Risalah Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab dalam masalah takfir
5 Januari 2011 Tinggalkan Komentar
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhhab semoga Allah mensucikan ruhnya berkata17 dalam risalahnya yang beliau kirim kepada Ahmad Abdil Karim tokoh di daerah Al Ahsa yang dimana dia dahulunya tergolong orang shaleh sebelum terkena syubhat masalah ini, kami menyebutkan sebagian isi risalah itu karena adanya kesamaan antara orang yang telah kami bantah dengan diri Ahmad Ibnu Abdil Karim (yang dikirimi surat itu), dan inilah teks risalah tersebut18: Dari Muhammad Ibnu Abdil Wahhab kepada Ahmad Ibnu Abdil Karim, salamun ‘alal mursalin wal hamdulillahi rabbil ‘aalamin, Amma Ba’du telah sampai tulisanmu, kamu menjelaskan masalah yang telah kamu sebutkan dan kamu sebutkan bahwa kamu menemukan isykal (kesulitan) yang dimana kami mencari pencerahannya, kemudian telah datang dari kamu satu surat lagi yang di dalamnya kamu sebutkan bahwa telah menemukan suatu perkataan Syaikhul Islam yang menghilangkan isykal darimu. Kami memohon kepada Allah agar memberikan kamu hidayah terhadap agama Islam, perkataan Ibnu Taimiyah itu menunjukkan bahwa orang yang beribadah kepada berhala seperti ibadah terhadap Latta dan Uzza, dan mencaci agama Rasullaah setelah dia bersaksi terhadapnya, seperti cacian yang dilakukan oleh Abu Jahal, bahwa dia itu tidak dihukumi kafir secara ta’yin ?19 bahkan justru ungkapan beliau itu sangat jelas dan gamblang seperti Ibnu Fairuz,, Shalih Ibnu Abdillah dan yang lainnya dengan kekafiran yang jelas lagi mengeluarkan dari agama Islam ini, apalagi (pengkafiran langsung) orang-orang selain dua orang itu. Ini sangat jelas sekali lagi gamblang dalam penyataan Ibnu Qoyyim dan dalam pernyataan Syaikh (Ibnu Taimiyah) yang telah kamu sebutkan bahwa itu bisa menghilangkan isykal dari kamu dalam hal kafirnya orang yang menyembah berhala yang berada diatas kuburan Yusuf dan yang lainnya, dia meminta terhadap berhala-hala itu dalam situasi sempit dan tenang, mencaci agama Rasulullah setelah dia mengakui dan bersaksi terhadapnya, serta beragama dengan penyembahan berhala setelah dia mengakui risalah tersebut. Perkataan saya ini bukanlah mengada-ada, bahkan kamu juga bisa menjadi saksi atas (perbuatan) mereka, namun bila hati sudah dibutakan oleh Allah maka tidak ada jalan keluar, namun yang saya khawatirkan terhadap kamu adalah firman Allah,
“Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci karena itu mereka tidak dapat mengerti” (Al munafiqin: 3),,
dan syubhat yang merasuki diri kamu adalah karena demi segenggam harta yang ada di tangan kamu, kamu beserta keluargamu khawatir melarat bila kamu meninggalkan negeri kaum musyrikin, kamu ragu akan rizki Allah, dan juga teman-teman yang buruk (ikut menyesatkanmu). Kamu wal ‘iyadzu billah sekarang mulai terpuruk untuk pertama kalinya dalam keragu-raguan, (tinggal) di negeri syirik20 loyal kepada orang-orang musyrik, dan shalat di belakang mereka. “…selesai perkataan Syaikh Muhammad rahimahullah.
Perhatikanlah perkataan beliau rahimahullah dalam hal takfir (pengkafiran) terhadap para ulama itu dan dalam hal kafirnya orang yang beribadah kepada berhala yang ada di atas kuburan Yusuf,21 dan sesungguhnya pengkafiran itu sungguh sangat jelas dalam perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah dan dalam penghikayatan beliau (Syaikh Muhammad) tentang Ahmad Ibnu Abdil Karim (yang dikirimi surat itu), serta vonis beliau terhadapnya dengan ayat dalam surat Al Munafiqun, dan sesungguhnya ini adalah hukum yang mencakup luas.
Begitu juga perhatikanlah pada masa sekarang keadaan banyak orang yang katanya ahli agama dan ilmu dari kalangan penduduk Nejed, dia pergi menuju negeri kaum musyrikin, muqim di sana untuk mencari ilmu dari mereka (ulama-ulama kaum musyrikin) dan dia duduk-duduk bersama mereka, sehingga di kala dia sudah pulang ke negeri kaum muslimin dan dikatakan kepadanya: Takutlah kamu kepada Allah dan bertaubatlah kepada Tuhanmu dari itu semua” maka dia memperolok-olokan orang yang mengatakan hal itu kepadanya seraya berkata: Apakah saya harus taubat dari mencari ilmu ? kemudian dia menampakan dari perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapannya yang mengungkapkan buruk dan palsunya keyakinan dia, dan ini tidaklah aneh, karena dia telah membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya dengan perlakuan mereka bergandeng tangan bersama orang-orang musyrik, sehingga dia mendapatkan sangsinya itu. Namun yang sangat mengherankan adalah perlakuan ahli agama dan tauhid yang berlaku ramah terhadap manusia jenis ini yang ingin menyamakan antara kaum musyrikin dengan ahli tauhid padahal Allah telah membedakan antara mereka di dalam Kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya.
Kemudian Syaikh Muhammad rahimahullah berkata dalam suratnya itu setelah menyebutkan banyaknya orang yang murtad dari Islam setelah (wafat) Nabi, seperti orang-orang yang murtad pada zaman Abu Bakar, mereka (para sahabat) menvonis mereka murtad dengan sebab menolak bayar zakat22 dan seperti orang-orang yang mengkultuskan Ali, jamalah mesjid di kota Kufah23 Banu Ubaid Al Qadaah.24 Mereka semua yang tadi disebut dihukumi langsung oleh (para ulama) sebagai orang-orang murtad (dengan ta’yin orang-orangnya), setelah itu Syaikh Muhammad berkata: Adapun pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang dijadikan oleh mereka (teman-teman kamu) sebagai alat untuk mengkaburkan pemahamanmu, maka itu justru lebih pedas/keras dari ini semua, dan seandainya kami mengatakan perkatan itu, tentu kami mengkafirkan banyak orang-orang dari kalangan orang-orang yang terkenal bi alyaanihim (dengan tunjuk langsung orangnya), karena sesungguhnya beliau (Ibnu Taimiyyah) menegaskan di dalam pernyataannya bahwa orang mu’aayan itu tidak dikafirkan kecuali bila hujjah telah tegak atasnya. Dan apabila orang mu’ayyan (tertentu) dikafirkan bila hujjah telah tegak atasnya, maka termasuk sesuatu yang sudah maklum (diketahui umum) bahwa tegaknya hujjah itu bukanlah maknanya bahwa dia itu memahami25 firman Allah dan sabda Rasul-Nya seperti Abu Bakar Ash Shiddiq, akan tetapi bila firman Allah dan Sabda Rasul-Nya telah sampai kepada dia sedang dia itu kosong dari hal-hal yang bisa diudzur,26 maka dia itu, kafir sebagaimana orang-orang kafir itu seluruhnya telah tegak hujjah atas mereka padahal Allah mengatakan:
“Sesungguhnya Kami telah meletakan tutup di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya,” (Al Kahfi: 57)
Dan firman-Nya
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk adalah di sisi Allah adalah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa,“ (Al Anfal: 22)
Bila pernyataan Syaikh (Ibnu Taimiyyah rahimahullah) ini ternyata bukan dalam masalah riddah dan syirik (akbar) namun dalam masalah-masalah juz’iyyah, kemudian beliau berkata: itu bisa dijelaskan dengan penegasan bahwa orang-orang munafik bila menampakan kemunafikannya maka mereka itu dihukumi sebagai orang-orang murtad, jadi mana bukti omongan kamu yang mengatakan bahwa beliau (Syaikh Ibnu Taimiyyah) tidak mengkafirkan seseorang dengan Ta’yin (tunjuk nama). Dan beliau (Ibnu Taimiyah) berkata juga ketika mengomentari orang-orang ahli kalam dan yang sejalan dengan mereka takkala beliau menyebutkan sebagian kemurtadan dan kekufuran yang bersumber dari pada iman mereka, beliau rahimahullah berkata27: Hal ini bila terjadi dalam maqallat khafiyyah (pendapat-pendapat keyakinan yang samar), maka bisa dikatakan sesungguhnya orangnya itu adalah mukhthi’ dhaal (salah lagi sesat) yang belum tegak atasnya hujjah yang dimana orang yang meninggalkanya bisa dikafirkan, akan tetapi hal itu terjadi pada kelompok-kelompok dari mereka dalam hal-hal dhahirah (nampak) yang dimana orang-orang musyrikin, Yahudi, Nasrani mengetahui bahwa Muhammad diutus dengannya dan mengkafirkan orang-orang yang menyalahinya, seperti perintah beliau agar orang-orang yang beribadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan larangan beliau dari beribadah kepada selain Allah, baik itu para Nabi, Malaikat dan yang lainnya, sesungguhnya itu semua adalah syi‘ar-syi’ar Islam yang paling nampak, kemudian anda mendapatkan banyak dari tokoh-tokoh mereka yang terjerumus dalam penyimpangan-penyimpangan semacam ini, sehingga jadilah mereka orang-orang murtad dari Islam dengan kemurtaddan yang sangat jelas sampai beliau (Ibnu Taimiyyah) mengatakan: Dan lebih dasyat dari itu adalah bahwa sebagian mereka mengarang buku kemurtadan sebagaimana Ar Razi mengarang tentang tata cara ibadah kepada bintang-bintang28 dan ini adalah kemurtaddan dari Islam dengan kesepakatan kaum muslimin.
Inilah bentuk perkataan beliau (Ibnu Taimiyyah), perhatikan perkataannya dalam membedakan antara maqaalaat khafiyyah (masalah pendapat yang samar/pelik) dengan masalah yang sedang kita bicarakan dalam hal kekafiran orang tertentu (mu’ayyan), dan amatilah takfir beliau (pengkafiran yang beliau lakukan) terhadap para tokoh mereka, si fulan dan si fulan dengan ditunjuk namanya langsung (ta’yin), serta kemurtadan mereka itu dengan kemurtadan yang sangat jelas, teruslah amati penegasan beliau dengan penghikayatan ijma akan murtadnya Al Fakhrur Raziy dari Islam padahal dia itu adalah diantara tokoh besar di kalangan Syafi’iyyah. Apakah setelah ini pantas di katakan bahwa menurut Ibnu Taimiyyah orang tertentu (mu’ayyan) itu tidak bisa dikafirkan meskipun dia itu beribadah kepada Abdul Qodir di waktu senang dan sulit, meskipun dia mencintai Abdullah Ibnu Auf dan mengklaim bahwa keyakinannya adalah yang lebih baik dengan disertai ibadah kepada Abu Hadidah.
Syaikhul Islam berkata lagi: “Bahkan semua kemusyrikan yang terjadi di alam ini hanyalah muncul dari pendapat orang-orang seperti mereka, merekalah yang memerintahkan akan syirik sekaligus melakukannya, ada orang yang tidak melakukan syirik ini namun dia tidak melarang dari melakukannya, bahkan dia itu mengakui / merestui mereka. Dan mereka itu bila membela orang-orang muwahhidin, maka yang lainnya lebih condong kepada orang-orang musyrik, dan terkadang dia itu berpaling dari kedua-duanya, perhatikanlah hal ini karena ini sangat bermanfaat. Dan begitu juga orang-orang yang dahulunya mereka itu berada di dalam agama Islam, mereka tidak melarang perbuatan syirik dan tidak mengharuskan tauhid, bahkan mereka membolehkan syirik dan memerintahkan untuk melakukannya, dan mereka itu bila mengklaim tauhid, maka tauhid mereka itu hanya sekadar ucapan tanpa pengamalan.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.
Perhatikanlah perkataan beliau ini dan bandingkan dengan pemahaman rusak yang dengannya kamu diperdaya oleh syaitan, yang dengan (pemahaman rusak) itu kamu mendustakan Allah, Rasul-Nya dan ijma umat ini, serta dengannya kamu cenderung kepada peribadatan terhadap thaghut, bila kamu paham akan hal ini, (maka ini yang kami harapkan), dan kalau tidak, maka saya memberikan saran kepada kamu agar banyak memohon dan berdoa kepada Dzat yang memiliki hidayah, karena bahaya sangat besar sekali, dan kekal di neraka adalah adalah balasan atas kemurtadan yang terang-terangan, itu semua tidak sebanding dengan harta yang membawa keuntungan satu Tuman29 atau setengahnya, di antara kami banyak orang yang datang dengan membawa keluarganya dan mereka itu tidak meminta-minta, dan Allah telah berfirman:
“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja,” (Al Ankabut 56)
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah-lah Yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha mengetahui,” (Al Ankabut: 60)
Selesai perkataan Syaikh Muhammad dari risalah itu dengan teksnya bersama sedikit ikhtisar, coba rujuk dalam Tarikh (Nejed)30 karena itu sangat bermanfaat sekali. Dan yang dimaksud adalah bahwa hujjah itu telah tegak dengan diutusnya Rasulullah dan dengan diturunkannya Al Qur’an, sehingga semua orang yang telah mendengar diutusnya Rasulullah dan Al Qur’an sampai kepadanya, maka hujjah itu telah tegak atasnya,31 dan ini sangat nampak sekali dalam perkataan Syaikhul Islam saat mengatakan: ”Maka termasuk sesuatu yang sudah maklum (diketahui umum) bahwa tegaknya hujjah itu bukanlah maknanya bahwa dia itu memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya seperti Abu Bakar Ash Shiddiq, akan tetapi bila firman Allah dan Sabda Rasul-Nya telah sampai kepada dia sedang dia itu kosong dari hal-hal yang bisa diudzur, maka dia itu kafir sebagaimana orang-orang kafir itu seluruhnya telah tegak hujjah atas mereka padahal Allah mengatakan:
“Sesungguhnya Kami telah meletakan tutup di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya,” (Al Kahfi: 57)
Perhatikanlah perkataan beliau ini dan renungilah serta mintalah hidayah kepada Allah.
Inilah tiga tempat di mana di dalamnya disebutkan bahwa hujjah itu sudah tegak dengan Al Qur’an atas orang yang telah sampai kepadanya dan telah mendengarnya meskipun dia itu tidak memahaminya32. Dan ini alhamdulillaah diimani oleh setiap orang muslim yang telah mendengar Al Qur’an, namun syaitan-syaitan telah menjauhkan mayoritas manusia dari fithrah yang dimana Allah telah memfithrahkan manusia di atasnya. Kemudian amati perkataan Syaikhul Islam dalam vonis kafir yang beliau kenakan kepada mereka, apakah beliau mengatakan bahwa mereka itu tidak boleh dikafirkan dahulu sebelum diberi penjelasan ? atau apakah mereka itu tidak divonis sebagai orang-orang musyrik33 namun hanya dikatakan bahwa perbuatannya yang syirik sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang kami isyaratkan tadi ? Kemudian amatilah penghikayatan Syaikh Muhammad dari Syaikhul Islam saat mengomentari para ahli kalam dan yang sejalan dengan mereka : Hal ini bila terjadi dalam maqalaat khafiyyah (pendapat-pendapat keyakinan yang samar), maka bila dikatakan sesungguhnya orangnya itu adalah mukhthi’ dlaal (salah lagi sesat) yang belum tegak atasnya hujjah yang di mana orang yang meninggalkannya bisa dikafirkan, akan tetapi hal itu terjadi pada kelompok-kelompok dari mereka dalam hal-hal yang dhahirah (nampak) yang di mana orang-orang musyrikin, Yahudi dan Nasrani mengetahui bahwa Muhammad diutus dengannya dan mengkafirkan orang-orang yang menyalahinya, seperti perintah beliau agar orang-orang beribadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan larangan beliau dari beribadah kepada selain Allah, baik itu para Nabi, Malaikat dan yang lainnya, sesungguhnya itu semua adalah syi’ar-syi’ar Islam yang paling nampak, kemudian anda dapatkan banyak dari tokoh-tokoh mereka terjerumus dalam penyimpangan-penyimpangan macam ini, sehingga jadilah mereka sebagai orang-orang murtad dari Islam sampai akhirnya Syaikh Muhammad mengatakan: Maka perhatikanlah perkataannya dalam membedakan antara maqaalaat khafiyyah (masalah pendapat yang samar/pelik) dengan masalah yang sedang kita bicarakan dalam hal kekafiran orang tertentu (mu’ayyan), dan amatilah takfir beliau (pengkafiran yang beliau lakukan) terhadap para tokoh mereka. Dan amatilah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh: Dan sekedar ini sudah cukup untuk membantah syubhat ini. dan Syaikhul Islam semoga Allah mensucikan ruhnya telah menjadikanya bagian dari hal-hal yang dhahirah (nampak), hingga orang Yahudi dan Nasrani mengetahui hal itu dari bagian ajaran Islam, sedangkan orang yang telah kami sebutkan tadi kepada anda, dia itu buta dari hal itu, dan mungkin saja dia itu membacanya dan mengakuinya, namun dia terhalangi dari menerapkannya kepada kenyataan manusia yang ada di sekitarnya. Dan hal ini tentu ada sebabnya, yang di antaranya adalah tidak adanya kekhawatiran atas dirinya dari terjerumus ke dalam kesesatan dan keterpurukan, padahal orang-orang salaf sangat khawatir akan hal itu. Dan bisa jadi orang itu memiliki hawa (keinginan) nafsu yang mencegahnya dari mengetahui kebenaran dan memahaminya dari nash-nash yang ada, sebagaimana yang telah dituturkan oleh Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah dalam sebagian risalah-risalah beliau yang disebutkan oleh penyusun Tarikh Nejed 34 bahwa beliau berkata: (Dan di antaranya bahwa mempelajari masalah ini adalah kebiasaan yang sempurna atas sebagian para pencari ilmu, sehingga dia mengetahuinya dan memiliki gambarannya, namun kemudian bila masalah itu terjadi dia tidak memahaminya), berhentilah di sini dan amatilah. Dan di antara hal itu adalah bahwa beliau menyebutkan bahwa sebagian Ulama Al Wasym menjelaskan tauhid dalam sebagian surat mereka kepada Syaikh Muhammad, dan bertanya apakah yang mereka jelaskan itu benar atau tidak ? maka Syaikh berkata kepadanya: Penjelasan kamu akan tauhid itu adalah benar dan kamu tepat sasaran, namun permasalahannya adalah dalam pengamalan setelah kamu mengetahuinya, karena sesungguhnya kamu di kala datang sebagian risalah-risalah musuh-musuh agama ini ke daerah kamu tentang makian akan agama ini dan pemeluknya, kamu berjalan bersama mereka, kamu tidak menjauhi dan tidak meninggalkan mereka,”atau kalimat yang seperti itu. Perhatikanlah hal itu, (karena bila kamu selamat darinya berarti kamu bisa selamat dari masalah yang lebih dasyat )35. Perhatikanlah pernyataan Syaikh rahimahullah saat beliau memposisikan Ahmad Ibnu Abdil Karim (shahibur risalah) atas hal itu, dan bahwa dia itu tergolong orang-orang munafik dan cenderung kepada peribadatan terhadap thaghut, kemudian beliau memvonis dia murtad. Dan di antara hal yang paling besar yang Syaikh hikayatkan tentang Ahmad Ibnu Abdil Karim adalah bahwa dia itu (Ahmad Ibnu Abdil Karim) tawaqquf (enggan sementara waktu) mengkafirkan mu’ayyan (orang tertentu) dan bahwa yang menghalangi dia dari hijrah dengan keluarganya adalah harta niaga yang ada di tangannya dan kekhawatiran akan kefakiran.
Kemudian perhatikanlah keadaan orang-orang yang telah kami sebutkan beserta orang-orang yang sejalan dengan mereka, mereka rihlah untuk menemui orang-orang musyrik, membaca kitab di hadapan mereka, dan mencari ilmu – dengan klaim mereka ini – dari mereka (ulama kaum musyrikin). Mereka mengakui hal ini, dan memang ini adalah apa yang diketahui dari mereka, paling tidak mereka itu tertuduh melakukan muwalah (loyal) dan kecenderungan terhadap mereka. Dan di antara bencana yang besar adalah bahwa macam orang ini bila mereka datang kepada kaum muslimin, mereka (kaum muslimin) memperlakukan mereka seperti perlakuan yang mereka berikan terhadap mereka sebelum pergi ke negeri kaum musyrikin, berupa penghormatan dan ucapan salam, padahal terkadang muncul dari lisan mereka itu cerita dan pujian terhadap negeri kaum musyrikin36 dan melecehkan kaum muslimin dan negeri mereka, ini memberikan indikasi bahwa dia itu tidak menampakan hal itu kecuali karena bersumber dari buruknya keyakinan, sedang mereka itu selalu terus di atas hal yang seperti itu, dan sedikit sekali orang yang mengingkari apa yang bersumber dari mereka itu. Adapun keberadaan seseorang yang mengkhawatirkan kemurtadan dan kesesatan atas mereka dengan sebab perlakuan mereka itu, maka saya kira tidak ada seorangpun yang terbersit akan hal itu, seolah-olah hukum-hukum syari’at yang seharusnya ditegakkan terhadap orang yang timbul darinya hal-hal yang berlawanan dengannya37 sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad dan Syaikhul Islam sebelumnya adalah hanya untuk orang yang sudah lalu lagi tiada, sebagaimana yang disebutkan oleh tokoh panutan dari orang-orang yang masyhur yang sudah tadi dituturkan. Lihatlah keadaan kamu dan berpikirlah tentang aqidah kamu, karena bila kamu selamat darinya, maka kamu bisa selamat dari hal yang lebih besar. Dan kalau tidak maka tidak heran walaa haula walaa quwwata illaa billaah.
Dan di antara dalil atas masalah kita ini adalah apa yang ditulis oleh Syaikh Muhammad rahimahullah kepada Isa Ibnu Qosim dan Ahmad Ibnu Suwailim, tatkala keduanya bertanya kepada beliau tentang ungkapan Syaikhul Islam Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah – semoga Allah mensucikan ruhnya -: Orang yang mengingkari apa yang dibawa oleh Rasulullah dan hujjah telah tegak atasnya, maka dia itu kafir,” maka Syaikh Muhammad menjawab38 dengan perkataannya kepada Isa Ibnu Qasim dan Ahmad Ibnu Suwailim,” Semoga salam, rahmat dan berkat Allah dilimpahkan kepada kalian, wa ba’du:
Apa yang kalian sebutkan berupa perkataan Syaikh (Ibnu Taimiyyah) bahwa setiap orang yang mengingkari ini dan itu dan bahwa kalian menanyakan tentang status para thaghut itu dan paral pengikutnya, apakah hujjah telah tegak atas mereka atau belum ? ini (pertanyaan) adalah sesuatu yang sangat mengherankan sekali, bagaimana kalian bisa ragu akan hal ini, telah saya jelaskan kepada kalian dengan berulang-ulang bahwa orang yang belum tegak hujjah atas mereka adalah orang yang baru masuk Islam, orang yang hidup dipelosok pedalaman, atau ini dalam masalah-masalah yang khafiyyah (samar dalilnya) seperti Sharf dan ‘Athf, maka yang tiga macam orang ini jangan terlebih dahulu dikafirkan sehingga diberi penjelasan.39 Adapun ushuluddin yang telah Allah jelaskan di dalam Kitab-Nya, maka sesungguhnya hujjah Allah adalah Al Qur’an, siapa yang telah sampai Al Qur’an kepadanya, maka berarti hujjah Allah telah sampai kepadanya, namun sumber isykal kalian adalah bahwa kalian tidak membedakan antara qiyamul hujjah (tegaknya hujjah) dengan fahmul hujjah (paham akan hujjah), karena sesungguhnya mayoritas orang-orang munafiq dan orang-orang kafir mereka itu tidak memahami hujjah Allah padahal hujjah itu sudah tegak atas mereka, sebagaimana firman Allah:
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang bernak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al Furqan: 44)
Qiyamul hujjah (tegaknya hujjah) dan sampainya (bulughul hujjah) adalah suatu hal, sedangkan pahamnya mereka akan hujjah (fahmul hujjah) adalah hal lain.40 Baca tulisan ini lebih lanjut




komentar dari pengunjung