JIHAD JALAN HIDUPKU

USTADZ   ALI GHUFRON alias MUKHLAS `

Prakata Penulis

*JIHAD JALAN HIDUPKU*

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM

KHOT ARAB

Sengaja saya tulis buku ini disamping karena permintaan beberapa pihak, saya ingin menyampaikan sebagian riwayat hidup saya dan latar belakang keluarga saya, hal ini dengan sangat terpaksa saya lakukan mengingat banyaknya berita-berita dan cerita-cerita yang beredar dari mulut ke mulutyang pernah memenuhi media massa, berita-berita dan cerita-cerita itu sebagiannya ada yang benar dan ada pula yang kurang benar, bahkan sama sekali salah,,tidak sesuai dengan fakta, begitulah sifat berita, selalunya mengandung yang benar dan yang salah , kecuali berita yang dibawa oleh para Anbiya’ dan Mursalin (Para Nabi dan Para Rasul a.s)

Dengan takdir Allah dan kehendakNya nama saya dan keluarga saya melejit menjadi masyhur dan terkenal, hal ini merupakan ujian bagi manusia, khususnya bagi saya, adik-adik saya dan keluarga besar saya, dengannya Allah ta’ala menunjukkan orang yang dikehendaki dan dengannya Allah ta’ala menyesatkan sebagian yang lain, demikian lah antara lain hikmah dari segala makhluk yang Allah ta’ala ciptakan (Q.S Al-Baqarah : 26, Al-Mudatstsir: 31 dsb), mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah Ta’ala yang dikaruniai-Nya mampu mengambi hikmah yang baik dari segala kejadian yang terjadi di alam ini, termasuk yang terjadi pada diri-diri kita.

Bertitik tolak dari itu semua, maka saya berusaha menulis serba singkat, latar belakang keluarga saya dan riwayat hidup saya dan beberapa prinsip pegangan hidup saya , yang kadang diketahui sebagiannya secara meluas, mudah-mudahan dapat menjelaskan perkara-perkara yang belum jelas dan meluruskan hal-hal yang belum lurus, serta menambah informasi-informasi yang bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Demikianlah prakata singkat yang perlu saya sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat bagi semua pihak, dan saya berdoa dan berharap kepada Allah Ta’ala, semoga tulisan ini dinilai-Nya sebagai amal sholih yang bermanfaat khususnya bagi penulisnya baik di dunia terutama di akherat kelak dan penulisnya dijauhkan dari segala sifat-sifat tercela seperti kibr, riya’, ujub, sum’ah dan sebagainya.

Allahumma Inni a’udzubika minannifaaq wa a’maalu minarriyaa’ wa lisaanu minal kadzdzabu, fa innaka ta’lamu Nggak kebaca WAL HAMDULILLAHIRABBIL ALAMIN..

Al-Faqir Ilallah

Abu Sittah

  1. Pemahaman tentang Al-Islam

Alhamdulillah saya sejak kecil dididik orang tua saya dan ustadz-ustadz saya agar rela Islam sebagai agama (jalan hidup) saya, maka saya dituntun dan di biasakan untuk mengikrarkan dan membaca hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan imam At-Tirmidzi dalam shahihnya III/141, sebagaimana yang telah saya sampaikan sebelumnya yaitu, “ٌRodhitubillahi robba wabil Islâmidiina wabil Muhammadinnabiyya wa Rasuulan-Arab” Aku rela Allah sebagai Rabbkuk, Islam sebagai Dienku dan Muhammad saw sebaga Nabiku dan Rasulku.

Dari kerelaanku Islam sebagai ad-dien (jalan hidup)ku, mendorongku untuk mengetahui Islam yang sebenarnya yang datang dari Allah ta’ala dan dibawa oleh Rasulullah saw, didakwahkannya dan diperjuangkannya, maka saya berusaha dan berupaya untuk mempelajarinya dengan tekun dengan berguru langsung (talaqqi, mulazâmah, musyafahah) kepada seorang ustadz atau asy-syaikh dan secara autodidak (belajar sendiri) denganmembaca kitab-kitab para ulama-dan masyayikh terdahulu maupun yang terkemudian, mendengarkan ceramah dan sebagainya. Alhamdulillah dua metode belajar tersebut masyru’ atau disyariatkan, ahlul ilmi menamakan metode yang pertama dengan sebutan :

“At-Tu’alimu bittalaqqil ‘ulamaa’ musyaafahah.” (belajar secara langsung dengan berhadapan dengan seorang syaikh)

At-Tu’alimu bimuth-thoola’aatil kutubi au bil wijaadati” (belajar dengan menelaah kitab-kitab atau dengan tulisan tanpa mendengarkan syaikh)

metode pertama tentu lebih afdhal, akan tetapi dalam kondisi tertentu kadangkala metode kedua lebih baik dan lebih memungkinkan, jika dipenuhi syarat-syaratnya, misalnya dalam keadaan sulit mendapatkan ulama dan masyayikh, ulama yang ada merupakan ulama-ulama su’ dan ahli bid’ah dan ahwa’, sehingga jika belajar dengan mereka akan disesatkan, atau karena alasan-alasan lain yang masyru’. Dalam beberapa hadits disebutkan fadhilah dari pada metode ini antara lain sebagai berikut:

Rasulullah saw, bersabda,

Khot Arab.

Makhluk apa yang imannya begitu menakjubkan? Mereka berkata, Malaikat, Beliau berkata, Bagaimana mereka tidak beriman sedang mereka berada di sisi Tuhan mereka? Mereka berkata, Anbiya’ (Para Nabi). Beliau berkata, Bagaimana mereka tidak beriman sementara wahyu turun kepada mereka? Mereka berkata, Kami, Beliau bersabda, Bagaimana kalian tidak beriman, sedang aku berada ditengah-tengah kalian? Mereka berkata, Maka siapa wahai Rasulullah ? beliau berkata, suatu kaum yang datang sesudah kalian, mereka menemukan lembaran danmereka beriman dengan yang ada di dalamnya.

Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim dari hadits Abu Jum’ah Al-Anshari  dinyatakan, “mereka adalah yang paling besar pahalanya,” dan dalam hadits Umar r.a, riwayat Al-Hakim dinyatakan, “Mereka adalah orang yang imannya paling afdhal” (selengkapnya bisa dirujuk pada kitab Tadriiburr-Rowi oleh Imam As-Suyuthi II/60-64)

Sebagai catatan dalam masalah ini, supaya yang belajar dengan metode kedua tidak tersesat, maka syarat minimalnya buku yang dibaca adalah buku yang ditulis Ahlussunnah, danyang membaca terpenuhi, pada dirinya kemampuan untuk belajar sendiri dari segala seginya, wallahu a’lam.

Dan dari belajar itu –Alhamdulillah- Allah ta’ala mengaruniakan kepada saya petunjuk bahwasanya Islam yang benar itu adalah, sebagaimana Islam yang dipahami oleh generasi yang paling alim dan faqih daripada ummat ini, yang paling baik hatinya, yang paling dalam ilmunya, dan yang paling sedikit keperluan dan kebutuhan keduniaannya, mereka adalah shahabat Rasulullah saw dan orang-oran gyang mengikuti mereka dengan baik –rodhiyalloohu anhum ajmaain– yang telah dipuji Allah ta’ala dan disucikan oleh Rasulullah saw.

Allah ta’ala berfirman

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”

(Q.S At-Taubah : 100)

Dan firman-Nya lagi,

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ(8)وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(9)

(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S Al-Hasyr : 8-9)

Rasulullah saw bersabda,

Khot Arab.

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang berikutnya, kemudian orang-orang yang berikutnya, ” (H.R Imam Al-Bukhari dari Imran bin Hushain r.a)

Sabda beliau saw yang lain,

Khot Arab

“Tidak akan masuk neraka –Insya Allah- seorangpun yang telah berbai’at dibawah pohon (para peserta, “Bai’atur-Ridwan” r.a) (H>R. Imam Muslim, Imam Ahmad dan lainnya).

Sesungguhnya, mengikuti kitabullah dan sunnah Rasul-Nya sebagaimana yang difahami salafussholeh termasuk dalam memahami Islam adalah merupakan pemelihara dan penyelamat dari fitna, hawa nafsu, bid’ah dholalat, syubuhat dan kesesatan-kesesatan yang melanda ummat ini, maka jika kaum muslimin menempuh jalan dan manhaj salaf mereka yang mendapatkan petunjuk, mereka akan terselamatkan dari berbagai pendapat hawa nafsu yang batil  dan aliran-aliran buruk yang menyesatkan.

Keadaan yang seperti ini , telah diramalkan Rasulullah saw empat belas abad yang lalu di dalam banyak haditsnya antara lain sebagai berikut:

Khot Arab.

Dari Mu’awiyah r.a berkata, Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya Ahlu dua kitab (Yahudi dan Nasrani) telah berpecah belah dalam agama mereka diatas tujua puluh dua millah, dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah diatas tujuh puluh tiga millah, -yakni hawa nafsu- seluruhnya didalam neraka kecuali satu yaitu “Al-Jamaah”, dan sesungguhnya akan keluar pad ummatku beberapa kaum yang dikuasai hawa nafsu, mereka sebagaimana menjalarnya penyakit anjing gila pada tubuh pesakitnya, tidak tersisa darinya satu pembuluh darahpun dan tidak pula satu persendianpun kecuali dimasukinya ” (H.R Imam Ahmad)

Khot Arab.

Dan dalam riwayat lain, “Yaitu siapa yang berada diatas apa yang aku dan para sahabatku berada diatasnya

Dari hadits tersebut dan dari berpuluh-puluh hadits yang lain yang senada dengannya dapat diambil kesimpulan bahwa ummat ini akan berpecah-belah menjadi menjadi berpuluh-puluh suku dan golongan yang semuanya mengikuti hawa nafsunya, tetapi kendatipun demikian akan tetap senantiasa ada segolongan daripada ummat ini yang berada diatas kebenaran yang dalam hadits tersebut disebut Al-jamaah yaitu orang yang berada diatas apa yang Rasulullah saw dan sahabatnya yang berada diatasnya, maka saya bermujahadah dan bersungguh-sungguh dengan mencurahkan segala kemampuan yang ada pada diri saya untuk mengikuti pemahaman mereka dan berusaha mengamalkannya.

Adapun prinsip-prinsip saya dalam memahami dalam masalah itiqod (aqidah) maupun fiqh (syariah) yang saya yakini kebenarannya sesuai dengan manhaj salaf dan tidak menyeleweng darinya berdasarkan setitik ilmu yang ada pada diri saya dan Wallahu a’lam bis-Showaab (Allah yang paling mengetahui dengan yang benar), antara lain sebagai berikut:

  1. Rukun Islam ada 5 Perkara:
    1. Mengikrarkan dua kalimat syahadat.
    2. Mendirikan sholat.
    3. Mengeluarkan zakat.
    4. Shaum pada bulan Romadhon.
    5. Menunaikan haji ke Baitullah bagi yang mampu.
  2. Rukun Iman ada 6 perkara.
    1. Beriman kepada Allah.
    2. Beriman kepada malaikat-Nya
    3. Beriman kepada kitab-kitab-Nya.
    4. Beriman kepada Rasul-Rasul-Nya.
    5. Beriman kepada Hari Akhir.
    6. Beriman kepada Qodar yang baik dan yang buruk.

Kedua rukun tersebut adalah sesuatu yangsudah maklum secara dharuri di kalangan kaum muslimin, dalil-dalilnya banyak sekali, dalam Al-Kitab maupun Assunnah, tidak ada seorangpun yang mengingkarinya kecuali  telah kafir dan murtad menurut kesepakatan, adapun meninggalkannya (Rukun Islam nomor 1-5) ada perselisihan, ada yang menghukumi kafir, ada yang tidak (fasik atau berdosa besar), menurut saya pendapat yang paling rajih (kuat) adalah yang berpendapat kafir, khususnya bagi yang terus menerus meninggalkannya –wallahu a’lam

  1. Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan satu-satunya agama yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    1. Satu-satunya agama yang benar : (At-Taubah: 29)

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

  1. Satu-satunya agama yang diridhai Allah

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَام

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran : 19)

Maka agama selain Islam seluruhnya tidak diterima Allah ta’ala dan setiap pemeluknya akan merugi di akherat kelak, dan akan dimasukkan ke dalam neraka jahannam, selama-lama kekal abadi di dalamnya.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(85)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

(Q.S Ali Imran : 85)

dan,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”.(Q.S Al-Bayyinah: 6)

dan lain sebagainya.

Dengan demikian maka hukumnya haram bagi seorang muslim, bahkan bisa terjatuh dalam kufur akabar jika tidak ada mawani’ (penghalang takfir) pada dirinya, penjelasan tentang mawani’ Insya allah pada bahasan selanjutnya, yang meyakini dan mengatakan bahwa semua agama sama, atau semua agama mengajarkan kebaikan, atau semua pemeluk agama yang taat kepada agamanya akan masuk surga, atau mengakui bahwa ada agama yang benar selain Islam, dan sebagainya, ucapan-ucapan dan keyakinan-keyakinan seperti ini adalah bertentangan dengansyariat Islam, agama Islam hanya mengakui keberadaan agama-agama itu, tetapi sama sekali tidak membenarkannya, Islam membolehkan kepada pemeluknya untuk berinteraksi dan bertoleransi dengan pemeluk-pemeluk agama lain selama tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan syariat, segala bentuk toleransi yang menyelisihi syariat apalagi yang berhubungan dengan I’tiqod dan masalah-masalah prinsip, maka tidak boleh dilakukan sama sekali.

Memang ada sebagian dari ajaran agama-agama selain Islam  menyamai dengan ajaran Islam misalnya, melarang pemeluknya melakukan fahsya’ (berbuat keji, seperti, zina, homo, liwath, lesbian dan sebagainya), kecuali agma yang ternista dan terburuk yang ada di muka bumi, yaitu agama kafir barat (sekulerisme dan demokrasi), yang tidak melarang perbuatan fahsya’. Meskipun ada kesamaan dalam hal-hal tertentu dengan Islam, tidak berarti sama dan serupa, sebab disana terdapat perbedaan yang paling prinsipal dan menentukan haq dan batilnya, dimana Islam adalah Dienut-Tauhid (agama yang meyakini bahwasanya Allah ta’ala adalah Esa lagi Tunggal sebagaimana firman Allah Q.S Al-Ikhlas : 1-4). Dls

Sedangkan agama-agama lain adalah Dienusy-Syirik, (agama yang menyekutukan Allah, artinya disamping meyakini Allah sebagai Tuhannya, masih ada tuhan-tuhan yang selain-Nya).

Tauhid inilah yangpaling utama menentukan haq dan batilnya suatu agama, maka agama seluruhpara Nabi a.s adalah agama yang haq (Dienul Haq), sebab seluruhnya merupakan (Dienut-Tauhid) meskipun terdapat perbedaan pada sebagian syariatnya, antara satu dengan yang lain, misalnya: sholatnya, shaumnya dan sebagainya, pada syariat Nabi Muhammad saw, sebagai Nabi terakhir dan penyempurna daripada nabi-nabi sebelumnya, orang mencuri hukumannya dipotong tangannya, sedang pada syariat Nabi Yusuf a.s hukumannya dijadikan sebagai budak atau hamba sahaya bagi pemilik harta yang dicurinya dan lain sebagainya. Maka perbedaan syariat tidak menjadikan bedanya agama, oleh karena itu seluruh agama-agama Nabi-Nabi a.s adalah sama dan seluruhnya merupakan agama yang benar yang datang dari Allah Ta’ala. Kan tetapi yang perlu dicatat meskipun seluruh agama nabi-nabi itu benar aqidahnya maupun syariatnya,  karena seluruhnya datang dari Allah ta’ala, namun sesudah datangnya Nabi Muhammad saw, maka semua syariat yang dibawa para Anbiya’ sebelumnya sudah tidak berlaku lagi, kecuali yan gterkandung dalam syariat beliau.

Maka seandainya hari ini ada manusia yang mengikuti salah seorang Nabi selain Nabi Muhammad saw dengan melazimi (komitmen) mengamalkan syariatnya persis dengan yang dibawanya -dan ini mustahil-, sedangkan mereka mendengar berita datangnya Rasulullah saw  maka mereka kafir dan menjadi penghuni neraka. Rasulullah saw bersabda,

Khot Arab.

Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya, tiada seorangpun dari ummat iniyang mendengar tentang aku Yahudi ataupun Nasrani, kemudian mati dan tidak beriman dengan apa yang aku dituiuts denganya melainkan dia akan menjadi penghuni neraka” (H.R Imam Ahmad)

(Al-Allamah Ibnu Katsir rhm menguraikan masalah ini dengan sejelas-jelasnya di banyak tempat di dalam tafsirnya, silakan rujuk kepadanya antara lain dalam II/265-266, tafsir al-A’raf: 158. II/206, II/256 dls).

  1. Islam Adalah Ad-Dien yang Sempurna, Mencakup Segala Aspek Kehidupan.

Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw, adalah Dienul Islam yang paripurna dan sempurna mengatur segala urusan kehidupan manusia dari yang paling kecil sampai yang paling besar, dari tatacara Bekenbok (Berak, Kencing, Cebok) sampai IPOLEKSOSBUDMIL IPTEK, (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Militer, Ilmu pengetahuan dan Teknologi), dan lain-lain tidak satupun urusan yang menyangkut duniawi maupun ukhrowi yang dibiarkan semuanya ada aturannya.

Dalam beberapa hadits, shohih Rasulullah saw, memberikan permisalan mengenai kesempurnaan Dienul Islam yang beliau bawa antara lain:

Khot Arab.

Dari Jabir r.a bin Abdullah r.a, berkata, Rasulullah saw telah bersabda, Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi-nabi bagaikan seoran glaki-laki yang membangunsebuah rumah, lalu dia menyempurnakannya dan membaguskannya kecuali tempat satu batu bata, lalu ada orang yang memasukinya, maka dia melihat kepadanya seraya berkata, ‘Alangkah bagusnya rumah ini, kecuali tempat satu batu bata ini, maka aku adalah tempat satu batu bata itu, ditutup denganku para nabi-nabi a.s’” (H.S.R Imam Bukhori dan  Imam Muslim)

Dan hadits-hadits yang lainnya bisa dirujuk dalam tafsir Ibnu Katsir 3/501-502.

Disini kami akan berikan gambaran Islam kaffah yang kamil dan syamil, sekedar untuk memudahkan dalam memahaminya dan bukan menggambarkan secara persis perumpamaan dalam hadits tersebut.

Keterangan Singkat

(1)     Gambaran Bangunan Islam untuk wilayah kekuasaan seluruhnya disebut ‘Khilafah Islamiyah’ dan pemimpinnya disebut khalifah atau Al-Imam Al A’dzam atau Amirul Mukminin atau Imamul Jama’atil Mu’minin, dan lain sebagainya, inilah yang berhak menerima bai’atul Imamah dan seluruh kaum muslimin yang akil baligh, wajib membai;atnya dengan cara langsung jika memungkinkan dengan berjabat tangan (bagi kaum lelaki), bagi kaum wanita cukup dengan mengucapkan bai’ahnya saja, diantara contoh shighoh bai’ahnya (khot arab.) “Aku berbaiat kepadamu untuk mendengar dan taat diatas Sunnah Allah dan Rasul-Nya, sesuai dengan kemampuanku.

Jika tidak mungkin secara langsung karena ada alasan-alasan yang masyru’, maka dengan cara yang tidak langsung, misalnya dengan surat, sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar r.a ketika berbai’at kepada Abdul Malik bin Marwan (shahihul Bukhari no 7272) dan shighoh bai’ah sebagai berikut:

Khot Arab.

Aku berikrar kepadamu untuk mendengar dan taat diatas sunnah Allah dan sunnah Rasul-Nya dalam hal yang aku mampu.

Rasulullah saw bersabda,

Khot Arab.

Barangsiapa mati dan tidak ada bai’ah di lehernya dia mati dalam keadaan mati jahiliyah” (H.R Imam Muslim dari Ibnu Umar r.a)

Sabdanya lagi,

Khot Arab.

Barangsiapa yang tidak menyukai sesuatu dari amirnya, maka hendaklah bersabar, maka sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari Sulthan (penguasa) sejengkal, dia matinya mati jahiliyah.” (H.R Imam Muslim dari Ibnu Abbas)

Sabdanya lagi, Khot Arab.

Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jamaah, kemudian dia mati, dia mati mati jahiliyah. ” (H.R Imam Muslim dari Abu Hurairah R.A)

Penjelasan singkat dari tiga hadits diatas,

  1. Bahwa yang dimaksud ‘bai’ah’ dalam hadits pertama (hadits Ibnu Umar r.a) adalah bai’ah imam kaum muslimin (kholifah/ amirul mukminin), meskipun bentuk bai;ah dalam hadits ini muthlaq (umum), tetapi telah diikat dengan hadits kedua, (hadits Ibnu Abbas r.a) dengan kata-kata Khoroju minal Sulthon (Keluar dari penguasa), maksudnya: berusaha membatalkan bai’ahnya (fathul Bari 13/7), maka ancaman mati jahiliyah dalam kedua hadits itu penyebabnya sama yakni keluar dari sulthan (penguasa) atau meninggalkan mubaya’ahnya atau tidak membai’atnya setelah manusia sepakat.
  2. Yang dimaksud ‘Al-jamaah’ dalam hadits ketiga (hadits Abu Hurairah r.a) adalah jamaatul muslimin dibawah pimpinan kholifah / Imamul Muslimin/Amirul Mukminin, mereka sepakat mentaatinya, bergabung dan bersatu dibawah kepemimpinannya, termasuk dalam menghadapi musuh-musuhnya. (Subulus-Salam III/1228).

Sebagai catatan, makna jamaah menurut istilah syar’i ada dua:

  1. Al-Jamaah yang berarti Al-Haq (kebenaran) dan Ad-Dien (agama). Diantara dalilnya, misalnya, hadits tentang firaq, Kulluhu finnaar illaa wahidatan (Semuanya dineraka kecuali satu, yaitu al-jamaah, pada hadits riwayat Imam Ahmad), dan dalam riwayat lain oleh Al-Hakim Maa Anaa ‘alaiha wa Ashhaabii (Apa yang Aku dan Shahabatku berada diatasnya), dalam hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud r.a: Al-jama’ah maa waafaqal haqqa walau kunta wahdaka. (Al-Jamaah adalah yang sesuai dengan kebenaran walaupun kamu seorang diri).

Dan Al-Jamaah ada juga yang berarti Ahlu Dienul Islam (kaum muslimin) seperti dalam hadits,

Khot Arab.

Artinya : “Tidak halal darah seseorang (tidak boleh dibunuh), kecuali dengan salah satu dari tiga: pezina yang sudah menikah (dihukum rajam),  jiwa yang dibalas dengan jiwa (Qishash), dan meninggalkan agamanya/meninggalkan jamaatul muslimin / murtad.” (Muttafaqun ‘Alaihi.)

Maksudnya adalah murtad dan meninggalkan jamaah adalah sifat orang yang murtad dan bukan sebaliknya, artinya orang yang meninggalkan jamaah kaum muslimin , yang berada dibawah kepemimpinan Amirul Mukminin, tidak dihukumi murtad, dalilnya وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ(9)إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ(10)

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”(Surat Al-Hujurat : 9-10).

Dalam ayat ini Allah ta’ala menyebutkan, bahwa orang itu beriman meskipun bughat (kelompok dari kaum muslimin yang keluar dari pemerintahan yang sah menurut syara’), maka berarti, mereka tidak kafir atau murtad. Oleh karena itu meskipun imam dan kaum muslimin diperintahkan memerangi mereka, akan tetapi bentuk perangnya lain dengan memerangi orang kafir yang tulen, maupun yang murtad, yang mana pasukan yang lari dari mereka tidak boleh dikejar, harta benda mereka tidak boleh diambil sebagai ghanimah, serta wanita dan anak-anak mereka tidak boleh dijadikan sebagai sabiyah atau tawanan perang. Jadi tujuan perangnya agar mereka kembali kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, dan mendengarkan kepada kebenaran dan mentaatinya (Rujuk Tafsir Ibnu Katsir 4/225-226). Jamaah ini juga ada yang mengartikan sebagai jamaah ahlul ilmi atau ahlul halli wal aqdi.

  1. Al-Jamaah yang berarti jamaah kaum muslimin yang berada dibawah kepemimpinan amirul mukminin, sebagaimana yang diterangkan sebelumnya.
  2. Dalam tiga hadits diatas, orang yang tidak berbaiat kepada imam kaum muslimin atau tidak menetapi atau menepati bai’ahnya  diancam dengan mati jahiliyah, yang dimaksud “Maata miitatan Jahiliyyatan” dia mati, mati jahiliyah, jahiliyah disini adlah “Jahiliyyatun Duna Jahiliyyatin”,  Jahiliyah yang bukan jahiliyah akbar alias kufur, tetapi maksudnya adalah mati diatas maksiat, terancam siksa. Dan dari sini dapat dipahami bahwa bai’at kepada kholifah / Amirul Mukminin adalah wajib, sedangkn bai’ah jenis ini tidak dapat ditunaikan kaum muslimin kecuali wujudnya kholifah/ imam, dan tidak bisa diganti dengan bai’ah-bai’ah amal yang lain, maka menegakkan dan mewujudkan kholifah berarti hukumnya wajib, dalam qoidah ushul dikatakan bahwa : sesuatu kewajiban yang tidak dapat disempurnakan kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib, dan disamping khilafah menjadi wasilah utama untuk menunaikan bai’ah, agar tidak mati dalam keadaan jahiliyah atau maksiat, ia juga menjadi wasilah utama bagi tegaknya bangunan Islam secara sempurna, terutama Al-Mu’ayyidat dan Al-Bina’ nya (lihat gambar sebelumnya), hal ini menambah lagi dan menguatkan hukum wajibnya.

Al-Allamah Ibnu Katsir dalam tafsir surat Al-Baqoroh: 30, mengatakan : Al-Qurthuby dan lainnya telah menjadikan ayat ini sebagai dalil atas wajibnya mengangkat seorang kholifah untuk mengadili perkara-perkara yang diperselisihkan antara manusia dan menghentikan pertentangannya serta menolong orang-orang yang  terdzalimi dari yang mendzaliminya, dan untuk menegakkan hukum hudud serta melarang segala bentuk perbuatan keji dan lain sebagainyadari perkara-perkara penting yang tidak mungkin ditegakkan kecuali dengan adanya imam, dan suatu kewajiban yang tidak dapat sempurna kecuali dengannya maka ia wajib (Tafsir Ibnu Katsir I/75).

Maka bagaimana caranya untuk melepaskan diri dari ancaman mati jahiliyah atau mati dalam maksiat yang terancam siksa neraka? Satu-satunya cara adalah dengan berusaha semampunya sesuai dengan tuntunan syar’I untuk menegakkan khyolifah tersebut, insya allah dengan usaha, kita terlepas dari ancaman tersebut, sebab Allah ta;ala menilai usah adan uapaya kita, adapun bagi kaum muslimin yang enggan berusaha dan mencuaikan kewajiban tersebut apalagi yang memandang remeh-temeh insya Allah tidak akan terlepas dari ancaman ini –wallahu a’lam

(2)     Daerah-daerah atau wilayah-wilayah yang berada di bawah kekhilafahan kholifah atau kepemimpoinan imam jamaatil muslimin disebut Darul Islam, (Negeri yang dikuasai kaum muslimin dan undang-undang yang berlaku adalah syariat Allah). Kholifah menunjuk atau memilih seorang wakil yang ditugaskan di wilayah tersebut yang biasa disebut wali (gubernur) wali-wali ini menjalankan tugas dari kholifah sesuai dengan syariat Allah, mereka tidak merasa memiliki kedaulatan sendiri, karena mereka hanya menjalankan tugas, disamping itu mereka memahami bahwa yang berdaulat dan yang memiliki kedaulatan hanya Allah Rabbul Alamin, sebagaimana dalam hadits Rasulullah saw, Khot Arab

“Yang memiliki kedaulatan adalah Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi” (H.R Abu Dawud dalam Kitabul Adab dlaam sunannya dengan isnad yang shahih).

Maka sebagaimana tugas kholifah adalah mendayagunakan segala sesuatu yang ada diatas bumi ini, untuk beribadah kepada Allah, untuk mentauhidkan-Nya, dan untuk memperhambakan manusia kepada Allah Ta’ala  dengan melaksanakan syariat-Nya, maka tugas-tugas para wali itu adalah membantu kholifah dalam mensukseskan dan menjayakan target dan tugas itu.

Dan wilayah-wilayah itu meskipun secara geografi berlainan dan terdapat batasan-batasan tertentu, akan tetapi secarapolitik berkedudukan sama, masing-masing menjadi satu dibawah pemerintahan kholifah, tidak sebagaimana batasan-batasan politik yang direkayasa penjajah seperti yang kita saksikan hari ini, yang dapat membangkitkan dan menyuburkan perasaan ashobiyah, dan nasionalisme yang diharamkan oleh Allah azza wa jalla, yang mudah menyulut api pertikaian dan peperangan antara satu negara dengan negara yang lainnya, apalagi dengan wujudnya daerah-daerah yang tak bertuan yang memang disengajakan oleh penjajah agar menjadi ajang perselisihan dan peperangan yang dengannya mereka bisa mengeruk berbagai keuntungan baik dari segi ideologi, politik, maupun ekonomi, coba bayangkan di negara Arab saja tidak kurang dari 100 wilayah tidak bertuan di dekat perbatasan, dan hal ini terus menerus menjadi ajang pertikaian antar negara yang bertetangga, dan menyulut api pertempuran, seperti perang Irak dan Kuwait, perselisihan Qotar dan Bahrain, Saudi Arabia dan Yaman, Oman dan Yaman, Mesir dan Sudan, Libya dan Chad, Aljazair dengan Maghribi, dan lain sebagainya termasuk konflik antara Indonesia dan Malaysia.

Adapun engeri-negeri dibawah khilafah tidak ada perebutan wilayah, karena semuanya milik bersama secara poilitik, yangkami maksud bukan seperti paham sesat sosialisme, akan tetapi maksudnya karena semua negeri-negeri itu dibawah khilafah, maka sangat mudah untuk bekerjasama tanpa adanya kedzoliman dari yang kuat terhadap yang lemah, dari yang kaya terhadap yang miskin, masing-masing bisa memanfaatkan kelebihan negara yang lain dan menutupi kebutuhan dankeperluannya yang mana hal ini dilakukan dengan motif beribadah dan dengan izin Allah terciptalah kemakmuran dan keadilan dikalangan umat manusia.

(3)     Bangunan Islam yang kafah ini telah tegak dengan jayanya hampir tiga belas setengah abad lebih meskipun dalam perjalana nya mengalami pasang surut yaitu dari sejak mula lahirnya di Madinah yang langsung dipimpin oleh Rasulullah saw, lalu diteruskan oleh Khulafaur Rosyidin radhiyallahu anhum ajmain, kemudian kholifah Bani Umayah, Bani Abbasiyah dan seterusnya dan seterusnya hingga yang terakhir yaitu Khilafah Utsmaniyah di Turki, disebut Utsmaniyah karena pendirinya bernama, Utsman bin Arthogral, Khilafah Utsmaniyah berkuasa kurang lebih selama 600 tahun, dari tahun 1300 M hingga sirnayanya di tahun 1343 H/1924 M. diantara penyebab kejatuhannya, faktor dari dalam para pemimpinnya kebanyakannya tidak istiqomah dalam memegangi dan menegakkan kebenaran dan mulai terpengaruh dengan negara barat yang beragama sekuler dan demokrasi, maka sebelum tahun 1840-an Masehi, pemerintah Utsmaniyah mulai mengimpor Undang-Undang barat, pada awalnya memasukkan undang-undang perdagandan dan aturan sipil, dan akhirnya pada tahun 1840 M dengan resmi menganti hukum hudud syariat dengan undang-undang hukum pidana negara kafir sekuler Perancis. Dan dengan ini para ulama dakwah Najdiyah (pengikut Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rhm), mengeluarkan fatwa kufurnya Daulah Utsmaniyah. (fatwa ini bisa dilihat dalam kitab Ad-Durarus Sunniyah Fi Ajwibatin Najdiyah Juz 7 dalam Kitabul Jihad dan bisa juga dilihat dalam “Ar-Rasaailul Mufiidah” oleh Asy-Syaikh Abdul-Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rhm).

Adapun dari pihak luar adalah disebabkan karena persekongkolan jahat negara-negara salibis, khusunya Perancis, Inggris, Italia, Yunani, yang didalangi dan dikendalikan oleh gembong-gembong Yahudi Internasional yang dibantu para munafikin dan murtaddin yang ajam maupun yang arab seperti Musthafa Kamal Attaturk, Ishmat Inonu dan lain sebagainya –La’aainullaahu ‘alaihim ajma’iin– ini merupakan musibah yang menimpa umat Islam perlu kita ucapkan Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun dan Alhamdulillahi’ala kulli hall dan ini merupakan takdir Allah, maka perlu kita ucapkan Qoddarullaaha wa maa syaa’a fa’ala dan semata-mata kehendak-Nya, karena sesuatu yang tidak dikehendaki Allah Ta’ala terjadi, pasti tidak akan mungkin terjadi dan tidak akan pernah terjadi dan sebaliknya yang dikehendaki-Nya terjadi pasti terjadi, apa hikmahnya disebabkan takdir Allah yang buruk ini? Ingat bahwa semua takdir Allah Ta’ala yang baik maupun yang buruk maksud dan tujuannya sama, yakni bertujuan baik, sebagai contoh misalnya, Alah Ta’ala mentakdirkan wujudnya sosok manusia seperti Fir’aun, Namrudz, Sharon, Bush dan sebagainya –La’aainullaahu ‘alaihim ajma’iin– maka diantara tujuan Allah Ta’ala  adalah hendak memunculkan wali-wali-Nya seperti Nabi Musa a.s, Nabi Ibrahim a.s dan para Shalihin dan Mujahidin, sebab tanpa kebrutalan mereka, hal ini tidak mungkin wujud, demikianlah Sunnatullah (Keterangan selebihnya, buka Madarijus Salikin oleh Al-Allamah Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dalam Maudhu’ Masyhad Al-Hikmah jilid I halaman 406-410). Dan demikian juga dengan “takdir buruk”, sirnanya Khilafah Islamiyah dari muka bumi dan sampai hari ini belum tegak lagi, Allah Azza wa jalla menguji dengannya hamba-hamba-Nya, mana diantara mereka dnegan peristiwa ini semakin bertambah imannya danmanapula yangbertambah kufur, mana yang siap menjadi wali-wali-Nya dan manapula yang menjadi musuh-musuh-Nya, dan siapa yang berusaha menegakkannya dan siapapula yang mencuaikannya, bahkan meremehkannya, Allah Ta’ala menilai usaha hamba-Nya bukan ansih hasilnya, sebab andaikan hari ini Allah menghendaki kaum muslimin menang dan berjaya dalam menegakkan khilafah Islamiyah , hal itu pasti terjadi dan sangat mudah bagi Allah, akan tetapi Allah Ta’ala mempunyai kehendak lain, mari kita renungi firman-Nya dibawah ini.

ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ(4)سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ(5)وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ(6)

Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.

Q.S Muhammad : 4-6

(4)     Khilafah Islamiyah akan tegak lagi Insya Allah, sebelum datangnya hari kiamat berdasarkan sabda Rasulullah saw, antara lain sebagai berikut:

Khot Arab.

“Kenabian berlangsung selama kurun waktu yang dikehendaki oleh Allah untuknya, kemudian berakhir, kemudian berlangsung kekhalifahan yang lurus menurut sistem kenabian  selama kurun waktu yang dikehendaki oleh Allah untuknya, kemudian berakhir, kemudian terjadi kerajaan yang keras dalam kurun waktu yang dikehendaki oleh Allah untuknya kemudian berakhir, kemudian terjadi pemerintahan yang menindas (diktator), selama kurun waktu yang dikehendaki oleh Allah untuknya, kemudian berakhir, kemudian terjadi kekhalifahan yang lurus menurut sistem kenabian yang meliputi seluruh bumi” (H.R Imam Ahmad)

dalam hadits lain dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash r.a dia berkata, “Sewaktu kami berada disamping Rasulullah saw dalam keadaan sedang menulis, tiba-tiba Rasulullah saw ditanya, “Mana dua kota yang akan ditaklukan lebih dahulu, Konstantinopel atau kota Roma?”maka Rasulullah saw berkata, “Kota Heraklius akan ditaklukan dulu, yakni Konstantinopel ” (Al-Hadits). Rumiyah dalam hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam kamus Mu’jamul Buldan adlah kota Roma Ibukota Itali hari ini, Sabda Rasulullah saw saw, tentang fath (tertaklukkan)nya Konstantinopel telah menjadi kenyataan melalui tangan seorang komandan yang terkenal dari khilafah Utsmaniyah yaitu Muhammad Al-Fatih Al-Utsmani ini terjadi lebih dari delapan ratus tahun setelah pemberitahuan Rasulullah saw. Dan dengan izin Allah penaklukan kota Roma juga akan menjadi kenyataan. Insya Allah akan di ketahui tidak lama lagi. Dan dari hadits ini bisa diambil kesimpulan bahwa Khilafah akan tegak lagi, sebab Roma tidak akan dapat ditaklukan kecuali dibawah khilafah, sebagaimana Konstantinopel-wallahu a’lam– (bagi pembaca yang ingin mengetahui masalah ini lebih detail dipersilahkan membaca tulisan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Muqaddimah kitab “Al-Hukmul Jadiiru bil Idzaa’ah min Qoulin Nabiy “Bu’itstu baina yadayya-Assa’aati”” oleh Ibnu Rojab Al-Hambali cetakan Darul Marjan)

(5)     Dienul Islam yang dibawa Rasulullah saw adalah untuk mengatur seluruh manusia yang muslim dan non-muslim.

Perkara ini sebenarnya jelas sekali dan dalil-dalilnya sangat banyak dalam Al-Kitab maupun Assunnah dan sudah menjadi ijma’ kaum muslimin, sebab Rasulullah saw  diutus untuk dunia seluruhnya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(Q.S. Al-Anbiya’: 107),

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(Q.S Saba’: 36),

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”(Al-A’raf: 158) dls. Rasulullah saw dan para pengikutnya dari kaum mukminin diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk menghukumi manusia baik yang muslim maupun yang non muslim dengan adil. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus ayat dan hadits  yang menyatakan demikian sebagai contoh misalnya,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا(58)يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا(59)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا(60)وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا(61)فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا(62)

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا(63)وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا(64)فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا(65)

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu mushibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”(Q.S An-Nisa’ : 58-65),

Juga,

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَمَنْ

لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ(44)

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ(45)وَقَفَّيْنَا عَلَى ءَاثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَءَاتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ(46)

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(47)

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا ءَاتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ(48)

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ(49)أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ(50)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan `Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Ma’idah : 44-50)

Dan lain sebagainya.

Telah terbukti dalam sejarah bahwa Islam telah berkuasa di dunia selama hampir tiga belas setengah abad, bermula dari Imarah Islamiyah atau Daulah Islamiyah yang diasaskan Rasulullah saw di Al-Madinah Al-Munawwarah, sampai Khilafah Islamiyah di Turki.

Sebagian orang menyangka bahwa syariat / undang-undang Islam itu hanya sesuai bagi orang yang beragama Islam, sedangkan bagi nono muslim tidak sesuai atau kurang sesuai, saya katakan, sangkaan seperti ini keliru yang benar adalah paling sesuai dan paling cocok bagi setiap manusia bagimana tidak, sedangkan ia datang dari Rabbul Alamin Dzat Pencipta dan Pengatur, Pemelihara Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha BerPengalaman dan Yang Maha Segala-gala-Nya, maka sudah pasti syariat-Nya, hukum-hukum-Nya, Undang-undang-Nya, aturan-aturan-Nya, paling baik, paling adil, paling sesuai bagi manusia. Dan syariat Islam itu sesuai dipraktekkan di negara manapun baik yangpenduduknya mayoritas Islam, maupun yang minoritas, baik yang rakyatnya majemuk maupun yang tidak, rakyatnya arab maupun ajam, dan sebagainya. Sebagai contoh, Khaibar, hampir seluruh penduduknya beragama Yahudi, bisa dikatakan 99%, kendatipun demikian syariat Islam sesuai untuk dijadikan undang-undang yang diberlakukan di dalamnya, hal ini terjadi di zaman Rasulullah saw, tatkala beliau menaklukannya pada tahun 7 H, beliau memutuskan orang-orang Yahudi diizinkan tetap tinggal disana untuk melaksanakan program pertanian, (Hadits Shahih Al-Bukhari no 4248), dan Rasulullah saw mengutus seorang Amir dari shahabat Anshor (hadits no 4246 Al-Bukhari) dan pada waktu itu mayoritas penduduk Khaibar adalah orang Yahudi, sampai mereka diusir oleh Khalifah Umar bin Khaththab r.a, pada masa kekhalifahan beliau, dan begitu juga India, bertahun-tahun berada dibawah pemerintahan Islam, dan diatur dengan syariat Islam, meskipun penduduknya mayoritas non-muslim, dan demikian juga beberapa negara di Eropa timur dan lain sebagainya.

Sekarang kita bandingkan, jika sekuler dan demokrasi agama yang rusak dan batil itu, diyakini oleh mayoritas manusia kecuali yang dirahmati Allah, bisa mengatur dunia, maka bagaimana pula pendapat akal sehat anda tentang Dienul Islam sebagai Din yang sempurna yang datang dari Dzat yang Maha segala-galanya, maka sudah pasti lebih mampu untuk mengatur dunia ini, jika agama sekuler dan demokrasi mengatur manusia agar celaka dan binasa di dunia dan di akherat, maka Islam sebaliknya mengatur manusia agar selamat dan bahagia di dunia dan di akherat.

Hari ini yang mendominasi dunia adalah agama sekuler dan demokrasi, sadar atau tidak sadar, diakui atau tidak diakui, bahwa seluruh agama pada masa kini baik yang samawi (Islam, Yahudi, Nasrani) maupun yang Ardhi (Hindu, Budha, Khong-Hu-Chu dsb) dikuasai dan diatur oleh agama sekuler kuffar barat (Amerika, Eropa dan antek-anteknya) sekuler dan demokrasi memberikan hak kepada agama-agama itu dalam masalah keyakinan dan ibadah-ibadah ritual dan sebagainya saja, sementara masalah-masalah yang berhubungan dengan sistem dalam kehiudpan seperti muamalah, politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kemiliteran, perundang-undangan dan hukum serta hal-hal lain, dipaksa untuk tunduk dan mengikuti segala  aturannya dan kemauannya tanpa melihat apakah aturan dan sesuatu itu bertentangan dengan perintah Allah, haram, dosa atau tidak, sebab agma sekuler dan demokrasi tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal dosa, tidak mengenal halal dan haram, dan tidak mengenal akherat persis dengan agama komunis tidak ada bedanya sama sekali.

Maka dalam negara demokrasi Dienul Islam yang lengkap, sempurna  dan paripurna itu hanya diberi hak untuk mengamalkan pondasinya -Arkanul Islam- saja, (lihat gambar skema rumah Islam dimuka), itupun masih banyak yang disabotase, adapun masalah yang lain, seperti muamalah dansebagainya tidak diberikan sama sekali kecuali perkara-perkara yang dianggap tidak mengganggu agama dan syariat demokrasi. Hal ini jelas bertentangan dengan Islam, sebab Allah Ta’ala memerintahkan kaum muslimin agar melaksankan Dienul Islam secara utuh sesuai dengan kemampuan dan haram hukumnya sengaja meninggalkan bagian-bagiannya, yakni mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا(150)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),”(Q.S An-Nisa’: 150)

Sebagaimana agama demokrasi, memberikan hak kepada manusia untuk mengikuti keyakinannya dan ibadah ritualnya, maka demikian juga Islam –sebenarnya tidak layak mengumpamakan demokrasi dengan Islam, tetapi terpaksa untuk memahamkan- Dalam pemerintahan Islam. Rakyat non muslim tidak dipaksa untuk mengikuti Arkanul Islam dan Arkanul Iman, karena Arkanul Islam dan Arkanul Iman khusus bagi rakyat yang muslim, sedangkan Islam tidak memaksa non muslim memasuki agama Islam,

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)…”(Al-Baqarah : 256). Islam hanya mendakwahi dan mengajak mereka untuk masuk dalam agama Islam tanpa memaksa sama sekali, bagi yang menerima dan masuk Islam, diterima dengan sebaik-baiknya, dan yang menjadi saudara se iman dan seagama, adapun bagi yang tidak menerima, dijamin mengikuti keyakinannnya. Akan tetapi dalam masalah-masalah kemasyarakatan dan sistem-sistem lain termasuk undang-undang dan hukum, mereka wajib mengikuti ketentuan syariat Islam, sebagai contoh:

Dalam syariat Islam pencuri hukumannya dipotong tangannya , maka dalam hal ini tidak ada bedanya antara muslim dan non muslim, demikian juga kriminal-kriminal lain.

Orang yang berzina muhshon (yang sudah menikah), hukumannya dirajam sampai mati, sedang yang bujang dicabuk seratus kali, hukuman ini, tidak ada bedanya antara yang muslim dan maupun yang non muslim, dan dalam Islam tidak sama dengan agama kufur demokrasi yang membolehkan zina suka sama suka, dalam Islam baik suka sama suka maupun tidak, keduanya sama-sama haramnya dan hukumannya juga sama, hanya pihak yang dipaksa tidak terkena hukuman karena terpaksa.

Adapun tentang hukum tertentu yang menyangkut ketentuan dalam agama masing-masing misalnya, “makan daging babi” maka bagi yang beragama Islam, terkena hukuman dan bagi agama yang membolehkan pemeluknya untuk makan babi, maka bagi yang memakannya tidak dianggap sebagai pelanggaran, demikian juga dalam perkara-perkara lain, seluruhnya telah diatur oleh syariat dengan seadil-adilnya sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing.

(6)     Bagian-bagian dalam Dienul Islam, yang Arkan, yang Bina’ dan yang Mu’ayyidat maupun yang lainnya tidak akan dapat dilaksanakan dengan sempurna kecuali di dalam pemerintahan Islam, masalah ini saya rasa tidak ada seorangpun yang memiliki ilmu dan pengalaman yang membantahnya, kecuali orang-orang yang bodoh dan ahlul dholal, sebab jelasnya bagaikan matahari di siang hari, keterangannya memenuhi kitab-kitab ahlul ilmi yang salaf maupun yang kholaf, dan keadaan di lapangan bisa kita lihat dan kita saksikan dihadapan mata kita, maka jangankan perkara-perkara yang berhubungan dengan Binaul Islam dan Muayyidatnya, seperti politik, ekonomi, pendidikan sosial dan sebagainya, begitu juga hukum-hukum dan sanksi-sanksinya, amar ma’ruf, nahi munkar, jihad fie sabilillah dan sebagainya, apalagi masalah-masalah yang rukun-rukun saja seperti rukun Islam dan rukun Iman tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan sempurna kecuali di dalam pemerintahan Islam yang berhukum dengan syariat Allah,

Maka, kalau kita mendengar istilah-istilah seperti, ekonomi Islam, pendidikan Islam, politik Islam dan sebagainya semua ini pada hakekatnya tidak akan wujud dalam arti kata yang sebenarnya kecuali dalam pemerintahan Islam, dan istilah-istilah seperti ekonomi Islam, bank Islam, bank Syariat, jabatan agama Islam, pengadilan agama dan sebagainya tidak ada dan tidak perlu ada dalam pemerintahan Islam, adanya istilah-itislah itu adalah di negara sekuler atau ladiniyah (non-agama).

Kemudian sebagai catatan, meskipun bagian-bagian tersebut tidak dapat sempurna pelaksanaannya melainkan di dalam pemerintahan Islam, akan tetapi jika pemerintahannya tidak ada, yang ada adalah pemerintahan non agama atau sekuler, maka bagian-bagian itu tidak boleh ditinggalkan keseluruhannya, dan mesti dilaksanakan sesuai dengan kemampuan.

Allah ta’ala berfirman : لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا (Al-Baqoroh: 286)

Dan didalam hadits shahih juga dinyatakan yang kurang lebih maksudnya, maka apabila aku perintahkan sesuatu kepadamu, maka tunaikanlah menurut kesanggupanmu, dan di dalam qoidah ushul dinyatakan, “Maa laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu” (Sesuatu yang tidak dapat dicapai secara keseluruhan, tidak dapat ditinggalkan secara keseluruhannya, dan masih banyak lagi keterangan dalam masalah ini, silahkan rujuk kepada kitab-kitab Ahlul Ilmi).

Dan sebagai catatan yang lebih penting lagi, bahwa meskipun dibolehkan dan disuruh mengamalkan sesuai dengan kemampuan, akan tetapi dalam I’tiqod dan pemahaman wajib, meyakini dan memahami akan wajibnya mengamalkan secara keseluruhannya, dan tidak boleh sama sekali dengan sengaja mengamalkan sebagiannya, yang dianggap sesuai dengan seleranya dan meninggalkan sebagian yang lain, atau mengimani sebagian dan mengkufuri sebagian yang lain, orang yang seperti telah dinashkan kufurnya. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسَارَى تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah : 85),

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan ni`mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

(An-Nisa’: 150) dls

(7)     Agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami setiap bagian atau komponen dalam Dienul Islam yang bisa membawa kepada kekeliruan yang fatal, bahkan membawa kepada kekufuran, maka dalam memahami bagian-bagian tersebut mesti bertitik tolak dari bangunan Islam secara utuh, tidak bisa secara parsial-parsial, dalam hal ini ada ucapan hikmah, “Ambillah Islam secara keseluruhan atau tinggalkan secara keseluruhan.” Maksudnya, kalau anda mau memahami Islam sebenarnya, maka anda mesti memahaminya secara utuh dan bukan dengan mengambil satu bagian darinya, lalu dipahami dan ditinjau berangkat dari bangunan diluar Islam, sebagai contoh dalam memandang hukum rajam atau hukum potong tangan, kita tidak boleh memandang dan menilainya bertitik tolak dari sistem diluar Islam, atau bentuk negara di luar Islam, yakni negara kafir, seperti sekuler, demokrasi dan sebagainya, bagaimana anda bisa menerima bahwa hukum rajam dan hukum potong tangan merupakan hukum yangpaling bijaksana yang paling membawa maslahat dan paling baik serta paling adil dan tepa, jika fikiran anda bermuara dari negara demokrasi yang menghalalkan perzinaan suka sama suka, menghalalkan segala kemaksiatan dan sebagainya, bagaimana bisa lurus pandangan dan penilaian anda terhadap hukum rajam terhadap pezina bujang dan hukum cambuk seratus kali dan dibuang dari negerinya yang dikenakan terhadap pezina muhshon, jika pemikiran anda berangkat dari kondisi dan situasi yang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan sebagainya dimana pelacuran dan kemaksiatan terjadi di seantero tempat dan semua itu dijamin oleh Undang-undang, kecuali yang tidak ada surat izin, maka memahami hukum rajam dengan cara seperti ini, berarti telah berbuat dzalim, karena tidak mendudukkan sesuatu pada kedudukan yang sebenarnya.

Sebagai permisalan agar mudah difahami, “Daun telinga kita ini cantik, indah dan bagus, semua orang memandangnya  merasa suka dan menikmati keindahannya, coba bagaimana sekiranya daun telinga kita ini kita gunting lalu kita lekatkan pada kepala babi, apa kira-kira penilaian orang melihatnya, minimal dia akan merasa geli, memandang lucu, bahkan bisa jadi dia membencinya dan mengutuknya.” Demikian juga hukum rajam, jika ia berada dalam negara Islam yang kita umpamakan sebagai tubuh manusia itu, maka akan terlihat indah dan cantik, tetapi jika berada di negara demokrasi yang kita serupakan dengan tubuh babi itu, tentu akan terlihat jelek dan menggelikan. Dan begitu jugalah seluruh bagian-bagian yang lain termasuk jihad, amar-makruf nahi munkar, sistem pendidikannya, ekonominya, sosialnya dan lain sebagainya. Maka dalam memahami Dienul Islam, ambillah keseluruhannya –Wallahu a’lam bis-Showab

  1. Pemahaman tentang Al-Iman

Dalam memahami iman saya mengikuti Ahlussunnah wal Jamaah (salafusshalih) dan menyelisihi golongan-golongan ahlul bid’ah dan ahlul ahwa’ baik yang ifrath (berlebih-lebihan) seperti Khowarij, Mu’tazilah dan sebagainya, maupun yang tafrith (mengurang-kurangkan) seperti Murji’ah dengan segala cabang-cabangnya (Murji’ah Fuqoha’, Asya’irah (Asy’ariyah), Maturidiyah, Jahmiyah, Ghulat Murji’ah dan sebagainya.)

Pengertian iman jika dirangkumkan dari pendapat-pendapat ahlul ilmi yang terkategori sebagai ta’rif ahlussunnah ada empat yaitu,

  1. Iman adalah ucapan dan perbuatan bisa bertambah dan berkurang.
  2. Iman adalah ucapan perbuatan dan niat, bisa bertambah dan berkurang.
  3. Iman adalah ucapan dan perbuatan, dan niat dan ittiba’ussunnah (mengikut sunnah) serta bisa bertambah dan berkurang.
  4. Iman adalah ucapan dengan lisan dan I’tiqod (keyakinan) dengan hati dan perbuatan dengan Al-Jawarih (anggota badan), serta bertambah dan berkurang.

Penjelasan:

*        Yang dimaksud dengan ucapan (dalam ta’rif 1, 2,3) adlah ucapan hati dan ucapan lisan. Ucapan hati yaitu, ma’rifat hati dan tasdiq (membenarkan)nya dengan sebenar-benarnya, yang bangkit diatas ketaatan dan kepatuhan, adapun ucapan lisan yaitu, mengikrarkan (mengucapkan) syahadatain.

*        Yang dimaksud dengan perbuatan (dalam ta’rif 1,2,3) adalah perbuatan hati dan perbuatan anggota badan (jawarih). Perbuatan hati yaitu, ibadah-ibadah hati, seperti ikhlas, khasysyah (takut), mahabbah (cinta), taslim (menyerah) dan sebagainya. Adapun perbuatan anggota badan yaitu, menuruti perintah-perintah Allah Ta;ala dan larangan-larangan syariat-Nya.

*        Yang dimaksud dengan “bertambah” yaitu, bertambah dengan ketaatan-ketaatan dan “berkurang” yaitu berkurang dengan kemaksiatan-kemaksiatan, sampai tidak tersisa sedikitpun.

*        Tambahan kata “niat”  pada ta’rif (no: 2) dimaksudkan karena perbuatan kadangkala tidak difahami, jika tidak ada niat, maka ditambahkanlah niat.

*        Tambahan, “Ittiba’ussunnah” (mengikuti sunnah), karena seluruhnya itu tidak akan dicintai Allah Ta’ala melainkan dengan mengikuti sunnah.

*        Adapun ta’rif yang (no 4) adalah menguraikan ucapan dan perbuatan sebagaimana yang termaktub pada ta’rif (no 1,2,3), bagi yang menggunakan ta’rif ini berpendapat bahwa ucapan itu tidak bisa difahami daripadnya kecuali ucapan yang lahir (ucapan lisan) atau mereka khawatir tidak termasuk ucapan hati, maka mereka tambahkan I’tiqod (keyakinan) dengan hati.

Dasar dan pijakan ta’rif-ta’rif diatas adalah kata-kata Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (Imam Al-Bukhari 256 H), sebagaimana yang direkam Ibnu Hajar Al-Asqolani (852 H) rhm, dalam Fathul Bari I/47 sebagai berikut: Bahwasanya, Abul Qosim Al-Lalika’I meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Al-Bukhari, beliau berkata, “Aku bertemu lebih dari seribu lelaki dari para ulama di kota-kota, maka aku tidak melihat seorangpun daripada mereka bahwasanya Iman adalah ucapan dan perbuatan dan bertambah dan berkurang (Fathul Bari  I/47).

(Bisa dirujuk dalam majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 7/170-171) dan bisa juga dilihat dalam Al-Jami’ Fie Tholabil Ilmi Syarif I/116).

Dan ada ta’rif atau pengertian iman yang syadz (menyelisihi yang lebih kuat/nyeleneh) dan ada juga beberapa ta’rif yang datang dari paham murji’ah antara lain sebagai berikut:

  1. Iman adalah ucapan dengan lisan, dan tashdiq (membenarkan) dengan hati dan perbuatan dengan anggota badan. Dalam ta’rif ini syadznya adalah penggunaan kata tashdiq yang berarti menghilangkan amalan hati seperti ikhlas, khasyyah, mahabbah, taslim dll. Bedakan ta’rif diatas (no 4) yang menggunakan kata I’tiqod (Keyakinan), yang merangkumi semua amalan hati (ucapan dan perbuatan). Meskipun ta;rif ini syadz, namun ada diantara salaf yang tersilap menggunakannya (rujuk syarhu I’tiqad ahlissunnah al-lalika’i,II/760, dan Asy-Syari’ah Al-Ajuuri hal 105-119).
  2. Iman adalah I’tiqod dengan hati dan ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan yang rukun-rukun (arkaan) saja. (Fathul Baari I/46)

Ta’rif ini syadz dan salahnya pada perbuatan dengan yang rukun-rukun, yang berarti selain yang rukun tidak termasuk dalam hakekat Iman.

  1. Iman adalah keyakinan (I’tiqod) dengan hati dan ikrar dengan lisan (lihat Al-Fashl Ibnul Hazm 3/255)

Ta’rif ini salahnya meniadakan perbuatan, artinya perbuatan tidak termasuk hakekat iman.

  1. Iman adalah tashdiq (membenarkan) saja. Ta’rif ini merupakan inti dari semua golongan murjiah.
  2. Iman adalah ucapan saja, ini juga ta’rif dari golongan murji’ah.

Dari pengertian Iman menurut Ahlussunnah wal Jamaah tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa semua kegiatan dan aktivitas hati, lisan dan anggota badanyang disyariatkan adalah termasuk iman dan cabang-cabang daripada Iman.

Rasulullah saw, bersabda:

Khot Arab.

Iman adlah tujuh puluh sembilan atau enampuluh sembilan cabang, yang paling utama adalah ucapan “Laa Ilaaha Illallaahdan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan dan malu adalah salah satu cabang daripada iman (H.R Imam Muslim)

Maka iman adalah mengandungi seluruh ketaatan yang fardhu dan yang sunnah yang diwajibkan atas hati, lisan dan anggota badan, begitu juga iman mencakup atas meninggalkan perkara-perkara yang dilarang yang haram dan yang makruh.

Kemudian cabang-cabang iman itu seluruhnya menduduki martabat (tingkatan) Iman sesuai dengan sifat dan kedudukan masing-masing. Adapun martabat Iman dibagi menjadi tiga yaitu sebagai berikut:

  1. Martabat (Tingkatan) pertama: Ashlul Iman (Pokok atau dasar Iman).

Iman dianggap tidak ada, tanpa adanya ashlul Iman, dan dengannya, selamat dari kekufuran dan masuk dalam iman, dan pemiliknyya termasuk golongan orang-orang yang diseru oleh Allah Ta’ala dengan firman-Nya, “Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu.” (Wahai orang-orang yang beriman). Dan Ashlul Iman (pokok Iman) ini mengandungi cabang-cabang yang Iman dianggap tidak sah, kecuali dengan menyempurnakannya, yaitu sebagai berikut:

  1. Terhadap hati: Mengetahui apa yang dibawa Rasulullah saw, secara global dan membenarkannya serta patuh kepadanya, dan termasuk juga dalam dasar atau pokok Iman, sebagian amalan-amalan hati yang lain seperti: cinta, takut, ridho, taslim dll.
  2. Terhadap lisan.: Ikrar dengan kalimah Syahadatain
  3. Terhadap anggota badan.: Perbuatan-perbuatan anggota badan yang mengkufurkan orang yang meninggalkannya, seperti, sholat dan rukun Islam lain (zakat, shaum dan haji) menurut sebagian ulama.’

Adapun Qoidah atau patokannya bahwa sesuatu itu termasuk dalam Ashlul Iman yaitu: Bahwasanya setiap amal yang kufur orang yang meninggalkannya, maka amal tersebut berarti termasuk ahlul iman, seperti membenarkan segala yang dibawa Rasulullah saw (tashdiq), patuh dan tunduk secara hati (Inqiyaadul Qulbi), maksudnya hati tetap tunduk dan patuh kepada syariat Allah,  yang halal dihalalkan, yang haram diharamkan. Tidak ada pengingkaran dan pendustaan sama sekali meskipun kadangkala anggota badannya berbuat maksiat, dan ikrar dengan lisan (mengucapkan syahadatain) dan sholat (lima waktu). Dan setiap amal yang kufur pelakunya, maka meninggalkannya adalah termasuk daripada Ashlul Iman, seperti : mengolok-olok agama dan berdo’a kepada selain Allah dan sebagainya, yang demikian ini karena sesungguhnya lawan Ashlul Iman adalah kufur.

Karena kufur merupakan lawan terhadap dasar Iman, maka sesungguhnya setiap dosa mukaffir (yang mengkafirkan) dari yang meninggalkan yang wajib atau melakukan yang haram, maka ia adalah merusakkan dasar iman, dan setiap orang yang tidak memenuhi dasar iman atau merusakkannya, maka dia kafir. Dan patokan atau qoidah dosa mukaffir (yang mengkufurkan) adalah, jika tegak dalil syar’i yang menyatakan bahwasanya ia merupakan kufur akbar.

  1. Martabat (tingkatan) iman yang kedua, Iman yang wajib.

Iman yang wajib adalah sesuatu yang lebih daripada Ashul Iman (dasar Iman), terdiri dari amalan yang wajib-wajib dan meninggalkan yang haram-haram.

Adapun qodah atau patokannya bahwa sesuatu itu termasuk iman yang wajib yaitu, setiap amalan yang ada ancamannya dalam meninggalkannnya dan tidak kufur yang meninggalkannya, seperti, jujur, amanah, berbuat baik kepada kedua orang tua, dan jihad yang wajib dan sebagainya, dan setiap amalan yang ada ancamannya dalam melakukannya dan tidak kufur perlakunya, amak meninggalkannya termasuk Iman yang wajib seperti, Berzina, Riba, Mencuri, Minum Khomer, Dusta, Ghibah (Menggunjing) dan adu domba dan sebagainya.

  1. Martabat (tingkatan) iman yang kedua, Iman yang Mustahab.

Iman yang mustahab yaitu: sesuatu yang lebih daripada Iman yang wajib terdiri dari pada perkara-perkara mandubat (disunnahkan) dan mustahabbat (yang disukai), dan meninggalkan yang makruh-makruh dan yang musytabihaat (samar-samar antara halalnya dan haramnya).

Dan orang beriman dalam menunaikan cabang-cabang iman, baik yang termasuk dalam Ashlul Iman, Iman yang wajib maupun Iman yang mustahab dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Allah Ta’ala berfirman (Q.S Faathir: 32)

Khot Arab.

Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan diantara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada yang bersegera  dalam menunaikan kebaikan-kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

Maka dari ayat ini kita bisa urutkan kelompok oran gberiman sesuai amalannya dan kedudukannya, yaitu:

  1. Martabat (tingkatan) pertama : Saabiqun bil Khoiroot bi idznillah. (Orang yang bersegera menunaikan kebaikan).

golongan ini telah menunaikan seluruh cabang-cabang Iman, sesuai dengan kemampuan yang Allah Ta’ala karuniakan kepada mereka, baik yang termasuk dalam Ashlul Iman, Iman yang wajib, maupun Iman yang mustahab. Dan sesuai dengan janji Allah Ta’ala mereka ini akan masuk surga tanpa hisab dan adzab yang didalam hadits-hadits shahih disebutkan berjumlah 70.000, dalam hadits lain berjumlah 490.000.000 (empat ratus sembilan puluh juta) (rujuk tafsir Ibnu Katsir I/399-405).

  1. Martabat (tingkatan) kedua : Muqtashid (orang yang pertengahan)

Yaitu golongan yang telah menunaikan Ashlul Iman, dan Iman yang wajib, sesuai dengan kemampuan yang Allah Ta’ala karuniakan  kepada mereka, meskipun tanpa menunaikan Iman yang mustahab. Kedudukan mereka di akherat sama dengan golongan pertama, yakni dimasukkan surga tanpa hisab dan adzab, akan tetapi tingkatan surganya lebih rendah, dibandingkan dengan surga yang diduduki golongan pertama. Ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Imam al Bukhari dalam kitab shahihnya (No.1891), yang diantara kandungannya: Bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah saw, mengenai syariat Islam, setelah beliau memberitahukan kepadanya tentang syariat-syariat Islam, laki-laki tersebut berkata: Demi Dzat yang memuliakanmu dengan kebenaran, aku tidak akan melakukan yang sunnah satupun, dan aku tidak akan mengurangkan satupun dari yang Allah fardhukan kepadaku. Maka berkatalah Rasulullah saw,

Khot Arab.

Dia beruntung jika dia benar (jujur)”, atau “Dia masuk Surga jika dia benar (jujur).

  1. Martabat (tingkatan) ketiga: Dhoolimun Linafsihi (orang yang menganiaya diri mereka sendiri).

Yaitu golongan yang telah menunaikan Ashlul Iman atau Ashlul Imannya dianggap lulus, akan tetapi Iman yang wajibnya banyak yang gagal, karena banyak melakukan dosa-dosa besar, seperti: tidak amanat, banyak berdusta, makan riba, berjudi, berzina, minum khamr, mencuri, durhaka kepada kedua orang tua, tidak menunaikan jihad yang wajib dan lain sebagainya. Golongan ini di dalam syariat disebut dengan Ashaabul Kabaair (orang-orang yang berdosa besar dari kalangan kaum mukminin), atau Ushaatul Muwahiddin (Orang-orang yang bermaksiat dari kalangan orang-orang yang bertauhid), atau disebut Al-Faasiqul Milly (Orang fasiq yang tidak keluar dari millah Islam), atau orang-orang yang mencampur adukkan antara amal-amal yang shalih dengan amal-amal yang buruk. Golongan ini di akherat kedudukannya ‘Alaa Masyii’ah (diatas kehendak Allah Ta’ala), jika Allah Ta’ala berkehendak mengampuni dosa-dosanya, maka mereka bisa masuk surga tanpa azab, dari jika Allah Ta’ala berkehendak menyiksa, mereka disiksa di neraka sesuai dengan kadar dosa dan kesalahannya baru sesudah itu akan dimasukkan di Surga.

Ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw, antara lain sebagai berikut:

Khot Arab.

Sungguh benar-benar akan menimpa kepada beberapa kaum pukulan siksa dari neraka, karena dosa-dosa yang mereka lakukan, sebagai hukuman, kemudian Allah akan memasukkan mereka ke dalam Surga, dengan karunia rahmat-Nya, mereka dipanggil Al-Jahanaamiyyin.” (H.S.R. Imam Al-Bukhari dari Anas r.a, dalam shahihnya no 7450).

Khot Arab.

Sehingga apabila Allah telah selesai dari mengadili diantara hamba-hamba-Nya dan berkehendak dengan rahmat-Nya mengeluarkan siapa yang Dia kehendaki dari penghuni neraka, Dia memerintahkan Malaikat agar mengeluarkan dari neraka siapa saja yang tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah dari orang-orang yang Dia hendak merahmatinya, dari orang yang bersaksi  bahwa tidak ada Ilah selain Allah, maka para Malaikat mengenali mereka dalam api neraka dengan bekas sujud. (H.S.R. Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a dalam shahihnya 7437).

Maka mereka keluar dari api neraka dengan Ashlul Iman, dasar Iman yang ada pada diri mereka, dan dari cabang-cabangnya yang terpenting yang disebutkan dalam hadits ini adalah: Mengikrarkan syahadat (Mimman yasyhadu…), dan menunaikan sholat (Min Atsaarissujuud), dan meninggalkan Mukaffiraat (perkara-perkara yang mengkufurkan), yaitu: Kaana Laa Yusyrika Billaahi Syai’an (Adalah dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun).

Oleh karena itu barangsiapa yang menunaikan Ashlul Iman (Dasar Iman), dia akan masuk Surga sejak semula atau pada akhirnya. Rasulullah saw bersabda:

Khot arab

Itu adalah Jibril a.s datang kepadaku, lalu berkata, “Barang siapa yang mati daripada ummatku yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun  dia masuk Surga, berkata Abu Dzar r.a: Aku berkata, “Walaupun dia berzina dan mencuri?” Beliau saw bersabda, “Walaupun dia berzina dan mencuri. ” (H.S.R. Al-Imam Al-bukhari dalam shahihnya no 6444).

Dan barangsiapa yang tidak menunaikan Ashlul Iman atau merusakkannya, maka dia adalah kafir, termasuk penghuni neeraka dan tidak keluar darinya, sebagaimana firman Allah ta’ala (Q.S Al-Maidah: 36-37) –wallahu a’lam

Catatan : Dalam memandang perbuatan anggota badan, golongan khowarij berpaham dan bersikap Ifrath (berlebih-lebihan) yang mana menganggap bahwa perbuatan anggota badan baik yang termasuk dalam Ashlul Iman maupun yang termasuk dalam Iman yang wajib, seluruhnya dimasukkan sebagai syarat sahnya Iman, sehingga orang yang tidak menunaikan Iman yang wajibnya atau merusakkannya diamakan dengan yang tidak menunaikan Ashlul Imannya atau merusakkannya, maka dosa menurut mereka satu martabat, dosa berzina dan sebagainya sama dengan dosa syirik dan sebagainya, maka kedua-duanya mengkufurkan pelakunya, natijahnya, mereka mengkafirkan orang Islam yang sebenarnya tidak kafir, karena yang hilang baru Iman yang wajibnya, maka dia tidak kufur akbar, tetapi kufrun duna kufrin (kufur asghar).

Sedang golongan Murji’ah dalam memandang perbuatan anggota badan berpaham dan bersikap tafrith (mengurang-kurangkan) yang mana menganggap bahwa seluruh perbuatan anggota badan tidak termasuk hakekat Iman, ia hanyalah sebagai penyempurna Iman, sehingga menurutnya tidak ada satupun perbuatan anggota badan, baik yang termasuk dalam Ashlul Iman maupun dalam Iman yang wajib, yang dapat merusakkan Iman dan membatalkannya, maka tidak ada seorangpun yang dikufurkan ansich, karena perbuatan anggota badannya.

Murjiah dibagi menjadi tiga thobaqot (tingkatan), atau empat didalam masalah Iman dan takfir yaitu:

  1. Golongan yang tidak mengkufurkan terhadap orang yang disebut Allah kafir karena perbuatannya maupun ucapannya, secara muthlaq –ini ghullat murji’ah yang paling ghullat, dan dikafirkan oleh ahlul ilmi-
  2. Golongan yang tidak mengkafirkan dengan perbuatan yang mengkafirkan (mukaffir) atau ucapan yang mengkufurkan, sehingga terbukti adanya istihlal (penghalalan) dan juhud (pengingkaran), ini juga termasuk ghullat Murjiah dan dikafirkan sebagian salaf.

Dan, Jahmiyah yang mengkafirkan orang yang dikafirkan Allah ta’ala dengan amal mukaffir atau ucapan yang mukaffir secara lahir, (hukum lahirnya), tetapi mereka menganggap bisa jadi  atau kemungkinan di dalam batinnya masih beriman. Ini juga termasuk ghullat Murjiah dan dikafirkan sebagian salaf, ini juga dikafirkan salaf termasuk al-Imam Ahmad bin Hambal, Waki’ bin Jarrah dan Abu Ubaid, rahimahumullahu ajma’in (Majmu’ Fatawa 7/188-189, 401-403, 558 dan 13/47).

  1. Golongan yang kafirkan orang yang dikafirkan Allah Ta’ala dari perbuatan-perbuatan yang mengkufurkan, tetapi pengkafirannya bukan ansih, karena perbuatan itu, namun ditafsirkan sebab juhud (pengingkaran) dan istihlal (penghalan) yang ada pad adirinya atau dalam hatinya, mereka mengatakan, “Bahwasanya berdasarkan ilmu Allah Ta’ala, perbuatan tersebut tidak akan terjadi melainkan dari orang-orang yang menghalalkannya, atau dia jahil, maka Allah ta’ala mengkafirkannya. Golongan ini biasa disebut Murji’ah Fuqoha’, terdiri dari Al-Ahnaaf (Pengikut Imam al-Hanafi), dan sebagian Al-Asy’ariah atau Asya’irah dan al-Maturidiyah dan semacamnya, dan golongan ini meskipun menyelisihi  Ahlussunnah dalam Manathut-takfir (pijakan atau gantungan hukum pengkafiran)nya, akan tetapi dalam menentukan hukumnya sama, maka penyelisihannya tidak terlalu berbahaya, lain pula dengan keadaan Ghullat Murji’ah, berbahaya sekali terhadap ummat karena pada akhirnya tidak mengkafirkan orang kafir murtad.

Dan pada masa kini, mayoritas manusia berpaham seperti Ghullat Murjiah, baik yang pertama atau kedua, maupun yang jahmiyah, dan tidak begitu banyak yang berpaham seperti murjiah Fuqoha.’

Adapun Ahlussunnah wal Jamaah dalam memahami dan menyikapi Iman, kufur, takfir dan sebagainya adalah wasth (pertengahan) dan I’tidal (seimbang), tidak ifrath (tidak berlebih-lebihan) tidak pula tafrith (tidak mengurang-kurangkan), tidak melampaui batas seperti khawarij dan tidak mengurang-kurangkan seperti halnya murji’a, maka perbuatan anggota badan yang termasuk dalam Ashlul Iman dianggap sebagai syarat sahnya Iman, maka oran gyang tidak menunaikannya atau merusakkannya dihukumi kafir, dan ini disamai oleh khowarij, adapun perbuatan anggota badan yang termasuk di dalam iman yang wajib, tidak dianggap sebagai syarat sahnya iman, (sebagaimana anggapan khawarij), akan tetapi ia merupakan penyempurna iman yang wajib, jika tidak ditunaikan atau dirusakkan dia berdosa besar dan mendapat ancaman siksa, tetapi tidak membatalkan Ashlu Imannya yang berarti tidak kafir, dan Murji’ah bersepakat dalam prinsip ini –wallahu’alam

Demikianlah sebagian daripadan bahasan masalah Iman, pembahasan masalah-masalah Iman yang lain masih banyak lagi, mudah-mudahan yang sedikit ini bisa mewakili pembaca dalam mengambil kesimpulan.

7074155

  1. I’tiqod atau Aqidah

Dalam masalah I’tiqod atau aqidah, saya mengikuti aqidah Salafussholih secara global dan rinci, sebagaimana yang termaktub dalam kitab-kitab salaf, (silakan membaca dalam kitab-kitab salaf, misalnya syarhu Ushuulil I’tiqodi Ahlissunnah wal Jamaah –oleh Abul Qosim al-Laalikaa’i- rhm (418H)), kitab-kitab I’tiqod Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rhm (728 H), Al-Ibanah Abul Hasan Al-Asy’ari rhm (324H) dan lain sebagainya.)

Dalam memahami Iman sebagaimana yang telah disebutkan diatas, saya memahami wasth  (pertengahan) antara murji’ah dan khowarij, dan iman adalah ucapan dan perbuatan dan begitu juga kufur adalah ucapan dan perbuatan, iman mempunyai martabat dan cabang yang mana cabang-cabang itu seluruhnya masuk di dalam martabat sesuai dengan sifat dan kedudukannya masing-masing.

Kufur itu terbagi menjadi kufur akbar dan kufur asghar, dan pendapat yang menyatakan bahwa semua kufur perbuatan merupakan kufur asghar dan semua kufur I’tiqodi merupakan kufur akbar, adalah bid’ah (istilah al-Kufrul Amali di dalam kitab salaf maksudnya kufrun duna kufrin, atau kufru asghar, sedang al-kufru bil amal adalah kufur akbar –lihat Kitabus-Shalah oleh Ibnul Qoyyim Al Jauziyah rhm hal 24-26- dan A’laamus Sunnatil Mansyurah oleh Hafidz Hakami, hal 80-83). Dan saya meyakini bahwa pendapat yang menyatakan kufur tidak akan  terjadi atas seseorang melainkan dengan juhud atau pengingkaran hati adalah pendapat bid’ah kaum murji’ah dan saya meyakini bahwa yang tidak mengkafirkan dengan dosa-dosa mukaffirah ucapan maupun perbuatan kecuali dengan mengetahui adanya juhud dan istihlal di dalam hati adalah golongan Ghullat Murji’ah atau golongan yang mengikuti paham dan I’tiqod Ghullat Murji’ah.

Dan kekufuran menurut saya bisa dikelompokkan menjadi dua macam , yakni kufur karena jahil dan kufur karena menentang dan berpeling, dan saya mengimani bahwa pada umumnya kufurnya manusia adalah kufur menentang dan berpaling  yaitu kufur yang manusia diperangi oleh Rasulullah saw, karenanya, dan pada umumnya kufurnya golongan ini adalah dalam peribadatan yakni nusuk (ritual), wala’ (loyalitas), bara’ (pelepasan diri), hukm (berhukum) dan tasyri’ (membuat undang-undang atau syariat).

Dalam nama-nama Allah (Al-Asmaa’ul Husna) dan sifat-sifat Allah (Shifatul Ulya’) saya beri’tiqod sebagaimana salaf ash-Shalih, yaitu wasth (pertengahan) antara golongan mu’aththilah (yang meniadakan) dan golongan musyabbihah (yang menyerupakan), maka saya tidak mensifati Allah Ta’ala, kecuali dengan sifat-sifat yang Allah ta’ala mensifatkan dengannya kepada diri-Nya didalam kitab-Nya dan diatas lisan Rasul-Nya saw, dengan tanpa tahrif (merubah atau menyelewengkan), tidak juga dengan ta’thil (meniadakan), dan tidak juga dengan takyif (memvisualisasikan atau menggambarkan kaifiyahnya) dan tidak juga dengan tamtsiil (menyerupakan) akan tetapi saya menetapkan sifat-sifat itu sebagaimana sifat-sifat itu datang, saya tidak melampauinya dan tidak menambahnya, Allah ta’ala berfirman dalam surat Asy-Syura: 11,

Khot Arab

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Saya mengimani bahwasanya Allah Azza wa Jalla bersemayam diatas Arsy-Nya diatas langit-langit-Nya. Dan sesungguhnya Dia Azza wa Jalla akan datang pada hari kiamat untuk mengadili hamba-hamba-Nya. Dan ornag-orang beriman akan melihat Rabb (Tuhan) mereka Azza wa Jalla dengan pandangan-pandangan mereka di dalam Surga, adapun orang-orang kafir, mereka terhijab dari melihat-Nya.

Dan saya mengimani bahwa Nabi Muhammad saw, adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, beliau penutup para Nabi-Nabi dan sebaik-baiknya daripada makhluk-Nya, Allah ta’ala mengutusnya dengan membawa petunjuk dan dien (agama) yang benar, agar Dia memenangkannya, diatas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik dan kafir  benci. Dan bahwasanya seluruh Rasul yang diutus Allah Ta’ala adalah benar, agama mereka satu, yaitu agama tauhid, meskipun syariatnya berbeda-beda, Rasul pertama adalah Nuh a.s dan yang terakhir adalah Muhammad saw.

Dan saya wasth (pertengahan) antara Murji’ah dan khowarij dalam bab al-wa’du (Janji Allah Ta’ala) dan Al-Wa’iid (ancaman siksa-Nya). Janji dan ancaman Allah Ta’ala seluruhnya benar, dan seorang muslim apabila bermaksiat dan belum bertaubat dengan taubat yang nashuha, termasuk beristighfar, menunaikan amalan-amalan yang baik dan diuji yang dengannya bisa menutupi dosa-dosanya, maka nasibnya tertakluk kepad rahmat Allah Azza wa Jalla, jika Allah menghendaki Allah akan mengampuninya, dan jika Allah menghendaki, Allah akan mengazabnya, sesuai dengan kadar dosa-dosanya, dan sesudah itu akan dimasukkan ke dalam Surga-Nya.

Dan saya beri’tiqod bahwasanya semua perkara-perkara ghoib yang datang dengannya Rasulullah saw, adalha diatas hakekatnya seperti Surga, Neraka, Kursi, Arsy, Shirat, Mizan, Mahsyar, Azab Kubur dan lain sebagainya.

Dan saya wasth (pertengahan) dalam bab Al-Qodar (Takdir) antara golongan Jabariyah dan golongan Qodariyah, maka perbuatan kita dan kehendak kita adalah makhluk, dan manusia adalah pelaku perbuatan itu yang diberi pilihan baginya berkemampuan dan berkehendak, dan dia adalah pelaku bagi perbuatan-perbuatannya diatas hakekatnya.

Dan sesungguhnya Al-Quran adalah Kalamullah, dan bukan Makhluk.

Dan sesungguhnya sahabat r.a adalah generasi yang terbaik, dan yang paling baik dari mereka adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Uthman, kemudian Ali Radhiyalloohu anhum ajma’iin, dan saya mencintai Ahlul Bait Nabi saw, dan istri-istrinya Radhiyalloohu anhum, dan saya tidak menyebutkan sahabat kecuali dengan kebaikan, dan saya mencintai mereka seluruhnya dan membenci serta melaknat orang-orang yang membenci mereka.

Dan saya tidak mengkafirkan seseorang dari kaum muslimin dengan dosa-dosa maksiat selain syirik selama tidak menghalalkannya.

Dunia adalah kampung atau negeri perjalanan hidup manusia, tempat berikhtiar dan tempat beramal, tidak boleh meninggalkannya bagi yang mampu meraihnya, mencintai dan cenderung kepadanya, diatas kehidupannya di akhirat adalah syirik, dan meninggalkan keduniaan adalah maksiat, dan tidak menggubris sama sekali adalah zindiq. Dunia mesti diraih demi kehidupan di akherat.

Saya beri’tiqad bahwasanya aliran sufi adalah madzhab bid’ah yang batil dan merusak keduniaan dan agama. Dan bahwasanya syi’ah Rafidhah secara muthlaq adalah golongan kufur, mereka makhluk yang paling buruk yang ada di bawah kolong langit, daripada kalangan kaum muslimi. Dan jamaahg-jamaah Islam yang melibatkan diri dalam pemilihan-pemilihan Umum dan Dewan-Dewan Parlemen atau Majlis-Majlis yang bertugas membuat syariat atau Undang-Undang adalah jamaah jamaah bid’ah, saya berlepas diri dari mereka dan memasrahkan kepada Allah atas perbuatan mereka, dan bahwasanya majelis-majelis parlemen di negara-negara sekuler adalah satu perbuatan dari perbuatan-perbuatan kufur, dan begitu juga segala amalan yang membantu wujudnya majelis-majelis tersebut dengan tugasnya.

Dan saya beri’tiqod bahwasanya penguasa dan kelompoknya yang mengganti syariat Allah Ta’ala mereka adalah kuffar murtaddin, dan keluar memberontak mereka dengan senjata dan kekuatan adalah fadhu’ain bagi setiap muslim, dan orang-orang yang meniadakan jihad terhadap mereka dengan apapun alasannya seperti, karena tidak ada Imamul Muslimin atau berhujjah dengan hujjah-hujjah yang bersifat taqdir, misalnya karena manusia rusak atau tidak adanya garis pemisah dan perbedaan yang jelas antara dua belah kelompok, atau berhujjah dengan madzhab anak Adam yang pertama (Qobil) “Sungguh kalau, kamu menggerakkan tanganmu untuk membunuhku maka aku sekali-kali tidak akan  menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu” (Q.S Al-Maa’idah: 58) mereka ini adalah orang-orang yang jahil, meereka mengada-adakan sesuatu atas nama Allah tanpa ilmu.

Dan saya beri’tiqod bahwasanya jihad itu berlangsung hingga hari kiamat dibawah pimpinan orang yang baik dan orang yang faajir (orang yang jahat dan banyak dosa), dan tidak boleh mentaatinya dalam kemaksiatan kepada Allah.

Dan saya beri’tiqod bahwasanya golongan manusia yang manapun juga  yang berkumpul diatas dasar selain Islam adalah golongan yang murtad dan kufur, seperti partai-partai kebangsaan, wathaniyah, qoumiyah, ba’tsiyah, sekuler dan demokrasi. Dan sesungguhnya dalih tidak adanya perbedaan antara muslim dan kafir dibawah dalih warga negara adalah dakwah jahiliyah yang batil, begitu juga dalih adanya perbedaan yang didasarkan diatas ras atau negara sebagaimana keadaan negara-negara pada hari ini.

Dan saya beri’tiqod bahwasanya janji-janji Allah Ta;ala yang termaktub dalam Alquran dan Assunnah adalah merupakan perintah-perintah bagi kaum msulimin agar menempuh sebab-sebabnya dan berusaha mencapainya, dan behwasanya ungkapan “Tegakkanlah Daulah Islamiyah di dalam hati-hati kamu ia akan tegak untukmu di negerimu” bagi para penyanjung ungkapan ini, baik sadar atau tidak, ucapan ini adalha diatas makna Jabariyah (bahwa  urusan tegaknya daulah adalah semata-mata urusan Allah, tidak ada hubungannya dengan usaha hamba) dan makna Irjaa’i (tidak perlu memerangi thaghut dan negaranya sebab mereka masih muslim, karena tidak diektahui adanya juhud dan ishlal)

Dan saya meyakini bahwasanya seorang mufti atau seorang alim yang mengikuti kemauan hawa nafsu penguasa, yang mana dia berfatwa sesuai dengan kehendak penguasa itu yang menyelisihi syariat, dia menjadi pakturut, kemana penguasa berputar dia ikut berputar, dia menolong yang haq maupun yang batil, ualam’ yang seperti ini adalah kafir murtad.

Dan saya beri’tiqod bahwasanya setiap orangyang beragama selain agama Islam, dia adalah kafir, baik dakwah telah sampai kepadanya maupun belum sampai kepadanya, jika dakwah telah sampai kepadanya berarti kufurnya kufur menentang dan berpaling (I’naad wal I’raad), dan jika belum sampai kepadanya berarti dia kafir kufur jahil.

Dan negara-negara kaum muslimin yang diberlakukan hukum-hukum kufur didalamnya, ia adalah daarul kufri, penduduknya yang dzahirnya Islam, maka dia seorang muslim secara hukum, orang yang seperti ini disebut muslim mastuurul hal (muslim yang tidak diketahui keberadaannya) yaitu oran gyang melahirkan satu tanda daripada tanda-tanda Islam dan tidak diketahui dariapdanya satu pembatal dari pembatal-pembatalnya. Dan dzahirnya kafir, baik kafir asli maupun murtad, dia adalah kafir secara hukum, seperti orang-orang nasrani, Yahudi, Majusi, Atheis, Komunis, orang-orang murtad, seperti: kaum yang meninggalkan sholat, yang mencela agama, yang menyembah kuburan, seperti berdo’a kepada si mati, minta tolong dan bernadzar dan menyembelih untuknya dan sebagainya dari hal-hal yang menyebabkan murtad. Dan yang tidak menampakkan sesuatupun yang menunjukkan atas Islamnya dari kufurnya. Orang yang seperti ini disebut Majhulul Hal (tidak diketahui keberadaannya), dan tidak boleh disebut muslim majhulul hal, sebab dia tidak diketahui tanda Islamnya, maka orang yang seperti ini disikapi dengan tawaqquf, dalam menghukumi keatasnya, artinya didiamkan saja, tidak perlu dihukumi, muslim atau kafir, dan diselidiki keadaannya dan urusannya ketika dihajatkan misalnya, untuk dijadikan saksi, sebab untuk menjadi saksi bagi perkara seorang muslim mesti syaratnya muslim, mau menikah, membayar zakat, wakaf yang tidak boleh diberikan kecuali kepada muslim dan sebagainya

  1. Manhaj Talaqqi

Sebagaiman saya mengikuti salaf sholeh dalam masalah Iman dan I’tiqod, maka saya juga mengikuti merek adalam manhaj At-Talaqqi  atau dalam masalah fiqih dan ushul fiqih antara lain sebagai berikut:

  1. wajib mengikuti dalildan mengembalikan kepadanya ketika terjadi perselisihan.
  2. ta’ashub kepada madzhab adalah batil, adapun bermadzhab hukumnya boleh dan tidak wajib tidak juga haram.
  3. martabat mukallaf ada tiga (1) Mujtahid (2) Muttabi’ dan (3) Muqallid, Mujtahid dan muttabi’ terpuji kedudukannya, sedangkan muqallid amat taqlidnya ada yang terpuji dan ada juga yang tercela, adapun taqlid yang tercela antara lain sebagai berikut:
    1. apabila seseorang mampu berijtihad (berdalil), tetapi dia menyeleweng kepada bertaqlid saja.
    2. Apabila dia mampu menjadi seorang muttabi’ tetapi dia mencukupkan diri dengan bertaqlid saja.
    3. Apabila telah jelas baginya hujjah dan dalilnya bahwa yang benar menyelesihi pendapat orang yang ditaqlidinya dan dia tidak mau merujuk kepada yang benar maka dalam keadaan seperti ini dia berdosa dengan dosa yang besar.
    4. Bertaqlid kepad aoran gyang tidak layak ditaqlidi, karena dia tidak ahli berfatwa atau orang yang taqlid tidak meneliti sama sekali keahlian orang yang ditaqlidi.
    5. Apabila orang yang bertaqlid meyakini wajibnya bertaqlid kepada orang yang ditaqlidinya.
    6. Apabila seserang muqallid diuji dengan pendapat lain yagn menyelesihi pendapat yang dia taqlidi, lalu dia tidak berusaha meneliti mana diantara keduanya yang benar.

(Rujuk Al-Jami’ Fie Tholabil Ilmi Syarif oleh Abdul Qodir Abdul Aziz 5/71-72 atau Madzhab, bermadzhab dan Wahabi oleh penulis hal 43)

Adapun taqlid yang boleh dan terpuji yaitu taqlid yang dilakukan oleh orang yang mencurahkan mujahadahnya dalam mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah dan tersembunyi sebagiannya atasnya, lalu dia taqlid dalam perkara itu kepada orang yang lebih mengetahui daripadanya, maka taqlid seperti ini terpuji dan tidak tercela, memperoleh pahala dan tidak berdosa (I’laamul Muwaqi’in oleh Ibnul Qoyyim II/417)

  1. saya dalam berdalil mengikuti yang telah disepakati oleh jumhur Ahlussunnah wal Jamaah yan gmana dalil-dalil secara global ada empat yaitu: 1. Al-Kitab, 2. Assunnah, 3. Al-Ijma’ (Al-Muktabar) 4. Al-Qiyas (Ash-Shahih).
  2. Pentingnya fahmul waqi’ (memahami yang terjadi) seoran gmufti tidak mungkin memiliki kemampuan berfatwa dengan baik dan begitu juga seorang hakim tidak akan menghukumi dengan benar, melainkan dengandua macam dari pemahaman,

Pertama : Fahmul waqi’ wal Fiqhu fiihi

Memahami yang terjadi dan memahami seluk beluk dalam kejadian itu, dan menyimpulkan pengetahuan dari hakekat atau data-data yang terjadi berdasarkan indikasi-indikasi, tanda-tanda dan alamat-alamat sehingga seseorang mufti atau hakim benar-benar ilmunya meliputi dengannya)

Kedua: Fahmul Wajib fil Waqi’

Memahami yang wajib dalam waqi’ yaiut memahami hukum Allah ta’ala yang Allah ta’ala menghukumi dengannya di dalam kitab-Nya  atau diatas lisan Rasul-Nya dalam waqi’ (kejadian) itu kemudian dari pemahaman dua hal tersebut disesuaikan satu dengan yang lainnya (I’laamul Muwaqi’in Ibnul Qoyyim I/71), sebagai contoh tatkala Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang memerangi orang-orang Tartar, beliau menjawab, “Ya, wajib memerangi mereka berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan kesepakatan imam-imam kaum muslimin.” fatwa beliau ini didasarkan atas dua ushul pokok:

  1. Memahami keadaan tartar dan seluk-beluk mereka, in disebut fahmul waqi’ wal fiqhu fihi.
  2. Memahami hukum allah ta’ala pada orang-oran gyang semisal mereka (ini disebut fahmul wajib fil waqi’). (Majmu’ Fatawa 28/510). Pada masa kini tidak sedikit fatwa-fatwa sesat dan menyesatkan disebabkan tidak pedulinya dengan salah satu dari dua ushul pokok ini, bahkan kedua-duanya, dan ini juga yang menjadikan semakin menjamurnya bid’ah dan dholalah termasuk dalam masalah-masalah kontemporer yang dihadapi oleh umat Islam masa kini.
  3. Menyikapi Khilaf Atau Ikhtilaf

Khilaf atau ikhtilaf ada dua macam :

Khilaf yang mu’tabar (yang diakui syara)

Khilaf yang ghairu mu’tabar, disebut juga dengan istilah khilaf tanawwu’ yaitu khilaf atau perselisihan yang masing-masing pendapat yang ada berdasarkan dalil syar’I yang mereka fahami hal ini terjadi karena kemampuan manusia berbeda-beda dalam mendapatkan dalil-dalil dan memahaminya, ini lah yangdisebut masalah ijtihad, maka dalam khilaf ini tidak ada pengingkaran terhadap yang melakukannya, baik dia seorang mujtahid, maupun seorang muqollid dengan taqlid yang dibolehkan. Adapun khilaf yang kedua biasa disebut dengan istilah khilaf tadhadh yaitu pendapat yang lemah disebabkan dalilnya tersembunyi atau tidak sampai kepada seorang mujtahid, khilaf yang jenis ini, atau pendapat yang seperti ini disyariatkan untuk mengingkarinya, akan tetapi pelakunya tidak keluar dari sifat adaalah (tidak fasik) jika dilakukan oleh seorang mujtahid atau seorang muqallid yang taqlidnya dibolehkan.

Adapun contohnya: Khilaf At-Tanawwu’ misalnya, sentuhan lain jenis yang bukan muhrim membatalkan wudhu atau tidak, makmum membaca Al-fatihah atau tidak dalam rokaat yang imam menjaharkan bacaan, dan lain sebagainya, contoh khilaf tadhadh, jima’ tanpa keluar mani tidak wajib mandi, nikah muth’ah boleh, alat-alat musik mubah, berdiri I’tidal sesudah ruku’ tidak wajib, dan lain sebaginya. Dan sebagai catatan, Ikhtilaf tadhahdh adalah kesalahan yagn dilakukan oleh seorang mujtahid dan salahnya ini masih diganjar satu pahala, tetapi tidak boleh diikuti kesalahannya, dan bukan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang zindiq dan ahluz-zaigh dan ahlul bid’ah dan ahlul ahwa’ yang dnegan sengaja merubah-rubah syariat dan menyesatkan manusia.

Apabila seorang muslim mendapati perselisihan pendapat antara mufti atau faqih atau alim dalam suatu masalah, maka dia mesti mentarjih (memilih pendapat yang paling kuat). Jika dia seorang muttabi’ yang mampu meneliti dalil-dalil dari dua pendapat yang ada, maka dia wajib mentarjihnya sesuai dengan kuatnya dalil. lalu mengikuti pendapat yang dalilnya lebih kuat itu. Dan jika dia seorang muqollid yang tidak mampu meneliti dalil, maka dia mentarjih berdasarkna kealiman dan keutamaan dua alim itu, maka pendapat yang paling alim dan paling wara’ dari keduanya yang dia ikuti sebagai rasa cinta kepada kebaikan dan kebenaran (lihat Risalah Khilaf Bainal Ulama’ Wa Asbaabuhu oleh Asy-Syaikh Al-Utsaimin hal 32 dan al Faqih wal Mutafaqqih 2/204, atau Al-Khuththuth Al-Aridah hal 84)

  1. beberapa panduan agar selamat dari terjatuh di dalam kesalahan dan kesesatan.
    1. memahami nash-nash Al-Kitab dan Assunnah sebagaimana yang difahami salafussholih, ini adalah pembeda antara Ahlussunnah dan Ahlul bid’ah, dan pemahaman salaf serta pendapat-pendapatnya mengenai nash-nash tersebut terdapat dalam kitab-kitab tafsir yang ma’tsur dan kitab-kitab syarahan-syarahan hadits.
    2. Menjamakkan atau mengumpulkan nash-nash yang membicarakan satu masalah dan metode menjamakkan dan mengumpulkan nash (Thoriqatul Jami’ dan ta’lif) telah dikenali di kalangan ahlul ilmi, dan lawan dari cara atau metode ini adlah berdalil dengan sebagian nash dan meninggalkan nash yang lain, ini adalah sandaran golongan-golongan sesat seperti murji’ah, khowarij mu’tazilah dan lain sebagainya.
    3. Mentarjih diantara nash-nash yang aqwaal ahlul ilmi yang kelihatan bertentangan, dan mengamalkan yang lebih kuat darinya, dan tidak mengakui ungkapan atau tidakmembenarkan pernyataan bahwasanya ikhtilaf (perselisihan) adalah hujjah, sehingga bisa memilih mana saja yang disukai dari penddapat-pendapat yagn ada, ini sikap yang salah.
    4. Menolak fatwa dan membatalkan hukum yang menyuelisihi yang benar dan yang betul, dan mendamprat orang-orang yang berlaku alim, yang salah berkali-kali akibat dari mempermudah urusan dan menganggap enteng dengan agama, dan mengumumkan kesalahan-kesalahannya dan mentahdzir kaum muslimin agar tidak mengikutinya (rujuk Al-jami’ fie tholabil ilmi syarif III/109)
  2. Prinsip saya dalam Iqomatuddin secara global sebagai berikut:

Tujuan saya : Ridho Allah Ta’ala dengan memurnikan keikhlasan kepadanya dan merealisasikan pengikutan (mutaba’ah) kepada Nabi-Nya.

Aqidah saya    : Aqidah Salafusshalih secara global dan rinci.

Paham saya     : saya memahami seluruh ajaran Islam, sebagaimana pemahaman para ulama’ yang terpercaya dan mengikuti sunnah Nabi saw dan sunnah Khulafaur-Rasyidin Al-Mahdiyin  r.a

Target saya      : Menghambakan manusia hanya kepada allah Azza wa Jalla dan menegakkan kekhilafahan mengikuti Manhaj Nubuwwah

Jalan Saya       : Melaksanakan dakwah, amar makruf nahi munkar dan jihad fie sabilillah

Bekal Saya      : taqwa dan ilmu, yakin dan tawakkal, syukur dan sabar, zuhud dan mengutamakan akhirat, cintajihad dan syahadah fie sabilillah.

Wala’ saya       : Kepada Allah ta’ala, Rasulullah saw, dan orang-orang yang beriman.

Permusuhan saya         :Terhadap orang-orang yang dzalim.

Perhimpunan saya       : Untuk satu tujuan, berdasarkan satu aqidah, dibawah satu bendera dan kesatuan fikrah

Demikianlah pemahaman Islam saya, secara global dari beberapa contoh diatas Insya Allah para pembaca yang budiman bisa menyimpulkan dengan sebaik-baiknya dan lebih kurangnya –Wallahu a’lam bishshowab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: