]

Dari Anas ra. Ketika ia menceritakan perang Yamamah beliau berkata:”Aku mendatangi Tsabit bin Qois dan kedua pahanya telah tersingkap sedangkan ia sedang menantang maut. Lalu aku bertanya:”Wahai paman, apa yang menghalangimu sehingga tidak datang?” Ia menjawab:”sekaranglah saatnya wahai anak saudaraku.” Ia mulai menantang maut kemudian ia datang dan duduk – lalu ia menyebutkan dalam hadits ia lari dari musuh- Maka Tsabit berkata:” Beginikah keadaan muka-muka kita hingga kita melawan sebuah kaum? Kami tidaklah mengerjakan seperti ini ketika bersama Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. , sungguh jelek sekali kalian telah meninggalkan teman-teman kalian.” (riwayat Al-Bukhori dalam kitabul Jihad no. 2845 dan dalam riwayat lain: “Maka ia maju  dan berperang sampai terbunuh.”)

Dan dari Ibnu Mas’ud ra. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda:

عَجَبَ رَبُّنَا مِنْ رَجُلٍ غَزَا ِفيْ سَبِيْلِ اللهِ ثُمَّ اِنْهَزَمَ أَصْحَابُهُ فَعَلِمَ مَا عَلَيْهِ فَرَجَعَ رَغْبَةً فِيْمَا عِنْدِى وَ شَفَقَةُ مِمَّا عِنْدِى حَتَّى أَهْرَقَ دَمُّهُ

Robb kita ta’ajub dengan seseorang yang berperang dijalan Alloh kemudian teman

temannya melarikan diri dan ia tahu apa yang terjadi maka ia kembali ke medan pertempuran karena mengharap pahala di sisi-Ku dan takut dari adzab yang ada di sisi-Ku hingga tertumpah darahnya.”

Ibnu Hajar menyebutkan dalam kitab Al-Ishobah dengan sanadnya dari Abu Ishaq, beliau berkata:”Kaum muslimin menyerang orang-orang musyrik pada peperangan Yamamah hingga mereka berlindung di sebuah benteng yang disana terdapat musuh  Alloh Musailamah, maka al-Barro’ bin Malik berkata:”Wahai kaum muslimin, lemparkanlah aku!” Maka beliau diangkat hingga berada di atas tembok lalu menceburkan diri kedalam musuh dan berperang di dalam benteng hingga bisa membukakan benteng tersebut untuk kaum muslimin dan Allohpun membunuh Musailamah.

Al-Hafidz menyebutkan juga dari Anas, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda:”Betapa banyak orang yang kusut, berdebu dan tidak diperhatikan namun jika bersumpah atas nama Alloh ia laksanakan sumpahnya, diantara mereka adalah Al-Barro’ bin Malik.” Maka ketika berperang melawan Persi, kaum muslimin kocar-kacir, maka kaum musliminpun berkata kepada Al-Barro’:”Wahai Al-Barro’, bersumpahlah kepada Robbmu!” Maka ia berkata:” Aku bersumpah kepada-Mu, ya Robbi pundak-pundak mereka membiarkan kami atau Engkau susulkan kami dengan Nabi-Mu.” Maka ia menyerang dan kaum musliminpun menyerang bersamanya dan beliau berhasil membunuh Marzaban Az-Zaaroh dari kalangan pembesar Persi dan mengambil barang rampasannya lalu Persi mengalami kekalahan dan Al-Barro’pun terbunuh.”[421]

Dan dari Mudrik bin Auf beliau berkata:”Pernah aku berada disisi Umar dan aku berkata:”Aku punya tetangga yang melemparkan dirinya dalam peperangan lalu ia terbunuh, lalu orang-orangpun berkata:”Ia telah mencampakkan diri kedalam kebinasaan.” Maka umar berkata:”Mereka dusta, akan tetapi ia telah membeli akherat dengan dunia.”[422]

Dan dari Aslam bin ‘Imron ia berkata:”Ketika kami dalam perang di Konstantinopel, keluarlah dari pasukan Romawi sebuah pasukan yang besar, lalu seseorang dari kaum muslimin menyerang kedalam barisan Romawi lalu kembali berhadapan. Lalu orang-orang mengatakan:”Ia telah mencampakkan diri kedalam kebinasaan.” Maka Abu Ayyub berkata:”Hai orang-orang, Sesungguhnya kalian telah menafsirkan ayat ini dengan tafsiran seperti ini, namun sebenarnya ayat ini turun berkenaan dengan kami orang-orang Anshor. Ketika Alloh telah memuliakan agama-Nya dan telah banyak penolongnya, kami saling mengatakan kepada sesama kami dengan secara sembunyi-sembunyi,Sesungguhnya harta-harta kita telah hilang, maka bagaimana kalau kita mengurusinya dan memperbaiki yang telah hilang.’ Lalu Alloh menurunkan ayat ini, maka yang dimaksud dengan kebinasaan adalah mengurusi harta yang telah kami inginkan.”[423]

Dan dari Abu Ishaq beliau berkata:”Aku bekata kepada Al-Barro’:”Seseorang menyerang orang-orang musyrik, apakah ia termasuk orang-orang yang menceburkan diri kedalam kebinasaan?” Beliau menjawab:”Tidak, karena Alloh telah mengutus Muhammad dan berfirman:

فَقَاِتلْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لاَ تُكَلَّفُ ِإلاَّ نَفْسَكَ

“Sesungguhnya hal itu berkenaan dengan nafkah.”[424]

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Sunan beliau bahwasanya ‘Ikrimah bin Abi Jahal ketika perang Yarmuk turun dari kendaraannya dan berjalan kaki, maka Kholid berkata kepadanya:”Jangan kau lakukan itu, karena kematianmu itu sangat berarti bagi kaum muslimin!” Ia menjawab:”Biarkan aku hai Kholid, sesungguhnya engkau sudah memiliki simpanan bersama Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan aku dan bapakku dulu adalah orang yang paling keras terhadap Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka beliaupun terus berjalan sampai terbunuh.[425]

Perkataa Para Ulama’

Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani berkata:”Tidak mengapa seseorang menyerang musuh sendirian meskipun ia perkirakan dirinya akan terbunuh jika ia melihat akan berbuat sesuatu seperti membunuh, melukai atau mengalahkan musuh….. Kemudian beliau berkata:”Adapun jika ia mengetahui bahwa ia tidak bisa melakukan hal itu (Nikayah), maka tidak halal ia menyerang mereka.” As-Sarkhosi berkata ketika mengomentari perkataan tersebut:”Oleh karena itu syaratnya adalah hendaknya serangannya itu merupakan nikayah terhadap musuh secaro dhohir.” (Syarhu Sairil Kabir I/163-164)

Al-Jashosh menukil perkataan dari beliau :” Sesungguhnya jika seseorang menyerang seribu orang sendirian, hal itu tidaklah mengapa jaka ia optimis bisa selamat atau melakukan nikayah. Namun jika ia tidak optimis bisa selamat atau melakukan nikayah, maka sesungguhnya aku tidak suka hal itu karena ia mengorbankan jiwanya dengan tanpa memberikan manfaat kepada kaum muslimin. Hendaknya seseorang itu melakukan hal itu jika ia optimis selamat atau memberikan manfaat kepada kaum muslimin. Dan jika ia tidak optimis bisa selamat atau melakukan nikayah, akan tetapi dapat menumbuhkan keberanian kaum muslimin untuk melakukan seperti apa yang ia lakukan, maka insya’alloh hal itu tidak apa-apa, karena jika ia optimis bisa melakukan nikayah dan tidak optimis bisa selamat, aku berpendapat tidak apa-apa ia menyerang mereka. Begitu pula jika ia optimis bisa melakukan nikayah pada mereka dengan penyerangannya tersebut dan aku berharap ia mendapatkan pahala. Akan tetapi yang dimakruhkan adalah jika ia melakukan hal itu tanpa memberikan manfaat sedikitpun dari berbagai sisi. Dan jika ia tidak optimis bisa selamat maupun nikayah namun bisa menggentarkan musuh, hal itupun juga tidak apa-apa, karena hal ini lebih utama dari pada nikayah dan juga terdapat manfaat bagi kaum muslimin.” Al-Jashosh berkata:”Dan yang dikatakan Muhammad ini benar dari berbagai sisi dan tidak diperbolehkan yang lainnya………Sampai beliau mengatakan:”Adapun mengorbankan nyawa yang bisa memberikan manfaat bagi agama, maka hal ini adalah sebuah kedudukan yang mulia yang Alloh pujikan kepada sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam firman-Nya:

ِإنَّ الله اشْتَرَى ِمنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَ أَمْوَالَهُمْ ِبأَنَّ لَهُمُ اْلجَنَُةِ يُقَاتَلُوْنَ ِفيْ سَبِيْلِ اللهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَ يُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا ِفي التَوْرَاِة وَ اْلِإنْجِيْلِ وَ اْلقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهْ ِمنَ اللهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَ ذَلِكَ هُوَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيْم

Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mukmin, jiwa dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Alloh lalu mereka membunuh atau dibunuh. Itu telah menjadi janji dari Alloh di dalam Taurot, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada selain Alloh? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 111)

ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون

Dan janganlah kalian kira orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, akan tetapi mereka hidup di sisi robb mereka mendapatkan rizki.”(Ali ‘Imron 169)

و من الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضات الله و الله رؤوف بالعباد

Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari keridlon Alloh dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS.Al-Baqoroh: 207)

Dan ayat-ayat yang semacam dengan itu yang Alloh memuji orang-orang yang mengorbankan nyawanya untuk Alloh.” (Ahkamul Qur’an karangan Abu Bakar Al-Jashosh III/262-263 cet. Darul Fikr)

Ibnu Hajar berkata:”Adapun masalah seseorang yang menyerang musuh yang banyak, maka jumhur menegaskan jika disebabkan oleh keberanian yang luar biasa dan perkiraan bahwa hal itu bisa menggentarkan musuh atau menambah keberanian kaum muslimin atau niat-niat baik lain yang semacam itu, maka hal itu adalah baik. Dan jika melakukannya tanpa dengan pertimbangan sama sekali maka tidak boleh, apalagi kalau hal itu melemahkan semangat kaum muslimin. Wallohu a’lam. (Fathul Bari Kitabut Tafsir VIII/33 penjelasan hadits no. 4516)

Al-Qurthubi berkata:”Para ulama’ berselisih pendapat pada masalah seseorang yang menceburkan diri dalam peperangan dan menyerang kedalam barisan musuh sendirian. Adapun Al-Qosim bin Mukhoimiroh, Al-Qosim bin Muhammad dan Abdul Malik dari kalangan ulama’ kita berpendapat; tidak apa-apa seseorang menyerang musuh yang berjumlah sangat banyak jika ia mempunyai kekuatan dan mempunyai niat ikhlas untuk Alloh, namun jika tidak mempunyai kekuatan, hal itu termasuk dalam katagori kebinasaan. Dan ada yang berpendapat jika ia mencari mati syahid dan mempunyai niat ikhlas, maka bolah ia menyerang karena ia mempunyai satu tujuan dan hal itu jelas terdapat dalam firman Alloh:

و من الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضات الله و الله رؤوف بالعباد

Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari keridlon Alloh dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS.Al-Baqoroh: 207)

Dan Ibnu Khuwaiz Mindad berkata:”Adapun seseorang menyerang seratus orang atau tentara atau sekelompok pencuri atau muharibin atau khowarij, maka ada dua keadaan: Jika ia tahu dan menurut perkiraannya ia akan terbunuh jika menyerang, maka hal itu baik. Dan begitu pula jika ia tahu dan mempunyai perkiraan bahwa ia akan terbunuh akan tetapi ia juga akan memberikan nikayah atau bencana atau memberikan dampak yang bermanfaat bagi kaum muslimin, maka hal itu boleh juga. Dan aku telah mendengar bahwasanya pasukan kaum muslimin ketika bertemu dengan pasukan Persi, kuda-kuda kaum muslimin lari ketakutan dari pasukan gajah. Maka ada seorang dari kaum muslimin yang membuat gajah dari tanah, lalu dijinakkannya kudanya terhadap gajah buatan tersebut hingga jinak dan tidak takut, maka ketika pagi hari kudanya tidak lari dari gajah tersebut dan menyerang gajah yang berada dihadapannya. Maka dikatakan padanya :” Ia akan membunuhmu.” Dia menjawab:”Tidak apa-apa aku terbunuh dan kaum muslimin mendapatkan kemenangan.” Dan begitu pula pada peperangan Yamamah, ketika Bani Hanifah berlindung dalam benteng, ada seseorang yang berkata:”Letakkanlah aku pada alat pelempar, lalu lemparkanlah aku ke arah mereka!”Maka kaum muslimin melakukan permintaanya lalu iapun berperang sendirian dan membukakkan pintu bagi kaum muslimin.”

Aku (Al-Qurthubi) katakan:”Termasuk dalam hal ini adalah sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:”Apa pendapatmu jika aku terbunuh dalam keadaan sabar dan penuh pengharapan kepada Alloh?” Beliau menjawab:”Kamu mendapatkan .”Lalu orang itupun menceburkan diri kedalam musuh sampai terbunuh. (Riwayat Muslim dalam Kitabul Jihad bab Ghozwatu Uhud) Dalam Shohih Muslim disebutkan dari Anas binMalik ra. Bahwasanya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Uhud terpencil di dalam tujuh orang Anshor dan dua orang Quraisy, ketika mereka mendekati beliau, beliau berkata:”Barang siapa yang mengusir mereka, ia mendapatkan jannah.” Atau “Dia temanku di jannah.”Lalu sesorang dari Anshor maju dan berperang sampai ia terbunuh, dan terus disusul sampai tujuh sahabat tersebut terbunuh semua. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَاأَنْصَفَنَا أَصْحَابُنَا

Betapa adilnya shahabat-shahabat kita.” (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an II/364)

Ibnu ‘Abidin berkata:”Tidak apa-apa seseorang menyerang sendirian walaupun ia perkirakan bahwa ia akan terbunuh, jika ia bisa berbuat sesuatu seperti membunuh atau melukai atau mengalahkan. Hal semacam itu telah diriwayatkan dari sekelompok shahabat dihadapan Nabi saw. Pada perang Uhud dan beliau memuji mereka. Adapun jika ia tahu bahwa perbuatannya itu tidak bisa memberikan nikayah pada musuh maka tidak halal ia menyerarang musuh, karena serangannya tidak menambah kemuliaan sedikitpun pada agama.” (Hasyiyatu Ibni ‘Abidin IV/303)

Syaikh Abu ‘Umar Muhammad As-Saif berkata:”Jumhur ulama’ mensyaratkan dalam melakukan iqtiham (menceburkan diri ke barisan musuh) dengan beberapa syarat:

  1. Ikhlas
  2. Nikayah (membunuh, melukai)
  3. Menggentarkan mereka
  4. Memperkuat keberanian kaum muslimin

Sedangkan Al-Qurthubi dan Ibnu Qudamah membolehkan melakukan iqtiham hanya sekedar dengan niat ikhlas karena mencari mati syahid, karena mencari mati syahid adalah sesuatu yang disyariatkan dan itulah yang dicari oleh setiap mujahid. Dan juga karena Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tidaklah mensyaratkan sebagaimana yang disyaratkan oleh jumhur untuk melakukan iqtiham, maka sandaran pendapat Al-Qurthubi dan Ibnu Qudamah tidak lepas dari istihsan karena jika kita paparkan dalil-dalil yang membolehkan iqtiham, tidak ada yang mendukung pendapat jumhur, yaitu bahwasanya orang yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut tidak boleh melakukan iqtiham, tidak disebutkan dalam dalil-dalil tersebut. Namun mereka mengambil syarat-syarat tersebut dari kaidah-kaidah umum dalam jihad, sedangkan sesuatu yang umum tidak mengharuskan untuk sesuatu yang khusus. Ya kita setuju bahwa sesuatu yang tidak ada manfaatnya itu tidaklah layak kita kerjakan, namun kalau kita katakan orang yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut perbuatanya tercela dan tidak benar, ini adalah sebuah kedholiman, apalagi syarat-syarat tersebut tidaklah berlandaskan nas-nas yang jelas, atsar-atsar yang shohih maupun qiyas jali (jelas). Dengan demikian maka pada dasarnya iqtiham boleh meskipun tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, namun hal itu tidaklah utama. Oleh karena itu hendaknya jangan sekedar mencari mati syahid saja tanpa ada tujuan lain yang bermanfaat bagi kaum muslimin dan mujahidin.”[426]

B.  AMALIYAH ISTISYHADIYAH

Sesungguhnya asalnya masalah ini adalah inghimas, sendirian atau sekelompok kecil kedalam barisan musuh, meskipun orang yang melakukannya yakin bahwa perbuatannya itu akan membawa kematian, hanya saja perbedaannya dengan amaliyah istisyhadiayah adalah bahwa orang yang melakukan inghimas  kedalam barisan musuh itu terbunuh oleh tangan musuh sedangkan orang yang melakukan amaliayah istisyhadiyah terbunuh oleh tangannya sendiri.

Abu Hatim Mahmud ‘Abdul Majid berkata:”Dari penjelasan yang telah lalu maka sesungguhnya tidak ada perbedaan antara penyebab pembunuhan itu atas perintah dirinya sebagaimana yang terjadi pada ghulam, ia berkata kepada raja:”Sesungguhnya engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika engkau kerjakan apa yang kuperintahkan kepadamu.”Ia berkata:”Apa itu?”Pemuda itu menjawab:”Kau kumpulkan manusia di sebuah dataran tinggi dan engkau salib aku pada sebatang pohon lalu ambillah sebuah anak panah dari tempat anak panahku lalu letakkanlah anak panah itu pada busurnya dan katakanlah; Atas nama Alloh rob pemuda ini.Lalu panahlah aku. Sesungguhnya jika engkau melakukan hal itu, engkau akan bisa membunuhku.”

Atau terbunuh akibat pebuatannya sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh ashabul ukhdud , mereka melemparkan diri mereka ke dalam api atas pilihan mereka sendiri. Atau terbunuh akibat perbuatan orang lain sebagaimana seseorang yang menyerang musuh yang banyak. Mereka terpuji dan mendapatkan pahala jika melakukannya untuk kemaslahatan agama dan menegakkannya. Hal ini menunjukkan bahwasanya tidak ada perbedaan antara membunuh diri sendiri atau menceburkan diri kedalam barisan musuh lalu mereka membunuhnya atau dengan menyuruh orang lain untuk membunuh dirinya jika hal itu untuk kemaslahatan dan kemuliaan agama.

Hal ini diperkuat dengan bahwasanya tidak ada perbedaan atas haramnya orang yang membunuh dirinya dengan tangannya sendiri atau dengan menyuruh orang lain untuk membunuh dirinya, seperti orang yang menyuruh meminumkan racun kepada dirinya atau membunuh diri dengan perbuatan orang lain seperti orang yang melemparkan diri ke mobil atau kereta api. Semua itu hukumnya sama jika hal itu disebabkan oleh putus asa dari rahmat Alloh.”[427]

Syaikh Abu ‘Umar Muhammad As-Saif menyebutkan syarat-syarat amaliyah istisyhadiyah sebagai berikut:

  1. Ikhlas mencari ridlo Alloh dan menegakkan kalimatulloh dan melaksanakan kewajiban jihad serta keinginan untuk mati syahid. Dan ikhlas adalah satu-satunya syarat syah diantara syarat-syarat yang lain, maka jika keikhlasan itu hilang, maka amalan menjadi batal.
  2. Seorang mujahid yang melakukannya hendaknya mempunyai perkiraan bahwa kehancuran yang ia lakukan itu tidak bisa ditempuh dengan cara-cara lain yang bisa memberikan keselamatan dirinya selain dengan cara tersebut.
  3. Hendaknya dalam perkiraannya bahwa yang ia lakukan itu memberikan nikayah (membunuh, melukai) musuh atau menggentarkan mereka atau menumbuhkan keberanian pada kaum muslimin untuk menghadapi musuh.
  4. Seorang mujahid yang mau melakukannya bermusyawarah terlebih dahulu dengan orang yang pengetahuan dalam peperangan, khususnya pimpinan perang di daerahnya. Karena bisa jadi merusak apa yang telah sejak lama dipersiapkan oleh para mujahidin dan menyadarkan musuh.
  5. Hendaknya amaliyah ini tidak dilakukan kecuali dalam kondisi peperangan, karena pekerjaan ini tidaklah dilakukan kecuali untuk kemaslahatan mujahidin dan mengusir para penyerang. Adapun jika belum dikumandangkan perang, maka bahaya yang akan ditimbulkan lebih besar maka harus ditinggalkan.”[428]
C. PERANG TANDING

Qois bin Ubadah berkata:”Aku mendengar bersumpah bahwa ayat ini:

هَذَانِ خَصْمَانِ اِخْتَصَمُوْا ِفي رَبِّهِمْ

“Dua kelompok ini saling bermusuhan karena Robb mereka.” (Al-Haj: 19)

Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang bertanding pada perang Badar, yaitu: Hamzah, Ali dan Ubaidah Ibnul Harits melawan ‘Utbah, Syaibah keduanya anaknya Robi’ah dan Al-Walid bin ‘Utbah.”(Al-Bukhori VII/232 dalam kitab Al-Maghozi bab Qotlu Abi Jahl dan dalam kitab tafsir surat Al-Hajj bab هذان خصمان اختصموا في ربهم dan Muslim no. 3033 dalam kitab tafsr bab هذان خصمان اختصموا في ربهم dan disebutkan oleh As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsur IV/384 dan beliau menambahkan penisbatannya kepada Ath-Thobari, Sa’id bin ManshurIbnu Abi Syaibah, ‘Abd bin Humaid, At-Timidzi, Ibnu Majah, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Madawaih dan Al-Baihaqi dalam kitab Ad-dalail dan ada banyak perkataan lain tentang sebab turunnya ayat ini, lihat Zaadul Masiir V/416)

Imam Al-Baghowi berkata:”Imam berkata: Hadits ini menunjukkan atas bolehnya mengadakan perang tanding dalam jihad melawan orang-orang kafir. Para ulama’ tidak berselisih pendapat atas kebolehannya jika atas seijin imam, dan mereka berselisih pendapat jika hal itu tanpa seijin imam. Sekelompok ulama’ membolehkannya  karena orang-orang anshor pernah keluar berperang sebelum Hamzah, Ali dan Ubaidah tanpa ijin. Dan ini adalah pendapat Imam Malik dan Asy-Syafi’i, sekelompok ulama’ yang lain memakruhkan hal itu kecuali atas ijin imam. Dan ini adalah pendapat Sufyan, Ahmad dan Ishaq sedangkan dua pendapat riwayat tersebut kedua-duanya diriwayatkan dari Al-Auza’i.

Dan hadits ini menunjukkan atas bolehnya membantu orang yang sedang melakukan perang  tanding jika kelihatan lemah melawan musuhnya, dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’I, Ahmad dan Ishaq. Sedangkan Al-Auza’I berkata:”Yang lain tidak boleh membantu, karena begitulah perang tanding itu. Adapun jika seorang muslim melakukan perang tanding dengan orang musyrik dan keduanya memberikan persyaratan untuk tidak ada orang lain yang  ikut berperang, maka kedua belah fikak tidak boleh membantu selama keduanya melakukan pertandingan, dan jika orang kafir tersebut lari karena kalah atau membunuh orang Islam atau melukainya, maka boleh membunuh orang kafir tersebut, karena peperangan antara keduanya telah usai, kecuali jika keduanya memberikan syarat bahwa ia diberikan keamanan sampai ia kembali ke dalam barisannya maka tidak boleh menghadangnya kecuali jika ia melukai orang Islam dan hendak membunuhnya, maka kaum muslimin harus menyelamatkannya dari orang kafir tersebut dengan tanpa membunuhnya. Namun jika orang-orang musyrik membantu fihak mereka maka kaum muslimin juga harus membantu fihaknya. Jika orang musyrik tersebut meminta bantuan kepada kelompokknya maka batallah jaminan keamanan baginya, maka kaum muslimin boleh membunuh orang tersebut dan orang-orang yang memberikan bantuan kepadanya, dan jika mereka menolong tanpa diminta orang yang bertanding tersebut, maka orang-orang yang memberikan bantuan boleh dibunuh dan orang musyrik yang melakukan perang tanding tersebut tidak boleh dibunuh karena ia tidak merusak jaminan keamanannya dengan meminta bantuan. [429]

D. IGHTIYAL (PENYERGAPAN)

Ightiyal telah disyari’atkan kepada orang kafir harbi yang tidak mempunyai ikatan perjanjian dengan kaum muslimin. Alloh berfirman:

فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ

“Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, kepunglah. mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian. “ (  At Taubah : 5 )

Al-Qurthubi berkata:” {وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ}Yaitu; intailah mereka pada tempat kelengahan mereka, dan ini merupakan dalil atas bolehnya menyergap mereka sebelum mendakwahi mereka.”

Ayat ini juga merupakan dalil disyari’atkannya mengintai dan memata-matai musuh.

Dalam hadits juga disebutkan dalil disyari’atkannya ightiyal tepatnya pada kisah dibunuhnya Ka’ab bin Al-Asyrof dan Abu Rofi’ bin Abil Huqoiq dua orang Yahudi.

Adapun Ka’ab bin Al-Asyrof dia telah memprofokasi orang-orang musyrik untuk memerangi kaum muslimin, mencela Rosululloh saw. dan mengganggu para muslimah.

Tentang ightiyal terhadap Ka’ab diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari Jabir ra. Rosululloh saw. Bertanya :” siapakah yang mau membunuh Ka’ab bin Al-Asyrof, dia telah menyakiti Alloh dan Rosul-Nya?” lalu Muhammad bin Salamah berdiri dan berkata:”Ya Rosululloh apakah engkau menghendaki aku untuk membunuhnya?” Rosululloh menjawab:” Ya.” Lalu Muhammad bin Salamah berkata:”Biarkanlah saya mengatakan sesuatu (untuk membohonginya).” Rosul menjawab:” Katakanlah!” Lalu dia mendatangi Ka’ab bin Al-Asyrof.[430] Dan dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Muhammad bin Salamah dan orang-orang yang bersamanya membohongi Ka’ab ia mengatakan bahwa mereka susah hidup bersama Rosululloh, lalu mereka membuat siasat supaya dapat membunuhnya sedangkan ia dalam benteng yang kokoh.

Ibnu Hajar berkata:”Dalam hadits mursalnya Ikrimah disebutkan bahwa orang-orang Yahudi menjadi panik kemudian datang kepada Rosululloh dan berkata:”Pemimpin kami dibunuh dengan cara yang licik.” Lalu Nabi menyebutkan kepada mereka atas perbuatannya yang memprofokasi untuk memusuhi beliau dan menyakiti kaum muslimin.” Sa’ad menambahkan:”Lalu mereka ketakutan dan tidak berkata-kata lagi.” Ibnu Hajar berkata:” Dalam hadits ini terdapat dalil diperbolehkannya membunuh orang musyrik tanpa mendakwahinya terlebih dahulu, ketika dakwah secara umum telah sampai kepada mereka. Hadits ini juga menunjukkan atas bolehnya mengatakan sesuatu yang dibutuhkan dalam peperangan walaupun bukan hal yang sebenarnya.”[431] Al-Bukhori meriwayatkan dalam kitabul jihad, bab al-kadzibu fil harbi dan bab al-fatku bi ahlil harbi.

Oleh karena itu barangsiapa yang mengatakan bahwa menyergap (ightiyal) orang-orang kafir yang memerangi Alloh dan Rosul-Nya berarti dia berkhianat atau semacamnya atau mengatakan bahwa Islam mengharamkannya maka dia telah sesat dan berdusta terhadap Qur’an dan Sunnah.

Imam An-Nawawi mengatakan Al-Qodli ‘Iyadl berkata:”Tidak halal mengatakan  bahwa perbuatan itu sebagai pengkhianatan. Perkataan itu pernah diucapkan oleh seseorang dalam majlis Ali bin Abi Tholib, maka beliau memerintahkan untuk memenggal lehernya.[432]” Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ketika menafsirkan ayat

فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ

“Maka bunuhlah pemimpin-pemimpin orang kafir.” (At-Taubah: 12)

Dan Ibnu Taimiyah juga mencantumkannya dalam kitab beliau “Ash-Shorimul Maslul ‘Ala Syatimir Rosul” dan beliau juga menyebutkan sebuah kisah yang terjadi antara Mu’awiyah dan Muhammad bin Maslamah.

Adapun Ibnu Abil Huqoiq, dia adalah seorang Yahudi Khoibar dan pedagang di Hijaz. Dia mendatangi kaum Quraisy dan menghasudnya untuk memerangi Rosululloh sehingga terbentuklah sebuah aliansi (ahzab) dan inilah yang melatar belakangi terjadinya perang ahzab serta dialah yang mengobarkannya. Imam Al-Bukhori meriwayatkan dari dari Al-Barro’ bin ‘Azib bahwa Rosululloh pernah mengutus beberapa orang Anshor kepada Abu Rofi’ seorang Yahudi. Beliau memerintahkan Abdulloh bin Atik untuk memimpin rombongan, Abu Rofi’ telah melukai Rosululloh dan berbuat makar kepada beliau, sementara dia berada dalam bentengnya di Hijaz.[433] Diriwayatkan juga dari beliau bahwa Rosululloh saw mengutus beberapa orang kepada Abu Rofi’. Lalu Abdulloh bin Atik memasuki rumahnya pada malam hari lalu membunuhnya ketika sedang tidur.”[434]

Ibnu Atik telah menerapkan beberapa taktik sampai dia berhasil membunuhnya. Ia memasuki benteng dan menutup pintu-pintu rumah orang-orang Yahudi dari luar kemudia berjalan ke tempat Abu Rofi’ berada, dia tidak melewati satu pintupun kecuali dia menutupnya dari dalam. Ia merubah suaranya supaya tidak dikenal.” Ibnu Hajar berkata:”Dalam hadits ini terdapat beberapa faidah, antara lain diperbolehkannya menyergap (ightiyal) orang musyrik yang telah sampai kepadanya dakwah namun ia tidak menerimanya dan mebunuh mereka yang membantu musuh untuk memerangi Rosululloh baik dengan tangannya atau dengan hartanya atau dengan lisannya, di perbolehkannya memata-matai ahlul harbi dan menyergap mereka ketika dalam keadaan lengah, memerangi dengan keras terhadap orang-orang musyrik, boleh menyamarkan suara untuk suatu kemaslahatan dan boleh juga sekelompok kecil dari kaum muslimin untuk menghadapi kaum musyrikin yang banyak.”[435]

Dr. Abdulloh Azzam berkata    ketika menafsirkan ayat:

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang – orang musyrikin dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepung dan intailah mereka di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”( QS At Taubah :5  )

Kepunglah mereka di negara-negara dan benteng-benteng mereka dan intailah mereka di tempat-tempat persembunyian mereka. Dan ini menunjukkan atas bolehnya melakukan ightiyal kepada orang kafir sebelum memberi peringatan kepadanya.

وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ

“dan intailah mereka di tempat pengintaian”.

Ini adalah dalil atas bolehnya melakukan ightiyal. Oleh karena itu ightiyal adalah fardlu. Oleh karena itu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim Maslamah bertiga untuk membunuh Ka’ab bin Al-Asyrof  dan mengutus Abu ‘Atiq untuk membunuh Abul Huqoiq dan ia membunuhnya di dalam rumahnya pada malam hari. Ia masuk kedalam benteng. Ia membabatkan pedangnya sedangkan dia tidak mengetahui, apakah yang ia bunuh itu Abul Huqoiq atau bukan. Lalu ia ingin mengetahuinya (karena benteng Abul Huqoiq gelap) maka iapun bertanya:”Kenapa engkau wahai Ibnu Abil Huqoiq?” Ia menjawab:”Ada seseorang yang membabatku.” Maka Abu ‘Atiq mengetahui bahwa itu adalah Abul Huqoiq dari suaranya, maka ia tebas sekali lagi. Lalu Alloh pun menyelamatkannya.”[436]

II. KAJIAN TERHADAP BEBERAPA PRINSIP PRISIP PERANG.

  1. A. Kepemimpinan Dalam Perang

Ibnun Nuhas berkata:”Dan ketahuilah bahwa hal yang mendasar dalam pengaturan perang adalah pada pemilihan para komandan dan orang-orang yang mempunyai kelebihan. Sesungguhnya pimpinan pasukan, pembawa bendera dan orang-orang semacam mereka, haruslah dari orang-orang yang memiliki keberanian, taat beragama, mempunyai hati yang teguh dan tajam, perkasa, berpengalaman dalam peperangan, kuat dalam menangani pekerjaan, menggetarkan para pahlawan, telah mengikuti berbagai pertempuran serta mempunyai suara yang lantang. Karena kalau pemimpin seperti itu, akan memberikan pengaruh pada kekokohan hati pasukan, keperkasaan, keteguhan dan optimis untuk menang. Sesungguhnya seorang komandan itu ibaratnya seperti hati dalam tubuh manusia, jika komandan rusak maka rusaklah pasukan dan jika ia mempunyai keteguhan merekapun akan teguh. Disebutkan dalam kata mutiara asing: “Seekor singa memimpin seribu musang itu lebih baik dari pada seekor musang memimpin seribu singa.” Dan As-Surmari (seorang pahlawan terkenal) berkata: “Hendaknya pada diri seorang pimpinan perang itu ada sepuluh sifat sebagai berikut:

  1. Hendaknya hatinya sekuat singa, tidak pengecut.
  2. Sesombong macan, tidak rendah diri.
  3. Pemberani bak beruang, membunuh dengan seluruh anggota badannya.
  4. Teguh seperti babi, tidak pernah mundur.
  5. Penyergap seperti srigala, jika gagal menyergap dari satu tempat menyergap dari tempat lain.
  6. Jika membawa persenjataan seperti semut, membawa lebih dari ukurannya.
  7. Kokoh seperi batu karang.
  8. Kesabarannya seperti keledai.
  9. Keinginannya keras seperti anjing, jika mangsanya masuk kedalam api ia akan masuk mengikutinya.

10.  Dalam menggunakan kesempatan seperti ayam jantan.[437]

Ibnu Taimiyah berkata:”Sesungguhnya Al-Walayah (kepemimpinan) itu mempunyai dua rukun: Al-Quwwah dan Al-Amanah. Sebagaimana firman Alloh:

إن خير من استأجرت القوي الأمين

“Sesungguhnya sebaik-baik orang yan engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi berlaku amanah.”

Penguasa Mesir berkata kepada Yusuf  as.

إنك اليوم لدينا مكين أمين

“Sesungguh engkau hari ini bagi kami adalah orang yang kuat lagi dipercaya.”

Dan Alloh berfirman tentang sifat Jibril

إنه لقول رسول كريم ذي قوة عند ذي العرش مكين مطاع ثم أمين

Dan kekuatan itu disesuaikan dengan kepemimpinan yang ditangani. Adapun kekuatan pada kepemimpinan perang, kembali kepada keberanian hati, pengalaman berperang, kemampuan mengatur siasat tipudaya, karena sesunggguhnya peperangan itu adalah tipu daya dan juga kemampuan dalam berbagai bentuk peperangan.”

Kemudian beliau mengatakan lebih lanjut: “Terkumpulnya sifat Al-Quwwah dan Al-Amanah pada seseorang sangat jarang. Oleh karena itu Umar bin Khothob berkata:

اللهم أشكو إليك جلد الفاجر و عجز الثقة

“Ya Alloh aku mengadukan kepadamu terhadap orang fajir yang kuat dan orang terpercaya yang lemah.”

Yang wajib pada setiap kepemimpinan itu disesuaikan dengan kebutuhan yang terbaik untuk kepemimpinan tersebut. Apabila ada dua orang yang satu lebih bersifat amanah dan yang satu lagi lebih kuat, maka dipilihlah orang lebih memberikan manfaat bagi kepemimpinan yang akan diembannya dan yang lebih sedikit bahayanya. Oleh karena itu pada kepemimpinan perang, orang yang kuat dan pemberani lebih diutamakan (meskipun  ia banyak berbuat dosa) dari pada orang yang lemah meskipun ia berlaku amanah. Sebagaimana Imam Ahmad pernah ditanya tentang dua orang yang akan diangkat menjadi pemimpin dalam peperangan, yang satu kuat tapi fajir (banyak berbuat dosa) dan yang satu lagi orangnya sholih tapi lemah, mana yang lebih berhak dijadikan pimpinan perang. Beliau menjawab: “Adapun orang fajir yang kuat, kekuatannya  bermanfaat bagi kaum muslimin dan kefajirannya hanya membahayahan dirinya sendiri, sedangkan orang sholih yang lemah, kesalehannya untuk dirinya sendiri dan kelemahannya membahayakan kaum muslimin. Oleh karena itu yang lebih diutamakan adalah orang kuat yang fajir. Dan Rosululloh  shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda;

إن الله يؤيد هذا الدين بالرجل  الفاجر وروي بأقوام لا خلاق لهم

Meskipun bukan orang yang fajir, ia lebih berhak memimpin peperangan dari pada orang yang lebih taat beragama namun tidak mampu memenuhi tuntutan perang. Oleh karena itu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memanfatkan Kholid dalam peperanngan sejak ia masuk Islam, dan beliau berkata:

إن خالدا سيف سله الله على المشركين

“Sesungguhnya Kholid adalah pedang yang dihunuskan Alloh terhadap orang-orang musyrik.”

Meskipun kadang-kadang ia melakuan pebuatan yang diingkari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  Sampai-sampai beliau pernah mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata: “Ya Alloh aku berlepas diri kepada engkau terhadap apa yang diperbuat Kholid.” Ketika ia diutus ke Bani Judzaimah lalu ia memerangi mereka dan merampas harta mereka dengan adanya semacam padahal itu tidak boleh. Hal itu diingkari oleh beberapa sahabat yang bersamanya sampai-sampai hal itu menyinggung Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau menjamin harta mereka. Namun demikian beliau tetap selalu memilihnya memimpin peperangan karena ia lebih tepat dalam hal ini sedangkan ia melakukan hal kesalahan diatas disebabkan karena takwil.

Dan Abu Dzar ra. lebih mempunyai sifat amanah dan jujur dari pada Kholid, namun demikian Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada beliau.

يا أبا ذر إني أراك ضعيفا وإني أحب لك ما أحب لنفسي لا تأمرن على اثنين ولا تولين مال يتيم. رواه مسلم

Wahai Abu Dzar, aku melihatmu seorang yang lemah, dan aku mencintaimu sebagai mana aku mencintai diriku sendiri, janganlah engkau memimpin dua orang dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim.”

Rosululloh  shallallahu ‘alaihi wasallam  melarang Abu Dzar untuk memimpin karena beliau melihat Abu Dzar sebagai orang yang lemah, padahal Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

ما أظلت الخضراء وما أقلت الغبراء أصدق لهجة من أبي ذر

Dan Rosululloh  shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus ‘Amru bin Al-‘Ash pada perang Dzatus Salasil (supaya kerabatnya yang diserang rela) padahal ada yang lebih utama dari pada beliau. Dan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat Usamah bin Zaid untuk menuntut balas ayahnya. Dan begitulah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat seseorang sesuai dengan kemaslahatannya meskipun kadang-kadang yang dipimpin itu ada yang lebih utama baik ilmu maupun imannya.[438]

  1. B. Penuh Waspada

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

“ Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat,lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” ( An Nisaa : 102 )

Asy-Syaukani berkata:”Adapun firman Alloh:

وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً

kalimat ini menerangkan sebab kenapa mereka diperintahkan untuk berwaspada dan membawa senjata[439]

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُم

“Hai orang-orang yang beriman, bersiapsiagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!.” ( An Nisaa : 71 )

Ibnu Katsir berkata:”Alloh memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berwaspada dari musuh-musuh mereka, dan ini menuntut untuk mempersiapkan pesenjataan,  persiapan dan memperbanyak jumlah dalam berjihad fii sabilillah.” [440]

Oleh karena Kewaspadaan itu sangat penting dalam jihad, maka disyari’atkanlah hal-hal berikut ini:

q Menjaga rahasia.

Bukhori meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik tentang cerita tertinggalnya dari perang Tabuk beliu berkata   :

لَمْ يَكُنْ رَسَوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمُ يُرِيْدُ غَزْوَةً إِلاَّ وُرِيَ بِغَيْرِهَا حَتَّى كَانَتْ تِلْكَ اْلغَزْوَةُ غَزَاهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمُ ِفي حَرٍّ شَدِيْدٍ وَاسْتَقْبَلَ سَفَرًا بَعِيْدًا وَ مُفَازًا وَعَدُوا كَثِيْرًا فَجَلَى ِللْمُسْلِمِيْنَ أَمْرَهُمْ ِليَتَأَهَّبُوْا أَهَبَّةً غَزَوْهُمْ فَأَخْبَرَهُمْ بِوَجْهِهِ الَّذِيْ يُرِيْدُ

Rosululloh tidaklah pernah mau berperang kecuali beliau sembunyikan dari orang lain, sampai ketika itu peperangan yang akan diadakan Rosululloh pada cuaca yang sangat panas, perjalanannya sangat jauh dan musuh yang sangat banyak, maka Rosulullohpun memberitahukan kepada kaum muslimin supaya mereka mempersapkan peperangan dan beliau membitahukan tujuannya.” (Al-Bukhori VI/80 dan Muslim: 2769)

Hadits ini menunjukkan atas bolehnya menyembunyikan rahasia meskipun kepada para sahabat sekalipun. Hal ini bukan berarti sebuah pengkhianatan terhadap saudara sendiri namun kewaspadaan dalam peperangan menuntut hal itu. Maka begitulah para komandan peperangan berhak memberi tahu siapa saja yang menurut dia perlu untuk mengetahui urusan peperangan yang tengah ia jalankan dan merahasiakannya kepada siapa saja yang diperlukan menurutnya.

q       Membuat sandi

Dalam hadits yang diriwayatkan Al-Muhallab bin Abi Shufroh ra. Dari orang yang mendengar dari Nabi saw., bahwasanya beliau berkata:

إن بيتكم العدو فقولوا حم لا ينصرون

Jika musuh menyergap pada malam hari maka katakanlah haa miim laayunshorun!”(Jami’ul Ushul II/573 no. 1053, At-Tirmidzi no. 1682 dalam kitabul Jihad bab maa jaa’a fisy syi’ar dan isnadnya hasan, Abu dawud no. 2597, Ahmad IV/65,V/377 dan dishohihkan oleh Al-Hakim II/107 Dan Ibnu Katsir menyebutkannya dalam tafsir beliauIV/69 dari Abu Dawud dan At-Turmudzi dan beliau berkata:”Hadits ini sanadnya shohih.”)

Al-Baghowi berkata:” Al-Imam berkata: Apabila musuh menyerang kalian pada watu malam hari, sehingga kaum muslimin bercampur dengan musuh, maka hendaklah imam membuat syiar yang mereka ucapkan sebagai pembeda antara mereka dengan musuh.” [441]

q       Menyebar mata-mata

Al-Bukhori meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat perang Ahzab bersabda:”Siapa yang bisa mendatangkan berita tentang kaum (baca: musuh) kepadaku.” Zubair menjawab:” Saya.” Kemudian beliau bersabda lagi:” Siapa yang bisa mendatangkan berita tentang kaum (baca: musuh) kepadaku.” Zubair menjawab:” Saya.” Lalu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda:”Sesungguhnya setiap nabi itu mempunyai hawari (pembela), dan pembelaku adalah Zubair.” (Al-Bukhori no. 2846, 2847, 2997)

Ibnu berkata:”Hadits ini menunjukkan atas bolehnya menggunakan mata-mata dalam jihad.” [442]

q       Bunuh diri dalam rangka menjaga rahasia.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah di tanya beberapa mujahidin dari Al Jazair ketika meletus perang kemerdekaan.Pertanyaan ini menyangkut tawanan yang melakukan tindakan bunuh diri demi terjaganya rahasia dari musuh.pertanyaan itu sebagai berikut,”orang-orang perancis akhir-akhir ini semakin menggebu di dalam berperang.Mereka menggunakan narkotika untuk membongkar rahasia mujahidin ketika mereka berhasil menawan salah satu dari warga Aljazair.Di orang-orang yang mereka tawan itu terkadang ada tokoh-tokoh penting sehinga bisa-bisa ia membeberkan bahwa di tempat ini ada ini dan seterusnya.injeksi dengan narkoba ini bisa menghilangkan akal untuk sementara waktu.Jika sudah begitu,siapa saja yang di injeksi akan mengatakan apa saja di alam sadarnya.Nah bolehkah seorang tawanan membunuh dirinya sendiri karena khawatir musuh akan mengenjiksinya dengan narkoba? Syekh Ibrahim menjawab:Jika demikian halnya di perbolehkan.Di antara dalilnya adalah hadits “Kami beriman kepada Rabbnya si anak muda …dan seterusnya.’Dan pernyataan ahli ilmu ‘Jika kapal …dan seterusnya.’Mafsadat dari membeberkan rahasia lebih besar daripada mafsadat membunuh diri sendiri.Kaidah dalam hal ini Muhkam,dan bagaimanapun ia akan di bunuh’.[443]

  1. C. Membuat tipu daya

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اْلحَرْبُ خُدْعَةٌ

Perang itu adalah tipu daya.” (Al-Bukhori VI/110, Muslim:1739, Abu Dawud: 2636 dan At-Tirmidzi: 1675)

Ini adalah termasuk bentuk kalimat yang menunjukkan pembatasan mubtada’ pada khobar, artinya bahwasanya asas peperangan dan penopang terpentingnya adalah tipu daya. Sebagaimana sabda rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam «الحج عرفة» artinya arofah adalah hal yang terpenting dalam haji padahal masih ada rukun rukun lainnya dalam haji. Begitu pula sabda beliau«الدين النصيحة»

Di antara yang mendukung atas terlaksananya tipu daya adalah disyari’atkannya berbohong kepada musuh. Berbohong kepada musuh bukan hanya diperbolehkan waktu berperang saja. Namun berbohong kepada musuh diperbolehkan juga pada salain waktu perang kalau diperlukan.

Adapun berbohong ketika dalam peperangan adalah berlandaskan hadits Umu Kultsum binti Uqbah beliau berkata:

لم أسمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يرخص في شيء من الكذب مما تقول الناس إلا في الحرب والإصلاح بين الناس وحديث الرجل امرأته وحديث المرأة زوجها

”Aku belum pernah mendengar rosululloh memberikan rokhshoh kepada manusia untuk berbohong pada masalah apapun kecuali pada peperangan, mendamaikan antara manusia dan seorang laki-laki kepada istrinya serta seorang istri kepada suaminya.” HR. Ahmad, Muslim Abu Daud  dan diriwayatkan At Tirmidzi Asma binti Yazid

Imam Al-Hafidz Abul ‘Ula Muhammad Abdur Rohman bin Abdur Rohim Al-Mubarokfuri:”Imam An-Nawawi berkata:”Para ulama’ bersepakat atas bolehnya menipu orang-orang kafir dalam peperangan jika memungkinkan kecuali jika mengandung unsur pengkhianatan terhadap janji atau jaminan keamanan, maka hal itu tidak halal.” (Shohih Muslim Bi Syarhin Nawawi XII/45).

Ath-Thobari berkata:”Penipuan yang diperbolehkan dalam peperangan adalah penipuan yang berupa kiasan dan bukan penipuan yang sebenarnya, sesungguhnya penipuan yang sebenarnya itu tidak halal.” An-Nawawi berkata:”Yang dhohir dari nas hadits adalah boleh melakukan penipuan yang sebenarnya. Akan tetapi lebih utama cukup menggunakan kiasan.” Dan Ibnul-‘Arobi berkata:”Berbohong dalam peperangan yang dikecualikan dan diperbolehkan dengan nas adalah merupakan bentuk kasih sayang terhadap umat Islam karena mereka memerlukannya, dan akal tidak berhak menentukan atas bolehnya, jika diperbolehkannya berbohong itu berlandaskan akal (bukan karena nas) maka hukum berbohong itu tidak akan berubah menjadi halal.”[444]

Adapun berbohong atas musuh dalam keadaan damai (bukan perang), maka hal tersebut diperbolehkan dengan beberapa sebab, di antaranya : apabila di sana terdapat kemaslahatan diniyah maupun  duniawiyah bagi seorang mukmin atau terhindarnya seorang mukmin dari gangguan orang-orang kafir.

Dasarnya adalah kisah nabi Ibrahim as. Rosululloh saw bersabda:

«لم يكذب إبراهيم  إلا ثلاث كذبات: ثنتين منهن في ذات الله: قوله {إِنِّي سَقِيمٌ}، وقوله {بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا}، وقال: بَيْنا هو ذات يوم وسارة إذ أتى على جبار من الجبابرة فقيل له: إن ها هنا رجلا معه امرأة من أحسن الناس، فأرسل إليه فسأله عنها فقال: من هذه؟ قال: أختي. فأتى سارة قال: يا سارة ليس على وجه الأرض مؤمن غيري وغيرك، وإن هذا سألني عنك فأخبرته أنك أختي، فلا تكذبيني»

“Ibrahim tidak pernah berdusta kecuali dalam tiga hal, dua hal berkaitan dengan dzat Alloh swt, yaitu perkataannya: “Sesungguhnya saya sedang sakit”[445] dan yang kedua “Yang menghancurkan (patung-patung itu) adalah patung yang paling besar ini.”[446] Dan yang ketiga adalah ketika Ibrahim sedang bersama isterinya pada suatu hari, lalu ada seseorang yang datang kepada seorang raja diktator lalu ia berkata ; “Sesungguhnya di sisni terdapat seorang laki-laki bersama seorang perempuan yang terbaik (sangat cantik).” maka raja tersebut mengutus seseorang kepada Ibrohim dan menanyakannya:“Siapa perempuan ini?” Ibrahim berkata: “Ini adalah saudara perempuanku.” Lalu Ibrahim menemui isterinya (Sarah) dan berkata: “Di muka bumi ini tidak ada seorang mukmin pun kecuali engkau dan aku. Dan laki-laki tadi bertanya kepadaku tentang dirimu, maka aku katakan bahwa engkau adalah saudara perempuanku, maka janganlah engkau mendustakanku.” [447]

Ibnu Hajar berkata:”Sekedar berdusta dalam keadaan-keadaan semacam tersebut di atas tidaklah diperbolehkan, namun kadang berbohong menjadi wajib dikarenakan untuk memilih madlorot yang paling ringan dan mencegah madhorot yang lebih besar. Adapun hal itu disebut dusta, bukan berarti hal itu tercela, karena meskipun bohong itu jelek akan tetapi kadang-kadang ia menjadi baik dalam kasus tertentu, sebagaiman kasus di atas.” [448]

Dalil yang lain adalah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab shohihnya kisah ashabul ukhdud, sebagaimana yang tersebut pada pembahasan sebelumnya.[449]

Imam An-Nawawi ketika menerangkan haits ini mengatakan:“Boleh berdusta dalam keadaan perang, atau yang semisalnya untuk menyelamatkan jiwa atau yang lainnya, baik jiwanya sendiri atau jiwa orang lain yang wajib dilindungi.”[450] Sedangkan hadits di atas tidaklah dalam kondisi perang.

Di tempat yang lain Imam Nawawi berkata:”Mereka (para ulama’) berkata: “Tidak diperselisihkan lagi bahwa jika ada seorang yang dholim ingin membunuh seseorang yang dia bersembunyi pada suatu tempat maka dia wajib berbohong sehingga tidak diketahui di mana seseorang yang akan dibunuh tadi berada.”[451]

Dan diperbolehkan juga berdusta atas orang kafir demi kemaslahatan diniawi, sebagaimana kisah Al-Hajjaj bin ‘Allath yang diterang kan  oleh Ibnu Hajar dalam bab Dusta dalam Peperangan.

Dia berkata ; Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dari Anas ra. Tentang kisah Al-Hajjaj bin ‘Ilath, yang diriwayatkan juga oleh An-Nasa’I dan dishohihkan juga oleh Al-Hakim ketika dia meminta izin kepada Nabi saw untuk menyelamatkan hartanya dari penduduk Mekah, dan diizinkan oleh Nabi. Dan ketika dia memberi kabar pada penduduk Mekah bahwa penduduk Khobar telah menyerang orang-orang muslim. Dan dalam berbagai kisah yang lain. Dan kisah Al-Hajjaj ini bukan dalam keadaan perang.”

Ibnu Katsir juga meriwayatkan kisah Al-Hajjaj ini secara panjang lebar dalam bukuknya Al-Bidayah wan Nihayah jilid 4 hal. 215.

  1. D. Moral Yang Tinggi.

Di dalam pertempurang moral yang tinggi sangatlah dibutuhkan. Di antara yang menunjukkan bahwa moral ini sangat diperhatikan dalam syari’at adalah disyari’atkannya hal-hal sebagai berikut:

q       Tahridl (mengobarkan semangat)

Al-Bukhori membuat sebuah bab dalam kitab shohihnya bab tahridl fil qital (mengobarkan semangat dalam peperangan. Di dalamnya disebutkan bahwasanya ketika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabatnya dalam keadaan lapar beliau membacakan sya’ir:

اللهم إن العيش عيش الآخرة   فاغفر اللهم للأنصار و المهاجرة

“Ya Alloh, kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat. Oleh karena itu ya Alloh berilah ampunan kepada para muhajirin dan anshor.”

Kemudian para muhajirin dan anshor menyambut dengan sya’ir juga:

نحن الذين بايعوا محمدا على الجهاد ما بقينا أبدا

“Kami telah berbai’at kepada Muhammad untuk berjihad selama-lamanya.” [452]

Dr. Al-Qodiri mengatakan bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bernasyid bersama para sahabat yang dapat mengobarkan semangat serta mengangkat suara pada kata-kata terakhir. Hal itu beliau lakukan untuk mendorong semangat mereka ketika menggali parit. Al-Barro’ bin ‘Azib ra. Berkata:” Aku melihat rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam memindahkan tanah bersama kami, seraya berkata:

والله لو لا الله ما اهتدينا       ولا تصدقنا ولا صلينا

فأنزلن سكينة علينا             و ثبت الأقدام إن لاقينا

و المشركين قد بغوا علينا      إذا أرادوا فتنة أبينا

Demi Allah kalau tidak karena-Nya kami tidak akan mendapatkan hidayah, tak akan bersedekah, tidak pula sholat maka turunkanlah ya Allah kepada kami ketenangan dan kokohkanlah kaki-kaki kami jika bertemu musuh, orang-orang musyrik telah melampui batas kepada kami, jika mereka menebar fitnah kami menolaknya.

Dan beliau mengangkat suaranya.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)[453]

Berdasarkan itu pula Syaikh jamil Zainu membolehkan bernasyid dalam bekerja untuk memberikan semangat. [454]

q       Sombong

Ibnu Taimiyah pernah ditanya:”Apakah seorang tentara itu boleh memakai sesuatu dari sutra, emas dan perak ketika berperang atau ketika datng utusan musuh kepada kaum muslimin?” Maka beliau menjawab:”Al-Hamdulillah. Adapun memakai sutra ketika perang karena darurat, maka para ulama’ bersepakat bahwa hal itu boleh seperti jika tidak ada yang lain sebagai penggantinya untuk senjata atau penjagaan. Adapun memakai sutra untuk menggentarkan musuh, para ulama berselisih pendapat menjadi dua pendapat: yang paling kuat adalah bahwasanya hal itu boleh, karena sesungguhnya pernah tentara Syam mengirim surat kepada Umar ibnul Khothob yang berbunyi:”Sesungguhnya kami apabila bertemu dengan musuh yang menutupi senjata mereka dengan sutra, kami merasa gentar karenanya.” Maka Umar mengirim surat kepada mereka:”Tutuplah senjata kalian dengan sutra sebagaimana mereka menutupinya juga dengan sutra!”

Dan juga kerena memakai kain sutra itu mengandung unsur kesombongan dan Alloh mencintai kesombongan dalam peperangan sebagaimana yang terdapat dalam As-Sunan dari Nabi bahwasanya beliau bersabda:

وإن من الخيلاء ما يحبه الله و من الخيلاء ما يبغضه الله  فأما الخيلاء التي يحبها الله فاختيال الرجل عند الحرب و عند الصدقة وأما الخيلاء التي يبغضها الله فالخيلاء في البغي و الفخر

”Sesungguhnya kesombongan itu ada yang dicintai Alloh dan ada yang dibenci Alloh. Adapun kesombongan yang dicintai Alloh adalah kesombongan seseorang dalam pertempuran dan ketika sedekah, dan kesombongan yang dibenci Alloh adalah kesombongan dalam kesemena-menaan dan berbangga.” (Musnad Imam Ahmad V/445, Sunan An-Nasa’I V/58, Sunan At-Tirmidzi no. hadits: 2642, Tuhfatul Ahwadzi VII/320 dan Sunan Abi Dawud no. hadits: 114, III/114) Dan ketika perang Uhud, Abu Dujanah melakukan kesombongan antara barisan kaum muslimin dan orang-orang kafir, maka Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya berjalan seperti itu dibenci oleh Alloh kecuali di tempat ini.”[455]

q       Bai’atul maut

Dalam sebuah hadits dari Jabir  ra. Beliau berkata:” Kami ketika perang Hudaibiyah berjumlah 1400 orang lalu kami berbai’at kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan Umar mengambil tangan beliau di bawah pohon yang bernama Samuroh.” Ia berkata:”Kami berbai’at kepada beliau untuk tidak lari, dan kami tidak berbai’at kepada beliau untuk mati.” (Shohih Muslim III/1483)

An-Nawawi berkata:”Dan dalam riwayat Salamah bahwasanya mereka ketika itu berbai’at untuk mati.” (Al-Bukhori no. 2960, Fathul Bari VI/117)

Para ulama’ berkata:”semua riwayat ini arti dan maksudnya terkumpul dalam satu makna, adapun berbaiat untuk tidak lari artinya adalah bersabar sampai menang melawan musuh kita atau mati, dan inilah arti baiat untuk mati, yaitu sabar walaupun hal itu menyebabkan kematian, bukan yang menjadi tujuan kematian itu sendiri. Begitu pula bai’at untuk berjihad, artinya adalah bersabar dalam berjihad.” (Syarhun Nawawi ‘ala Shohih Muslim XIII/2,6 lihat pula Hawasyi Tuhfatil Muhtaj ‘alal Minhaj IX/ 239)

q       Tidak mengikut sertakan murjif dan mukhodzil dalam jihad

Dr. Abdulloh Azzam berkata:”Seorang amir harus menahan murjif dan mukhodzil agar tidak ikut serta dalam pasukan.

Mukhodzil adalah orang yang melemahkan semangat orang untuk berjihad dan menjadikan mereka enggan untuk berperang. Seperti beralasan dengan banyak salju atau hujan atau takut kepada serangan dan penjajahan musuh terhadap negara mereka.

Adapun murjif adalah orang yang menyebarkan aib-aib pasukan Islam, mengecil-ngecilkan keadaan kaum uslimin, menyebar luaskan berita-berita kekalahan kaum muslimin dan membesar-besarkan keadaan dan kekuatan musuh.

Dan dalil atas tidak bolehnya mengijinkan mereka untuk ikut berperang adalah firman Alloh

فإن رجعك الله إلى طائفة منهم فاستأذنوك للخروج فقل لن تخرجوا معي أبدا ولن تقاتلوا معي عدوا

Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya VIII/218:”Hal ini menunjukkan bahwa mengikut sertakan murjif dalam pertempuran tidak boleh.”

Dan Alloh berfirman:

ولو أرادوا الخروج لأعدوا له عدة ولكن كره الله انبعاثهم

Dikatakan: artinya adalah mereka membuat perpecahan. Dan dikatakan: mereka cepat-cepat memecah belah persatuan kalian.

Dan jika ada yang ikut berperang, ia tidak diberi bagian dari ghonimah sebagaimana para mujahidin yang lain. Dan tidak pula diberi rodlokh (pemberian yang diambil dari ghonimah namun bukan bagian) meskipun ia menunjukkan kepalawanannya dalam pertempuran, karena bahaya terhadap kaum muslimin lebih besar dari pada bahayanya terhadap orang kafir.

Dan ini adalah madzhab Imam Ahmad dan Ay-Syafi’I Al-Mughni X/420, 372.

Disebutkan dalam kitab Nihayatul muhtaj karangan Ar-Romli Asy-Syafi’I VIII/60:”Dan disunnahkan terhadap Imam atau wakilnya agar menahan mukhodzil dan murjif agar tidak ikut serta dalam barisan peperangan dan mengeluarkannya dari barisan selama tidak menimbulkan fitnah. …..Bahkan hal itu wajib jika ia meiliki perkiraan kuat bahwa keberadaannya akan mebuat fitnah dan membahayakan yang lain.”

Dan disebutkan dalam kitab Al-Inshof  karangan Al-Bahuni Al-Hambali IV/142: ”Imam harus mencegah mukhdzil dan murjif untuk ikut berjihad, orang yang menebar kabar kaum muslimin, orang yang menebar fitnah dan orang yang telah diketahui sebagai munafiq dan zindiq.” [456]

III. BEBERAPA ADAB DALAM PERTEMPURAN

  1. A. Memanjangkan Kuku

Ahmad berkata; bahwasanya Umar berkata;”Panjangkanlah kuku-kuku di negeri musuh, karena kuku itu adalah senjata.” (Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabul jihad, bab Al-Amru bi tahsiinis silah wa I’dadihi liljihad. Al-Matholibul ‘aliyah II/165) Imam Ahmad berkata:”Kuku diperlukan ketika dinegeri musuh, apakah anda tidak melihat jika seseorang ingin membuka tali atau sesuatu, jika ia tidak punya kuku, ia tidak bisa melakukannya. Dan beliau meriwayatkan dari Al-Hakam bin Amr; bahwasanya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memanjangkan kuku ketika berjihad, sesungguhnya kekuatan itu ada pada kuku.” (Al-Mughni XIII/17)

  1. B. Do’a dalam pertempuran
اللهم أنت عضدي و أنت ناصري و بك أقاتل

“Ya Alloh Engkaulah pelindungku dan Engkaulah penolongku dan karena Engkaulah aku berperang.” (Berkata Dr. Mahmud Mathrohi hadits ini riwayat At-Tirmidzi: 3584, Abu daud: 2632 dan Ahmad: III/184)

اللهم إنا نجعلك في نحورهم و معوذ بك من شرورهم

“Ya Alloh kami menjadikan Engkau di leher-leher mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.” (Berkata Dr. Mahmud Mathrohi:”Hadits ini riwayat Abu Dawud: 1537, Al-Baihaqi: V/253, Ahmad: IV/414-415 dan hadits ini dishohihkan oleh Al-Hakim: II/132 dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)[457]

اللهم منزل الكتاب مجري السحاب و هازم الأحزاب اهزمهم و انصرنا عليهم

“Ya Alloh, Yang menurunkan kitab, Yang menjalankan awan dan Yang mengalahkan persekutuan, kalahkanlah mereka dan menangkanlah kami.” (Al-Bukhori VI/85 dan Muslim; 2471)

  1. C. Bendera

Dalam Shohih Bukhori disebutkan, dari Abu Hazim beliau berkata:” Sahl bin Sa’ad bercerita kepadaku bahwasanyan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada perang Khoibar:

لأعطين الراية غدا رجلا يفتح الله علي يديه بحب الله ورسوله. قل : فبات الناس يدوكون ليلتهم أيهم يعطاها, فقال : أين علي بن أبي طالب ؟ فقيل : هو – يا رسول الله – يشتكى عينيه, قال: فأرسلوا إليه فأتي به فبصق رسول الله في عينيه ودعا له, فبرأ حتى كأن لم يكن به وجع, فأعطاه الراية, فقال علي : يا رسول الله أقاتلهم حتى يكونوا مثلنا ؟ فقال : انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم ثم ادعهم إلى الإسلام, فأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله فيه فو الله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النعم

Besok akan kuberikan bendera kepada orang yang Alloh berikan kemenangan melalui tangannya lantaran cinta Alloh da Rosul-Nya.” Abu Hazim berkata:”Lalu pada malam itu orang-orang membincangkan kepada siapa kiranya yang akan dibarikan bendera itu.” Lalu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Mana Ali bin Abi Tholib?” Maka dijawab:”Wahai Rosululloh, dia sakit matanya.” Maka beliau bersabda:”Panggilah dia!” Maka setelah didatangkan,beliau meludahi kedua matanya dan mendoakannya, maka sembuhlah dia sampai seakan-akan belum kena sakit, lalu benderapun diberikan kepadanya. Lalu Ali berkata:” Wahai Rosululloh, apakah kuperangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?” Beliau menjawab:”Janganlah tergesa-gesa, jika engkau sampai ke perkampungan mereka, ajaklah mereka masuk Islam. Lalu beritahukan kepada mereka tentang hak Alloh atas mereka yang harus dilaksanakan. Demi Alloh jika  Alloh memberikan hidayah kepada seseorang lantaran engkau, hal itu lebih baik dari pada onta merah.” (Al-Bukhori no. 4210 dan Muslim IV/1871)

Al-Hafidz berkata:”Hadits-hadits ini menunjukkan atas sunnahnya membawa bendera dalam peperangan dan bahwasanya bendera itu dipegang oleh pemimpin atau orang yang ditunjuk olehnya ketika peperangan. (Fathul Bari VI/129)

Dalam hadits Anas disebutkan:”Bendera diambil oleh Zaid bin Haritsah lalu ia terkena kemudian diambil Ja’far lalu ia terkena …….. “ (Fathul Bari VI/129)

  1. D. Membentuk barisan

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berperang di jalan Alloh dalam keadaan berbaris, seolah-olah mereka bangunan yang kokoh.” (Ash-Shof: 4)

وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dari Hamzah bin Abi Usaid beliau berkata dari bapaknya bahwasanya ketika kami membentuk barisan untuk menghadapi pasukan Quraisy dan mereka membentuk barisan untuk menghadapi kami, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أكثبوكم , فعليكم بالنبل

“Jika mereka mendekat maka panahlah!” (Al-Bukhori VI/68 dalam kitab Jihad bab At-Tahridl ‘alar Romyi)

Abu Ishaq berkata:”Aku mendengar Al-Barro’ bin ‘Azib berkata:”Pada saat perang Uhud, Nabi saw. Menjadikan Abdulloh bin Jubair sebagai pemimpin sebuah pasukan pejalan kaki yang berjumlah lima puluh orang, lalu beliau bersabda:”Jika kalian melihat kami telah mundur kalah, tetaplah kalian di tempat kalian sampai kukirim utusan kepada kalian dan jika kalian melihat kami menang dan mengalahkan musuh, tetaplah kalian di tempat kalian sampai kukirim utusan kepada kalian…………” (Diriwayatkan Al-Bukhori VI/113,114 dalam kitab Jihad bab maa yukrohu minat tanazu’ wal ikhtilaf fil harb, dalam kitab Al-Maghozi bab fadli man syahida badron dan bab ghozwatu Uhud dan bab idz tush’idun walaa talwuuna ‘alaa ahadin dan dalam kitab tafsir  surat Ali ‘Imron bab ayat: war rosuulu yad’ulum fii ukhrokum)

  1. E. Merusak tanaman

Ibnun Nuhas berkata:”Tanaman dan pepohonan di daarul harbi ada tiga macam:

Pertama: yang perlu untuk kita musnahkan, seperti yang yang dekat dengan benteng musuh dan menghalangi kita untuk memerangi mereka, atau yang perlu untuk kita potong untuk memperluas jalan atau memperkokoh kedudukan dalam perang atau menghalang-halangi manjaniq atau yang lain, atau mereka menebangi pepohonan milik kita, lalu kitapun memotongi tanaman mereka supaya mereka berhenti. Semacam ini diperbolehkan tanpa ada perselisihan sejauh yang kami ketahui.

Kedua: tanaman yang jika dipotong akan membahayakan kaum muslimin, karena tanaman tersebut bermanfaat bagi kaum muslimin untuk makanan atau berteduh atau makan buahnya atau hal semacam ini tidak biasa terjadi antara kita dan mereka sehingga jika kita melakukannya, merekapun akan melakukannya terhadap kita. Hal semacam ini haram karena membahayakan kaum muslimin.

Ketiga: tanaman yang tidak berbahaya dan tidak pula bermanfaat bagi kaum muslimin selain membikin marah dan merugikan musuh. Semacam ini diperbolehkan oleh Imam Malik dan Asy-Syafi’I sedangkan dari Imam Ahmad ada dua riwayat, dan jika diperkirakan hal itu akan menimpa kita maka beliau tidak menyukainnya. (Al-Khurosyi III/117; Mughnil Muhtaj IV/226-227; Kasyaful Qona’ III/49)[458]

Dr. Abdulloh Azzam berkata:” Para imam madzhab yang empat telah bersepakat bahwa setiap hal yang membawa maslahat bagi kaum muslimin dan membawa kerugian bagi orang-orang kafir saat terjadi perang atau saat i’dad, boleh dilakukan baik itu membunuh orang, membunuh hewan, menebangi tanaman maupun merusak bangunan, karena maksud dilancarkannnya perang adalah untuk menghilangkan fitnah, menyebarkan dakwah dan meninggikan dien Allah Ta’ala. Kalau membunuh manusia yang merintangi dakwah diperbolehkan, tentunya merusak harta benda dan membunuh hewan lebih diperbolehkan lagi, meski hal itu akan menyebabkan bahaya bagi mereka atau memaksa mereka untuk tunduk pada dien Islam.” (secara lebih lengkap lihat: Bab II tentang Daarul Harbi)

  1. F. Membunuh Dengan Api

Rosulullah Saw. Melarang para sahabat untuk membunuh dengan api karena membubuh dengan api akan menyiksa orang yang akan dibunuh sebelum menemui ajalnya. Selain itu membunuh dengan api adalah hak Allah  Ta’ala yang akan mengadzab orang-orang yang meyelisihi perintah dan larangan Nya kelak di Neraka dengan api. Sebagaiman yang ditegaskan oleh Rosulullah Saw.

Dalam sebuah Hadits :

ولا تحرقوه فإنه لا يعذب بالنار إلا رب النار

“Dan jangan kamu membakarnya karena sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Allah.[459]

Dalam hal membunuh dengan membakar ini telah tertjadi perbedaan pendapat dikalangan salaf, sebagian membolehkan dan sebagian melarang.

Berkata Al Qostholani : “Telah terjadi perbedaan pendapat dikalangan salaf dalam hal membakar, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas melarang, baik itu dilakukan untuk qishos maupun sebab kekafiran. Sedangkan Ali bin Abi Tholib dan Kholid bin Walid membolehkan.[460]

Diriwayatkan oleh Malik bahwa Sufyan Ats Tsauri juga membolehkanya[461].

Golongan yang memperbolehkan berpijak pada keumuman firman Allah :

واقتلوا المشركين حيث وجدتموهم …

“Dan bunuhlah orang-orang Musyrik itu dimana saja kamu jumpai …. (Qs. At Taubah: 5)

Berkata Al Qurtubi: “Ketahuilah bahwa keumuman firman Allah “Dan bunuhlah orang-orang musyrik”. Menunjukkan kebolehan mereka dengan apapun kecuali mutslah (membunuh dengan memotong ujung-ujung anggota badan atau mencincang).” [462]

Dengan demikian apa yang dilakukan Abu Bakar Ash Shidik kepada Ahlu Riddah dalam membakar, melempari dengan batu dari tempat yang tinggi dan menutup sumur-sumur mereka berdasarkan keumuman ayat di atas. Begitu juga yang dilakukan Ali dengan membakar sebagian ahlu riddah boleh jadi mengikuti madzhab ini dan bersandar kepada keumuman lafadz ayat di atas.

Sedangkan jumhur membolehkan untuk membalas sesuai dengan perbuatannya.[463]

Kemudian golongan yang melarang membunuh dengan membakar berpegang kepada Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud di atas.

IV.  BEBERAPA PERBEDAAN PERLAKUAN ANTARA ORANG KAFIR ASLI DAN    ORANG MURTAD

  1. A. Pertama: Perlakuan Terhadap Orang Kafir Asli.
    1. 1. Berdakwah dan memberikan peringatan sebelum diperangi

Dr. Abdulloh Azzam berkata:”Para ulama’ berselisih pendapat tentang memberi peringatan kepada musuh sebelum peperangan, menjadi tiga pendapat:

  1. Pendapat pertama mengatakan bahwasanya wajib memberi peringatan kepada musuh baik mereka sudah mendengar dakwah atau belum. (Ini adalah pendapat Imam Malik).
  2. Secara mutlak tidak wajib memberi peringatan baik mereka pernah pernah  mendengar dakwah atau belum, akan tetapi hukumnya sunnah saja. (Ini adalah pendapat jumhur ulama’, hal ini dinyatakan oleh Asy-Syafi’I, Al-Hanafiyah, Al-Hambaliyah, Al-Hasan Ats-Tsauri dan Al-Laits).

Dan masing-masing memiliki dalil.

Pertama adalah dalilnya Imam Malik yang berpendapat wajib memberi peringatan baik yang telah mendengar dakwah atau belum adalah hadits Ibnu ‘Abbas ra. Beliau berkata: “ Tidaklah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam itu memerangi suatu kaum pun kecuali Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mendakwahi mereka.”(HR. Ahmad dan Ath-Thobroni,, sanadnya adalah sanad yang shohih dan juga hadits Sulaiman bin buroidah .. Nailul Author VII/230).

Al-Khothob berkata: “Imam Malik berkata:” Orang kafir tidak boleh diperangi kecuali setelah didakwahi.” (Mawahibul Jalil karangan Al-Khothob III/350)

Dan nampaknya Imam Abu Yusuf sependapat dengan  pendapat ini.Abu Yusuf berkata dalam kitab Al-Khoroj hal. 207:”Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memerangi suatu kaumpun sebagaimana yang kami ketahui kecuali setelah beliau dakwahi kepada Alloh dan Rosul-Nya.”

Hadits dari Sulaiman bin Buroidah, Nailul Author VII/230 berbunyi: dari Sulaiman bin Buroidah Dari bapaknya beliau berkata: “Apabila Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang untuk memimpin, beliau mewasiatkan kepada dirinya pribadi untuk bertaqwa kepada Alloh dan juga kepada pasukan yang menyertainya dengan wasiat yang baik. Kemudian beliau bersabda:”Berperanglah atas nama Alloh, di jalan Alloh. Perangilah orang yang kafir kepada Alloh. Berperanglah dan janganlah kalian berbuat dholim, jangan berkhianat, jangan mencincang mayat dan janganlah kalian membunuh perempuan dan jika kalian berjumpa dengan musuh kalian yaitu orang-orang musyrik, maka tawarkanlah kepada mereka tiga perkara, mana saja yang mereka pilih maka terimalah. Tawarkan kepada mereka untuk masuk Islam, jikam mereka menerima maka terimalah mereka dan janganlah kalian perangi, lalu ajaklah mereka berpindah dari negeri mereka ke negeri muhajirin. Dan beritahukanlah kepada mereka, jika mereka melakukan hal itu maka hak dan kewaiban mereka sebagaimana hak dan kewajiban muhajirin. Namun jika mereka tidak mau berpindah maka mereka seperti keadaannya orang-orang baduwi dari kaum muslimin, berlaku bagi mereka hukum yang berlaku bagi kaum muslimin namun mereka tidak mendapatkan fai’ dan ghonimah kecuali jika mereka ikut perang bersama kaum muslimin. Jika mereka tidak mau masuk Islam,Maka mintalah mereka untuk membayar jizyah. Jika mereka mau membayar jizyah, maka terimalah mereka dan jangan kalian perangi. Dan jika mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Alloh dan perangilah mereka.” Diriwayatkan Oleh Muslim Ahmad dan dishohihkan oleh At-Tirmidzi

Adapun pendapat yang ketiga adalah pendapat jumhur.

Madzhab Syafi’I:

Ar-Romli berkata dalam kitab Nihayatul Muhtaj VIII/64:”Siapa saja yang kita ketahui belum sampai dakwah kepadanya, maka kita tidak boleh memeranginya kecuali setelah kita terangkan tentang Islam kepadanya –walaupun sebagian mereka mengaku menerima dakwah tersebut- Kalau tidak demikian maka kita berdosa dan kena tanggungan sebagaimana yang telah dibahas dalam pembahasan diyat, adapun yang telah sampai dakwah maka maka kita boleh membunuhnya.”

Madzhab hanafi:

As-Sarkhosi berkata dalam kitab Syarhus Sair I/77:”Maka jika telah sampai dakwah kepada mereka, kaum muslimin boleh mendakwahi mereka sebagai peringatan  atau langsung memerangi mereka tanpa mendakwahi terlebih dahulu karena mereka sudah tahu apa yang dikehendaki oleh kaum muslimin. Bahkan bisa jadi kalau diawali dengan dakwah dulu akan membahayakan kaum muslimin, maka tidak apa-apa untuk diperangi tanpa dakwah terlebih dahulu.”Dan seutama-utama dalil yang digunakan oleh pendapat kedua adalah hadits yang terdapat dalam shohih Bukhori dan Muslim, dari Ibnu ‘Auf beliau berkata:”Aku bertanya melalui surat kepada Nafi’ tentang dakwah sebelum perang. Lalu diapun menjawab dengan mengirim surat kepadaku;”Hal itu hanyalah terjadi di awal-awal Islam, dan sungguh Rosululloh  shallallahu ‘alaihi wasallam  telah menyergap Bani Mushtholiq sedangkan mereka dalam keadaan lengah dan ternak-ternak mereka dalam keadaan minum, lalu Rosululloh  shallallahu ‘alaihi wasallam pun menawan anak-anak mereka dan setelah itu beliau mendapatkan Juwairiyah binti Al-Harits. Hal ini diceritakan kepadaku oleh Abdulloh bin Umar dan belliau mengikuti dalam pertempuran itu. (Muttafaq ‘Alaih…Nailul Author VII/232)

Jadi perselisihan ini berasal dari pertentangan hadits ini dengan hadits Ibnu ‘Abbas, beliau berkata: ”Tidaklah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam itu memerangi suatu kaum pun kecuali beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mendakwahi mereka.”(Hadits shohih riwayat Imam Ahmad).

Imam Malik mengambil hadits Ibnu ‘Abbas ra. Karena berupa ucapan, sedangkan hadits yang berupa ucapan lebih didahulukan dari pada hadits yang berupa perbuatan.

Adapun kelompok yang kedua yang berpendapat tidak wajib memberi peringatan  baik sudah sampai dakwah kepada mereka atau belum, mengambil hadits Nafi’ dan menganggap perbuatan Rosululloh   shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memerangi Bani Mushtholiq itu sebagai nasikh (penghapus hukum) untuk hadits Ibnu ‘Abbas .

Adapun jumhur mengkompromikan antara dua hadits tersebut, dan pada perkataan Nafi’ memberikan isyarat pengkompromian tersebut, yaitu perkataan beliau: “sesungguhnya hal itu terjadi pada awal mula Islam.” Artinya; ketika dakwah itu belum menyeluruh kepada manusia, adapun ketika dakwah itu sudah sampai menyeluruh kepada manusia maka tetap dibutuhkan peringatan sebelum perang.

Dan pengkompromian antara dua hadits ini lebih utama, karena al-jam’u (pengkompromian) lebih didahulukan daripada an-nasakh dan at-tarjih, dan juga hadits Ibnu ‘Abbas  adalah umum sedangkan hadits Nafi’ adalah khusus dan yang khusus lebih didahulukan dari pada yang umum.

Atas dasar hadits inilah Imam Ahmad memahami pendapat beliau. Beliau berkata dalam kitab Al-Mughni VIII/361: “ Sesungguhnya dakwah telah tersampaikan dan telah tersebar, akan tetapi kalau ada kemungkinan kaum yang berada di balik negeri Romawi dan negeri Turki belum sampai dakwah kepada mereka, maka mereka tidak boleh diperangi sebelum didakwahi. Dan begitulah Rosululloh berdakwah kepada Islam. Dan saya melihat pada hari ini tidak ada seorangpun yang harus didakwahi terlebih dahulu, karena dakwah telah menyeluruh kepada seluruh manusia.”

Dan pendapat jumhurlah pendapat yang lebih kuat yang diperkuat dengan dalil naqli dan dalil ‘aqli. Imam Al-Bukhori meriwayatkan dari Al-Barro’ bin ‘Azib beliau berkata: “Rosululloh  shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sekelompok orang anshor untuk membunuh Abu Rofi’, maka Abdulloh bin ‘Atik  masuk ke dalam rumahnya lalu membunuhnya dalam keadaan tidur.” (HR. Al-Bukhori) Hadits ini menunjukkan bahwa Abdulloh bin ‘Atik membunuh Abu Rofi’ (Abdulloh bin Abil Huqoiq) dalam keadaan tidur, tanpa memberi peringatan terlebih dahulu.”[464]

Ibnu Nuhas berkata:”Sebelum perang, orang yang belum terdakwahi dan yang tidak tahu tentang Islam wajib didakwahi dan ditawarkan kepadanya untuk masuk Islam dan membayar jizyah, jika mereka termasuk golongan yang diperbolehkan menjadi ahludz dzimmah, dan ini adalah madzhabnya Imam Malik, Imam Asy-Syafi’I, Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah. (Al-Khurosyi ‘Ala Mukhtashor Kholil III/112, Mughnil Muhtaj IV/223, Al-Mughni X/385 dan Hasyiyah Ibnu ‘Abidin IV/129). Adapun orang yang telah mendengar dakwah Islam, maka disunnahkan untuk didakwahi sebelum perang, dan tidaklah wajib akan tetapi diperbolehkan memerangi mereka tanpa didakwahi lebih dahulu menurut pendapat  kebanyakan ahlul ‘ilmi. Dan ini adalah madzhab Asy-Syafi’I, Ahmad dan Abu Hanifah. (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin IV/129, Kasyaful Qona’ III/40, dan Nihayatul Muhtaj VIII/64) Adapun Imam Malik banyak perkataan beliau tentang hal ini.

Imam Ibnu Abdus Salam berkata dalam kitab Syarh Muhtashor Ibni Hajib:”Dan sesuatu yang tidak diragukan lagi, bahwasanya apabila kita tidak mengetahui keadaan musuh, apakah sudah sampai kepada mereka dakwah atau belum, maka dakwah ketika itu hukumnya adalah sunnah, karena rata-rata dakwah itu telah sampai kepada mereka, namun jika mereka bisa diharapkan untuk menerima dakwah, maka wajib didakwahi terlebih dahulu. Dan apabila mereka mendahului menyerang maka tidak diragukan lagi atas tidak wajibnya dakwah. (Al-Khurosyi ‘Ala Kholil III/112). Hukumnya tidak jauh berbeda dengan sariyah. Dan yang nampak dari sunnah-sunnah bersariyah menunjukkan atas tidak wajibnya dakwah. Begitu pula yang semisal dengan sariyah, sebagaimana yang terjadi pada pembunuhan Ka’ab bin Al-Asyrof, Ibnu Abil Huqoiq dan yang lain. Dan pada waktu perang Khoibar Rosululloh  shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Ali untuk mendakwahi telebih dahulu, dan beliau mendatanginya tiga kali. Dan sebagaian mereka memilihnya. Selesai secara ringkas.(Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid I/403, membahas masalah ini dengan sedikit kekurangan)[465]

  1. 2. Perlakuan terhadap harta mereka

q       Ghonimah

Ta’rifnya secara bahasa:

الغنيمة:الفعيلة أي مفعولة من الغنم وهو الربح

Isim Maf’ul dari Al-Ghonam yang berarti untung.

Di namakan begitu karena kelebihan dan memberikan manfaat.

Ibnu Taimiyah mendifinisikannya sebagai harta yang di ambil dari orang-orang kafir dengan jalan peperangan, firman Allah subhanahu wata’ala :di dalam surat (Al-anfal ayat:1-41). kemudian firman Allah:

فكلوامما غنمتم حلالا طيبة واتقوا الله ان الله غفور رحيم

Di dalam hadits shohihaini di sebutkan dari jabir bin Abdillah bahwa rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

أعطيت خمسا لم يطهن نبي قبلي نصرت بالرعب مسيرة شهر وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا, أيما رجل من أمتي أدرك الصلاة فليصل,وأحلت لي الغنائم ولم تحل لاحد قبلي,وأعطيت الشفاعة وكان النبي يبعث الي قومه خاصة وبعثت الي الناس عامة.

“Aku diberi lima hal yang tidak dierikan kepada seorang nabipun sebelumku; aku diberi kemenangan dengan takutnya musuh kepadaku dalam jarak satu bulan perjalanan, dijadikan bagiku semua tenah itu sebagai tempat sholat dan suci, maka siapa saja dari umatku yang masuk waktu sholat, hendaklah ia sholat, dihalalkan bagiku ghonimah (harta rampasan perang) dan tidak dihalalkan bagi seorangpun sebelumku, aku diberikan syafa’at dan para nabi diutus untuk kaum mereka sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.”

Dan sabda nabi:

(بعثت بالسيف بين يدي الساعة حتى يعبد الله وحده لا شريك له, وجعل رزقي تحت ظل رمحي وجعل الذل والصغار علي من خالف أمري ومن تشبه بقوم فهو منهم) رواه أحمد في المسند عن أبي عامرواستشهد به البخاري).

“Aku diutus menjelang hari kiyamat dengan pedang, sampai Alloh disembah sendirian dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku, dan dijadikan kekerdilan dan kehinaan bagi siapa saja yang meyelisihi urusanku, dan barangsiapa menyerupai sebuah kaum maka ia termasuk golongan mereka.”

Al-Anfal yang turun ketika perang badar, dinamakan anfal karena itu merupakan tambahan untuk kaum muslimin.[466]

Al-Ghozali berkata dalam kitab Al-Azizi syarhur wajiz karangan Abul Qosim Ar-Rofi’I: “Ghonimah adalah apa saja yang di dapatkan oleh sekelompok mujahidin setelah kemenangan bukan dengan jalan mencuri dan menipu, karena kalau diambil dengan cara mencuri atau menipu harta itu menjadi miliknya pencuri harta tersebut, juga bukan karena harta tersebut ditinggalkan oleh orang-orang kafir tanpa peperangan, karena harta semacam itu mananya Fai’, serta bukan pula harta temuan, karena jika harta temuan yang berhak adalah yang mendapatkannya.”[467]

Imam Asy-Syairozi berkata: “Ghonimah adalah apa yang di dapatkan dari orang-orang kafir dengan melarikan kuda dan kendaraan secara cepat,apabila di dalamnya ada rampasan milik tentara atau harta milik orang muslim,maka di serahkan kepadanya,karena itu miliknya sebelum terkumpul ghonimah.”[468]

Al-Azhari berkata:”Ghonimah adalah harta orang-orang musyrik yang di dapatkan oleh kaum muslimin dengan menggunakan kuda serta kendaraan mereka.”[469]

Pembagian ghonimah.

Seperlima di bagi menjadi lima bagian seperti Fai’ sedangkan sisanya empat perlima dibagikan kepada para penerima ghonimah. Imam Asy-Syafi’I berkata: “Sudah ma’lum banyak diketahui dari orang-orang yang kami jumpai (Ahlul Ilmi) bahwa Aba Bakar berkata :

إنما الغنيمة لمن شهد الوا قعة.

“Ghonimah hanyalah diberikan kepada orang yang ikut pertempuran.”

Maka harta itu dibagi menjadi 5 bagian, 1/5 untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Dzawil kurba, yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil. Sedangkan yang 4/5 untuk di bagikan kepada penerimanya dan tidak di serahkan kepada orang lain, serta tidak melebihkan orang yang kaya atas yang lainnya, dan di kecualikan dari mereka: Muhzodzil, Murjif, penghianat dan orang-orang yang semacam dengan mereka, mereka ini tidak mendapatkan bagian.”[470]

Di dalam kitab Majmu’ Fatawa di sebutkan;  merupakan kewajiban pembagi ghonimah yaitu: yang di berikan kepada orang-orang yang di sebutkan Allah ta’ala dan sisanya kepada yang menerima ghonimah. Umar  bin Khoththob berkata:”Ghonimah bagi yang mengikuti pertempuran, baik telah membunuh atau belum membunuh sama sekali.dan wajib pembagiannya adil di antara mereka, maka tidak di lebihkan kepada seseorangpun diantara mereka, tidak karena kepemimpinannya atau nasabnya atau keutamaannya, sebagaimana yang terjadi pada zaman Rasululah dan kholifahnya di dalam membagi ghonimah. Di dalam Shohih Al-Bukhori di sebutkan bahwa Saad bin Abi Waqqos merasa dirinya memiliki hak lebih ghonimah dari pada yang lainnya, maka Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

هل تنصرون وترزقون إلا بضعفائكم؟

“Bukankah kalian diberi rizki dan kemenangan karena lantara orang-orang lemah kalian.”[471]

Di terangkan dalam kitab Masyirul Aswaq: “Apa-apa yang di peruntukkan Allah dari ghonimah merupakan saham kemaslahatan yang di bagi menjadi 5 saham:

  1. Untuk kemaslahatan kaum muslimin seperti biaya peperangan,membangun benteng,jembatan,masjid dan yang di perlukan,untuk gaji para qodhi, ulama’, para muaddzin, tapi tidak untuk orang faqir.
  2. Untuk kerabat nabi mereka adalah bani Hasyim, bani Abdul Muthollib, untuk yang faqir di antara mereka,yang kaya dan perempuan-perempuan mereka.
  3. Untuk anak yatim mereka adalah; setiap anak kecil yang tidak memiliki tempat dan di syaratkan yang faqir secara masyhur.
  4. Orang-orang miskin.
  5. Ibnu sabil.

Sedangkan Abu Hanifah membaginya kepada tiga golongan, para yatim, miskin dan ibnu sabil. Hukum kepada bani hasyim dan bani abdul Muthollib terhapus setelah wafatnya beliau Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, tetapi para faqir di kalangan mereka masuk pada ke dalam tiga golongan di atas.[472]

Sedangkan hadits yang menyebutkan :

عن إبن عمر : أن رسول الله صل الله عليه وسلام جعل للفرس سهمين ولصاحبه سهما

Dari ibnu Umar : bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa Salam menjadikan kuda mendapat dua saham dan untuk penunggangnya satu saham”.[ Hadits riwayat al Bukhori 3222,438,335 Muslim 521 Ahmad III/304 ]

Imam Asy-Syfi’I berkata:”Penunggang kuda dapat tiga bagian, satu untuknya dan dua untuk kudanya dan pada pejalan kaki dapat satu saham, dan hadits ini, ini pendapat umar, Ali,Umar bin abdul Aziz, Hasan al- Basri, Ibnu sirin, Malik dan penduduk Madinah, Al-Auzai dan penduduk Syam Al-Laits dan penduduk Mesir, Ahmad, Ishaq dan para Ahli hadits, Ats-tsaury,abu yusuf dan Muhammad bin Al hasan dan Ahlul iraq.

Abu Hanifah berkata: Bagi penunggang kuda 2 saham saja. 1 saham untuk kudanya dan satu untuk dirinya,supaya kudanya tidak melebihi bagiannya, dan satu saham bagi pejalan kaki dengan riwayat Ibnu Umar dan Majda’ bin Haritsah.

للفارس سهمان وللراجل سهم

“bagi penunggang kuda dua saham dan bagi pejalan kaki satu saham”[ Hadits riwayat Daarul quthni IV/104]

مجمع:قال قسمت خيبر علي ثمانية عشر سهما,فكان الجيش ألفا وخمسمائة فيهم ثلاثمائة فارس فاعطي الفارس سهمين والراجل سهما (أخرجه أبو داود في الجهاد).

Saya membagi ghanimah khaibar menjadi 18 saham, dan jumlah pasukan pada saat itu seribu lima ratus, di dalamnya ada 300 penunggang kuda dan saya berikan kepada penunggang kuda dua saham sedangkan pejalan kaki satu saham”. [473]

Ibnu Taimiyah berkata:yang adil dalam masalah ini bagi pejala kaki adalah dapat satu saham dan penunggang kuda 3 saham, 1 saham untuknya dan 2 saham untuk kudanya, dan beginilah Rasulullah Salalllahu alaihi wa Sallam membagikannya.pada kejadian khaibar, ada dari para fuqoha’ berkata : “bagi penunggang kuda 2 saham”. Dan yang pertama yang ada dalil dan sunnah ash-shohihah karena kuda di butuhkan bagi dirinya dan saihnya, serta manfaat kuda lebih banyak baginya dari pada pejalan kki , ada sebagian mereka berkata: penunggang kuda arab maupun kuda hajjin sama dalam hal ini.[474]

q       Fa’I

Pengertian :

Secara bahasa fa’I berasal dari kata “ Afaa’a-yufii’u – ifaa’an – wafai’an “ –“ Afaa’al amru “ yakni “ Mengembalikannya , yakni mengumpulkan kebaikan itu untuknya .Fa’I bermakna pula : Pajak ,  jarahan yang di dapat tanpa pertempuran .

Menurut istilah syar’I : “ Segala harta yang di rampas dari orang tanpa melalui perang ataupun pengerahan nkuda ataupun onta , seperti : harta yang di tinggalkan orang –orang kafir karena takut di serang oleh kaum muslimin dan melarikan diri , harta jizyah , harta pajak dan hasil kompensasi perdamaian , harta ahli dzimmah yang mati tidak punya ahli waris , dan harta orang murtad dari islam apabila ia terbunuh atau mati . Dalilnya adalajh firman Allah Ta’ala dalam surat Alhasyr : 6-7 yang artinya :

“ Dan apa saja harta rampasan ( fa’I ) yang di berikan Allah kepada Rosulnya ( dari harta benda ) mereka , maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan tidak pula seekor untapun , tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rosulnya terhadap siapa yang di kehendaki Nya . Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu . Apa saja harta rampasan ( fa’I ) yang di berikan Allah kepada RosulNya yang berasal dari penduduk kota – kota maka adalah untuk allah , Rosul , kerabaat Rosul , anak – anak yatim , orang – orang miskin dan orang –orang yang dalam perjalanan ,  supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang – orang kaya saja di antara kamu . apa yang di berikan Rosul kepadamu maka terimalah dia .Dan apa yang di larang nya bagimu maka tinggalkanlah ,  dan bertqwalah kepada Allah . Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman- Nya.”

Pembagian:

Jumhur ulama’ berpendapat bahwa harta fa’I tidak diambil bagian seperlimanya , semuanya di salurkan untuk kemaslahatan kaum muslimin , kecuali golongan Syafi’I , mereka mengatakan : ( Di bagi – bagi ,seperlima dari padanya di berikan kepada golongan – golongan yang telah di sebut sebelumnya pada pembagian ghonimah dalam ayat alquran , sedang empat perlima bagian sisanya adalah untuk Nabi semasa hidupnya bersama dengan seperlima bagian dari harta ghonimah,oleh karena Rasulullah memang berhak memperolehnya , lantaran beliau punya andil besar dalam menggetarkan dan menyiutkan nyali musuh . Adapun sepeninggal beliau , maka bagian itu diberikan untuk gaji pasukan yang ditetapkan imam untuk tugas jihad , dan nama-nama mereka terdaftar di diwan ( kantor administrasi ). Kemudian kelebihannya di peruntukkan bagi kemaslahatan kaum muslimin, seperti perbaikan benteng , penguatan daerah perbatasan , pembelian senjata dan lain – lain .[475]

q       Salb

Pengertian :

Secara bahasa salb berarti pengambilan secara paksa dan perampasan , sedang menurut istilah , salb adalah : pengambilan apa – apa yang di miliki orang kafir harbi yang terbunuh , berupa pakaian , senjata , barang ,tunggangan dan lain-lain .Di sebutkan juga dalam kitab fiqh Islami tulisan doktor Wahbah Azzuhailiy, bahwa salb pengertian adalah :

Pakaian orang yang terbunuh atau senjatanya , atau kendaraan yang ia tumpangi, atau harta yang ia bawa. Adapun pembantu yang terbunuh yang naik kuda lain atau harta – harta yang ia bawa di atas kuda lain , maka semua itu termasuk harta ghonimah yang menjadi hak para penerima ghonimah .Ini adalah madzhab Hanafiah sebagaiman di sebutkan dalam kitab Badaa’iush Shonaai’ juz 7 hal114 ,

Dan juga merupakan madzhab Malikiah yang memberi konsekwensi bahwa orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat harta rampasan orang yang tebunuh kecuali atas ijin seorang imam , yakni seorang imam memberinya harta yang kedudukannya sebagai nafal setelah selesai perang dengan ijtihad imam .Sedangkan golongan Syafi’iyah dan Malikiah berpendapat bahwa seorang yang membunuh itu berhak untuk mendapat harta rampasan ( salb ) orang yang terbunuh meskipun tidak mendapat lesensi dari imam dengan keumuman dalil dari hadist Rosulullah yang artinya :

“ Barang siapa yang dapat membunuh seorang musuh maka ia berhak mendapat harta salbnyya “. ( subulussalam : 4/52)

.Telah di riwatkan bahwa Abu Talhah rodziallahu ‘anhu membunuh 20 orang pada perang Khaibar , dan beliau pun mengambil salb 9 harta rampasa mereka .(Nailul author 7 / 262.)

Perbedaan pendapat antara dua golongan ini berawal dari pemahaman apakah perkataan Rosulullah yang artinya : “ Barang siapa yang membunuh seorang musuh “

Apakah ini muncul dengan lewat adanya imam atau …?

Pengikut mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat: Sesungguhnysa salb itu tidaklah menjadi milik orang yang membunuh kecuali pada perang Hunain , maka pengkhususan beberapa mujahidin …….pada ijtihad imam , maka hal ini haruslah ada kepemimpinan (imam) dan politik . Dan apa yang ada pada zaman nabi dengan adanya keimamahan maka kepemilikan harta bagi orang yang membunuh haruslah ada ijin imam setiap masa .

Adapun golongan syafi’iah dan hanabilah berkata: Sesungguhnya pengkususan harta salb kepada sebagian orang ( mujahidin ) terjadi pada masa rosulullah dengan jalan …., bukan dengan jalan imamah dan setiap yang kepemilikan harta dengan jalan … dan dan tabligh berhak di miliki tanpa adanya ketentuan hakim atau ijin imam .[476]

  1. 3. Perlakuan terhadap nyawa mereka

Tidak ada perbedaan pendapat di antara kaum muslimin bahwa saat terjadi perang, boleh membunuh orang musyrik yang sudah dewasa, laki-laki dan ikut berperang. Yang masih menjadi perbedaan pendapat di antara mereka adalah perlakuan terhadap kafir harbi yang tertawan.

Mereka juga bersepakat bahwa tidak boleh membunuh anak-anak dan wanita musyrikin selama wanita dan anak-anak tersebut tidak ikut berperang. Jika wanita atau anak tadi ikut ambil bagian dalam perang, maka darahnya halal dan harus dibunuh.Islam mengajarkan bahwa tidak boleh dibunuh kecuali orang yang terlibat perang atau yang orang yang membantu orang-orang musyrik dalam memerangi kaum muslimin, baik dengan harta pikiran ataupun sarana lainnya. Dan mereka berselisih pendapat tentang orang selain wanita dan anak-anak yang bukan ahlul qital. Hal ini akan kami bahas dan satu pembahasan tersendiri insya’alloh.

  1. 4. Perlakuan terhadap tawanan

Ibnu Rusyd berkata :”Boleh menjadikan orang kafir harbi dengan segala macamnya sebagai budak berdasarkan ijma’, baik itu laki-laki maupun perempuan, anak-anak, dewasa maupun orang tua. Yang masih ada perselisihan hanyalah nasib para pendeta. Sebagian ulama tidak memperbolehkan membunuh atau menjadikan mereka sebagai budak.” (secara lebih lengkap lihat: Bab II tentang Daarul Harbi)

Tawanan di bagi menjadi dua kelompok :

a. Kelompok pertama :

Mereka adalah golongan wanita dan anak – anak , dan orang – orang yang status hukumnya seperti orang – orang gila dan budak .Haram membunuh mereka kecuali bila mereka ikut perang .Golongan ini disebut dengan istilah sabiyyun .

Dari Ibnu Umar, bahwa Nabi pernah berjalan pada salah satu ghozwah yang di ikutinya, lalu beliau menemukan mayat perempuan yang terbunuh, beliau tidak membenarkan pembunuhan terhadap kaum wanita dan anak –anak .

Ibnun ‘abbas meriwatkan : bahwasanya Nabi pernah melihat perempuan yang terbunuh saat beliau sedang berjalan pada perang hunain .Lalu beliau bertanya : “ Siapa yang membunuh perempun ini ? lantas seorang lelaki menjawab : Saya ya rosulullah , saya telah memperolehnya sebagai jarahan,  lalu saya boncengkan ia di belakang kendaraqan saya .Tatkala ia melihat kekalahan ada di pihak kita , mendadak ia hendak menarik gagang pedangku untuk membunuhku .” Mendengar penuturan shahabat tersebut, beliau diam tidak menyalahkan.

Para tawanan wanita itu di jadikan budak bila mereka adalah dari golonagan ahlu kitab, namun menurut Asy-syafi’I, mereka di bunuh jika menolak untuk masuk islam .

Sabiyyun “(tawanan kelompok yang pertama ini) di bagi – bagi seperti harta ghonimah. Seperlima untuk Allah, RosulNya, orang–orang miskin, dan ibnu sabil. Sedangkan sisanya yang empat perlima di bagikan kepada mereka yang berhasil merampasnya dan kepada yang lain menurut pandangan imam dalam rangka kemaslahatan umum.

b. Kelompok kedua: kaum laki-laki yang telah akil baligh.

Golongan inipun ada dua kondisi:

Pertama: kaum laki laki yang sudah tua renta di antara mereka , maka masih menjadi perselisihan pendapat tentang boleh tidaknya menawan dan membunuh mereka .Golongan imam Hambali berpendapat bahwa tidak halal menawan mereka , karena mereka itu haram untuk di bunuh , dan tidak manfaat memiliki mereka. Sementara malik dan Abu hanifah berpendapat bahwa tidak boleh di bunuh orang yang buta , atau orang yang tidak waras pikirannya , atau penghuni kuil , atau orang tua ( laki-laki ) yang jompo .

Berdasarkan sabda nabi : “ Berangkatlah kalian dengan asma Allah dan diatas millah Rosulillah .Janganlah kalian menbunuh lelaki yang sudah tua renta, atau anak kecil, atau perempuan,  dan jangan lah kalin berbuat ghulul, kumpulkanlah ghonimah –ghonimah kalian , dan berbuatlah kalian , sesungguhnya Allah menyukai orang –orang yang berbuat baik .”

Imam syafi’I berkata : “ Mereka di bunuh semua berdasarkan keumumman firman Allah Ta’ala: “ Maka bunuhlah orang –orang musyrik itu semua ……”(Attaubah :5)

Dan berdasarkan sabda nabi yang artinya : ‘ aku di perintah kan untuk memerangi manusia sampai mereka mau mengatakan bahwa tiada ilah kecuali Allah , msk jika mereka telah mngatakannya , terlindunglah dari padaku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya , dan perhitungan mereka terserah kepada Allah” . HR.Bukhori , ,dan muslim , Abu Dawud , At tirmidhi ,  da Ibnu majah .

Kedua: tawanan laki – laki yang telah akil baligh dan bukan termasuk golongan yang tua renta ,  maka jumhur ulama berpendapat bahwa imam bebas memillih alternatif anatara : Dibunuh , atau dijadikan tebusan atau di lepas bebas ,  atau di jadikan budak yang menurutnya dapat membawa kemasahatan untuk kaum muslimin .

Berdasarkan firman Allah dalam surat Muhammad : 4 yang artinya : { Apaila kalian menjumpai orang –orang kafir ( di medan perang ) maka pancunglah batang leher mereka .Sehingga apabila kalian talah banyak membunuh dan melukai mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kalian boleh membebaskan mereka atau menukarnya dengan tebusan sampai perang berhenti ….. (QS Muhammad: 4)

Diutarakan oleh Ibnu Qoyyim dan Ahmad ‘Isa ‘Asyur: (…ada riwyat kuat bahwasannya Rasululah saw menawan tawanan perang badar dengan tebusan sejumlah harta dan menebus dua orang muslim (yang tertawan musuh) dengan tawanan orang bani Aqil dan pernah menebus sejumlah kamu muslimin dengan seorang gadis hasil rampasan perang dan pernah melepas bebas pada perang badr ‘Abul ‘Ash bin Ar Rabi’ serta Abu ‘Izzah Al Jahmi dan beliau pernah menawan Ibnu Mamah bin Atsal – pemuka bani Hanifah- dan mengikatnya pada tiang masjid kemudian beliau pernah membebeskannya lalu ia masuk Islam dan beliau pernah menghukum mati tawanan diantaranya :Uqbah bin Abi Mu’ith dan An Nadhir bin al Harits lantaran kerasnya permusuhan kedua orang tersebut kepad Allah dan RasulNya . imam Ahmad menuturkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas berkata :”ada diantara tawanan yang tidak mempunyai harta lalu rasulullah menjadikan tebusan sebagai pembebasan mereka dengan mengajar menulis kepada anak-anak golongan Ansar . dan boleh menggauli wanita –wanita yang ditawan dengan syarat sesudah ghonimah dibagi-bagikan :jika wanitta itu telah bersuami maka dibolehkan tetapi telah berlalunya masa ‘iddahnya ya’ni dengan sucinya dia dari haidh.

Berdasarkan firman Allah:

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَآءِ إِلاَّ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“ Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita-wanita yang telah bersuami, kecuali budak-budak yamng kalian miliki..” (an Nisaa’24)

Dan adalah Rasulullah  melarang memisahkan pada kaum tawanan antara ibu dan anak. Beliau bersabda :“Barangsiapa yang memisahkan antar ibu dan anaknya maka Allah akan memisahkan antara dia dengan orang yang dicintainya pada hari kiamat”

Adalah nabi saw pernah diberikan kepadanya tawanan wanita dan anaknya lalu beliau memberikan semua kepada ahli baitnya karena beliau tidak suka memisahkan antara mereka “6

Islam memerintahkan baik kepada para tawanan dan memperlakukan dengan baik pula. Keterngan lebih lengkap bisa dilihat dalam Bab: Adab-adab jihad di jalam Allah dalam kityab ini.

  1. 5. Menjadikan Ahludz Dzimmah

Secara garis besar, aqdu dzimah ini diambil dari setiap non muslim yang ingin menetap di negara Islam, baik mereka itu menetap di antara pemukiman kaum muslimin maupun mereka ini membuat kampung tersendiri yang jauh dari kampung kaum muslimin.[477]

Bila diperinci, mereka ini terbagi dalam beberapa golongan — sesuai dengan adanya perbedaan pendapat di antara para ulama — , yaitu :

Golongan Pertama :

Ahlu kitab ( yaitu orang-orang Nasrani dan Yahudi ) dan  kaum Majusi. Mengenai ketiga golongan ini, para ulama telah bersepakat bahwa boleh diambil jizyah dari mereka.[478]

Golongan Kedua :

Orang-orang musyrik; para penyembah berhala dan orang-orang atheis yang bukan orang murtad. Mengenai golongan ini, ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Secara singkat bisa dijelaskan sebagai berikut:

q       Pendapat yang mengatakan tidak boleh mengambil aqdu dzimmah dan jizyah selain dari ahlu kitab dan majusi, baik orang arab maupun ajam. Ini adalah pendapat imam Ahmad, Syafi’i, Dhahiriyah dan Syi’ah Imamiyah.[479]

q       Boleh mengambil jizyah dari seluruh non muslim kecuali para penyembah berhala (musyrikin) arab. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu dari dua riwayat pendapat Imam Ahmad.[480]

q          Pendapat Ketiga: Boleh mengambil aqdu dzimmah dan jizyah dari seluruh non muslim tanpa terkecuali. Ini adalah pendapat Imam al Auza’i, Imam Malik dan dzahir dari pendapat Syi’ah Zaidiyyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Qayyim.[481]

B.  Kedua: Perlakuan Terhadap Orang Murtad.

  1. 1. Berdiskusi (mendakwahi) dan menyuruh untuk bertaubat

Wajib hukumnya memerangi orang-orang murtad setelah berdiskusi dengan mereka tentang Islam. Jika mereka tetap tidak mau kembali kepada Islam, mereka diperangi sebagaimana orang kafir harbi dalam hal bolehnya menyergap mereka dan menyerang pada waktu malam hari.

Jumhur ulama’ berpendapat bahwa istitabah hukumnya adalah wajib. Diantaranya adalah Umar, Ali, Atho’, An-Nakho’I, Malik, Ats-Tsauri, Al-Auza’I, Ishaq dan ashabur ra’yi. Dan ini adala salah satu dari dua pendapat Imam syafi’I. Begitu pula Ath-Thobari dan Ar-Ruyyani mengikuti pendapat ini. Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ar-Rofi’I dan Ibnu Qudamah. [482]

Dalil-dalil yang mereka jadikan landasan adalah sebagai berikut:

Bahwasanya seseorang diutus Abu Musa Al-Asy’ari % kepada Umar bin Khothob %, maka Umar bertanya kepadanya:”Ada kabat apa?” Maka ia menceritakan bahwasanya ada seseorang yang kafir setelah masuk Islam. Maka Umar bertanya:”Lalu apa yang kalian lakukan?” Ia menjawab:”Dia kami panggil lalu kami penggal lehernya.” Maka Umar mengatakan:”Kenapa tidak kalian penjarakan dia selama tiga hari, setiap hari kalian kasih maka roghif dan kalian beri minum supaya ia bertaubat? Ya Alloh aku tidak ada ketika itu dan aku tidak memerintahkannya dan aku tidak rela ketika kabar itu sampai kepadaku.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatho’ bab Al-Qodlo’ Fiiman Irtadda ‘anil Islam, kitabul Jihad II/737, Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnif, bab Al-Kufru ba’dal Iman, kitab Al-Luqothoh XV/165, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnif, bab Fil Murtad ‘Anil Islam, kitab Al-Hudud X/137 dan dalam bab Maa Qooluu Fil Murtad Kam Yustatab, Kitabul jihad XII/273 dan Sa’id bin Manshur dalam As-Sunan, bab Maa Jaa’a Fil Futuh, kitabul Jihad II/226)[483]

Landasan yang lain adalah murtadnya Ummu Marwan. Ketika berita tersebut sampai kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam beliau memerintahkan untuk menyuruhnya bertaubat dan membunuhnya jika tidak mau bertaubat. (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam As-Sunan, Kitabul Hudud Wad Diyat Wa Ghoiruhu III/118 dan Al-Baihaqi dalam As-sunan Al-Kubro, bab Qotlu Manirtadda … kitabul Murtad)[484]

Mereka juga mengatakan bahwa biasanya orang yang murtad itu tidaklah murtad begitu saja tanpa ada alasan, biasanya mereka murtad karena mempunyai syubhat yang mendorongnya untuk murtad. Oleh karenanya syubhat ini harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum dibunuh.

Sebagian ulama’ berpendapat bahwa istitabah itu hukumnya sunah dan tidak wajib. Mereka yang berpendapat seperti ini di antaranya adalah Imam Ahmad dalam salah satu dari diwayat dari belau, salah satu dari dua pendapat imam Asy-Syafi’I, pendapat Ubaid bin Umair dan Thowus, pendapat ini juga diriwayatkan dari Al-Hasan.[485]Dan ini adalah madzhab Hanafi.[486]

Adapun dalil dalil mereka di antaranya adalah sebagai berikut:

من بدل دينه فاقتلوه

“Siapa saja yang mengganti agamanya, maka bunuhlah.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Mu’adz datang menemui Abu Musa Al-Asy’ari. Lalu belau melihat ada seseorang yang terikat di sampingnya. Maka belau bertanya:” Siapa ini?”Abu Musa menjawa:”Ia dulu adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam lalu kembali kepada agamanya yang buruk itu yaitu Yahudi.” Maka Mu’adz mengatakan:”Saya tidak akan duduk sebelum ia dibunuh sebagaimana keputusan Alloh dan Rosul-Nya.” Abu Musa berkata:”Duduklah!” Mu’adz mengatakan:”Saya tidak akan duduk sebelum ia dibunuh sebagaimana keputusan Alloh dan Rosul-Nya.” Sampai tiga kali. Maka diperintahkanlah untuk membunuh orang tersebut.(Muttafaq ‘Alaih)

Mereka juga beralasan bahwa orang murtad itu seperti kafir asli, sehingga tidak wajib untuk menyuruhnya kembali kepada Islam, karena ia telah mendengar dakwah Islam.

Mereka juga beralasan bahwa membunuh orang murtad itu tidak ada dendanya, seandainya hal itu wajib pasti ada dendanya.

Ar-Rofi’i berkata:”Dan baik yang berpendapat wajib maupun yang berpendapat sunnah, dalam memberikan tempo waktu ada dua pendapat:

Pendapat pertama: ia diberi tempo tiga hari; berdasarkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwasanya seseorang diutus Abu Musa Al-Asy’ari % kepada Umar bin Khothob %, maka Umar bertanya kepadanya:”Ada kabar apa?” Maka  ia menceritakan bahwasanya ada seseorang yang kafir setelah masuk Islam. Maka Umar bertanya :”Lalu apa yang kalian lakukan?” Ia menjawab:”Dia kami panggil lalu kami penggal lehernya.” Maka Umar mengatakan:”Kenapa tidak kalian penjarakan dia selama tiga hari, setiap hari kalian kasih maka roghif dan kalian beri minum supaya ia bertaubat? Ya Alloh aku tidak ada ketika itu dan aku tidak memerintahkannya dan aku tidak pula rela ketika kabar itu sampai kepadaku.”

Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang dipilih oleh oleh Al-Mazni bahwasanya ia disuruh bertaubat ketika itu dan jika ia tidak mau bertaubat maka ia dibunuh dan dia tidak diberi tenggang waktu berdasarkan hadits dari Ummu Ruman yang talah lalu.

Pendapat pertama adalah madzhab Malik dan Ahmad, sedangkan riwayat dari Abu Hanifah begitu juga dan ada riwayat lain, bahwasanya orang murtad disuruh bertaubat tiga kali setiap satu jum’at sekali. Dan tidak ada perselisihan bahwa saselama dalam tempo yang di berikan ia tidak dibiarkan bebas akan tetapi dipenjara. Dan juga tidak ada perselisihan bahwasanya jika ia dibunuh sebelum disuruh bertaubat atau sebelum habis temponya tidak ada hukuman apa-apa, meskipun orang yang membunuh itu telah berbuat jahat.” [487]

2.  Perlakuan terhadap nyawa mereka

Tidak boleh berdamai dengan mereka dengan membiarkan mereka tinggal di negeri mereka, dan juga tidak boleh menerima pajak dari mereka dengan tujuan berdamai dengan mereka dengan dengan tetap membiarkan mereka dalam keadaan murtad.

Boleh menjadikan tujuan dalam berperang untuk membunuh mereka oleh karena itu:

q Mereka diperangi baik yang menghadapi maupun yang lari.

q Boleh membunuh orang yang terluka dari mereka.

q Tawanan dari mereka dibunuh jika tidak mau bertaubat.

q Mereka semua yang tidak mau bertaubat dibunuh meskipun tidak mampu berperang.

3.  Perlakuan terhadap hartanya

Hasil harta ghonimah tidak dibagikan kepada pasukan sedang kan harta orang yang masih hidup, jika ia masuk Islam dikembalikan kepada yang punya namun jika tidak maka harta tersebut menjadi fai’.

(Mazhab Syafi’I, Maliki dan Hambali bersepakat bahwasanya hartanya orang murtad itu dijadikan fai’ untuk baitul mal kaum muslimin, jika orang tersebut tetap dalam keadaan murtad sampai ia mati atau dibunuh dan mereka berselisih pendapat pada harta nafkah untuk anak dan istrinya pada waktu ia murtad….)

Harta orang yang terbunuh dari mereka menjadi fai’. Begitu pula harta ghonimah yang tidak jelas pemiliknya juga menjadi fai’.

Sedangkan menurut Abu Hanifah harta mereka menjadi ghonimah dan tanah mereka menjadi fai’. Dan menurut Ahmad harta mereka menjadi ghonimah.

4. Perlakuan kepada tawanan

Mereka tidak dijadikan budak, namun mereka semua dibunuh baik laki-laki maupun perempuan selama mereka tidak mau bertaubat, berdasarkan sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam:”

من بدل دينه فالتلوه

“Barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah.”

Dan menurut Abu Hanifah wanita mereka dijadikan budak dan dipaksa masuk Islam. Sedangkan anak-anak mereka yang lahir seebelum murtad maka mereka dianggap sebagai orang Islam.

Adapun anak-anak mereka yang lahir setelah murtad maka mereka boleh dijadikan budak sebagaimana anak-anak orang-orang harbi. (Kaji:Al-Ahkam As-Sulthoniyah karangan Al-Mawardi 55-58, Al-Ahkam As-Sulthoniyah karangan Abu Ya’la, Al-‘Uddah Syarhul ‘Umdah 578-582, Al-Kafi IV/155-164, Badai’ushonai’ IX/4382-4396, Hasyiyatu Ibni ‘Abidin III/307-311, Al-Mathba’ah Al-Kubro Al-Amiriyyah dan Al-Mughni VIII/123-106, maktabah Ibnu Taimiyah)[488]

Orang murtad tidak boleh diampuni (dibiarkan hidup) dengan memberikan ganti atas kekafirannya tersebut dengan jizyah atau yang lainnya. Maka ajika penduduk sebuah kota murtad, tidak ada pilihan bagi mreka kecuali taubat atau mati dan mereka tidak boleh dijadikan budak. Dan jika mereka sebuah kelompok yang memiliki kekuatan, maka mereka diperangi dan jika tertangkap maka mereka dibunuh. (Lihat Al-Mabsut X/116, Al-Mughni XII/282, Al-Muharror II/169, Syarhu Minahil Jalil IV/366)

5. Menjadikannya sebagai ahludz dzimmah

Orang-orang yang murtad. Para ulama telah bersepakat bahwa jizyah dan aqdu dzimmah tidak boleh diambil dari orang yang murtad.[489]

Orang yang murtad berarti tidak berada di atas suatu agama yang diakui, karenanya para ulama bersepakat bahwa orang yang murtad wajib dibunuh. Yang masih mereka perselisihkan hanyalah, apakah wajib memberi ia waktu untuk bertaubat ataukah tidak ? Dengan adanya kewajiban membunuh ini, maka gugur dan hilanglah dzimmahnya, karena fungsi aqdu dzimah adalah untuk melindungi harta dan nyawa orang yang memegang aqad tersebut.[490]

Al-Mawardi mengatakan: “Dan Daarur Riddah mempunyai hukum yang berbeda dengan Darul Islam dan Daarul Harbi. Adapun perbedaannya dengan Daarul Harbi dalam empat hal:

Pertama: tidak boleh mengadakan hudnah (gencatan senjata) dengan mereka dan membiarkan mereka tinggal di negeri mereka sedangkan dengan penduduk Daarul Harbi boleh.

Kedua: tidak boleh mengadakan shulh (damai) yang ditebus dengan harta mereka dengan membiarkan mereka dalam keadaan murtad, sedangkan dengan penduduk Daarul Harbi boleh.

Ketiga: tidak boleh memperbudak mereka dan istri-istri mereka, sedangkan dengan penduduk Daarul Harbi boleh.

Keempat: harta mereka tidak dijadikan ghonimah, sedangkan harta penduduk Daarul Harbi dijadikan ghonimah.

Abu Hanifah mengatakan bahwa lantaran kemurtadan mereka itu negara tersebut berubah statusnya menjadi Daarul Harbi, mereka dijadikan budak, hartanya dijadikan ghonimah dan tanah mereka menjadi fai’,dan mereka menurut beliau seperti orang-orang Arab penyembah berhala.

Adapun perbedaannya dengan Daarul Islam juga empat hal:

Pertama : wajib memerangi yang melawan dan yang kabur.

Kedua     : halal darah mereka baik yang tertawan maupun tidak.

Ketiga     : harta mereka menjadi fai’ bagi kaum muslimin.

Keempat: pernikahan mereka batal dengan berlalunya masa ‘iddah walaupun mereka telah bersepakat untuk murtad.[491]

Wallahu ‘alam bish shiwab


[412] Al-Jihad wal Ijtihad hal.207

[413] Hadits riwayat Muslim dalam kitab Az-Zuhdu war Riqoq, bab Qishotu Ashabil Ukhdud dan diriwayatkan Ahmad dari Shuhaib

[414] Majmu’ Fatawa XXVIII/540

[415] Shohih Muslim no. 1902

[416] Shohih Muslim no. 1901

[417] Fathul Bari VI/26:29 penjelasan hadits no. 2805

[418] Diriwayatkan Al-Bukhori dalam kitab Al-Maghozi bab Ghozwatu Uhud hadits no. 404

[419] Hadits riwayat Al-Hakim

[420] Al-Ishibah fii Tamyizish Shohabah karangan Ibnu Hajar no. 6092

[421] Al-Ishobah  karangan Ibnu Hajar no. 6092

[422] Lihat Fathl Bari kitabut Tafsir penjelasan hadits no.  4516

[423] Riwayat Muslim, An-Nasa’I, Abu Dawud, At-Timidzi, Ibnu Hibban dan Al-HAkim

[424] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad beliau kaji Fathul Bari kitabut Tafsir penjelasan hadits no. 4516

[425] Lihat dalil-dalil diatas dalam kitab Al-‘Amaliyat Al-Istiyshadiyat fil Islam wa Hukmu A’wanith Thowaghit

[426] Duruus wa ‘Ibar minal Jihad fisy Syisyan karangan Syaikh Abu ‘Umar Muhammad As-Saif hal.18

[427] Al-‘Amaliyat Al-Istisyhadiyah fil Islam hal. 57-58

[428] Duruus wa ‘Ibar minal Jihad fisy Syisyan karangan Syaikh Abu ‘Umar Muhammad As-Saif hal.

[429] Syarhus Sunnah XI/………..

[430] Hadits no. 4037

[431] Fathul Bari VII/340

[432] Shohih Muslim Bi Syarhin Nawawi XII/160

[433] Hadits no. 4039

[434] Hadits no. 4038

[435] Fathul Bari VII/345

[436] Fii Dhilali Surotit Taubah, Dr. Abdulloh Azzam hal. 39

[437] Masyari’ul Asywaq, hal. 1075

[438] Majmu’  Fatawa, Ibnu Taimiyah XXVIII/253-256

[439] Fathul Qodir I/643

[440] Tafsir Ibnu Katsir I/465

[441] Syarhus Sunnah XI/52

[442] Fathul Bari VI/66

[443] Hukum bom bunuh diri & antek-antek Thoghut hal 83-84

[444] Tuhfatiul Ahwadzi V/259-260

[445] Ash Shaffat 86

[446] Al Anbiya’ 63

[447] Al-Bukhori no. 3358

[448] Fathul Bari VI/392

[449] Hadits riwayat Muslim dalam kitab Az-Zuhdu war Riqoq, bab Qishotu Ashabil Ukhdud dan diriwayatkan Ahmad dari Shuhaib-lihat halaman 3.

[450] Shohih Muslim Bi Syarhin Nawawi XVIII/130

[451] Shohih Muslim Bi Syarhin Nawawi XVI/158

[452] Fathul Bari VI/57 no. 2834

[453] Al-Jihad Fi Sabilillah Haqiqotuhu wa Ghoyatuhu I/566

[454] Rasa’il Taujihat Islamiyyah I/64

[455] Majmu’ Fatawa XXVIII/27-28

[456] Fil Jihadi Adaabun wa Ahkaamun, hal. 45-46

[457] Al-Majmu’ karangan An-Nawawi yang ditahqiq oleh Dr. Mahmud Mathrohi XXI/48

[458] Masyari’ul Assywaq ilaa Mashor’ul ‘Usyaq hal. 1024-1025

[459] Hr Abu Daud Kitabul Jihad 2673, Musnad Imam Ahmad No 15605

[460] Aiul Ma’bud VII / 333

[461] Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtasit I / 309

[462] Al Jami’ Lil Ahkamil Qur’an VIII / 72

[463] Ibid . Juz II hal 358

53 Fil Jihadi Adaabun wa Ahkaamun hal. 10-11

54Msyari’ul Asywaq ila Mashori’ul ‘Usyaq hal. 1021

[466] Majmu’ Fatawa 28/270.

[467] Syarhul wajiz Imam Abul Qasim Ar-Rafi’I Darul Qutub Al-ilmiyah bairut libanon :11/424.

[468] Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab Imam an-Nawawi Darul fikr 21/144

[469] Lisan al-Arab Ibnul mandzur Dar sadir :12/446

[470] Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab 21/146

[471] Majmu’ Fatawa 28/270

[472] Masyyil asywaq 2/1036-1037

[473] Abu Daud berkata hadits Muawiyah lebih muallwal untuk di amalakan dan saya melihat ada keraguan  di dalam hadits Majma’ia berkata 300 penunggang kuda

[474] Majmu’ fatawa XXVIII/272-273

[475] Aljihad sabiluna  edisi indonesia pustaka al’alaq hal 325 , lihat juga fiqh ‘ala madzahibil arba’ah juz 6 hal 455.

[476] fiqh islami VI/453

6 Kitab Zaadul Ma’aad, oleh ibnu Qoyyyim Juz II, kitab Al Muyassar, oleh Ahmad ‘Isa ‘Asyur.

[477] Fiqhu as Sunah II / 668

[478] Ahkamu al Qur’an lil Jashash III / 92,Bada’i’ VII/ 110, al Mudawwanah al Kubra II / 32, Al Umm IV / 240, Ahkamu Ahli adz Dzimah I /10, Al Mughni VIII / 496, Ar Raudhu an Nadhir IV / 316, Al Muhalla VII / 345, Al Mabsuth II / 36, Ar Raudhah al Bahiyyah V / 286

[479] Al Umm IV / 240, Fathu al Bari VI / 259, Mughni al Muhtaj IV / 244, Ruuh al MA’ani X / 79, Syarhu as Sunah XI/10, 170, al Mughni VIII / 500, Al Muhalla VII /  345, Ar Raudhah al Bahiyah II / 386, lihat Ikhtilafu ad Darain hal. 119

[480] Ruuhu al Ma’ani X / 79, Ahkamu al Qur’an lil Jashash III / 91, Bada’i’ VII / 111, Al  Mughni VIII / 50, lihat Ikhtilafu hal 121.

[481] Fathu al Baari    VI / 259, Nailu al Authar VIII / 214, Ruuh al Ma’ani X / 79, Syarhu as Sunah XI / 9,170, Tafsiru al Qurtubi VIII / 110, lihat Ikhtilafu hal. 122.

[482] lihat Al-Mughni XII/266, Al-Wajiz syarhul Wajiz XI/116

[483] Dinikil dari tahqiq Al-Mughni XII/267

[484] Dinikil dari tahqiq Al-Mughni XII/265

[485] Lihat Al-Mughni XII/267

[486] llihat Al-Fiqhu ‘Alal Madzahib Al-Arba’ah V/373

[487] Al-‘Aziz Syarhul Wajiiz XI/115-116

[488] Al-Qoulul Qothi’, hal 147-148

[489] Bada’i’ VII / 111, Syarhu as Sair al Kabir IV / 21, Tafsir al Qurtubi VII / 110, Mawahib al Jalil III / 381, lihat Ikhtilafu ad Darain hal 118.

[490] Ikhtilafu ad Darain hal. 119.

[491]Al-Ahkam As-Sulthoniyah, Al-Mawardi, hal.116-117

Iklan

One Response to KAJIAN TERHADAP TATA CARA PELAKSANAAN JIHAD

  1. kerusijati47 says:
    SALAM, JIHAD, PERANG DAN REVOLUSI ——————————————— Oleh Wan Solehah al-Halbani Temerloh, PAHANG DM 1. JIHAD, PERANG DAN REVOLUSI UNTUK MENGHAPUSKAN SISTEM PENGABDIAN MANUSIA KEPADA KUASA MANUSIA Aku diutuskan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengakui Laailaahaillallah Muhammadar Rasulullah. Bukhori MISI ISLAM yang Maha Agung di dunia ini ialah untuk menegakkan kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ dengan cara menghapuskan sistem PENGABDIAN MANUSIA KEPADA KUASA MANUSIA untuk digantikan dengan sistem PENGABDIAN MANUSIA KEPADA ALLAH sahaja dalam seluruh bidang kehidupan manusia. Caranya ialah pelancaran Jihad, Perang dan Revolusi. Apabila peraturan dan undang-undang manusia dikuat kuasakan ke atas manusia dan oleh yang demikian seluruh umat manusia itu adalah berada di bawah peraturan dan undang-undang manusia, seluruh umat manusia itu menjunjung peraturan dan undang-undang manusia, itulah ertinya seluruh umat manusia itu menjadi para hamba kepada manusia, dan seluruh umat manusia itu tidak menjadi para hamba kepada Allah – itulah ertinya sistem pengabdian manusia kepada kekuasaan manusia yang syirik dan kufur. Sistem politik manusia yang menjalan dan menguat kuasakan segala peraturan dan undang-undang manusia ke atas manusia seperti sistem politik demokrasi kita ini adalah sistem politik yang wujud dan beroperasi di dalamnya konsep ‘PENGABDIAN MANUSIA KEPADA KUASA MANUSIA’, dan justeru ianya adalah satu sistem politik yang SYIRIK dan KUFUR yang mewujudkan fenomena PENINDASAN, KEZALIMAN, KEJAHATAN, ANCAMAN, PENCEROBOHAN DAN KEROSAKAN ke atas seluruh umat manusia di bumi. Pelaksanaan dan penguat kuasaan peraturan dan undang-undang yang dibuat dan diluluskan oleh manusia seperti mana peraturan dan undang-undang demokrasi di dalam negara Malaysia kita ini, bererti kewujudan sistem pengabdian manusia kepada kuasa manusia yang menafi, menolak, mengingkari dan menentang dengan terbuka, aktif dan total terhadap kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ. Apabila wujud sahaja sistem pengabdian manusia kepada manusia dalam sistem politik sesuatu negara, Allah memerintah dan mewajibkan ke atas kita untuk melancarkan Jihad, Perang dan Revolusi ke atas negara itu. Islam menghadapi ideologi dan pemikiran kufur dengan tabligh dan penerangan, sementara halangan-halangan kufur dalam bentuk kekuatan politik, ekonomi, militeri, institusi dan budaya dihadapi dengan Pergerakan, Jihad, Perang dan Revolusi. Kerajaan demokrasi Malaysia kita ini adalah satu sistem politik manusia yang didasarkan kepada konsep pengabdian manusia kepada kuasa manusia, dan justeru sikap dan dasar Islam terhadap kerajaan demokrasi kita ini tiada yang lain melainkan pelancaran Jihad, Perang dan Revolusi terhadapnya sehingga ianya mengalami keruntuhan dan kehancuran yang total untuk kemudiannya digantikan dengan sebuah kerajaan Islam. Kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ adalah satu perisytiharan pengabdian manusia yang total kepada Allah Yang Maha Esa sahaja, dan justeru ianya adalah satu perisytiharan untuk membebaskan manusia daripada sistem ‘PENGABDIAN MANUSIA KEPADA KUASA MANUSIA’. Dalam mencapai Misi Islam yang Maha Agung ini, Islam BERHAK untuk melancarkan Jihad, Perang dan Revolusi dalam bentuknya yang OFENSIF ke atas sesuatu Negara Bangsa seperti Kerajaan Demokrasi Malaysia kita ini, atau ke atas mana-mana Kerajaan Manusia sekalipun tanpa terlebih dahulu ianya (sekumpulan umat Islam) diserang, diperangi, dizalimi dan diancam oleh mana-mana negara atau kerajaan-kerajaan tersebut. Ini adalah konsep-konsep radikalisme, revolusi dan dinamisme yang terkandung dalam kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ. Firman Allah :al-Baqarah 251 Sekiranya Allah tidak menahan segolongan manusia dengan segolongan yang lain nescaya rosak binasalah bumi ini. Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran- al-Baqarah) : “Dan pada akhirnya muncullah kebaikan, kebajikan dan kesuburan apabila munculnya kelompok manusia yang terpilih yang mendapat hidayat Allah SWT dan akhlak daripada Allah SWT, iaitu kelompok yang mengenali kebenaran yang telah diterangkan Allah SWT kepada mereka dan mengenal pula jalan yang terang menuju ke arah-Nya, kelompok yang sedar bahawa mereka ditugaskan untuk menolak kebatilan dan menegakkan kebenaran dan seterusnya sedar bahawa mereka tidak akan selamat daripada azab Allah SWT melain apabila mereka menunaikan peranan yang luhur ini dan melainkan apabila mereka sanggup menanggung apa sahaja penderitaan di bumi ini untuk mematuhi perintah Allah SWT dan mencari keredhaan-Nya. Di sini Allah SWT menguat kuasakan perintah-Nya, melaksanakan takdir-Nya dan meletakkan kalimah kebenaran, kebajikan dan kebaikan sebagai kalimah yang tertinggi, iaitu Allah SWT meletakkan hasil pertarungan, pertandingan dan perjuangan itu di tangan kekuatan yang baik dan membina, iaitu pertarungan yang merangsangkan sesuatu yang paling luhur dan mulia yang ada pada kekuatan ini dan menyampaikan kekuatan ini kesetinggi-tinggi darjah kesempurnaan yang telah ditetapkan kepada-Nya dalam hidup ini. Oleh sebab itulah kumpulan kecil yang beriman dan percaya kepada Allah SWT itu mendapat kemenangan pada akhir perjuangan mereka. Ini ialah kerana mereka melambangkan iradat Allah SWT yang tetinggi yang mahu menolak kerosakan daripada bumi dan menegakkan kebaikan dalam kehidupan manusia. Mereka mendapat kemenangan kerana mereka melambangkan matlamat Ilahi yang tertinggi yang wajar mendapat kemenangan.” Ayat di atas ini menceritakan mengenai kaum Talut yang diutuskan Allah untuk memerangi kaum Jalut yang zalim, menindas dan jahat, iaitu mereka itu adalah kaum yang mengabdikan manusia kepada kuasa manusia. Talut menyerang, memerangi, membunuh dan menghalau kaum Jalut yang kafir dan jahat itu daripada bumi Kanaan. Sekiranya Talut tidak menyerang, memerangi, membunuh dan menghalau mereka itu keluar, akan berlakulah KEHANCURAN dan KEROSAKAN yang besar di kalangan umat manusia. Para pemerintah di Malaysia kita ini sedang melakukan kezaliman, kejahatan dan kerosakan yang besar – sewajarnya kita menyerang, memerangi, membunuh dan menghalau mereka ini keluar daripada bumi kita seperti mana yang diperintahkan Allah ke atas kita. Firman Allah : al-Hajj 40 Sekiranya Allah tidak menjatuhkan segolongan manusia dengan segolongan yang lain, nescaya runtuhlah tempat-tempat pertapaan serta gereja-gereja, dan sinagog-sinagog dan juga masjid-masjid yang sentiasa disebut nama Allah dengan banyak padanya. Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran- al-Hajj 40) : Kuasa-kuasa jahat dan sesat sentiasa bertindak di dunia ini. Pertarungan tetap berterusan di antara baik dan jahat, di antara hidayat dan kesesatan. Perjuangan tetap berterusan di antara kekuatan-kekuatan keimanan dengan kekuatan-kekuatan kezaliman sejak Allah menciptakan insan. Kejahatan bertindak liar dan kebatilan mempunyai senjata. Oleh sebab itu ia bertindak tanpa silu malu, ia menyerang tanpa kasihan belas. Ia boleh menyelewengkan manusia daripada kebaikan apabila mereka telah menemui jalannya. Ia boleh menyesatkan mereka daripada kebenaran apabila mereka telah membuka pintu hati menerimanya. Oleh itu keimanan, kebaikan dan kebenaran pasti mempunyai kekuatan yang dapat melindinuginya daripada serangan yang kejam, memeliharanya daripada fitnah dan menjaganya daripada duri-duri dan racun-racun. Allah tidak mahu meninggalkan keimanan, kebaikan dan kebenaran menentang kuasa-kuasa kezaliman, kejahatan dan kebatilan dengan tangan kosong tanpa senjata atau dengan semata-mata berpegang dengan kekuatan iman dalam hati, dengan persebatian kebenaran dalam fitrah semulajadi dan dengan kedalaman akal tunjang kebaikan dalam sanubari, kerana kekuatan kebendaan yang dimiliki kebatilan itu boleh menggoncangkan hati, boleh mengelirukan jiwa dan boleh menyesatkan fitrah, di samping itu kesabaran dan daya ketahanan menanggung penderitaan itu mempunyai batas dan hadnya. Daya tenaga dan kekuiatan manusia juga ada titik penghabisannya. Dan Allah Maha Arif dengan hati dan jiwa manusia. Oleh sebab itu Allah tidak mahu meninggalkan kaum mukmin, menjadi korban fitnah (orang-orang kafir). Apabila mereka telah bersiap sedia untuk menentang dan mempertahankan diri serta mempunyai kelengkapan yang cukup, maka mereka telah diizinkan berperang untuk menangkis pencerobohan. As-sawami (biara-biara) ialah rumah-rumah ibadat yang terpencil para paderi . Al- Biya ialah gereja-gereja kaum Kristian umumnya. Ia lebih luas daripada biara-biara, dan as-Salawat ialah rumah-rumah ibadat kaum Yahudi dan al-Masajid ialah rumah ibadat kaum Muslimin. Semua rumah-rumah ibadat akan terancam kepada perobohan walaupun rumah-rumah itu merupakan rumah-rumah suci yang didirikan khusus untuk beribadat kepada Allah, kerana ia mengikut pandangan kebatilan, alasan bahawa rumah-rumah itu banyak disebutkan nama Allah tidak dapat menolaknya daripada perobohan dan tiada yang dapat melindungkan keselamatan rumah-rumah suci itu melainkan (sunnatullah) yang menolak setengah pencerobohan manusia dengan penentangan daripada setengah manusia yang lain, iaitu penolakan dan pertahanan yang dilakukan oleh pembela-pembela aqidah terhadap musuh-musuh mereka yang mencabul kehormatan rumah-rumah suci dan para penghuninya. Kebatilan selalu bersikap sewenang-wenang. Ia tidak berhenti-henti mencabul dan menceroboh kecuali ia ditentang dan dilawan dengan kekuatan yang sama. Kebenaran itu tidak cukup dengan kebenarannya sahaja untuk melawan pencerobohan kebatilan, malah ia harus mempunyai kekuatan yang dapat melindung dan mempertahankan keselamatannya.” Saiyyid Qutb menghuraikan bahawa Allah memerintahkan kita supaya melancarkan Jihad, Perang dan Revolusi terhadap mana-mana kerajaan manusia yang MENGABDIKAN MANUSIA KEPADA KEKUASAAN MANUSIA seperti kerajaan demokrasi Malaysia kita ini atau mana-mana kerajaan manusia sekalipun yang memerintah manusia dengan undang-undang manusia dan yang tidak memerintah manusia dengan undang-undang Allah. Kita diperintahkan Allah supaya melancarkan Jihad, Perang dan Revolusi ke atas mana-mana negara kufur itu TANPA TERLEBIH DAHULU KITA INI DISERANG, DIPERANGI DAN DIZALIMI oleh mereka itu, dan walaupun negara kufur itu tidak ingin untuk berperang dengan kita dan mereka itu sentiasa menghulurkan tangan persahabatan kepada kita, kita tetap dikehendaki dan diperintahkan Allah supaya menyerang dan memerangi mereka semata-mata kerana itu adalah Jihad, Perang dan Revolusi yang bertujuan untuk menghapuskan sistem pengabdian manusia kepada kuasa manusia yang wujud dan berlaku di dalam negara kufur itu. Inilah Jihad, Perang dan Revolusi dalam bentuknya yang OFENSIF yang terkandung dalam kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ. Khalifah Saiyyidina Umar ra telah menyerang, memerangi dan membunuh bangsa Farsi tanpa sebarang kezaliman dan provokasi daripada Raja dan kerajaan Farsi semata-mata kerana Islam menjalankan tanggungjawab untuk membebaskan rakyat Farsi daripada pengabdian manusia kepada kuasa manusia dan supaya akhirnya mereka itu mengabdikan diri mereka kepada kuasa Allah di bawah kerajaan Allah di bumi Farsi itu sendiri. Rakyat Farsi tidak merayu atau memohon untuk dibebaskan, malah mereka itu kesemuanya bersetuju dan menyokong Raja dan kerajaan mereka, namun peranan dan tanggungjawab kekuasaan Islam itu adalah untuk membebaskan mereka itu daripada belenggu pengabdian manusia kepada kerajaan manusia dengan pelancaran Jihad, Perang dan Revolusi. Sekirannya Khalifah Umar al-Khattab ra tidak melancarkan Jihad, Perang dan Revolusi dalam bentuknya yang OFENSIF ke atas Farsi dalam peperangan al-Qadisyiyyah itu yang bertujuan untuk menghapuskan sistem kerajaan manusia yang mengabdikan manusia kepada kuasa manusia, akan berlakulah di kalangan umat manusia di bumi Farsi itu KEHANCURAN dan KEROSAKAN yang amat besar. Peperangan al-Qadisyiyyah itu adalah satu manifestasi dalam alam realiti kita ini akan doktrin FUNDAMENTALISME Yang Maha Agung yang terkandung dalam kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ. Doktrin fundamentalisme dalam kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ seperti inilah yang DISEMBUNYIKAN oleh para ulama dan intelek Islam kita daripada diketahui dan difahami oleh seluruh massa umat Islam kita baik di Malaysia mahupun di dunia ini seluruhnya, dan ayat-ayat al-Quran (al-Baqarah : 251, Hajj : 40) seperti inilah di antara ayat-ayat yang selalunya dipesong dan disalah ertikan oleh mereka ini dengan sengaja dan terancang supaya seluruh umat Islam kita terus berada dalam kebingungan, kebodohan dan kesesatan. Sikap dan dasar kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ terhadap kerajaan demokrasi Malaysia kita ini, mengikut konsep al-Quran seperti mana yang terkandung di dalam ayat-ayat di atas ini (al-Baqarah : 251, Hajj : 40), adalah dalam bentuk pelancaran JIHAD, PERANG dan REVOLUSI dalam bentuknya yang OFENSIF, iaitu tanpa para pejuang Islam kita ini terlebih dahulu diserang, diperangi, dizalimi dan disakiti oleh mereka itu (kerajaan demokrasi Malaysia). Tujuan pelancaran Jihad, Perang dan Revolusi dalam bentuk yang OFENSIF seperti ini adalah untuk menghapuskan sistem pengabdian manusia kepada kekuasaan manusia yang sedang wujud, beroperasi dan berkuat kuasa di dalam kerajaan Malaysia kita ini yang lahir dan wujud akibat daripada pelaksanaan dan penguat kuasaan segala peraturan dan undang-undang manusia ke atas seluruh umat manusia. Kemudian daripada itu kita diperintahkan Allah supaya kerajaan demokrasi Malaysia yang telah dijatuh dan dihapuskan oleh kita ini digantikan dengan sebuah Negara Islam yang akan menegak dan mempraktikkan konsep pengabdian manusia kepada kuasa Allah sahaja. Menyerang dan memerangi serta memberontak dalam bentuk yang OFENSIF ke atas sesuatu kerajaan yang mengabdikan manusia kepada kuasa manusia seperti kerajaan demokrasi Malaysia kita ini adalah perintah dan kehendak kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ dan inilah Misi Islam yang Maha Agung di bumi kita ini! 2. PERANG OFENSIF UNTUK MENGHAPUSKAN PENINDASAN Pemikiran, ideologi, peraturan dan undang-undang Sekular-Nasionalis-Demokratik-Kapitalis yang dicipta dan dibuat oleh manusia adalah disifatkan Allah sebagai penindasan, kezaliman, pencerobohan, ancaman, kejahatan dan kerosakan kepada manusia dan kemanusiaan di bumi. Justeru pengabdian manusia kepada kuasa manusia di bawah kerajaan Sekular-Nasionalis-Demokratik-Kapitalis di Malaysia kita ini adalah penindasan, kezaliman, pencerobohan, ancaman, kejahatan dan kerosakan kepada manusia dan kemanusiaan di bumi ini di sisi Allah swt. Selagi wujudnya penindasan, kezaliman, pencerobohan, ancaman, kejahatan dan kerosakan dalam bentuk pelaksanaan dan penguatkuasaan pemikiran dan undang-undang demokrasi yang syirik dan kufur ini selama itulah umat Islam diperintahkan Allah untuk berjihad dan berperang sehingga terhapusnya kekuatan dan kekuasaan demokrasi itu semua sekali. Justeru memerangi kerajaan Sekular-Nasionalis-Demokratik-Kapitalis yang zalim dan menindas ini adalah Jihad yang difardhukan ke atas setiap penganut agama Allah. Firman Allah: al-Baqarah 193 Dan berperanglah sehingga tiada lagi fitnah (penindasan) dan jadilah agama untuk Allah. Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran) : “Jika ayat ini – ketika turunnya – sedang menghadapi kekuatan kaum musyrikin di Semenanjung Tanah Arab yang bertindak menindas orang ramai dan menghalangkan perkembangan agama Allah, namun maksud ayat ini adalah umum dan arahannya tetap kekal berterusan (pada bila-bila masa). Anjuran Jihad kekal berterusan sehingga hari kiamat. Kini setiap hari ada sahaja kuasa zalim yang menghalangkan orang ramai daripada agama Allah, iaitu menghalangkan mereka mendengar dakwah Allah dan beriman dengan-Nya setelah mereka yakin kepada kebenarannya dan berpegang dengannya dengan aman. Kaum Muslimin adalah ditugaskan pada setiap waktu supaya meleburkan kuasa yang zalim ini dan membebaskan orang ramai daripada penindasnya agar mereka dapat mendengar dakwah Allah, memilih agama Allah dan mendapat hidayat Allah. Larangan terhadap penindasan itu diulangkan sekali perbicaraannya setelah dikecam dan disifatkannya sebagai perbuatan yang lebih kejam daripada melakukan pembunuhan. Ulangan ini menyarankan betapa besarnya perkara ini dalam pandangan Islam, juga mewujudkan satu dasar yang amat besar yang mengadakan – pada hakikatnya – satu hari lahir yang baru bagi manusia di tangan al-Quran, iaitu satu hari lahir yang meletakkan nilai manusia pada nilai aqidahnya, di mana hidup seseorang manusia itu diletakkan di sebelah daun neraca dan diletakkan pula aqidahnya di sebelah daun neraca yang satu lagi, kemudian neraca aqidah itu menjadi berat. Begitu juga mengikut dasar ini dapat ditentukan siapakah musuh-musuh manusia-manusia yang beriman dan menyakiti orang-orang Islam kerana keIslaman mereka. Merekalah orang-orang yang menafikan umat manusia daripada sebesar-besar unsur kebaikan dan menghalangkan mereka daripada agama Allah, dan merekalah golongan yang wajib diperangi dan dibunuh oleh kaum Muslimin di mana sahaja mereka jumpai. Dasar agung yang disyariatkan oleh Islam di dalam ayat-ayat pertama al-Quran yang diturun mengenai peperangan ini masih lagi berkuat kuasa, dan Aqidah Islam juga masih terus menghadapi orang-orang yang mencerobohinya dan mencerobohi pemeluk-pemeluknya dengan berbagai-bagai cara, dan penindasan dan tindakan-tindakan kejam juga masih terus menimpa orang-orang yang beriman dalam bentuk individu, kelompok-kelompok dan umat-umat seluruhnya pada sesetengah waktu. Dan setiap mereka yang menghadapi penindasan terhadap agamanya dalam apa-apa bentuk sekalipun adalah diwajibkan bangkit melawan dan berperang, dan menegakkan dasar agung yang disyariatkan oeh Islam itu. Oleh sebab itu kelahiran dasar ini merupakan hari lahir yang baru bagi umat manusia.” Firman Allah: al-Anfal 39 Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi, dan jadilah agama untuk Allah. Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran) : “Kedatangan Islam – sebagaimana dijelaskan dalam kata pengantar surah ini – merupakan satu perisytiharan umum untuk membebaskan manusia di muka bumi ini daripada perhambaan kepada sesama manusia dan daripada perhambaan hawa nafsu sendiri yang juga merupakan perhambaan kepada sesama makhluk, iaitu dengan mengumumkan Uluhiyah Allah dan Rububiyah-Nya sahaja yang menguasai seluruh alam. Ini bermakna suatu pemberontakan umum terhadap kuasa hakimiyah manusia, undang-undang dan peraturannya dalam segala rupa dan bentuknya di samping merupakan suatu pemberontakan umum terhadap segala kedudukan di mana kuasa memerintah berada dalam tangan manusia dalam mana-mana bentuknya. Untuk merealisasikan matlamat yang agung ini perlu dilakukan dua langkah yang asasi : Pertama : Menghapuskan gangguan dan penindasan terhadap orang-orang yang menganut agama ini dan mengumumkan kebebasan mereka daripada kuasa hakimiyah manusia serta memulangkan Ubudiyah mereka kepada Allah sahaja, iaitu menolak Ubudiyah kepada sesama manusia dalam segala bentuk dan rupanya. Matlamat ini tidak direalisasikan kecuali dengan adanya kelompok Muslim yang mempunyai organisasi yang bergerak di bawah kepimpinan yang beriman kepada perisytiharan umum itu dan berjuang untuk melaksanakannya di alam realiti dan seterusnya berjuang menentang setiap Taghut yang menggugat dan menindas penganut Islam atau mengadakan halangan-halangan menggunakan kekuatan, tekanan, paksaan dan kempen terhadap orang-orang yang ingin menganut Islam. Kedua : Menghancurkan segala kuasa di muka bumi ini yang ditegakkan di atas Ubudiyah kepada sesama manusia dalam mana-mana bentuk dan rupa untuk menjamin matlamat yang pertama, dan mengumumkan Uluihiyah Allah di seluruh muka bumi ini agaar seluruh agama tertentu kepada Allah sahaja. Agama yang dimaksudkan di sini ialah ketaatan kepada kuasa Allah dan ketaatan itu bukanlah semata-mata dengan iktikad sahaja.” Ayat-ayat ini (2:193; 8:39) adalah ayat yang berbentuk UMUM dan MUKTAMAD. Jihad, Perang dan Revolusi adalah diperintahkan ke atas kita, iaitu ke atas seluruh umat Islam, dan bukanlah yang hanya terhad kepada kerajaan dan pemerintahan Islam sahaja, malah ke atas sesiapa sahaja yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan Kitab-Nya untuk memerangi, meruntuh dan menghancurkan kekuatan dan kekuasaan kerajaan demokrasi Malaysia kita ini kerana, mengikut kriteria Islam, ianya adalah kerajaan yang melakukan penindasan, kezaliman, pencerobohan, ancaman, kejahatan dan kerosakan ke atas manusia dan kemanusiaan di bumi. Setelah orang-orang ramai memberontak dan berperang yang meruntuh dan menghancurkan kerajaan demokrasi yang syirik dan kufur itu, barulah wujudnya gejala “jadilah agama untuk Allah”, iaitu jadilah agama Allah ini sebagai agama yang BERKUASA dan MEMERINTAH ke atas manusia yang menghapuskan segala penindasan, kezaliman, pencerobohan, ancaman, kejahatan dan kerosakan itu. Jihad dan Revolusi adalah diperintahkan ke atas kita agar agama Allah itu menjadi agama yang berkuasa dan memerintah seperti mana yang disebut dalam ayat ini “jadilah agama untuk Allah“. Perang dalam ayat ini adalah perang yang berbentuk OFENSIF, iaitu menyerang sebelum diperangi. Perang dan Revolusi ini adalah Jihad ke jalan Allah dan ianya adalah Metod Perjuangan daripada Allah yang membolehkan kita untuk meruntuh dan menghancurkan kerajaan manusia yang syirik dan kufur serta yang zalim dan menindas ini untuk digantikan dengan kerajaan Allah yang adil dan bebas. “Fitnah” dalam ayat ini adalah dimaksudkan kepada penindasan, iaitu penindasan yang wujud dalam bentuk peraturan dan undang-undang ciptaan manusia yang selain daripada Allah yang berkuasa dan berdaulat ke atas manusia. Peraturan dan undang-undang ciptaan manusia itu adalah kekufuran, dan setiap kekufuran itu disifatkan Allah sebagai penindasan, kezaliman, ancaman, pencerbohan, kejahatan dan kerosakan kepada manusia di bumi. Kerajaan, pemerintahan dan otoriti Sekular-Nasionalis-Demokratik-Kapitalis yang mengabdikan manusia kepada sesama manusia adalah satu “fitnah” yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. untuk diperangi. Selagi “fitnah” itu wujud, selama itulah perang dikehendaki untuk dilancarkan sehingga “fitnah” itu, iaitu kerajaan, pemerintahan dan otoriti demokrasi itu, mengalami kehancuran; dan “jadilah agama untuk Allah”, iaitu sehingga Islam sahaja yang memerintah ke atas seluruh ideologi dan pemikiran yang lain dan ke atas seluruh umat manusia di bumi, Islam dan bukan Islam. Bagi umat Islam yang sedang berada di bawah naungan Sekular-Nasionalis-Demokratik-Kapitalis, Jihad dikehendaki untuk dijadikan sistem kehidupan hari-hari dan terus berkesinambungan sehingga hancurnya kufur (demokrasi) dan tertegaknya Islam. Ini adalah ayat REVOLUSI, iaitu ayat yang memerintahkan kita supaya MEMBERONTAK dan BERPERANG untuk meruntuh dan menghancurkan kekuataan dan kekuasaan sesuatu kerajaan kufur seperti kerajaan demokrasi Malaysia kita ini untuk kemudiannya digantikan dengan agama Islam, iaitu agama yang berkuasa dan memerintah. 3. PERANG OFENSIF UNTUK MENGHAPUSKAN KEZALIMAN Perang telah dibenarkan kepada orang-orang Islam yang dizalimi oleh ideologi dan undang-undang kufur dan orang-orang kafir. Dalam peringkat permulaan Aqidah dan Pemikiran Islam diperjuangkan, kekuasaan kufur disekelilingnya telah dan akan menggempur Islam. Sejarah telah membuktikan bahawa penegakan Aqidah dan Pemikiran Islam tidak pernah diberi laluan mudah sejak daripada para nabi yang terdahulu sehingga kepada junjungan besar Rasulullah s.a.w dan sehingga ke zaman kita kini, melainkan kesemuanya diancam, ditindas dan dizalimi. Firman Allah: al-Hajj 39, 40 Telah diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, disebabkan mereka dizalimi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk menolong mereka itu. Iaitu orang-orang yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan kerana mengatakan: Tuhan kami ialah Allah. Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran-al-Hajj) : “Oleh sebab itu Allah telah memberi kebenaran kapada kaum Muslimin, selepas mereka berhijrah ke Mekah memerangi kaum Musyrikin untuk mempertahankan keselamatan diri mereka dan akidah mereka daripada pencerobohan dan pencabulan yang telah mencapai kemuncaknya, juga untuk mewujudkan kebebasan akidah dan kebebasan ibadat bagi mereka dan oarang-orang yang lain daripada mereka di bawah naungan Allah. Allah juga telah menjanjikan mereka untuk memberi kemenangan dan kedudukan yang kuat kepada mereka dengan syarat mereka melaksanakan segala tugas-tugas agama mereka. Kuasa-kuasa jahat dan sesat sentiasa bertindak di dunia ini. Pertarungan tetap berterusan di antara baik dan jahat, di antara hidayat dan kesesatan. Perjuangan tetap berterusan di antara kekuatan-kekuatan keimanan dengan kekuatan-kekuatan kezaliman sejak Allah menciptakan insan. Kejahatan bertindak liar dan kebatilan mempunyai senjata. Oleh itu ia bertindak tanpa silu malu, ia menyerang tanpa belas kasihan. Ia boleh menyelewengkan manusia daripada kebaikan apabila mereka telah menemui jalannya. Ia boleh menyesatkan mereka daripada kebenaran apabila mereka telah membuka pintu hati menerimanya. Oleh itu keimanan, kebaikan dan kebenaran pasti mempunyai kekuatan yang dapat melindunginya daripada serangan yang kejam, memeliharanya daripada fitnah dan menjaganya daripada duri-duri dan racun-racun. Allah tidak mahu meninggalkan keimanan, kebaikan dan kebenaran menentang kuasa- kuasa kezaliman, kejahatan dan kebatilan tanpa senjata atau dengan semata-mata berpegang dengan kekuatan iman di dalam hati. Dengan persebatian kebenaran dalam fitrah semula jadi dan dengan kedalaman akar tunjang kebaikan di dalam sanubari, kerana kekuatan kebendaan yang dimiliki kebatilan itu boleh menggoncangkan hati, boleh mengelirukan jiwa dan boleh menyesatkan fitrah di samping itu kesabaran dan daya ketahanan menanggung penderitaan itu mempunyai batas dan hadnya. Daya tenaga dan kekuatan manusia juga ada titik penghabisannya. Dan Allah Maha Arif mengenai hati dan jiwa manusia. Oleh itu Allah tidak mahu meninggalkan kaum Mukmin menjadi korban fitnah (orang-orang kafir). Apabila mereka telah bersiap sedia untuk menentang dan mempertahankan diri serta mempunyai alat-alat kelengkapan yang cukup, maka mereka telah diizinkan berperang untuk menangkis pencerobohan. Sebelum Allah mengizinkan mereka bertolak ke medan perang, Dia mengumumkan kepada mereka bahawa Dia akan mempertahankan keselamatan mereka dan meletakkan mereka di bawah pelindungan-Nya. Mereka mempunyai alasan untuk mengharungi perjuangan itu kerana mereka ditugas memikul amanah kemanusiaan yang agung, yang mana kebaikan bukan sahaja kembali kepada mereka, malah kembali kepada seluruh pihak orang-orang yang beriman di samping menjamin kebebasan akidah dan kebebasan beribadat. Selain daripada itu mereka telah di usir daripada kampung halaman mereka tanpa apa-apa kesalahan yang benar. Sedangkan itu kalimat yang paling benar diucap dan dilafazkan, dan kerana kesalahan mengucap kalimat inilah sahaja mereka telah diusirkan daripada kampung halaman mereka. Itulah tindakan yang benar-benar zalim dan tidak beralasan daripada para penceroboh dan itulah sikap keikhlasan yang bersih daripada segala matlamat kepentingan peribadi daripada orang-orang mukmin yang dicerobohi itu, malah mereka hanya diusir kerana akidah mereka sahaja bukannya kerana pertarungan merebut harta benda dunia, di mana berlakunya pertentangan ketamakan dan kepentingan dan pertentangan tujuan dan perbezaan kepentingan.” Ini adalah pertama kali Allah s.w.t. membenarkan perang terhadap orang-orang kafir kerana menzalimi umat Islam. Di kala itu umat Islam yang kerdil itu sudah mencapai kekuatan dalaman dan kekuatan fizikal yang sudah berkemampuan untuk menghadapi kekuatan kaum kafir. Ayat ini bukanlah terhad dan terkhusus untuk dimaksudkan kepada umat Islam di Medinah pada zaman Nabi Muhammad saw sahaja, malah ianya adalah dimaksudkan kepada seluruh umat manusia yang dizalimi yang tidak terikat kepada faktor-faktor tempat dan waktu serta kepada agama dan bangsa. Sesiapa sahaja yang dizalimi, Islam atau kafir, dahulu, sekarang dan pada masa-masa hadapan, kesemuanya diperintahkan Allah untuk bangkit menentang kezaliman itu. Di atas dasar ini, Allah memerintahkan kita supaya MEMBERONTAK dan MEMERANGI kerajaan demokrasi Malaysia kita ini kerana ianya adalah kerajaan yang zalim dan menindas sehingga runtuh dan hancurlah kekuatan dan kekuasaannya untuk kemudiannya digantikan dengan kerajaan Islam yang adil dan bebas, begitu juga Islam berhak untuk memerangi seluruh pakatan kufur yang menzalimi umat Islam di Thailand, Filipina, Bosnia, Somalia, Sudan, Russia, Cina dan di merata-rata dunia. Orang-orang yang tidak berperang, sekadar melihat sahaja segala pencerobohan, ancaman, kezaliman, penindasan dan kerosakan itu berlaku ke atas umat Islam dan seluruh umat manusia, adalah satu penentangan terhadap konsep Jihad dalam Islam dan di akhirat nanti akan mendapat seksaan Allah. Deklarasi bahawa ar-Rabb kita ialah Allah di dalam ayat al-Quran (22:40) mengandungi satu deklarasi bahawa dalam hal ehwal politik dan kenegaraan, yang menjadi hak Allah sahaja ialah kedaulatan, otoriti dan undang-undang dan bahawa kedaulatan rakyat, otoriti rakyat dan undang-undang rakyat itu adalah syirik dan kufur yang diperintahkan Allah swt untuk ditolak, ditentang dan diperangi kesemua sekali. Apabila kita dilarang dan dibenteras dengan keras sekali daripada mendeklarasikan kekufuran demokrasi oleh undang-undang ISA melalui tindakan kepolisan dan ketenteraan dan lain-lain bentuk kekerasan, ianya bermakna kita dilarang dan dicegahkan daripada mendeklarasi dan mengamalkan konsep al-Quran bahawa ar-Rabb kita ialah Allah. Ini adalah satu pencerobohan, ancaman, penindasan, kezaliman dan kerosakan terhadap Islam dan umat Islam yang, mengikut ayat di atas ini, mewajibkan kita untuk melancarkan perang dan revolusi terhadap kerajaan demokrasi Malaysia. Allah memerintahkan kita untuk memerangi dan membela sesiapa sahaja yang dicerobohi, diancam, dizalimi, ditindas dan dirosaki itu tanpa diskriminasi agama, keturunan dan status. Apabila orang-orang Islam dicerobohi, diancam, dizalimi, ditindas dan dirosaki oleh orang-orang kafir, Allah memerintahkan kita untuk memerangi orang-orang kafir itu; apabila orang-orang kafir dicerobohi, diancam, dizalimi, ditindas dan dirosaki oleh orang-orang Islam, Allah memerintahkan kita supaya memerangi orang-orang Islam itu. Firman Allah: an-Nisa 75 Mengapakah kamu tidak berperang di jalan Allah untuk (membantu) orang-orang tertindas.yang terdiri daripada lelaki, perempuan-perempuan dan kanak-kanak . Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran) : “Maksudnya bagaimana kamu duduk bersenang diri dan tidak tampil berperang kerana sabilullah dan kerana menyelamatkan golongan-golongan yang lemah daripada kaum lelaki, kaum perempuan dan kanak-kanak? Gambaran golongan-golongan yang malang ini terlukis dalam satu pemandangan yang membangkitkan kehairanan seorang Muslim, mencubit kehormatan seorang mukmin dan merangsangkan sentimen belas kasihan dan perasaan insaniahnya. Mereka menderita kesusahan dan mengalami penindasan kerana Aqidah dan agama mereka, dan penderitaan kerana agama itu adalah lebih sengsara daripada penderitaan kerana harta, tanah, nyawa dan kehormatan diri, kerana penderitaan itu ialah penderitaan untuk mempertahankan ciri kewujudan insan yang paling utama kemudian barulah diikuti oleh ciri kehormatan dan maruah diri dan hak milik harta dan tanah. Pemandangan kaum perempuan dan kanak-kanak yang lemah adalah satu pemandangan yang mencubit hati dan perasaan. Pemandangan ini tidak kurang daripada pemandangan orang-orang tua yang lemah dan tidak berdaya mempertahankan diri terutama mempertahankan agama dan Aqidah mereka. Semua pemandangan ini ditayangkan di ruang seruan kepada berjihad dan ini sahaja sudah cukup. Oleh sebab itu al-Quran mengecam sikap tidak menghiraukan jeritan-jeritan golongan-golongan yang lemah itu. Ini adalah satu uslub penyampaian yang mempunyai kesan yang amat mendalam dan resapan yang amat jauh dalam saluran-saluran perasaan.” Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran Al-baqarah) : “Islam berjihad untuk mempertahankan orang-orang mukmin daripada gangguan dan penindasan yang dideritai mereka dan untuk menjaminkan keamanan dan keselamatan diri mereka, harta benda mereka dan agama mereka. Dan di sini telah menetapkan satu dasar agung yang telah diterangkan di dalam ayat : “Dan penindasan itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan” (al-Baqarah 217) Oleh itu Islam menganggapkan pencerobohan terhadap aqidah, perbuatan mengganggu dan menyakiti kerana Aqidah dan perbuatan menindas penganut-penganutnya lebih kejam daripada pencerobohan terhadap keselamatan hidup mereka sendiri, kerana Aqidah itu lebih tinggi nilainya daripada hidup itu sendiri mengikut dasar yang agung ini. Apabila seseorang mukmin itu diizinkan berperang kerana mempertahankan nyawa dan harta, maka lebih wajar lagi ia diizinkan berperang kerana mempertahankan Aqidah dan agamanya. Dahulu orang-orang Islam ditindas, diganggu dan disakiti supaya mereka diseksa kerana Aqidah mereka di berbagai-bagai negeri di dunia ini. Negeri Andalus telah menyaksi kekejaman penyeksaan dan pembunuhan beramai-ramai yang menindas orang-orang Islam supaya mereka meninggalkan agama mereka dan menindas penganut-penganut Kristian daripada mazhab-mazhab yang lain supaya masuk mazhab Katolik. Daripada kekejaman Andalus dapat menyaksi akibat yang ditinggalkan oleh Sepanyol, di mana di sana tidak ada lagi bayangan Islam dan bayangan mazhab-mazhab Kristian yang lain, sebagai mana Baitul Maqdis dan negeri-negeri di sekelilingnya telah menyaksi kekejaman serangan perang Salib yang dituju semata-mata untuk menghancurkan agama Islam – tetapi kaum Muslimin telah mengharungi peperangan itu di bawah panji-panji Aqidah mereka dan mereka telah berjaya memenangi peperangan itu dan berjaya menyelamatkan kawasan itu daripada menerima nasib Andalus yang amat sedih itu. Kaum Muslimin (hari ini) masih lagi ditindas di negeri-negeri komunis, negeri-negeri yang menyembah berhala, di kawasan-kawasan Zionis dan negeri-negeri Kristian di berbagai-bagai pelusuk dunia. Dan Jihad tetap difardhukan ke atas mereka untuk menghapuskan penindasan itu jika mereka Muslimin yang sebenar.” Para pejuang Islam, baik di bahagian dan di lokaliti mana sekalipun di dunia ini, dan di zaman mana sahaja dalam sejarah kehidupan manusia di bumi ini, sentiasa sahaja DIANCAM, DIGANGGU, DICEROBOHI, DISAKITI, DIZALIMI, DIJAHATI dan DITINDAS oleh musuh-musuh Islam, dan mereka ini akan terus diperlakukan sedemikian rupa oleh musuh-musuh Islam ini pada masa-masa akan datang. Justeru, Allah memfardhukan Jihad dan Perang ke atas kita untuk memerangi musuh-musuh Islam supaya terhapusnya segala penindasan, kezaliman, pencerobohan, ancaman, dan kerosakan itu yang disifatkan oleh Allah swt sebagai lebih besar dosanya daripada pembunuhan. Dalam pengertian ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ, orang-orang yang sedang berada di bawah naungan dan kekuasaan sesuatu kerajaan yang syirik dan kufur, seperti kerajaan demokrasi kita ini, adalah orang-orang yang sedang dicerobohi, diancam, dizalimi, ditindas dan dirosaki oleh kekuasaan kufur itu. Allah memerintahkan kita supaya melancarkan Jihad, Perang dan Revolusi terhadap sesuatu kerajaan yang syirik dan kufur seperti kerajaan demokrasi Malaysia kita ini untuk MEMBEBASKAN seluruh rakyatnya, Islam mahupun bukan Islam, daripada dibelenggu dan dizalimi oleh ideologi, kekuasaan dan undang-undang yang syirik dan kufur ini yang disifatkan oleh Allah swt sebagai pencerobohan, ancaman, penindasan, kezaliman, kejahatan dan kerosakan untuk kemudiannya diletakkan di bawah kekuasaan Islam yang disifatkan oleh Allah swt sebagai keadilan, kebebasan dan keamanan. Umat Islam yang meredhai dan menyenangi pencerobohan, ancaman. kezaliman, penindasan dan kerosakan yang wujud dalam bentuk ideologi, pemikiran, perundangan dan sistem pemerintahan Jahiliyah, seperti Jahiliyah demokrasi ini, atau mereka memilih untuk menjadi penonton-penonton sahaja, iaitu tanpa sebarang sikap dan tindakan terhadap segala pencerobohan, ancaman, kezaliman, penindasan dan kerosakan ini, mengikut pengertian ayat di atas ini, adalah orang-orang yang mendurhakai dan mengingkari Allah s.w.t. Jihad menghendaki umat Islam supaya sentiasa berada dalam keadaan yang berwaspada terhadap musuh-musuh Islam dan sentiasa bersedia dengan segala kekuatan – politik, ekonomi, ketenteraan dan moral – untuk menghadapi serangan daripada orang-orang kafir. Firman Allah: al-Anfal 60 Hendaklah kamu sediakan untuk melawan mereka, sekadar tenagamu, kekuatan dan kuda yang tertambat, dengan demikian kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu. Keadilan, kebebasan dan keamanan hanya boleh wujud apabila segala pencerobohan, ancaman, kezaliman, penindasan dan kerosakan daripada musuh-musuh Islam dapat dibenteraskan dengan berkesan. Ia sudah tentu memerlukan kepada kekuatan militeri, ekonomi dan moral umat Islam. Berada dalam keadaan yang lemah bererti terdedah kepada penindasan dan manipulasi oleh kuasa-kuasa besar. Jihad mempunyai matlamat untuk menghapuskan penindasan dan manipulasi supaya tidak ada pengabdian manusia kepada sesama manusia. Menyediakan kekuatan pertahanan yang moden dan terkini adalah kewajipan Jihad. Sebelum kita berkemampuan untuk melancarkan Jihad, Revolusi dan Perang yang total terhadap sesebuah kerajaan kufur seperti kerajaan demokrasi Malaysia kita ini, Pergerakan Islam yang kecil dan masih berada di peringkat awal itu boleh melancarkan gerakan-gerakan “terrorism” terhadapnya, bukan sahaja untuk menggentarkannya malah juga sebagai satu saluran untuk mendedahkan idea-idea radikal dan revolusyeneri dalam menggalak dan menggerakkan massa umat Islam untuk menyertai perjuangan Islam ke arah Jihad dan Revolusi. 4. PERANG OFENSIF UNTUK MEMERANGI KAUM MUSYRIKIN Allah memerintahkan kita supaya memerangi kaum musyrikin kerana akidah mereka mengabdikan manusia kepada sesama manusia yang menafi dan menolak pengabdian manusia kepada Allah sahaja. Justeru Allah memerintahkan kita untuk memerangi dan memusuhi rakyat Malaysia yang terdiri daripada orang-orang Cina dan India musyrikin. Bukan kerana mereka itu adalah bangsa-bangsa Cina dan India yang selain daripada bangsa Melayu, tetapi kerana mereka menganuti akidah musyrik yang mengabdikan manusia kepada sesama manusia serta mereka itu menolak dan menafikan Aqidah Islam yang mengabdikan manusia kepada Allah sahaja. Walaupun mereka itu sangat mengingini untuk bersahabat dan hidup berharmoni dengan kita, perintah Allah ke atas kita adalah tetap untuk bermusuhan dan berperangan dengan mereka melainkan mereka mengalah dan bersetuju untuk menegakkan konsep pengabdian kepada Allah sahaja. Di atas dasar yang sama, kita berhak untuk memerangi kerajaan demokrasi Malaysia pimpinan orang-orang Melayu ini kerana ianya adalah sebuah kerajaan yang menganuti akidah yang syirik dan kufur yang mengabdikan manusia kepada sesama manusia. Bagai manakah kedudukan perpaduan di antara Melayu, Cina dan India di atas dasar perpaduan bangsa Malaysia, dan juga perpaduan di antara berbagai golongan agama di kalangan kaum Bumiputra di atas konsep bangsa Bumiputra di sisi Islam? Perpaduan-perpaduan seperti ini adalah syrik dan kufur! Firman Allah: at-Taubah 36, 73 Perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagai mana mereka memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahawa Allah bersama orang-orang yang taqwa. Wahai Nabi! Berperanglah terhadap orang-orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran) : “Maksudnya, perangilah mereka tanpa dikecualikan seorang atau sekumpulan pun daripada mereka kerana mereka memerangi kamu tanpa dikecualikan kamu seorang atau sekumpulan pun daripada kamu. Peperangan ini pada hakikatnya adalah peperangan di antara syirik dan Tauhid, di antara kufur dan iman, dan di antara kesesatan dan hidayat. Ia merupakan pertarungan di antara dua kem yang berbeza, yang tidak mungkin wujud di antara keduanya perdamaian yang berkekalan dan tidak mungkin diadakan di antara keduanya suatu persetujuan yang sempurna, kerana perselisihan di antara keduanya bukan perselisihan secara kebetulan atau perselisihan juzu’kan, bukan perselisihan kepentingan-kepentingan yang boleh dicarikan jalan penyelesaian dan bukan perselisihan kerana garis-garis sempadan yang boleh diaturkan semula. Umat Muslimin akan tertipu dengan muslihat pertarungan di antara mereka dengan kaum Musyrikin iaitu kaum paganisme dan kaum ahlil kitab jika mereka memahami atau difahamkan bahawa pertarungan ini ialah pertarungan ekonomi atau pertarungan perkauman atau pertarungan kerana tanah air atau pertarungan strategik tidak sekali-kali begitu. Ia adalah pertarungan Aqidah sebelum segala pertarungan yang lain, pertarungan sistem hidup yang lahir daripada Aqidah ini. Dalam pertarungan ini penyelesaian-penyelesaian separuhan tidak berguna dan ia tidak boleh diselesaikan dengan perjanjian-perjanjian dan tindak tanduk muslihat. Ia hanya boleh diselesaikan dengan peperangan dan perjuangan yang total. Inilah Sunatullah yang tidak berubah dan itulah undang-undang Allah yang ditegakkan di atasnya langit dan bumi, aqidah-aqidah dan agama-agama, dhamir dan hati. Itulah undang-undang tercatat dalam kitab Allah sejak hari Allah mencipta langit dan bumi.” Penyelesaian konflik di antara kita dengan kaum Musyrikin hanya dengan Jihad dan Peperangan yang total ke atas mereka, bukan melalui perundingan, kompromi, toleransi, kerja sama dan kesepakatan dan perjanjian di bawah dan melalui proses politik demokrasi, kerana konflik di antara kita dengan mereka adalah satu konflik yang lahir daripada jurang perbezaan di antara dua kem (camp) yang sangat jauh jaraknya. Cara Islam dalam menyelesaikan konflik di antara kita dengan orang-orang musyrikin Cina dan India serta kaum-kaum kafir Bumiputra yang lain di Malaysia, juga termasuk dan terutama sekali kerajaan demokrasi Malaysia kita yang syirik dan kufur ini, hanyalah melalui Jihad dan pelancaran perang yang total ke atas mereka sehinggalah mereka itu kesemuanya kalah dan tunduk kepada kita, dan tidak ada cara yang lain lagi daripada ini. Cara ini adalah panduan, petunjuk dan hidayat daripada Allah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana dan Maha Sempurna yang disampaikan kepada kita melalui WAHYU yang akan berakhir dengan keagungan dan kemuliaan kepada kita. Saiyyid Qutb menegaskan bahawa “inilah Sunnatullah dan undang-undang Allah”. Cara yang lain daripada cara ini adalah cara yang bersumberkan pemikiran manusia yang lemah dan pincang yang hanya akan mendatangkan kesudahan yang buruk dan hina kepada kita. Kompromi dan perpaduan berbagai bangsa di atas konsep bangsa Malaysia adalah kesyirikan dan kekufuran kerana konsep dan strategi seperti ini adalah satu pengabdian manusia kepada sesama manusia yang menafikan ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ. Seperti mana yang telah disentuhkan awal tadi, menentang kaum musyrikin juga terangkum ke dalam pengertian memerangi kerajaan demokrasi Malaysia yang syirik dan kufur ini. Justeru kita terpaksa menghadapi dua kem musuh yang besar dalam masa yang sama dalam perjuangan Islam kita di Malaysia ini – kem kaum-kaum musyrikin Cina, India dan bumiputra Sabah dan Sarawak yang kafir dan kem kerajaan kufur demokrasi. Kedua-dua kem ini adalah kem yang satu dan sama, iaitu kem yang mengabdikan manusia kepada sesama manusia dan yang menolak pengabdian manusia kepada Allah sahaja, dan mereka pasti akan bersatu, malah mereka sentiasa bersatu sesama mereka untuk memusuhi dan memerangi kem Islam yang mempertahankan konsep pengabdian manusia kepada Allah sahaja. Ini adalah satu sifat dan gejala yang semula jadi yang berlaku di antara dua kem yang sama sekali berbeza dan bertentangan di antara satu dengan yang lain yang perlu difahami dan disedari oleh setiap penganut agama Allah. Perjuangan Islam di Malaysia terpaksa memikul bebanan tambahan yang amat berat kerana ia terpaksa menghadapi dua barisan perang (two war fronts) dengan serentak – permusuhan dan penentangan daripada kerajaan demokrasi yang disokong oleh umat Islam sendiri, dan permusuhan dan penentangan daripada musuh-musuh Islam yang terdiri daripada orang-orang kafir Cina dan India serta kaum Bumiputra daripada Sabah dan Sarawak. Kebangkitan fundamentalis Islam di Malaysia ini bukanlah satu fenomena yang terasing dan hanya terhad setakat Malaysia serta yang dianggap sebagai sesuatu yang berbentuk dalaman (domestic affair) sahaja, tetapi ternyata bahawa ianya adalah satu fenomena yang berbentuk global dan universal dengan ciri-ciri ancaman, penentangan dan peperangan terhadap kebangkitan Islam yang kecil daripada Malaysia ini daripada kuasa-kuasa utama kufur di dunia. Inilah satu sifat dan kecirian Islam yang wujud sejak hari kelahiran dan pertumbuhannya di Semenanjung Tanah Arab dahulu itu lagi. Peperangan Tabuk adalah satu manifestasi sifat dan kecirian Islam yang berbentuk global dan universal kerana Islam terpaksa menghadapi ancaman kekuasaan Rom sejak zaman kelahiran dan awal pertumbuhannya lagi. Kebangkitan Islam di Malaysia bukan sahaja akan ditentang dan dimusuhi oleh kerajaan demokrasi Malaysia, tetapi ianya akan ditentang dan dimusuhi oleh Amerika, NATO, PBB dan seluruh kekuatan kufur di dunia! Ini adalah satu realiti yang perlu difahami oleh setiap pejuang Islam. Dengan sebab inilah Allah telah memerintahkan kita supaya memerangi kaum musyrikin kesemua sekali kerana mereka itu akan bersatu di antara mereka kesemua sekali dalam memerangi dan menghancurkan kita kesemua sekali. 5. PERANG OFENSIF UNTUK MEMERANGI AHLIL KITAB Sebagai mana Allah telah memerintahkan kita supaya memerangi kaum musyrikin kesemua sekali kerana jurang perbezaan aqidah yang sangat jauh di antara kita dengan mereka, dan umumnya kerana mereka memusuhi Islam kerana mereka melakukan pencerobohan terhadap hak-hak asasi manusia akibat daripada mereka mengabdikan manusia kepada sesama manusia, Allah juga memerintahkan kita supaya memerangi ahlil kitab di atas rasionaliti dan asas yang sama. Firman Allah: at-Taubah 29, Perangilah orang-orang yang tidak beriman, mereka tiada mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan tiada pula beragama dengan agama yang benar, (iaitu) diantara ahli-ahli kitab, kecuali jika mereka membayar jizyah dengan tangannya sendiri sedang mereka orang yang tunduk.. Kita diperintahkan supaya berperang dengan ahlil kitab kerana mereka ini sedang memusuhi dan mencerobohi kita. Mereka dianggap sebagai memusuhi dan mencerobohi kita kerana melakukan perkara-perkara berikut: Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran) : Penjelasan al-Quran telah menggariskan sifat-sifat yang berikut: Pertama : mereka tidak beriman kepada Allah dan tidak kepada hari kiamat. Kedua : mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Ketiga : mereka tidak berpegang dengan agama yang benar. Kemudian dijelaskan dalam ayat-ayat selanjutnya bagaimana mereka tidak beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat, dan bagaimana mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan bagaimana mereka tidak berpegang kepada agama yang benar. Smeuanya itu disebabkan kerana : Pertama : Kaum Yahudi berkata : Uzair itu putra Allah dan kerana orang-orang Kristian berkata : al-Masih itu putra Allah dan tanggapan ini adalah sama dengan tanggapan orang-orang kafir daripada golongan paganis (watani) sebelum mereka. Oleh sebab itu mereka dikira sama dengan golongan ini dalam tanggapan ini di mana penganutnya tidak dianggapkan sebagai orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat (kami akan jelaskan dengan tepat bagaimana mereka dikatakan tidak beriman kepada hari akhirat). Kedua : mereka jadikan ulama-ulama dan paderi-paderi mereka dan al-Masih putra Mariam selaku Tuhan-tuhan lain daripada Allah, dan perbuatan ini adalah bertentangan dengan agama yang benar yang menumpukan seluruh ketaatan itu kepada Allah Yang Maha Esa tanpa sekutu-sekutu yang lain. Perbuatan telah menjadikan mereka kaum musyrikin yang tidak berpegang dengan agama yang benar. Ketiga : Mereka mahu memadamkan nur agama Allah dengan mulut mereka. Ini bererti mereka menentang agama Allah, sedangkan orang-orang yang benar beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat dan berpegang dengan agama yang benar tidak akan menentang Allah. Keempat : adanya sebilangan besar ulama-ulama dan paderi-paderi mereka yang makan harta orang ramai dengan jalan yang tidak sebenar. Ini bererti mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya (samaada Rasul yang dimaksudkan di sisi Rasul mereka atau nabi Muhammad saw). Persoalan yang relevan yang sewajarnya kita kemukakan berhubungan dengan perintah ini untuk perbincangan selanjutnya ialah adakah perintah ini hanya terkhusus kepada ahlil kitab sahaja atau ianya meliputi perintah terhadap golongan-golongan yang lain yang juga terlibat dengan gejala tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat, tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan tidak berpegang dengan agama yang benar. Sebagai mana ayat-ayat yang menyatakan bahawa orang-orang yang tidak menjalankan hukum Allah itu adalah kafir, zalim dan fasik (5:44,45,47) yang ditujukan kepada kaum Yahudi itu adalah bersifat umum dan oleh itu terpakai untuk kita umat Islam sekarang ini, ayat ini (9:29) juga berbentuk umum dan turut ditujukan juga kepada kita umat Islam sekelian yang menyeleweng daripada jalan yang benar. Kerajaan demokrasi Malaysia adalah sebuah kerajaan yang menceroboh, mengancam, menzalimi, menindas dan merosak manusia; pertama sekali kerana ia menyerahkan hak-hak Uluhiyah dan Rububiyah milik Allah kepada manusia yang bererti bahawa ia tidak beriman kepada Allah; kedua; ia tidak mengharamkan undang-undang parlimen ciptaan manusia yang bererti bahawa ia tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya; ketiga, ia berpegang dengan agama demokrasi di samping berpegang dengan agama Allah yang bererti bahawa ia tidak berpegang dengan agama yang benar. Kerajaan demokrasi Malaysia mempunyai sifat-sifat dan ciri-ciri yang sama dengan ahlil kitab dalam memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Sebagai mana ahlil kitab itu adalah diperintahkan untuk diperangi kerana mereka tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak berpegang dengan agama yang benar, Allah memerintahkan kita supaya melancarkan Jihad dan Perang terhadap kerajaan demokrasi Malaysia ini di atas rasionaliti-rasionaliti dan dasar-dasar yang sama seperti mana pengertiannya yang terkandung di dalam ayat di atas ini. 6. PERANG OFENSIF UNTUK MENEGAKKAN KEBENARAN DAN MENGHAPUSKAN KEBATILAN Perang Badar adalah peperangan Aqidah. Umat Islam pada masa itu bercadang untuk berperang kerana harta rampasan, namun Allah swt telah menukarkannya serta mentakdirkannya kepada peperangan Aqidah. Allah memerintahkan kita supaya berperang kerana Aqidah, iaitu untuk menegakkan Aqidah Islam dan untuk menghapuskan aqidah yang batil, dan contoh tauladan peperangan Badar itu adalah sesuatu yang berbentuk peraturan umum dan berkekalan untuk kita pada masa ini dan untuk umat Islam pada masa-masa akan datang. Firman Allah : al-Anfal 7,8 Dan (kenangilah) ketika Allah menjanjikan kamu bahawa salah satu daripada angkatan (Quraisy yang dihadapi kamu itu) akan dimenangi kamu, dan kamu mengingini agar angkatan Qafilah (Quraisy) yang tidak bersenjata dan dimenangi kamu. Sedangkan Allah berkehendak (supaya kamu berperang dengan angkatan Quraisy yang bersenjata) untuk menegakkan kebenaran dengan kalimat-kalimatnya dan menghapuskan orang-orang kafir hingga saki baki mereka yang akhir. Kerana Allah hendak menegakkan yang benar dan menghapuskan yang batil walaupun tidak disukai oleh orang-orang yang melakukan dosa. Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran): Maksudnya, Allah – dengan limpah kurnia-Nya – berkehendak agar mereka menghadapi peperangan bukannya harta rampasan. Allah menghendaki mereka melancarkan peperangan di antara yang Hak dan yang Batil untuk menegakkan kebenaran dan menghapuskan kebatilan. Allah hendak membenteraskan orang-orang kafir hingga ke saki baki mereka yang akhir, dibunuh mana yang boleh dibunuh dan ditawan mana yang boleh ditawan, hingga keangkuhan mereka dapat ditundukkan dan kekuatan mereka dapat dileburkan, hingga bendera Islam dan Kalimatullah dikibar tinggi dan hingga Allah memungkinkan kelompok Muslimin hidup dengan sisten Rabbani dan bergerak maju dengannya untuk menegakkan Uluhiyah Allah di bumi dan menghancurkan kemaharajalelaan para Taghut. Allah hendak mengurniakan kedudukan yang teguh ini kepada mereka berlandaskan pencapaian dan perjuangan mereka yang wajar bukannya dikurniakan kepada mereka secara serampangan sahaja, kerana Allah Maha Suci daripada tindakan-tindakan secara serampangan. Allah mahu kurniakan kedudukan yang teguh itu melalui usaha dan Jihad mereka, melalui pengorbanan-pengorbanan dan pengalaman-pengalaman yang pahit di alam realiti dan di medan pertempuran. Ya, Allah menghendaki agar kelompok Muslimin menjadi satu umat dan sebuah negara yang mempunyai kekuatan dan kedaulatan. Allah mahu kelompok Muslimin membandingkan kekuatan mereka yang sebenar dengan kekuatan musuh mereka dan melebihkan kekuatan mereka yang kecil di atas kekuatan musuh mereka yang besar. Allah mahu kelompok Muslim menginsafi bahawa kemenangan itu bukan dengan kekuatan bilangan dan kekuatan senjata, bukan dengan kekuatan harta dan kuda dan seterusnya bukan dengan kekuatan bekalan dan persediaan yang cukup, malah kemenangan itu dicapai dengan kekuatan hubungan hati yang kukuh dengan kekuatan Allah yang tidak dapat ditentang oleh kekuatan manusia. Dan semuanya ini harus terbit daripada pengalaman yang benar di alam kenyataan bukannya terbit daripada tanggapan dan kepercayaan hati semata-mata agar kelompok Muslimin memperolehi bekalan daripada pengalaman yang hakiki itu untuk menghadapai seluruh masa depan mereka, dan agar mereka yakin bahawa mereka di setiap masa dan tempat memiliki kekuatan untuk menumpaskan musuh mereka, walaupun sekecil mana bilangan mereka dan sebanyak mana bilangan musuh mereka walaupun selemah mana kelengkapan material mereka dan sekuat mana persiapan dan peralatan para musuh mereka. Hakikat ini tidak tersemat di dalam hati seteguh ia tersemat melalui peperangan muktamad di antara kekuatan keimanan dan kekuatan kezaliman. Di sini pemerhati dapat melihat pada hari ini dan selepas hari ini betapa jauhnya jarak perbezaan di antara kehendak yang dirancangkan oleh kelopok Muslimin untuk diri mereka dengan kehendak yang baik yang dikehendaki Allah untuk mereka, di antara apa yang difikir baik oleh mereka dengan apa yang ditetapkan Allah untuk mereka. Disamping melihat jurang perbezaan yang amat jauh, pemerhati itu juga dapat mengetahui betapa banyaknya kesilapan manusia ketika mereka berfikir bahwa mereka mampu memilih untuk diri mereka sesuatu yang lebih baik daipada apa yang dipilih Allah untuk mereka, dan ketika mereka merasa akan mendapat bahaya daripada kehehndak keputusan Allah yang mungkin mendedahkan mereka kepada ancaman bencana dan gangguan yang menyakiti meraka, sedangkan di sebalik kehendak keputusan Allah tersembunyi kebaikan-kebaikan yang tidak terlintas di dalam hati dam imaginasi mereka. Di mana letaknya titik perbandingan di antara kehendak-kehendak yang dirancangkan oleh kelompok Muslimin untuk kebaikan dan kepentingan mereka dengan kehendak-kehendak yang baik yang diaturkan Allah untuk mereka? Seandainya kehendak mereka untuk menawan angkatan qafilah perdagangan Quraisy yang tidak bersenjata itu tercapai, maka yang berlaku ialah kisah harta rampasan, iaitu kisah satu kumpulan manusia yang berjaya menyerang angkatan qafilah perdagangan dan mengambil harta benda yang dibawa olehnya. Tetapi peperangan Badar yang dikehendaki Allah itu telah berlalu di dalam sejarah sebagai sebuah kisah perjuangan Aqidah, kisah kemenangan muktamad yang memisahkan di antara yang hak dengan yang batil, kisah kemenangan agama yang benar yang telah berjaya menumpaskan musuh-musuhnya yang lengkap dengan kekuatan senjata dan bekalan yang diperlukan, sedangkan pihak agama yang benar hanya mempunyai bilangan pejuang yang kecil dan bekalan dan kenderaan yang tidak mencukupi, kisah kemenangan hati manusia yang berhubung dengan Allah dan mengatasi kelemahan diri malah kisah kemenangan segelintir hati manusia dan di antaranya terdapat segolongan orang yang tidak bersetuju berperang, tetapi dengan saki baki kumpulan yang tabah yang tidak tunduk kepada realiti material, yang penuh yakin kepada hakikat kekuatan yang sebenar dan kesahihan pertimbangan, merek telah berjaya menguasai diri mereka dan orang-orang yang berada di situ, lalu mereka mengharungi peperangan itu walaupun neraca imbangan kekuatan lebih berat di pihak musuh. Tetapi dengan kekuatan keyakinan, mereka telah berjaya mencapai kemenangan yang gemilang. Sebenarnya peperangan Badar dengan segala latar belakangnya ini akan terus menjadi contoh di dalam sejarah manusia. Ia adalah satu peperangan yang menjelaskan undang-undang kemenangan dan kekalahan. Ia mendedahkan punca-punca kemenangan dan punca-punca kekalahan. Ia menerangkan sebab-sebabnya yang hakiki bukan sebab-sebab lahir yang bersifat fizikal. Ia merupakan sebuah kitab terbuka yang dapat dibaca oleh generasi-generasi daripada semua zaman dan tempat, di mana gambaran pengertian dan hakikat peperangan itu tetap tidak berubah. Peperangan Badar merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah dan salah satu undang-undang Allah yang berlaku pada makhluk-Nya selama wujudnya langit dan bumi. Kelompok Muslimin yang berjuang pada hari itu untuk menegakkan kembali sistem hidup Islamiyah di muka bumi setelah dunia didominasikan oleh sistem hidup Jahiliyah, adalah amat wajar berhenti lama-lama di hadapan peperangan Badar untuk merenungi nilai-nilainya yang muktamad yang telah ditunjukkan olehnya dan meneliti dimensi-dimensinya yang agung, di mana ia mendedahkan jarak perbezaan di antara kehendak-kehendak yang difikir oleh manusia untuk kepentingan mereka dengan kehendak-kehendak yang baik yang ditetapkan Allah untuk mereka. Firman Allah : al-Anfal 7,8 Dan (kenangilah) ketika Allah menjanjikan kamu bahawa salah satu daripada angkatan (Quraisy yang dihadapi kamu itu) akan dimenangi kamu, dan kamu mengingini agar angkatan Qafilah (Quraisy) yang tidak bersenjata dan dimenangi kamu. Sedangkan Allah berkehendak (supaya kamu berperang dengan angkatan Quraisy yang bersenjata) untuk menegakkan kebenaran dengan kalimat-kalimatnya dan menghapuskan orang-orang kafir hingga saki baki mereka yang akhir. Kerana Allah hendak menegakkan yang benar dan menghapuskan yang batil walaupun tidak disukai oleh orang-orang yang melakukan dosa. “Kelompok Muslimin yang berjuang pada hari ini untuk mengembalikan Islam di dalam dunia kehidupan manusia dan di alam realiti, mungkin pada hari ini belum lagi sampai dari segi harakat ketahap harakat kelompok Muslimin angkatan pertama pada hari peperangan Badar, tetapi ukuran-ukuran, nilai-nilai, garis-garis panduan umum peperangan Badar dengan latar belakang-latar belakangnya dan natijah-natijahnya serta ulasan-ulasan al-Quran mengenainya masih tetap menjadi pedoman yang dapat memimpin dan menentukan arah pendirian kelompok Muslimin dalam setiap fasa harakat perjuangannya, kerana ukuran-ukuran, nialai-nilai dan garis-garis panduan yang wujud dalalm peperangan Badar itu merupakan ukuran-ukuran, nilai-nilai dan garis –garis panduan yang umum dan tetap selama wujudnya langit dan bumi dan selama adanya kelompok Muslimih di muka bumi ini yang berjuang menentang Jahiliyah untuk mengembalikan kewujudan sistem hidup Islamiyah.” Saiyyid Qutb (Fizilalil Quran- al-Anfal) : “Kerana Allah hendak menegakkan yang benar dan menghapuskan yang batil walaupun tidak disukai oleh orang-orang yang melakukan dosa.” “Kaum Muslimin telah keluar daripada Medinah untuk berperang, tetapi matlamat yang dikehendaki mereka ialah untuk menawan dan merampas qafilah perdagangan Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufian, tetapi kehendak Allah berlainan daripada kehendak mereka . Allah menghendaki agar angkatan perdagangan Quraisy yang tidak bersenjata itu terlepas daripada kepungan mereka dan agar mereka bertempur dengan angkatan bersenjatat Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahal supaya pertembungan itu benar-benar menjadi satu peperangan yang menumpahkan darah dan berkahir dengan tawanan-tawanan, bukan suatu gerakan menwan qafilah perdagangan dan mendapatkan harta rampasan dan bukan merupakan satu perjalanan berkelah yang selesa. Kemudian Allah menjelaskan tujuan-Nya Ia berbuat begitu : “Kerana Allah hendak menegakkan yang benar dan menghapuskan yang batil walaupun tidak disukai oleh orang-orang yang melakukan dosa.” Ayat ini bertujuan menjelaskan satu hakikat yang besar, iaitu kebenaran tidak akan tegak dan kebatilan tidak akan terhapus di dalam masyarakat manusia dengan semata-mata mengemukakan penjelasan secara teori tentang kebenaran dan kebatilan itu dan tidak pula dengan semata–semata iktiqad yang bercorak teori bahawa yang ini benar dan yang itu batil, malah kebenaran tidak akan tegak dan wujud di dalam realiti kehidupan manusia dan kebatilan tidak hapus dan hilang daripada dunia manusia kecuali dirobohkan kuasa kebatilan dan dibangunankan kuasa kebenaran, dan semuanya ini tidak akan berlaku kecuali tentera kebenaran menang dan tentera kebatilan kalah dan tumbang. Oleh sebab itu Islam merupakan satu sistem hidup yang haraki dan berpijak di bumi kenyataan bukan satu sistem hidup yang bercorak teori untuk maksud ilmu pengetahuan dan perdebatan atau untuk maksud iktiqad yang negatif! Kini kebenaran telah ditegakkan dan kebatilan telah dihapuskan dengan peperangan Badar, dan kemenangan yang praktikal ini telah mewujudkan furqan atau pemisahan di alam realiti di antara kebenaran dan kebatilan sebagai mana yang telah disebut di dalam firman Allah ketika menyatakan iradat-Nya disebalik peperangan itu dan di sebalik mengeluarkan Rasulullah saw daripada rumahnya dengan hikmat yang benar dan di sebalik terlepasnya angkatan qafilah perdagangan Quraisy yang tidak bersenjata dan bertembungnya dengan angkatan perang Quiraisy yang bersenjata. Semuanya ini merupakan suatu furqan dl dalam sistem hidup Islam ini sendiri, iaitu satu furqan yang menjelasan tabiat dan hakikat sistem ini di dalam hati kaum Muslimin, suatu furqan yang kita sedari betapa perlunya pada hari ini apabila kita melihat kegoyahan yang melanda konsep-konsep agama ini di dalam hati orang-orang yang menamakan diri mereka sebagai orang-orang Islam sehingga kegoyahan ini sampai kepada tanggapan-tanggapan setengah-setengah pendakwah yang menyeru manusia kepada agama ini”. Kebenaran tidak dapat ditegakkan dan kebatilan tidak dapat dihapuskan di bumi ini hanya dengan dakwah dan semata-mata dakwah, dan kedua-duanya ini tidak dapat dicapai melalui Program Islamisasi dan Islam Hadhari, tetapi kedua-keduanya ini akan hanya tercapai melalui segala gerakan dan tindakan yang sedar dan terancang untuk mengoperasikan Jihad dan Perang. Inilah pengajaran yang disampaikan Allah kepada kita umat Islam yang kini sedang dijajah dengan begitu lama dan ketara sekali oleh pemikiran Jahiliyah – bahawa kebenaran hendaklah ditegakkan dengan Jihad dan Perang, dan begitu juga kebatilan itu hendaklah dihapuskan dengan Jihad dan Perang, dan tidak melalui jalan demokrasi atau jalan-jalan yang selain daripada Jihad dan Perang! Melalui peristiwa peperangan Badar yang Agung itu Allah mengajarkan kita bahawa sesebuah kerajaan Islam tidak mungkin dapat ditegakkan di mana-mana bumi umat Islam ini hanyalah melalui dakwah dan semata-mata dakwah sahaja, tetapi ia hanya akan tercapai melalui Jihad dan Perang. Sekian, terima kasih. Wan Solehah al-Halbani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: