I’daad dan ‘Adaalah PENGERTIAN DAN STATUS KEDUANYA DALAM SYARAT JIHAD

Syaikh ‘Abdul Qoodir bin ‘Abdul ‘Aziiz

Sebuah Bantahan Terhadap Syubhat Yang Mengatakan Bahwa;
Tidak Ada Jihad Kecuali Setelah Sempurnanya Tarbiyah Imaniyah
Penerjemah:
Abu Musa Ath Thoyyaar
Disini kita akan membahas permasalahanpermasalahan
berikut;
Pertama; apakah yang dimaksud I’dad lil jihad (Persiapan Jihad)?
Kedua; apakah Al ‘Adaalah merupakan syarat wajibnya jihad?
Pertama; Apakah yang dimaksud dengan I’dad lil Jihad?
Yang dimaksud dengan I’dad ada dua; yaitu I’dad Maddi (persiapan materi) dan I’dad imani
(persiapan iman), dan tidak boleh membatasi I’dad dengan salah satunya. Adapun yang dimaksud
dengan I’dad maddi adalah yang disebutkan dalam surat Al Anfaal, Alloh berfirman:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari
kudakuda
yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan
musuh Alloh, musuhmu dan orangorang
selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang
Alloh mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalas
dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Anfaal : 60)
Dan penafsiran ayat ini telah disebutkan dalam sebuah hadits marfu’ sehingga tidak menyisakan
tempat untuk mentakwilkannya atau membawa pengertian ayat tersebut kepada pengertian yang
tidak dimaksudkan oleh ayat tersebut. Imam Muslim telah meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Uqbah
bin ‘Aamir, dia berkata bahwasannya Rosululloh SAW , membaca ayat ini kemudian bersabda:
“Ingatlah bahwasannya kekuatan itu adalah melempar (memanah)”. Beliau mengucapkannya tiga
kali.
Oleh karena itu tidak boleh membawa pengertian ayat ini kepada pengertian I’dad imani dan
tarbiyah. Dan I’dad maddi mencakup mempersiapkan orang, senjata dan harta. Dan ayat tersebut
diatas menyebutkan dengan jelas persenjataan dan harta, dan menyebutkan orang secara isyarat.
Namun mempersiapkan orang ini terdapat dalam ayatayat
lain. Seperti firman Alloh :
“Hai Nabi, hasunglah orangorang
mu’min untuk berperang” (QS. Al Anfaal : 65)
Dan juga firman Alloh :
“Maka berperanglah kamu pada jalan Alloh, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban
kamu sendiri. Dan hasunglah orangorang
mu’min (untuk berperang). Mudahmudahan
Alloh
menolak serangan orangorang
yang kafir itu”. (QS. An Nisaa’ : 84)
Dan juga firman Alloh :
“Wahai orangorang
yang beriman jadilah kalian sebagai pembelapembela
Alloh”. (QS. Ash Shaff
: 14)
Dan permasalahan ini telah dibahas secara terperinci dalam bab dua, dan Ibnu Taimiyyah berkata
bahwasannya jika kewajiban jihad itu gugur karena ketidak mampuan maka wajib mempersiapkan
kekuatan dan kuda yang ditambatkan. (Majmuu’ Fataawaa, XXVIII / 259) Dan Alloh menjadikan
I’dad ini sebagai pertanda benarnya keimanan dan sebagai pembeda antara orang beriman dengan
orang munafiq, dalam firmanNya :
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan
itu, tetapi Alloh tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Alloh melemahkan keinginan
mereka, dan dikatakan kepada mereka:”TinggAlloh kamu bersama orangorang
yang tinggal itu”.
Jika mereka berangkat bersamasama
kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari
kerusakan belaka, dan tentu mereka bergegasgegas
maju ke muka dicelahcelah
barisanmu, untuk
mengadakan kekacauan diantaramu, sedang diantara kamu ada yang amat suka mendengarkan
perkataan mereka”. (QS. At Taubah : 4647)
Dalam ayat ini Alloh menjelaskan bahwa orang munafiq yang meninggalkan I’dad itu sebelumnya
secara taqdir Alloh telah mentelantarkannya. Dan sesungguhnya hal ini adalah merupakan rahmat
dari Alloh kepada orangorang
yang benarbenar
beriman, seandainya mereka ikut keluar bersama
mereka, pasti orangorang
munafiq itu hanya membuat kerusakan dan fitnah. Apalagi ada sebagian
orangorang
beriman yang berbaik sangka kepada orangorang
munafiq itu.
“Dan diantara kalian ada yang mendengardengarkan
mereka”
Dan disinilah timbul kerusakan yang besar. Inilah yang berkaitan dengan I’dad secara materi.
Adapun I’dad imani (tarbiyah) bukan bagian dari I’dad maddi (materi). Dan dalildalilnya
telah
disebutkan dalam pasal ini juga sehingga tidak perlu untuk diulang lagi. Dan I’dad Imani ini banyak
sekali cabangnya, sebanyak cabang iman, baik lahir maupun batin, baik secara ilmu maupun secara
amal, I’dad Imani juga mempunyai peran secara langsung dalam menyebabkan kemenangan atau
kekalahan, sebagaimana telah saya sebutkan dalam lima prinsip dasar penyebab kemenangan dan
kekalahan. Namun ada beberapa hal yang perlu dijaga dalam halhal
yang berkaitan dengan I’dad,
yaitu :
Jangan
sampai ayat I’dad dalam surat Al Anfaal ini dibawa kedalam pengertian tarbiyah, karena
telah ada hadits marfu’ yang menafsirkan ayat tersebut sehingga membantah pentakwilan tersebut.
Adapun tentang tarbiyah ada dalildalil
lainnya yang telah dijelaskan didepan. Dan yang lebih parah
lagi adalah orang yang membatasi I’dad hanya dengan I’dad imani saja tanpa I’dad maaddiy (materi).
Orang semacam itu adalah orang yang mendustakan ayatayat
Alloh.
Tarbiyah
ini jangan menjadi alasan untuk tidak berjihad, khususnya jihad yang fardlu ‘ain. Inilah
yang sangat penting untuk dijaga dalam kaitannya dengan tarbiyah. Dan inilah yang mendorong kami
untuk membahas sisi kedua dalam catatan ini.
Kedua : Apakah Al ‘Adaalah itu merupakan syarat wajibnya Jihad?
Maka kepada orangorang
yang mengatakan kami tidak berjihad sampai kami menyelesaikan
tarbiyyah iimaaniyyah, kami bertanya dengan dua pertanyaan ;
Pertanyaan pertama : Apakah target dari tarbiyyah itu menghantarkan seorang muslim kepada
tingkatan Al ‘Adaalah Asy Syar’iyyah, atau kepada tingkatan yang lebih tinggi dari pada itu?
Pertanyaan kedua : Apakah Al ‘Adaalah itu merupakan syarat wajib jihad? Yang berarti seorang
muslim tidak boleh berjihad sampai dia mencapai derajat Al ‘Adaalah? Dan apakah kewajiban jihad
itu akan gugur dari orang fasiq?
Pertama kami akan menyebutkan definisi Al ‘Adaalah, kami katakan: Al ‘Adaalah adalah kemapanan
seseorang pada diinnya, dan ada yang mengatakan; bahwa Al ‘Adaalah adalah orang yang tidak
nampak padanya halhal
yang meragukan. Dan dalam hal ini yang menjadi indikasi ada dua :
1. Baik dalam mengamalkan Islam, yaitu melaksanakan sholatsholat
wajib dengan sunnah
rowatibnya, menjauhi perbuatan haram dengan cara tidak melakukan perbuatan dosa besar dan tidak
terus terusan berbuat dosa kecil.
2. Menjaga kesopanan dengan melakukan perbuatan yang memperindah dirinya dan meninggalkan
perbuatan yang menghinakan dan memperburuk dirinya. (manarus Sabiil Syarhud Dalil, cet. Al
Maktab Al Islami, 1404 H, II/387388).
Kemudian kami akan menyebutkan syaratsyarat
wajibnya jihad dan
telah berlalu pembahasan ini
dalam lampiran sebelumnya yaitu
(Islam, baligh, berakal, lakilaki,
tidak cacat, merdeka, punya
biaya, ijin orang tua dan ijin orang yang menghutangi), (Al Mughniy Ma’asy Syarhil Kabiir X/366,381384).
Dan ini adalah ketika jihad fardhu kifayah, adapun jika jihad itu fadlu ‘ain, maka syaratnya
adalah satu sampai lima saja. Dan sebagaimana anda lihat bahwa Al ‘Adaalah tidak termasuk syarat
jihad.
Kalau Al ‘Adaalah itu jelas bukan merupakan syarat wajibnya jihad, maka gugurlah pendapat orang
yang mengatakan harus diadakan tarbiyyah yang menghantarkan seorang muslim kepada tingkatan
Al ‘Adaalah sebelum dia berjihad. Dan selanjutnya gugurlah pendapat orang yang mensyaratkan
harus mencapai tingkatan lebih tinggi dari pada Al ‘Adaalah. Bahkan para ‘ulama menyatakan yang
sebaliknya, artinya boleh meminta bantuan orang fasik dan munafik dalam berperang. Asy
Syaukaaniy berkata:”Dalam kitab Al Bahr dikatakan: Dan diperbolehkan meminta bantuan kepada
orang munafiq berdasarkan ijma’ karena Nabi meminta bantuan kepada Abdullah bin Ubay dan
temantemannya.
Dan juga diperbolehkan meminta bantuan kepada orang fasiq untuk melawan
orang kafir berdasarkan ijma’, dan menurut kami juga untuk melawan bughot (pemberontak) karena
‘Aliy ra, meminta bantuan kepada Asy’ats” (Nailul Authoor VIII/44).
Dan dalam kitab Al Majmuu’ disebutkan :”Abu Bakar Al Jashosh berkata dalam Ahkamul Qur’an;
jihad itu wajib dilaksanakan meskipun bersama dengan orangorang
fasiq, sebagaimana wajibnya
berjihad bersama orangorang
yang sudah sampai tingkatan Al ‘Adaalah. Dan seluruh ayat yang
mewajibkan jihad tidak membedakan antara dikerjakan bersama orangorang
fasiq dan antara
dikerjakan bersama orangorang
shalih. dan juga karena sesungguhnya orangorang
fasiq itu jika
mereka berjihad berarti dia dalam hal ini melaksanakan ketaatan (kepada Alloh)”. (Al Majmuu’
Syarhul Muhadzdzab,
XIX/279).
Dan Ibnu Hazm berkata setelah
menyebutkan hadits yang berbunyi :
“Sesungguhnya Alloh benarbenar
memperkuat agama ini dengan orangorang
yang tidak
mendapatkan apaapa”
Dan Hadits yang berbunyi :
“Sesungguhnya Alloh memperkuat agama ini dengan orang yang fajir”
Beliau berkata: ”
Hadits ini memperbolehkan meminta bantuan kepada ahlul harbi (musuh) untuk menghadapi orang
yang semacam dengan mereka, dan juga kepada orang Islam yang fajir (banyak berbuat dosa) yang
tidak mempunyai pahala sedikitpun untuk menghadapi ahlul baghyi (pemberontak), selain itu karena
orangorang
fasiq itu juga terkena kewajiban jihad dan kewajiban melawan ahlul baghyi
(pemberontak), sebagaimana kewajiban orang yang baik. Oleh karena itu tidak boleh melarang
mereka untuk melaksanakan kewajiban itu. Bahkan seharusnya mereka diajak untuk melaksanakan
kewajiban tersebut”. (Al Muhallaaa XI/113114).
Dan permasalahan ini secara terperinci telah dibahas (pada bab tiga), pada pembahasan berperang
bersama pemimpin yang fajir. Jika berperang bersama orang yang fajir yang menjadi pemimpin saja
diperbolehkan apalagi berperang bersama orang fajir yang menjadi pasukan.
Dan Ibnu Taimiyyah telah menjelaskan dengan secara panjang lebar tentang masalah ini, yang telah
saya nukil dalam (bab ketiga), yaitu beliau berkata;”Jika mereka bersepakat untuk memerangi orangorang
kafir dengan cara yang sempurna, maka inilah pelaksanaan yang maksimal dalam rangka
mencari ridlo Alloh, memuliakan kalimatNya, dan mentaati RosulNya. Meskipun diantara mereka ada
yang banyak dosanya dan ada yang rusak niatnya, ia berperang ingin mendapatkan kepemimpinan
atau ingin mendapat beberapa kepercayaan, Namun meninggalkan perang melawan orangorang
kafir itu kerusakannya terhadap agama lebih besar dari pada berperang melawan mereka tapi
bersama orangorang
fasiq. Dan kita wajib memerangi mereka dengan tujuan untuk menolak
kerusakan yang lebih besar dengan menanggung kerusakan yang lebih kecil. Dan ini merupakan
pokok ajaran Islam yang harus senantiasa dijaga.
Oleh karena itu termasuk dari pokokpokok
aqidah ahlus sunnah adalah berperang baik bersama
orang yang baik maupun bersama orang yang fajir. Karena sesungguhnya Alloh akan menolong
agama ini dengan orang yang fajir, dan dengan orang yang tidak mempunyai bagian (pahala).
Sebagaimana hal itu telah diberitakan oleh Nabi SAW, karena jika perang itu tidak bisa dilaksanakan
kecuali bersama para pemimpin yang fajir atau bersama pasukan yang banyak dosanya, pasti akan
ada dua kemungkinan,
Pertama, tidak berjihad bersama pemimpin yang fajir sehingga musuh akan menguasai sedangkan
kerusakan yang mereka timbulkan terhadap agama dan dunia itu lebih berbahaya.
Atau, yang kedua, tetap berperang, namun bersama pemimpin yang fajir, sehingga dengan itu
tertolaklah dosa yang paling besar (antara kekafiran dan kemaksiatanpent)
dan dapat menegakkan
banyak dari syari’at Islam, meskipun tidak bisa melaksanakan seluruhnya. Dan begitulah seharusnya
yang ditempuh (berperang bersama pemimpin yang fajir) ketika dalam keadaan seperti ini (ketika
jihad tidak bisa dilaksanakan kecuali bersama pemimpin yang fajir) , dan juga pada kedaankeadaan
yang semacam dengan ini. Bahkan kebanyakan peperangan yang terjadi setelah khulafa’ rosyidin
beginilah prakteknya sampai
beliau mengatakan maka
barangsiapa memahami apa yang
diperintahkan Nabi SAW, kepadanya yaitu jihad yang dilaksanakan oleh para pemimpin sampai hari
qiyamat, dan yang beliau larang yaitu membantu orang dzalim untuk berbuat dzalim, niscaya dia
memahami bahwa jalan yang paling utama yang merupakan ajaran Islam adalah berjihad melawan
orang yang berhak untuk diperangi, seperti orangorang
kafir itu, bersama pemimpin dan kelompok
yang lebih dekat kepada Islam dari pada orangorang
kafir itu, jika jihad itu tidak mungkin dilakukan
kecuali dengan cara seperti ini. Dan menjauhi perbuatan yang membantu kemaksiatan kelompok fajir
yang dia berjihad dengan mereka itu, bahkan mentaati mereka dalam halhal
yang merupakan
ketaatan kepada Alloh dan tidak mentaati mereka untuk bermaksiat kepada Alloh, karena tidak boleh
taat kepada makhluq untuk bermaksiat kepada kholiq.
