Amal bil khowatim 4

TAUBAT NASHÛHÂ

Setiap manusia pasti pernah bersalah, dan sebaik-baik orang bersalah adalah yang mau bertaubat. Alloh l telah menjadikan pintu taubat terbuka untuk mereka yang mau mendatanginya, dan Alloh tidak akan menutupnya hingga matahari terbit dari barat, atau ketika nyawa seseorang telah mencapai tenggorokan. Jadi, sesungguhnya Alloh sayang terhadap diri seorang hamba melebihi rasa sayang dia sendiri.

Di antara karunia dan kebaikan Alloh adalah ketika Dia mau menerima taubat hamba-hamba-Nya, memaafkan berbagai kesalahan, dan membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berubat buruk di siang hari, dan membentangkan tangan di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat buruk di malam hari. Alloh senang dengan bertaubatnya seorang hamba melebihi rasa senang seseorang yang kehilangan hewan tunggangannya yang berisi bekal makanan dan minuman, setelah itu ia berhasil menemukannya kembali. Anas bin Mâlik a meriwayatkan bahwa Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Sungguh Alloh lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia mau bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang dari kalian yang tengah berada di atas hewan kendaraannya di padang pasir, lalu hewan kendaraannya ia meninggalkannya padahal ia membawa makanan dan minuman bekalnya, lalu ia berputus asa untuk mendapatkannya, maka ketika ia tengah berputus asa itu tiba-tiba hewan tunggangannya itu sudah berdiri di hadapannya. Kemudian ia mengambil tali kekangnya dan berkata –karena saking gembiranya—, “Ya Alloh, Engkau hambaku dan aku tuhan-Mu,” ia salah karena saking gembiranya.”

Hadits ini menunjukkan betapa luasnya pengampunan Alloh l dan kasing sayang-Nya terhadap para hamba, meski pun Alloh memberikan tenggang waktu.

Setiap muslim haruslah menggunakan kehidupannya di dunia sebaik mungkin sebelum ia menuju akhirat, memanfaatkan masa mudanya sebelum masa tua, masa sehat sebelum sakit, masa kaya sebelum jatuh miskin, dan masa senggang sebelum tiba saat penuh kesibukan. Karena hari-hari itu terus berjalan, umur semakin berkurang, sehingga dikhawatirkan seseorang akan kehilangan kesempatan dan hanya menuai penyesalan.

Maka, kita harus senantiasa mewaspadai sikap menunda-nunda amal sebelum semuanya dirusakkan oleh kematian yang menjadi penghancur semua kenikmatan dan pemisah orang-orang yang berkumpul. Ibnu Mas‘ud a pernah ditanya tentang ayat apa yang paling membuat dirinya optimis, maka beliau mengatakan, “Firman Alloh l:

Teks arab

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (Az-Zumar [39]: 53)

Di antara yang menapaki jalan taubat secara sungguh-sungguh adalah apa yang dikisahkan Rosululloh n tentang orang yang membunh seratus orang kemudian ia bertaubat kepada Alloh  dan Alloh taubatnya. Kisah ini adalah salah satu dari kisah-kisah dari orang-orang sebelum kita. Dan membunuh merupakan salah satu dosa paling besar, siapa yang menmbunuh satu jiwa yang darahnya terlindungi maka ia sama dengan membunuh seluruh manusia.

Dan hal pertama yang akan diputuskan di antara manusia di hari kiamat nanti adalah masalah darah, sedangkan darah yang paling suci dan paling mulia adalah darah seorang muslim, sesungguhnya darah seorang muslim itu haram dan tidak hala ditumpahkan kecuali dengan tiga hal: Orang menikah yang berzina, pembalasan jiwa dibalas jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin.

Kisah pembunuh itu menceritakan bagaimana ia begitu menyesal dan bertekad untuk bertaubat secara sungguh-sungguh setelah yakin bahwa dosanya sangatlah buruk, langit dan bumi pun tak sanggup memikulnya, jiwa yang mulia pasti akan merasa benci dengannya, dan tabiat orang-orang ikhlas pasti menjauhinya. Awal kisah taubatnya, ketika itu ia sudah mebunuh sebanyak 99 nyawa, lalu ia pergi kepada salah seorang ahli ibadah yang beribadah kepada Alloh tapi ibadah itu ia lakukan atas dasar kebodohan, ia bertanya kepadanya, “Menurutmu apakah aku masih bisa bertaubat?” Ahli ibadah itu mengatakan bawha dosanya besar dan kejahatanya sangatlah dahsyat, sehingga tidak ada tempat untuk bertaubat. Mendengarnya, lelaki itu menjadi putus asa dari rahmat Alloh, padahal tidak ada yang putus asa dari rahmat Alloh selain orang-orang sesat, karena ahli ibadah ini memang sesat, ia menempuh jalan yang salah karena tidak mau mempelajari ilmu dan tidak bersungguh-sungguh di dalamnya, akhirnya ia berfatwa tanpa dasar ilmu. Padahal orang yang paling besar dosanya dalah orang yang mengatakan kepada Alloh sesuatu tanpa dasar ilmu, Alloh l berfirman:

Teks arab

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengatakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-A‘rôf [7]: 33)

‘Abdullôh bin ‘Amrû bin ‘Âsh d meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Rosululloh n bersabda,

teks arab

“Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu sekali cabut begitu saja dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi Alloh mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Hingga apabila tidak ada lagi orang alim, manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh, lalu mereka ditanya kemudian mereka memberikan fatwa tanpa dasar ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan.” (Muttafaq ‘Alaih)

Ketika pembunuh itu mendengar fatwa ahli ibadah yang sesat tersebut tentang tertutupnya kemungkinan taubat untuknya, ia berkata, “Akan kugenapkan seratus dengan ahli ibadah ini.” Akhirnya ia membunuhnya, sehingga genaplah dosa yang dia lakukan: seratus jiwa melayang tanpa alasan yang benar. Namun ia tidak putus asa dari rahmat Alloh l, maka ia bertanya ada tidak seorang ulama yang bisa memberinya fatwa, akhirnya ia ditunjukan kepada seorang ulama yang memang mengamalkan ilmunya. Maka ia segera pergi menemuinya dan menanyakan dosa dan kejahatan membunuhnya. Orang alim itu mengatakan bahwa pintu taubat itu terbuka dan tidak akan ada satu pun makhluk yang mampu menutupnya, kemudian ia memberikan nasehat berharga dan memberikan obat bagi penyakitnya dengan mengatakan, “Tinggalkanlah negeri yang menjadi tempatmu melakukan maksiat menuju negeri lain,” ia menyarankan agar dia mencari perubahan suasana masyarakat; karena masyarakat pertama tempat ia tinggal turut  berperan dalam membantu dirinya melakukan dosa dan kejahatannya, sebab tidak ada yang mengingkari perbuatan mungkarnya; bahkan, tak jarang mendukung dan menyokong kejahatannya. Pembunuh itu menerima nasehat dan wasiat berharga itu, lalu ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka Alloh l menerima taubatnya dan mengampuni dosanya.

Dari Abû Sa‘îd, Sa‘d bin Mâlik bin Sinân Al-Khudriy a bahwasanya Nabi n bersabda,

Teks arab

“Dulu ada seseorang di zaman sebelum kalian yang membunuh 99 nyawa, kemudian ia menanyakan di mana ada orang paling alim di dunia, maka ia diberitahu tentang seorang pendeta, ia pun mendatanginya. Ia mengadu bahwa dirinya telah membunuh 99 jiwa, maka bisakah dirinya bertaubat? Rahib itu berkata, ‘Tidak bisa,’ maka ia membunuh rahib itu sehingga lengkaplah seratus orang yang ia bunuh. Kemudian dia kembali menanyakan di mana orang paling alim di muka bumi, maka ia ditunjukkan kepada seorang lelaki berilmu. Ia mengadukan bahwa dirinya telah membunuh seratus orang, maka masih memungkinkah dirinya bertaubat? Orang berilmu itu berkata, “Ya, siapa yang mampu menghalangi dirimu dengan taubat? Pergilah ke negeri ini dan itu, sebab di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Alloh l, beribadahlah kamu bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu, sebab negerimu adalah negeri yang buruk.” Maka ia berangkat ke negeri itu, tapi tatkala baru mencapai separuh perjalanan, ia meninggal dunia. Maka, para malaikat rahmat dan para malaikat adzab berselisih pendapat; para malaikat rahmat mengatakan, “Orang ini pergi dalam keadaan sudah bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Alloh l,” sementara para malaikat adzab berkata, “Tapi dia belum melakukan kebaikan sedikit pun.” Maka datanglah seorang malaikat kepada mereka dalam bentuk manusia, lalu mereka menjadikannya sebagai hakim, ia berkata, “Ukurlah jarah antara dua negeri tersebut, mana yang lebih dekat dengannya maka hukumi ia dengannya.” Maka mereka pun mengukurnya dan mereka mendapati ternyata ia lebih dekat dengan negeri yang hendak ia tuju itu, akhirnya malaikat rahmatlah yang membawa nyawanya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam riwayat shohih lainnya: “… maka posisinya lebih dekat dengan negeri yang baik sejarak satu jengkal, sehingga ia dihitung sebagai penduduknya.”

Dalam riwayat lain yang shohih, “…maka Alloh mewahyukan kepada negeri yang buruk untuk menjauh, dan kepada negeri yang baik untuk mendekat, sehingga para malaikat mendapati dia lebih ke negeri yang baik sejarak satu jengkal, maka ia pun diampuni.”

Hadits ini menganjurkan kepada kita untuk bertaubat walau sebesar apa pun dosa kita, mengarahkan kita agar bertanya kepada orang yang berilmu, yaitu para ulama yang mengamalkan ilmunya dan ikhlas, dan jangan bertanya kepada orang bodoh, sebab akibatnya bisa fatal dan kerusakan yang ditimbulkan cukup besar. Juga menunjukkan kepada kita agar berteman dengan orang-orang baik, walau pun harus menempuh perjalanan jauh untuk menemui dan mengambil manfaat dari mereka. Sebab seseorang itu tergantung dengan agama orang dekatnya, maka hendaknya kita menilai seseorang melalui teman dekatnya. Alloh l sendiri memerintahkan Rosul-Nya n untuk berteman dengan orang-orang yang jujur imannya, firman-Nya:

Teks arab

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahf [18]: 28)

Teman yang baik itu ibarat penjual minyak wangi, kalau tidak dia memberimu, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Sehingga sepulang dari tempatnya, paling tidak engkau membawa aroma wangi.

Sedangkan teman yang buruk itu seperti tukang pandai besi, kalau dia tidak membakar bajumu, mungkin engkau akan mendapatkan bau tidak sedap darinya.

Dari Abû Mûsâ Al-Asy‘arî a bahwasanya Nabi n bersabda,

Teks arab

“Perumpamaan teman yang baik dan buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, kalau dia tidak memberimu minyak wangi, engkau bisa membelinya darinya atau paling tidak mendapatkan aroma wangi darinya. Sedangkan tukang pandai besi, kalau bukan ia membuat bajumu terbakar, atau engkau akan mendapatkan bau busuk darinya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Alloh l mensyariatkan hijrah untuk mendapatkan perubahan dalam sebuah masyarakat dan perubahan dunia serta bertemu dengan orang-orang sholeh. Maka sungguh Mahasuci Alloh yang Mahaagung, yang rahmat dan ilmu-Nya Mahaluas meliputi segala hal, memberi pahala banyak atas amal yang sedikit, dan memaafkan banyak kesalahan, bahkan menggantinya dengan perbuatan-perbuatan baik ketika seseorang bertaubat dengan tulus, yaitu taubat yang melahirkan sikap berlepas diri dari dosa dan melenyapkannya hingga tidak tersisa sedikit pun, taubat yang melahirkan penyesalan atas dosa yang telah dilakukan, setiap kali ia mengingatnya wajahnya memerah dan menguning dan tubuhnya bercucuran keringat karena rasa malu dan takut kepada Alloh Yang Mahatunggal lagi Mahaperkasa. Setelah itu ia bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Dengan ini, dia tutup pintu-pintu kemaksiatan, dia buka pintu-pintu ketaatan, dan ia jalankan sebuah perniagaan yang  menguntungkan.

Lihatlah pembunuh yang bertaubat ini, sepanjang hidupnya ia jalani bersama syetan. Tatkala ia berteman dengan para ulama dan mengambil faedah dari ilmu mereka, berjalan dengan cahaya mereka dan bertindak berdasarkan arahan mereka, ia selamat dari orang-orang menyimpang dan sesat, Alloh l mengakhiri hidupnya dengan penutupan yang baik, Alloh hapus dosanya, Alloh tinggikan derajatnya, dan Alloh izinkan para malaikat Rahmat untuk menerima arwahnya supaya digabungkan dengan arwah orang-orang beriman yang tulus, yang mereka itu tidak merasa takut dan sedih.

Maka, tidakkah orang-orang yang berdosa mau bertaubat? Jika bertaubat, tidakkah mereka berlaku jujur dalam taubatnya? Tidakkah mereka dekati orang-orang baik yang mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana mereka cintai hal itu untuk dirinya sendiri? Tidakkah mereka berteman dengan orang-orang sholeh dan mencintai orang-orang yang  beruntung, supaya di hari kiamat nanti dikumpulkan bersama mereka? Sebab manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama orang yang ia cintai.

Sebelum mengakhiri kisah ini, saya jelaskan tanda-tanda taubat yang sungguh-sungguh. Hendaknya seorang muslim tahu bahwa taubat nashûhâ itu memiliki beberapa tanda, di antaranya: keadaan setelah taubat lebih baik daripada sebelumnya, rasa takut (kepada Alloh) masih selalu menyertai dirinya, ia tidak merasa aman dari makar Alloh l walau pun sekejap, dan luluhnya hati karena penyesalan dan rasa takut.[1]

Sungguh-sungguh bertaubat artinya adalah membersihkan taubat itu dari segala bentuk rekayasa, kekurangan dan kerusakan, serta melaksanakannya dengan bentuk yang paling sempurna. ‘Umar bin Khothôb dan Ubayi bin Ka‘ab d mengatakan, “Taubat Nashûhâ adalah bertaubat dari dosa dan tidak kembali lagi kepadanya, sebagaimana air susu tidak kembali lagi ke putting.”

Al-Hasan Al-Bashrî berkata, “Taubat nashûhâ adalah hendaknya seorang hamba menyesal atas dosa yang telah lampau dan bertekad untuk tidak kembali kepadanya.”

Al-Kalbî berkata, “Yaitu beristighfar dengan lisan, menyesali dengan hati, dan menahan anggota badan.”

Sa‘îd bin Musayyib berkata, “Taubat nashûhâ adalah: engkau perlakukan baik dirimu sendiri dengan taubat itu.”

Muhammad bin Ka‘ab Al-Qurodzî berkata, “Taubat nashûhâ terkumpul dalam empat hal: istighfar dengan lisan, meninggalkan dosa dengan anggota badan., menyembunyikan tekad untuk tidak mengulangi di dalam hati, dan meninggalkan teman yang buruk.”

Ibnu `l-Qoyyim berkata, “Sungguh dalam bertaubat mengandung tiga perkara:

Pertama, taubat itu mencakup pada semua dosa, artinya: tidaklah seseorang berbuat dosa apa pun bentuknya kecuali ia bertaubat darinya.

Kedua, Mengumpulkan tekad dan kejujuran total dalam bertaubat, di mana tidak ada lagi keraguan, tidak merasa hina, dan tidak menunda-nunda.

Ketiga, membersihkan taubat itu dari kotoran-kotoran dan penyakit-penyakit yang bisa mengurangi kemurniannya, serta melaksanakannya murni karena takut kepada Alloh, mengharap pahala-Nya dan takut terhadap hukuman-Nya.”[2]

Sengaja saya meletakkan tanda-tanda taubat nashûhâ dan penjelasannya di akhir kisah ini, dengan harapan Alloh mengakhiri umur kita dengan taubat yang nashûhâ, menganugerahi kita kesungguhan dalam bertaubat, dan memudahkan kita untuk melakukan amalan yang Dia ridhoi.

PELAJARAN-PELAJARAN BERHARGA

Dalam hidup ini pasti ada pelajaran-pelajaran berharga yang bisa membangunkan hati yang tertidur, menggerakkan jasad yang terdiam, dan memperlihatkan hakikat dunia sesungguhnya, agar manusia tidak tertipu dengannya dan supaya orang-orang yang tadinya mengikuti hawa nafsu dan syahwat tidak mengagung-agungkannya. Sebab, dunia sebenarnya tak lebih seperti bayangan pohon yang tidak akan berada dalam satu kondisi, tetapi pasti selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Dan siapa tidak mau meninggalkan dunia, dunialah yang akan meninggalkannya. Semoga Alloh merahmati orang yang berkata, “Tinggalkanlah dunia sebelum ia meninggalkanmu, bersiaplah menghadapi kuburan sebelum kamu menempatinya, dan agungkanlah Alloh sebelum kamu menjumpai-Nya.”

Pelajaran-pelajaran dalam hidup memiliki berbagai faedah; bisa mengumpulkan sesuatu yang terpisah-pisah, atau memisahkan sesuatu yang terkumpul. Bisa mendekatkan yang jauh, atau menjauhkan yang dekat. Pelajaran bisa mengumpulkan hati dan hasrat seseorang yang tadinya tercerai berai tak karuan dan mengumpulkan waktunya yang terbuang sia-sia. Sebaliknya, ia bisa mencerai beraikan kesedihan, duka, kegundahan, penyesalan, dosa dan kesalahan-kesalahan yang terkumpul dalam dirinya. Ia bisa mendekatkan yang jauh, yaitu ketika ia mengingatkan akhirat, apa yang sudah disiapkan untuk menghadapinya; supaya seseorang bisa bersiap-siap menyongsong akhirat dan selalu mengingatnya setiap saat, sehingga kesibukan dan tujuannya adalah akhirat, dengan begitu Alloh akan menyatukan urusannya dan menjadikan kekayaan bersemi di dalam hatinya.

Di dalam hadits Anas a bahwasanya Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Siapa yang akhirat menjadi tujuannya, Alloh akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan siapa yang dunia adalah tujuannya, Alloh jadikan kefakiran di depan matanya, mencerai beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya selain yang sudah ditentukan untuknya.” (HR. Tirmizî dengan sanad shohih)

Maksud menjauhkan yang dekat yakni, ketika seseorang berlaku zuhud terhadap dunia, tidak condong kepadanya dan tidak mengagungkannya. Sebab dunia adalah negeri perjalanan, bukan negeri tempat tinggal. Ia adalah negeri yang akan ditinggal pergi, bukan negeri abadi.

Alloh l mengizinkan kita untuk mengambil cerita dari Bani Israel, sebagaimana tercantum dalam hadits Abû Huroiroh a bahwasanya Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Ceritakanlah dari Bani Israel, dan tidak mengapa.” HR. Abû Dâwud dengan sanad shohîh.

Membawakan cerita dari Bani Israel ada tiga macam:

Pertama: Yang kita ketahui kebenarannya, sesuai dengan ajaran kita dan dibenarkan olehnya. Maka kisah yang seperti ini adalah benar.

Kedua: Yang kita ketahui kebohongannya dan ketidak sesuaiannya dengan ajaran kita, maka yang seperti ini tidak boleh diceritakan.

Ketiga: Yang didiamkan, tidak termasuk yang benar, tidak termasuk yang bohong. Maka yang seperti ini boleh diceritakan.[3]

Di antara kisah tersebut adalah yang diriwayatkan dari Bakr bin ‘Abdillâh Al-Muzannî bahwa ia berkata, “Ada seorang raja dari kalangan Bani Israel yang diberi umur panjang dan harta serta anak yang banyak. Anak-anaknya itu, apabila menginjak dewasa mereka bersikap zuhud terhadap dunia dan berkonsentrasi untuk ibadah hingga mereka meninggal dunia. Hal ini tadinya hanya dilakukan oleh sekelompok anak-anaknya sebelum akhirnya seluruh anak-anaknya mengikuti mereka. Pada suatu ketika, ia kembali dikarunia anak laki-laki, maka sang raja memanggil kaumnya, ia berkata, “Aku kembali dikarunia anak laki-laki setelah aku tua, dan kalian tahu betapa aku sangat menyayangi kalian, dan aku khawatir anak ini akan mengikuti jalan yang sudah ditempuh oleh saudara-saudaranya, aku khawatir jika tidak ada satu pun anakku yang menjadi penguasa kalian sepeninggalku maka kalian akan hancur. Oleh karena itu, tahanlah ia sekarang selagi masih kecil, jadikanlah ia suka kepada harta dan dunia, semoga saja ia nanti menjadi penguasa kalian sepeninggalku.”

Akhirnya kaumnya membangunkan sebuah benteng untuk anak itu, yang ukurannya sangat luas, di dalamnya mereka tanami berbagai macam tanaman dan mereka aliri dengan sungai-sungai yang mengalir deras. Anak itu tumbuh di dalam benteng ini dari tahun ke tahun. Maka pada suatu hari ia menunggang kendaraannya dan ingin keluar, ternyata ia dapati sebuah benteng yang tertutup, ia berkata, “Aku mengira di balik tembok ini ada manusia dan orang alim lain, biarkanlah aku keluar agar aku bisa menambah ilmu dan bertemu manusia.”

Hal ini diberitahukan kepada ayahnya, maka ia pun ketakutan dan khawatir anaknya itu akan mengikuti jalan yang telah ditempuh saudara-saudaranya. Maka ia berkata, “Sibukkan dia dengan berbagai bentuk kesenangan dan permainan sampai dia lupa dengan apa yang ia minta.” Kaumnya pun melaksanakannya. Pada tahun kedua, anak itu berkata lagi, “Aku harus keluar.” Diberitahulah ayahnya tentang permintaannya itu, maka ia mengatakan seperti perkataan pertamanya dulu, yaitu memerintahkan agar menyibukkannya dengan perbuatan yang melalaikan. Akan tetapi anak itu mengulangi hal yang sama di tahun ketiga. Maka ayahnya berkata, “Baiklah, biarkan dia keluar tapi naikkan dia di atas sebuah kendaraan,” kendaraan itu dihiasi dengan zabarjad dan emas. Maka ia keluar dengan dikawal dua kelompok manusia di sampingnya kanan kirinya. Ketika tengah asyik berjalan, tiba-tiba ia melewati orang yang sedang tertimpa musibah –mungkin musibah kefakiran, mungkin penyakit, atau bisa jadi cacat, atau yang lain—, ia berkata, “Apa ini?” Mereka mengatakan, “Orang yang tertimpa musibah,” ia berkata, “Apakah ini hanya menimpa sebagian manusia sementara yang lain tidak, ataukah akan menimpa semua yang takut tertimpa olehnya?” Mereka mengatakan, “Ia menimpa siapa saja yang takut tertimpa olehnya.” Ia berkata, “Sedangkan aku dalam kondisi kekuasaan seperti ini?” Mereka menjawab, “Ya,” ia berkata, “Kalau begitu celakalah kehidupan kalian ini, ini adalah kehidupan menyedihkan, penuh petaka dan derita.” Anak itu pulang dalam keadaan sedih dan gelisah. Maka diberitahukan hal itu kepada ayahnya, ia berkata, “Lupakan dia dengan berbagai macam kenikmatan dan perhiasan.” Mereka pun melakukannya. Setahun kemudian, anak itu berkata, “Keluarkan aku.” Maka ia dibawa keluar dalam kondisi seperti yang pertama dulu. Ketika ia tengah asyik berjalan, tiba-tiba ia melewati orang yang sudah pikun, air liurnya menetes di mulutnya. Ia bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Orang yang sudah pikun,” Ia bertanya, “Apakah akan menimpa sebagian manusia saja ataukah semua yang usianya panjang khawatir akan tertimpa seperti itu?” Mereka berkata, “Semua orang mengkhawatirkannya.” Maka ia berkata, “Celakah kehidupan kalian ini, ini adalah hidup yang tidak membahagiakan siapa pun.” Hal itu diberitahukan kepada ayahnya, maka ia berkata, “Kumpulkan segala yang melalaikan dan sia-sia untuknya,” mereka pun melakukannya. Setahun kemudian, anak itu keluar berkendara seperti sebelumnya. Maka ketika ia tengah asyik berjalan, lewatlah ia dengan sebuah pembaringan yang diangkut oleh orang banyak. Ia bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Orang yang mati,” ia bertanya kepada mereka, “Apa itu mati? Bawa kemari orang mati itu.” Maka mereka mendatangkannya, ia berkata, “Dudukkan dia,” mereka berkata, “Ia tidak bisa duduk,” ia berkata, “Ajak dia bicara,” mereka berkata, “Ia tidak bisa berbicara.” Ia bertanya, “Lantas ke mana hendak kalian bawa dia pergi?” Mereka berkata, “Kami akan menguburnya di dalam tanah.” Ia bertanya lagi, “Lalu apa yang terjadi setelah itu?” Mereka menjawab, “Hari perhimpunan,” “Apa hari perhimpunan itu?”tanyanya lagi. Mereka mengatakan, “Hari berdirinya manusia di hadapan Robb semesta alam. Maka setiap orang diberi balasan sesuai kebaikan dan keburukannya.”

Ia berkata, “Adakah negeri selain negeri dunia ini?” Mereka mengatakan, “Ya, yaitu negeri pembalasan dan perhitungan, negeri memetik hasil dan buah.” Mendengar itu, anak itu meloncat dari atas kendaraan dan menaburkan tanah di wajahnya, setelah itu ia berkata, “Inilah yang kutakutkan, ia hampir saja mendatangiku sementara aku tidak mengetahuinya. Sesungguhnya aku memiliki tuhan yang memberi rezeki, dan akan mengumpulkan serta memberi balasan, kalian telah menjadikanku melupakan-Nya, ini adalah kesempatan terakhir antara diriku dan kalian, kalian tidak berhak mengaturku lagi setelah hari ini.” Setelah itu dia keluar dari istana raja meninggalkan para pelayan dan pembantu, ia tinggalkan dunia dan kenikmatannya karena menginginkan kenikmatan akhirat, dan ia menghadapkan diri kepada tuhannya, kita mohon kepada Alloh agar menerima taubatnya dan mengampuni kesalahannya.[4]

Dalam kisah tadi, Alloh l membuat tiga pelajaran yang ditampakkan di hadapannya ketika ia hidup dalam kemewahan yang melimpah. Hanya saja, pelajaran pertama tidak membuatnya terpengaruh dan tidak merubah kehidupan binasa yang ia jalani sedikit pun. Pada pelajaran kedua ia tidak terpengaruh kecuali dalam batas waktu tertentu, akan tetapi fitroh yang menggerakkan pelajaran-pelajaran itu menggugah dirinya setiap saat dan berhasil mendorong dirinya mengambil faedah, walau pun sedikit. Hingga tibalah pelajaran ketiga yang menghentikan dirinya di hadapan masa depan tempat ia bakal kembali kelak, dan tempat kembali semua yang hidup. Ia sasksikan sendiri kondisi perpindahan dari alam dunia menuju alam akhirat, ia tidak melihat orang mati itu diiringi harta, pangkat, istana, atau dunia, tapi ia tidak membawa apa-apa selain kain kafan. Yang akan menemaninya di alam kubur hanyalah amal sholehnya. Maka tahulah dia bahwa inilah akhir segalanya, maka ia berubah dari yang tadinya membuang-buang umur menjadi rajin beramal, dari kelalaian kepada mengingat Alloh, dari cinta dunia kepada cinta dunia, dan dari berteman dengan orang-orang lalai kepada berteman dengan orang-orang yang senantiasa ingat Alloh.

Seandainya manusia mau mengambil manfaat dari tiga pelajaran di bawah ini, tentu kondisi mereka akan berubah dan kesalehan mereka akan bertambah.

Pelajaran pertama: Mengunjungi rumah sakit-rumah sakit yang penuh sesak dengan orang-orang sakit dan lumpuh. Di antara mereka ada yang tidak bisa bergerak, ada yang tubuhnya lumpuh dan hanya terbaring di atas tempat tidurnya tanpa mampu melangkah sedikit pun. Ada yang kehilangan pendengaran sehingga tidak mengerti apa yang diucapkan manusia, ada yang kehilangan penglihatan sehingga tidak tahu apa yang tengah terjadi di masyarakatnya, siang dan malam sama saja baginya. Ada yang hilang ingatannya sehingga ia seperti orang gila yang tidak mampu membedakan sesuatu. Ada yang seperti orang mati, tidak sadar tentang dirinya sama sekali, tidak bergerak kecuai dengan alat Bantu dan tidak tahu kapan siang kapan malam. Orang seperti ini, berapa ia harus kehilangan dzikir, sholat, puasa, membaca Al-Quran, pengarahan dan nasehat. Memang, bisa jadi pahalanya terus mengalir jika sebelumnya ia adalah orang yang beramal sholeh.

Dari Abû Mûsâ Al-Asy‘arî a berkata, Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Jika seorang hamba sakit atau bepergian, Alloh l menulis pahalanya sebagaimana ia dalam keadaan sehat dan mukim (tidak bepergian).” HR. Bukhôrî.

Kalau orang mau mengunjungi rumah sakit, ia akan tahu karunia Alloh yang terlimpah atas dirinya dan tentu ia akan meninggalkan banyak sekali perbuatan maksiat.

Pelajaran kedua: Ziarah kubur dengan ziyarah yang dibenarkan oleh syari‘at untuk mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang sudah meninggal dan mengingat akhirat. Karena kuburan adalah tempat tinggal yang pasti akan kita singgahi. Seorang hamba tidak tahu apakah ia akan menempatinya dengan amal sholeh ataukah dengan amal buruk. Dan seorang ketika seorang hamba meninggalkan rumahnya di dunia menuju kuburan, ia diikuti oleh tiga hal: hartanya, anaknya, dan amalnya. Kemudian harta dan anaknya kembali, tinggallah amal yang masih mendampinginya.

Di dalam riwayat Muslim, dari hadits Ibnu `l-Hushaib, Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Sesungguhnya aku dulu melarang kalian menziarahi kubur, maka sekarang ziarahilah kubur untuk mengingatkan kebaikan kepada kalian.”

Di dalam riwayat Hâkim dari hadits Anas bin Mâlik dengan sanad shohîh bahwasanya Nabi n bersabda, “Dulu aku melarang kalian menziarahi kubur, maka hendaklah kalian sekarang menziarahinya. Karena itu akan melembutkan hati, membuat mata menangis, dan mengingatkan akhirat.”

Pelajaran ketiga: Mengetahui kondisi orang-orang miskin yang tidak mempunyai kebutuhan hidup yang cukup. Mereka lewati hari-harinya tanpa mendapatkan kebutuhan hidup yang cukup, siang malam mereka lalu dalam rangka mencari rezeki dan mereka tidak pernah bisa duduk bersenang-senang bersama anak-anaknya kecuali hanya sebentar.

Alloh telah menjadikan kefakiran sebagai pertanda yang mengingatkan orang kaya akan karunia Alloh l yang terlimpah atasnya; supaya hatinya menjadi lembut, kondisinya menjadi baik, dan banyak berinfak.

Di antara kisah yang terjadi pada nabi Yûsuf q adalah, suatu ketika beliau melaparkan dirinya ketika perbendaharaan negara Mesir ada di tangannya. Tatkala ditanya sebab beliau melakukan hal itu, beliau menjawab, “Supaya aku tidak lupa dengan orang-orang fakir.”

Kita memohon kepada Alloh l agar menganugerahi kita taubat dan istiqomah, melembutkan hati kita dan memperbaiki keadaan kita, menjadikan sesuatu yang menjadikan kita mengingat-Nya, mengenakan pakaian kasih sayang dan rahmat pada hati kita, dan mengenakan padanya pakaian petunjuk serta keimanan.

KERAJAAN YANG TAK KAN SIRNA

Bagi orang yang berakal, tidak pantas ia terbuai dengan perhiasan dunia yang sementara, sebab ia akan berpindah meninggalkannya menuju tempat lain, sedangkan hari-hari ini adalah bergilir; siapa berbahagia di waktu tertentu akan merasakan kesusahan di waktu yang lain. Al-Quran sendiri mendorong kita untuk cinta akhirat dan zuhud kepada dunia, Alloh l berfirman:

Teks arab

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (Asy-Syûrô [42]: 20)

Selama apa pun manusia hidup di dunia ini, di kemudian hari pasti akan meninggalkannya juga. Sudah seharusnya manusia menelungkupkan wajah dunia ke tanah dan menaiki punggungnya. Dunia, seperti dikatakan Al-‘Allâ’ bin Ziyâd, adalah: “Seperti nenek-nenek yang ompong, penuh uban, lumpuh dan juling  matanya. Semua sifat keburukan ada pada dunia, hanya saja ia mengenakan pakaian paling bagus dan mengenakan perhiasan paling indah. Maka siapa hanya melihat luarnya saja, pasti akan kagum kepadanya. Dan siapa yang mengerti bagian dalamnya, pasti akan lari menjauhinya.”

Di antara yang mengesankan hati adalah sebuah kisah yang diriwayatkan Abû Mi‘dân, dari ‘Aun bin ‘Abdillâh bin ‘Utbah bin Mas‘ûd ia berkata, “Aku pernah bercerita kepada ‘Umar bin ‘Abdu `l-‘Azîz bahwa dulu di zaman sebelum kita ada seorang raja membengun sebuah istana dan ia membangunnya sedemikian indah, dengan meluaskan dan membangunnya sedemikian rupa. Sampai dikisahkan bahwa ia mencat istana itu dengan emas. Itu membuat manusia terkagum-kagum dan memikat hati mereka, karena semua orang menginginkan istana seperti itu. Setelah itu ia membuat jamuan makan dan mengundang manusia untuk menghadirinya, lalu memerintahkan sebagian pelayannya duduk di depan pintu-pintu masuknya dan memerintahkan mereka untuk menanyai siapa saja yang keluar dari istana: Apakah engkau melihat ada cacat? Maka semua orang mengatakan, “Tidak ada.”

Barangkali mereka tidak melihat adanya cacat karena melihat sepintas dan merasa puas dengannya, dan mereka ingin menyenangkan hati sang raja karena berharap mendapatkan hadiah darinya, sehingga itu justeru membahayakan dirinya ketika mereka tidak mau menasehatinya. Hingga akhirnya Alloh l datangkan orang-orang yang mereka masuk terakhir kali dan menjadi orang-orang terakhir yang dimintai pendapat. Maka orang-orang itu berkata, “Kami melihat pada istana ini ada dua cacat.” Raja berkata, “Satu cacat pun aku tidak rela, bagaimana dengan dua? Panggil mereka ke sini.” Setelah dipanggil, orang-orang itu berkata, “Cacat pertama: istana ini akan hancur. Cacat kedua: pemiliknya akan mati.” Mendengar itu, raja berkata kepada mereka, “Adakah istana yang tidak hancur? Dan adakah penghuninya yang tidak akan mati?” “Ada…” jawab mereka, “…istana-istana surga tidak akan pernah hancur dan penghuninya tidak akan pernah mati.”

Setelah itu mereka menasehati raja dengan nasehat yang agung dan mendakwahinya dengan dakwah yang jujur, hingga raja menyambut ajakan mereka. Setelah itu ia berkata, “Jika aku berjalan bersama kalian secara terang-terangan, rakyatku tidak akan membiarkanku begitu saja. Tetapi aku berjanji bertemu kalian di tempat ini dan itu.” Akhirnya raja hidup bersama mereka selama beberapa waktu hingga keadaannya berubah baik dan iman menguat. Setelah itu ia meninggalkan mereka untuk menjadi dai yang menyeru orang lain sekaligus pelita cahaya yang menerangi orang lain.”[5]

Ada yang mengatakan bahwa raja yang bertaubat ini adalah Ibrôhîm bin Adham v, ia hidup dalam kerajaan selam beberapa tahun kemudian ia meninggalkannya untuk mencari ilmu dan beribadah. Pada suatu hari, ia berada di tepi sungai Dajlah, atau Eufrat, sementara ia tidak punya apa-apa selain beberapa potong roti. Maka ia celupkan roti itu ke air sungai lalu memakannya, tiba-tiba ia merasakan kelezatan tiada tara bersama kelezatan iman yang bersamayam di dalam hatinya. Maka ia berkata, “Seandainya para raja dan anak-anak para raja mengetahui kelezatan dan kenikmatan yang kita rasakan, tentu mereka akan mencambuk kita dengan pedang.”

Ini bukan aneh jika dikatakan oleh seorang Ibrôhîm bin Adham, sebab ia berkata tentang kenyataan hidup yang ia alami, ia bisa menjelaskan keadaan yang dulu pernah terjadi pada dirinya. Namun ia yakin bahwa kerajaan hakiki adalah kerajaan yang tidak akan punah dan berubah, tidak hilang ditelan masa, kerajaan itu abadi selagi pemiliknya masih ada, kekal tanpa mati, muda tanpa tua, sehat dan tanpa sakit. Abû Sa‘îd Al-Khudrî dan Abû Huroiroh d meriwayatkan bahwa Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Penyeru akan berseru, bahwa kalian –wahai penduduk surga—‘: Selalu sehat dan tidak akan pernah sakit selama-lamanya, hidup dan tidak akan pernah mati selama-lamanya, kalian terus muda dan tidak akan pernah tua untuk selama-lamanya, dan kalian akan selalu dalam kenikmatan dan tidak akan pernah susah untuk selama-lamanya. Itulah firman Alloh k: “…dan mereka diseru: Itulah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan amal perbuatan yang telah kalian lakukan.”” (HR. Muslim)

Betapa mirip kisah ini dengan kisah ini dengan kisah ‘Umair bin Hubaib As-Sullamî ketika ia ditawan oleh tentara Romawi bersama delapan temannya –di zaman khalifah ‘Umar bin ‘Abdu `l-‘Azîz—ia berkata, “…kemudian mereka mengeluarkanku dalam keadaan terikat dan mengeluarkan teman-temanku. Setiap kali satu orang keluar, mereka membunuhnya di depanku untuk menakut-nakutiku. Hingga tidak tersisa lagi selain diriku karena ada salah seorang menteri yang memohonkan ampunan untukku sehingga aku diampuni. Kemudian menteri itu mengajakku ke rumahnya, ia menawarkan dunia dan wanita kepadaku, padahal keduanya adalah dua penyakit yang paling dikhawatirkan oleh Nabi n akan menimpa umatnya dan beliau memerintahkan agar mewaspadai keduanya. Dari Abû Sa‘îd Al-Khudrî a bahwsanya Rosululloh n bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Alloh l menguasakan kamu di dalamnya lalu melihat bagaimana kalian berbuat, maka takutlah dnuai dan takutlah wanita.” HR. Muslim.

‘Umari melanjutkan, “Ia menawarkan kepadaku akan membagi dua hartanya, kebetulan ia memang memiliki harta dalam jumlah besar. Tapi aku menolaknya demi menjaga agamaku, sebab ia memintaku memeluk agama nashrani dan meninggalkan Islam. Maka kukatakan: “Demi Alloh, tak mungkin kukedepankan duniaku daripada agamaku, perutku daripada nyawaku, hawanafsuku daripada Robbku, kegelapan daripada cahaya, kezaliman daripada keadilan, kebinasaan daripada kebahagiaan, dan kehidupan daripada kematian.”

Kemudian ia menawarkan yang lain, tiba-tiba saja puterinya masuk menemuiku, dia termasuk wanita paling rupawan. Ia memerintahkan puterinya itu untuk menggodaku dengan kecantikannya yang menawan. Ketika aku melihatnya masuk, kutundukkan pandanganku ke bumi, sebab tidak ada obat bagi penyakit ini selain menundukkan pandangan.

‘Umair berkata, “Wanita itu menginginkan dariku satu kalimat, satu pandangan, atau satu senyuman saja, tapi ia tidak mendapatkannya dariku. Akhirnya ia keluar dalam keadaan merugi setelah Alloh l menjaga diriku. Maka masuklah ayahnya, ia berkata, “Kami coba menggodamu dan membuatmu berbalik serta meninggalkan agamamu tapi ternyata kami tidak mampu, apakah kamu mau kembali ke keluargamu?” Aku katakan, “Ya,” Ia berkata, “Apakah engkau melihat bintang itu?” “Ya,”jawabku. Ia berkata, “Ikutilah bintang itu, sebab ia mengarah ke tempat kaummu.” Akhirnya mereka membebaskanku, aku pun pergi dengan bersembunyi di siang hari dan berjalan di malam hari hingga sampailah aku ke tempat kaumku, setelah Alloh l menjagaku. Benarlah Rosululloh n yang bersabda dalam sebuah hadits Ibnu ‘Abbâs: “Hai anak muda, jagalah (perintah) Alloh niscaya Dia akan menjagamu, jagalah (perintah) Alloh niscaya engkau dapati Dia ada di hadapanmu…”[6] HR. Ahmad dan Tirmizî dengan sanad shohîh.

Sungguh mengherankan jika masih ada keinginan-keinginan yang rendah, yang rela dengan sesuatu yang fana tapi menjauh dari sesuatu yang abadi. Yang berlomba mendapatkan penyakit tapi malah berpaling dari obatnya, yang meninggalkan kebutuhan diri dan menghadap kepada petaka! Sungguh aneh orang yang yakin akan datangnya kematian, bagaimana ia bisa bermain-main? Orang yang yakin kepada surga, bagaimana dia merasa sedih? orang yang yakin dengan neraka, bagaimana ia lalai? Dan yakin kepada hari perhitungan, bagaimana dia lupa? Sungguh indah kata-kata seorang penyair:

Seandainya setelah mati kita dibiarkan begitu saja

Tentu kematian adalah istirahatnya semua yang hidup

Akan tetapi bila kita sudah mati kita kan dibangkitkan

Lalu kita ditanya setelah itu, tentang segala hal…

ARTI SEBUAH NASEHAT

Alloh l menjadikan nasehat bagi hati ibarat air hujan bagi bumi, ia melunakkkannya setelah sebelumnya keras sebagaimana air melunakkan bumi. Dan menumbuhkan kebaikan-kebaikan di dalamnya sebagaimana air menumbuhkan dedaunan dan rumput-rumput yang tebal pada tanah. Hanya saja, kerasnya hati lebih keras daripada kerasnya tanah, bahkan bisa lebih keras daripada batu. Betapa banyak Alloh selamatkan jiwa seseorang dari kehancuran dengan sebuah nasehat, setelah itu menunjuki dengannya kepada iman.

Semoga Alloh merahmati orang yang mengatakan, “Nasehat bagi hati ibarat cambuk bagi tubuh. Jika ia menggerakkannya, badan ikut bergerak. Jika membangunkannya, ia terbangun.” Betapa banyak hati yang Alloh perbaiki dan dosa yang Dia ampuni melalui perantara sebuah nasehat.

Dikisahkan pada perang Khoibar tahun 7 H, ketika Nabi n tengah mengepung sebagian benteng Khoibar yang terkenal kokoh, datanglah seorang hamba sahaya berkulit hitam, ia adalah seorang penggembala yang menggembalakan kambing milik salah seorang yahudi Khoibar. Ia merasa kagum dengan sikap rendah hati kaum muslimin, pergaulan mereka yang baik, kata-kata mereka yang sopan, dan sikap mengutamakan mereka terhadap sesamanya. Nampaknya, tanda-tanda ketertarikan kepada Islam mulai nampak di wajah lelaki ini. Maka ia meminta Rosululloh n agar menerangkan Islam kepadanya, Rosululloh n pun menjelaskannya segamblang mungkin dan dengan ungkapan kata sebaik mungkin. Akhirnya terbatiklah iman dalam hati sang penggembala, ia merasakan kerinduan dan kecintaan kepada Islam, maka ia pun mengucapkan persaksian (syahadat) bahwa tiada Ilâh yang patut disembah selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh. Setelah itu ia berkata, “Wahai Rosululloh, apa yang harus kuperbuat dengan kambing-kambing ini? Aku dipercaya menjaganya sementara aku ingin mengembalikannya kepada pemiliknya. Alloh telah memuliakanku dengan Islam, maka tidak mungkin aku tetap menjaga seorang penggembala orang yahudi.” Rosululloh n bersabda, “Ambillah segenggam tanah dan lemparkan ke muka kambing-kambing itu, Alloh akan mengembalikannya untukmu kepada pemiliknya.”

Penggembala segera  melaksanakan perintah tersebut, ia ambil segenggam tanah lalu ia lemparkan ke muka kambing-kambing itu, maka kambing-kambing itu pergi dengan cepat hingga sampai ke tempat pemiliknya.

Sementara budak hitam ini maju ke medan tempur untk bergabung bersama pasukan Alloh l dan berdiri di bawah bendera tauhid. Maka ia mulai berjihad dengan para shahabat h demi meninggikan kalimat Alloh, apalagi kini ia sudah tahu keutamaan jihad dan mujahidin serta pahala yang Alloh sediakan untuk mereka. Ia menghadapi musuh dengan jiwa dan pedangnya, berduel dan bertarung dengan mereka. Tak berapa lama kemudian, sebongkah batu –atau sebuah anak panah—menghantam tubuhnya hingga ia menemui ajalnya. Ia kembali kepada Robbnya dalam keadaan bertaubat dan sebagai seorang mujahid yang mengharapkan rahmat Alloh dan takut akan siksa-Nya. Semoga saja ia tercatat di barisan para syuhada.

Dikisahkan bahwa orang ini belum pernah bersujud kepada Alloh l walau pun hanya sekali. Sebab dia langsung terjun ke medan jihad begitu ia masuk Islam dan kemudian terbunuh dalam jihad tersebut.

Setelah terbunuh, jasadnya di bawa menghadap Nabi n dan kemudian beliau tutup dengan mantelnya. Lalu beliau memandang ke arahnya, kemudian berpaling. Ketika ditanya mengapa beliau berpaling darinya, beliau bersabda, “Sesungguhnya ia diiringi dua isterinya dari Hûrun ‘În (bidadari bermata jeli).”[7]

Mahasuci Alloh Yang Mahapemurah lagi Mahamemberi, yang mau menerima taubat orang yang mau bertaubat dan menerima kesyahidannya jika ia berjihad dan mau kembali kepada-Nya, meninggikan derajatnya jika ia berjalan sesuai sunnah, dan memilihnya sebagai orang-orang yang berakal (ulu `l-Albâb). Sudah sewajarnya lah jika orang yang mati di jalan Alloh mendapatkan derajat dan kedudukan yang tinggi.

Miqdâm bin Ma‘dî Karb a meriwayatkan bahwa Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Orang yang mati syahid mendapatkan tujuh perkara di sisi Alloh: Diampuni dosanya di saat darah pertamanya menetes, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dikenakan perhiasan iman, dinikahkan dengan tujuh puluh dua isteri dari para bidadari yang bermata jeli, diselamatkan dari adzab kubur, diamankan dari kegoncangan besar di hari berbangkit, disematkan mahkota kemuliaan: di mana satu permatanya lebih baik daripada dunia seisinya, dan diberi kesempatan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR. Ahmad, Tirmizî dan Ibnu Mâjah dengan sanad shohîh)

bahkan, seorang mujahid mendapatkan kedudukan sangat tinggi di sisi Alloh l yang tidak bisa digapai oleh selain mereka. Disebutkan dari Abû Sa‘îd Al-Khudrî a bahwa Rosululloh n bersabda, “Wahai Abû Sa‘îd, siapa yang ridho Alloh sebagai robbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai nabinya, pasti ia masuk surga. Ada satu perbuatan lain yang dengannya Alloh tinggikan seorang hamba sejauh seratus derajat di surga, jarak antara satu derajat ke derajat berikutnya sejarak antara langit dan bumi, yaitu jihad di jalan Alloh, jihad di jalan Alloh.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Nasâî)

Hadits ini bisa meningkatkan hubungan antara seorang mukmin dengan robbnya dan menguatkan imannya, karena adanya rasa yakin terhadap keluasan ampunan dan rahmat Alloh. Sebagaimana juga mendorng seorang mukmin untuk bersikap ikhlas dalam berkata-kata, berbuat dan bergaul dengan sesama. Karena Alloh l tidak semata-mata melihat kepada rupa dan bentuk fisik, akan tetapi melihat kepada hati dan amal perbuatan. Dan amal apa pun yang tidak bersambung dengan hati, maka amal tersebut ditolak dari pelakunya, karena amal perbuatan itu tergantung dengan niat. Maka, mengapakah orang-orang yang bermaksiat tidak segera memperbaiki hubungannya dengan Robbnya, bersegera untuk bertaubat,  mengikhlaskan diri dalam kembali kepada-Nya, dan berbuat jujur dalam perbuatannya, supaya dengan itu mereka mendapatkan pahala tuhannya, memperoleh ampunan majikan-Nya, dan meraih kemuliaan dengan mendapat kedekatan di sisi Tuannya?!

Ibnu Hajar menyebutkan dalam Al-Ishôbah bahwa nama budak ini adalah Aslam, namun dibantah oleh Ibnu `l-Atsîr, ia berkata, “Tidak ada satu pernyataan pun yang menyebutkan  bahwa nama budak itu adalah Aslam.”

Ibnu Hajar berkata, “Ini adalah bantahan yang beralasan, Abû Nu‘aim menyebutkan namanya adalah Yasâr. Ar-Rosyâthî berkata dalam Al-Ansâb: namanya adalah Aslam Al-Habsy, ia masuk Islam dalam perang Khoibar, ia ikut berperang hingga gugur, padahal belum pernah sekali pun ia sholat.”[8]

Apapun, yang jelas amal tersebut sedikit namun banyak pahalanya, rahmat Alloh mahaluas meliputi segala sesuatu, inilah balasan bagi sebuah keikhlasan dan kejujuran yang dijalani oleh budak sahaya tadi di akhir-akhir kehidupannya. Dengan itu, ia berhasil menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, dengan dua sifat itu ia keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari kesempitan menuju kebahagiaan.

Itulah saat kehidupan hakiki yang saya ambil pelajaran dengannya dari seorang manusia yang lurus, ia mengenali jalan hidayah lalu menempuhnya, mengenal jalan kesesatan lalu menjauhinya, dan melakukan perubahan total dari kehidupan binatang menuju kehidupan malaikat, dari hidup menghamba kepada perut dan syahwat menuju penghambaan kepada Alloh yang Mahaesa lagi Mahaperkasa.

Kita mohon kepada Alloh l agar membukakan hati kita untuk menerima kebaikan, menghindarkan kita dari kejahatan, memberi anugerah taubat yang tulus kepada kita, dan meneguhkan kita di atas kebenaran hingga kita berjumpa dengan-Nya.

KEBAHAGIAAN MENGHAMPIRINYA

Hidayah berupa taufik hanyalah hak Alloh l semata, Dia memberikan dan menganugerahkannya kepada orang yang Dia kehendaki. Terkadang seseorang menghabiskan sebagian besar umurnya dalam kondisi berpaling dari Alloh l, tapi setelah itu ia mendapat rahmat Alloh l dan memperoleh hidayah dari-Nya serta tergerak untuk masuk ke dalam agama Alloh. Padahal, mungkin ia tidak menjalani masa hidup dalam hidayah ini kecuali sebentar saja dari umurnya yang masih tersisa, setelah itu ia meninggal dunia di atas tauhid yang murni, sehingga ia mendapatkan kebahagiaan, ia tinggalkan dunia dengan membawa Lâ ilâha illa `l-Lôh, Muhammadun Rosulûlulloh n.

Bahkan, tak jarang seseorang rela mengorbankan nyawanya di jalan Alloh dan berperang bersama kaum muslimin sebentar saja kemudian dia terbunuh di medan pertempuran, dalam kondisi sedang membela agama Alloh l, didorong semangat menyebarkannya, dan ingin meninggikan kaliat Alloh l, sehingga akhrinya dia menjadi syuhada yang memperoleh kebahagiaan dan orang-orang bertakwa yang memenuhi janjinya. Dan inilah yang terjadi pada diri Ushoirim Banî Abdi `l-Asyhal, yang memiliki nama lengkap: ‘Amrû bin Tsâbit bin Waqsy Al-Anshôrî  Al-Ausî Al-Asyhalî; saudara Salamah bin Tsâbit dan sepupu ‘Ibâd bin Bisyr serta keponakan Hudzaifah bin Al-Yamân –Radhiyallôhu ‘Anhum Ajma‘în—.

Ibnu Ishâq berkata, “Telah bercerita kepadaku Al-Hushoin bin ‘Abdi `r-Rohmân dari Abû Sufyân Maulâ Ibnu Abî Ahmad dari Abû Huroiroh, Al-Hushoin berkata, “Orang-orang bercerita kepadaku tentang seseorang yang masuk surga padahal ia belum pernah sholat sekali pun, ketika mereka tidak tahu siapa orang itu mereka bertanya kepada Abû Huroiroh, siapa dia? Maka Abû Huroiroh berkata, “Ushoirim Banî ‘Abdi `l-Asyhal: ‘Amrû bin Tsâbit.” Al-Hushoin berkata, “Maka kutanyakan kepada Mahmûd bin Asad, Bagaimana Ushoirim itu?” Ia berkata, “Tadinya ia menolak Islam bersama kaumnya, maka tatkala pecah perang Uhud ia mulai tertarik masuk Islam dan kemudian ia pun masuk Islam. Setelah itu ia mengambil pedangnya dan pergi hingga sampai di barisan orang-orang, kemudian ia berperang hingga mengalami luka-luka. Ketika ada beberapa orang dari Bani Asyhal mengevakuasi para korban dari mereka yang meninggal di medan pertempuran, mereka kaget karena menemukan Ushoirim, mereka berkata, “Demi Alloh, ini adalah Ushoirim, apa yang membuatnya datang ke sini? Karena Islam atau karena kekafiran? Sungguh kita meninggalkan dia sementara ia menolak berjihad.” Sebelumnya, ketika berangkat ke medan tempur mereka sempat melewati Ushoirim dan menawarkan kepadanya untuk ikut tapi dia menolak. Ketika mereka melihatnya hadir bersama mereka, mereka bertanya kepadanya, “Apa yang mendorongmu ke sini wahai ‘Amrû? Untuk membela kaummu ataukah karena kecintaan kepada Islam?” Ia berkata, “Karena kecintaan kepada Islam, aku beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya n, lalu aku mengambil pedangku dan aku pergi bersama Rosululloh n kemudian aku berperang hingga kualami luka-lukaku ini.” Tak lama kemudian, ia meninggal dunia. Maka hal itu diceritakan kepada Rosululloh n, mendengarnya Rosululloh n bersabda, “Sesungguhnya ia termasuk penghuni surga.” (Hadits ini isnad-nya hasan)[9]

Abû Dâwud meriwayatkan melalui jalur lain, juga Hâkim dan lain-lain, melalui jalur Hamâd bin Salamah, dari Muhammad bin ‘Amrû, dari Abû Salamah dari Abû Huroiroh a, bahwasanya ‘Amrû bin Tsâbit Al-Ushoirim punya harta riba di masa jahiliyah sehinga ia enggan masuk Islam sebelum ia ambil harta ribanya tersebut. Maka terjadilah peristiwa Uhud, ia berkata, “Di manakah para sepupuku?” Orang-orang berkata, “Di Uhud.” “Di Uhud?” tanyanya. Maka ia mengenakan baju besinya dan memacu kudanya, setelah itu menyusul mereka. Ketika kaum muslimin melihatnya, mereka mengatakan, “Menjauhlah dari kamu wahai ‘Amrû.” Ia berkata, “Aku telah beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya.” Maka ia bertempur dengan sengit hingga mengalami luka-luka, kemudian ia dibawa pulang kepada keluarganya dalam kondisi penuh luka. Lalu datanglah Sa‘ad bin Mu‘âdz, ia bertanya kepada saudaranya, Salamah, “Apakah karena membela kaumnya atau marah karena Alloh dan rosul-Nya?” ia menjawab, “Bahkan marah karena Alloh dan Rosul-Nya.” Maka akhirnya ia meninggal dunia dan masuk surga padahal ia belum pernah sholat sekalipun.

Ibnu Hajar berkata di dalam Al-Ishôbah: “Isnad hadits ini hasan, kompromi antara hadits ini dengan hadits sebelumnya adalah bahwa orang-orang yang mengatakan,”menjauhlah kamu dari kami….” Adalah kaum muslimin yang bukan dari kaumnya (Banî ‘Abdi `l-Asyhal) dan bahwasanya ketika mereka menemukannya di medan tempur, mereka membawanya kepada sebagian keluarganya.”[10] Al-Ushoirim pergi meninggalkan dunia membawa amal yang sedikit namun berpahala banyak, dan itu adalah keutamaan yang Alloh berikan kepada siapa yang dia kehendaki. Dan sungguh Dia telah menyempurnakan berbagai nikmat kepada kita sampai kita tidak mampu menghitungnya. Diantara nikmat-Nya yang terbesar adalah membalas satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan; bahkan melipatgandakan hingga tujuh ratus lipat, hingga kelipatan yang banyak, dengan satu sedekah Alloh melipat gandakannya menjadi tujuh ratus lipat; bahkan mengembangkan bagi pemiliknya hingga sebesar gunung. Dari ‘Abdullôh bin ‘Abbâs d bahwasanya Rasulullah n bersabda:

Teks arab

“Sesungguhnya Alloh menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskan hal itu, maka barang siapa berniat melakukan satu kebaikan tapi belum melaksanakannya, Alloh tulis satu kebaikan penuh. Dan jika berniat melakukannya dan sudah melakukannya maka Alloh menulis disisinya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang banyak. Dan jika seseorang berniat melakukan satu keburukan dan belum sempat melakukannya, Alloh tulis disisinya satu kebaikan penuh. Jika ia meniatkannya kemudian sudah melakukannya, Alloh tulis satu keburukan. Dan tidak ada yang binasa dihadapan Alloh kecuali orang yang benar-benar binasa.” (Muttafaq ‘Alaih)

Semoga Alloh merahmati Al-Ushoirim, menerima kesyahidannya dan meninggikan derajatnya. Sungguh dia telah memperoleh kebahagiaan di dunia ketika ia mau masuk kedalam agama Alloh dengan sukarela dan tunduk, serta mencintai Alloh dan meniggalkan kebiasaan jahiliyahnya, yaitu kesyirikan dan kesesatan. Ia pergi bersama rombongan orang-orang sholih yang menginkan kebaikan hatinya, menginginkan kebaikan jasadnya, mereka perbaiki dunianya demi kebaikan akheratnya. Dan Alloh l maha luas ampunan-Nya, Ia menerima taubat seorang hamba selagi nyawanya belum sampai ditenggorokan, lantas bagaimana jika taubat tersebut dilakukan di medan-medan tempur di saat nyawa di korbankan sebegitu murah di jalan Alloh, agar ia bisa terbang di dalam tembolok burung-burung hijau?

Dari ‘Abdullôh bin Mas‘ûd a bahwasanya Rosululloh n bersabda

Teks arab

“Sesungguhnya arwah para syuhada di dalam tembolok burung hijau yang memiliki pelita-pelita yang tergantung dibawah ‘arsy, mereka berjalan-jalan di syurga sesuka hatinya kemudian beristirahat pada pelita-pelita tersebut. Maka Robb mereka melihat sekali lihat kearah mereka lalu berfirman, “Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka menjawab, “Apalagi yang kami inginkan sementara kami bisa berjalan-jalan di surga sesuka kami.” Alloh melakukan kepada mereka tiga kali, maka tatkala mereka tidak akan dibiarkan untuk tidak meminta mereka berkata, “Wahai Robb, kami ingin Engkau kembalikan nyawa kami ke jasad-jasad kami supaya kami dapat kembali kedunia lalu kami dapat terbunuh di jalan-Mu untuk kesekian kalinya. Maka ketika Alloh melihat mereka tidak mempunyai keinginan apa-apa lagi, mereka pun dibiarkan. (HR. Muslim dan Tirmizî)

DAKWAH YANG JUJUR

Ada manusia yang hidup untuk kepentingan pribadinya saja, ia tidak mau peduli dengan urusan orang lain dan tidak memiliki rasa cemburu terhadap agama Alloh l. Tidak memiliki semangat untuk memberi petunjuk kepada orang lain, tidak mau menyampaikan nasehat, arahan maupun bimbingan. Manusia seperti ini telah salah jalan, karena umat Islam ini dilebihkan atas umat-umat lain dengan amar makruf nahi munkar. Bahkan, seorang ulama disebut pewaris nabi n ketika dia mau berdakwah, karena ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya lah mewariskan ilmu dan para pemegangnya, maka siapa mengambil warisan tersebut sungguh ia telah mengambil bagian yang melimpah.

Abu `d-Dardâ’ a meriwayatkan bawasanya Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Alloh akan bentangkan jalan baginya menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat benar-benar membentangkan sayapnya menaungi para penuntut ilmu lantaran ridho dengan apa yang ia lakukan. Dan sungguh orang alim itu dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi serta ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah itu seperti keutamaan bulan purnama atas semua bintang. Dan sesungguhnya para ulama adalah para pewaris nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dirnar mau pun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang melimpah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibbân dengan sanad shohîh)[11]

Panutan kita dalam urusan mengajari dan menyampaikan agama Alloh kepada manusia adalah Rosululloh n. Beliau telah mencurahkan segala upaya untuk berdakwah dan mempergunakan waktunya untuk mengadakan perbaikan sebelum akhirnya manusia masuk ke dalam agama Alloh secara berbondong-bondong. Tadinya beliau mulai dakwah itu sendirian, namun ketika beliau meninggal dunia para shahabat beliau sudah berjumlah lebih dari 114.000 orang.

Beliau mendakwahi manusia dalam semua kondisi dan bentuk mereka, beliau tidak membatasi dakwah hanya pada keluarga dan kerabatnya saja, atau bangsa Arab saja, atau orang-orang merdeka saja, atau kaum pria saja. Teteapi dakwah beliau adalah mendunia, mencakup yang berkulit putih dan berkulit hitam, orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, orang arab dan ‘ajam.

Di antara yang mendapat sentuhan dakwah beliau adalah seorang pemuda yahudi yang menjadi pembantunya. Ketika beliau tawarkan Islam kepadanya, ia mau masuk Islam dan meninggal dunia dengan membawa keislaman setelah ia tinggalkan keyahudiannya. Ia tinggalkan yang sementara untuk menyambut yang abadi dengan membawa amal sholeh dan perniagaan yang menguntungkan. Diriwayatkan dari Anas bin Mâlik a ia berkata, “Ada seorang pemuda yang menjadi pembantu Nabi n. Suatu ketika pemuda itu jatuh sakit, maka Nabi n datang menjenguknya. Lalu beliau duduk di dekat kepalanya dan berkata kepadanya, “Masuk Islamlah.” Anak muda itu melihat ayahnya yang juga duduk di sampingnya, ayahnya berkata, “Patuhilah Abu `l-Qôsim (Rosululloh n),” akhirnya anak muda itu masuk Islam. Ketika keluar, Rosululloh n bersabda, “Segala puji bagi Alloh yang telah menyelamatkan anak ini dari api neraka.” (HR. Bukhôrî, Nasâî, Abû Dâwud dan lain-lain) Dalam riwayat Nasâî disebutkan: “…maka anak muda itu mengucapkan: Aku bersaksi bahwa tidak ada ilâh yang patut disembah selain Alloh, dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Alloh.”

Sedangkan di dalam riwayat Abû Dâwud disebutkan: (Rosululloh n bersabda): “Alloh telah selamatkan dia melaluiku dari api neraka.”[12]

Nampak jelas bagaimana pekerti Nabi n, yang tak pernah lepas dari beliau. Nampak begitu sempurna kasih sayang beliau, yang itu memang sudah menjadi kebiasaan beliau. Mahabenar Alloh yang telah berfirman:

Teks arab

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah [9]: 128)

Perhatian beliau terhadap urusan orang lain menunjukkan bahwa beliau suka orang lain mendapat kebaikan, menunjukkan keikhlasan, menunjukkan kejujuran seorang dai dalam mencintai sesama manusia; karena nampak beliau menyeru mereka kepada surga, tempat istana-istana menjulang tinggi berada. Tempat pohon-pohon nan rindang, sungai-sungai yang mengalir. Isinya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik sepintas pun dalam fikiran manusia.

Yang memiliki rasa perhatian seperti beliau ini hanyalah orang yang bertabiat mulia, yang terdominasi oleh iman, selalu mengerjakan kebaikan dan menghindari kemaksiatan.

Dakwah yang beliau lakukan di ranjang kematian seperti ini mengajari umat untuk tidak berputus asa dan wajibnya memberikan penjelasan, juga yakin bahwa hati itu ada di atara dua jari Yang Mahapemurah, Dia membolak-balikkan hati tersebut sekehendak-Nya. Betapa banyak orang sesat mendapat petunjuk setelah Alloh beri ia hidayah. Betapa banyak juga orang yang sesat gara-gara ia mengikuti hawa nafsu dan syetan.

Kita berharap sekali kaum muslimin mengerti petunjuk yang mahal ini, yaitu selalu memmbesuk orang sakit dan mendakwahinya agar bertaubat secara sungguh-sungguh dan mengganti segala kekurangan. Karena banyak orang sakit yang seperti di penjara ketika ia berada di atas kasur, tidak menjumpai dai yang mendakwahi, penyampai nasehat, atau pemberi peringatan. Bahkan tak jarang di antara mereka meninggalkan sholat selama ia jatuh sakit kemudian beralasan dengan berbagai alasan yang kabur, ada yang berkata: Kita tidak mampu bersuci, kami tidak bisa berdiri, tidak bisa duduk…

Seolah-olah mereka belum pernah membaca firman Alloh l:

Teks arab

“Maka bertakwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu, dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (At-Taghôbun [64]: 16)

Di antara bentuk kasih sayang Alloh terhadap kita adalah, tugas itu disesuaikan dengan kemampuan, Alloh tidak pernah membebani suatu jiwa di luar batas kemampuannya. Abû Huroiroh a meriwayatkan bahwasanya Rosululloh n bersabda, “Biarkan perintah yang kutinggalkan apa adanya, karena kehancuran orang-orang sebelum kalian disebabkan banyaknya mereka bertanya dan menyelisihi nab-nabi mereka. Maka jika aku larang kalian mengerjakan sesuatu, tinggalkanlah. Dan jika aku perintah kalian melakukan sesuatu, laksanakanlah semampu kalian.” (Muttafaq ‘Alaih)

Rosululloh n juga pernah bersabda kepada ‘Imrôn bin Hushoin, “Sholatlah berdiri, jika kamu tidak sanggup maka duduuk. Jika kamu tidak sanggup, maka sambil berbaring.” (HR. Bukhôrî dan Ahmad, dari hadits ‘Imrôn bin Hushoin a)

Dengan dalil-dalil di atas kita ketahui bahwa orang sakit tidak punya udzur untuk tidak sholat. Sholat wajib ia laksanakan selagi ia masih bisa berfikir sadar. Karena dikhawatirkan si sakit akan meninggal ketika ia menderita sakitnya itu, lalu ia berjumpa dengan Alloh dalam kondisi meninggalkan sholat. Bisa saja dia kafir karena meninggalkannya sehingga dia mati bukan di atas keislaman, maka ia akan merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata.

Kita saksikan orang sakit bertanya kepada dokternya tentang penyakit yang menjangkiti tubuhnya, lantas ia kerjakan anjurannya dan ia pegang saran-sarannya; karena ia sangat mendambakan kesehatan tubuh. Lalu mengapa orang sakit tidak bertanya kepada dokter penyakit hati, yaitu para ulama, tentang urusan agama yang tidak mereka fahami, supaya mereka bisa beribadah kepada Alloh l di atas ilmu dan menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya?

Al-Hâfidz Ibnu Hajar v berkata di dalam Fathu `l-Bârî: “Hadits ini menunjukkan bolehnya mengangkat orang musyrik sebagai pembantu –barangkali ini ketika tidak ada yang muslim. Adapun jika ada yang muslim, maka itu lebih baik daripada yang lain, lebih terpercaya dan jujur daripada yang lain. Bahkan, lebih baik tidak mengangkat pembantu di zaman seperti sekarang, di mana fitnah merajalela dan yang baik campur aduk dengan yang buruk. Hadits ini juga menganjurkan untuk menjenguk orang musyrik yang sakit, apalagi jika ingin mendakwahinya dan mendorongnya masuk Islam. Kandungan lainnya, anjuran berbuat baik dalam bersumpah dan berakhlak dengan akhlak yang terpuji. Kandungan lain, bolehnya mengangkat anak kecil sebagai pembantu dan menawarkan Islam kepada anak kecil, kalau Islam tidak sah dari anak kecil tentu Nabi n tidak menawarkannya kepada anak itu. Sedangkan dalam sabda Nabi: “Aku telah menyelamatkannya dari api neraka…” menunjukkan sahnya keislaman anak kecil itu dan selamatnya ia dari adzab Alloh l.”[13]

Dulu orang-orang sholeh memiliki tingkat berbeda-beda dalam menyampaikan, menerangkan dan mendakwahkan agama Islam, serta cara merebut hati untuk mau menerimanya. Mereka melakukan amar makruf nahi munkar dengan cara paling sempurna. Kaitannya dengan ini adalah kisah yang disebutkan oleh Al-Fath bin Syakhrof, ia berkata, “Ada seorang lelaki menyandera seorang wanita, di tangannya ia memegang sebilah pisau. Tidak ada yang mendekatinya kecuali pasti ia sembelih. Lelaki itu keras badannya. Ketika orang-orang ketakutan dan wanita itu berteriak di genggamannya, tiba-tiba lewatlah Bisyr bin Hârits, ia berjalan mendekatinya dan menempelkan pundaknya ke pundak lelaki itu. Tiba-tiba saja lelaki itu jatuh ke tanah sementara Bisyr kembali berjalan. Maka orang-orang mendekati lelaki yang ternyata tubuhnya penuh keringat, sedangkan si wanita bebas seperti sedia kala. Mereka bertanya, “Ada apa denganmu?” Ia berkata, “Aku tidak tahu, yang jelas orang tua itu menempelkan pundaknya ke pundakku lalu berkata, “Sesungguhnya Alloh f melihat kamu dan melihat apa yang kamu kerjakan.” Lalu tiba-tiba saja kakiku lemas mendengar kata-katanya dan aku begitu sangat segan kepadanya, padahal aku tidak tahu siapa dia.” Orang-orang berkata, “Dia adalah Bisyr bin Hârits.” Mendengarnya, lelaki itu berkata, “Celaka! Bagaimana kalau nanti dia jadi saksiku dan saksi perbuatanku di hari kiamat?”[14]

Ini bukan hal aneh pada diri seorang Bisyr bin Hârits Al-Hâfî, yang sangat bersungguh-sungguh dalam kebaikan, bersegara kepadanya, dan yakin bahwa ia harus mengingkari perbuatan mungkar serta menyelamatkan orang yang bodoh untuk kemudian mengarahkannya kepada yang benar dan mengingatkannya agar takut kepada Alloh, Dzat yang Maha Mengetahui perkara-perkara ghaib, yang mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang tersembunyi dalam dada. Dengan tindakan seperti inilah masyarakat bisa terselamatkan dari menyebarnya perbuatan-perbuatan mungkar, dan memusnahkan keburukan-keburukan. Seandainya orang mau jujur kepada Tuhannya, tentu segala sesuatu akan patuh kepadanya, baik manusia mau pun makhluk lain.

Disebutkan dalam kisah Ibrôhîm bin Ahmad Al-Khowâsh bahwa suatu ketika ia dalam perjalanan, karena cuaca yang begitu panas maka ia dan teman-temannya berteduh di rerimbunan pohon. Malam harinya, tiba-tiba datang binatang-binatang buas mengepung mereka, semuanya ketakutan selain Ibrôhîm. Dengan santainya ia tetap berbaring, maka binatang itu datang menjilatinya dari kepala hingga kaki. Keesokan harinya mereka pindah tempat dan menginap di sebuah masjid, tiba-tiba datang seekor kutu menghampiri Ibrôhîm, kutu itu bertengger di wajahnya dan menyengatnya hingga Ibrôhîm kesakitan. Melihat itu, teman-temannya bertanya keheranan, “Hai Abû Ishâq, rintihan sakit apa ini? Di mana kamu semalam?” Ibrôhîm berkata, “Malam pertama ketika aku dalam kondisi bersama Alloh l, sedangkan malam ini kondisi aku sendirian.”

Alî bin Muhammad Al-Hilwânî berkata, “Suatu ketika Ibrôhîm Al-Khowâsh duduk di masjid Ar-Riyy bersama jamaahnya. Tiba-tiba terdengar suara-suara nyanyian dari tetangga sebelah hingga membuat jamaah yang di situ terganggu dengan kemungkaran itu. Mereka berkata, “Wahai Abû Ishâq, apa pendapatmu?” Maka Ibrôhîm keluar dari masjid menuju rumah tempat kemungkaran itu berada. Ketika ia sampai di ujung lorong, ternyata di sana ada seekor anjing yang tengah duduk. Begitu Ibrôhîm mendekat, anjing itu menggonggong dan menghalanginya. Maka Ibrôhîm balik ke masjid dan berfikir sejenak. Setelah itu ia segera keluar lagi dan melewati anjing itu, maka anjing itu menggerak-gerakkan ekornya. Ketika ia sudah dekat dengan pintu rumah, keluarlah seorang pemuda berwajah tampan, ia berkata, “Wahai syaikh, kenapa aku merasa gelisah? Seandainya Anda utus salah satu muridmu kepadaku tentu akan keukerjakan semua yang engkau inginkan. Saya minta maaf kepadamu karena telah mengganggu, dan aku berjanji kepada Allloh untuk tidak minum minuman keras lagi selama-lamanya.” Setelah itu ia pecahkan semua minuman dan alat musik yang ia miliki, dan ia mulai bergaul dengan orang-orang baik, rajin beribadah, dan bertaubat kepada Robbnya.

Ibrôhîm pulang ke masjidnya, begitu duduk ia ditanya tentang pertama kali ia keluar kemudian kembali lagi, lalu keluar lagi untuk kedua kalinya, dan tentang anjing itu. Maka ia menjawab, “Benar, ketika anjing itu menggonggong ke arahnya, itu karena ada kerusakan pada sebuah perjanjian antara diriku dengan Alloh l dan aku tidak menyadarinya waktu itu. Ketika aku kembali ke masjid, aku baru teringat. Akhirnya aku beristighfar kepada Alloh k, lalu aku keluar lagi untuk kedua kalinya. Jadilah apa yang kalian saksikan.”

Beginilah yang terjadi pada siapa saja yang ingin menghilangkan kemungkaran, jika tiba-tiba saja ada makhluk yang bergerak, maka itu disebabkan adanya kerusakan janji antara dirinya dengan Alloh k. Kalau urusannya sehat, tentu tidak ada satu pun benda yang melakukan pergerakan.[15]

Maka, hendaknya seorang muslim yang jujur bersungguh-sungguh dalam menjalankan dakwahnya, ikhlas dalam menyampaikan nasehatnya, dan selalu menjaga ghiroh (semangat) yang menyala dalam dirinya; supaya dirinya menjadi “air hujan” yang menyuburkan sanubari, obat bagi hati, dan lentera cahaya bagi orang-orang yang bingung.

MENGELUH DI KALA TERTIMPA MUSIBAH

Urusan orang beriman semuanya baik, jika mendapat kemudahan ia bersyukur dan itu baik untuknya. Jika ditimpa kesusahan ia bersabar dan itu baik baginya. Ini tidak terjadi kecuali pada diri orang beriman. Seluruh hidupnya dalah ketaatan, satu menitnya lebih baik daripada satu detiknya, satu jamnya lebih baik daripada menitnya, satu harinya lebih baik daripada satu jamnya, esok harinya lebih baik daripada hari sekarang. Hampir saja ia menghadap Robbnya dengan amal terbaik, setelah itu ia beristirahat dan berkata, “Segala puji bagi Alloh yang telah mengusir kesedihan dari kami, sesungguhnya Robb kita benar-benar Mahapengampun lagi Mahaberterimakasih.” Dan berkata, “Segala puji bagi Alloh yang telah memberi kepada kami tempat ini sedang kami diperkenankan menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami kehendaki; maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.”

Hal ini dijelaskan oleh Rosululloh n dalam sabdanya, “Aku takjub dengan orang muslim, jika ia tertimpa musibah ia mengharap pahala dan bersabar. Dan jika ditimpa kebaikan  ia memuji Alloh dan bersyukur. Sesungguhnya seorang muslim diberi pahala pada setiap sesuatu sampai suapan yang suapkan ke mulutnya.” (HR. Baihaqî dan Thoyâlisî dari Sa‘ad bin Abî Waqqôs dengan sanad shohîh.

Di dalam riwayat Anas bin Mâlik, bahwasanya Rosululloh n bersabda, “Aku takjub dengan orang beriman, sesungguhnya tidaklah Alloh l menentukan sebuah takdir kecuali itu baik baginya.” (HR. Ahmad dan Abû Nu‘aim di dalam Al-Hilyah dengan sanad shohîh)[16]

Dan besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian, jika Alloh mencintai suatu kaum Dia akan mengujinya. Maka siapa ridho dengan ketentuan tersebut, Alloh pun ridho kepadanya dan menjadikan manusia ridho kepadanya. Di samping itu, Alloh akan beri ia nikmat rasa thuma’nînah dan ketenangan.

Tapi siapa marah dan membenci ketentuan Alloh l, Alloh l juga akan marah kepadanya dan tetap menjalankan ketentuan dan takdir-Nya.

Di dalam hadits-hadits Bani Israel berikut ini ada ibrah dan pelajaran. Bukhôrî dan Muslim meriwayatkan dalam Shohîh-nya dari Jundub bin ‘Abdillâh Al-Bajalî a bahwasanya Rosululloh n bersabda, “Ada orang sebelum kalian yang terluka dlalu ia berkeluh kesah hingga akhirnya mengambil sebilah pisau dan ia potong  tangannya. Belum sempat darah mengalir, ia meninggal dunia. Alloh l berfirman: “Hamba-Ku mendahului-Ku dalam urusan jiwanya. Aku haramkan baginya surga.”

Ini menunjukkan betapa agungnya kesabaran, sebab itu termasuk perkara yang terpuji. Alloh l menjadikan kesabaran sebagai cahaya yang mampu membersihkan dosa-dosa dan melipat gandakan pahala, dalam agama ia seperti kepala bagi badan. Sedangkan nyawa seseorang itu mahal harganya dan harus dipelihara hak-haknya serta tidak boleh menyepelekannya. Seba itu adalah milik Alloh l yang harus diarahkan pada hal-hal yang dikehendaki Alloh, sehingga ia menjadi suci, baik dan senantiasa dalam kondisi kuat dan mulia, mahal dan tidak termurahkan dengan kotoran maksiat.

Hari ini, betapa banyak orang yang begitu ingin menghabisi dirinya sendiri tanpa sadar. Baik dengan menghalanginya dari petunjuk dan iman, tidak mau berteman dengan orang-orang baik, menyeretnya agar berteman dengan orang-orang fasik dan ahli maksiat, atau dengan membuang-buang waktu dalam isu-isu kosong, kata-kata kotor, banyak tidur, dan berlebihan dalam perkara mubah, atau dengan mengkonsumsi minuman yang bisa mengundang berbagai penyakit dan menghilangkan nafsu makan minum bagi tubuh, atau dengan cara lain. Jika lelaki dalam hadits ini diazab gara-gara ia menyayat tangannya, lantas bagaimana dengan orang yang membinasakan diri dengan pandangan yang ia arahkan kepada perkara haram. Barangkali ia hanya melihat sekali lihat, namun itu mencelakakan dunia akhiratnya. Semua peristiwa, pemicunya adalah pandangan. Betapa banyak pandangan yang berkata kepada pemiliknya, “Tinggalkan aku.”

Alloh k memerintahkan kita untuk menjaga pandangan kita, dan menerangkan bahwa padangan itu bisa mendatangkan kebinasaan-kebinasaan jika tidak ditundukkan. Alloh l berfirman:

Teks arab

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nûr [24]: 30)

Rosululloh n juga pernah bersabda, dalam hadits Buroidah bin Al-Hushoib: “Wahai ‘Alî, jangan susul pandangan dengan pandangan berikutnya. Sesungguhnya pandangan pertama menjadi milikmu, dan yang kedua bukan.” (HR. Ahmad, Abû Dâwud, dan Tirmizî dengan sanad hasan)

Mata itu bisa berzina, zinanya adalah melihat. Cukuplah zina mata sebagai perkara yang Alloh haramkan kepada kita dan Dia telah melarang kita untuk mendekati zina tersebut. Alloh l berfirman:

Teks arab

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isrô’ [17]: 32)

‘Abdullôh bin ‘Abbâs d meriwayatkan bahwa Rosululloh n bersabda, “Sesungguhnya Alloh telah menetapkan jatah zina bagi setiap anak Adam, yang pasti mengenainya dan tidak bisa ia hindari. Adapun mata, zinanya adalah melihat. Lisan zinanya adalah perkataan. Nafsu yang mengangan-angankan dan menginginkan, sedangkan kemaluanlah yang akan membenarkan atau mendustakannya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dan bagaimanakah dengan orang yang binasa karena telinga, yang ia gunakan untuk mendengar perkara haram sampai ia merasa nyaman dengan kemaksiatan. Betapa sabarnya ia menjalani kondisi seperti itu hingga ajal menjemput, padahal ia  berada di atas kemurkaan dan kemarahan Alloh, dan Alloh l akan meminta pertanggung jawaban tentang telinganya, apa yang sudah ia dengarkan dengan telinga itu. Alloh l berfirman:

Teks arab

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isrô’ [17]: 36)

Betapa banyak telinga yang dipergunakan untuk melawan Alloh dan Rosul-Nya, yang tidak memiliki keinginan selain mendengarkan dan mengikuti kebatilan, berpaling dari kebenaran dan tidak mau menyimaknya.

Dan bagaimana dengan orang yang binasa dengan lisan yang ia pakai berbicara. Cukuplah hadits Muadz a berikut ini menjadi peringatan tentang bahaya lisan, ia berkata, “Wahai Rosululloh, tunjukkan kepadaku amalan yang bisa memasukanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.” Rosululloh n bersabda, “Kamu telah bertanya tentang urusan besar, namun urusan besar itu sangatlah mudah bagi orang yang Alloh mudahkan; hendaknya kamu beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, kamu menegakkan sholat wajib, menunaikan zakat waijb, puasa di bulan Romadhon, dan hajji ke Baitullôh. Maukah kutunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai (dari neraka), sedekah itu bisa mematikan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan sholatnya seseorang di tengah malam. Maukah kuberitahu kamu pokok segala urusan, tiangnya, dan puncak tertingginya? Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncak tertingginya adalah jihad. Maukah kuberitahu kamu kunci semua itu? Tahanlah ini…” –beliau menunjuk ke lisannya— Mu‘âdz bertanya, “Wahai Nabi Alloh, apakah kita akan disiksa hanya karena perkataan kita?” Rosululloh n bersabda, “Bagaimana kamu ini Mu‘adz, adakah yang menyungkurkan wajah manusia ke neraka kalau bukan hasil dari kata-kata lisannya?” (HR. Ahmad, Tirmizî, Ibnu Mâjah, dan lain-lain dengan sanad shohîh)

Dan bagaimana dengan orang yang binasa melalui tangan yang ia pakai untuk mengambil hal-hal haram, atau menulis maksiat, atau menyakiti orang muslim; serta kaki yang ia langkahkan menuju apa yang dimurkai dan tidak diridhoi Alloh?

Secara umum, manusia kadang menganggap enteng suatu urusan, padahal di sisi Alloh itu sangat besar. Inilah ancaman keras yang termaktub dalam hadits di atas. Kemudian, apakah yang di maksud itu kekal di neraka ataukah tidak? Sebagian ulama mengatakan, hadits-hadits yang senada dengan di atas dibiarkan apa adanya, tidak kita takwilkan.

Ada juga yang berpendapat, maksudnya: Siapa menghalalkan perbuatan seperti itu dan menganggapnya boleh-boleh saja padahal itu haram, maka ia kafir; sebab ia telah menghalalkan apa yang Alloh l haramkan, misalnya ia menghalalkan membunuh padahal itu haram.

Ada juga yang berpendapat, maksudnya bahwa surga itu diharamkan baginya pada waktu tertentu, contohnya pada waktu orang-orang pendahulu masuk surga.

Ada jgua yang berpendapat, maksudnya diharamkan surga tertentu, seperti surga Firdaus.

Ada juga yang berpendapat, bisa jadi itu adalah syariat orang dulu. Wallôhu A‘lam.

Yang jelas, cukuplah kita mengetahui bahwa itu adalah ancaman keras dan larangan besar, untuk mengingatkan hati-hati kita.

Bukhôrî meriwayatkan hadits senada dengan ini, dari Sahl bin Sa‘d As-Sâ‘idî a bahwasanya Rosululloh n bertemu dengan pasukan musyrikin, mereka berperang satu sama lain. Tatkala Rosululloh n beristirahat ke kamp pasukannya dan kaum musyrikin kembali ke kamp pasukannya, sebelumnya di barisan Rosululloh n ada seorang lelaki yang tidak membiarkan ada [kurang hal. 129] melainkan ia kejar dan ia tebas dengan pedangnya, maka para shahabat berkata, “Hari ini tidak ada satu pun yang mampu menandingi si fulan.” Mendengar itu, Rosululloh n bersabda, “Dia adalah penduduk neraka.” Maka ada seseorang yang mengatakan, “Aku akan mengikutinya.” Sahl berkata, “Maka orang itu mengikutinya, setiap kali ia berhenti orang itu juga berhenti. Jika berkeleba, ia ikut berkelebat. Kemudian lelaki itu terluka sangat parah hingga akhirnya menyegarakan diri untuk mati (bunuh diri), lalu ia letakkan pedangnya di atas tanah sementara ujungnya ia letakkan di antara dua susunya. Setelah itu ia menusukkan diri ke pedang itu hingga tewas. Maka orang ini menemui Rosululloh n dan berkata, “Aku bersaksi, engkau benar-benar utusan Alloh.” “Ada apa…?” tanya Rosul. Ia berkata, “Orang yang Anda sebut-sebut sebagai penduduk neraka tadi, di mana orang-orang takjub kepadanya, aku katakan kepada orang-orang: Aku akan membuntutinya untuk kalian, maka aku keluar mengikutinya dan kemudian ia mengalami luka parah, lalu ia menyegerakan diri menjemput kematian, ia letakkan pedanya di tanah dan meletakkan ujungnya di antara kedua susunya, setelah itu ia menusukkan dirinya di atas pedang itu hingga tewas.” Mendengar penuturannya itu, Rosululloh n bersabda, “Sesungguhnya seseorang itu benar-benar melakukan perbuatan penduduk surga pada pandangan manusia, padahal sebenarnya dia adalah penduduk neraka. Dan seseorang itu benar-benar melakukan perbuatan penduduk neraka dalam pandangan manusia, padahal sebenarnya ia adalah penduduk surga.” (Dikeluarkan oleh Bukhôrî dalam Al-Maghôzî bab: Ghozah Khoibar)

Kita memohon kepada Alloh agar meneguhkan kita di atas kebenaran, menadikan kita cinta keimanan dan menghiasi keimanan itu di dalam hati kita sehingga terasa indah, dan menjadikan kita benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, serta menjadikan sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kita juga memohon kepada Alloh l agar menjadikan amalan-amalan kita ikhlas karena-Nya saja, dan tidak mencampuri di dalamnya keinginan untuk siapa pun selain-Nya.

GIGI GERAHAMNYA DI UHUD LEBIH BESAR DARIPADA GUNUNG UHUD

Hati itu berada di dua jari dari jari-jari Yang Mahapengasih, Ia membolak-balikannya sekehendak-Nya, memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.

‘Abdullôh bin ‘Umar d meriwayatkan bahwa Rosululloh n bersabda,

teks arab

“Sesungguhnya hati anak Adam berada di dua jari dari jari-jari Yang Mahapemurah, seperti satu hati, Dia mengarahkannya sekehendak-Nya.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Orang beriman itu seperti orang yang menaiki sebatang kayu di tengah lautan, ia berdoa dan berkata, “Ya Alloh, selamatkan aku dari kebinasaan.” Jadi lisannya tidak pernah berhenti berdoa sampai ia pastikan dirinya selamat dari tenggelam. Begitulah dunia, dia laut yang sangat dalam, banyak manusia tenggelam di sana. Sampai-sampai engkau lihat, orang mengerjakan perbuatan yang nampak oleh manusia sebagai perbuatan penduduk surga dan tidak ada lagi jarak antara dirinya dan surga kecuali hanya sehasta, tapi kemudian ia melakukan perbuatan penduduk neraka, akhirnya ia masuk neraka.

Sebaliknya, terkadang dalam pandangan manusia seseorang mengerjakan perbuatan penduduk neraka, hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal satu hasta, tapi kemudian ia melakukan perbuatan penduduk surga, dan akhirnya ia pun masuk surga.

Ini nampak dengan jelas dalam hadits ‘Abdullôh bin Mas‘ûd a ia berkata, “Rosululloh n berkata kepada kami, “Sesungguhnya kalian dikumpulkan penciptaan dirinya di perut ibunya selama 40 hari sebagai air mani. Setelah itu menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama. Kemudian menjadi sekerat daging dalam waktu yang sama. Setelah itu diutuslah seorang malaikat dan diperintahkan kepada empat kalimat. Dikatakan kepadanya: Tulislah amal perbuatannya, rezekinya, ajalnya, sengsara dan bahagianya. Setelah itu ditiupkan roh ke dalamnya. Sesungguhnya, seseorang dari kalian ada yang mengerjakan perbuatan penduduk surga sampai tidak ada lagi jarak dengannya kecuali hanya sehasta, tapi ketentuan tertulis mendahuluinya, akhirnya ia masuk neraka. Dan sesungguhnya ada orang yang mengerjakan perbuatan penduduk neraka sampai tidak ada jarak antara dia dengannya kecuali hanya satu hasta, tapi ketentuan tertulis mendahuluinya, akhirnya ia mengerjakan perbuatan penduduk surga dan masuk surga.” (Muttafaq ‘Alaih)

Di antara yang Alloh takdirkan menjadi orang celaka adalah Ar-Rojjâl bin ‘Unfuwwah Al-Hanafî. Ia datang bersama utusan dari Banî Hanîfah berjumlah sepuluh orang lebih, mereka semua masuk Islam. Ar-Rojjâl sendiri kemudian membaca Al-Quran dan hafal surat Al-Baqoroh.

Hingga akhirnya terjadilah tahun-tahun kemurtadan di zaman Abû Bakar a. Maka Abû Bakar mengutus Ar-Rojjâl kepada penduduk Yamâmah untuk menyeru mereka kembali kepada Alloh l, mengajak mereka agar teguh di atas Islam, di zaman ketika hati galau tak karuan dan pijakan kaki tergoncang. Rojjâl mendapati penduduk Yamâmah telah murtad dari Islam karena mengikuti syetan mereka yang mengaku diri sebagai nabi, yaitu Musalilamah si pendusta. Banyak sekali dari mereka yang sudah meninggalkan Islam karena fanatisme jahiliyah terhadap golongannya, sampai-sampai di antara mereka ada yang mengatakan, “Aku tahu bahwa Muhammadlah yang benar dan Musailamah itu pendusta. Tetapi pendusta dari suku Robî‘ah lebih aku sukai daripada  orang jujur dari suku Mudhor.”

Betapa buruknya ‘ashobiyah (fanatisme golongan) itu, yang merubah seseorang dari semula hamba Alloh l, berbuat sesuai perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, menjadi hamba kabilah, keluarga, kebiasaan dan adatnya, yang memadamkan pelita-pelita kebaikan dalam hatinya lalu menumbuhkan petunjuk-petunjuk keburukan, dan menjadikannya imam‘ah; yaitu, jika orang baik ia ikut baik; jika orang buruk, ia pun ikut buruk.

Ar-Rojjâl pun mendatangi Musailamah, ternyata di sana manusia menemuinya secara berbondong-bondong, mempercayai kenabiannya, dan mengagungkannya secara sangat berlebihan. Melihat itu, hati Ar-Rojjâl terpancing rasa fanatisme golongannya, akhirnya ia mengikuti kaumnya dan ikut bersaksi akan kenabian Musailamah. Telah ia lepas tali Islam dari lehernya, ia ganti Islam dengan kekafiran, cahaya dengan kegelapan, petunjuk dengan kesesatan, keberuntungan dengan kebinasaan, kebahagiaan dengan kesengsaraan, kegembiraan dengan keterasingan, dari yang semula pasukan Alloh menjadi pasukan syetan, dan mengganti kejujuran dengan kedustaan.

Ar-Rojjâl menjadi shahabat dekat Musailamah, ia pernah berkata, “Wahai Musailamah, aku bersaksi bahwa aku pernah mendengar Muhammad mengatakan, ‘Aku telah menjadikan Musailamah bin Hubaib sebagai sekutuku dalam urusan ini.’”

Penjahat satu ini menjadi musuh Alloh l yang paling menyeleweng, termasuk para pemuka kekafiran yang mengajak manusia keluar dari agama Alloh secara berbondong-bondong, lalu menggantinya dengan masuk ke agama Musailamah secara berbondong-bondong pula. Ia telah menyesatkan orang banyak dari kalangan penduduk Yamâmah sehingga mereka mengikuti Musailamah. Semoga Alloh binasakan dan hinakan keduanya.

Saif bin ‘Umar berkata, dari Tholhah dari ‘Ikrimah, dari Abû Huroiroh ia berkata, “Suatu hari aku berada di samping Nabi n bersama beberapa orang, di antara kami ada Ar-Rojjâl bin ‘Unfuwwah, tiba-tiba beliau bersabda, “Di antara kalian nanti, ada yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar daripada gunung Uhud.” Abû Huroiroh berkata, “Orang-orang yang ada disitu telah meninggal dunia semua, selain aku dan Ar-Rojjâl, ketika itu aku sangat ketakutan sekali, hingga akhirnya terjadilah peristiwa Ar-Rojjâl berperang di barisan Musailamah, ia juga membenarkan kenabiannya, fitnah Ar-Rojjâl ini lebih berbahaya daripada fitnah Musailamah sendiri.”

Ibnu Hajar mengkisahkan dalam Al-Ishôbah, bahwa Al-Wâqidî meriwayatkan dari Rôfi‘ bin Khudaij, ia berkata, “Kekhusu‘an pada diri Ar-Rojjâl bin ‘Unfuwah, rajinnya ia membaca Al-Quran, dan kebaikan yang ia lakukan sampai membuat Rosululloh n takjub. Maka pada suatu hari Rosululloh n keluar sementara di antara kami ada Ar-Rojjâl. Beliau bersabda, “Salah satu dari mereka ada yang menjadi penduduk neraka.” Rôfi‘ berkata, “Aku melihat ke arah mereka, ternyata di sana ada Abû Huroiroh, Abû Arwâ, Thufail bin ‘Amrû dan Ar-Rojjâl. Maka aku melihat sambil keheranan. Baru ketika Bani Hanifah murtad, aku bertanya, “Apa yang dilakukan Ar-Rojjâl?” Orang-orang berkata, “Ia terkena fitnah, ia bersaksi kepada Musailamah bahwa Rosululloh n telah menjadikannya sebagai patner dalam urusan kenabian.” Mendengar itu aku berkata, “Benarlah apa yang disabdakan Rosululloh n.” Mereka bercerita bahwa Ar-Rojjâl pernah berkata, “Dua kambing yang saling beradu tanduk, makayang lebih kusukai adalah kambing kami –yakni Musailamah—‘.” Yang ia maksud dua kambing adalah Rosululloh n dan Musailamah.[17]

Ar-Rojjâl pergi dengan membawa dosa kepada Robbnya, kelak ia akan gigit jari penuh penyesalan atas kebohongan dan kedustaannya. Ia akan berkata, “Seandainya aku dulu tidak mengangkat Musailamah sebagai teman dekat, sungguh dia telah menyesatkanku dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadaku, dan menjerumuskanku ke dalam kebinasaan.” Sementara Musailamah akan mengatakan, “Aku bukan penolongmu dan kamu pun bukan penolongku.” Musailamah baginya seperti tukang pandai besi, yang membakar dan menghitamkan wajahnya, serta merusak dunia dan akhiratnya.

Benarlah apa yang dikatakan seorang penyair:

Jangan tanya tentang seseorang, tapi tanyalah siapa temannya

Karena setiap teman akan mengikuti yang ditemaninya

Yang lain mengatakan:

Jangan mendekat dengan orang yang bagus penampilannya

Bisa jadi orang yang tampan, diceritakan dengan tidak baik

Tidak semua indah dengan warna kuningnya

Sebab kuning kalajengking adalah yang terburuk dan terjelek

Yang lain berkata,

Setiap orang punya bentuk pada orang lain

Maka yang paling banyak bentuk adalah yang paling sedikit akal

Semua orang terbiasa dengan bentuk masing-masing

Maka yang paling berakal adalah yang paling sedikit bentuk

Sebab orang banyak akal tak kan kau jumpai di jalan

Ketika ia melewatinya

Dan setiap orang bodoh yang semberono

Akan kau jumpai di setiap tempat ke mana saja arahnya[18]

PEMAHAMAN YANG KELIRU

Barangsiapa bergantung kepada sesuatu, Alloh serahkan dia kepada sesuatu tersebut, dana Alloh putus antara dirinya dengan yang di langit, dan Alloh tenggelamkan dia ke bumi, maka ia tergelantung antara langit dan bumi yang berakibat kebinasaan dan kembali kepada kesengsaraan. Ia tidak condong ke penduduk langit, sehingga menjadi tinggi dan mulia; tidak pula kepada penduduk bumi sehingga kekal di dalamnya. Maka tali yang ia pegang lebih lemah daripada benang laba-laba, dasar yang ia jadikan sandaran lebih rapuh daripada buih, pimpinannya yang membimbing ke arah itu adalah syetan yang terlaknat, yag memadamkan cahaya-cahaya fithrah.

Pintu-pintu masuk syetan untuk menyerang manusia sangatlah banyak. Di antaranya adalah pintu ‘ujub (bangga) dengan diri sendiri yang menyeret untuk berdusta atas nama Alloh l dan Rosul-Nya n, serta mengaku perbuatan batil dan kepalsuan. Inilah yang terjadi dalam diri Musailamah Al-Kadzâb yang mengaku sebagai nabi dan memakai pakaian yang bukan miliknya secara dusta. Akibatnya, ia menjadi makhluk yang dihinakan sepanjang masa, maka ia tidak dikenal selain dengan sebutan Musailamah si pendusta (Al-Kadzâb), karena ia secara dusta telah mengaku sebagai nabi. Akhirnya, terkenallah dia dengan kedustaannya, padahal kedustaan itu menyeret kepada perbuatan dosa, dan dosa itu menyeret kepada neraka.

Awal mula Musailamah mengaku nabi adalah, ketika para utusan kabilah-kabilah Arab datang dari berbagai penjuru menuju Madinah, kota kenabian, untuk bertemu Rosululloh n dan menyatakan keislamannya di hadapan beliau secara langsung, serta menyatakan sumpah setia untuk mendengar dan taat. Nah, di antara para kabilah yang datang itu terdapat kabilah Bani Hanîfah yang datang dari daerah setelah Najd. Para rombongan itu memarkir hewan-hewan kendaraannya di ujung kota Madinah dan menyuruh salah seorang yang bernama Musailamah bin Hubaib Al-Hanafî untuk menjaga hewan-hewan itu, sementara rombongan utusan datang menemui Rosululloh n dan menyatakan keislamannya. Maka Rosulululloh n memuliakan kedatangan mereka dan memberi hadiah kepada masing-masing orang. Beliau juga memerintahkan agar memberikan hadiah kepada orang yang mereka perintahkan untuk menjaga hewan kendaraan mereka.

Ibnu Ishâq menceritakan di dalam Sîroh-nya, bahwa ketika Rosululloh n memerintahkan untuk memberikan hadiah kepada Musailamah sebagaimana yang diberikan kepada kaumnya, beliau bersabda, “Orang itu (Musailamah) bukanlah orang yang kedudukannya paling buruk di antara kalian.” Yakni, karena dia menjadi penjaga harta teman-temannya, inilah yang dimaksud oleh Rosul –kalau hadits ini memang shohîh.

Ketika mereka kembali ke perkampungannya, musuh Alloh ini –Musailamah—murtad dari Islam, ia mengaku nabi dan berdusta dalam pengakuannya. Ia berkata, “Aku ini ikut ambil bagian bersama Muhammad dalam urusan kenabian,” ia juga berhasil meyakinkan kaumnya untuk itu. Ia berkata kepada mereka, “Bukankah Muhammad mengatakan bahwa aku bukanlah orang yang paling buruk kedudukannya di antara kalian? Tidak mungkin ia mengatakan itu kalau bukan karena ia tahu bahwa aku ikut ambil bagian bersamanya.” Setelah itu, ia membuat sajak-sajak dan membuat-buat perkataan yang menandingi Al-Quran.

Di antara kata-katanya yang buruk dan batil, yang membuat sakit hati dan membuat telinga ini busuk, adalah:

Teks arab (hal. 136, cantumkan…penting)

“Sesungguhnya Alloh telah memberi nikmat kepada wanita hamil…

Dia keluarkan darinya manusia yang bisa beramal usaha…

Dari antara kulit bawah dan perut…

Ia juga menghalalkan minuman keras dan zina untuk mereka serta meniadakan kewajiban sholat. Meski demikian, ia tetap mengakui kenabian Rosululloh n. Akhirnya Bani Hanîfah berkumpul mendukungnya karena didorong rasa fanatisme jahiliyah dan kesombongan yang dimurkai Alloh. Mereka mengatakan, “Pendusta dari kami lebih kami sukai daripada oarng jujur dari Bani Mudhor.”

Tapi, memang Musailamah tidak pantas dan tidak berhak mengemban tugas kerasulan, ia telah memakai pakaian itu padahal ia tidak cocok dan tidak akan pernah cocok memakainya, sebab kerasulan adalah pemuliaan dan pengagungan dari Alloh l. Alloh telah menjadikan pakaian ini justeru menjadi cela bagi Musailamah yang mebuat dirinya dihinakan sepanjang hayat, sebab pakaian yang kenakan adalah pakaian palsu.

Musalimaha pernah menulis surat kepada Rosululloh n yang isinya:

“Dari Musailamah, utusan Alloh, kepada Muhammad utusan Alloh: Salam sejahtera untukmu. Ammâ Ba‘du…sesungguhnya aku ikut serta mengambil bagian dalam urusan kenabian ini bersamamu. Dan sesungguhnya kita berhak atas separo bumi dan separo sisanya untuk kaum Quraisy, tapi Quraisy adalah orang-orang yang melampaui batas.” Kemudian surat itu dikirim bersama dua orang utusan dari pengikutnya. Ketika surat itu dibacakan kepada Nabi n beliau bertanya kepada dua utusan itu, “Apa pendapat kalian berdua?” Mereka menjawab, “Kami katakan seperti yang ia katakan.” Maka Rosululloh n bersabda, “Demi Alloh, kalau bukan karena utusan itu tidak boleh dibunuh, sudah kupenggal leher kalian.”

Setelah itu, Rosululloh n membalas surat Musailamah, yang isinya:

“Bismillâhirrohmânirrohîm, dari Muhammad utusan Alloh kepada Musailamah si pendusta: Salah sejahtera bagi yang mau mengikuti petunjuk. Ammâ Ba‘du…sesungguhnya bumi ini milik Alloh yang Dia wariskan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan kemenangan akhir adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” Beliau mengirimi surat itu melalui dua utusan tadi.

Sayangnya, kejahatan dan kerusakan Musailamah bukan mereda tapi semakin parah. Akhirnya Rosululloh n memutuskan untuk mengirimkan surat yang berisi peringatan agar ia tinggalkan kesesatannya. Beliau menunjuk Hubaib bin Zaid Al-Anshôrî a untuk membawa surat itu. Ia pun berangkat melaksanakan perintah Rosul tanpa merasa berat atau pun lemah, tanpa malas tanpa ragu. Ia dibimbing oleh keimanannya yang mendalam. Rasa cintanya yang besar kepada Alloh dan Rosul-Nya –‘alaihi `s-sholâtu wa `s-salâm—menaikkan posisinya ke tempat yang tinggi dan menginjak kerendahan. Singkat cerita, sampailah dia di perkampungan Bani Hanifah di bilangan Najd dan ia serahkan surat itu kepada Musailamah.

Begitu membacanya, tak henti-hentinya dada Musailamah menggelegak karena rasa dongkol dan dengki, tampak kesan-kesan kejahatan di wajahnya, ia perintahkan agar Hubaib bin Zaid diikat dan didatangkan pada waktu dhuha di hari berikutnya. Keesokan harinya, Musailamah tampil di muka majelisnya dan meletakkan thoghut-thoghut dari para tokoh pembesarnya di kiri dan kanan. Ia mengizinkan khalayak manusia untuk ikut menyaksikan, setelah ia perintahkan agar Hubaib bin Zaid dipanggil, ia pun dipanggil dalam kondisi terbelenggu dalam rantai.

Hubaib berdiri di tengah kerumunan manusia yang berkumpul ramai dan terasuki rasa dengki, berdiri dengan tegak, penuh semangat dan harga diri, ia diberdirikan di antara dua barisan seperti tombak yang keras. Sejurus kemudian, Musailamah memandangnya dan bertanya, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Alloh?” Ia berkata, “Ya, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh.”

Hati Musailamah terhenyak karena marah, kemudian ia tanya lagi, “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Alloh.” Maka, dengan kata-kata penghinaan dan menyakitkan, ia  berkata, “Telingaku agak tuli, aku tidak dengar apa yang kau katakan.”

Kontan raut wajah Musailamah berubah, bibirnya bergetar menahan marah. Ia berkata kepada para algojonya, “Potong salah satu anggota tubuhnya.” Para algojo itu menebaskan pedangnya ke tubuh Hubaib, hingga akhirnya salah satu anggota tubuhnya buntung dan jatuh ke tanah.

Musailamah kembali mengulang pertanyaan yang sama, dan Hubaib kembali menjawab dengan jawaban yang sama. Kembali salah satu anggota tubuhnya dipotong. Sembari Musailamah bertanya, para algojo memotong-motong tubuhnya, sementara Hubaib hanya mengucapkan, “AKu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh…” sampai hampir separo daging tubuhnya sudah tercecer di tanah, sementara separo lainnya seperti seonggok daging yang berkata-kata. Setelah itu, arwah sucinya melayang di atas tauhid yang jujur.

Ketika berita perlakuan musuh Alloh, Musailamah, terhadap Hubaib sampai ke telinga ibunya, yaitu Nasîbah Al-Anshôriyah, ia cuma mengatakan, “Untuk kejadian seperti inilah aku menyiapkannya. Hanya di sisi Alloh lah kuharapkan pahalanya. Dan jika Alloh l memberiku kemampuan untuk membunuh Musailamah, benar-benar akan kubuat anak-anak perempuannya meratap sambil menampar-nampar pipi.”

Hari yang diharapkan Nasîbah tak lama datang, ketika jihad diserukan untuk menumpas Musailamah Al-Kadzâb, ia ikut dalam pasukan perang bersama anaknya, ‘Abdullôh bin Zaid. Meletus pertempuran Yamamah yang gemilang, Nasîbah terlihat seperti seekor singa betina yang siap menerkam sembari berseru, “Di mana musuh Alloh itu?”

Ketika ia sudah melihatnya, ternyata ia sudah terbunuh di tangan kaum muslimin, Nasîbah merasa senang dan bahagia melihatnya.[19] Yang membunuh adalah Wahsyi bin Harb, yang dulu membunuh Hamzah bin ‘Abdu `l-Mutholib.

Musailamah pergi menghadap tuhannya dengan membawa kekafiran, kemurtadan dan kedustaannya, ia memikul dosa di punggungnya, kelak dia dan orang-orang sepertinya akan berandai-andai jika saja mereka tetap berada di atas keislaman, mereka akan mengatakan,

Teks arab

“Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Alloh, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Alloh ), atau supaya jangan ada yang berkata: “Kalau sekiranya Alloh memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.”  Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab: “Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik.” (Az-Zumar [39]: 56 – 58)

Di antara ucapan buruknya adalah:

Wahai katak, anak dua katak…

Bersihkan apa yang perlu kau bersihkan…

Jangan mengkotori air…

Jangan menghalangi orang minum…

Kepalamu di air sementara buntutmu di tanah…

Ada lagi:

“Demi wanita-wanita penabur biji tanaman…

dan demi para pengetam yang mengetam panen…

dan demi angina yang menebarkan gandum…

demi wanita-wanita pembuat adonan …

dan wanita-wanita pembuat roti…

dan wanita-wanita yang menyuapkan suapan…

untuk membesarkan tubuh dan menggemukkan…

sungguh kalian telah diunggulkan di atas penduduk tenda…

dan penduduk rumah tanah tidak akan menandingi kalian…

teman kalian, lindungilah…

peminta-minta, berilah tempat…

orang yang ditinggal mati, hiburlah…

Yang lain:

Gajah…

Tahukah kamu, apa gajah itu…

Dia memiliki belalai panjang…

Dan masih banyak lagi kata-kata yang jelek dan tidak bermutu, di mana yang mengatakannya hanyalah orang bingung yang kehilangan akal sehat, terbang fikirannya dan mati hatinya. Ia seperti orang yang mengeluarkan igauan orang-orang gila. Kata-kata ini membuat dia dihinakan, bahkan oleh anak kecil yang belum mencapai usia baligh sekalipun. Di antara kata-kata orang yang mereka ucapkan sembari bermain-main:

Musailamah mengajak kita meninggalkan agama dan petunjuk

Ketika dia datang mendendangkan sajak

Aneh sekali orang-orang yang mau mengikutinya

Dalam kesesatan, padahal kesesatan dirinya lebih buruk

Para pakar sejarah menyebutkan bahwa Muasilamah ingin meniru Nabi n ketika ia dengar beliau meludah ke sebuah sumur kering yang semula tak memancarkan air, tiba-tiba setelah itu air mengalir begitu deras. Maka Musailamah ingin menandinginya, ia meludah ke sebuah sumur yang airnya sedikit, tapi ternyata sumur itu malah mongering dan tidak menyisakan air setetes pun.

Ia juga pernah menyiramkan bekas air wudhunya ke sebatang pohon kurma dan pohon kurma itu malah mengering.

Ia pernah mendatangi segerombolan anak kecil untuk mendoakan keberkahan bagi mereka, ketika ia usap kepala salah satu dari mereka tiba-tiba seluruh rambutnya justru rontok, ada juga yang lidahnya menjadi cedal.

Dikisahkan, pernah ia mendoakan kesembuhan untuk seseorang yang sakit mata, maka ia usap matanya, ternyata ia malah mengalami kebutaan padahal sebelumnya ia bisa melihat.

Saif bin ‘Umar menyebutkan dari Kholîd bin Zufar An-Numarî, dari ‘Umair bin Tholhah dari ayahnya, bahwasanya ia pernah datang ke Yamamah lalu bertanya, “Mana Musailamah? Tidak mungkin dia utusan Alloh.” Maka berkatalah seorang badui, “Sebentar, aku ingin melihatnya dulu.” Ketika ia menemuinya, ia berkata, “Kamukah Musailamah?” “Ya,” jawab Musailamah.

“Siapa yang mengirimmu?” tanyanya.

“Kotoran,” tukas Musailamah.

Orang itu bertanya lagi, “Di dalam kegelapan ataukah dalam cahaya, dirimu?”

Musailamah berkata, “Di dalam kegelapan.”

Mendengar itu, orang itu berkata, “Aku bersaksi bahwa kamu pendusta, dan Muhammad adalah benar. Akan tetapi pendusta dari Bani Robî‘ah lebih kami sukai daripada orang jujur dari Bani Mudhor.”

Akhirnya orang arab badui kolot ini mengikutinya, semoga Alloh membinasakannya, dan akhirnya terbunuh bersamanya.[20]

Lembaran amal keduanya ditutup bersamaan dengan lembaran amal para pengikutnya, di dalamnya tertulis kedustaan dan kebohongan, kekufuran dan kesesatan, serta kemurtadan dari Islam. Kelak hi hari kiamat akan dibagikan kepada mereka, maka mereka berandai-andai kalau saja dirinya menjadi tanah.

BISA JADI SESUATU YANG KITA BENCI, ITU LEBIH BAIK BAGI KITA

Orang muslim adalah yang menyerahkan urusannya kepada Alloh l, yang mengetahui bahwa segala urusan itu milik-Nya saja. Ia selalu berharap baik dan berprasangka baik kepada Alloh l, dan percaya bahwa tidak mungkin Alloh l menentukan sebuah ketentuan melainkan di balik itu ada hikmah yang besar. Sebab, keburukan tidak mungkin dinisbatkan kepada Alloh l.

Dengan sikap seperti ini, seorang muslim hidup dalam ketenangan yang terus menerus dan ketentraman yang sempurna.

Di antara orang yang Alloh kehendaki menjadi baik adalah Tsumâmah bin Utsâl Al-Hanafî a. sebelum Islam, ia selalu menyakiti Rosululloh n, bahkan pernah coba membunuh beliau lebih dari sekali. Percobaan terakhirnya adalah ketika syetan menunggangi dirinya dan merayunya untuk membunuh Rosululloh n serta membasmi dakwah beliau. Maka mulailah ia bergerak untuk menanti waktu yang tepat dalam menghabisi beliau di saat beliau lengah, dan hampir saja kejahatan yang dahsyat ini terjadi kalau bukan karena ia dihalangi oleh pamannya. Akhirnya Alloh menyelamatkan nabi-Nya dari kejahatan Tsumâmah. Tapi, meski pun Tsumâmah menghentikan gangguannya kepada Nabi n, ia tetap tidak mau berhenti menyakiti para shahabat beliau, masih saja ia mengintai mereka dan berhasil membunuh beberapa orang shahabat.

Melihat hal ini, Nabi n menghalalkan darahnya. Beliau umumkan hal ini kepada para shahabatnya. Tak lama setelah itu, Tsumâmah berniat menunaikan umroh, maka berangkatlah ia dari negeri Yamâmah menuju Mekkah dengan penuh percaya diri bahwa ia bisa bertawaf di sekitar Ka‘bah dan menyembelih kurban untuk patung-patung di sana.

Tatkala Tsumâmah sedang di tengah perjalanan melewati dekat Madinah, terjadilah sebuah peristiwa yang sama tidak ia duga sebelumnya. Kala itu, ada satu pasukan Rosululloh n sedang berpatroli di sekitar Madinah, maka mereka menangkap Tsumâmah, namun pasukan itu tidak tahu kalau itu Tsumâmah. Ia pun digelandang ke Madinah dan diikat di salah satu tiang masjid sembari menunggu kedatangan Nabi n yang mulia agar beliau sendiri yang memberi keputusan tentang tawanan ini.

Ketika Nabi n pergi ke masjid dan hendak memasukinya, beliau melihat Tsumâmah terikat di salah satu tiang masjid, maka beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian, siapa yang kalian tangkap ini?” Para shahabat menjawab, “Tidak, wahai Rosululloh.”

Beliau bersabda, “Ini adalah Tsumâmah bin Utsâl Al-Hanafî, perlakukan ia dengan baik.”

Para sahabat pun memberinya makan dan memperlakukannya dengan penuh kelembutan, dengan harapan hatinya akan luluh untuk masuk Islam. Kemudian Nabi n menanyai Tsumâmah, “Apa yang kau miliki wahai Tsumâmah?”

Ia berkata, “Aku punya kebaikan, wahai Muhammad. Jika kau bunuh, engkau membunuh orang yang banyak menumpahkan darah. Jika engkau maafkan, engkau telah memberi kebaikan kepada orang yang pandai berterima kasih. Jika engkau menghendaki harta, mintalah…engkau akan diberi seberapa pun kau mau.”

Maka Nabi n membiarkan Tsumâmah dalam kondisinya ini selama dua hari. Pada hari ketiganya, beliau bersabda, “Lepaskan Tsumâmah.” Akhirnya para sahabat melepaskannya.

Tsumâmah segera meninggalkan masjid Rosululloh n dan ia berjalan hingga tiba di sebatang pohon kurma di ujung Madinah yang di bawahnya ada mata air. Setelah itu tambatkan hewan tunggangannya di sana lalu ia bersuci dan memperbaiki bersucinya. Kemudian ia kembali ke masjid sambil berucap, “Aku bersaksi tidak ada ilâh yang hak selain Alloh, dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Alloh.” Ia berkata lagi, “Wahai Rosululloh, demi Alloh, tadinya di muka bumi ini tidak ada wajah yang lebih kubenci selain wajahmu, dan sekarang wajahmu adalah wajah yang paling kucintai. Demi Alloh, sebelumnya tidakada agama yang lebih kubenci daripada agamamu, dan sekarang agamamulah agama yang paling kucintai. Demi Alloh, tadinya tidak ada negeri yang lebih kubenci daripada negerimu, dan sekarang negerimu inilah negeri yang paling kucintai dari semua negeri.”

Ia berkata lagi, “Dulu aku telah menumpahkan darah para shahabatmu, aku pernah membunuh beberapa orang dari mereka. Jadi, apa tanggungan yang harus kutanggung untuk menebusnya?” Rosululloh n bersabda, “Wahai Tsumâmah, sesungguhnya Islam menghapus semua dosa sebelumnya.” Mendengar itu, wajah Tsumâmah tampak berbinar, lalu ia berkata, “Demi Alloh, aku akan membunuh orang-orang musyrik berkali lipat dari jumlah kaum muslimin yang pernah kubunuh. Dan sungguh akan kutaruhkan nyawaku, pedangku dan pengikutku untuk membelamu dan membela agamamu.”

Kemudian, Tsumâmah minta izin untuk melaksanakan umroh sesuai syariat Alloh l, dan Rosul pun mengizinkannya. Tsumâmah berjalan menunaikan apa yang menjadi tujuannya. Sesampai di Mekkah, ia berdiri sambil berteriak lantang, “Labbaika Allôhumma Labbaika, labbaika lâ syarîka laka labbaik, inna `l-hamda wa `n-ni‘mata laka wa `l-mulka, lâ syarîka laka.” (Aku sambut panggilan-Mu ya Alloh, aku sambut seruan-Mu, aku sambut seruan-Mu dan tiada sekutu bagi-Mu, kusambut seruan-Mu, sesungguhnya segala puji dan nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu)

Mendengar suara talbiyah itu, orang-orang Quraisy naik pitam, akan tetapi mereka tahu bahwa yang mengucapkan adalah Tsumâmah bin Utsâl, raja Yamâmah, mereka takut mengusiknya karena berakibat ia akan menghentikan pengiriman stok kebutuhan mereka.

Tsumâmah melaksanakan umroh sesuai tuntunan syariat di hadapan orang-orang Quraisy, ia telah menghinakan mereka dengan kemuliaan Islam. Begitu selesai umroh, ia pandangi orang-orang Quraisy, setelah itu ia berkata, “Demi Alloh, setelah hari ini tidak ada satu biji makanan pun yang akan sampai kepada kalian sampai kalian mau mengikuti agama Muhammad n.”

Dan Tsumâmah memboikot perekonomian Quraisy dalam jumlah besar, maka harga-harga pun melonjak tinggi, kelaparan merajalela dan paceklik terjadi di mana-mana, sampai-sampai orang Quraisy mengkhawatirkan keberlangsungan hidup diri dan anak-anak mereka, bisa-bisa mereka mati kelaparan. Akhirnya, mereka menulis surat kepada Nabi n, mereka katakan, “Wahai Muhammad, janjimu kepada kami bahwa kamu akan menjalin hubungan kekerabatan dan engkau akan menghasung kepada masalah itu. Tapi lihatlah, kini engkau telah putuskan hubungan kekerabatan kita, kamu perangi bapak-bapak kami dengan pedang, kau matikan anak-anak kami dengan kelaparan, dan sesungguhnya Tsumâmah telah memutus pengiriman kebutuhan kepada kami. Jika engkau mau menulis surat kepadanya agar ia mengirim kembali kebutuhan kami, lakukanlah.”

Akhirnya, nabi n menulis surat kepada Tsumâmah memerintahkannya agar melepaskan boikot, dan ia pun melepaskannya.

Tsumâmah a menghabiskan sisa umurnya dengan melaksanakan agama Alloh yang telah memuliakannya dengan agama itu, dan tetap menjaga janjinya kepada Nabi n.

Ketika Nabi n wafat dan banyak sekali manusia yang murtad serta keluar dari agama Alloh secara berbondong-bondong, Tsumâmah berdiri di tengah Bani Hanîfah, ia berkata, “Wahai Banî Hanîfah, hindarilah kegelapan yang tidak ada cahayanya ini (kemurtadan). Demi Alloh, itu adalah kecelakaan yang Alloh k tetapkan bagi orang yang mengambilnya, dan cobaan bagi yang tidak mengambilnya.” Ia mengingatkan mereka untuk tidak mengikuti Musailamah Al-Kadzâb, ia berkata, “Wahai Bani Hanifah, tidak mungkin dua nabi berkumpul dalam satu waktu. Sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh dan tidak ada nabi setelahnya, dan tidak ada nabi bersamanya.” Setelah itu ia baca firman Alloh l:

Teks arab

Hâ Mîm. Diturunkan kitab ini (Al Quran) dari Alloh yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui,

Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. Yang mempunyai karunia, tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, hanya kepada-Nya lah kembali (semua makhluk).” (Ghôfir [40]: 1 – 3)

Ia melanjutkan, “Bagaimana firman Alloh ini kalian bandingkan dengan perkataan Musailamah: “Hai katak, bersihkan apa yang kau mau bersihkan…orang mencegah orang minum…jangan mengkotori air…”?

Maka ia dan beberapa orang yang masih tetap di atas keislaman memisahkan diri dari mereka, lalu ia ikut berperang melawan orang-orang murtad itu dalam rangka berjihad di jalan Alloh l dan untuk meninggikan kalimat-Nya. Semoga Alloh membalas jasanya terhadap Islam dengan sebaik-baik balasan, serta mengangkat derajatnya bersama orang-orang yang mendapat petunjuk.[21]

Bukhôrî dan Muslim mengeluarkan kisah Tsumâmah a dalam sebuah hadits riwayat Abû Huroiroh a, ia berkata, “Rosululloh n mengirim pasukan berkuda ke arah Nejd, tak lama kemudian mereka datang membawa tangkapan, yaitu seorang lelaki dari Bani Hanifah bernama Tsumâmah bin Utsâl. Kemudian mereka mengikatnya di salah salah tiang masjid. Lalu keluarlah Nabi n, maka beliau bersabda, “Apa yang kau miliki wahai Tsumâmah?” Ia berkata, “Aku punya kebaikan, wahai Muhammad. Jika kamu membunuhku, engkau membunuh orang yang banyak menumpahkan darah, dan jika engkau memberi kebaikan, engkau memberi kebaikan kepada orang yang pandai berterimakasih…” dst. Cerita selanjutnya sama dengan sebelumnya.

Ketika terjadi perang melawan orang-orang murtad, Tsumâmah bergabung dengan pasukan Al-‘Allâ’ bin Al-Hadhromî yang dikirim oleh Abû Bakar Ash-Shiddîq kepada penduduk Bahrain. Di sana ada seseorang bernama Al-Hathm bin Dhobî‘ah. Tsumâmah berkata kepada kaumnya, “Demi Alloh, aku tidak setuju tinggal bersama orang-orang murtad itu. Mereka telah membuat perkara baru dalam agama Alloh l, dan sesungguhnya Alloh telah menimpakan cobaan yang membuat mereka tidak bisa bangun dan duduk. Aku tidak setuju tinggal diam bersama kalian dan tidak ikut bersama Ibnu `l-Hadhromî dan pasukannya padahal mereka adalah kaum muslimin dan kita tahu apa yang menjadi tujuan mereka. Mereka telah melewati tempat kita, maka tidak ada pilihan bagiku selain bergabung dengan mereka. Maka siapa diantara kalian yang hendak berangkat, hendaknya ia berangkat.” Maka berangkatlah Tsumâmah untuk mendukung dan memperkuat Al-‘Allâ’ dan pasukannya. Mereka menjadi kekuatan yang memporak porandakan kekuatan musuh. Tsumâmah bergabung bersama Al-‘Allâ’ untuk memerangi Al-Hathm. Orang-orang musyrik itupun mengalami kekalahan dan banyak yang terbunuh. Setelah itu Al-‘Allâ’ membagikan ghanimah, dan memberikan harta nafal kepada beberapa orang dimana ia memberikan baju Al-Hathm kepada salah seorang kaum muslimin. Kemudian baju itu dibeli oleh Tsumâmah. Sepulang Tsumâmah dari peperangan besar ini bani Qaiz bin Tsalabah (kaum Al-Hathm) melihat baju Al-Hathm dipakai Tsumâmah, maka mereka berkata, “Berarti, kamu yang membunuh Al-Hathm?” “Tidak, aku tidak membunuhnya…” elak Tsumâmah, “…tapi aku hanya membeli baju ini.” Akhirnya mereka membunuh Tsumâmah. Tsumâmah a pergi sebagai korban sikap fanatisme golongan yang tercela. Ia gugur sebagai seorang mujahid di jalan Alloh yang berjihad dengan lisan, pedang dan hartanya. Kita berharap semoga ia termasuk salah satu syuhada yang baik, seperti yang difirmankan Alloh l:

Teks arab

“ Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Alloh, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Al-Baqoroh [2]: 154)

lihatlah kita telah mencatat sejarahnya di lembaran kisah orang-orang sholih, dan kita selalu mendoakan keridhoan untuknya bersama para sahabat pendahulu islam. Alloh telah menyelamatkannya dengan Islam dan memberikan anugrah menjadi sahabat yang mulia, menjaga anggota badannya dari berbagai dosa. Keislaman dia adalah taufiq dan hiadayah dari Alloh l, setelah itu berkat buah perlakuan yang baik, kelembutan sikap dan kejujuran dakwah dari Rasululloh n. Alloh l telah menjadikan keberangkatan Tsumâmah dari rumahnya untuk umroh lebih baik dari apa yang dia duga sebelumnya. Tadinya ia tidak suka untuk menjadi tawanan tetapi dikemudian hari ia memuji Alloh atas hal itu karena dia ditawan dalam keadaan kafir kemudian di lepas di taman keislaman. Ia ditahan dari perbuatan maksiat dan di lepas dengan ketaatan-ketaatan. Semoga keselamatan tercurah selalu kepadanya di hari ketika dia masuk Islam, di hari ketika dia bertaubat, di hari dia tetap teguh di zaman-zaman penuh kemurtadan, di hari dia hancurkan sikap fanatisme jahiliyah, dihari dia keluar sebagai mujahid di jalan Alloh l, dan dihari dia terbunuh di jalan-Nya.[22]

SEBUAH KEMULIAAN YANG ALLOH TELAH MULIAKAN DIRIKU DENGANNYA

Bangsa arab tekenal dengan sifat membanggakan nasab dan mencela nasab orang lain. Dulu mereka hidup dengan aturan rimba yang berdiri di atas kezaliman dan kejahatan, serta mengambil hak orang lain tanpa hak. Setelah itu, Alloh muliakan manusia dengan agama Islam, yang datang untuk menghapus semua nilai kejahiliahan dan meletakkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan. Alloh l berfirman:

Teks arab

“Sesungguhnya, yang paling mulia di sisi Alloh di antara kalian adalah yang paling bertakwa…” (Al-Hujurôt [49]: 13)

Bahkan, Islam mengharamkan berbangga-bangga dengan nasab dan mencela nasab orang lain. Abû Mâlik Al-Asy‘arî a meriwayatkan bahwa Rosululloh n bersabda,

Teks arab

“Empat hal pada umatku, yang termasuk perkara jahiliyah, mereka tidak meninggalkannya: Berbangga dengan nasab, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang, dan meratapi mayit.”

Nasâî berkata, “Wanita yang meratapi mayit dan tidak bertaubat sebelum meninggal, pada hari kiamat akan diberdirikan dengan memakai pakain dari cairan tembaga dan baju besi dari [kurang hal. 145].” (HR. Muslim)


[1] Kitab At-Taubah tulisan Ibnu `l-Qoyyim: 13.

[2] Ibid hal. 137, 138.

[3] Tafsîr Ibnu Katsîr: I/ 5

[4] Kitab At-Tawwâbîn: 79, 80.

[5] At-Tawwâbîn: 85.

[6] Al-Bidâyah wa `n-Nihâyah: IX/ 219 dengan sedikit adaptasi.

[7] As-Sîroh An-Nabawiyyah Ibnu Hisyâm: III/ 479 – 480, Dalâ’ilu `n-Nubuwwah Al-Baihaqî: IV/ 219 – 220, dan Al-Bidâyah wa `n-Nihâyah: IV/ 191.

[8] Al-Ishôbah fî Tamyîzi `s-Shohâbah: I/ 38, 39

[9] As-Sîroh An-Nabawiyah Ibnu Hisyâm: III/ 39 – 40, Al-Bidâyah wa `n-Nihâyah: IV/ 38, Usudu `l-Ghôbah: III/ 699, Al-Ishôbah: II/ 526, As-Sîroh An-Nabawiyah Fî Dhou’i `l-Mashôdir Al-Ashliyyah: 392.

[10] Al-Ishôbah: II/ 526.

[11] Shohîhu `l-Jâmi‘ Ash-Shoghîr: 6297, dan Shohîh At-Targhîb: 68.

[12] Fathu `l-Bârî: III/ 364.

[13] Fathu `l-Bârî: III/ 464

[14] Ihyâ’ ‘Ulûmi `d-Dîn: II/ 307

[15] Shifatu `s-Shofwah: IV/ 100, 101

[16] Shohîhu `l-Jâmi‘ Ash-Shoghîr: 3985, 3986

[17] Al-Bidâyah wa `n-Nihâyah: VI/ 328, Al-Ishôbah: I/ 539, dan I‘jâzu `l-Qur’ân: 174.

[18] Adabu `d-Dunyâ wa `d-Dîn: 167, 172.

[19] Shuwar Min Hayâti `s-Shohâbah 311 – 315, dan Al-Bidâyah wa `n-Nihâyah: V/ 46, VI/ 331

[20] Al-Bidâyah wa `n-Nihâyah: VI/ 331, dan I‘jâzu `l-Qur’ân: 175

[21] Shuwar Min Hayâti `s-Shohâbah: 57 – 63

[22] Untuk lebih lengkapnya mengenai kisah Tsumâmah, lihat Fathu `l-Bârî: IX/ 150, Usudu `l-Ghôbah: I/ 294 – 295, Shuwar Min Hayâti `s-Shohâbah: 56 – 63, Dalâilu `n-Nubuwah tulisan Baihaqî: IV/ 78 – 81, Al-Ishâbah: I/ 203, Wallôhu Ya‘shimuka Mina `n-Nâs: 152 – 167, Sîroh Nabawiyah Fî Dhou’i `l-Mashôdir Al-Ashliyah: 467 – 468.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: