Amal bil khowatim

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Segala puji bagi Alloh, Dzat yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Yang telah mensyariatkan agama yang lurus. Yang menyeru kepada shirothu `l-mustaqim dan mengingatkan agar menghindari jalan menuju neraka Jahim. Yang telah menjanjikan nikmat bagi orang-orang yang mendapat petunjuk, serta siksa membakar bagi orang-orang sesat.

Dan aku bersaksi bahwa tiada ilâh (yang haq) selain Alloh, satu-satu-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia lah Robb ‘Arsy yang agung. Milik-Nya lah keagungan di langit dan di bumi, Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Yang telah menetapkan bahwa amal perbuatan itu tergantung pada penutupnya; maka siapa yang terselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung karena telah memperoleh ganjaran abadi. Sementara siapa yang mengikuti hawa nafsu dan syetannya, maka sudah sepantasnya ia menanggung siksa nan pedih.

Aku juga bersaksi bahwa junjungan kita, Nabi Muhammad, adalah hamba sekaligus utusan-Nya, seorang nabi yang mulia. Pemilik hati yang selamat dan manhaj yang lurus. Alloh telah lebihkan beliau dengan taklim[1] dan ta‘lim (pengajaran ilmu kepada umatnya). Sosok yang lemah lembut lagi penyayang terhadap orang-orang beriman, tauladan bagi seluruh alam dan yang berperangai lembut. Yang telah mengajari umatnya agar berkata benar dan beramal sesuai petunjuk serta mengingatkan mereka akan hari yang dijanjikan (hari kiamat). Semoga sholawat dari Alloh tercurahkan kepada beliau setiap kali orang-orang berakal mengambil pelajaran, setiap kali seorang hamba bertaubat setelah berbuat dosa, dan setiap kali pelaku maksiat mendapat petunjuk dan kembali ke jalan yang benar; juga kepada keluarga dan shahabat beliau, serta orang-orang yang berjalan di atas jalannya hingga hari kemudian.

Amma ba‘du…

Sesungguhnya Alloh telah menciptakan manusia ini dalam tahapan-tahapan yang berbeda satu sama lain di mana ia berkembang dari satu tahap ke tahap berikutnya. Semakin menguat ketika menjalani satu tahap ke tahap berikutnya, kemudian berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain. Manusia berpindah, yang tadinya di tulang sulbi menuju rahim. Dari rahim menuju alam dunia. Kemudian dari dunia berpindah ke alam kubur, dari kubur menuju padang mahsyar, setlah itu tahap penghitungan amal (hisab), setelah hisab kemudian menuju surga atau neraka. Alloh Ta‘ala berfirman:

Teks arab

“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.  Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” (QS. Al-Mukminun [23]: 12-16)

tahapan-tahapan ini merupakan fakta-fakta agung yang menjadi bukti akan keagungan Alloh, keesaan-Nya dan bahwa hanya Dia saja lah yang Mahapencipta dan mengadakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Juga menjadi bukti bahwa pada segala sesuatu Alloh mempunyai tanda kekuasaan yang menunjukkan bahwa Dia adalah Esa. Sungguh indah kata-kata seseorang:

Mengherankan…bagaimana tuhan bisa ditentang

Atau, bagaimana orang bisa mengingkari-Nya

Padahal  pada setiap gerakan dan diamnya sesuatu, Alloh mempunyai bukti

Juga di dalam semua hal, Ia memiliki tanda kekuasaan

Yang menunjukkan bahwa Dia adalah satu…

Abu Nawas berkata,

Perhatikan taman-taman di bumi dan lihatlah

Akan tanda-tanda dari apa yang telah dibuat oleh Sang Raja

Kilauan-kilauan perak yang berkelip

Menyinarkan guratan-guratan seperti batangan emas pada kutub zabarjad

Yang semuanya bersaksi bahwa Alloh tidaklah mempunyai sekutu

Alloh telah memelihara manusia di dalam semua tahapan kehidupan yang ia lalui. Bahkan Alloh memberinya makan dan minum serta menundukkan segala sesuatu untuknya. Alloh telah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi serta melebihkannya dari kebanyakan makhluk ciptaan-Nya, dan memberinya bekal berupa akal, serta menciptakannya di atas fitrah Islâm. Alloh Ta‘ala berfirman:

Teks arab

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)

Abu Huroiroh a meriwayatkan bahwasanya Rosululloh n bersabda:

Teks arab

“Tidaklah seseorang lahir melainkan dalam keadaan fitroh (Islâm). Kemudian kedua orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, atau nashrani, atau majusi. Sebagaimana [kurang hal. 6].” (Muttafaq ‘Alaih)

bahkan Alloh juga telah mengutus para rosul dan menurunkan kitab-kitab, menegakkan hujjah dan menjelaskan petunjuk. Maka, tidak ada lagi alasan bagi manusia (untuk tidak mengikuti petunjuk) kecuali memang dia lebih mengikuti hawa nafsu dan syahwat serta lebih memilih tersesat mengikuti berbagai fitnah dan syubhat. Syetan memang senantiasa merayu manusia dengan berbagai godaan dan mengajaknya kepada bermacam-macam kesesatan, menghiasi amal buruknya sehingga tampak indah dan menjadikannya asal-asalan dalam mentaati Alloh. Menyibukkannya dengan berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah, hingga syetan berhasil menjerat manusia dengan tali-talinya dan menguasainya dengan pasukannya, setelah itu membiarkannya terombang-ambing hingga akhirnya binasa.

Alloh Ta‘ala berfirman:

Teks arab

“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.” Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka Apakah kamu tidak memikirkan?” (QS. Ya Sin [36]: 60-62)

‘Iyadh bin Himar a meriwayatkan bahwasanya Rosululloh n suatu hari pernah berkhutbah, beliau bersabda dalam khutbahnya: “Wahai manusia, sesungguhnya Alloh Ta‘ala memerintahkanku untuk mengajarkan kepada kalian apa yang tidak kalian ketahui tapi diajarkan oleh-Nya kepadaku pada hari ini: sesungguhnya, apa saja yang tidak diketahui oleh hamba-hamba-Ku maka berarti itu halal. Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus seluruhnya, lalu syetan mendatangi mereka dan menyesatkan mereka dari agama mereka, serta memerintahkan mereka agar mensekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak pernah Aku turunkan hujjah atasnya.” (HR. Muslim)

Syetan telah mempersiapkan pasukannya, mengerahkan segala upaya dan balatentaranya untuk menggoda dan menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Alloh Ta‘ala berfirman:

Teks arab

“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shod [38]: 82-83)

Bahkan, Iblis telah berjanji untuk menyerang manusia dari arah mana saja, dari depan dan belakang, dari arah kanan dan dari arah kiri. Tujuan dia adalah untuk menyumbat semua jalan sekaligus menguasainya, sehingga manusia hidup dalam kesesatan dan berkubang dalam kegelapan. Alloh Ta‘ala berfirman:

Teks arab

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A‘rof [7]: 16-17)

Dan setiap ibadah yang dicintai Alloh, pasti dibenci syetan. Setiap maksiat yang dibenci oleh Yang Mahapengasih, pasti disukai oleh syetan. Maka dari itu, syetan tidak pernah berhenti bekerja untuk menyesatkan manusia. Anda akan temukan bahwa syetan tidak sebatas mengajak manusia kepada kekafiran, dosa dan berbagai perbuatan maksiat; lebih dari itu syetan juga menghalangi manusia dari kebaikan. Tidak ada satu pun jalan menuju kebaikan yang ditempuh oleh seorang hamba Alloh melainkan pasti syetan duduk di sana untuk menghalang-halangi dan membelokkannya. Di dalam sebuah hadits disebutkan, “Sesungguhnya syetan duduk di jalan-jalan yang dilalui anak Adam. Pertama-tama ia duduk di atas jalan Islâm, ia berkata, “Apakah kamu mau masuk Islâm dan meninggalkan agama agamamu, agama bapakmu dan agama nenek moyangmu?” maka anak Adam itu mengabaikannya dan terus masuk Islam. Kemudian syetan duduk di atas jalan hijrah, ia berkata, “Apakah kamu mau berhijrah dan meninggalkan tanah dan langitmu?” ia kembali tidak mempedulikannya dan terus berhijrah. Setelah itu syetan duduk di atas jalan jihad, ia berkata, “Apakah kamu mau berjihad, padahal jihad itu mengorbankan harta dan nyawa, lalu kamu mau berperang kemudian terbunuh, istrimu dinikahi orang dan hartamu dibagi-bagi?” ia kembali tidak mempedulikannya dan terus berjihad…Maka barangsiapa yang melakukan hal ini, sudah menjadi kewajiban Alloh untuk memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Ahmad, Nasa’î, dan Ibnu Hibbân dengan Isnad shohîh)

Godaan syetan akan semakin dahsyat ketika seseorang berada pada detik-detik menjelang kematiannya. Sebab syetan tahu bahwa saat itu adalah saat penutupan amal perbuataannya dan saat di mana ia akan menghabiskan masanya di dunia, setelah itu akan menuju akhirat. Maka dalam kondisi ini, syetan menyerunya kepada agama yahudi, nashrani, atau idiologi-idiologi lain yang bertentangan dengan Islam. Abdulloh putera Imam Ahmad bin Hanbal pernah bercerita, “Ketika itu ayahku tengah menanti ajal, sementara di tanganku kupegang sesobek kain yang kupakai untuk mengikat jenggot beliau. Tiba-tiba beliau pingsan, kemudian tersadar sembari berkata sambil menggerak-gerakkan tangannya, “Tidak akan, tidak akan…” beliau melakukan hal ini berkali-kali. Maka aku bertanya kepadanya, “Wahai ayahanda, apa yang tampak di hadapanmu?” beliau menjawab, “Sesungguhnya syetan berdiri di depanku sambil menggigit jarinya, ia mengatakan: Wahai Ahmad, godalah aku. Maka aku mengatakan, tidak akan, tidak akan, sampai aku mati.”[2]

Qurthubî berkata, “Aku mendengar syaikh kami, Imam Abu `l-‘Abbâs Ahmad bin ‘Umar Al-Qurthubî berkata, “Saudara syaikh kami, Abû Ja‘far Ahmad bin Muhammad Al-Qurthubî di kota Kordoba tengah menjelang ajal. Maka dikatakan kepadanya, “Ucapkanlah Lâilâhaillallôh.” Ia menyahut, “Tidak, tidak.” Maka ketika ia tersadar, hal itu kami ingatkan kepadanya, ia berkata, “Tadi syetan datang kepadaku dari arah kanan dan kiriku dan mengatakan, Matilah kamu sebagai yahudi, matilah kamu sebagai nashrani, maka aku pun menjawab, Tidak…tidak.”[3]

Karena syetan terus menggoda manusia, maka pengikutnya semakin lama semakin banyak. Abû Sa‘id Al-Khudri a meriwayatkan, ia berkata, Rosululloh n bersabda, “Alloh berfirman: Hai Adam. Adam menjawab, “Labbaik, hamba menjawab dengan senang hati, dan segala kebaikan hanya ada di kedua tangan-Mu.” Alloh berfirman: “Keluarkanlah delegasi neraka.” Adam bertanya, “Apa itu delegasi neraka?” Alloh berfirman, “Setiap seribu orang, ada 999 orang.” Maka di saat itulah anak kecil menjadi beruban, wanita hamil jatuh kandungannya, dan engkau lihat manusia dalam keadaan mabuk padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Alloh itu pedih…” (Muttafaq ‘Alaih)

Melihat pentingnya masalah ini dan sikap acuh umat manusia, di satu sisi hawa nafsu menjadi ikutan dan adanya sikap cinta kepada dunia dengan melupakan akhirat, dan melihat tidak adanya persiapan yang dilakukan untuk menyongsong kematian dan yang terjadi setelahnya, maka saya merasa perlu untuk mengingatkan orang-orang yang lalai serta membangunkan orang-orang yang terlelap dengan kisah-kisah yang saya himpun dari berbagai referensi, di mana kisah-kisah tersebut mengkisahkan bagaimana kehidupan orang-orang terdahulu serta bagaimana kondisi generasi yang menyusul mereka, kaitannya dalam hal amal perbuatan dan kata-kata yang mengakhiri lembar-lembar hidupnya. Di dalam sebuah hadits dinyatakan, “Semua yang mati diakhiri sesuai amalnya saat itu.” (HR. Abû Dâwud, Tirmizî dan Hâkim dengan sanad shohih dari Fadhôlah bin ‘Ubaid)

Penulis memberi judul buku ini dengan “Al-A‘mâl bi `l-Khowâtîm” (yang artinya: Amal tergantung pada akhir penutupannya) karena didorong rasa harap agar dirinya mendapatkan akhir kehidupan yang baik (Husnu `l-Khôtimah) dan agar terhindar dari akhir kehidupan yang buruk. Penulis mengerti –secara yakin—bahwa hanya milik Alloh saja lah segala urusan, baik yang lampau mau pun yang akan datang, dan bahwa semua urusan itu sudah ditentukan dan ditakdirkan. Akan tetapi semua ini demi mengamalkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang dibawakan oleh Ali bin Abi Tholib a bahwasanya Rosululloh n bersabda, “Beramallah kalian, sebab semuanya akan dimudahkan bagi takdir yang telah ditentukan untuknya.”[4] Juga didorong keinginan yang kuat untuk menempuh sebab-sebab memperoleh keselamatan, mengingatkan sesama manusia agar mewaspadai hawa nafsunya, dan agar mereka mengejar apa yang dicintai dan diridhoi Alloh.

Akhirnya, penulis memohon kepada Alloh agar menjadikan jerih payah ini ikhlas semata-mata mengharap wajah-Nya yang mulia, benar sesuai sunnah Nabi-Nya n, dan menjadikannya bermanfaat bagi penulis dan pembacanya, menampakkan buahnya sebagai pelajaran dan iktibar, serta mengampuni dosa-dosa kita, melipat gandakan pahala kita dan meninggikan derajat kita. Dan semoga Alloh juga memaafkan semua kesalahan penulis pribadi dan saudara-saudara saya kaum muslimin.

Bila ada isi buku ini yang benar, maka itu hanya dari Alloh semata. Dan bila ada kesalahannya, maka itu berasal dari saya sendiri dan dari syetan, Alloh dan rosul-Nya berlepas diri darinya. Ini hanyalah karya apa adanya yang saya harapkan bisa memperbaiki amal, mengingatkan akan ajal, sekaligus sebagai peringatan agar kita tidak terbuai dengan angan-angan. Kami memohon kepada Alloh akhir kehidupan yang baik, kesadaran umat manusia, dan pengawasan selalu dari Dzat yang Maharaja lagi Mahamengetahui.

Ditulis oleh:

Sa‘d bin Sa‘îd Al-Hujrî

Abhâ

KEMATIAN SEBAGAI AKHIR KEHIDUPAN

Hidup dan mati adalah dua hal yang saling berlawanan sebagaimana berlawanannya cahaya dan kegelapan, panas dan dingin. Maka dari itu, dalam kamus-kamus bahasa arab, masing-masing dari kedua kata yang berlawanan ini didefinisikan sebagai kebalikan dari lawannya. Para pakar bahasa mengatakan mengenai definisi kematian: yaitu diam, setiap yang terdiam berarti ia telah mati. Misalnya Anda mengatakan, “Api itu mati,” maka maksudnya adalah ketika abunya sudah dingin. Contoh lain, “Angin itu mati,” yaitu ketika diam dan tenang.[5]

Kehidupan manusia terjadi ketika ruh ditiupkan ke dalam jasad jabang bayi di dalam rahim ibunya. Sedangkan kematian terjadi dengan terputusnya hubungan antara nyawa (ruh) dengan badan. Ketika itu kondisi telah berubah dan terjadilah perpindahan dari satu negeri ke negeri yang lain.[6]

Jadi kematian adalah berpisahnya ruh dari jasad serta tidak berfungsinya lagi tubuh untuk beramal. Ia adalah perpisahan dengan keluarga, tetangga dan masyarakat. Ia adalah perpindahan dari “istana” menuju liang kubur. Perpindahan dari yang tadinya bergerak menjadi diam. Perpindahan dari dunia menuju akhirat. Meninggalkan makan, minum dan pakaian. Serta perpindahan dari muka bumi menuju perutnya dan meninggalkan dunia menuju alam barzakh.

Mati adalah suatu kepastian yang tidak bisa dihindari. Ia pasti terjadi pada setiap makhluk hidup. Alloh Ta‘ala berfirman:

Teks arab

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Qoshosh [28]: 88)

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rohmân [55]: 26-27)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Âli ‘Imrôn [3]: 185)

Seandainya ada yang layak untuk lolos dari kematian, tentu ia adalah makhluk Alloh terbaik, yaitu Nabi Muhammad n. Padahal Alloh l berfirman, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) pasti mati, dan mereka pun akan mati.” (Az-Zumar [39]: 30)

Alloh l juga telah menghibur Rosul-Nya n bahwa kematian adalah sunnatullôh yang pasti berlaku atas makhluk-Nya, “Dan tidaklah Kami menjadikan seorang pun dari sebelum kamu (Muhammad) itu kekal. Apakah jika kamu mati lantas mereka akan hidup kekal?” (Al-Anbiyâ’ [21]: 34)

Kematian pasti akan berlaku, baik atas anak kecil mau pun orang tua, laki-laki mau pun perempuan, manusia merdeka maupun budak sahaya, pemimpin mau pun rakyat. Ia tidak akan permisi dengan mengetuk pintu terlebih dahulu dan tidak memandang tabir pembatas. Tidak menerima pengganti dan mengambil penjamin. Tega walau pun kepada anak kecil, tidak segan dengan orang tua.

Betapa banyak raja yang kerajaannya dirampas oleh kematian di atas singgasananya. Setelah itu si raja berkata, “Duh, seandainya aku dulu hanyalah seorang tukang roti yang membuatkan roti untuk manusia. Duh seandainya aku dulu hanyalah seorang tukang cuci atau tukang kayu. Duh, seandainya aku hanya dimintai tanggung jawab hanya tentang diri dan keluargaku saja dan tidak dimintai pertanggung jawaban tentang urusan orang banyak.”

Betapa banya para pemuda yang tertipu oleh masa mudanya dan terbuai oleh angan-angannya. Lalu ia lbih sibuk menuruti hawa nafsunya dan begitu percaya diri dengan kekuatan dirinya sendiri. Kemudian ia hanya bisa berkata, “Duhai betapa sayangnya hari-hari yang telah lewat. Duh seandainya dulu aku menjaga masa mudaku, kugunakan kekuatanku sebaik-baiknya dan diriku selalu merasa diawasi robbku. Duh seandainya aku dulu bisa mengalahkan hawa nafsuku dan lebih kukedepankan akal sehatku daripada dorongan syahwat dan kelalaianku. Duh seandainya aku dulu menggunakan Islam sebagai cahaya untuk menyeberangi kegelapan. Duha seandaianya dulu aku mentaati Alloh dan Rosul. Duh seandainya aku dulu tidak mengangkat syetan dan teman-teman jahat sebagai sahabat dekat.”

Betapa banyak orang kaya mengatakan, “Duh, seandainya hartaku dulu secukupnya saja dan kuhasilkan dari pencaharian yang halal.”

Begitulah, ketika kematian tiba maka penyesalan dan keluhan-keluhan keluar dari orang-orang yang suka berbuat dosa. Sebaliknya, sunggingan senyum nampak pada wajah orang-orang yang senantiasa taat kepada Alloh, berbagai kemuliaan muncul dari diri mereka dan derajat mereka pun ditinggikan.

Telah diriwayatkan bahwa Nabiyyullôh Dâwud q adalah seorang yang sangat pencemburu. Konon apabila beliau keluar rumah, beliau menutup pintu-pintu rumah. Pada suatu hari, seperti biasa beliau menutup pintu-pintu rumahnya dan keluar. Kemudian istri beliau [kurang hal. 12] pada rumah tersebut, tiba-tiba saja ia melihat seorang lelaki di dalamnya. Maka ia berkata, “Siapa yang memasukkan lelaki ini? Sungguh kalau Dâwud datang pasti ia akan menghukumnya.” Tak lama kemudian Dawud datang dan melihat lelaki itu. Maka ia berkata, “Siapa kamu?” lelaki itu menjawab, “Aku adalah yang tidak takut kepada para raja dan tidak terhalangi oleh tabir apa pun.” Mendengar itu, Nabi Dawud berkata, “Kalau begitu, demi Alloh engkau adalah malaikat Maut.”

Kisah ini terdapat dalam sebuah hadits dari Abû Huroiroh yang diriwayatkan oleh Ahmad dengan isnâd jayyid.[7]

Setiap muslim haruslah senantiasa dalam kondisi siap menyongsong kematian sewaktu-waktu ia datang. Sebab ia tidak mengerti kapan ajalnya tiba. Bahkan, Alloh l lebih dahulu menyebut kematian daripada kehidupan agar perhatian terhadap kematian lebih besar, di dalam firman-Nya:

Teks arab

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk [67]: 1, 2)

Nabi n memerintahkan agar memperbanyak mengingat kematian. ‘Abdullôh bin ‘Umar, Abû Huroiroh dan Anas bin Mâlik meriwayatkan bahwa Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Perbanyaklah meningat penghancur kelezatan: yaitu kematian.” (HR. Tirmizî, Nasâî, Ibnu Mâjah dan lain-lain dengan sanad shohih)

Ubay bin Ka‘ab a meriwayatkan bahwasanya Rosululloh n apabila telah tiba seperti tiga malam, beliau bangun dan berkata, “Ingatlah Alloh, ingatlah Alloh. Tiupan pertama yang menggoncangkan alam telah tiba dan diikuti tiupan berikutnya. Tiupan pertama yang menggoncangkan alam telah tiba dan diikuti oleh tiupan berikutnya.” (HR. Ahmad, Tirmizî, dan Hakim dengan sanad hasan)

Mengingat mati adalah dengan cara merenungkannya, merenungkan kengerian-kengeriannya, kegoncangan-kegoncangannya dan berbagai peristiwa dahsyat yang bakal terjadi saat itu. Juga memikirkan bagaimana kondisi seorang manusia ketika tengah menghadapi keadaan seperti itu, dan apakah setelah itu hasil yang akan dia peroleh kenikmatan ataukah siksa. Sungguh indah perkataan seorang penyair:

Ingatlah kematian, engkau akan dapatkan ketenangan

Dengan mengingat mati angan-angan menjadi pendek

Ada juga yang mengatakan:

Ia berteriak: bersiaplah dan ingatlah selalu

Akan kematian,

Sebab melupakannya adalah kesesatan yang nyata

Dikisahkan bahwa Yazid Ar-Ruqôsyî pernah mengatakan kepada dirinya sendiri, “Celaka dirimu wahai Yazid…siapa yang akan sholat untukmu setelah engkau mati?” setelah itu ia berkata, “Wahai manusia, tidakkah kalian menggunakan sisa hidup kalian untuk menangisi diri kalian sendiri? karena kematian mengejarnya, kuburan menjadi tempat tinggalnya, tanah menjadi alas tidurnya, cacing menjadi temannya, bagaimanakah kondisi orang yang seperti ini keadaannya?” Setelah itu, Yazid menangis hingga jatuh pingsan.

At-Taimî berkata, “Dua hal yang memutuskan kelezatan dunia dariku: Mengingat mati dan mengingat saat berdiri di hadapan Alloh l (hari kiamat).”

Ad-Daqôq berkata, “Siapa yang banyak mengingat mati akan dimuliakan dengan tiga perkara: Menyegerakan taubat, hati yang menerima, dan ibadah yang rajin. Dan siapa yang melupakan kematian akan dihukum dengan tiga perkara: Menunda taubat, tidak puas dengan rezeki yang cukup dan malas dalam beribadah.”

Wahai kalian yang terlena, mari kita fikirkan kematian dan sakaratul maut, serta betapa sulit dan pahitnya kita menjalaninya. Sungguh, kematian pasti menepati saat tibanya kepada orang yang ia janjikan. Sungguh kematian adalah hakim yang adil. Cukuplah kematian itu menjadikan hati gembira, menjadikan mata menangis, menjadikan kumpulan orang terpisah, menghancurkan kelezatan dan memutuskan angan-angan. Tidakkah engkau memikirkan, wahai anak Adam, hari ketika engkau meninggal dunia dan berpindah dari tempatmu sekarang? Ketika engkau akan dipindahkan dari tempat yang lapang menuju tempat yang sempit. Yang tadinya kawan dekatmu, saat itu mengkhianatimu. Saudara dan sahabatmu akan meninggalkanmu. Wahai mereka yang mengumpulkan harta dan rajin membangun gedung, kalian tidak memiliki harta selain kafan. Tidakkah kita mengadakan persiapan bekal untuk kematian sebelum ia datang? Tidakkah kita menyiapkan bekal untuk alam kubur sebelum menempatinya? Tidakkah kita berbuat sesuatu yang membuat Alloh l ridho sebelum kita berdiri di hadapan-Nya kelak?

PERISTIWA-PERISTIWA DAHSYAT DALAM KEMATIAN

Kematian adalah musibah. Alloh l berfirman:

Teks arab

“Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa musibah kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) Kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun Dia karib kerabat, dan tidak (pula) Kami Menyembunyikan persaksian Allah; Sesungguhnya Kami kalau demikian tentulah Termasuk orang-orang yang berdosa.” (Al-Mâidah [5]: 106)

Musibah kematian ini mencakup tiga peristiwa dahsyat:

Kegoncangan Pertama: Sakaratul Maut.

Seandainya seorang hamba yang miskin tidak mengalami kesusahan, kegoncangan dan siksaan selain sakaratul maut, tentu itu sudah cukup untuk membuat hidupnya menderita, merubah kebahagiaannya menjadi kesedihan, dan menjadikan dirinya meninggalkan kelalaiannya. Dan sudah selayaknya seorang hamba memikirkan hal itu lebih lama serta memperbanyak bekal untuk menyongsongnya. Apalagi setiap saat peristiwa itu selalu mengintainya. Kematian adalah, seperti diistilahkan orang, “bencana yang ada di tangan selainmu, di mana engkau tidak tahu kapan ia akan menimpa dirimu.” Sungguh aneh, ketika seseorang berada pada puncak kesenangan dan berada di acara permainan yang paling indah, lalu tiba-tiba ia merasa sedang menunggu kedatangan seorang aparat yang akan memukulnya dengan lima kali deraan, saat itu pula kesenangannya berubah sekaligus menjadi kesusahan, dan akan berantakan lah apa yang ia rencanakan dalam hidupnya. Lantas bagaimana jika ia setiap saat berada dalam masa penantian menuju mati dan saat-saat sekaratnya? Sebagaimana firman Alloh l:

Teks arab

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (Qôf [50]: 19)

Sakaratul maut itu –seperti dikisahkan—lebih keras daripada tebasan pedang, lebih dahsyat daripada gerekan gergaji dan sayatan gunting. Seandainya yang dicabut hanyalah satu urat nadi saja itu sudah sangat pedih rasanya. Lantas bagaimana jika yang dicabut adalah nyawa itu sendiri? bukan dari satu urat nadi saja tapi dari seluruh urat nadi. Setlah itu seluruh anggota tubuhnya akan mati secara perlahan-lahan. Pertama-tama, kedua kakinya akan menjadi dingin. Setelah itu kedua betisnya. Kemudian kdua pahanya. Begitulah, setiap anggota badan pasti mengalami sekarat satu demi satu, mengalami kesakitan satu demi satu, sebelum akhirnya ia mencapai tenggorokan. Ketika itulah penglihatannya ke arah dunia dan penghuninya terputus. Tertutuplah sudah pintu taubat. Ia diliputi berbagai penyesalan.[8]

Aisyah s meriwayatkan bahwasanya di hadapan Rosululloh n (menjelang beliau wafat, penerj.) ada sebuah bejana air kecil. Kemudian beliau memasukkan tangan beliau yang penuh berkah dan mengusapkannya ke wajahnya. Setelah itu beliau mengucapkan: “Tiada ilah (yang berhak disembah) selain Alloh, sesungguhnya dalam kematian itu benar-benar ada saat-saat sekaratnya.” Kemudian beliau mengangkat tangannya sembari berucap, “Di Rofîq Al-A‘lâ (tempat yang tinggi)…” sampai beliau pun wafat dan tangannya miring. (HR. Bukhôrî)

Diriwayatkan bahwa ketika Amru bin Ash a menjelang wafat, anaknya, ‘Abdullôh, berkata kepadanya, “Ayah, dulu engkau pernah mengatakan ‘Seandainya saja aku orang pandai yang tengah menghadapi kematian sehingga ia bisa menceritakan kepadaku tentang keadaan yang ia alami saat itu.’ Kini, ayah lah orang itu. Maka ceritakan kepadaku bagaimana kematian itu?” Maka Amru bin Ash berkata, “Anakku, demi Alloh seolah dahiku berada di dalam sebuah lemari dan seolah aku hanya bisa bernafas dari sebuah lubang sebesar jarum. Dan seolah-olah ada sebuah batang berduri yang ditarik dari kedua kakiku hingga ubun-ubunku.”

Umar a berkata kepada Ka‘b bin Al-Ahbâr, “Ceritakan kepada kami tentang kematian.” Ia berkata, “Benar wahai Amirul Mukminin. Sungguh kematian itu seperti sebuah batang kayu yang banyak durinya lalu dimasukkan ke dalam rongga tubuh seseorang. Kemudian setiap duri menyangkut satu urat nadinya, setelah itu ditarik oleh seseorang dengan tarikan yang sangat kuat. Maka tercabutlah apa yang tercabut, dan tersisalah apa yang masih tersisa.”

Qurthubî berkata, “Wahai orang yang terbuai, bayangkanlah dirimu sedang dalam keadaan sekarat dan dirimu merintih serta menahan sakitnya sakaratul maut. Ketika itu ada yang mengatakan: si Fulan telah menyampaikan wasiat (perihal hartanya) padahal hartanya melimpah. Ada juga yang mengatakan: si Fulan berat lidahnya untuk berbicara, sampai tidak mengenal tetangganya dan tidak mau bicara dengan keluarganya. Maka sepertinya aku melihat dirimu mendengar perkataan orang tapi kamu tidak mampu menjawabnya. Setelah itu putrimu menangis seperti wanita yang tertawan, sembari menghiba ia berkata, “Ayahku meninggalkanku. Engkau mendengar perkata tetapi tidak mampu menjawabnya.”

Kegoncangan kedua: Ketika melihat Malaikat Maut di saat wafat.

Kata-kata wafat disebut dalam Al-Quran dengan menisbahkannya kepada Alloh. Seperti firman Alloh l:

Teks arab

“Alloh lah yang mewafatkan jiwa-jiwa ketika kematiannya…” (Az-Zumar [39]: 42)

Terkadang juga dinisbatkan kepada malaikat Maut. Alloh l befirman: “Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (As-Sajdah [32]: 11)

Terkadang dinisbatkan kepada para pasukan malaikat Maut, Alloh l berfirman: “…sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (Al-An‘âm [6]: 61)

Semua ini tidaklah saling bertentangan. Sebab, yang mewafatkan sesungguhnya adalah Alloh l. Atau bisa juga kita fahami bahwa semua itu terjadi atas perintah, takdir dan kehendak-Nya. Sementara yang mencabut nyawa adalah Malaikat Maut atas perintah Alloh l. Setelah itu diterima oleh, jika bukan Malaikat Rohmat, maka Malaikat Azab. Sebuah hadits yang diriwayatkan Barô’ bin ‘Âzib berikut menggambarkan dengan bagus mengenai pemandangan pada kegoncangan kedua ini. Imam Ahmad telah meriwayatkan, demikian juga Abû Dawud dan Hâkim, dari Barô’ bin ‘Âzib a ia berkata, “Suatu ketika kami keluar bersama Rosululloh n mengantarkan jenazah seorang lelaki dari Anshor. Begitu sampai di pemakaman dan belum sempat pembuatan lahad terselesaikan, Rosululloh n duduk dan kami pun duduk di sekeliling beliau seolah-olah di atas kepala-kepala kami ada burung. Sementara itu di tangannya beliau memegang sebatang kayu untuk membuat titik di tanah. Sejurus kemudian, Rosululloh n mengangkat kepalanya lalu bersabda, “Mintalah perlindungan kepada Alloh dari siksa kubur…” beliau mengucapkannya dua atau tiga kali. Setelah itu beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang beriman itu apabila telah meninggal dunia dan hendak menuju akhirat maka malaikat-malaikat langit turun kepadanya. Wajah mereka putih seperti matahari dengan membawa kain kafan dan hânût (minyak jenazah) dari surga. Lalu mereka duduk di dekatnya sejarak pandangan mata. Setelah itu datanglah Malaikat Maut duduk di dekat kepalanya, ia berkata, “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan keridhoan Alloh.” Rosululloh n melanjutkan, “Maka nyawanya pun keluar seperti aliran air yang keluar dari teko minum. Lalu Malaikat Maut mengambilnya. Jika ia sudah mengambilnya, ia tidak akan membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai akhirnya diambil oleh malaikat-malaikat langit dan mereka letakkan roh itu di kafan dan hânût tadi. Dari sana keluar aroma paling wangi yang pernah ada di bumi. Kemudian mereka membawanya naik, tidaklah mereka melewati satu kumpulan malaikat melainkan mereka berkata, “Aroma wangi apakah ini?” Mereka menjawab, “Aroma Fulan bin Fulan.” Mereka menyebutnya dengan namanya yang terindah sewaktu di dunia. Hingga sampailah mereka di penghujung langit terbawah (langit dunia), lalu mereka meminta izin untuk dibukakan pintu untuknya dan dibukakan. Maka semua malaikat yang posisinya dekat dengan satu tingkatan langit ikut mengantarkannya hingga langit berikutnya hingga sampai di langit ke tujuh. Maka Alloh berfirman: “Tulislah catatan hamba-Ku ini di ‘Illiyyîn dan kembalikan dia ke bumi. Karena sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari bumi, di sana lah mereka akan Ku kembalikan dan dari sana pula lah mereka akan kubangkitkan untuk kedua kalinya.” Rosululloh n melanjutkan, “Makanya nyawanya pun dikembalikan (ke jasadnya), dan datanglah dua malaikat, mereka berkata, “Siapa tuhanmu?” ia menjawab, “Tuhanku adalah Alloh.” “Apa agamamu?” ia berkata, “Agamaku Islâm.” Mereka berkata lagi, “Siapa lelaki yang diutus kepada kalian ini?” ia menjawab, “Dia adalah utusan Alloh n?” Mereka bertanya lagi, “Dari mana engkau mengetahui ilmunya?” ia menjawab, “Aku membaca kitab Alloh l kemudian aku mengimani dan membenarkannya.” Maka berserulah penyeru dari langit, “Hamba-Ku benar, bentangkanlah hamparan dari surga untuknya, berikan pakaian surga untuknya, dan bukakan pintu menuju surga untuknya.” Maka datanglah seorang lelaki yang elok rupanya, indah pakaiannya dan harum aromanya. Lelaki itu berkata, “Terimalah kabar gembira yang akan menyenangkanmu, ini lah hari yang dulu dijanjikan kepadamu.” Ia bertanya, “Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan.” Lelaki itu menjawab, “Aku adalah amal sholehmu.” Ia berkata, “Robb, tegakkan hari kiamat. Robb, tegakkan hari kiamat.”

Rosululloh n melanjutkan, “Adapun hamba yang kafir, apabila ia meninggalkan dunia dan akan menuju akhirat, turun kepadanya malaikat-malaikat langit yang hitam wajahnya. Mereka membawa kain mori kasar, lalu ia duduk di dekatnya sejarak mata memandang. Setelah itu datanglah Malaikat Maut hingga ia duduk di dekat kepalanya. Ia berkata, “Hai jiwa yang kotor, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Alloh.” Maka ruhnya tercerai berai dalam jasadnya lalu malaikat Maut mencabutnya seperti mencabut besi panas dari dalam wol yang basah. Lalu Malaikat Maut mengambilnya, ia tidak membiarkan nyawa itu ada di tangannya sekejap mata pun hingga akhirrnya para malaikat langit meletakkannya di dalam mori kasar tadi. Dan keluarlah dari sana aroma bangkai paling busuk yang pernah ada di muka bumi. Lalu para malaikat itu membawanya naik, tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata, “Aroma busuk apakah ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah Fulan bin Fulan,” sembari menyebut nama terburuknya yang pernah dipanggil semasa di dunia, hingga akhirnya mereka tiba di langit dunia dan dimintakan izin untuk membuka pintunya namun tidak dibukakan untuknya. Setelah itu Rosululloh n membaca ayat: “…sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum…” (Al-A‘rôf [8]: 40) Lalu Alloh k berfirman, “Tulisan buku catatan amalnya pada Sijjîn pada bumi yang terbawah. Maka nyawanya pun dilempar sekali lempar. Setelah itu Rosululloh n membaca ayat: “…. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al-Hajj [22]: 31). Kemudian rohnya dikembalikan ke jasadnya, dan datanglah dua malaikat lalu mereka mendudukkannya. Mereka berkata, “Siapa tuhanmu?” Ia menjawab, “Haa…haa…aku tidak tahu.” Mereka bertanya lagi, “Apa agamamu?” ia menjawab, “Haa…haa…aku tidak tahu.” Mereka bertanya lagi, “Siapa lelaki ini yang diutus kepada kalian?” Ia tidak diberitahu siapa namanya, maka dikatakan kepadanya, “Muhammad?” Ia menjawab, “Haah…haah…aku tidak tahu.” Maka penyeru dari langit berseru, “Hambaku telah berdusta, bentangkanlah hamparan dari neraka untuknya, bukakan pintu neraka untuknya.” Maka datanglah hawa dan angin panas darinya dan kuburnya disempitkan hingga sendi-sendi tulangnya tercerai berai. Kemudian datanglah seorang lelaki yang berbaju jelek dan busuk baunya. Lelaki itu berkata, “Terimalah kabar yang membuatmu sedih, ini lah hari yang dulu dijanjikan kepadamu.” Ia berkata, “Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan.” Lelaki itu berkata, “Aku adalah amalan burukmu.” Maka ia berkata, “Robb, jangan tegakkan hari kiamat.”

Dalam riwayat lain ditambahkan mengenai kisah hamba beriman, “…hingga apabila nyawanya telah keluar, semua malaikat yang berada di antara langit dan bumi mendoakannya, demikian juga semua malaikat yang ada di langit. Setelah itu dibukakan lah pintu-pintu langit untuknya. Tidak ada satu penunggu pintu pun melainkan berdoa kepada Alloh k agar ruhnya dinaikkan dari arah mereka.”

Dan dalam riwayat lain ditambahkan mengenai kisah hamba yag kafir, “…lalu dikuasakan kepadanya malaikat yang buta, tuli dan bisu. Ditangannya memegang godam yang seandainya ia gunakan untuk memukul gunung tentu gunung itu akan hancur menjadi debu. Maka malaikat itu pun memukulnya hingga ia menjadi debu, lalu Alloh k mengembalikannya seperti sedia kala. Kemudian ia memukulnya lagi hingga ia berteriak dengan teriakan yang bisa didengar oleh segala sesuatu –selain manusia dan jin—.” Barô’ berkata, “Kemudian dibukakan untuknya pintu dari neraka dan dibentangkan untuknya hamparan dari neraka.” (Hadits shohîh, dishohihkan oleh Al-Albânî berdasarkan syarat Bukhori dan Muslim)

Kegoncangan ketiga: Rasa takut akan mendapatkan sû’u `l-Khôtimah (akhir kehidupan yang buruk) dan ketika orang-orang jahat diberi kabar akan mendapatkan neraka.

Rasa takut akan sû’u `l-Khôtimah telah memutuskan hati orang-orang mengetahuinya –ini memang merupakan salah satu kegoncangan besar di saat kematian. Karena ketika mereka dalam kondisi sekarat, kekuatan mereka sudah tidak berdaya lagi, mereka hanya bisa pasrah menunggu nyawanya dicabut. Nyawa mereka tidak akan keluar sebelum mereka mendengar seruan dari Malaikat Maut tentang dua kabar; yaitu “Wahai musuh Alloh, terima kabar berupa neraka.” Atau, “Wahai wali Alloh, terimalah kabar gembira berupa surga.” Dari sinilah, orang yang berfikiran jernih pasti akan merasa takut.

Diriwayatkan bahwa ketika Hudzaifah bin Yamân hendak menemui ajalnya, ia berkata kepada Ibnu Mas‘ûd d, “Berdirilah, coba lihat waktu apakah sekarang.” Ibnu Mas‘ûd berkata, “Saat ini, matahari telah terbit.” Hudzaifah berkata, “Aku berlindung kepada Alloh dari pagi hari yang menjadi waktu menuju neraka.”

Abû Huroiroh a juga menangis di saat maut akan menjemputnya, ia berkata, “Demi Alloh aku tidak menangis karena dunia atau karena akan berpisah dengan kalian. Aku menangis karena menunggu-nunggu dua kabar dari robbku, apakah kabar itu berupa surga ataukah neraka.”

Al-Hasan berkata, “Tidak ada kata istirahat bagi orang beriman kecuali ketika berjumpa Alloh. Dan siapa yang menjadikan perjumpaannya dengan Alloh sebagai masa istirahat, maka hari kematiannya adalah hari bahagia dan suka cita, hari rasa aman, hari harga diri dan kemuliaan.”

Jâbir bin Zaid berkata kepada orang-orang yang ada di majelisnya ketika ia akan meninggal, “Saudara-saudaraku, saat inilah –demi Alloh—aku akan meninggalkan kalian, entah menuju neraka ataukah menuju surga.”

Maka sudah selayaknya seorang mukmin berdoa selalu kepada Alloh agar memberinya keteguhan di atas kebenaran hingga berjumpa dengan-Nya. Dan hendaknya ia mencela dirinya sendiri karena sifat malas yang mengakibatkan dirinya tidak mau beramal sholeh. Semua ini agar ia tidak terjangkit penyakit ‘ujub (bangga dengan diri sendiri) atau tertipu, serta agar ia tidak merasa aman dari makar Alloh. Sebab hati para hamba itu berada di dua jari dari jari-jari Dzat yang Mahapengasih, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Semoga Alloh merahmati Imam Ahmad bin Hanbal yang pernah mengatakan kepada puteranya, ‘Abdullôh, ketika ia bertanya, “Wahai ayah, kapan kita akan istirahat?” Imam Ahmad menjawab, “Anakku, kita tidak akan istirahat sampai nanti kita pijakkan langkah pertama kita di surga.”

Dikisahkan ada seorang sholeh melewati pemuda-pemuda yang sedang bermain-main dan tertawa-tawa, serta hidup dalam kelalaian. Maka orang sholeh itu berkata kepada mereka, “Apakah timbangan amal kebaikan kalian berat, sehingga kalian tertawa?” Mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Ia berkata lagi, “Apakah kalian telah mengambil buku catatan amal kalian dengan tangan kanan sehingga kalian tertawa?” mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Ia berkata lagi, “Apakah kalian tlah berhasil melewati titian shirôthu `l-mustaqîm sehingga kalian tertawa?” mereka menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Lantas mengapa kalian tertawa, sementara peristiwa-peristiwa mengerikan ini menunggu di depan kalian?”[9]

Di antara nasehat shahabat mulia, Salmân Al-Fârisî adalah kata-kata beliau, “Aku dibuat tertawa oleh tiga hal; aku tertawa melihat orang yang mengangan-angankan dunia padahal kematian mengejarnya. Dan orang yang lalai padahal ia terus diawasi. Dan orang yang mulutnya penuh tawa padahal ia tidak tahu apakah Alloh ridho kepadanya atau murka kepadanya. Aku dibuat menangis oleh tiga hal; berpisah dengan orang-orang tercinta, yaitu Muhammad n dan para pengikutnya. Dan kengerian pemandangan ketika sakaratul maut. Dan ketika berdiri di hadapan Alloh l.”

Betapa indah kata-kata penyair:

Berbekallah dengan takwa, sebab engkau tidak tahu

Ketika malam mulai gelap apakah engkau akan hidup hingga terbit fajar

Betapa banyak ranjang yang terhias untuk istri

Ternyata nyawa sudah tercabut ketika malam yang ditentukan

Betapa banyak anak kecil berharap panjang umur

Ternyata arwah mereka dimasukkan ke dalam gelapnya liang kubur

Betapa banyak orang sehat mati tanpa penyakit

Dan betapa banyak orang sakit hidup hingga waktu yang lama

Betapa banyak pemuda yang menghabiskan pagi dan petangnya dalam kelalaian

Padahal kain kafannya sedang ditenun tanpa ia sadari

Betapa banyak orang yang di pagi hari masih tinggal di istananya

Dan di waktu sore sudah menjadi penghuni kubur

Maka, bertakwalah selalu kepada Alloh

Karena itulah keamanan dari kegoncangan-kegoncangan di padang Mahsyar

Ada juga yang mengatakan:

Kematian setiap hari membentangkan kain kafan

Sementara kita lalai dari hal yang menuju kita

Jangan merasa tenang dengan dunia dan gemerlapnya

Walau pun ia berpakaian dengan pakaian terindahnya

Di mana orang-orang tercinta, di mana tetangga, apa yang mereka perbuat

Di mana orang-orang yang dulu tinggal bersama kita

Kematian mereka reguk dari gelas yang keruh

Lalu kita menjadi tergadai di bawah gundukan tanah

Kita memohon kepada Alloh agar menjadikan akibat dari semua urusan kita adalah kebaikan. Dan menjadikan akhir hidup kita adalah kebaikan serta menjadikan kita selalu bersiap untuk berjumpa dengan-Nya, dan mencabut nyawa kita dalam kondisi beramal dengan amalan yang ia ridhoi. Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamengabulkan.

WARNING KEMATIAN !!!

Rahmat Alloh sangat luas, meliputi segala sesuatu. Alloh Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Alloh hanya menurunkan satu rahmat ke bumi yang dengan itu semua makhluk saling mengasihi satu sama lain. Alloh masih menyimpan di sisi-Nya 99 rahmat. Di antara bentuk rahmat (kasih sayang) Alloh adalah dengan diutusnya para rosul dan diturunkannya kitab suci-kitab suci. Dan di antara bentuk keadilan Alloh adalah, Dia tidak akan menimpakan azab kepada seorang pun sebelum mengutus seorang rosul. Di antara yang Alloh telah gariskan bagi makhluk-makhluk-Nya adalah kematian; Alloh menjadikan waktu kedatangannya tidak diketahui siapa pun selain-Nya. Hanya saja, Alloh menjadikan pertanda yang menjadi peringatan akan kedatangannya dan mengirim utusan-utusan sehingga makhluk tersadar tentangnya. Maka di antara manusia ada yang sadar dan menyiapkan bekal sebelum kematian itu datang, dan ia selalu mengingatnya. Tapi di antara manusia ada juga yang melalaikannya dan enggan mengingatnya. Orang seperti ini berada dalam kecelakaan dan kerugian. Ketika kematian nanti tiba, baru lah ia akan mengatakan, “Duh, meruginya diriku, kenapa aku dulu meremehkan hak Alloh dan dulu aku termasuk orang-orang yang menyepelekan.” Ia pun berandai-andai kalau ia bisa kembali lagi ke dunia setelah mati sehingga ia bisa melakukan amal sholeh; tetapi mustahil itu terjadi; sebab kalau toh ia kembali pasti akan mengulangi perbuatan yang dulu ia dilarang melakukannya. Alloh l berfirman:

Teks arab

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya Kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan Kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,” (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.” (Al-An‘âm [6]: 27 – 28)

Penyakit paling dahsyat yang menjangkiti manusia adalah penyakit lalai; karena penyakit ini mengeraskan dan menggelapkan hati, dan menjadikan hati kehilangan kehidupannya, serta mengajak manusia untuk cenderung kepada dunia dan melupakan akhirat. Maka orang lalai hidup mengikuti angan-angan dengan melupakan ajal, enggan beramal dan diliputi rasa malas. Adapun orang yang cerdas dan cerdik adalah yang senantiasa engkau lihat dalam keadaan waspada selalu. Di antara bentuk kewaspadaan itu adalah selalu mengingat tanda peringatan kematian atau mengingatkan orang lain tentangnya, sehingga jiwanya merasa tenang ketika kematian tiba dan ia pun berbaik sangka kepada tuhannya. Di sana saya akan menyebutkan beberapa tanda yang mengingatkan tibanya kematian untuk menjadi peringatan sekaligus iktibar. Saya akan menyebutkannya secara ringkas, karena sebenarnya banyak sekali tanda-tanda kematian, akan tetapi saya akan menyebutkan sebagian saja, yaitu:

  1. Peringatan pertama adalah: Berjalannya hari demi hari dan berlalunya tahun demi tahun.

Tiap detik mengurangi menit, tiap menit mengurangi jam, tiap jam mengurangi hari, tiap hari mengurangi pekan, tiap pekan mengurangi bulan, tiap bulan mengurangi tahun, dan tiap tahun mengurangi umur. Bukankah umur kita tak lebih dari kumpulan-kumpulan menit dan jam, kumpulan hari dan pekan, serta kumpulan bulan dan tahun? Dan jika satu jam telah lewat, sampai hari kiamat pun ia tak akan pernah bisa kembali. Demikian juga dengan hari, bulan dan tahun. Hasan Bashrî berkata, “Hai anak Adam, tidaklah satu hari menerbitkan fajarnya melainkan ia berseru: ‘Wahai anak Adam, aku adalah hari baru dan menjadi saksi atas amal perbuatanmu; maka manfaatkanlah diriku sebaik mungkin dengan amal sholeh, sebab aku tidak akan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.”

Setiap hari yang kau lewati semakin mendekatkan dirimu dengan akhirat dan menjauhkanmu dari dunia. Ada seorang lelaki berkata kepada Muhammad bin Wâsi‘, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?” Ia menjawab, “Apa pendapatmu tentang seorang lelaki yang setiap hari melewati satu tahap hingga menuju akhirat?”

Hasan berkata, “Dirimu tak lain hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali lewat satu hari, lewatlah sebagian dirimu.”

Sebagian ahli hikmah berkata, “Bagaimana mungkin akan bersenang-senang, orang yang waktu satu bulannya dihancurkan oleh waktu satu harinya, yang satu tahunnya dirobohkan oleh satu bulannya, dan umurnya diruntuhkan oleh tahunnya?”

Fudhoil bin ‘Iyâdh berkata kepada seorang lelaki, “Berapa umurmu?” “60 tahun,” jawab lelaki itu. Fudhoil berkata, “Sejak 60 tahun lalu kamu berjalan menuju kepada tuhanmu dan kini engkau hampir sampai. Ketahuilah bahwa dirimu adalah hamba Alloh, kepada-Nya lah kamu akan kembali, dan kelak engkau akan berdiri di hadapan-Nya, kemudian engkau akan dimintai pertanggung jawaban mengenai umur dan kehidupanmu, maka persiapkanlah jawaban untuk menjawab pertanyaan.” Lelaki itu berkata, “Lantas, apa solusinya?” “Mudah,” kata Fudhoil. “Apa itu?” tanyanya. Fudhoil berkata, “Lakukanlah kebaikan pada sisa umurmu niscaya engkau terampuni pada apa yang telah lampau; karena jika engkau berbuat buruk pada sisa umurmu, engkau akan dihukum berdasarkan perbuatanmu di masa lampau dan yang masih tersisa.”

Bakr Al-Muzannî berkata, “Jika engkau ingin sholatmu memberimu manfaat maka katakanlah: ‘Barangkali aku tidak akan bisa sholat lagi setelah ini.’”

Dikisahkan bahwa Makruf Al-Karkhî pernah mengumandangkan iqomat untuk sholat, lalu ia berkata kepada seseorang, “Majulah dan sholatlah bersama kami.” Lelaki itu berkata, “Kalau aku sholat bersama kalian kali ini, maka aku tidak akan sholat lagi bersama kalian selain ini.” Maka Makruf berkata, “Berarti engkau merasa bisa sholat lagi setelah sholat ini? Kami berlindung kepada Alloh dari panjang angan-angan, sungguh itu menghalangi dari perbuatan terbaik.”

Di dalam sebuah hadits disebutkan dari Ibnu ‘Umar d, Rosululloh n bersabda, “Sholatlah seperti sholat terakhir.” Hadits ini derajatnya hasan sebagaimana tercantum dalam Shohîhu `l-Jâmi‘ Ash-Shoghîr nomor 3776.

  1. Peringatan kedua: Sakit.

Ini adalah peringatan yang paling jelas. Karena dengan adanya sakit, kesehatan jadi berkurang, dengannya pula kekuatan melemah. Badan menjadi semakin berat sehingga tak jarang orang tak lagi mampu berdiri, bahkan duduk. Ia juga harus kehilangan nikmatnya makanan dan minuman. Nafasnya menjadi sesak dan tubuhnya semakin berat. Ia hanya terlihat terbaring di ranjangnya, dalam keadaan terlentang atau terbujur.

Padahal, akhir dari sakit, kalau bukan sehat kembali hingga batas waktu tertentu, bisa juga berujung kematian atau kebinasaan. Islam betul-betul memperhatikan hak-hak orang sakit agar ia merasa lapang dan terhibur. Makanya Islam menganjurkan untuk mengunjungi orang sakit. Dalam Islam menjenguk orang sakit diistilahkan dengan ‘iyâdatu `l-marîdh, yang maksudnya adalah agar si penjenguk mengunjunginya berulang kali. Dengan ini, diharapkan orang yang sakit tidak merasa dirinya terputus dari masyarakat, sehingga bisa sedikit melupakan sakit yang ia derita sekaligus merasa terhibur dengan orang-orang yang segolongan dengannya. Barrô’ bin ‘Âzib a berkata, “Rosululloh n memerintahkan kami untuk menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, menepati sumpah, menolong orang yang dianiaya, memenuhi undangan, dan menyebarkan salam.” (Muttafaq ‘Alaih)

Tsaubân a meriwayatkan bahwa Rosululloh n bersabda, “Siapa menjenguk orang sakit, ia berada di kebun surga sampai ia pulang.” (HR. Muslim)

Bagi penjenguk, hendaknya mengingatkan si sakit agar selalu mentauhidkan Alloh semata, mengingatkan akan keutamaan sabar serta pahala tertimpa penyakit, dan bahwa bagi orang beriman semuanya adalah baik, mendorongnya untuk selalu berbaik sangka kepada Alloh l, menyadarkan kembali akan tugas melaksanakan hal-hal yang wajib dan menjauhi yang haram, serta konsisten dalam melaksanakan amal shaleh. Sebab yang membuat kita sangat sedih, betapa sering kita mendengar orang sakit yang tidak melaksanakan sholat selama ia sakit dengan beralasan yang dibuat-buat, padahal harus kita ketahui bahwa orang sakit pun wajib melaksanakan ibadah sesuai kemampuannya. Masalahnya ia tidak tahu barangkali ia akan mati lantaran penyakit yang sedang ia derita, dan ini jelas sebuah bahaya besar. Alloh l sendiri tidak menjadikan dalam agama ini ada kesusahan, dan tidak membebani suatu jiwa melainkan sebatas kemampuannya. Rosululloh n pernah bersabda kepada ‘Imrôn bin Hushoin, “Sholatlah dengan berdiri. Jika kamu tidak sanggup, maka dengan duduk. Jika tidak sanggup, maka dengan berbaring.” (HR. Ahmad dan Bukhôrî)

Maukah orang yang sakit menyadari peringatan ini, lalu mereka isi akhir kehidupan mereka dengan perbuatan yang membuat Alloh ridho dan dengan kesungguhan dalam mentaati-Nya? Dikisahkan bahwa dulu ada seorang salaf jatuh sakit lalu anak-anaknya berkata kepadanya, “Ucapkanlah Lâ ilâha illa `l-Lôh,” ia menjawab, “Wahai anak-anakku, aku sekarang sedang mengucapkan wirid Quranku yang keenam.”

Sungguh bahagialah orang-orang jujur tersebut, mereka tidak meninggalkan wirid-wirid sholeh mereka walau pun dalam kondisi sakit keras.

Sekarang, sudahkah orang-orang sehat yakin bahwa sakit adalah peringatan bahwa sebentar lagi ia akan “pergi”, lalu mereka pergunakan kesehatan dan waktu mereka untuk melakukan perniagaan dengan Alloh dan mereka gunakan kesehatan itu sebelum sakit sehingga kelak ia tidak tertipu dan hanya gigit jari karena menyesal? ‘Abdullôh bin ‘Abbâs d meriwayatkan bahwasanya Rosululloh n pernah bersabda, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu olehnya: nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Ahmad, Bukhôrî, Tirmizî, dan Ibnu Mâjah)

  1. Peringatan ketiga: Umur yang sudah tua.

Peringatan ini berupa melemahnya fisik setelah sebelumnya kuat. Alloh l berfirman:

Teks arab

“Alloh, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Rûm [30]: 54)

Masa tua adalah masa ketika fisik melemah setelah sebelumnya kuat, memutihnya rambut setelah sebelumnya hitam, dan membungkuknya badan setelah tadinya tegak. Alloh l berfirman:

Teks arab

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah Kami kerjakan”. dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (Fâthir [35]: 37) Pemberi peringatan dalam ayat ini dalam sebagian penafsiran adalah uban yang dimaksud. Abû Huroiroh a meriwayatkan bahwa Rosululloh n bersabda, “Alloh memaklumi udzur (alasan) seseorang yang dipanjangkan umurnya hingga ia berusia 60 tahun.” (HR. Bukhôrî)

Qurthubî berkata, “Dikisahkan ada seorang nabi q berkata kepada Malaikat Maut, “Knapa kamu tidak mengirim utusan sebelum kamu datang sehingga manusia bersiap siaga menjelang kedatanganmu?” Malaikat Maut berkata, “Sudah, demi Alloh aku punya banyak utusan berupa penyakit-penyakit, uban, berbagai kesusahan, dan memudarnya pendengaran dan penglihatan. Jika ia tidak mengambil pelajaran ketika tertimpa semua itu dan tidak mau bertaubat, maka ketika aku cabut nyawanya aku berseru kepadanya: Bukankah telah kukirim utusan dan peringatan yang saling susul menyusul? Kini aku lah utusan terakhir yang tidak ada lagi utusan setelahku. Akulah pemberi peringatan terakhir yang tidak ada lagi pemberi peringatan setelahku.”

Maka tidaklah satu hari di mana matahari terbit dan tenggelam melainkan Malaikat Maut berseru, “Hai kalian yang berusia 40 tahun, saatnya untuk berbekal; pikiran kalian telah matang dan fisik kalian kuat dan kokoh. Wahai kalian yang berusia 50 tahun, waktu mengetam dan mengambil hasil sudah dekat. Wahai kalian yang berusia 60 tahun, kalian telah melupakan azab dan melalaikan pertanggung jawaban (di hadapan Alloh), maka tidak ada penolong bagi kalian.”[10]

Kisah yang dituturkan Qurthubî di atas memang tidak didasarkan kepada sebuah nash yang shohih, tapi sekedar untuk memberikan peringatan kepada orang lain sebagaimana kebiasan para ahli nasehat. Yang semisal dengan ini adalah kisah mengenai Nabi Ya‘qûb q bahwa beliau pernah berkata kepada Malaikat Maut, “Aku minta dirimu memberitahu aku jika ajalku sudah dekat.” Maka Malaikat Maut berkata, “Nanti akan kukirim dua atau tiga utusan.” Tatkala ajal beliau telah tiba, datanglah Malaikat Maut kepadanya, Nabi Ya‘qûb q berkata, “Engkau datang untuk berkunjung atau mencabut nyawa?” “Mencabut nyawa,” tukas Malaikat Maut. “Kalau begitu mana utusan yang kau janjikan?” tanya Nabi Ya‘qûb. Malaikat Maut berkata, “Aku telah mengirim kepadamu tiga utusan: memutihnya rambutmu padahal dulu hitam, melemahnya fisikmu setelah dulu kuat, dan membungkuknya badanmu setelah dulu tegap. Inilah utusan-utusanku, wahai Ya‘qûb, kepada anak Adam sebelum kematian tiba.”[11]

Kalaulah kisah ini benar adanya, tentu maksudnya adalah untuk mengingatkan manusia mengenai sebuah urusan yang mereka lupakan dan mengenai peringatan yang mereka abaikan. Adapun Nabi Ya‘qûb q, beliau tentu dalam kondisi siap selalu menghadapi maut dan bisa mengambil pelajaran dari peringatan seperti ini; bahkan mengingatkan orang lain tentangnya. Hanya saja, mungkin ini termasuk kisah-kisah Israiliyat yang bisa benar dan bisa salah. Namun yang penting bagi kita adalah mengambil ibrah dan pelajaran.

Masa tua adalah masa lemah setelah kuat. Jika kita perhatikan orang yang sudah tua, ia berjalan dengan tiga: dua kaki dan satu tongkat; melihat dengan empat: dua mata dan dua kacamata; dan mendengar dengan empat: dua telinga dan dua alat bantu pendengaran. Dan jika kita perhatikan lagi, sendi-sendi tulangnya gemetar seolah-olah mengatakan, “Ini adalah maklumat akan adanya perpindahan dari dunia menuju akhirat.”

Salamah bin ‘Alqomah meriwayatkan bahwa suatu ketika Iyâs bin Qotâdah mengenakan surban untuk menemui Bisyr bin Marwân, kemudian ia melihat ke cermin. Ternyata ia melihat ada dua lembar uban di janggutnya. Setelah itu ia melihat lagi, ternyata ada satu lembar lagi. Maka ia berkata, “Lihatlah siapa dari kaumku yang ada di pintu rumah, suruhlah ia masuk.” Ia berkata lagi, “Wahai Bani Tamim, aku telah berikan masa mudaku untuk kalian, maka relakan masa tuaku untukku sendiri. Aku tak lebih dari seorang penyelesai hajat kalian, sekarang kematian telah mendekatiku.” Setelah itu ia berkata kepada budak wanitanya, “Lepaslah surbanku.” (tidak jadi menemui Bisyr, penerj.), lalu ia meminta izin kaumnya untuk mengasingkan diri dan berkonsentrasi kepada robbnya, dan dia tidak pernah berkumpul dengan penguasa sampai meninggal dunia.[12]

Qodhi Mundzir bin Sa‘îd Al-Balûlî v berkata,

Berapa lama engkau merasa muda padahal uban memenuhi kepalamu

Engkau pura-pura bodoh padahal sebenarnya pandai

Bagaimana engkau lalai sementara pemberi peringatan datang telah datang kepadamu

Dan jaring-jaring merpati tak jauh darimu

Hai yang sedang singgah, telah tiba waktu berangkat

Setelah keberangkatan itu adalah hari yang sulit

Sungguh pada kematian ada sekaratnya, maka tunggulah

Ketika ia datang, tabib mana pun tak bisa menyembuhkanmu

Ia juga berkata,

Enam puluh tiga tahun telah kau lewati

Lalu apalagi yang kau angankan dan kau tunggu

Peringatan uban telah datang kepadamu

Mengapa kamu tidak merasa takut atau gemetar

Engkau lewatkan malam-malammu susul menyusul

Sementara engkau masih seperti yang kulihat

Seandainya engkau mengerti umur yang akan habis

Tentu engkau ganti perbuatan burukmu dengan kebaikan

  1. Peringatan keempat: Disiapkannya jenazah orang meninggal, sejak dari dimandikan, dikafani, digotong dan dimakamkan.

Suatu kepastian bahwa semua manusia akan menjadi seperti jenazah itu di kemudian hari. Anda lihat sendiri, orang mati tidak bisa memandikan dirinya sendiri; tapi orang lainlah yang memandikannya. Ia mengenakan baju tapi kemudian dilepas oleh orang lain. Dulu ia menyangga dirinya sendiri dan sekarang ia digotong oleh orang lain. Ia keluar dari istana menuju kuburan, meninggalkan anak-anak yang sedang menangisinya, mereka tidak lagi menanti kepulangannya. Lalu ia ditimbun di dalam tanah yang mungkin akan menjadi salah satu taman surga, atau sebaliknya menjadi salah satu parit neraka. Jika dengan pemandangan seperti ini kita tidak bisa mengambil pelajaran, lantas kapan lagi kita mengambil pelajaran? Siapa tidak bersiap diri menghadapi kondisi tersebut, lantas kapan ia akan bersiap-siap? Semoga Alloh merahmati Syaqîq Al-Balkhî yang mengatakan, “Manusia mengakui tiga hal padahal mereka menyelisihinya: Mereka mengakui sebagai hamba tapi berkelakuan seperti orang yang merdeka (tak terkendali), mereka mengakui bahwa Alloh menjamin rezekinya tapi mereka bekerja seperti orang yang tidak rela dengan rezeki Alloh; bahkan menjulurkan lidahnya di belakang dunia, dan mereka mengaku yakin akan datangnya kematian tetapi mereka berkelakuan seperti orang yang tidak akan mati.”

Adalah ‘Utsmân bin ‘Affân a apabila berdiri di dekat kuburan ia menangis sampai jenggotnya basah oleh air mata. Orang-orang berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Anda tidak menangis ketika ingat surga dan neraka tetapi begitu mengingat kubur Anda menangis.” ‘Utsmân berkata, “Aku pernah mendengar Rosululloh n bersabda, “Kubur adalah tempat tinggal pertama alam akhirat, siapa yang selamat waktu itu maka yang setelahnya akan lebih mudah. Tapi jika ia tidak selamat, maka yang setelahnya lebih dahsyat.” Kemudian ia berkata lagi, “Aku mendengar Rosululloh n bersabda, “Tidaklah aku melihat pemandangan sengeri apa pun, melainkan alam kubur lebih mengerikan lagi.” (HR. Tirmizî dan Ibnu Mâjah dengan sanad hasan)

  1. Pemberi peringatan kelima: Ziyarah kubur yang dilakukan sesuai syariat Islâm dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang. Dengan ziyarah itu seseorang merenungkan tempat kembali si penghuni kubur.

Nabi n sendiri telah menyarankan kita untuk melakukan ziyarah kubur. Buroidah bin Al-Hushoib a meriwayatkan bahwasanya Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Dulu aku melarang kalian menziarahi kubur. Sekarang telah diizinkan bagi Muhammad untuk menziarahi kuburan ibunya, maka lakukanlah ziarah kubur. Sebab itu bisa mengingatkan kalian akan akhirat.”

Dalam lain riwayat: “Sebab itu mengingatkan akan kematian.”

Dalam lain riwayat: “Sebab itu bisa melembutkan hati, melelehkan air mata, dan mengingatkan akhirat. Tetapi janganlah kalian mengucapkan kata-kata kotor.” (HR. Muslim, Ahmad, Nasâî, Abû Dâwud, Tirmizî dan lain-lain)

Melakukan ziarah kubur memang memiliki pengaruh cukup besar untuk menjernihkan hati, mengingatkan kematian dan alam kubur, serta supaya ada persiapan untuk menyongsong hari akhirat.

Orang yang melakukan ziyarah kubur –sesuai tuntunan syariat Islâm dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang—akan senantiasa lembut hatinya, mudah menangis, dan sedih mengingat kemalasannya dalam menunaikan kewajiban dan hak-hak robbnya. Pernah dikatakan kepada Imam Ali a, “Bagaimana engkau menilai para penghuni kubur?” Beliau menjawab, “Aku menilai mereka adalah tetangga terbaik, mereka adalah tetangga terjujur, tidak bicara dengan lisan tapi mengingatkan akan akhirat.”

Hasan bin Shôlih apabila berdiri di dekat kuburan, ia berkata, “Betapa indah bagian luarmu, padahal kengerian-kengerian ada di bagian dalammu.”

Peringatan-peringatan kematian selain ini masih banyak lagi.

Sudah selayaknya kita memperbanyak mengingat mati, sebab tidaklah seseorang mengingat mati ketika hidupnya sempit kecuali menjadikannya lapang, dan tidaklah ia mengingatnya ketika lapang melainkan akan menjadikannya sempit. Abû Huroiroh a meriwayatkan bahwa Rosululloh n berabda,

Teks arab

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan: yaitu mati. Sebab tidaklah seseorang mengingatnya dalam kondisi kehidupannya yang sempit kecuali itu akan menjadikannya lapang dan tidaklah ia mengingatnya ketika kehidupannya lapang kecuali akan menjadikannya sempit.” (HR. Baihaqî dan Ibnu Hibbân, dan ini adalah hadits hasan)

Oleh karena itu, salah satu kewajiban kita adalah banyak mengingat mati dan saat sekaratnya, serta peristiwa-peristiwa mengerikan setelahnya. Karena ini adalah sarana paling kuat yang akan mencegah kita untuk menjerumuskan diri ke dalam lumpur dunia sekaligus sarana untuk menghadapkan diri kepada Alloh. Kematian adalah urusan yang selayaknya kita perhatikan, serta mengingat-ingatnya berulang-ulang. Sebab ini adalah obat mujarab bagi berbagai penyakit jiwa dan hawa nafsunya. Mengingat kematian bukan berarti dengan menyebut-nyebutnya dengan lisan secara berulang-ulang, tetapi yang dimaksud adalah memikirkannya, memikirkan kedahsyatannya, saat-saat sekaratnya, kegoncangan-kegoncangannya dan memikirkan bagaimana kondisi seseorang ketika menjelang ajal, apakah hasil akhir yang akan ia raih; kenikmatan ataukah azab; dengan apa ia akan mengakhiri hidupnya, siapakah yang akan mencabut nyawanya: malaikat rahmat ataukah malaikat azab? Dan apa yang bakal ia temui di kuburnya.

Kita memohon kepada Alloh agar menyadarkan hati kita, menjadikan kita selalu ingat kematian dan selalu bersiap sedia untuk menyongsongnya, dan agar menjadikan amal terbaik kita adalah yang akhir-akhir, sebaik-baik hari kita adalah hari di mana kita berjumpa dengan-Nya dan menjadikan orientasi kita adalah orientasi akhirat. Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamengabulkan.

SEBAB-SEBAB TERJADINYA SÛ’U `L-KHÔTIMAH

Orang berakal dan cerdik selalu berusaha agar dirinya menggapai keselamatan dan berusaha sekuat tenaga melakukan sebab-sebab yang mengantarkan kepadanya. Ia tidak bisa beristirahat dan tenang sebelum memastikan dirinya selamat dan yakin bahwa kondisinya lurus dan tempat kembalinya kelak adalah baik. Semua ini tidak akan tercapai kecuali bila seorang hamba memperbaiki kondisi lahir batinnya dan urusan dunia akhiratnya. Orientasinya adalah mencari ridho Alloh l. Sholatnya, sembelihannya, hidup dan matinya ia persembahkan untuk robbnya serta mengabdikan diri kepada-Nya dalam segala kondisi; baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring. Ia selalu menunaikan hak Alloh sampai ajal menjemputnya. Dalam kondisi seperti ini, ia tetap dalam kondisi khawatir, apakah kelak ia selamat atau tidak? Maka tidak heran jika kebanyakan orang sholeh merasa takut akan mendapatkan sû’u `l-khôtimah. Mereka takut jika ketika kematian datang akan muncul sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Mereka meyakini betul bahwa amal itu tergantung pada penutupnya, dan bahwa seorang hamba akan dibangkitkan sesuai kondisi ketika dia mati; sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jâbir bin ‘Abdillâh a ia berkata, Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai kondisi ketika ia mati.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan adanya anjuran untuk memperbaiki amal dan senantiasa menjalankan sunnah Nabi Muhammad dalam semua kondisi serta berlaku ikhlas kepada Alloh l dalam berkata-kata dan berbuat, sehingga nantinya ia meninggal dalam keadaan terpuji dan dibangkitkan dalam kondisi yang sama.

Akhir kehidupan yang buruk (sû’u `l-khôtimah) tidak akan terjadi pada orang yang lurus penampilan luarnya dan baik isi batinnya. Ia hanya akan menimpa orag yang akalnya rusak, terus menerus melakukan dosa besar dan berani melakukan hal-hal yang besar, sebab sangat mungkin perkara-perkara ini menguasai dirinya hingga kematian tiba. Sedangkan orang yang menampakkan keislaman dan mengamalkannya saja tak jarang yang ujung kehidupannya buruk, kita berlindung kepada Alloh. Akhir kehidupan buruk ini bisa dilihat oleh mereka yang mendampingi orang yang sedang menjelang ajal.

Shiddîq Hasan Khôn menjelaskan tentang sû’u `l-khôtimah, “Sû’u `l-khôtimah memiliki sebab-sebab yang harus dihindari oleh setiap orang beriman, di antaranya adalah:

  1. Rusaknya keyakinan (akidah) walau pun diiringi kezuhudan dan penampilan lahir yang sholeh.

Sesungguhnya orang yang memiliki akidah rusak sementara ia meyakininya dengan kuat dan tidak merasa salah, tidak menutup kemungkinan pada saat sekarat nanti akan nampak batilnya akidah yang ia yakini. Makanya Alloh l berfirman:

Teks arab

“… dan jelaslah bagi mereka sesuatu  dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (Az-Zumar [39]: 47)

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al-Kahf [18]: 103 – 104)

Di dalam Shohîh Bukhôrî Muslim disebutkan dari Sahl bin Sa‘d a bahwasanya Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Sesungguhnya seseorang itu benar-benar mengerjakan perbuatan penduduk surga menurut pandangan manusia padahal dia kelak adalah penghuni neraka. Dan sungguh seseorang itu benar-benar melakukan perbuatan neraka dalam pandangan manusia padahal kelak ia akan menjadi penduduk surga.”

Maksud sabda Nabi n: “…dalam pandangan manusia…” menunjukkan bahwa batin orang tersebut bertolak belakang dengan yang nampak, dan bahwa akhir kehidupan yang buruk bermula dari tipuan tersembunyi dalam hati seseorang di mana orang lain tidak mengetahuinya, baik itu berupa perbuatan buruk atau yang semisal. Penyebab tersembunyi inilah yang menyebabkan seseorang mati dalam keadaan buruk.

Pun sebaliknya, terkadang seseorang terlihat melakukan perbuatan ahli neraka, namun di dalam hatinya ada sifat kebaikan yang tersembunyi, lalu sifat baik ini mendominasi dirinya di akhir umurnya dan menyebabkan ia mati dalam keadaan baik.

‘Abdu `l-‘Azîz bin Abî Rowwâd berkata, “Aku menghadiri seseorang yang akan meninggal dunia ditalqin untuk mengucapkan Lâ ilâha illa `l-Lôh, tetapi kata-kata terakhirnya justru: “Dirinya mengkufuri kalimat itu dan mati di atas kekufuran tersebut.” ‘Abdu `l-‘Azîz berkata, “Maka aku pun bertanya tentang orang ini, ternyata dia dulu adalah pecandu minuman keras.” Oleh karena itu kemudian ‘Abdu `l-‘Azîz berkata, “Waspadailah perbuatan-perbuatan dosa, sebab itulah yang menjerumuskan orang ini kepada kekufuran tadi.”

Maka tidak heran jika para shahabat dan para salafus sholeh yang hidup setelah mereka sangat mengkhawatirkan dirinya terkena sifat kemunafikan, mereka sangat takut dan gelisah terhadapnya. Orang beriman itu takut dirinya terjangkit penyakit kemunafikan kecil dan mengkhawatirkan hal itu akan menguasai dirinya ketika maut menjemput sehingga menyeretnya kepada kemunafikan besar.[13]

  1. Terus menerus melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.

Karena orang yang melakukannya secara terus menerus hatinya akan menjadi biasa dengannya, dan semua yang menjadi kebiasaan seseorang dalam umurnya akan kembali ia ingat ketika kematian akan menjemputnya. Jika ia lebih condong kepada perbuatan taat, maka yang banyak terlihat ketika kematian adalah mengingat perbuatan taat. Tapi jika ia lebih banyak condong kepada perbuatan maksiat, maka yang banyak nampak ketika kematian adalah mengingat perbuatan maksiat; dan tidak menutup kemungkinan ketika kematian menjemputnya nanti syahwat dan maksiat lebih dominan pada dirinya, sehingga hatinya terikat dengan itu dan itu akan menjadi penghalang antara dirinya dengan Alloh serta menjadi sebab kesengsaraan di akhir kehidupannya.

Ini bisa difahami dengan mengemukakan permisalan, yaitu bahwa sudah menjadi perkara yang tidak diragukan lagi kalau seseorang di dalam tidurnya bisa mengimpikan berbagai keadaan yang menjadi kebiasaannya selama hidup, sampai-sampai orang yang menghabiskan usianya untuk menuntut ilmu akan melihat dalam mimpi kondisi-kondisi yang berkaitan dengan ilmu dan ulama. Orang yang menghabiskan umurnya untuk pekerjaan menjahit akan melihat dalam mimpinya kondisi-kondisi yang berkaitan dengan jahit menjahit; sebab mimpi yang datang kepada seseorang ketika tidur tak lain adalah yang sesuai dengan kondisi hatinya, karena ia sudah lama terbiasa dengan itu.

Sedangkan kematian, walau pun tingkatannya lebih tinggi daripada tidur, akan tetapi saat-saat sekaratnya dan saat pingsan yang terjadi sebelumnya, tidaklah jauh berbeda dengan tidur. Sehingga, kebiasaan terhadap maksiat yang dilakukan dalam tempo lama menjadi penyebab seseorang akan mengingatnya kembali ketika kematian datang, maksiat itu akan kembali ke hati dan hati akan membayangkannya serta menjadikan jiwa condong kepadanya. Jika nyawa dicabut dalam kondisi seperti ini, akan buruklah akhir kehidupan seseorang. Adz-Dzahabî berkata, “Mujâhid berkata, ‘Tidaklah seseorang meninggal kecuali akan nampak di hadapannya orang-orang yang dulu menjadi teman duduknya. Suatu ketika ada orang yang memiliki kebiasaan bermain catur akan meninggal dunia, dikatakan kepadanya: Ucapkanlah Lâ ilâha illa `l-Lôh, tiba-tiba ia malah menjawab, “Skak…!” kemudian ia pun meninggal. Lisannya dikalahkan oleh permainan yang menjadi kebiasaannya ketika ia hidup.”[14]

Nanti akan kami bawakan cerita-cerita yang memperkuat hal ini, yaitu tentang orang-orang yang menyibukkan diri dengan perbuatan maksiat lalu ia pun mati dalam kondisi tersebut dan dibangkitkan dalam kondisi yang sama, lalu ia dihinakan di hadapan semua makhluk. Kita hanya bisa memohon perlindungan dan keselamatan kepada Alloh.

  1. Menyimpang dari jalan yang lurus (istiqomah).

Orang-orang istiqomah adalah para pengikut jalan yang lurus, yaitu orang-orang yang Alloh beri nikmat dari kalangan para nabi, orang-orang kuat imannya (shiddîqîn), para syuhada, dan orang-orang sholeh. Alloh l telah memerintahkan Rosul-Nya n untuk istiqomah, firman-Nya:

Teks arab

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar (istiqomah), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Hûd [11]: 112)

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah (istiqomah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Alloh dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Alloh-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu, bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu, tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Alloh mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah kembali (kita).” (Asy-Syûrô [42]: 15)

Alloh juga memuji orang-orang yang istiqomah dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Alloh,” kemudian mereka tetap istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Ahqôf [46]: 13, 14)

Alloh l juga telah menjamin akan menjaga orang-orang yang istiqomah bahkan menjadikan penjaga mereka adalah para malaikat yang akan meluruskan dan menyeru mereka kepada jalan petunjuk dan kebenaran, Alloh berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Alloh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (Fushilat [41]: 30 – 31)

Adapun orang-orang yang menyimpang dari jalan istiqomah dan meninggalkan petunjuk, mereka akan ditimpa musibah berupa akhir kehidupan yang buruk. Oleh karena itu, pada mulanya Iblis disebutkan dalam jajaran para Malaikat di langit, akan tetapi ketika ia diperintah bersujud dan memberikan penghormatan kepada Adam lalu ia membangkang dan sombong serta kafir, maka akhir yang ia peroleh adalah laknat hingga hari kiamat dan akan menempati neraka, sungguh neraka adalah seburuk-buruk tempat.

  1. Lemahnya iman.

Siapa yang imannya lemah, akan lemah pula kecintaannya kepada Alloh yang ada dalam hatinya. Akibatnya, ia akan meninggalkan perintah-perintah-Nya dan melakukan larangan-larangan-Nya, ia akan melepas pakaian takwa dan menggantinya dengan pakaian maksiat, kemudian rasa cinta kepada dunia akan menguat dalam hatinya sehingga itu menjadi tujuan utamanya sampai-sampai ia menyembahnya selain Alloh. Ia akan didominasi rasa cinta kepada sesuatu yang fana dan tidak menaruh perhatian kepada urusan akhirat, karena di dalam hatinya tidak tersisa sedikit tempat pun untuk mencintai Alloh l kecuali sekedar lintasan saja, dikatakan demikian karena dampak cinta kepada Alloh itu tidak tampak dalam bentuk menentang keinginan nafsu, tidak berdampak menahan diri dari perbuatan maksiat dan terdorong melakukan ketaatan. Maka ia terjerembab ke dalam kubangan syahwat dan perbuatan dosa, dan kegelapan dosa semakin bertumpuk-tumpuk dalam hatinya. Cahaya iman yang pijarnya memang lemah dalam hatinya, akhirnya pun menjadi padam. Maka ketika sakaratul maut nanti tiba, rasa cinta kepada Alloh semakin melemah dalam hatinya ketika ia melihat dirinya akan berpisah dengan dunia yang ia cintai dan kecintaan terhadapnya telah mendominasi dirinya, ia tidak ingin berpisah dengannya dan merasa sedih ketika harus meninggalkannya, inilah yang kemudian mengantarkan dirinya kepada sû’u `l-khôtimah. Penyebabnya adalah cinta dunia, cenderung kepadanya, dan bangga karenanya. Nyawanya pun keluar sementara hatinya dan wajahnya mengarah kepada dunia dan terhalang dari Alloh.

Dikisahkan bahwa ketika Sulaimân bin ‘Abdu `l-Malik memasuki kota Madinah dalam perjalanan hajinya, ia berkata, “Apakah di kota ini ada orang yang pernah bertemu shahabat Rosululloh n?” Orang-orang di sana mengatakan, “Ya, dia adalah Abû Hâzim Salamah bin Dînar Al-A‘roj (si pincang).” Maka Sulaimân mengutus orang untuk memanggilnya. Ketika ia datang, Sulaimân berkata kepadanya, “Wahai Abû Hâzim, mengapa kami tidak suka kematian?” Ia berkata, “Sebab kalian begitu serius memakmurkan dunia dan kalian hancurkan akhirat kalian, wajar jika kalian tidak suka berpindah dari kemakmuran menuju kehancuran.” “Engkau benar,” kata Sulaimân. Sulaimân berkata lagi, “Bagaimana caranya agar aku tahu apa yang kuperoleh di sisi Alloh l?” Ia berkata, “Cocokkan amal perbuatanmu dengan kitab Alloh.” “Lantas di bagian mana aku menemukannya?” tanya Sulaimân. Ia berkata, “Pada firman Alloh l: “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (Al-Infithôr [82]: 13 – 14)

Sulaimân berkata lagi, “Lantas di mana rahmat Alloh?”

“Dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsân.”

“Lalu bagaimana kita akan dihadapkan kelak di hadapan Alloh kelak?”

“Adapun orang yang berbuat baik, ia seperti orang bepergian yang pulang kepada keluarganya. Adapun orang yang berbuat buruk, seperti budak lari yang kembali kepada majikannya.”

Mendengar itu, Sulaimân menangis terisak-isak hingga meninggi suaranya. Kemudian ia berkata lagi, “Nasehatilah aku.” Maka Abû Hâzim berkata, “Jangan sampai Anda dilihat Alloh l ketika dalam posisi yang Ia larang, atau Ia tidak menemukanmu dalam posisi yang Ia perintahkan kepada Anda.”[15]

Al-Ghozâlî, di dalam Ihyâ’ ‘Ulûmi `d-Dîn, menyebutkan bahwa kematian yang buruk (sû’u `l-khôtimah) itu ada dua tingkatan:

Yang pertama lebih besar daripada yang kedua; yaitu ketika di saat sakaratul maut dan kengerian-kengerian mati terlihat, hati lebih didominasi oleh keraguan, atau kalau tidak oleh juhûd (ingkar), kemudian nyawanya pun dicabut dalam kondisi seperti itu. Akhirnya hal itu menjadi penghalang antara dirinya dengan Alloh buat selama-lamanya. Konsekwensinya, ia akan memperoleh kejauhan abadi dari Alloh dan siksa yang kekal.

Adapun tingkatan kedua adalah ketika hati didominasi oleh rasa cinta kepada sebagian urusan duniawi di saat kematian datang. Sehingga yang ia cintai itu tergambar dalam hatinya dan menghanyutkannya sampai-sampai tidak tersisa lagi tempat buat yang lain di dalamnya, padahal ini dalam suasana genting. Penyebabnya adalah, seseorang itu akan mati sesuai kondisinya ketika ia hidup. Pada kematian seperti inilah penyesalan akan muncul.

Kita memohon kepada Alloh, pemilik ‘Arsy yang agung, agar menganugerahi kita kematian yang baik, menjaga kita dari kematian yang buruk, menghidupkan hati kita dengan akidah yang sehat yang dapat menyelamatkan pemiliknya dari api neraka, dan memudahkan kita untuk bertaubat secara sungguh-sungguh yang dengan itu kita tinggalkan semua perbuatan dosa, kita bertekad untuk tidak mengulanginya dan merasa menyesal karena telah terjerumus ke dalamnya.

Kita juga memohon kepada Alloh l agar meneguhkan kita di atas jalan-Nya yang lurus, yang akan menghantarkan kita kepada keridhoan-Nya di dunia dan kepada surga-Nya di akhirat, serta menguatkan iman kita agar kita merasa aman dengannya baik ketika di dunia mau pun di akhirat.


[1] Taklim adalah kesempatan bisa berbicara langsung dengan Alloh Ta‘ala, penerj.

[2] At-Tadzkiroh tulisan Qurthubî: I/ 55, dan Al-Qiyâmah Ash-Shughrô: 29

[3] At-Tadzkiroh tulisan Qurthubî: I/ 55, dan Al-Qiyâmah Ash-Shughrô: 30

[4] Penggalan dari sebuah hadits Sahl bin Sa‘d riwayat Bukhori dalam kitab Ar-Riqôq Bâb Al-A‘mâl bi `l-Khowâtîm.

[5] Lisânu `l-‘Arob: 547, 773, 774

[6] At-Tadzkiroh tulisan Al-Qurthubî: I/ 16

[7] Ihyâ’ ‘Ulûmi `d-Dîn: IV/ 422

[8] Ihyâ ‘Ulûmi `d-Dîn: IV/ 419, 420, dan Al-Bahru `r-Rô’iq: 264, 265

[9] Ihyâ ‘Ulûmi `d-Dîn: IV/ 422, 423, dan Al-Bahru `r-Rô’iq: 266-269.

[10] At-Tadzkiroh tulisan Qurthubî: I/ 61.

[11] Irsyâdu `l-‘Ibâd: 7, 8; Ghorô’ibu `l-Akhbâr: 304

[12] Shifatu `s-Shofwah: III/ 221, 222

[13] Jâmi‘u `l-‘Ulûm wa `l-Hikam : I/ 172 – 174.

[14] Al-Kabâ’ir: 100

[15] Yaqdhotu Uli `l-I‘tibâr: 211 – 212, dan Al-Qiyâmah Ash-Shughrô: 31 – 35.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: