Bantahan terhadap Pemahaman Irfan S. Awwas (MMI)
14 Mei 2011 1 Komentar
ana sedikit “bingung” dengan pemahaman Irfan S. Awwas yang mengatakan bahwa terjemahan Al-Qur’an versi Depag salah, sehingga membuat banyak aksi “terorisme” dan membuat “radikal” umat islam….
1. Irfan S. Awwas menulis…… Adalah mustahil, tanpa pemicu ideologi kemarahan, seorang Muslim nekad melakukan tindakan kamikaze, meledakkan bom di depan mihrab masjid di saat hendak menunaikan shalat Jum’at. Sebab, Al-Qur’an melarang merusak tempat ibadah, sekalipun tempat ibadah non Islam, sebagaimana firman Allah: “….Sekiranya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang didalamnya banyak disebut nama Allah.” (Qs. 22: 40).
————————————-
“ideologi kemarahan” apa yang dimaksud oleh beliau ini? apakah MARAH itu tidak boleh? bukankah kita faham dan mengerti, bahwa ada “marah karena Allah”, bukankah rasulullah marah jika hukum-hukum Allah dilanggar? Apakah kalian tidak marah melihat hukum Allah dicemooh, dilecehkan, dihina siang malam di negeri ini? Boleh! bahkan kita harus marah demi mempertahankan agama, ghirah alad-Dhin (cemburu atas agama), marah karena Allah (agama), menegakkan keadilan dan kebenaran.
lalu saya ingin bertanya, YANG MERUSAK MESJID ITU SIAPA???? siapa??? M.Syarif? tolong diperhatikan, yang dilakukan M. Syarif adalah membunuh kafir di dalam mesjid, antum salah menempatkan ayat dengan aksi M. Syarif ini… jika masih bersikukuh bahwa M. Syarif merusak mesjid, TUNJUKKAN BUKTI!
“tentulah telah DIROBOHKAN biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.”
mesjid mana yang roboh??? mesjid polres cirebon?? bukan.. tapi 5 mesjid yang dirobohkan oleh najis-najis kristen di sumut! lalu dimana “MARAH”mu atas hal tersebut? mana ucapan-ucapan pembelaanmu terhadap hal itu?? atau memang kamu tidak “berideologi marah” dan tenang-tenang saja ketika agama ini diperlakukan seperti itu??
2. Irfan S. Awwas menulis… Jika Muhammad Syarif dan mereka yang sepaham dengannya, melakukan tindakan kamikaze, meledakkan bom untuk membunuh sasaran yang diklaim sebagai musuh, dan merasa mendapat pembenaran dari kitab suci Al-Qur’an. Bukan karena Al-Qur’an memerintahkan demikian, melainkan karena terjemahan yang salah terhadap ayat Qur’an, lalusiapayangbertanggungjawab?
————————-
afwan… kami tidak merasa mendapat pembenaran dari Al Qur’an saja…. selain dari Al-Qur’an, semua itu kami dapatkan dari Hadits, Ijma’, dan Itjihad ulama-ulama salaf!!
pertama, mari kita definisikan MUSUH disini.. siapa lawan, siapa kawan… ana coba mengutip sebuah ayat…
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي اْلأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا
Apabila kalian bepergian di muka bumi, tidaklah mengapa kalian menqashar sembahyang kalian, jika kalian takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata.(QS an-Nisa’ [4]: 101).
STOP!! ana tau bahwa terjemahan ayat diatas tidak diyakini kebenarannya (salah) oleh antum, karena merupakan versi depag. namun, Para ahli tafsir (bukan Depag lho!!) banyak menjelaskan tentang makna kalimat terakhir dalam ayat tersebut. Firman Allah Swt. (yang artinya) Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata dimaknai dalam makna yang saling mengokohkan satu sama lain. Di antaranya adalah:
1. Shihabudin Ahmad bin Muhammad al-Ha’im al-Mishri[1] menyatakan bahwa sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata, yakni memusuhi tanpa didasarkan pada ilmu, bersikap memusuhi.
2. Jalaluddin Muhammad dan Jalaluddin Muhammad[2] menyatakan bahwa orang-orang kafir itu musuh yang nyata, yaitu bayyin al-‘adawah (permusuhan yang sungguh terang).
3. Imam al-Baydhawi[3] menyatakan bahwa qashar itu merupakan keringanan saat takut menghadapi musuh karena kaum kafir itu merupakan musuh yang nyata, sebagai syarat yang umum berlaku pada saat tersebut.
4. Imam al-Qurthubi[4] memaknai ayat ini dengan mengatakan, shalat qashar ini boleh pada waktu safar dan takut terhadap orang kafir yang memusuhi secara nyata; mereka melakukan penentangan.
5. Az-Zarkasyi Abu Abdillah, dalam Al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qurân,[5] menyatakan bahwa ayat ini maknanya adalah permusuhan untuk selama-lamanya, sama dengan pernyataan: Inna Allâha kâna Ghafûran Rahîmâ. (Allah itu adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang).Sebab, permusuhan mereka bersifat langgeng.
6. Imam Ath-Thabari[6] memaknai kalimat Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata dengan arti, “Mereka menentang keesaan Allah; mereka adalah musuh kalian yang nyata. Dia menyebut ‘musuh’ sebab mereka membuat permusuhan atas kalian dengan peperangan terhadap keimanan kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan membiarkan kalian menyembah apa yang mereka sembah berupa berhala; hal ini karena kalian menentang kesesatan mereka.”
7. Dalam Ma’âni al-Qurân[7] disebutkan ‘aduw (musuh) di sini bermakna a‘dâ’ (musuh-musuh). Dibaca ‘udwan (seperti dalam ayat ini) apabila melampaui batas-batas kezaliman.
8. Tafsîr Abi Su‘ûd[8] menyatakan, bahwa kalimat Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu merupakan ‘illat (alasan) kebolehan shalat qashar. Sesungguhnya kesempurnaan permusuhan mereka atas kaum Mukmin mengharuskannya menentang mereka dengan seburuk-buruknya. Hal yang sama disebutkan dalam Rûh al-Ma‘âni, juz 5, hlm. 134.
9. Tafsîr Baghawi[9] menyebutkan permusuhan yang nyata adalah zhâhara al-‘adawah (memunculkan/menampakkan permusuhan).
10. Dalam Fath al-Qadîr[10] disebutkan bahwa musuh yang nyata maknanya adalah penentang (muta‘arridh).
11. Tafsîr an-Nasafi[11]menyatakan, “Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata,” maka jagalah diri kalian dari mereka itu.
[1] Shihabudin Ahmad bin Muhammad al Ha’im al-Mishri. At-Tibyân fî Tafsîr Gharîb al-Qu’rân. 1992. Dar ash-Shahabah li at-Turats, Kairo, hlm. 197.
[2] Al-‘Alamah Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli dan asy-Syaikh al-Mutabahhir Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar as-Suyuthi. Tafsîr Jalâlayn, t.t. Dar al-Hadits, Kairo, I/ 46.
[3] Imam al-Baydhawi. Tafsîr al-Baydhawi. 1416H/1996M. Dar al-Fikr, Beirut, 2/245.
[4] Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah al-Qurthubi Abu Abdillah. Tafsîr al-Qurthubi. 1372 H. Dar asy-Sya’bi, Kairo, 5/362.
[5] Muhammad bin Bihadir bin Abdillah az-Zarkasyi Abu Abdillah. Al-Burhân fi ‘Ulûm al-Qur’ân. 1391 H. Dar al-Ma‘rifah, Beirut, 4/126-127.
[6] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid ath-Thabari Abu Ja’far. Tafsîr ath-Thabari. 1405 H. Dar al-Fikr,Beirut, 5/ 243.
[7] Ma’âni Al Qur’ân. 1409 H. Jami’ah Ummul Quro, 2/179 dan 471. Ditahqiq oleh Muhammad Ali Ash Shabûni.
[8] Muhammad bin Muhammad al-‘Imadi Abu Su’ud. Irsyâd al-‘Aqli as-Salîm ilâ Mazâya al-Qur’ân al-Karîm. t.t. Dar Ihya’ Turats ‘Arabi, Beirut, 2/261.
[9] Husain bin Mas’ud al-Farra al-Baghawi Abu Muhammad. Ma‘âlim at-Tanzîl. 1407 H. Dar al-Ma’rifah, 1/471. Ed. 2.
[10] Muhammad bin Ali bin Muhammad asy-Syaukani. Fath al-Qâdir al-Jam’u bayna al-Fann ar-Riwâyah wa ad-Dirâyah min ‘Ilmi at-Tafsîr. t.t. Dar al-Fikr, 1/507.
[11] Tafsîr an-Nasafi. t.t. t.p., 1/244.
…….مَنْ كَانَ عَدُوًّا ِللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ
وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ……..
وَاللهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ وَكَفَى بِاللهِ وَلِيًّا وَكَفَى بِاللهِ نَصِيرًا
baik, sekarang jelas, musuh umat islam adalah orang-orang kafir berdasarkan Al-Qur’an… lalu bagaimana kita bersikap terhadap mereka? tentu yang lebih paham isi Al-Qur’an, adalah Rasulullah SAW… bagaimana rasulullah memperlakukan mereka? berikut PEMBENARAN yang kami dapatkan dari hadits….
Diriwayatkan dari Ibn Umar r.a.: Rasulullah SAW pernah bersabda,”aku diperintahkan Allah SWT untuk MEMERANGI orang-orang (kafir) sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah, lalu mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, demikianlah apabila mereka menjalankan semua perintah tersebut, maka jiwa dan harta benda mereka akan dilindungi, kecuali untuk kepentingan hukum Islam maka Allah lah yang akan memberikan perhitungannya”.
apakah antum ragu bahwa orang kafir harus diperangi? oke.. kali ini, sudah kita dapatkan 2 hal, yakni Orang kafir adalah MUSUH! dan terhadap MUSUH, kita diperintahkan oleh Allah untuk memeranginya! agar lebih tsiqoh, selanjutnya ana akan mengambil dari ijma’ para sahabat, bagaimana cara memerangi orang-orang kafir? apakah dengan teguran? bermaaf-maafan? cuek? sabar? atau apa? ingatlah perkataan Abu Bakar RA
“…..Saudara-saudara sekalian, saya sudah terpilih untuk memimpin kamu semua, dan saya bukanlah orang yang terbaik diantara kamu sekalian. Kalau saya berlaku baik bantulah saya, kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah. Kebenaran adalah suatu amanah, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah diantara kamu adalah kuat dipandangan saya, sesudah haknya saya berikan kepadanya, Insya Allah. Orang yang kuat diantara kamu adalah lemah dipandangan saya , sehingga saya terpaksa menarik kembali hak daripadanya, Insya Allah ! Janganlah ada seseorang dari anda sekalian yang mau meninggalkan jihad. Apabila sesuatu kaum telah meninggalkan jihad (perjuangan dijalan Allah), maka Allah akan menimpakan kehinaan kepadanya.
Apabila kejahatan sudah meluas pada sesuatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka.
Ikutlah saya selama saya taat kepada perintah Allah dan RasulNya. Tetapi apabila saya melanggar (perintah) Allah dan RasulNya maka tidak wajib anda sekalian mentaati saya. Marilah kita solat, semoga Allah memberi Rahmat kepada anda sekalian.” Sehingga Abu Bakar bertekad untuk memerangi kaum yang murtad dan kafir sekalipun di antara mereka ada yang tidak kafir tetapi menolak membayar zakat. Abu Bakar lalu mengemukakan alasan perbuatannya itu, tetapi ‘Umar berkata kepadanya: “Bagaimana engkau akan memerangi manusia sedangkan mereka mengucapakan laa ilaaha illallaah dan Rasulullah bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah … dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah Ta’ala”. Abu Bakar lalu menjawab: “Sesungguhnya zakat itu adalah kewajiban yang bersifat kebendaan”. Lalu katanya: “Demi Allah, kalau mereka merintangiku untuk mengambil seutas tali unta yang mereka dahulu serahkan sebagai zakat kepada Rasulullah niscaya aku perangi mereka karena penolakannya itu”. Maka kemudian Umar mengikuti jejak Abu Bakar untuk memerangi kaum tersebut.
begitulah para sahabat bersikap kepada orang-orang yang kafir… yakni MEMERANGI MANUSIA SAMPAI MENGUCAPKAN SYAHADAT ATAU MEMBAYAR JIZYAH! lalu… adakah yang berani mengatakan bahwa para sahabat adalah teroris dan radikal?? adakah yang berani mengatakan bahwa orang-orang yang mengikuti jejak para sahabat adalah teroris dan radikal? atau masih kurang jelas? baik… ana akan nukilkan dari perkataan Ibnu Taimiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan:
“Apabila hukum asal dari peperangan yang disyariatkan itu adalah jihad dan tujuannya adalah menjadikan agama ini seluruhnya untuk Allah Azza wa Jalla dan meninggikan kalimat Allah Azza wa Jalla sehingga menjadi yang tertinggi, maka orang yang menghalang-halangi harus diperangi. Sementara orang yang tidak memiliki kekuatan untuk menghalangi atau berperang, seperti wanita, anak-anak, pendeta (rahib), orang jompo, buta dan lumpuh serta sejenisnya, mereka ini tidak boleh dibunuh menurut jumhur Ulama, kecuali jika mereka ikut andil dalam peperangan, baik dengan perkataan atau perbuatannya. Walaupun sebagian Ulama ada yang memandang boleh membunuh secara keseluruhan disebabkan kekufuran mereka semata kecuali wanita dan anak-anak karena mereka adalah harta (ghanimah) bagi kaum Muslimin. (Tapi) pendapat yang benar adalah pendapat pertama.[as-Siyâsah asy-Syar’iyyah Fî Islâhi ar-Râ’i wa ar-Râ’iyah, Ibnu Taimiyah hlm. 165-166]
sekarang jelas… tak hanya dari terjemahan,..berdasarkan AlQur’an, Hadits, Ijma’, dan Itjihad ulama salaf… orang-orang kafir adalah musuh umat islam, dan harus diperangi hingga mereka mengucapkan syahadat atau membayar jizyah…
kita boleh berbeda pendapat mengenai status KAFIRNYA polisi yang dieksekusi oleh M.Syarif, namun ana yakin tidak ada diantara kita yang ingin menghapus kententuan mengenai keharusan untuk membunuh orang kafir yang menghalang-halangi umat islam, baik dengan ucapan maupun perbuatan, baik yang mengaku islam, maupun tidak.
lalu timbul pertanyaan apakah negara ini memerangi umat muslim dengan menghalang-halangi utk bergabung di front jihad, melaksanakan hudud, dan menangkap para ulama? apakah negara indonesia bukan bagian dari negara islam yang lain, yang sedang dijajah oleh negeri sahabat indonesia, yakni amerika dan sekutunya? apakah orang islam di indonesia boleh duduk-duduk dan teriak-teriak saja, sementara sudah puluhan tahun darah kaum muslimin yang lebih SUCI dari kafir tertumpah membasahi bumi?
kenapa antum tidak juga berteriak, PANCASILA mengajarkan radikalisme!? radikal karena berani menantang Allah! Allahu Akbar!!
3. Irfan S. Awwas berkata …. Tidak diragukan lagi, mayoritas umat Islam bangsa Indonesia memahami Al-Qur’an melalui terjemahan.
——————–
antum secara tidak langsung ingin menjudge bahwa kemunculan para “teroris” di indonesia itu karena terjemahan depag yang salah… lalu.. bagaimana dengan “teroris-teroris” di luar negeri sana? yang melakukan hal yang sama! apa karena mereka membaca Al-Qur’an versi depag juga?? apa karena mereka bodoh dan hanya antum yang paling faham lughah (padahal mereka sehari-hari berbahasa arab)?
bukan akhi… tapi mereka MENGAMAL kan Al-Qur’an, bukan MEMBACA Al-Qur’an! dimana mereka sadar, bahwa jika mereka mengamalkan islam secara kaffah, maka musuh dari golongan jin dan manusia pasti tidak akan senang terhadap mereka, akan menghalang-halangi mereka. maka sudah sepantasnya mereka memerangi musuh-musuh tersebut…. dan penyerangan-penyerangan oleh umat muslim tersebut disebut sebagai “terorisme” oleh kaum kafir… maka janganlah antum TERMAKAN definisi terorisme yang dilontarkan oleh kaum kafir!
Ya Rab! demi Allah, mereka (“teroris” di luar negeri) tahu! umat muslim tidak pernah diperintahkan untuk taat terhadap orang-orang kafir… untuk tunduk dibawah hukum selain hukum islam… untuk diam ketika istri2 mereka diperkosa! untuk tidak menggunakan “ideologi marah” ketika anak-anak mereka diberondong peluru!? tidak pernah!!! umat muslim wajib membela kehormatannya! mata dibalas mata, tangan dibalas tangan, nyawa dibalas nyawa! QISHAS!! itu perintah Allah, agama orang islam!! … nyawa dibalas 6 tahun penjara!? itu agama orang-orang kafir!!
4. Irfan S. Awwas berkata… Alih-alih meluruskan pemahaman kaum Muslimin Indonesia, justru terjemah Qur’an ini mengandung kesalahan yang dapat menimbulkan salah faham terhadap kitab suci umat Islam; seolah-olah Al-Qur’an melegalkan terorisme dan menebarkan kebencian pada pihak lain.
————————————–
siapa pihak lain itu???? KOK TIDAK BERANI DISEBUTKAN??? siapa?? orang-orang kafir?
“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR.At Tirmidzi)
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan)
sejak kapan umat islam harus mencintai SELURUH MANUSIA tanpa terkecuali? lalu dimana konsep Al-Wala’ Wal Bara’, antum lemparkan ke tong sampah begitu saja?
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas:
“Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi walaa karena Allah dan memusuhi karena Allah. Maka sesungguhnya kewalian dapat diperoleh dengan itu. Dan seorang hamba tidak akan merasakan lezatnya iman sekalipun banyak shalat dan berpuasa sampai ia melakukan hal tersebut. Dan telah menjadi umum bahwa persaudaraan manusia berdasarkan kepentinga duniawi yang demikian itu tidak bermanfaat sedikitpun bagi para pelakunya” (HR.Thabrani dalam al-Kabir)
bagaimana mungkin islam menyamaratakan antara islam dan kafir, dan memintanya untuk saling mencintai? saling bertoleransi ditengah todongan peluru orang-orang kafir??
5. Irfan S. Awwas berkata…. Secara prinsipil, terdapat ratusan terjemah ayat Qur’an, berkaitan dengan aqidah, ekonomi, hubungan sosial antar pemeluk agama, dan jihad, yang berpotensi memicu radikalisasi teroris…..
————————————
bukan hanya terjemahan Al-Qur’an, namun berdasarkan hadits, dan itjihad para ulama, musuh-musuh islam yang menghina ayat-ayat AlQur’an, menafikkannya, dan mencela nya, maka harus di perangi…
Perbuatan istihza alias menghina Sya’iat islam ini bukan masalah sepele, ini adalah permasalahan besar yang akan menentukan apakah kita akan menjadi penghuni surga atau kah penghuni neraka yang kekal selama-lamanya. Sebab Para ulama telah sepakat bahwa pelaku istihza’ fiddien alias para penghinya syari’at islam adalah kafir dan keluar dari agama islam serta hukumannya adalah dibunuh tanpa harus dimintai bertaubat. Diantara perkataan para ulama tersebut adalah:
Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab Sharimu al-maslul halaman 315 berkata: ”setiap orang yang menghina nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam dan mengejek beliau baik muslim ataupun kafir maka dia wajib dibunuh dan saya berpendapat dia dibunuh tanpa harus diminta untuk bertaubat”
Kemudian Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam kitab Al-mughni jilid 12 halaman 297 berkata :”Barang siapa yang menghina Allah ta’ala maka dia telah kafir baik dalam keadaan bercanda ataupun bersungguh-sungguh, begitu pula menghina Allah, atau dengan ayat-ayat-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kitab-kitab-Nya”.
Adapun diantara dalil yang paling jelas adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala di Qs At-Taubah ayat 65 sampai 66. Ayat yang mulia ini diturunkan berkenaan dengan perkataan orang-orang munafik yang mencela Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabatnya pada perang Tabuk dengan perkataannya yang kufur , mereka berkata: “Kami tidak melihat seperti mereka-mereka para qari yang rakus dan pendusta-pendusta . dan yang paling penakut ketika bertemu dengan musuh maksudnya adalah nabi dan sahabat-sahabatnya , .” Perkataan hinaan itu mereka tujukan kepada Nabi dan para shahabatnya . Kemudian sahabat Nabi yang bernama Auf bin Malik mengetahui kejadian tersebut , lalu dia mengkhabarkan hal itu kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam , dan tiba-tiba mereka orang-orang munafiq tadi datang kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta maaf dan mohon untuk diberi uzur sambil mengatakan: “Kami hanya bercanda dan bersenda gurau dan tidak ada maksud kami untuk mencela dan berolok-olok .” Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyangkal perkataan mereka dan tidak menerima uzur mereka atas dusta mereka tersebut dengan firman-Nya: “Katakanlah apakah dengan Allah , ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok dan tidak ada ma’af bagimu sungguh kamu telah kafir sesudah beriman .” Kisah ini bisa di lihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar , Muhammad bin Ka’ab dan selainnya .
ketika menjelaskan ayat ini , syaikh Abdul ‘Aziz ‘ali Abdul Latif dalam bukunya yang berjudul Nawaqidul Iman Al-Qouliyah wal Amaliyah mengutip perkataan syaikhul islam Ibnu Taimiyah yang mengatakan: “Ayat ini adalah salah satu nash yang menunjukan bahwa istihza atau menghina Allah , ayat-ayatNya , serta RasulNya adalah bentuk kekufuran . Dan penghinaan yang ditujukan kepada rasul lebih layak lagi untuk menyandang kekufuran . Dan ayat inipun menunjukan bahwa penghinaan apapun terhadap Rasulullah adalah kufur , baik sengaja maupun bercanda .” Dan kekufuran orang yang melakukan penghinaan inipun menunjukan halal darahnya untuk ditumpahkan , sebagaimana Imam abu Daud dalam Kitab hudud dan Imam Nasa’I dalam kitab Tahriimud Dam mencantumkan atsar riwayat Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ada seorang buta yang membunuh seorang wanita dikarenakan wanita ini terus menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan ketika kasus pembunuhan ini disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Saksikanlah Bahwa darah Wanita ini Halal untuk ditumpahkan” .
lalu apakah antum setuju bahwa mereka yang memerangi ulil disebut RADIKAL DAN TERORIS? jika ya, maka antum harus menerima konsekuensi, islam adalah agama teroris! jika teroris beragama islam, dan antum tidak setuju dengan teroris, maka antum agamanya apa?
6. Irfan S. Awwas berkata…..Kalimat “bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka” dapat dipahami bahwa membunuh musuh di luar medan perang dibolehkan. Jika pemahaman ini diterjemahkan dalam bentuk tindakan, maka sangat berbahaya bagi ketenteraman dan keselamatan kehidupan masyarakat, karena pembunuhan terhadap musuh di luar medan perang sudah pasti menciptakan anarkhisme dan teror. Dan ini bertentangan dengan syari’at Islam………….Jadi, bukan perintah membunuh, tetapi memerangi. Membunuh dapat dilakukan oleh perorangan tanpa perlu ada komando dan pengumuman kepada musuh. Sedangkan perang wajib terlebih dahulu diumumkan kepada musuh dan dilakukan di bawah komando khalifah atau kepala negara.
———————————-
menurut antum, medan perang itu apa? sebuah padang rumput seluas lapangan sepakbola???? kalau memang benar begitu, bagaimana dengan ightiyal?
فَاقْتُلُوا الْمُشْرِآِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ آُلَّ مَرْصَدٍ
Artinya: “…maka bunuhlah orang-orang musyrikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian…”
Al-Qurthubi berkata (bukan depag lho!!): “…dan intailah mereka di tempat pengintaian…”
maksudnya intailah mereka di saat mereka lengah di tempat mereka bisa diintai. Ini adalah dalil bolehnya ightiyal terhadap orang kafir sebelum mendakwahi mereka.” Sampai di sini perkataan Al-Qurthubi.
Saya katakan:
Perkataan Al-Qurthubi: “…sebelum mendakwahi mereka…” maksudnya bagi orang kafir yang sebelumnya dakwah Islam sudah sampai kepadanya.
Sedangkan ayat ini:
وَاقْعُدُوا لَهُمْ آُلَّ مَرْصَدٍ
“…dan intailah mereka di tempat pengintaian…” berisi dalil disyari’atkannya melakukan survei, pemantauan dan spionase terhadap musuh. Adapun sunnah, dalilnya adalah Rosululloh SAW memerintahkan untuk membunuh Ka’ab bin Al-Asyrof dan Abu Rafi’ bin Abil Huqoiq, keduanya orang Yahudi. Adapun Ka’ab, ia selalu memprovokasi kaum musyrikin untuk memusuhi kaum muslimin, ia suka mengejek Nabi SAW dengan syairnya, ia juga suka menggoda isteri kaum muslimin.Bukhori dan Muslim meriwayatkan kisah pembunuhannya, Bukhori meriwayatkannya dari Jabir ra. Rosululloh SAW bersabda: “Siapakah yang mau membunuh Ka’ab bin Al-Asyrof? Sesungguhnya ia menyakiti Alloh dan Rosul-Nya.” Maka Muhammad bin Salamahpun berdiri dan berkata: “Wahai Rosululloh, apakah anda suka kalau aku membunuhnya?” beliau bersabda: “Ya.” Ia berkata: “Kalau begitu ijinkan aku mengucapkan beberapa kata (sesukaku).” Beliau menjawab: “Katakan saja.” Akhirnya Muhammad bin Salamah pun mendatangi Ka’ab (dan membunuhnya). Disebutkan, Muhammad bin Maslamah beserta teman-temannya menipu Ka’ab dengan berpura-pura bahwa mereka mengelabui Ka’ab sebelum akhirnya berhasi membunuhnya, ini terjadi di benteng Mani’.
Ibnu Hajar berkata: “Di dalam Mursal ‘Ikrimah disebutkan: Keesokan harinya, kaum Yahudi panik, lalu mereka datang menemui Nabi SAW dan mengatakan: “Pemuka kami dibunuh diam-diam”; maka Nabi SAW menceritakan ulah perbuatan Ka’ab yang suka mempengaruhi orang untuk memusuhi beliau dan selalu menyakiti kaum muslimin.” Sa’ad menambahkan: “Akhirnya orang-orang Yahudi takut dan tidak berkata sepatah katapun.”
— hingga Ibnu Hajar berkata — :
“Diantara kandungan hadits ini, boleh membunuh orang musyrik tanpa harus mendakwahinya terlebih dahulu jika dakwah Islam secara umum telah sampai kepadanya. Kandungan lain, boleh mengatakan sesuatu yang diperlukan dalam perang walaupun kata-kata itu tidak sesuai dengan sebenarnya.” Bukhori mengeluarkan hadits ini dalam Kitabul Jihad, bab: berdusta dalam perang dan bab membunuh orang kafir harbi.
Saya katakan:
Siapa yang mengatakan bahwa melakukan ightiyal terhadap orang kafir yang memerangi Alloh dan Rosul-Nya SAW sebagai pengkhianatan terhadap janji atau kata-kata senada, atau mengatakan bahwa Islam mengharamkannya, berarti ia sesat dan mendustakan Al-Qur’an dan Sunnah. An-Nawawi berkata: “Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: “Tidak boleh seorangpun mengatakan ightiyal adalah mengkhianati janji, dulu pernah ada seseorang mengatakannya di majelis ‘Ali bin Abi Tholib ra. maka diperintahkan agar
lehernya dipenggal.” Kisah ini ditunjukkan Al-Qurthubi dalam menafsirkan firman Alloh SWT:
فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ
Artinya: “…maka perangilah para pemimpin kekufuran…”
Ibnu Taimiyah juga menyebutkannya dalam kitab beliau Ash-Shoorimul Maslul ‘Ala Syatimir Rosul, beliau juga menyebutkan kisah yang terjadi antara Mu’awiyah dan Muhammad bin Maslamah Radhiyallohu ‘Anhuma. Adapun Ibnu Abil-Huqoiq, ia adalah orang Yahudi di Khaibar, pedagang di Hijaz, dialah yang dulu pergi ke Mekkah dan membujuk rayu kaum Quraisy untuk memerangi Nabi SAW sehingga terjadilah perang Ahzab. Dialah penyulut terjadinya perang Ahzab. Bukhori meriwayatkan dari Al-Barro’ bin ‘Azib ia berkata: “Rosululloh mengutus beberapa orang Anshor untuk membunuh Abu Rofi’ — nama lain Ibnu Abil Huqoiq — si Yahudi, beliau mengangkat ‘Abdulloh bin ‘Atiq sebagai pimpinan. Abu Rofi’ selalu menyakiti Rosululloh SAW dan melakukan konspirasi melawan beliau. Saat itu ia sedang berada di dalam bentengnya di daerah Hijaz.”
Bukhori juga meriwayatkan masih dari Barro’: “Rosululloh SAW mengutus satu kelompok kepada Abu Rofi’, maka Abdulloh bin ‘Atiq masuk ke kediamannya di malam hari ketika ia terlelap tidur lalu membunuhnya.” ‘Abdulloh bin ‘Atiq juga melakukan kamuflase sehingga ia berhasil membunuhnya. Ia melakukan kamuflase sehingga berhasil masuk ke dalam benteng kemudian ia tutup pintu orang-orang Yahudi dari luar, ia berjalan hingga sampai ke tempat Abu Rofi’, tidaklah ia memasuki sebuah pintu kecuali ia kunci dari dalam, ia juga merubah suaranya sehingga tidak dikenali.
Ibnu Hajar berkata: “Termasuk faedah hadits ini adalah boleh membunuh orang musyrik secara diam-diam, yang sudah didakwahi tapi tetap musyrik, atau orang yang melakukan konspirasi melawan Rosululloh SAW dengan tangan, harta, atau lisannya, boleh juga melakukan spionase terhadap orang-orang kafir harbi serta bersikap keras dalam memerangi orang musyrik, boleh juga menyamarkan perkataan untuk tujuan maslahat, dan diperbolehkan juga pasukan Islam yang sedikit menerobos orang musyrik yang banyak.” Mengenai masalah ightiyal terhadap aimmatul kufr, Syaikh ‘Abdurrohman Ad-Dausari Rahimahulloh ketika menyebutkan tingkatan-tingkatan Ubudiyah dalam tafsir firman Alloh SWT: “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in…” berkata:“Kemudian, menyiapkan kekuatan semampunya termasuk kewajiban agama dan konsekuensi bagi yang ingin menegakkannya. Seorang ahli ibadah yang benar tidak akan nyaman menunda-nunda perkara ini, apalagi meninggalkan atau meremehkannya.
Demikian juga, seorang hamba yang memiliki tekad kuat untuk berjihad dalam waktu yang sama pasti ingin menjadi pelaku ightiyal terhadap A’immatul Kufri (pemimpin-pemimpin kekufuran); para propagandis ajaran menyimpang dan amoral serta orang-orang yang mencela wahyu Alloh dan yang menggerakkan pena atau propagandanya untuk menentang agama yang lurus ini. Karena itu orang seperti ini telah menyakiti Alloh dan Rosul-Nya SAW.
Tidak dibenarkan bagi kaum muslimin di jengkal bumi manapun, baik orang yang paham agama atau yang awam, untuk membiarkan orang seperti ini tetap hidup, karena ia lebih berbahaya daripada Ibnul Huqoiq atau semisalnya yang oleh Rosululloh SAW diperintahkan untuk dibunuh diam-diam. Maka, tidak membunuh orang-orang yang menjadi pewaris mereka di zaman sekarang sama artinya meninggalkan wasiat Nabi SAW, berarti pula adalah: kekurangan yang fatal dalam ‘ubudiyah terhadap Alloh dan terlalu dalam berkompromi dengan perangkat yang bakal menghancurkan agama Alloh. Tidak ada yang dilegakan dadanya melihat hal ini selain orang yang tidak memiliki kecemburuan terhadap agama Alloh dan tidak marah karena mengharap wajah-Nya yang mulia. Itu juga kekurangan yang besar pada kecintaan serta pengagungan terhadap Alloh dan Rosul-Nya, tidak akan mungkin dilakukan oleh orang yang merealisasikan Ubudiyyah kepada Alloh dengan maknanya yang tepat dan sesuai syar’i.”
Demikian perkataan beliau.
maka fikirkanlah sekali lagi… seberapa luas medan perang yang antum pahami dengan medan perang yang ahlus sunnah pahami… dan ana tekankan sekali lagi.. yang nama perang, pasti MEMBUNUH ATAU TERBUNUH!
7. Irfan S. Awwas berkata…. Kata jihad secara umum berkonotasi ofensif, menyerang pihak lain. Padahal ayat ini turun pada fase Makkah, bersifat defensif, belum diperintahkan menyerang pihak lain yang memusuhi Islam. Karena itu, kata jihad dalam ayat ini harus dibatasi pengertiannya secara khusus, yaitu berjuang menegakkan agama Allah dan bersabar melawan hawa nafsu. Bila kata jihad pada ayat ini dipahami sebagai tindakan ofensif, menyalahi fakta sejarah Nabi saw. di Makkah, dan bisa menimbulkan sikap agresif kepada kalangan Nonmuslim dalam masyarakat.
——————————————-
akhi benar… tapi tahukan bahwa hukum jihad pada fase makkah telah dinasakh oleh hukum jihad pada fase madinah? dan saat ini hukum jihad adalah memerangi yang tidak memerangi? perlukah ana tuliskan lagi disini dalil-dalilnya (bukan dari Depag tentunya!)….
——-penutup————-
wahai umat muslim…jika mereka adalah musuhmu… maka perlakukanlah mereka sebagai musuh….. jika ada kesalahan dari kami, maka kami ini adalah manusia juga. jika masih terus mencari-cari kesalahan kami.. maka kenapa engkau tidak menyalahkan dirimu yang hanya duduk menonton dan enggan berjihad (perang! Qital!)…
afwan jika ada salah-salah kata… wallahu’alam..
“Rasulullah shalallhu alaihi wasallam ditanya, “Amal apkah yg pahalanya setara dgn pahala seorang mujahid?” Beliau bersabda, “Kalian tidak akan bisa mengerjakannya”…”Amal apakah itu?”..”Kalian tidak akan bisa mengerjakannya”… dan kemudian beliau bersabda, “Apakah kalian mampu mengerjakan, yaitu kalian masuk masjid dan kalian sholat tanpa henti, atau berpuasa tanpa berbuka?” Orang-orang itu berkata, “Siapakah orang yang mampu mengerjakan hal itu?” Beliau bersabda, “Itulah pahala seorang mujahid, permisalan mujahid yg berjihad di jalan Allah adalah serupa dengan orang yang terus berpuasa tanpa berbuka dan serupa dengan orang yang terus mengerjakan shalat dan qiyamullail dan puasa hingga sang mujahid kembali pulang” (HR.Al-Bukhari: Kitabul Imarah:3490)
ditulis oleh : Asyraf Mishri
Bantahan terhadap Pemahaman MMI (Irfan S. Awwas) Bagian ke 2
Judul : ?
Dari Miqdam bin Ma’dikariba r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda,
“Hampir tiba suatu masa di mana seorang lelaki yang sedang duduk bersandar di atas katilnya, lalu disampaikan orang kepadanya sebuah hadits daripada haditsku maka ia berkata : “Pegangan kami dan kamu hanyalah kitabullah (al-Quran) sahaja. Apa yang dihalalkan oleh al-Quran kami halalkan. Dan apa yang ia haramkan kami haramkan”. Kemudian Nabi s.a.w. melanjutkan sabdanya: “Padahal apa yang diharamkan oleh Rasulullah s.a.w. samalah hukumnya dengan apa yang diharamkan oleh Allah s.w.t.”;- (Riwayat Abu Daud)
Saya yakin inilah masanya, ketika banyak orang-orang yang hanya mau beriman kepada Al-Qur’an saja, namun ketika dibacakan hadits, ia mengingkarinya… padahal Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam.
sungguh, jihad yang kami lakukan ini bukanlah berasal dari Al-Qur’an saja, namun juga dari sumber hukum-hukum islam yang lain, seperti hadits, ijma, dan qiyas… Rasulullah mencontohkan bagaimana cara berjihad, Rasulullah menjelaskan apa itu jihad, lalu kami yakini dan kami ikuti… tapi kenapa sungguh rendah kalian memandang kami, memfitnah kami dengan ucapan-ucapan hina di hadapan kaum muslimin. Radikal! Teroris! Pengecut! Kafir! Bodoh! Tak faham agama! Terburu-Buru! dan masih banyak lagi fitnah yang kalian sematkan kepada kami.. Apakah maksud kalian dengan berbuat seperti itu? apakah kalian ingin jihad itu terhenti? apakah kalian ingin umat ini tetap pada kekufuran? apakah kalian ingin pancasila sebagai pengganti Al-Qur’an???
kasihan saudara-saudara, teman-teman, dan ikhwah-ikhwah kita, atau diri kita sendiri yang terlihat bingung atas perbuatan kalian… Wahai saudaraku, para ulama-ulama, para pemimpin ormas dan partai islam, anak dan istri tercinta, saya akan menjelaskan kepada kalian semua, mengenai perbedaan yang terang antara kami (teroris) dan mereka (pemerintah indonesia), renungkanlah dengan fikiran yang bersih dan jernih, buang-buang jauh dahulu shudzhon dan emosi, dengarkanlah kami….. inilah hadits-hadits akhir zaman, akan kubacakan kepada kalian, maka setelah ini kalian akan tahu, siapakah yang benar? siapakah yang telah dicuci otaknya? siapakah yang teroris? siapakah yang radikal? siapa yang Haq, dan siapa yang Batil? lalu dimana posisimu?
A. Dasar Keimanan
Kami dan pemerintah indonesia, sama-sama mengaku muslim, mengaku sebagai orang islam. Namun pengakuan tidaklah cukup, karena iman itu diyakini dalam hati, diucapkan di mulut, dan diamalkan dengan perbuatan. Coba kita tengok Ahmadiyah, mereka juga mengaku islam, mereka sholat untuk Allah, mereka puasa untuk Allah, lalu kenapa kita mengkafirkan mereka? itu karena mereka tidak selaras antara ucapan dan perbuatan, mereka mengucapkan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi terakhir mereka, sedangkan syariat-syariat dan ibadah diteladani dari Muhammad Rasulullah.
Begitu juga kami dalam memandang para polisi dan pemerintah Indonesia ini, tidak selaras antara ucapan dan perbuatan mereka… mereka mengaku muslim, namun mereka melakukan perbuatan yang sangat dilarang dan dapat membuat orang tersebut murtad dari islam, yakni menolak berhukum dengan Al-Qur’an dan memilih Pancasila sebagai pedoman hidup…. mereka mengaku muslim, namun mereka berdiri di barisan kaum kafir… mereka mengaku muslim, namun mereka menolak Al-Qur’an sebagai pedoman hidup mereka… maka dimanakah bukti keislaman mereka, sedangkan perbuatan mereka adalah perbuatan orang-orang kafir? apakah kalian meremehkan jika hukum-hukum islam ditiadakan di kehidupan ini?
Dari Umamah Al-Bahili dari Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sungguh akan terlepas pegangan Islam satu demi satu. Setiap terlepas salah satu pegangan, maka orang-orang akan berebutan untuk bergantung kepada yang lain. Adapun yang pertama kali terlepas itu adalah persoalan hukum, sedangkan yang terakhir adalah perkara sholat.”;- (Riwayat Ahmad).
tidak ada hujjah lagi setelah ini, karena hujjah telah ditegakkan diatas kalian! Habis sudah suara di tenggorokan kami, menasehati mereka agar kembali kepada Al-Qur’an, kembali memurnikan tauhid, berapa banyak surat yang kami kirim kepada istana negara, berapa banyak teriakan-teriakan dan tulisan untuk mereka, namun kami malah dianggap ingin menghancurkan negara dan memecah belah umat islam… kami meneriakkan agar mentaati Al-Qur’an namun pemerintah ini malah memburu dan membunuh kami! Fitnah apalagi ini????!!
Dari Mu’az bin Jabal berkata Rasulullah s.a.w. bersabda:
“ Ambillah pemberian, selama itu berbentuk sebuah pemberian. Sedangkan jika telah menjadi bentuk suap, maka dalam agama, janganlah kamu mengambilnya. Tidaklah keengganan kamu meninggalkannya lalu mencegah kamu dari kemiskinan dan keperluan hidup. Ingat, lingkaran Islam selalu berputar, maka berputarlah bersama Al-Quran ke mana pun ia mengarah. Ingat, Al-Quran dengan penguasa akan berbeda arah. Maka dari itu, janganlah kamu memisahkan diri dari Al-Quran. Ingat, kelak akan berkuasa atas kamu pemimpin-pemimpin yang akan memutuskan untuk diri mereka sesuatu yang tidak diputuskan untuk kamu. Jika kamu membangkang kepada mereka, maka sudah tentu mereka akan membunuh kamu. Akan tetapi, apabila kamu mematuhinya, maka mereka pasti akan menyesatkan kamu. Para sahabat bertanya: “Apa yang harus kami lakukan pada waktu seperti itu wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Lakukanlah seperti yang dilakukan oleh para pengikut Isa bin Maryam, di mana mereka menyebar dengan membawa gergaji, lalu memikul kayu. Karena, mati dalam ketaatan kepada Allah jauh lebih baik daripada hidup dalam keadaan bermaksiat kepadaNya”;- (Riwayat Muslim , Tardmizi ,Tabrani).
maka siapakah yang keimanannya berada di atas al-haq? kami (teroris) atau mereka (pemerintah indonesia)? lalu apakah kalian akan mentaati pemerintah ini, ataukah bergabung bersama kami?
B. Sudah seharusnya kami marah!
kalian mengatakan kami ini mengusung ideologi kemarahan, niat sudah tidak ikhlas, dari untuk menegakkan agama Allah menjadi aksi balas dendam.. maka coba jelaskan bagaimana Rasulullah dan Sahabat membunuh kafir di dalam peperangan tanpa rasa geram terhadap mereka? bagaimana mungkin orang berperang, tapi sambil tersenyum terhadap musuh? bagaimana mungkin kita menebas leher-leher musuh tapi sambil mencium kaki-kaki mereka! bagaimana mungkin?
kalian juga mengatakan bahwa tindakan kami ini pengecut! kalian mengatakan perang itu harus diumumkan terlebih dahulu sehingga musuh bisa bersiap siaga dahulu, lalu baru sama-sama berangkat ke medan yang telah disepakati, begitukah tindakan yang pemberani dimata kalian? atau tindakan BODOH dimata kami?
Inilah kisah Bani Qainuqa’, ambillah sebagai pelajaran jika kita memang orang-orang yang bertaqwa…
—————–
Quote:
Penyebab perang Bani Qainuqa’ adalah bahwa seorang wanita Arab datang dengan membawa barang untuk dijual di pasar Bani Qainuqa’, kemudian duduk bersebelahan dengan tukang (sepuh) emas dan perak. Orang-orang Yahudi meminta wanita Arab itu untuk membuka wajahnya, namun wanita itu menolak tuntutan mereka. Lalu tukang emas dan perak itu pun mengendap-endap mengambil ujung pakaian wanita Arab itu, dan mengikatkannya ke punggung wanita tersebut. Tatkala wanita Arab itu berdiri tersingkaplah auratnya sehingga orang-orang Yahudi itu tertawa terpingkal-pingkal. Mendapat perlakuan seperti itu wanita Arab tadi berteriak keras-keras. Salah seorang kaum Muslim melompat ke arah tukang emas dan perak Yahudi tadi, dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi lainnya tidak berdiam diri. Mereka menarik orang Muslim itu dan membunuhnya. Akibat kejadian tersebut keluarga Muslim yang terbunuh berteriak memanggil-manggil kaum Muslim seraya menyebut-nyebut perlakuan orang-orang Yahudi. Kemarahan pun mendera kaum Muslim, sehingga terjadi perang antar mereka melawan orang-orang Yahudi.
Rasulullah saw segera memerintahkan untuk mengepung orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’, sampai akhirnya mereka mau menerima keputusan beliau.
Tatkala Bani Qainuqa’ memerangi Rasulullah saw, mereka menyerahkan urusannya kepada Abdullah bin Ubay bin Salul, karena dialah pemimpin mereka. Abdullah bin Ubay bin Salul menghadap Rasulullah saw, seraya berkata: ‘Hai Muhammad, berbuat baiklah kepada para pengikutku –mereka adalah sekutu al-Khazraj-‘. Rasulullah saw diam tidak memberikan komentar, hingga Abdullah bin Ubay bin Salul berkata untuk kedua kalinya: ‘Hai Muhammad, berbuat baiklah kepada para pengikutku’. Rasulullah saw memalingkan wajahnya dari hadapan Abdullah bin Ubay bin Salul. Kemudian Abdullah bin Ubay bin Salul memasukkan tangannya ke bagian baju besi Rasulullah saw, menunjukkan bahwa ia setengah memaksa Rasulullah saw.
Lalu Rasulullah saw berkata kepada Abdullah bin Ubay bin Salul, ‘Kirimkan mereka kepadaku! Rasulullah marah hingga wajah beliau menghitam karena ucapan dan tindakan Abdullah bin Ubay bin Salul. Rasulullah saw berkata lagi: ‘Celaka engkau, kirimkan mereka kepadaku!. Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: ‘Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengirimkan mereka kepadamu hingga engkau berbuat baik kepada para pengikutku, yaitu 400 pasukan tanpa baju besi dan 300 pasukan berbaju besi yang telah melindungiku dari orang-orang berkulit merah maupun hitam, akan tetapi engkau binasakan mereka dalam satu hari. Demi Allah, sungguh aku benar-benar mengkhawatirkan bencana itu’. Rasulullah saw lalu berkata: ‘Mereka kuserahkan kepadamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini’. Dengan demikian seluruh komunitas Yahudi Bani Qainuqa diusir dari kota Madinah.
—————
Peperangan ini adalah contoh, bahwa perang tidak WAJIB diumumkan terlebih dahulu.. dimana musuh menginjak-injak kehormatan kaum muslimin, disitulah medan perang… baik dia bersembunyi atau lari di mesjid mapolres, di balik kishwah ka’bah, atau dirumah kalian sendiri…. sungguh kuat rasa toleransi umat muslim pada peperangan ini…. mereka melakukan perang secara “spontan”.. tidak menunggu aba-aba dan izin dari ulil amri terlebih dahulu, karena mereka tahu bahwa jika dengan meminta izin terlebih dahulu maka banyak nyawa yang bisa hilang, maka itu adalah hal yang sia-sia… kaum yahudi menyingkap aurat seorang muslimah… maka kaum muslimin, membunuh langsung yahudi tersebut di tempat tanpa harus banyak komentar dan izin ke penguasa… maka kaum yahudi pun membalas membunuhnya… dan kaum muslimin pun membalas menyerang kembali…. maka apakah kaum muslimin ini bisa dikatakan PERANG KARENA RASA DENDAM DAN AMARAH, bukan karena ingin menegakkan kalimat Allah, sehingga apa yang dilakukannya salah?? apakah ada yang berani mengatakan demikian???
lalu “ideologi kemarahan” apa yang dimaksud oleh kalian ini? apakah MARAH itu tidak boleh? bukankah kita faham dan mengerti, bahwa ada “marah karena Allah”, bukankah rasulullah marah jika hukum-hukum Allah dilanggar? Apakah kalian tidak marah melihat hukum Allah dicemooh, dilecehkan, dihina siang malam di negeri ini? lihatlah! sudah berapa banyak muslim yang disembelih oleh kristen di negeri ini, sudah berapa banyak mesjid yang dirobohkan di negeri ini… maka apakah kamu tidak marah? atau malah senang???
justru sebaliknya! kita harus marah demi mempertahankan agama, ghirah alad-Dhin (cemburu atas agama), marah karena Allah (agama), untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Marahlah kalian!!! karena saat ini, mereka tidak hanya menyingkap aurat kaum muslimah kita, namun juga mengotori rahim-rahim muslimah dengan sperma najis mereka… maka tak perlu lah… tak perlu lah kita ragu! tak perlu lah izin dari ulil amri yang tidak mau berjihad! sungguh izzah umat ini akan tegak dengan pengorbanan antum-antum semua… dengan tetesan darah… dengan air mata para janda… umat muslim akan selalu berperang dan berjihad hingga akhir zaman, karena iblis akan tetap hidup hingga akhir zaman…. jangan hentikan jihad hanya karena ucapan orang-orang yang tidak mengerti… jangan hentikan jihad dan menukarnya dengan jabatan, harta, dan kesenangan dunia… sungguh, jihad itu adalah jual beli yang sangat menguntungkan!
Dari Salamah bin Nufail Al Kindi ia berkata,’ Saya duduk di sisi Nabi, maka seorang laki-laki berkata,” Ya Rasulullah, manusia telah meninggalkan kuda perang dan menaruh senjata. Mereka mengatakan,” Tidak ada jihad lagi, perang telah selesai.” Maka Rasulullah menghadapkan wajahnya dan besabda,” Mereka berdusta !!! Sekarang, sekarang, perang telah tiba. Akan senantiasa ada dari umatku, umat yang berperang di atas kebenaran. Allah menyesatkan hati-hati sebagian manusia dan memberi rizki umat tersebut dari hamba-hambanya yang tersesat (ghanimah). Begitulah sampai tegaknya kiyamat, dan sampai datangya janji Allah. Kebaikan senantiasa tertambat dalam ubun-ubun kuda perang sampai hari kiamat.”
C. Mereka jelas thagut yang harus diperangi!
Ka’ab bin Ujrah r.a. berkata Rasulullah s.a.w bersabda:
“Akan datang di kemudian hari nanti, setelah aku tiada; beberapa pemimpin yang berdusta dan berbuat aniaya. Maka barang siapa yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu (mendukung) tindakan mereka yang aniaya itu, maka ia bukan termasuk umatku, dan bukanlah aku daripadanya. Dan ia tidak akan dapat sampai datang ke telaga (yang ada di syurga);- (Riwayat Tirmidzi, Nasae’i dan Hakim).
para pemimpin pemerintah ini berdusta! mereka bukan bagian dari kaum muslimin, mereka bersekutu dengan israel dan amerika, saling bekerjasama ekonomi dan pertahanan. Saling bertukar informasi untuk memukul kaum muslimin yang menentang mereka! mereka menghina Allah dengan hukum-hukum buatan mereka.
Demi Allah mereka telah menzhalimi orang-orang yang mau berjihad melawan amerika dan israel, mereka telah turut berdusta dengan mengatakan bahwa para mujahidin adalah ajaran sesat dan bukan bagian dari islam.
Padahal telah jelas antara yang haq dan yang batil, telah jelas bahwa mereka menembaki umat muslim dari belakang! maka masihkan kalian mendukung mereka? jika tidak, maka dengan apa kalian melawannya? dengan jihad buatanmu sendiri? jihad ekonomi? jihad politik?
Dari Abu Hurairah r.a. berkata,Rasulullah s.a.w. bersabda, :
“Akan keluar dajjal dan khazzab di kalangan umatku. Mereka akan berkata sesuatu yang baru di mana kamu dan bapa-bapa kamu belum pernah mendengarnya. Awasilah mereka dan jagalah diri kamu daripada disesatkan oleh mereka.”;- (Riwayat Ahmad)
ya akhi! Rasulullah tidak mengajarkan demikian! Rasulullah berperang! Rasulullah berperang! Rasulullah berperang!!!!! perbuatan rasulullah tersebut (perang) adalah sebuah hadits yang mau tidak mau harus kita ikuti agar Allah ridha terhadap kita!! lalu salahkah jika kami berjihad? ya! salah karena jihad perang tidak ada di marhalah kalian, namun ada di sumber hukum islam yang lain! lalu sejak kapan marhalah-marhalah pergerakan kalian lebih tinggi hukumnya dibanding AlQur’an dan Hadits, sehingga menyalahkan perbuatan kami? apakah kalian sedang membuat syariat-syariat baru?
“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Setelah itu, akan datang kembali Khilafah ala Minhajin Nubuwah (berdasarkan metode kenabian).” Kemudian Baginda saw. diam. (HR Ahmad).
jelas bahwa pemerintah saat ini BUKANLAH pemerintahan yang berdasarkan metode kenabian yang PASTI Allah akhiri, lalu kenapa kalian membangga-banggakannya dan membela-belanya?
kalian menginginkan kedamaian dengan orang-orang kafir, kalian membayangkan akan hidup berdampingan dengan mesra dengan orang-orang kafir… sungguh aneh harapan kalian, bukankah jika orang-orang kafir ingin hidup dengan aman, mereka harus membayar jizyah kepada kaum muslimin dengan keadaan HINA! dengan keadaan agama mereka lebih rendah daripada agama islam! bukankah begitu yang rasulullah praktekkan? atau kalian berifikir bahwa hal tersebut (jizyah) sudahlah ketinggalan zaman?
Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:
‘ Akan datang suatu kaum yang mematikan (menolak untuk menggunakan dasar) as-sunnah dan menyangkal tentang agama. Maka atas merekalah laknat Allah, laknat orang-orang yang melaknat, laknat Malaikat serta laknat semua manusia”;- (Riwayat Muslim ,Ad Dailami).
bukankah Allah telah menjelaskan bahwa kaum kafir akan terus memerangi umat muslim hingga kita mengikuti agama mereka, dan kalian ingin kita hidup berdampingan dengan damai? bagaimana bisa kita hidup berdampingan dengan pemerintah yang membawa pada kekafiran??!!!
bagaimana mungkin islam menyamaratakan antara islam dan kafir, dan memintanya untuk saling mencintai? sedangkan berwali’ kepada orang-orang kafir jelas dilarang? bagimana mungkin kita bisa saling bertoleransi ditengah todongan peluru orang-orang kafir??
Dari Abu Umamah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Kelak pada akhir zaman akan ada angkatan tentera sejak pagi-pagi dalam kemurkaan Allah, dan waktu petang juga dalam kemurkaan Allah. Oleh kerana itu waspadalah kamu sekalian! Jangan sampai kamu sekalian dijadikan perisai buat mereka”;- (Riwayat Thabrani).
itulah tentara thagut! anshar thagut yang kami perangi! yang kalian masuki dan bergabung kepadanya! bagaimana mungkin para polisi dan tentara itu dalam rahmat Allah sedangkan tugas mereka adalah menghentikan jihad kaum muslimin, bagaimana mungkin mereka berada dalam lindungan Allah, sedangkan tugas mereka adalah untuk melindungi kepentingan amerika?
D. Radikalisme Pancasila
kalian mengatakan bahwa terjemahan Al-Qur’an yang memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berperang adalah tindakan radikalisme, namun kalian diam seribu bahasa terhadap ajaran pancasila yang radikal, ajaran yang berani menantang Allah dengan mengabaikan hukum-hukum islam!
kami para teroris, memerangi kaum radikal! kaum radikal yang berani menantang Allah! kaum radikal yang kurang ajar terhadap nash-nash AlQur’an yang suci! karena hal itulah kami berada di barisan ini!
kami berani mememerangi kalian yang menantang Allah, karena itulah kalian sebut kami radikal…
kami berani membunuh kalian yang radikal karena menantang Allah, karena itulah kalian sebut kami teroris….
kami tidak akan terpengaruh oleh celaan para orang-orang kafir diatas, karena kami memiliki tekad kuat untuk berjihad dan ingin menjadi pelaku ightiyal terhadap A’immatul Kufri (pemimpin-pemimpin kekufuran); para propagandis ajaran menyimpang dan amoral serta orang-orang yang mencela wahyu Allah dan yang menggerakkan pena atau propagandanya untuk menentang agama yang lurus ini. Karena orang seperti ini telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya SAW.
Tidak dibenarkan bagi kaum muslimin di jengkal bumi manapun, baik orang yang paham agama atau yang awam, untuk membiarkan orang seperti ini (orang-orang kafir yang menghina Allah, RasulNya, dan AgamaNya) tetap hidup, karena ia lebih berbahaya daripada Ibnul Huqoiq atau semisalnya yang oleh Rosululloh SAW diperintahkan untuk dibunuh diam-diam. Maka, tidak membunuh orang-orang yang menjadi pewaris mereka di zaman sekarang sama artinya meninggalkan wasiat Nabi SAW.
karena ajaran radikal pancasila inilah, banyak orang yang menjadi teroris dengan membunuh para mujahidin, banyak juga yang murtad karena bebas menolak syariat Allah, banyak juga yang menjadi pengecut karena disibukkan dunia dan meninggalkan jihad!
lihatlah! sudah berapa puluh tahun israel mencengkram palestina? kenapa tidak bisa kita kalahkan israel itu dalam waktu beberapa hari? itu karena ajaran para pemerintahan thagut yang salah satunya adalah pancasila, yang melarang umat islam untuk berangkat ke palestina! karena pemerintah thagut melarang umat melakukan i’dad, dan karena ucapan kalian yang membela para thagut agar tidak diperangi!
jika hukum-hukum islam saja menghalalkan kami untuk menghancurkan para perusak agama dan ajarannya, kenapa kalian justru menyalahkan kami? apakah kalian punya sumber hukum yang lain?
Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh muslihat, di mana akan dibenarkan padanya orang yang berdusta, dan akan didustakan orang yang benar. Akan dipercaya orang yang berkhianat, dan akan dituduh berkhianat orang yang terpercaya. Serta akan bertutur padanya Ruwaibidhah. Maka ada yang menanyakan: Apa itu Ruwaibidhah? Dijawab baginda s.a.w. : yaitu, orang yang bodoh dan hina ditugaskan menangani kepentingan umum”;- (Riwayat Ibn Majah)
E. Medan Perang Itu Disini
Medan perang itu adalah dimanapun kami bisa menemukan musuh, kami akan melakukannya dengan ightiyal atau menyerbu ke kubu perlindungan musuh! bukan menunggunya bersiap siaga di medan perang, yang mana itu semua adalah tipu daya yang halal dan disyariatkan di agama ini. Seorang ahli ibadah yang benar tidak akan nyaman menunda-nunda perkara jihad ini, apalagi meninggalkan atau meremehkannya. Pada hari ini, musuh tidak akan menyerbu umat islam! tapi umat islam yang akan menyerbu ke tempat persembunyian musuh!
hanya orang-orang bodoh yang tidak mau berfikir dan mengatur strategi dalam peperangan! hanya orang bodoh yang mengatakan bahwa menyerang musuh yang sedang lengah adalah kegiatan pengecut, justru inilah pembeda antara orang yang mempergunakan akalnya dengan orang yang pengecut yang menunda-nunda jihad!
tidak ada bedanya orang kafir amerika, dan orang kafir indonesia, mereka sama-sama kafir yang memerangi islam. Tidak ada perlakukan khusus terhadap orang-orang kafir di indonesia yang memerangi islam! tidak ada! mereka akan sama-sama merasakan kerasnya perlawanan dari kami! baik di dalam mesjid, ataupun di rumah-rumah mereka!
salahkan diri kalian yang hanya duduk-duduk tanpa membuktikan amal jihad kalian dihadapan Rabbul Alamin… kalian yakin jihad itu fardhu’ain… tapi kalian cuma diam saja… ketika musuh jauh, kalian beralasan bahwa kalian belum mampu menuju kesana, ketika musuh telah dekat, kalian beralasan bahwa musuh tersebut tidak pantas untuk diperangi… lalu siapakah musuh kalian? apakah kami para mujahidin yang diperangi amerika???
“Wama al-wahn ya Rosulallah?”……”Hubbuddunya wa karohiyatul maut!!”.
F. Islam tidak selalu damai
ya Rasulullah tidak pernah mengajarkan kekerasan, dan kami tidak menganggap apa yang diperintahkan Allah dan Rasulnya sebagai kekerasan, namun kami anggap itu semua sebagai suatu hal yang wajib untuk dilaksanakan!
Rasulullah mengajarkan kepada kami untuk membunuh para perusak agama dan orang-orang murtad…. Allah memerintahkan kami untuk merajam orang yang berzina…. Rasulullah melaksanakan hukum hudud selama hidupnya, yakni salah satunya adalah hukuman cambuk dan potong tangan….
Rasulullah SAW pernah bersabda,”aku diperintahkan Allah SWT untuk MEMERANGI orang-orang (kafir) sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah, lalu mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, demikianlah apabila mereka menjalankan semua perintah tersebut, maka jiwa dan harta benda mereka akan dilindungi, kecuali untuk kepentingan hukum Islam maka Allah lah yang akan memberikan perhitungannya”.
ingatlah juga perkataan Abu Bakar RA
“…..Saudara-saudara sekalian, saya sudah terpilih untuk memimpin kamu semua, dan saya bukanlah orang yang terbaik diantara kamu sekalian. Kalau saya berlaku baik bantulah saya, kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah. Kebenaran adalah suatu amanah, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah diantara kamu adalah kuat dipandangan saya, sesudah haknya saya berikan kepadanya, Insya Allah. Orang yang kuat diantara kamu adalah lemah dipandangan saya , sehingga saya terpaksa menarik kembali hak daripadanya, Insya Allah ! Janganlah ada seseorang dari anda sekalian yang mau meninggalkan jihad. Apabila sesuatu kaum telah meninggalkan jihad (perjuangan dijalan Allah), maka Allah akan menimpakan kehinaan kepadanya.
Apabila kejahatan sudah meluas pada sesuatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Ikutlah saya selama saya taat kepada perintah Allah dan RasulNya. Tetapi apabila saya melanggar (perintah) Allah dan RasulNya maka tidak wajib anda sekalian mentaati saya. Marilah kita solat, semoga Allah memberi Rahmat kepada anda sekalian.”
Sehingga Abu Bakar bertekad untuk memerangi kaum yang murtad dan kafir sekalipun di antara mereka ada yang tidak kafir tetapi menolak membayar zakat. Abu Bakar lalu mengemukakan alasan perbuatannya itu, tetapi ‘Umar berkata kepadanya: “Bagaimana engkau akan memerangi manusia sedangkan mereka mengucapakan laa ilaaha illallaah dan Rasulullah bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah … dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah Ta’ala”. Abu Bakar lalu menjawab: “Sesungguhnya zakat itu adalah kewajiban yang bersifat kebendaan”. Lalu katanya: “Demi Allah, kalau mereka merintangiku untuk mengambil seutas tali unta yang mereka dahulu serahkan sebagai zakat kepada Rasulullah niscaya aku perangi mereka karena penolakannya itu”. Maka kemudian Umar mengikuti jejak Abu Bakar untuk memerangi kaum tersebut.
begitulah para sahabat bersikap kepada orang-orang yang kafir… yakni MEMERANGI MANUSIA SAMPAI MENGUCAPKAN SYAHADAT ATAU MEMBAYAR JIZYAH! lalu… adakah yang berani mengatakan bahwa para sahabat adalah teroris dan radikal?? adakah yang berani mengatakan bahwa orang-orang yang mengikuti jejak para sahabat adalah teroris dan radikal? atau ada yang berani mengatakan bahwa islam agama damai, bahkan terhadap para pembangkang dan orang-orang kafir yang memerangi?
jelas bahwa islam adalah agama para teroris dan apa yang dilakukan oleh para teroris adalah ajaran islam, jika teroris beragama islam dan kalian menyangkal islam mengajarkan kekerasan… maka agama kalian apa?
G. Penutup
Dari Anas bin Malik r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Akan datang kepada manusia suatu masa di mana orang yang berpegang kepada agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api”;- (Riwayat Tirmidzi)
jika kalian merasa tenang-tenang saja dalam menjalankan agama islam kalian, maka berfikirlah ulang… apakah benar kalian sudah menjalankan agama islam dengan benar…. karena jalan islam itu tidaklah halus dan penuh kenikmatan… fikirlah ulang mengenai kondisi kalian… kalian sibuk bercengkrama dengan istri dan anak-anak kalian… kalian sibuk berjual beli… kalian sibuk mengejar puncak kekuasaan… kalian sibuk menghadiri walimahan…. apakah itu yang diinginkan oleh islam terhadap kalian???
lalu siapakah yang sedang dicuci otaknya? siapakah yang sedang terlena dengan kehidupan dunia?
sungguh manusia diberikan akal, pendengaran, dan penglihatan.. maka pergunakanlah dengan sebaik-baiknya… karena menyesal tidak ada gunanya…
oleh: Asyraf Mishri




masya allah,sungguh lengkap.jazakallah.