Inilah jalan orangorang
yang terbaik dari ummat ini, baik zaman dahulu maupun zaman sekarang.
Dan ini merupakan kewajiban bagi setiap mukallaf. Dan ini adalah jalan pertengahan antara jalannya
haruriyyah (Khowaarij) dan orangorang
yang semacam mereka, yaitu orang yang menempuh jalan
waro’ (kehatihatian)
yang rusak, yang timbul dari sedikitnya ilmu, dan antara jalannya Murjiah
dan
orangorang
yang semacam mereka, yaitu orangorang
yang menempuh jalan ketaatan kepada
pemimpin secara mutlaq, meskipun mereka itu bukanlah orangorang
yang baik”. (Majmuu’
Fataawaa XVIII / 505508).
Saya katakan: masalah ini telah menjadi ketetapan sehingga permasalahan ini ditulis dalam masalahmasalah
aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, sebagaimana yang telah saya nukil dari syarhul ‘Aqidah
ath Thohawiyyah, yang disana disebutkan: ”Haji dan jihad itu senantiasa berjalan bersama pemimpin
kaum muslimin, baik yang sholih maupun yang fajir sampai hari qiyamat. Dan keduanya tidak akan
digugurkan oleh sesuatu apapun”. (Syarhul ‘Aqiidah Ath Thohaawiyyah, cet. Al Maktab Al Islaamiy
1403, hal. 437).
Dari pembahasan diatas anda dapat melihat bahwa jihad bersama orang fasiq, baik dia sebagai
pemimpin atau anggota diperbolehkan berdasarkan ijma’. Dan kadang hal itu diwajibkan jika orang
kafir itu tidak mungkin dilawan kecuali dengan berjihad bersama orangorang
fasiq, sebagaimana
yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah diatas.
Dan yang menjadi pokok permasalahan disini, adalah bahwasannya jihad itu diwajibkan kepada
orangorang
yang beriman, sebagaimana firman Alloh :
“Hai orangorang
yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih?, Yaitu kamu beriman kepada Alloh dan RosulNya
dan berjihad dijalan Alloh dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu
mengetahuinya. Niscaya Alloh akan mengampuni dosadosamu
dan memasukkan kamu kedalam
jannah yang mengalir dibawahnya sungaisungai,
dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal
yang baik di jannah”. (QS. Ash Shoff : 1012)
Dan ayatayat
yang lain. Ayat ini merupakan perintah kepada orangorang
beriman untuk berjihad,
dan diantara orangorang
beriman itu ada yang mempunyai dosadosa.
“…niscaya Alloh mengampuni dosadosa
kalian”
Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban jihad itu tidak gugur dari orang mukmin yang melakukan
dosa, sedangkan orang fasiq meskipun besar dosanya, dia tetap masih beriman. Sesungguhnya dia
masih mempunyai mutlaqul iimaan (batas terendah keimanan) yang menjadikan dia terkena beban
kewajiban syari’at, meskipun dia tidak memiliki al iimaan al mutlaq (iman yang sempurna). Dan
diantara aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, bahwa ketaatan dan kemaksiatan itu dapat berkumpul
pada seorang hamba, pemahaman ini disimpulkan dari kaidah umum yang menyatakan bahwa iman
itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan
pembahasan
masalah ini telah berlalu dan
diantara contohnya adalah hadits yang diriwayatkan
oleh Al Bukhooriy dari ‘Umar ra,
“Pada zaman Nabi ada seseorang yang bernama Abdullah, yang mendapat julukan himar. Orang ini
membikin tertawa Rosululloh SAW, dan Rosululloh SAW pernah mencambuknya lantaran minum
khamr. Pada suatu hari ia didatangkan lalu dia diperintahkan untuk dicambuk. Lalu ada orang yang
mengatakan:”Ya Alloh, laknatlah dia. Telah berkalikali
dicambuk”. Maka Rosululloh bersabda
:”Janganlah kamu melaknatnya, demi Alloh kamu tidak mengetahui bahwa dia mencintai Alloh dan
RosulNya”,
Sahabat ini meskipun dia bermaksiat dengan minum khamr namun dia masih memiliki ketaatan
seperti mencintai Alloh dan RosulNya SAW, sedangkan kecintaan ini adalah termasuk cabang iman
yang paling besar. Dan perhatikanlah kedudukan cinta ini dalam ayat mengenai penolakan delapan
alasan dalam surat At Taubah :
“Katakanlah : jika bapakbapak
kalian…”
Kemudian sesungguhnya orangorang
yang bermaksiat itu mendapatkan manfaat tersendiri dalam
jihad, yaitu untuk menghapuskan dosadosanya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah,
setelah membacakan ayat dalam surat Ash Shoff diatas:”Dan barangsiapa yang banyak dosanya, maka
obat yang paling manjur baginya adalah jihad. Karena sesungguhnya Alloh akan mengampuni dosadosanya.
Sebagaimana yang Alloh beritahukan dalam firmanNya :
“…niscaya Alloh akan mengampuni dosa kalian”
Juga barangsiapa yang tidak bisa bertaubat dan membebaskan diri dari barang yang haram lantaran
tidak mampu mengembalikan barang tersebut kepada yang berhak, maka hendaknya dia infaqkan
barang tersebut dijalan Alloh, kerena hal itu merupakan jalan yang baik untuk membebaskan diri dari
barang haram tersebut, selain itu dia mendapatkan pahala jihad”. (Majmuu’ Fataawaa , XXVIII / 421422)
Dari penjelasan diatas dapat difahami bahwasannya kefasikan itu tidak menggugurkan kewajiban
jihad. Orang fasik itu diperintahkan untuk berjihad persis sebagaimana orang shalih. Dan telah
dinukil diatas perkataan Asy Syaukaaniy yang menyatakan bolehnya dan
tidak wajib meminta
bantuan kepada orang fasiq dan munafiq berdasarkan ijma’. Maka jika hal ini dapat diterima, yang
dijadikan patokan hukum adalah untung dan rugi yang ditimbulkannya, mana yang lebih besar.
Artinya jika manfaat keikut sertaannya dalam berjihad lebih besar dari pada kerusakannya, dia
diperbolehkan ikut. Dan jika sebaliknya maka tidak boleh.
Termasuk dalam hal ini adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Qudaamah: ”Dan seorang pemimpin
tidak boleh membawa seorang mukhodzil yaitu orang yang melemahkan semangat manusia dalam
peperangan…dan juga tidak boleh membawa seorang murjif yaitu orang yang mengatakan; Telah
hancur pasukan kaum muslimin dan tidak ada bantuan juga tidak ada kekuatan bagi mereka untuk
menghadapi orangorang
kafir…dan juga tidak boleh membawa orang yang mematamatai
kaum
muslimin untuk orangorang
kafir…dan juga tidak boleh membawa orang yang menimbulkan
permusuhan ditengahtengah
kaum muslimin dan menebar kerusakan.” (Al Mughniy Ma’asy Syarhil
Kabiir, X / 372 dan perkataan semacam ini juga terdapat dalam kitab Al Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab,
XIX / 278280).
Semuanya ini berdasarkan firman Alloh :
“Jika mereka berangkat bersamasama
kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari
kerusakan belaka, dan tentu mereka bergegasgegas
maju kemuka di celahcelah
barisanmu, untuk
mengadakan kekacauan diantaramu, sedang diantara kamu ada yang amat suka mendengarkan
perkataan mereka” (QS. At Taubah : 47)
Dan firman Alloh ;
“Maka jika Alloh mengembalikanmu pada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka meminta
izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah:”Kamu tidak boleh keluar
bersamasamaku
selamalamanya
dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya
kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggAlloh)
bersama orangorang
yang tidak ikut berperang” (QS. At Taubah : 83)
Kesimpulannya adalah orang yang melemahkan semangat atau menebar kerusakan dalam barisan
atau berkhianat dilarang untuk ikut berjihad. Karena orang semacam ini besar bahayanya meskipun
ada manfaatnya.
Namun meskipun pemimpin itu boleh mengijinkan orang fasiq yang bermaksiat yang
manfaatnya
lebih besar dari pada kerusakannya untuk
ikut berjihad, hal ini tidak berarti pemimpin itu boleh
membiarkannya dalam kefasikan dan maksiat.
Akan tetapi ia harus beramar ma’ruf dengan cara memberi pengajaran dan nasehat, dan melakukan
nahi munkar dengan cara memarahi dan menghukum. Inilah yang disebut sebagai pelaksanaan
tarbiyyah iimaaniyyah ketika pelaksanaan jihad. Dan kita tidak mengatakan, kita undur jihad sampai
selesai tarbiyyah iimaaniyyah. Karena tarbiyah semacam ini tidak ada habisnya kecuali dengan
kematian. Sebagaimana firman Alloh ;
“Dan beribadahlah kamu kepada Rabbmu sampai datang kepadamu “keyakinan” (QS. Al Hijr : 99)
Keyakinan artinya adalah kematian, sebagaimana disebutkan didalam tafsir. Dan kadang ajal itu
datang sedangkan orang belum mendapatkan tarbiyah kecuali sedikit. Alloh berfirman :
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orangorang
yang Kami pilih diantara hambahamba
Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada
yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin
Alloh” (QS. Al Fathir : 32)
Inilah tingkatantingkatan
keimanan para pengikut Rosul dan para pewaris kitab.
Dari pembahasan diatas dapat saya ringkaskan sebagai berikut :
1.I’dad imani (tarbiyah) adalah kewajiban dan merupakan penopang yang mendasar diantara
penopangpenopang
kemenangan. Dan telah berlalu uraian masalah ini, khususnya pada dampak
kemaksiatan dalam menyebabkan kekalahan. Dan sesungguhnya kemaksiatan sebagian orang akan
membahayakan semuanya jika mereka tidak mengingkarinya. Dan inilah keadaan yang paling ideal
jika bisa direalisasikan.
2.Namun demikian kami katakan jihad itu tidak boleh diundur dengan alasan I’dad imani meskipun
jihad kadang boleh diundur dengan alasan untuk persiapan secara materi / fisik ketika
dalam keadaan lemah khususnya
ketika jihad hukumnya fardhu ‘ain dan lebih khusus lagi dalam
jihad yang hukumnya fardhu ‘ain adalah ketika musuh menduduki wilayah kaum muslimin. Dan
inilah kondisi kebanyakan negara kaum muslimin saat sekarang. Dalam kondisi seperti ini jihad
hukumnya fardhu ‘ain dan mudloyyaqul waqti (tidak bisa diundurundur).
Dan mengundurundurkan
jihad yang hukumnya fardhu ‘ain seperti ini akan mengakibatkan bahaya
dan kerusakan. Bencana apakah yang lebih besar dari pada berkuasanya orangorang
kafir dinegaranegara
kaum muslimin dan memaksakan kepada kaum muslimin untuk mengikuti hukumhukum
kafir dan berusaha untuk merusak kaum muslimin dan merusak agama mereka dengan berbagai
sarana makar. Maka barangsiapa berpendapat untuk mengundur jihad sampai selesai mentarbiyah
orang yang ingin berjihad, orang yang berpendapat seperti ini tidak memahami bahwa sarana
penghancur jumlahnya berlipat ganda dibandingkan sarana untuk membangun.
“Mereka tidak hentihentinya
memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari
agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup” (QS. Al Baqarah : 217)
“Orangorang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti
agama mereka” (QS. Al Baqarah : 120)
Dan juga tidak memahami bahwasannya orangorang
kafir tidak akan menyisakan satupun sarana
tarbiyah yang baik. Alloh berfirman :
“Dan sekiranya Alloh tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain,
tentulah telah dirobohkan biarabiara
Nasrani, gerejagereja,
rumahrumah
ibadat orang Yahudi
dan Masjidmasjid,
yang didalamnya banyak disebut nama Alloh. Sesungguhnya Alloh pasti
menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Alloh benarbenar
Maha Kuat lagi
Maha Perkasa”. (QS. Al Hajj : 40)
Seandainya Alloh tidak menahan orangorang
kafir dengan para mujahidin pasti tidak akan tersisa
satupun tempat yang layak untuk beribadah kepada Alloh. Oleh karena itu Ibnul Qoyyim
menggambarkan keadaan mujahidin dengan mengatakan: ”Mereka telah mengerahkan jiwa mereka
untuk cinta mereka kepada Alloh, membela agamaNya, menegakkan kalimatNya, dan melawan
musuhmusuhNya.
Dan mereka itu bersekutu dengan setiap orang yang membela Alloh dengan menggunakan pedangpedang
mereka dalam amalanamalan
yang mereka kerjakan meskipun mereka tidur didalam rumah
mereka. Dan mereka mendapatkan pahala orang yang bisa beribadah lantaran jihad mereka dan
kemenangan yang mereka raih, karena merekalah yang menjadi faktor penyebab.
Dan Alloh yang membuat syari’at, memberikan pahala dan dosa kepada orang yang menjadi faktor
penyebab sebuah amalan sebagaimana orang yang mengamalkan amalan tersebut. Oleh karena itu
orang yang mengajak kepada kebenaran dan orang yang mengajak kepada kesesatan masingmasing
mendapatkan pahala dan dosa sebagaimana orang yang mengikutinya” (Thoriiqul Hijrotain, cet.
Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1403 H. hal.355)
3. Jika kekuatan fisik kaum muslimin telah mencapai batas kemampuan yang disebutkan dalam ayat :
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka semampu kalian”
dan dia yakin akan dapat meraih kemenangan, maka dia wajib untuk memulai jihad. Dan jihad tidak
diundur dengan alasan untuk menyempurnakan I’dad imani. Dengan demikian ketika tidak mampu
melaksanakan jihad, maka dua bentuk I’dad itu baik secara materi maupun secara iman harus
diusahakan, maka barangsiapa yang berusaha untuk melakukan I’dad imani namun dia meninggalkan
I’dad maddi atau mengundurnya, maka dia berdosa karena meninggalkan kewajibannya tersebut
dalam ayat :
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian mampu”
4. I’dad imani harus dilakukan sepanjang tahapan sejak sebelum dimulainya jihad dan ketika
dilaksanakan jihad. Sebagaimana yang telah saya sebutkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu
merupakan ciri yang senantiasa menyertai kaum muslimin baik sebelum berkuasa maupun setelah
berkuasa. Dan sebaikbaik
sarana tarbiyah adalah tarbiyah yang dilakukan ketika berlangsungnya
jihad. Karena manusia dalam keadaan seperti ini, biasanya lebih dekat kepada Alloh. Sebagaimana
Rosul senantiasa memberikan pengarahan kepada para sahabatnya ketika mereka sedang
melaksanakan jihad. Dan tidak ada seorangpun yang mengatakan kita undur jihad sampai selesai
tarbiyah. Diantaranya adalah sabda Nabi SAW,
“Ya Alloh aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh kholid” hadits ini diriwayatkan oleh Al
Bukhooriy
Dan juga sabda Beliau kepada ekspedisi yang dipimpin oleh Abdullah bin Hudzaifah :
“Jika mereka masuk kedalam api tersebut, mereka tidak akan keluar selamanya. Sesungguhnya
ketaatan itu hanya pada perbuatan yang ma’ruf” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhooriy)
Dan sabda beliau kepada Usaamah bin Zaid :
“Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illAlloh?” (Hadits ini Muttafaq
‘Alaih)
Dan juga sabda Beliau kepada Abu Dzar :
“Kamu adalah orang yang padamu terdapat jahiliyyah” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhooriy)
Dan juga sabda Beliau pada suatu peperangan :
“Sesungguhnya Alloh benarbenar
menolong agama ini dengan orang yang fajir” (Hadits ini
diriwayatkan oleh Al Bukhooriy)
Begitu pula peristiwa haditsul ifki yang terjadi setelah suatu pertempuran. Rosululloh melaksanakan
hukuman had penuduh berzina kepada orang yang menyebar luaskan fitnah itu. Diantara mereka ada
orang yang pernah ikut perang Badar yaitu Misthoh bin Utsaatsah dan diantara mereka ada seorang
juru sya’ir Nabi yaitu Hassan bin Tsabit (lihat Fathul
Baariy, VIII / 378379).
Oleh karena itu bisa
jadi orang yang sempurna, mulia dan disaksikan masuk surga, namun dia melakukan dosadosa
besar
sebagaimana Misthoh bin Utsatsah dan Haathib bin Abi Balta’ah ra, Rosululloh SAW bersabda
tentang Haathib :
“Bukankah dia ikut perang Badar? Apakah kamu tidak tahu, bisa jadi Alloh telah melihat kepada
mereka kemudian mengatakan kepada mereka:”Berbuatlah semau kalian, Aku telah wajibkan kalian
masuk surga” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhooriy, no. 6936).
Ibnu Hajar berkata: ”Sesungguhnya seorang mukmin itu meskipun dia sampai derajat kesholihan dan
dipastikan dia masuk surga, dia tidak dijamin untuk tidak terjerumus kepada perbuatan dosa, karena
Haathib termasuk orang yang diwajibkan oleh Alloh untuk masuk surga namun dia melakukan
perbuatan sebagaimana yang telah dia lakukan”. (Fathul
Baariy, XII/ 310). Dan contoh dalam
masalah ini banyak. Maka tarbiyah iman itu dilakukan ketika berperang, dan jihad tidak ditunda
dengan alasan tarbiyah. Tarbiyah itu sebagaimana
yang lalu tidak
berhenti kecuali setelah mati.
Dan Alloh SWT, membolakbalik
hati sesuai dengan kehendakNya.
5. Al ‘Adaalah bukanlah syarat wajibnya jihad. Orang fasiq boleh ikut berjihad jika manfaatnya untuk
berjihad lebih besar dari pada kerusakan yang ditimbulkan. Sebagaimana telah diperinci didepan.
Dan orang yang menimbulkan kerusakan dan berkhianat dilarang untuk ikut berjihad.
6. Sesungguhnya bukanlah merupakan aib bagi kaum muslimin adanya orangorang
yang bermaksiat
didalam barisannya. Akan tetapi yang menjadi aib adalah membiarkan mereka berbuat maksiat dan
tidak mengarahkan mereka untuk mentaati perintah dan larangan Alloh. Karena kesalahan dan
kemaksiatan itu tidak akan pernah terpisah dari manusia. Rosululloh pun pernah melaksanakan
hukuman had bagi pezina, pemfitnah zina, peminum khomer, pencuri, hiroobah (perampok) pada
masa hidup beliau. Dan orangorang
munafiq dahulu ikut keluar berperang sebagaimana yang telah
kami sebutkan diawal kitab. Namun demikian tidak seorangpun yang mengatakan kami tidak akan
berjihad selama dalam barisan kami ada orangorang
yang bermaksiat dan munafiq. Padahal
Rosululloh SAW bersabda :
“Tidaklah datang suatu haripun kepada kalian kecuali setelahnya pasti lebih jelek dari pada
sebelumnya” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhooriy dari Anas)
Intinya adalah jika ada beberapa orang yang bermaksiat pada sebuah kelompok yang berjihad yang
tegak melaksanakan perintah Alloh, sesungguhnya hal ini bukanlah alasan untuk tidak berjihad
bersama mereka.
7. Jika tidak terdapat kelompok seperti diatas (yaitu kelompok baik yang didalamnya terdapat
beberapa orang yang bermaksiat) sehingga jihad tidak mungkin dilaksanakan kecuali bersama
pemimpin yang fajir atau bersama pasukan yang banyak melakukan dosa, maka wajib berjihad
bersama mereka sebagaimana
kata Ibnu Taimiyyah untuk
menolak salah satu dari dua
kerusakan yang lebih besar yaitu
kerusakan orangorang
kafir dan
inilah taqwa kepada Alloh
sesuai dengan kemampuan yang disebutkan dalam ayat :
“Maka bertaqwalah kalian sesuai dengan kemampuan kalian” (QS. At Taghabun : 16)
Sesungguhnya tidak ada kerusakan yang lebih besar dari pada berkuasanya orangorang
kafir di
negaranegara
kaum muslimin, dan halhal
yang ditimbulkannya, yaitu kemurtadan yang dipaksakan
kepada kaum muslimin secara umum kecuali orang yang dirahmati Alloh, sesungguhnya Alloh itu
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Alloh berfirman :
“Dan mereka tiada hentihentinya
memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu
dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad
diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang siasia
amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni naar, mereka kekal didalamnya”
(QS. Al Baqarah : 217)
Maka seorang muslim boleh berperang bersama pemimpin yang fajir atau pasukan yang banyak dosa,
karena dalam hal ini ia membantu mereka untuk kebaikan dan taqwa dan tidak membantu untuk
berbuat dosa dan permusuhan, ia mentaati mereka untuk ketaatan kepada Alloh dan tidak mentaati
dalam perbuatan maksiat, dan ia berusaha keras untuk menasehati mereka, supaya Alloh
memperbaiki mereka. Dan pada kesempatan yang lain Ibnu Taimiyyah berkata: ”Jika kewajiban
seperti menuntut ilmu, jihad, dan yang lainnya tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan orang yang
berbuat bid’ah yang bahayanya lebih kecil daripada bahaya meninggalkan kewajiban tersebut, maka
harus diraih kemaslahatan dengan melaksanakan kewajiban tersebut meskipun harus dengan
menanggung kerusakan yang lebih ringan, hal itu lebih baik dari pada sebaliknya. Oleh karena itu
pembahasan dalam masalah ini haruslah diperinci.” (Majmuu’ Fataawaa, XXVIII / 212)
Asy Syatibi berkata: ”Dan begitu juga jihad bersama para pemimpin yang dzalim, para ‘ulama
membolehkannya.” Maalik berkata: ”Jihad itu jika ditinggalkan pasti akan menimbulkan bahaya
terhadap kaum muslimin. Jihad itu permasalahan darurat, dan keberadaan pemimpin dalam jihad itu
juga darurat. Sedangkan Al ‘Adaalah itu adalah penyempurna sesuatu yang darurat itu. Dan sesuatu
yang menjadi penyempurna itu jika ketidak adaannya mengakibatkan tidak adanya hal yang
mendasar maka penyempurna itu tidak diperhitungkan lagi.” (Al Muwaafaqoot, II / 15)
Dan Muhamad Ibnu Hazm mempunyai perkataan keras terhadap orang yang melarang jihad
melawan orangorang
kafir bersama pemimpin yang fajir. Beliau berkata: ”Tidak ada dosa yang lebih
besar setelah kekafiran selain dosa orang yang melarang berjihad melawan orangorang
kafir dan
memerintahkan untuk menyerahkan wanitawanita
kaum muslimin kepada orangorang
kafir
tersebut dengan alasan kefasikan seorang muslim, padahal kefasikannya itu tidak akan ditanggung
oleh orang lain” (Al Muhallaa, VII / 300)
Saya katakan : dan dalam bab Tiga telah saya jelaskan bahwa seorang amir fajir yang dipebolehkan
berperang bersamanya jika
tidak ada yang lain adalah
orang yang kefajirannya hanya
berdampak pada dirinya sendiri dan dibawah tingkat kekafiran.
Dari pembahasan diatas wahai saudaraku muslim, dapat kita fahami bahwa orang yang mengatakan
”kami tidak akan berjihad sebelum kami belajar ilmu syar’i dahulu, atau sebelum kami menyelesaikan
tarbiyah imaniyah dahulu, atau mengharuskan setiap muslim untuk melakukan hal ini”, pendapat ini
mengakibatkan musnahnya agama Islam. Dan sebagaimana yang saya katakan dalam bantahan saya
terhadap syubhat Syaikh Al AlBani, bahwa menuntut ilmu dan tarbiyah itu adalah benar, dan kami
mengajak manusia untuk melaksanakan keduanya, namun harus diperhatikan ketentuanketentuan
berikut :
A. Sesungguhnya belajar dan tarbiyah itu bukanlah syarat wajibnya jihad. Artinya, kita tidak boleh
melarang berjihad orang yang belum mempelajari diinnya dan belum membersihkan jiwanya. Kecuali
ilmu yang hukumnya fardlu ‘ain yang khusus masalah jihad, seperti ilmu tentang disyari’atkannya
jihad dan memahami kelompok apa yang ia perjuangkan.
B. Sesungguhnya jalan keluar dari kehinaan yang menimpa kehidupan kaum muslimin ini adalah
jihad, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits marfu’ dari Tsauban :
“Hampir tiba saatnya kalian dikeroyok oleh berbagai bangsa…”
Dan Hadits marfuu’ dari Ibnu ‘Umar :
“Jika kalian saling berjual beli dengan cara ‘iinah…”
Kedua hadits ini telah disebutkan didepan. Dan kami berpendapat bahwa jihad ini merupakan
kewajiban mayoritas kaum muslimin khususnya adalah jihad melawan pemerintah yang murtad. Oleh
karena itu kami berpendapat bahwa belajar dan tarbiyah itu adalah bagian dari I’dad untuk berjihad,
untuk membentuk satu kelompok mujahid yang berilmu dan beragama, dan kami tidak menganggap
belajar dan tarbiyah itu sebagai jalan penyelesaian masalah tanpa jihad, sebagaimana telah berlalu
dalam bantahan terhadap syubhat Syaikh Al Albani.
(Diterjemahkan dari kitab Al Umdah fii I’daadil ‘Uddah lil Jihaadi fii Sabiilillah, Syaikh Abdul Qadir
bin Abdul Aziz, hal.583597)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: